Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PELATIHAN PIJAT BAYI PADA IBU BALITA UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS TUBUH ANAK DI TAMAN POSYANDU DESA PELEM : BABY MASSAGE TRAINING TO IMPROVE BODY IMMUNITY IN MOTHERS OF TODDLERS AT THE POSYANDU PARK IN PELEM VILLAGE Nurin Fauziyah; Tria Jaya, Susanti; Yuliansari, Pratiwi
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i1.415

Abstract

Abstrak Bayi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik jika kebutuhan dasarnya dipenuhi, yaitu asah, asih, dan asuh. Kebutuhan asah berhubungan dengan kebutuhan stimulasi. Stimulasi sebaiknya diberikan sedini mungkin untuk merangsang kemampuan sensorik, emosional, dan juga kognitif bayi atau anak, yang salah satunya dapat dilakukan melalui pijat bayi. Pemberian stimulasi perlu diberikan sejak dini guna merangsang dan membentuk kemampuan sensorik, emosional bahkan kognitif anak. Dampak baik yang dihasilkan dari pijat bayi adalah bayi akan merasa lebih rileks dan nyaman, dengan demikian sistem kekebalan tubuh atau imunitas tubuh pada anak akan meningkat. Pun sebaliknya, kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap.Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan ketrampilan peserta dalam melakukan pijat bayi dan dapat diaplikasikan pada buah hatinya dengan benar dan intens, sehingga sistem imun anaknya akan meningkat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan memberikan pelatiham dengan teknik emo demo dengan sasran ibu balita, pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 19-25 Mei 2025 di Tapos Desa Pelem Kecamatan Pare. Dari 30 ibu balita yang hadir, semuanya memperhatikan dan aktif dalam mengikuti dan mempraktikkan materi yang diberikan. Dari hasil pengabdian masyarakat terjadi peningkatan kemampuan yang pada ibu balita dalam melakukan pijat bayi sehingga sistem imunitas anak menjadi lebih baik. Kata kunci: Pelatihan, Pijat Bayi, Imunitas.   Abstract Babies can grow and develop well if their basic needs are met, namely nurturing, love, and care. The need for nurturing is related to the need for stimulation. Stimulation should be given as early as possible to stimulate the sensory, emotional, and cognitive abilities of babies or children, one of which can be done through baby massage. Stimulation needs to be given early to stimulate and shape the child's sensory, emotional, and even cognitive abilities. The positive impact of baby massage is that the baby will feel more relaxed and comfortable, thus the immune system or immunity in children will increase. Conversely, a lack of stimulation can cause deviations in child development and even permanent disorders. The purpose of this community service activity is to improve the skills of participants in performing baby massage and can be applied to their children correctly and intensively, so that their child's immune system will improve. This community service activity was carried out by providing training with emo demo techniques with the target of mothers of toddlers, this community service was carried out on May 19-25, 2025 at Tapos, Pelem Village, Pare District. Of the 30 mothers of toddlers who attended, all paid attention and were active in following and practicing the material provided. From the results of community service, there was an increase in the ability of mothers of toddlers to massage babies to increase the child's immunity.  Keywords: Training, Baby Massage, Immunity.    
Effect of Rational Emotive Behavioral Therapy on Preventive Measures of Transmission In The Family of Pulmonary Tb Patients Firdausi, Nugrahaeni; Yuliansari, Pratiwi; Yektiningsih, Erwin
Journal Of Nursing Practice Vol. 3 No. 2 (2020): April
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jnp.v3i2.93

Abstract

Background: Pulmonary TB is an infectious disease caused by mycobacterium tuborkulosis and is contagious. The family of pulmonary TB patients plays a very important role in the transmission of pulmonary TB disease. Preliminary data collection shows that four out of five (80%) families of pulmonary TB sufferers so far have gained knowledge about the transmission of pulmonary TB, but in their daily use personal protective equipment is rarely used. The family said they rarely wear masks because they feel fine without the masks, the family also feels wearing masks will hurt the feelings of people with pulmonary TB.Purpose: This study aimed to determine the effect of Rational Emotive Behavior Therapy on preventive measures for transmission of patients with pulmonary TB.Methods: This study used a quasy experiment research design with a non-randomized control group design pretest-posttest approach. The sample in this study was the family of pulmonary TB patients at UPTD Puskesmas Puhjarak Kediri who met the inclusion and exclusion criteria, with a sampling technique using purposive sampling. The independent variable of this study was Rational Emotive Behavioral Therapy and the dependent variable was family preventive measures. The instrument used to measure preventive measures for pulmonary TB transmission is a questionnaire which contains 12 questions, and for the independent variable of memory therapy is SAK research. The research data were processed using the Wilcoxon signed ranks test and Mann-Whitney. Alternative hypotheses are accepted if p <0.05.Results: The results showed that the Mann Whitney test results in the treatment and control groups at the time of the pretest showed a value of p = 0.690 and at the posttest was p = 0.000. Wilcoxon signed rank test results show in the treatment group after treatment p = 0.005, while in the control group when posttest was p = 0.317.Conclusion: The results of the assessment of preventive measures for pulmonary TB transmission between the treatment group and the control group after the implementation of Rational Emotive Behavioral Therapy showed that there were differences in the value of preventive measures for pulmonary TB transmission between the treatment group and the control group after receiving Rational Emotive Behavioral Therapy
PENGARUH EDUKASI TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK TERHADAP PENGETAHUAN IBU DALAM PENCEGAHAN STUNTING: THE INFLUENCE OF EDUCATION ABOUT CHILDREN'S COGNITIVE DEVELOPMENT ON MOTHERS' KNOWLEDGE IN STUNTING PREVENTION NURIN FAUZIYAH; Susanti Tria Jaya; PRATIWI YULIANSARI
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pamenang ( JIP )
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v8i1.414

Abstract

Abstrak   Stunting merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia yang tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga mengganggu perkembangan kognitif anak secara jangka panjang. Perkembangan kognitif mencakup kemampuan berpikir, belajar, mengingat, dan memecahkan masalah yang sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pola stimulasi yang diberikan ibu sejak usia dini. Pengetahuan ibu yang memadai tentang perkembangan kognitif anak merupakan fondasi penting dalam upaya pencegahan stunting berbasis keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi tentang perkembangan kognitif anak terhadap pengetahuan ibu dalam pencegahan stunting di Posyandu Dahlia Desa Pelem Kecamatan Pare Kabupaten Kediri. Metode: Metode penelitian menggunakan quasi experiment dengan rancangan one group pretest–posttest design. Subjek penelitian adalah seluruh ibu balita di Posyandu Dahlia, sebanyak 48 responden, yang dipilih menggunakan metode total sampling. Edukasi diberikan menggunakan metode ceramah dan audiovisual selama ± 2 jam. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan dengan skala ordinal, mencakup aspek-aspek perkembangan kognitif anak dan pencegahan stunting. Analisis data dilakukan dengan uji Paired T-Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum edukasi, sebagian besar ibu memiliki pengetahuan kurang (83,3%), sedangkan setelah edukasi, mayoritas ibu berada pada kategori baik (72,9%). Rerata skor pengetahuan meningkat signifikan dari 52,1 menjadi 76,4. Uji T-Test menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan pengetahuan ibu sebelum dan sesudah mendapat edukasi tentang perkembangan kognitif anak. Diskusi: Edukasi tentang perkembangan kognitif anak secara efektif meningkatkan pengetahuan ibu balita yang berkontribusi pada upaya pencegahan stunting. Abstract Stunting is a major health problem in Indonesia that not only impacts physical growth but also disrupts long-term cognitive development in children. Cognitive development encompasses the abilities of thinking, learning, remembering, and problem-solving, which are strongly influenced by maternal knowledge and stimulation practices provided from early childhood. Adequate maternal knowledge about children’s cognitive development is an important foundation for family-based stunting prevention. This study aimed to determine the effect of education about children’s cognitive development on mothers’ knowledge in stunting prevention at the Dahlia Integrated Health Post, Pelem Village, Pare District, Kediri Regency. This study employed a quasi-experimental design with a one-group pretest–posttest approach. Subjects were all mothers of toddlers at the Dahlia Posyandu, totaling 48 respondents, selected by total sampling. Education was delivered using lecture and audiovisual methods for approximately 2 hours. The instrument used was a knowledge questionnaire with ordinal scale covering aspects of children’s cognitive development and stunting prevention. Data were analyzed using Paired T-Test. Results showed that before education, most mothers had poor knowledge (83.3%), while after education, the majority were in the good category (72.9%). The mean knowledge score increased significantly from 52.1 to 76.4. The T-Test showed p = 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference in mothers’ knowledge before and after education on children’s cognitive development. Conclusion: Education about children’s cognitive development effectively increases mothers’ knowledge, contributing to stunting prevention efforts.
Manajemen Pencegahan Infeksi Akibat Luka Bakar di Lingkungan Rumah sebagai Upaya Realisasi Home Safety Pratiwi Yuliansari; Widhi Sumirat; Fresty Africia; Zulvana; Erwin Yektiningsih
Bhakti Patrika Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Pubfine Media Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64408/bp.2026.21146

Abstract

Pendahuluan: Luka bakar adalah kecelakaan rumah tangga yang paling umum. Luka bakar dapat terjadi akibat memasak, menyalakan listrik, kebocoran gas, dan bahkan karena kelalaian dalam mencegah dan mengawasi anak-anak yang suka menjelajahi peralatan listrik berbahaya di rumah. Infeksi luka bakar adalah komplikasi serius yang berpotensi terjadi akibat penanganan yang tidak tepat pada periode pasca-cedera akut. Sekitar 73% dari semua kematian dalam lima hari pertama setelah cedera luka bakar terbukti disebabkan secara langsung atau tidak langsung oleh proses infeksi. Metode: Kegiatan penyuluhan tentang manajemen pencegahan infeksi luka bakar ini dilakukan di Desa Darungan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, yang melibatkan 40 ibu rumah tangga dan kader kesehatan. Kegiatan ini berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mencegah infeksi luka bakar melalui pertolongan pertama yang tepat. Metode yang digunakan meliputi penyajian materi, demonstrasi, dan simulasi kasus manajemen luka bakar yang tepat, menggunakan media pembelajaran seperti video, brosur, dan permainan. Keberhasilan pendidikan kesehatan kemudian dievaluasi melalui tes pra dan pasca-pelatihan. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan skor pengetahuan rata-rata peserta dari 62,5 (tes pra-pelatihan) menjadi 85 (tes pasca-pelatihan). Lebih lanjut, 85% peserta melakukan prosedur pertolongan pertama yang benar selama simulasi. Kesimpulan: Program ini secara efektif meningkatkan kesadaran akan keselamatan dan memberdayakan keluarga untuk mencegah infeksi luka bakar di rumah.
Pemberdayaan Lansia melalui Relaksasi Spinomari untuk Pencegahan Kecemasan di Komunitas Zulvana; Pratiwi Yuliansari; Arik Sofan Tohir
Bhakti Patrika Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Pubfine Media Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64408/bp.2026.21147

Abstract

Pendahuluan: Kecemasan merupakan salah satu masalah kesehatan jiwa yang umum dialami lansia dan berdampak pada kualitas hidup, fungsi kognitif, serta kapasitas adaptasi terhadap stres. Intervensi nonfarmakologis berbasis relaksasi dan spiritual terbukti efektif dalam menurunkan kecemasan, salah satunya melalui pendekatan Relaksasi Spinomari yang menggabungkan napas dalam, autosugesti, fokus spiritual, dan simbolik lima jari. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada 15 Oktober 2025 di Posyandu Desa Ngampel dengan melibatkan 30 lansia berusia ≥60 tahun. Intervensi meliputi edukasi mengenai kecemasan pada lansia dan pelatihan praktik Relaksasi Spinomari. Penilaian dilakukan melalui pre-test dan post-test pengetahuan serta observasi kemampuan praktik teknik Spinomari. Hasil: Terdapat peningkatan pengetahuan lansia dari rata-rata 26% (pre-test) menjadi 85% (post-test). Peningkatan terbesar terlihat pada pemahaman manfaat Spinomari dalam menurunkan kecemasan. Kemampuan praktik juga meningkat signifikan; peserta yang mampu melakukan seluruh langkah Spinomari dengan benar naik dari 10% menjadi 82%, dan kebutuhan bantuan menurun dari 48% menjadi 18%. Kesimpulan: Relaksasi Spinomari efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lansia dalam manajemen kecemasan nonfarmakologis. Teknik ini sederhana, mudah dipelajari, serta sesuai dengan karakteristik dan nilai spiritual lansia sehingga berpotensi digunakan sebagai strategi mandiri dalam pencegahan kecemasan di komunitas.
PELATIHAN KADER LANSIA PUSKESMAS PARE KEDIRI BERBASIS SIMULASI DALAM PERTOLONGAN DAN RUJUKAN KEGAWATDARURATAN : SIMULATION-BASED TRAINING OF ELDERLY CADRES AT COMMUNITY HEALTH CENTER (PUSKESMAS) PARE KEDIRI IN EMERGENCY AID AND REFERRAL Bambang Wiseno; Iva Milia Hani Rahmawati; Pratiwi Yuliansari
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.473

Abstract

Abstrak Kegawatdaruratan pada lansia merupakan kondisi yang memerlukan penanganan cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi, kecacatan, hingga kematian. Keterbatasan akses layanan kesehatan serta rendahnya pengetahuan masyarakat, khususnya kader kesehatan, menjadi salah satu faktor penghambat dalam penanganan awal kegawatdaruratan di tingkat komunitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kader lansia di Puskesmas Pare, Kabupaten Kediri dalam melakukan pertolongan pertama dan rujukan kegawatdaruratan. Metode yang digunakan adalah pelatihan berbasis teori dan praktik yang meliputi materi identifikasi kondisi gawat darurat pada lansia, prinsip pertolongan pertama, sistem rujukan, serta simulasi kasus. Peserta pelatihan adalah kader lansia yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pare. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan serta observasi keterampilan selama praktik. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan kader dalam penanganan awal kegawatdaruratan lansia. Rata-rata nilai post-test (56,40) mengalami peningkatan dibandingkan pre-test (78,90) yang menunjukkan efektivitas pelatihan. Didapatkan peningkatan keterampilan dan kemampuan dalam tujukan kasus kegawatdaruratan dengan  mampu melakukan identifikasi dini kondisi gawat darurat dan memahami alur rujukan yang tepat. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah pelatihan kader lansia efektif dalam meningkatkan kapasitas kader dalam pertolongan dan rujukan kegawatdaruratan di tingkat komunitas. Diharapkan kegiatan ini dapat berkontribusi dalam menurunkan risiko keterlambatan penanganan kegawatdaruratan pada lansia serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Abstract Elderly emergencies require prompt and appropriate treatment to prevent complications, disability, and even death. Limited access to healthcare services and low public knowledge, particularly among health workers, are among the inhibiting factors in initial emergency management at the community level. This community service activity aims to improve the competency of elderly health workers at the Pare Community Health Center in Kediri Regency in providing first aid and emergency referrals. The method used was theory-based and practical training, covering topics on identifying emergency conditions in the elderly, first aid principles, referral systems, and case simulations. The training participants were elderly health workers within the Pare Community Health Center's work area. Evaluation was conducted through pre- and post-tests to measure knowledge gains and skills observations during the practice. The results of the activity showed a significant increase in the knowledge and skills of cadres in initial emergency management for the elderly. The average post-test score (56.40) increased compared to the pre-test (78.90), demonstrating the effectiveness of the training. Improved skills and abilities in addressing emergency cases were observed, including the ability to identify emergency conditions early and understand the appropriate referral pathway. The conclusion of this activity is that the training of elderly cadres is effective in increasing their capacity to provide emergency care and referrals at the community level. It is hoped that this activity will contribute to reducing the risk of delayed emergency care for the elderly and improving the quality of community-based health services.
Correlation between Lifestyle Factors and Blood Glucose Levels to Elderly at Elderly Posyandu in Pelem Village, Kediri District Erni Rahmawati; Dwi Rahayu; Pratiwi Yuliansari; Fresty Africia
HealthCare Nursing Journal Vol. 6 No. 2 (2024): HealthCare Nursing Journal
Publisher : LP3M Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35568/healthcare.v6i2.4750

Abstract

Data from the International Diabetes Federation (IDF) in 2017, the global prevalence rate was 425 million people in the world experiencing DM. Estimated in 2045, it will increase to 48% (629 million) among DM sufferers aged 20-79 years. Elderly is a process of aging with increasing age, which is characterized by decreasing the function of the body's organs.  To determine the correlation between lifestyle factors and blood glucose levels to elderly at Elderly Posyandu in Pelem Village, Kediri District.  The research design was quantitative research with a cross-sectional approach. The research sample was elderly from Pelem Village, totaling 65 respondents. The independent variables were lifestyle factors (physical activity, frequency of carbohydrate consumption, frequency of fiber consumption, obesity and medication compliance), while the dependent variable was blood glucose level. The measuring instruments used questionnaires and GDA measurement tools. Data processing used univariate and bivariate tests with chi-square. Univariate analysis showed that most of elderly were aged 66-70 years (38.5%), male (63.1%), low education (52.3%) and not working (41.5%). Bivariate results showed correlation between lifestyle factors such as physical activity (p=0.007), frequency of carbohydrate consumption (p=0.028), frequency of fiber consumption (p=0.005), obesity (p=0.029) and medication compliance (p=0.032) and blood glucose levels to elderly. There was correlation between lifestyle factors and blood glucose levels to elderly.
Upaya Peningkatan Fase Perkembangan Industri Anak melalui Terapi Kelompok Terapeutik pada Anak Usia Sekolah Erwin Yektiningsih; Nugrahaeni Firdausi; Pratiwi Yuliansari
Journal of Community Engagement in Health Vol. 4 No. 2 (2021): September
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jceh.v4i2.237

Abstract

Anak usia sekolah merupakan generasi masa depan bangsa, sehingga diperlukan ketahanan dan kesehatan mental yang optimal supaya anak produktif sesuai dengan fase perkembangan industry. Jika hal tersebut tidak dilakukan maka akan mengalami gangguan perkembangan psikososial. Saat ini masih banyak keluarga di komunitas yang belum memahami mengenai cara menstimulasi perkembangan anak usia sekolah pada beberapa jenis perkembangan seperti motorik, kognitif dan bahasa, emosi dan kepribadian, moral dan spiritual, serta psikososial. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini untuk menstimulasi anak usia sekolah pada perkembangan industry secara optimal melalui pendekatan terapi kelompok terapeutik (TKT) usia anak sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode pelaksanaan terdiri dari tiga tahap adalah tahap persiapan, pelaksaanaan tindakan TKT yang terdiri dari lima (5) sesi dan evaluasi. Hasil kegiatan ini menunjukkan mayoritas peserta terjadi peningkatan tingkat perkembangan dengan baik pada anak usia sekolah setelah dilakukan TKT. Oleh karena itu, terapi kelompok terapeutik direkomendasikan sebagai promosi untuk menstimulasi perkembangan secara optimal yang mempengaruhi pada kesehatan jiwa anak usia sekolah pada tatanan pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat.