Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Kajian Konsep Infrastruktur Hijau untuk Menurunkan Suhu Udara di Kawasan Teknopolis SWK Gedebage Diva Rosseana; Hilwati Hindersah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8693

Abstract

Abstract. According to the Bandung City document detail spatial planning, SWK Gedebage is designated as a Bandung City Service Center with the Technopolis concept. With the existence of these regulations, the development and construction is rapid and triggers the level of demand for land. The increase in the demand for land that occurs requires the conversion of green land into built-up land and has an impact on increasing temperatures due to development. This can affect changes in climate elements which will affect the increase in air temperature. One of the efforts that can be made to reduce air temperature is to apply the concept of green infrastructure in every development process in urban areas. Green infrastructure can help reduce urban heat. This study aims to determine the distribution of hotspots in SWK Gedebage using Landsat 8 OLI imagery and extract TOA, BT, NDVI, PVI and Emissivity values to obtain LST values and compare them to the previous 5 years. Then a simulation of the application of the green infrastructure concept was carried out using the Envi-Met software and the result was that the green wall can reduce the air temperature > 1oC while the green roof can help reduce the air temperature up to 0.89oC. Abstrak. Menurut RDTR Kota Bandung, SWK Gedebage diperuntukkan sebagai Pusat Pelayanan Kota Bandung dengan konsep Teknopolis. Dengan adanya peraturan tersebut maka perkembangan dan pembangunannya pesat dan memicu terhadap tingkat kebutuhan lahan. Peningkatan akan kebutuhan lahan yang terjadi menuntut adanya alih fungsi lahan hijau menjadi lahan terbangun dan berdampak kepada peningkatan suhu akibat pembangunan. Hal ini dapat berpengaruh terhadap perubahan unsur iklim yang akan berpengaruh terhadap kenaikan suhu udara. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan suhu udara adalah dengan menerapkan konsep infrastruktur hijau dalam setiap proses pembangunan di perkotaan. Infrastruktur hijau mampu membantu menurunkan suhu panas perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran titik panas di SWK Gedebage menggunakan citra landsat 8 OLI dan mengekstraksi nilai TOA, BT, NDVI, PVI dan nilai Emisivitas sehingga mendapatkan nilai LST dan dibandingkan dengan 5 tahun sebelumnya. Kemudian dilakukan simulasi penerapan konsep infrastruktur hijau menggunakan software Envi-Met dan didapatkan hasil bahwa green wall dapat menurunkan suhu udara >1oC sementara green roof dapat mmebantu menurunkan suhu udara sampai dengan 0.89oC.
Evaluasi Keberadaan Kolam Retensi Gedebage Sebagai Upaya Pengendalian Banjir di Pasar Induk Gedebage Aulia Nur Azizah; Hilwati Hindersah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8884

Abstract

Abstract. Problems in the East Bandung Region, especially the Gedebage Central Market, if there is rain with a fairly high intensity and continues continuously, it still causes excessive flood inundation which causes the planned objectives that have been prepared by the Bandung City Government to build the Gedebage Retention Pond. Based on the problems above, the purpose of this study is to evaluate the existence of the Gedebage Retention Pond as an effort o control floods at the Gedebage Main Market based on the community’s perspective. The methodology used in this research is quantitative and descriptive. While the analtical method used is Community Perspective Analysis. Based on the results of the analysis, it was found that after the existence of the Gedebage Retention Pond is was able to reduce the height of the flood inundation, the length of the flood inundation, the area of the flood inundation, and the kocation of the flood inundation. The existence of the Gedebage Retention Pond is indeed not fully capable of eliminating flood inundation in accordance with the capacity of the Gedebage Retention Pond which is 5,425 m3 and is able to drain the inundation that is around the Gedebage Central Market. Therefore, to maintain the function of the Gedebage Retention Pond, it can be supported by improving environmental conditions related to the existence of the Gedebage Retention Pond through other suporting facilities and infrastructure as an effort to control flooding. Abstrak. Permasalahan di Wilayah Bandung Timur khususnya Pasar Induk Gedebage jika terjadi hujan dengan intensitas cukup tinggi dan berlangsung secara terus menerus masih menimbulkan genangan banjir berlebih yang menyebabkan tidak sesuainya tujuan rencana yang telah disusun oleh Pemerintah Kota Bandung dalam membangun Kolam Retensi Gedebage. Berdasarkan permasalahan diatas, tujuan dari penelitian ini mengevaluasi keberadaan Kolam Retensi Gedebage sebagai upaya pengendalian banjir di Pasar Induk Gedebage berdasarkan perspektif masyarakat. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif dan deskriptif. Sedangkan metode analisis yang digunakan yaitu Analisis Perspektif Masyarakat. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan bahwa setelah adanya Kolam Retensi Gedebage ternyata mampu untuk mengurangi ketinggian genangan banjir, lama genangan banjir, luasan genangan banjir dan titik lokasi genangan banjir. Keberadaan kolam Retensi Gedebage ini memang belum sepenuhnya mampu untuk menghilangan genangan banjir tetapi setidaknya mampu dan efektif dalam menampung genangan banjir yang ada sesuai dengan kapasitas daya tampung Kolam Retensi Gedebage yaitu sebesar 5.425 m3 serta mampu mengalirkan genangan banjir yang ada di sekitar Pasar Induk Gedebage. Maka dari itu, untuk menjaga fungsi Kolam Retensi Gedebage dapat didukung dengan adanya peningkatan kondisi lingkungan terkait keberadaan Kolam Retensi Gedebage melalui sarana dan prasarana pendukung lainnya sebagai upaya pengendalian banjir.
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS PENGUNJUNG DENGAN KONDISI TAMAN UMUM DI KECAMATAN BANDUNG WETAN DYAH BAYU FRAMESTHI; HILWATI HINDERSAH
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 10 No. 1 (2010)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v10i1.240

Abstract

There is an emerging problem related to the declining quality of the urban environment, particularly in the availability of green open space which is one of the interesting issues, because the green open spaces have a very important role for the ecological sustainability. Green open space is often overlooked by the urban citizen who are less concerned about the role and functions. Public parks as a form of green open space available in Kecamatan Bandung Wetan mostly a park with manicured condition but some of them are not well maintained garden with a condition which poorly maintained, dirty (lots of junk), less green (the number of plants is reduced, because the dead or due to damage), damage and availability of facilities in the park.This research wanted to question as to whether there is a relation between the activity of visitors to the condition of a public park in Kecamatan Bandung Wetan. It aims to identify whether there is any relation between the activities of visitors to the condition of a public park in Kecamatan Bandung Wetan in the present. This research uses crosstabs analysis - Chi Square with a variable number of visitors by gender (male and female visitors) and common garden conditions (completeness of facilities, type of activity, concern for the condition of public parks as well as the visual impression visitors to see a public park).
PENATAAN TAMAN KARTINI SEBAGAI HUTAN KOTA DI KOTA CIMAHI Ika Kusumawati; Hilwati Hindersah
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 10 No. 2 (2010)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v10i2.246

Abstract

Cimahi has been known since the Dutch colonial period, in 1811, when the Governor-General Willem Daendeles made road from Anyer to Panarukan and right in Cimahi square now was made Loji (Pos Penjagaan). The analysis process which is conducted in this research include population analiysis, analysis of green open space and urban forest structure. Population is used to determine the amount of population and its density distribution in the coming years.The need for green open space is used to determine the ideal area of urban forest and the amount of oxygen requirements for residents.While the structure of the urban forest is used in managing the urban forest vegetation.The final results achieved in this research is an arrangement concept of the urban forest in the Kartini Park. The concept is supported by the fact of: (1) the exterior arrangement which closely related to the maintenance of park and activities of visitors to the park, (2) Taman Kartini is surrounded by functional buildings, (3) Taman Kartini is located on three roads, namely Jalan Baros, Jalan Dustira/ Hospitaalweg, and Jalan Taman Kartini), and (4) planting vegetation criteria in accordance withTaman Kartini neighborhood.
Adopsi Ekonomi Sirkular Menuju ‘Zero Poverty’ di Desa Margamukti Kabupaten Sumedang Atih Rohaeti Dariah; Hilwati Hindersah; M. Samsuri; A. Harits Nu’man; Darman Puja Kurniawan; Neng Dewi Himayasari; Nadya Safitri
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 2 (2024): Special Issue: Perguruan Tinggi Mandiri Gotong Royong Membangun Desa (PTMGRMD)
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v4i2.12516

Abstract

Abstract. English translation. The circular economy has become a business model trend in responding to environmental problems and towards sustainable business. Community service activities are carried out in Margamukti Village, Sumedang Regency by carrying out the concept of circular economy. The typology of Margamukti Village area located on the outskirts of the capital city of Sumedang, is rice fields where the function of space is dominated for agricultural land. The Margamukti Village Government has tried to adopt the circular economy concept contained in the Margamukti Village Circular Economy Innovation Profile document. This article will discuss how the adoption of a circular economy that can optimize the potential of the leading economy while creating employment opportunities and reducing poverty, which will be outlined in a more structured plan document and put forward a buttom-up approach. There are four methods in this activity, namely, content analysis, deductive method, focus group discussion, and mentoring process. Some analysis of the results of activities includes proposals to identify the entrepreneurial potential of farmer groups. In the profile document, there is also no monitoring of evaluation, no duration of time and no achievement indicators. This means that profile documents need to be refined by accommodating all findings from the results of this service into a roadmap. Abstrak. Ekonomi sirkular telah menjadi trend model bisnis dalam merespon masalah lingkungan hidup dan menuju bisnis berkelanjutan. Kegiatan pengabdian dilaksanakan di Desa Margamukti Kabupaten Sumedang dengan mengusung konsep ekonomi sirkular. Tipologi wilayah Desa Margamukti yang terletak di pinggiran Ibu Kota Sumedang adalah persawahan dimana fungsi ruang didominasi untuk lahan pertanian. Pemerintah Desa Margamukti sudah mencoba mengadopsi konsep ekonomi sirkular yang tertuang dalam dokumen Profil Inovasi Sirkular Ekonomi Desa Margamukti. Artikel ini akan membahas bagaimana adopsi ekonomi sirkular yang dapat mengoptimalkan potensi ekonomi unggulan sekaligus menciptakan kesempatan kerja dan menurunkan kemiskinan, yang akan dituangkan dalam dokumen rencana yang lebih terstruktur dan mengedepankan pendekatan buttom-up. Terdapat empat metode dalam kegiatan ini yakni, content analysis, metode deduktif, diskusi kelompok terfokus, dan proses pendampingan. Beberapa analisis hasil kegiatan antara lain berupa usulan untuk identifikasi potensi kewirausahaan kelompok peternak. Dalam dokumen profil juga tidak terdapat bagaimana monitoring evaluasi, tidak ada durasi waktu dan tidak ada indikator capaian. Artinya dokumen profil perlu disempurnakan dengan mengakomodir seluruh temuan dari hasil pengabdian ini ke dalam sebuah roadmap.
Pengembangan Ruang Budi Daya Peternakan Kelinci di Desa Margamukti Sumedang Untuk Mendukung Perekonomian Desa Berkelanjutan Hilwati Hindersah; Atih Rohaeti Dariah; A. Harits Nu’man; Rose Fatmadewi; Neng Dewi Himayasari; Nadya Safitri
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 2 (2024): Special Issue: Perguruan Tinggi Mandiri Gotong Royong Membangun Desa (PTMGRMD)
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v4i2.12560

Abstract

Abstract. Margamukti Village, located in North Sumedang Sub-district, Sumedang Regency, has great potential for the development of rabbit farming as an effort to improve the village economy. This study aims to understand community perceptions and support for the development of rabbit farming spaces. This research applied a mixed method which included a comprehensive literature review as well as secondary data collection, field documentation and Focus Group Discussion (FGD). The results of the research include that the rabbit farming area in Margamukti Village is included in the cultivation area/zone, precisely the agricultural zone. For rabbit livestock-based economic development, alternative solutions with agritourism-based economic development. Develop agritourism by utilizing natural beauty or local agricultural potential. This could include organic farming tours or urban farming activities integrated with rabbit farming. It is important to conduct a market analysis prior to sustainable village economic development steps. The farmers of Margamukti Village should form a community such as a cooperative specifically for rabbit farming. Abstrak. Desa Margamukti, yang terletak di Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, memiliki potensi besar untuk pengembangan budi daya kelinci sebagai salah satu upaya meningkatkan perekonomian desa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami persepsi dan dukungan masyarakat terhadap pengembangan ruang budidaya peternakan kelinci. Penelitian ini menerapkan metode campuran (mixed method) yang meliputi tinjauan literatur komprehensif serta pengumpulan data sekunder, dokumentasi lapangan dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian antara lain, area peternakan kelinci di Desa Margamukti termasuk ke dalam kawasan/zona budidaya, tepatnya zona pertanian. Untuk pengembangan ekonomi berbasis ternak kelinci, solusi alternatif dengan pengembangan ekonomi berbasis agrowisata. Mengembangkan agrowisata dengan memanfaatkan keindahan alam atau potensi pertanian setempat. Ini dapat mencakup wisata pertanian organik atau kegiatan urban farming yang terintegrasi dengan peternakan kelinci. Penting dilakukan analisis pasar sebelum langkah pengembangan ekonomi desa yang berkelanjutan. Para peternak Desa Margamukti sebaiknya membentuk komunitas semacam koperasi khusus untuk usaha ternak kelinci.
Kajian Pemanfaatan Ruang Pada Kawasan Gunungapi Sinabung Firdaus Malik, Dhahnel; Hindersah, Hilwati; Chamid, Chusharini
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v17i1.594

Abstract

Gunungapi Sinabung mengalami kembali erupsi pada Tahun 2010, sejak erupsi pertama pada Tahun 1600. Erupsi tersebut menyemburkan debu vulkanik setinggi 3 sampai 5 kilometer dan gempa bumi vulkanis hingga 100 kilometer di sekitar Gunungapi Sinabung. Letusan tahun 2010 – 2017 telah mengubah sebagian tutupan lahan di kawasan ini. Beberapa lahan pertanian dan permukiman tertutup material letusan gunungapi mencapai sekitar 757 Ha. Mempertimbangkan kondisi tersebut, pemerintah menetapkan radius 3 hingga 5 Km sebagai kawasan lindung yang sebelumnya merupakan kawasan budidaya. Saat ini, penggunaan lahan didominasi oleh kegiatan perkebunan dan hortikultura. Penelitian ini bertujuan merumuskan arahan pemanfaatan ruang yang mampu mendorong upaya pengurangan risiko bencana pada Kawasan Gunungapi Sinabung dan sekitarnya. Dalam mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan analisis analogi, yang kemudian diolah dan dianalisis secara kualitatif deskriptif. Hasil analisis menunjukan bahwa kebijakan pada kawasan rawan bencana letusan gunungapi pemanfaatan ruang yang merupakan kawasan lindung, pemanfaatannya masih dapat dilakukan kegiatan budidaya secara terbatas serta menerapkan peraturan zonasi untuk dapat membatasi pembangunan di daerah berisiko dan meminimalkan potensi hilangnya korban jiwa dan properti.
Material Flow and Economic Analysis of Wantilan Recycling Center Promoting Circular Economy Principles Satori, Mohamad; Hindersah, Hilwati; Burhanudin, Hani; Januarita, Ratna; Purnamasari, Pupung; Hernawati, Riza; Patricia, Vinda Maharani; Miftahadi, Machmuddin Fitra
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 21, No 3 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/presipitasi.v21i3.722-733

Abstract

Waste is increasingly recognized not just as an environmental challenge but also as an economic opportunity, particularly in developing countries like Indonesia where it can help alleviate employment shortages. This study explores the dual role of waste as both a tradable commodity driven by industrial demands for raw materials, including primary substances, additives, and Refuse Derived Fuel (RDF), and as a means of reducing environmental impact. This phenomenon is important and interesting because it can have a positive impact both in terms of reducing waste, saving natural resources, and as an economic opportunity for society. This study aims to examine the potential of waste that can be utilized as a resource on the one hand and reduce the potential for pollution on the other. The study used the Material Flow Analysis (MFA) method with the Circular Economy principle and used an action research approach to redesign the waste processing system. The results of this study indicate that the current system only manages 34% of the total waste generation and only 4% can be reused with sales of IDR 97.9 million per year. With the development of a new system, the waste managed is 60% with the economic potential generated of 1.08 billion per year.
Pemetaan Multi Risiko Bencana Bagi Perencanaan Penyediaan Infrastruktur Mitigasi Di Kawasan Amfiteater Geopark Ciletuh-Palabuhanratu Chaidir, Nour; Hindersah, Hilwati; Rustidja, Ery Supriyadi
Urban and Regional Studies Journal Vol. 6 No. 2 (2024): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2024
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v6i2.3982

Abstract

Kawasan Amfiteater Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang tersusun akibat tumbukan lempeng Indo-Australia dan lempeng Benua Eurasia memiliki kerawanan gempa, pergerakan tanah, dan tsunami. Karena adanya beberapa ancaman bahaya dalam satu Kawasan tersebut, diperlukan suatu pendekatan yang mempertimbangkan lebih dari satu bahaya di tempat tertentu dan keterkaitan di antara bahayanya, termasuk kejadian simultan atau kumulatif dan interaksi potensial mereka. Dengan demikian, diperlukan pemetaan dan penentuan skala prioritas bagi perencanaan penyediaan infrastruktur mitigasi melalui pendekatan multi risiko bencana. Studi ini menerapkan pendekatan kuantitatif menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk analisis spasial dan analisis hubungan untuk memetakan tingkat bahaya, kerentanan, tingkat risiko, dan risiko multi ancaman yang ada di lokasi penelitian, serta analisa skenario tingkat risiko yang di mitigasi dalam penyediaan infrastruktur mitigasi. Hasil analisis mengindikasikan: 1) dari 9 ancaman bencana terdapat 6 ancaman bencana yang memlliki tingkat Risiko Multi Ancaman yang tinggi, 2) tingkat risiko yang dimitigasi (skala prioritas) dalam penyediaan infrastruktur mitigasi, adalah: bencana gempa bumi, tsunami, banjir, cuaca ekstrim, banjir bandang, tanah longsor, gelombang ekstrim dan abrasi, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan, 3) Sistem proteksi (mitigasi struktural) prasarana mitigasi bencana berupa: a) meningkatkan infrastruktur hijau, b) penyediaan infrastruktur mitigasi hadapi dan mitigasi hindari. The Ciletuh-Palabuhanratu Geopark Amphitheater area which is composed by the collision of the Indo-Australian plate and the Eurasian plate is prone to earthquakes, ground movements, and tsunamis. Due to the presence of multiple hazard threats in a single Area, an approach is needed that takes into account more than one hazard in a given location and the interrelationships between the hazards, including their simultaneous or cumulative occurrences and their potential interactions. Thus, it is necessary to map and determine the priority scale for planning the provision of mitigation infrastructure through a multi-disaster risk approach. This study applies a quantitative approach using Geographic Information Systems (GIS) for spatial analysis and connection analysis to map the level of hazard, vulnerability, risk level, and multi-threat risk in the research location, as well as scenario analysis of the level of risk that is mitigated in providing mitigation infrastructure. The results of the analysis indicate: 1) Of 9 disaster threats, there are 6 disaster threats that have a high level of Multi Threat Risk, 2) Mitigation risk level (priority scale) in the provision of mitigation infrastructure, namely: earthquakes, tsunamis, floods, weather extreme floods, landslides, extreme waves and abrasion, drought, and forest and land fires. 3) Protection system (structural mitigation) for disaster mitigation infrastructure in the form of: a) increasing green infrastructure, b) providing mitigation infrastructure, namely mitigating to face and mitigate to avoid.