Claim Missing Document
Check
Articles

Representasi Aturan Adat Pemilihan Pasangan (Romantic Relationship) Masyarakat Batak dalam Film Mursala Williams Wijaya Saragih; Agus Naryoso; Taufik Suprihartini; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.304 KB)

Abstract

Masyarakat Batak memiliki aturan pemilihan pasangan (romantic relationship).Aturan yang mengatur siapa saja yang boleh dinikahi dan siapa yang tidak boleh untukdinikahi berdasarkan janji yang ditetapkan, tidak boleh saling menikah bagi sepasangkekasih yang memliki marga yang sama. Di sisi lain ideal bagi masyarakat Batakmenikahi anak perempuan dari tulang (paman). Mursala adalah film drama cintaberbalut kebudayaan Batak yang bercerita tentang Anggiat Simbolon, seorangpengacara yang mencoba mempertahankan hubungan cintanya dengan Clarissa Saragihdi tengah larangan adat. Film ini menekankan aturan pernikahan adat Batak yang harusdijalankan dan dipertahankan sampai sekarang dan perasaan cinta yang berbenturandengan nilai adat sehingga menimbulkan konflik dalam keluarga dan masyarakat adat.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui representasi aturan pemilihan pasangan(romantic relationship) masyarakat Batak dalam film Mursala. Tipe penelitian iniadalah deskriptif kualitatif, menggunakan pendekatan signifikasi dua tahap dari teorisemiotika Roland Barthes dan analisis semiotika dengan teknik analisis data dari konsepkode-kode televisi John Fiske. Analisis dilakukan dengan tiga level, yakni level realitas,level representasi, dan level ideologi. Level realitas dan level representasi dianalisissecara sintagmatik, sedangkan analisis secara paradigmatik untuk level ideologi.Hasil penelitian menemukan bahwa adat sebagai nilai yang memiliki kekuatanuntuk mengatur perilaku harus tetap dijalankan dan dipertahankan. Melalui analisissintagmatik pada level realitas dan representasi peneliti menemukan makna peneguhanadat sebagai proses penerapan dan penjagaan nilai-nilai adat dari tindakan pelanggaran.Selain itu peneliti juga menemukan konflik yang terjadi dalam penerapan nilai adatyang ditampilkan sebagai dampak benturan kepentingan individu dengan nilai adat.Sedangkan melalui analisis paradigmatik pada level ideologi peneliti menemukanpenegasan kolektivisme keluarga sebagai agen kebudayaan serta kekakuan dan superiornilai adat. Konstruksi ideologi kolektivisme keluarga sebagai agen kebudayaanmenampilkan fungsi dan pembagian peran anggota keluarga dalam penanaman nilaiserta sistem pengawasan terlaksananya nilai adat. Konstruksi kekakuan dan sifatsuperior adat direpresentasikan lewat ketidakberdayaan Anggiat sebagai pengacarauntuk mempertahankan hubungan cintanya di hadapan hukum adat. Selain itu didapatibahwa keyakinan terhadap keabsolutan nilai adat sebagai faktor dipertahankan adatsebagai pedoman perilaku.
Representasi Budaya Popular dalam Video Parodi Jokowi-Ahok di Youtube Selama Pemilukada DKI Jakarta 2012 Amalia Ayu Wulansari; Triyono Lukmantoro; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.502 KB)

Abstract

Representation of Popular Culture in Jokowi-Ahok's Video Parodyson Youtube During Pemilukada DKI Jakarta 2012AbstractPemilukada DKI Jakarta 2012 was marked by the rise of videos that related toGovernor and Vice Governor candidates of DKI Jakarta 2012 on internet mediaYoutube, such as videos which is purposely made for campaign, or videos withSARA (etnic, religion, race and inter-group) issue, that attack one of the pair'scabdidates. The interesting point is videos made by partisipants and volunteerswho support one of the pair's candidates.This research wanted to see how popular culture's representation inJokowi-Ahok's videos on Youtube during Pemilukada DKI Jakarta 2012, usingdefinition consept of popular culture by Storey, namely popular culture as a formof resistance from the oppressed or the minorities to the ruler or the majority.Codes of televition by Fiske was used as a method to analyze three videos as thesource of research data, by waching and reading those videos.The result showed that popular culture being represented in the threevideos of Jokowi-Ahok through songs, music, and videos that parodied K-pop andBritish boyband One Direction, which is became an attraction for the public.Those videos more likely used the fame that has been owned by the songs, music,and videos that being parodied in Jokowi-Ahok's vidoes and turn popular cultureinto a medium and tool for community to express their opinion and politicalaspirations.Keywords: Representation, popular culture, Youtube, Codes of televisionviiiRepresentasi Budaya Popular Dalam Video Parodi Jokowi-Ahokdi Youtube Selama Pemilukada DKI Jakarta 2012AbstraksiPemilukada DKI Jakarta 2012 diwarnai dengan munculnya video-video terkaitcalon Gubernur dan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta di media internetYoutube, seperti video yang memang dibuat untuk kepentingan kampanye, atauvideo yang berbau isu-isu SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) yangmenyerang salah satu pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Yangmenarik perhatian adalah video yang dibuat oleh partisipan dan relawan yangmendukung salah satu pasangan calon.Penelitian ini ingin melihat bagaimana representasi budaya popular dalamvideo Jokowi-Ahok di Youtube selama Pemilukada DKI Jakarta 2012,menggunakan konsep definisi budaya popular dari Storey, yaitu budaya popularsebagai suatu bentuk perlawanan kaum minoritas atau tertindas kepada kaummayoritas atau penguasa. Codes of television dari Fiske digunakan sebagaimetode untuk mengurai tiga video yang menjadi sumber data penelitian, denganmengamati dan membaca tiga video Jokowi-Ahok tersebut.Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya popular direpresentasikandalam tiga video Jokowi-Ahok melalui penggunaan lagu, musik dan video yangmemarodikan K-pop dan boyband Inggris One Direction, yang menjadi suatudaya tarik bagi masyarakat. Video-video tersebut seperti menggunakan ketenaranyang telah dimiliki oleh lagu, musik, dan video yang diparodikan dalam videoJokowi-Ahok dan mengubah budaya popular menjadi suatu media dan alat bagimasyarakat dalam menyampaikan aspirasi dan pendapat terkait politik.Keywords: Representasi, Budaya popular, Youtube, Codes of televisionixLatar BelakangSejak Orde Baru, peran musik dan lagu pada pemilihan umum hanya sebatassebagai “penggembira”, tidak kurang tidak lebih. Musik atau lagu digunakansebagai penarik massa pada kampanye-kampanye yang dilakukan tiga partai saatitu. Dengan mengundang penyanyi pop dan penyanyi dangdut ternama, baikkaliber nasional atau lokal, sudah menjadi jaminan akan mendatangkan banyakmassa.Pada akhir tahun 2012, digelar pemilukada yang dapat dikatakanmengundang perhatian hampir seluruh masyarakat Indonesia yaitu PemilukadaDKI Jakarta untuk Gubernur dan Wakil Gubernur yang berakhir pada bulanOktober 2012 dengan terpilihnya Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakartadidampingi Basuki Tjahaja Purnama sebagai Wakil Gubernur DKI Jakartaperiode 2012-2017. Selama masa kampanye Pemilukada DKI Jakarta, banyak halhalbaru dalam pelaksanaannya, seperti penggunaan media internet Youtubedengan video-videonya dan isu-isu yang menyebar terkait para kandidat, termasukGubernur DKI Jakarta saat itu, Fauzi Bowo yang mencalonkan diri kembali untukperiode kedua sebagai Gubernur DKI Jakarta melawan Jokowi-Ahok.Rumusan MasalahPemilukada DKI Jakarta 2012 adalah salah satu bukti perkembangan budayapopular sebagai alat baru dalam politik Indonesia, dengan penggunaan musik,xlagu, dan video yang sedang trend saat ini, serta penggunakan media internet,salah satunya adalah website video terbesar Youtube.Berdasarkan perkembangan budaya popular di Indonesia, munculpertanyaan mengenai bagaimana representasi budaya popular digunakan sebagaisalah satu media dan alat dalam berpolitik, melalui video parodi Jokowi-Ahok diYoutube selama masa kampanye Pemilukada DKI Jakarta 2012?TujuanUntuk mendeskripsikan representasi budaya popular digunakan sebagai salah satumedia dan alat dalam berpolitik, melalui video parodi Jokowi-Ahok di Youtubeselama masa kampanye Pemilukada DKI Jakarta 2012.Kerangka PemikiranPenelitian ini menggunakan definisi representasi dengan pendekatan kontruktivis,yaitu representasi adalah suatu kerja menggunakan obyek dan efek, makna tidaktergantung kualitas material dari tanda, melainkan dari fungsi simbol tandatersebut. Konsep definisi budaya popular dari Storey juga digunakan untukmenjelaskan budaya popular, yaitu budaya popular merupakan bentuk perlawananantara grup minoritas atau subordinate dan kekuatan dari grup dominan.xiMetodologiPenelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, dengan menggunakananalisis semiotik. Tiga video Jokowi-Ahok diuraikan menggunakan metode codesof television Fiske, dengan analisis sintagmatik, yaitu level realitas dan levelrepresentasi, serta analisis paradigmatik dengan level ideologi.Hasil PenelitianPada level realitas dan level representasi, terlihat tiga video Jokowi-Ahokmenggambarkan warga Jakarta dengan pengaruh budaya popular, seperti terlihatpada kostum yang bergaya K-pop, video yang memarodikan video klip KoreaSelatan Gangnam Style dan penggunaan lagu K-pop Bigbang dan boyband InggrisOne Diretion.Level ideologi menunjukkan bagaimana budaya popular digunakansebagai media dan alat dalam menyampaikan aspisari, pendapat, atau kritik yangberkaitan dengan politik.Kesimpulan1. Bentuk budaya popular direpresentasikan dalam dua video, yaitu video 1:Jokowi Basuki (Gangnam Style n Big Bang) Parody, di mana dalam videotersebut, digunakan lagu K-pop Bigbang ‘Fantastic Baby’ dengan videoxiiyang memarodikan video klip rapper Korea, PSY, ‘Gangnam Style’. Videokedua yang merepresentasikan budaya popular adalah video 3: JOKOWIDAN BASUKI – what makes you beautiful by one direction [PARODY].Video ini menggunakan lagu dari boyband Inggris yang sedang naik daun,One Direction ‘what makes you beautiful’.2. Dalam video 2: Jokowi dan Foke – TAKOTAK MISKUMIS byCAMEOProject feat. Yosi Project Pop, Yosi mengunakan lagu dan video,serta Youtube sebagai media untuk menyoroti masalah isu SARA yangmuncul pada Pemilukada DKI Jakarta. Budaya popular digunakan Yosisebagai media untuk menyampaikan aspirasi, pendapat, dan protes tentangisu SARA yang mewarnai pemilukada tersebut.Saran1. Implikasi TeoritisPenelitian ini berusaha untuk memberi gagasan pemikiran dan kontribusidalam ragam penelitian mengenai representasi budaya popular sesuaidengan salah satu konsep definisi Storey, yaitu budaya popular digunakansebagai suatu bentuk perlawanan kaum tertindas atau lemah, dalam hal iniadalah masyarakat umum, terhadap kaum penguasa yaitu pemerintah danpolitikus.xiii2. Implikasi PraktisDiharapkan penelitian ini dapat membuka pemahaman bagi masyarakat,lembaga pemerintah, partai politik, dan politikus agar dapat menggunakanbudaya popular dan media internet secara lebih baik sebagai salah satusarana dalam mengemukakan aspirasi, pendapat, dan pemikiran terkait isuisupolitik.3. Implikasi SosialWarga masyarakat agar lebih aktif dalam dunia politik melaluipenyampaian pendapat dan aspirasi, yang sekarang dapat dilakukandengan mudah melalui media internet. Dengan lebih banyak masyarakatyang melakukan penilaian dan pengawasan terhadap jalannyapemerintahan, pemerintah, partai politik, dan politikus juga akanmendengar, mengerti, dan memahami keinginan dan aspirasi wargamasyarakat.xivDAFTAR PUSTAKABerger, Arthur. A. (2010). The Objects of Affection Semiotics and Consumer Culture. NewYork: Palgrave MacmillanCartoni, Lorenzo and Tardini, Stefano. (2006). Internet. New York: RoutledgeCogan, Bryan and Kelso, Tony. (2009). Encyclopedia of Politics, The Media and PopularCulture. Santa Barbara, California: Greenwood PressFiske, John. (2006). Understanding Popular Culture. In a Harold E. Hinds, Jr (Ed.), PopularCulture Theory and Methodology. A Basic Introduction ( pg. 118). Wisconsin:The University of Wisconsin PressFiske, John. (1987). Television Culture. New York: RoutledgeFiske, John and Hartley, John. (2003). The Signs of Television. In Fiske, John & Hartley,John (eds). Reading Television (pp. 23-40). London & New York: RoutledgeFlores, Juan. (2000). Pueblo Pueblo: Popular Culture in Time. In Raiford Guins & OmayraZ. Cruz (eds). Popular Culture: A Reader (pg. 72-81). London: Sage PublicationsGreen, Lelia. (2010). The Internet. An Introduction to New Media. Oxford, New York:BergHall, Stuart. (1997). Representations: Cultural Representations and Signifiying Practises.London: Sage PublicationsxvHediger, Vinzenz. (2009). YouTube and the Aesthetics of Political Accountability. InSnickars, Pelle and Vonderau, Patrick (eds). The Youtube Reader (pg.252-263).Stockholm, Swedia: MediehistorisktHermes, Joke. (2005). Re-reading Popular Culture. Blackwell Publishing LtdJensen, Klaus Bruhn. (2011). New Media, Old Methods – Internet Methodologies and theOnline/Offline Divide. In Consalvo, Mia and Ess, Charles (eds). The Handbook ofInternet Studies (pg. 43-56). UK: Wiley-Blackwell PublishingJunaedi, Fajar. (2009). Menelanjangi Film Indonesia. Yogyakarta: Lingkar MediaKorean Culture and Information Service. (2011). The Korean Wave: A New Pop CulturePhenomenon. Republik Korea Selatan: Korean Culture and Information Service,Ministry of Culture, Sports and TourismMacdonald, Dwight. (1957). A Theory of mass Culture. In Raiford Guins & Omayra Z. Cruz(eds). Popular Culture: A Reader (pg. 39-46). London: Sage PublicationsPease, Allan. (1981). Body Language. London: Sheldon PressShidu, Gretchen Luchsinger dan Meena, Ryth. (2007). Electoral Financing to AdvanceWomen’s Political Participation: A Guide for UNDP Support. New York: UnitedNation Development ProgrammeSnickars, Pelle and Vonderau, Patrick. (2009). Introduction. In Snickars, Pelle andVonderau, Patrick (eds). The Youtube Reader (pg. 9-19). Stockholm, Swedia:MediehistorisktStorey, John. (2003). Inventing Popular Culture. From Folklore to Globalization. USA, UK,Australia, German: Blackwell Publishing LtdxviStorey, John. (2009). Cultural Theory and Popular Culture: An Introduction. UK: LongmanPublishing GroupStromer-Galley, Jennifer and Wichowski, Alexis. Political Discussion Online. In Consalvo,Mia & Ess, Charles (eds). The Handbook of Internet Studies (pg. 168-181). UK:Wiley-Blackwell PublishingSuhandinata , Justian . (2010). WNI Tionghoa dalam Stabilitas Ekonomi dan Politik diIndonesia. Jakarta : Gramedia Pustaka UtamaVivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Jakarta: KencanaWeaver, John A. (2005). Popular Culture Primer. New York: Peter Lang Publishing LtdWebb, Jen. (2009). Understanding Representations. London and California: SagePublicationsWillcox, David. R. (2005). Propaganda, The Press, and Conflict. The Gulf war and Cosovo.New York: RoutlegdeWilliams, Raymond. (1976). ’Culture and Masses’. In Raiford Guins & Omayra Z. Cruz(eds). Popular Culture: A Reader (pp. 25-32). London: Sage PublicationsJURNALCathey, Paul Eben. (2009). Understanding Propaganda: Noam Chomsky and TheInstitutional of Analysis of PowerxviiHepple, Bob. (2010). The New Single Equality Act in Britain. The Equal Rights Review, vol.Five:11-24Kim, Eun Mee dan Ryoo, Ji won. (2007). South Korean Culture Goes Global:K-Pop and the Korean Wave. Korean Social Science Journal, XXXIV No.1:117-152Nilges, Thorsten. (2005). Gender Inequality in Politics. Human Rights: A GenderPerspective. Mozaik 2005/1:5-7Situmorang, James R. (2012). Pemanfaatan Internet Sebagai New Media Dalam BidangPolitik, Bisnis, Pendidikan Dan Sosial Budaya. Jurnal Administrasi Bisnis, Vol.8,No.1: hal. 73–87, (ISSN:0216–1249) Center for Business Studies. FISIP – UnparSUMBER INTERNETAnarchy. oxforddictionaries.com. Diakses Juni 27, 2013, darihttp://oxforddictionaries.com/definition/english/anarchyArthur, Hendra Nick. Pilkada Sulsel- Ribuan pendukung IA joged dangdut di KPU.(2012, September 14). Bisnis-KTI.COM. Diakses Desember 14, 2012, darihttp://www.bisnis-kti.com/index.php/2012/09/pilkada-sulsel-ribuan-pendukungia-joget-dangdut-di-kpu/Asril, Sabrina. Beredar, Video Foke Sindir Jokowi di Pengungsian. (2012, Agustus 9).KOMPAS.COM. Diakses Desember 12, 2012, darihttp://megapolitan.kompas.com/read/2012/08/09/07190193/Beredar.Video.Foke.Sindir.Jokowi.di.PengungsianCain, Helena. Definition of Casual Clothing. eHow.com. Diakses Juni 21, 2013, darihttp://www.ehow.com/about_6790682_definition-casual-clothing.htmlxviiiCamera shots angles and movements, lighting, cinematography and mise en sceen.Diakses Juni 15, 2013, dari http://www.skwirk.com.au/p-c_s-54_u-251_t-647_c-2411/camera-shots-angles-and-movement-lighting-cinematography-andmise-en-scene/nsw/camera-shots-angles-and-movement-lightingcinematography-and-mise-en-scene/skills-by-text-type-film/film-overviewDasar Hukum Penyelenggaraan PILKADA. (n.d). www.depdagri.go.id. DiaksesDesember 4, 2012, dari http://www.depdagri.go.id/pilkadaEtab. Plaid. (2005, Oktober 12). Urbandictionary.com. Diakses Juli 3, 2013, darihttp://www.urbandictionary.com/define.php?term=plaidFisher, Max. Gangnam Style, Dissected: The Subversive Message Within South Korea'sMusic Video Sensation. (2012, Agustus 23). theatlantic.com. Diakses pada Juli8, 2013, darihttp://www.theatlantic.com/international/archive/2012/08/gangnamstyle-dissected-the-subversive-message-within-south-koreas-music-videosensation/261462/Jokowi-Foke bertarung lewat video di Youtube. (2012, Agustus 27).METROTVNEWS.COM. Diakses Desember 12, 2012, darihttp://www.metrotvnews.com/read/news/2012/08/27/103613/Jokowi-Foke-Bertarung-Lewat-Video-Klip-diKurniawan, Wahyu. Pilkada DKI: Dinilai ceramah SARA, Rhoma Irama terancampidana. (2012, Agustus 1). SOLOPOS.COM. Diakses Desember 10, 2012, darihttp://www.solopos.com/2012/08/01/pilkada-dki-dinilai-ceramah-sara-rhomairama-terancam-pidana-206442Kurniawan, Ranu Ario. Masih Sedikit, Politisi yang Gunakan Social Media. (2013, Mei 11).Timlo.net. Diakses Mei 23, 2013, darihttp://www.timlo.net/baca/70812/masih-sedikit-politisi-yang-gunakan-sosialmedia/Lizza, Ryan. The Youtube Election. (2006, Agaustus 20). NewYorkTimes.com. DiaksesNovember, 27 2012. darihttp://www.nytimes.com/2006/08/20/weekinreview/20lizza.html?pagewanted=all&_r=0xixMashable. Orang suka komentar pedas politik di social media. (2012, November 6).Diakses Mei 18, 2013, darihttp://ictwatch.com/internetsehat/2012/11/06/orang-suka-komentar-pedaspolitik-di-social-media/Masykur, Ahwalian. Beredar video parodi musik Jokowi sindir Foke. (2012, Agustus 29).KETITIK.net. Diakses Desember 12, 2012, darihttp://www.ketitik.net/2012/08/29/4611/beredar-video-parodi-musik-jokowisindir-foke/Mecca, Zaskia. Video Koboy China Pimpin Jakarta. (2012, Agustus 24). Diakses Maret 23,2013, dari http://milanistaindonesia.blogspot.com/2012/08/video-koboychina-pimpin-jakarta-video.htmlMiharjo, Anton. Pertempuran Pilkada Bali di Youtube. (2013, Mei 14). Kompasiana.com.Diakses Mei 23, 2013, darihttp://politik.kompasiana.com/2013/05/14/pertempuran-pilkada-bali-diyoutube-555884.htmlNahyudi. Dunia maya ramai dengan kampanye Foke dan Jokowi. (2012, Agustus 29).LIPUTAN6.COM. Diakses Desember 12, 2012, darihttp://news.liputan6.com/read/433129/dunia-maya-ramai-dengan-kampanyefoke-dan-jokowiNouval, Alvin. Jejaring Sosial, Media Baru Unutk Berpolitik. (2013, April 26). Merdeka.Com. Diakses Mei 18, 2013, dari http://www.merdeka.com/teknologi/jejaringsosial-media-baru-untuk-berpolitik.htmlParody. oxforddictionaries.com. Diakses Juni 27, 2013, darihttp://oxforddictionaries.com/definition/english/parodyRosyid, Ikhsan. Goyang Ngebor, Goyang Gergaji dan Dangdut Koplo Pantura Jatim VsJanji Politik dalam Kampanye Parpol. (2011, Oktober 25). Diakses April 10,2013, dari http://ikhsan_history-fib.web.unair.ac.id/artikel_detail-36006-Mind%20and%20Think%20-Goyang%20Ngebor,%20Goyang%20Gergaji,%20dan%20Dangdut%20Koplo%20Pantura%20Jatim%20vs%20Janji%20Politik%20dalam%20Kampanye%20Parpol.htmlRustandi, Dudi. Kekuatan media jejaring sosial. (2013, April 28). Kompasiana. com.Diakses Mei 18, 2013, darihttp://media.kompasiana.com/buku/2013/04/28/kekuatan-media-jejaringsosial-550924.htmlxxRp. 15 Trilyun dan Pandangan Negarawan Inul. (2004, Maret 4). Diakses April 10, 2013,dari http://pemilu2004.goblogmedia.com/rp-15-trilyun-dan-pandangannegarawan-inul.htmlSAYKOJI Buat Lagu Bertema Kampanye Damai Pemilu 2009. (2009, Februari 23).ekampanyedamaipemiluindonesia2009.blogspot.com. Diakses Mei 12, 2013,darihttp://ekampanyedamaipemiluindonesia2009.blogspot.com/2009/02/saykojibuat-lagu-bertema-kampanye.htmlSchwab, Nikki. In Obama-McCain Race, Youtube Becaome a Serious Battleground forPresidential Politics. (2008, November 7). U.S NEWS.com. Diakses November27, 2013, dari http://www.usnews.com/news/campaign-2008/articles/2008/11/07/in-obama-mccain-race-youtube-became-a-seriousbattleground-for-presidential-politicsSteinhauser, Paul. The Youtube-ification of Politics: Candidates losing control. (2007, July18). CNN.com. Diakses November, 27 2012. dari http://articles.cnn.com/2007-07-18/politics/youtube.effect_1_youtube-video-video-sharing-web-sitemoments?_s=PM:POLITICSSwastika, I Putu Agus. Internet, Social Media dan Pilkada. (2013, April 9). Primakara.com.Diakses Mei 23, 2013, dari http://www.primakara.com/?content=detailberita&kode=19Tren Fashion ala Gangnam Style. (2012, September 27). Vemale.com. Diakses Juni 15,2013, dari http://www.vemale.com/fashion/tips-and-tricks/15562-tren-fashionala-gangnam-style.htmlVirdhani, Marieska Harya. Makna baju kotak-kotak bagi pasangan Jokowi-Ahok. (2012,Maret 29). Okezone.com. Diakses Juli 3, 2013, darihttp://jakarta.okezone.com/read/2012/03/29/505/602087/makna-baju-kotakkotak-bagi-pasangan-jokowi-ahokxxiVena, Jocelyn. (2012, Maret 14). The Wanted Vs. One Direction: A Boy Band CheatSheet. MTV News breaks down the differences between the two groupsresponsible for 2012's British Invasion. MTV.com. Diakses pada Juli 10, 2012,dari http://www.mtv.com/news/articles/1681029/the-wanted-onedirection-boy-bands.jhtmlWijaya, M Akbar. Jejaring sosial mudahkan politikus serap aspirasi rakyat. (2013, April15). Republika.co.id. Diakses Mei 18, 2013, darihttp://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/04/15/mlave8-jejaringsosial-mudahkan-politikus-serap-aspirasi-rakyat
DRAMATURGI KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ORGANISASI PROFIT Leidena Sekar Negari; Sunarto Sunarto; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.427 KB)

Abstract

DRAMATURGI KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAMORGANISASI PROFITAbstrakPemimpin dalam organisasi biasanya didominasi oleh kaum pria, karena konsepdan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia yang mengaut pahampaternalistik. Seiring perkembangan zaman perempuan kini mampu mendudukijajaran top tier manajemen di sejumlah organisasi profit. Gaya komunikasiperempuan yang dianggap mampu dicintai karyawan dan lingkungan kerjanyadalam membangun sebuah hubungan menjadi sebuah nilai plus.Di dalam penelitian ini menggunakan teori dramaturgi oleh Goffman yangmerupakan perluasan teori dari interaksionisme simbolik. Dramaturgidigambarkan sebagai sebuah pementasan drama yang mirip dengan pertunjukanaktor di panggung. Melalui dramaturgi ditunjukkan bahwa identitas manusia bisasaja berubah-rubah. Manusia adalah aktor yang memainkan drama di suatupanggung kehidupan. Pada saat interaksi berlangsung, maka aktor tersebutmenampilkan pertunjukan dramanya di hadapan orang lain hingga membentukimpression management pada dirinya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui impression management dalaminteraksi antara pemimpin perempuan dengan stakeholder di organisasinya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat komunikasi berlangsungantara pemimpin perempuan dan stakeholder, kedua belah menampilkanimpression management. Pada back stage, pemimpin perempuan melakukanaktivitas lain sebelum bertemu dengan stakeholder, seperti meeting dengan teamuntuk keberhasilan tampil di front stage, supaya terlihat sebagai pemimpin yangmampu melaksanakan tugasnya dengan baik di hadapan stakeholder. Back stagepemimpin perempuan tidak diketahui oleh stakeholder.Pemimpin perempuan menampilkan impression management di hadapanstakeholder, yaitu sebagai pemimpin perempuan yang mampu menjalankankegiatannya dengan baik, membimbing karyawan dengan telaten, mempunyaikemampuan berbicara yang luwes, dan cakap dalam membangun hubungandengan stakeholder organisasinya. Stakeholder tidak mengetahui hal-hal apa sajayang dirasakan atau dilalui oleh pemimpin perempuan, seperti terkadangpemimpin perempuan merasa tidak siap dalam memimpin rapat, manajemenwaktu yang kurang baik. Hal ini dapat merusak citranya sebagai seorangpemimpin. Oleh karena itu impression management sangat penting demimencapai komunikasi efektif dalam komunikasi pemimpin perempuanstakeholder.Key words: Dramaturgi, Kepemimpinan, PerempuanWOMEN’S DRAMATURGICAL LEADERSHIP IN PROFITORGANIZATIONAbstractLeadership in an Indonesian organization is usually dominated by men aspaternalism runs deep in the people’s minds. Women nowadays have been able toget on top management of profit organization. Their unique communication stylein building a relationship among colleagues and the entire work environment isgreatly valued.This study used the dramaturgy theory by Goffman, which are extensionof symbolic interactionism. Dramaturgy is described as a drama performance withactors on the stage. The theory believes that a man’s identity changes from time totime. A man is an actor performing on a stage of life. When interacting, the actorperforms in front of other people, managing his impression on other people.This research aimed to understand the impression-management takingplace in the interaction between women leaders with other stakeholders in theorganization.The result showed that when an act of communication is taking placebetween a women leader and stakeholders, they are doing impressionmanagement. At back stage, a woman leader does other activities prior to meetingwith stakeholders, such as meeting with the team to ensure the success ofperforming at front stage, so that she is seen as a leader who is able to do their jobproperly in front of stakeholders. A woman leader’s back stage activity is usuallynot known by stakeholders.Women leaders displayed impression management in the presence ofstakeholders as leaders who are able to manage their work well, to leademployees, to speak their minds and to build strong relationships withstakeholders of the organization. Stakeholders may not know what a womanleader feels, such as feeling very unprepared to lead a meeting, having bad timemanagement. This can ruin her image as a leader. Therefore, impressionmanagement is very important for achieving effective communication in thewomen leaders – stakeholder’s communication.Key words: Dramaturgy, Leadership, WomanBAB I1.1. LATAR BELAKANGBukan sebuah hal yang tabu, jika pada saat ini sudah banyak perempuanmenduduki jajaran manajerial dalam organisasinya. Gaya komunikasi perempuandianggap mampu dicintai karyawan dalam lingkungan kerjanya. Dengan gayakomunikasi yang bertutur kata lembut, gesture, dan kasih sayang dalammembangun hubungan yang dimiliki menjadi sebuah nilai plus.Gaya komunikasi pemimpin perempuan, seolah menjadikan itu sebuahalasan organisasi berganti strategi komunikasinya. Dengan demikian, dipandangperlu adanya penelitian yang dapat melihat bagaimana cara komunikasiperempuan dalam berinteraksi dengan stakeholder pada organisasinya.1.2. PERUMUSAN MASALAHSeiring perkembangan zaman perempuan kini sudah melebarkan sayapnya yangtadinya hanya dianggap mempunyai tugas untuk melakukan segala kegiatanpekerjaan rumah, seperti mengurus anak dan suami, memasak, dan kegiatan lainyang dilakukan untuk kepentingan keluarga selain mencari nafkah. Dalam situasiseperti ini dapat dipahami mengapa kerja perempuan sering sekali tidak tampak(invisible) karena dalam masyarakat kita (walaupun tidak semua masyarakat)keterlibatan perempuan sering kali berada dalam pekerjaan yang tidak membawaupah atau tidak dilakukan di luar rumah (walaupun mendatangkan penghasilan)Dalam era seperti saat ini justru amat mudah melihat perempuanmenduduki jajaran top tier manajemen. Wanita karier sudah bertebaran di manamana,bahkan menduduki posisi di organisasi yang dianggap tabu, sepertitambang, pemerintahan, dan perminyakan. Perempuan masuk dalam dunia bisnissaat ini sudah dianggap wajar, bahkan 70% laki-laki sudah bisa mengakui danmerasa nyaman jika perempuan bekerja di luar rumah (SWA, 2010).Gaya komunikasi pemimpin perempuan, seolah menjadikan itu sebuahalasan para organisasi berganti strategi untuk menjadikan karyawan dalamorganisasinya menjadi berubah haluan. Dengan demikian, dipandang perlu adanyapenelitian yang dapat melihat bagaimana cara komunikasi perempuan dalamberinteraksi dengan stakeholder pada organisasinya. Bagaimana impresionmanagement dalam interaksi antara pemimpin perempuan dengan stakeholder diorganisasinya?BAB II2.1. KERANGKA TEORI2.1.1. Interaksionisme SimbolikTeori interaksionisme simbolis dikonstruksikan atas sejumlah ide-ide dasar.Ide dasar ini mengacu pada masalah-masalah kelompok manusia atau masyarakat,interaksi sosial, obyek, manusia sebagai pelaku, tindakan manusia daninterkoneksi dari saluran-saluran tindakan.Symbolic interactionism, a movement within sociology, focuses on the waysin which people from meaning and structure in society through conversation.Menurut teoritisi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah “interaksimanusia dengan menggunkaan simbol-simbol.” Mereka tertarik pada caramanusia menggunakan simbol-simbol yang mempresentasikan apa yang merekamaksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga pengaruh yangditimbulkan penafsiran atas simbol-simbol ini terhadap perilaku pihak-pihak yangterlibat dalam interaksi sosial.George Herbert Mead mempunyai tiga konsep utama dalam teoriInteraksionisme simbolik yaitu, masyarakat (society), diri sendiri (self), danpikiran (mind) . Kategori-kategori ini merupakan aspek-aspek yang berbeda dariproses umum yang sama yang disebut tindak sosial, yang merupakan sebuahkesatuan tingkah laku yang tidak dapat dianalisis ke dalam bagian-bagian tertentu.2.1.1. Konsep DramaturgiFokus pendekatan dramaturgis adalah bukan apa yang orang lakukan, bukan apayang ingin mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukan, melainkanbagaimana mereka melakukannya . Goffman mengasumsikan bahwa ketika orangorangberinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akanditerima orang lain. Ia menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan pesan”(impression management), yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untukmemupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuantertentu (Ritzer, 1996:215).Menurut Goffman kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi “wilayahdepan” (front region) dan “wilayah belakang” (back region). Wilayah depanmerujuk kepada peristiwa sosial yang menunjukkan bahwa individu bergaya ataumenampilkan peran formalnya. Mereka sedang memainkan perannya di ataspanggung sandiwara di hadapan khalayak penonton. Sebaliknya wilayah belakangmerujuk kepada tempat dan peristiwa yang memungkinkannya mempersiapkanperannya di wilayah depan. Wilayah depan ibarat panggung sandiwara bagiandepan (front stage) yang ditonton khalayak penonton, sedang wilayah belakangibarat panggung sandiwara bagian belakang (back stage) atau kamar rias tempatpemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau berlatih untuk memainkanperannya di panggung depan.Goffman membagi panggung depan ini menjadi dua bagian: front pribadi(personal front) dan setting. Front pribadi terdiri dari alat-alat yang dianggapkhalayak sebagai perlengkapan yang dibawa aktor ke dalam setting. Pemimpinperempuan menggunakan setelan pakaian formal serta notebook atau ipad digenggamannya. Personal front mencakup bahasa verbal dan bahasa tubuh sangaktor. Sebagai seorang pemimpin, perempuan dapat menggunakan kalimat denganpilihan kata yang sopan, halus, penggunaan istilah-istilan asing dalam melakukanpresentasi, memperhatikan intonasi, postur tubuh, dan ekspresi wajah. pakaianyang digunakan, penampakan usia dan sebagainya. Hingga derajat tertentu semuaaspek itu dapat dikendalikan actor.Sementara itu, setting merupakan situasi fisik yang harus ada ketika aktormelakukan pertunjukan. Dimana seorang pemimpin memerlukan ruang kerja yangnyaman dan bersih untuk melakukan tugasnya..Goffman mengakui bahwa panggung depan mengandung anasir strukturaldalam arti bahwa panggung depan cenderung terlembagakan alias mewakilikepentingan kelompok atau organisasi. Sering ketika aktor melaksanakanperannya, peran tersebut telah ditetapkan lembaga tempat dia bernaung. Meskipunberbau struktural, daya tarik pendekatan Goffman terletak pada interaksi. Iaberpendapat bahwa umumnya orang-orang berusaha menyajikan diri mereka yangdiidealisasikan dalam pertunjukan mereka di pangung depan, mereka merasabahwa mereka harus menyembunyikan hal-hal tertentu dalam pertunjukannya.Wilayah ini memperlihatkan sikap superior sang pemimpin perempuan yangtergambar oleh karyawannya.Berbeda dengan panggung belakang (back stage), disini memungkinkanseorang pemimpin perempuan menggunakan kata-kata kasar ketika berkomentar,marah, mengumpat, bertindak agresif, memperolok, atau melakukan kegiatanyang tak pantas dilakukan ketika berhadapan dengan karyawannya. Adanyabelakang panggung dimaksudkan untuk melindungi rahasia pertunjukan sangpemimpin perempuan, stakeholder tidak diizinkan masuk ke wilayah ini.Pertunjukan yang dilakukan akan sulit apabila stakeholder masuk ke dalampanggung2.2. Tipe PenelitianSecara operasional tujuan penelitri menggunakan tipe penelitian kualitatifadalah untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam – dalamnya melaluipengumpulan data sedalam-dalamnya. Dalam penelitian ini lebih menekankanpada persoalan kedalaman. Periset merupakan bagian integral dari data artinyapeneliti ikut menentukan jenis data yang diinginkan dan peneliti harus terjunlangsung di lapangan).Analisis deskriptif kualitatif menurut Robert K.Yin (Yin, 2011: 177)1. CompilingMengkompilasi dan menyortir catatan lapangan dan pengumpulan data lainnyadan memisahkan data dari sumber arsip. Setelah itu peneliti meletakan pada folderdata yang dibuat. Jadi pada fase pertama, menempatkan data ke dalam beberapaurutan, yang selanjutya disebut database.2. DisassemblingPada tahap kedua mengkompille data hingga urutan terkecil, lalu memberikanlabel atau kode pada bagian-bagian data penelitian.dengan menggunakan temasubstantif untuk mengatur3. ReassemblingPenyusunan ulang pada tahap ketiga dapat difasilitasi dengan grafik atau denganmengaturnya dalam bentuk tabulasi data.4. InterpretingPeneliti membuat sebuah narasi dari hasil penelitian. Lalu memasukan interpertasipeneliti pada hasil penelitian5. ConcludingPada fase ini terdapat keseluruhan gambran dari hasil penelitian anda. Dan padakesimpulan terkait pada interpertasi pada fase keempat dan semua tahapanpenelitian lainnya.2.2.1. Jenis Data1. Data PrimerYaitu data yang diperoleh langsung dari lapangan. Sumber data primer dalampenelitian ini antara lain: (1) hasil observasi partisipan terhadap perilaku, sikap,simbol pemimpin perempuan dan stakeholdernya. (2) hasil wawancara dengansubjek penelitian yang dilakukan dengan wawancara mendalam (indepthinterview) antar peneliti dengan pemimpin perempuan, dan peneliti denganstakeholdernya.2. Data SekunderYaitu data yang diperoleh selain data primer antara lain: (1) data audio (rekamansuara), (2) data yang berkaitan dengan penelitian seperti internet, atau referensilainnya yang mendukung.2.2.2. Teknik Pengumpulan Data1. Wawancara mendalam (indepth interview)Wawancara mendalam merupakan suatu cara pengumpulan data atau informasidengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapat datalengkap dan mendalam. Wawancara ini dilakukan dengan frekuensi tinggi(berulang – ulang) secara intensif. Dalam wawancara ini informan bebasmemberikan jawaban karena periset memiliki tugas agar informan bersediameemberikan jawaban yang lengkap, mendalam dan bila perlu.2. ObservasiObservasi difokuskan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan fenomenariset. Fenomena ini mencakup interaksi (perilaku) dan percakapan yang terjadidiantara subjek yang diteliti sehingga keunggulan metode ini adalah data yangdikumpulkan dalam dua bentuk : interaksi dan percakapan. Artinya selain perilakunon verbal juga mencakup perilaku verbal dari orang – orang yang diamati.3. CollectingCollecting mengacu pada kompilasi atau mengmpulkan benda (dokumen,artefak, dan catatan arsip) yang berhubungan dengan topik penelitian. Sebagianbesar kegiatan collecting ini ketika sedang berada di lapangan, namun penelitijuga dapat mengumpulkan dari beberapa sumber, seperti buku-buku, internet. Inidapat mempermudah peneliti dalam proses penelitian.BAB III3.1. KESIMPULANTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui impression managementdalam interaksi antara pemimpin perempuan dan stakeholder. Impressionmanagement sangat penting pada saat interaksi antara pemimpin perempuan danstakeholder berlangsung. Impression management dapat diperoleh oleh penelitimelalui observasi partisipan dan wawancara mendalam. Karena pemimpinperempuan berperan seperti aktor yang melakukan pertunjukan drama diorganisasi. Hal ini sesuai dengan teori dramaturgi oleh Goffman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemimpin perempuan melakukanimpression management di hadapan stakeholder. Pemimpin perempuanmelakukan berbagai aktivitas selain bertemu dengan stakeholder. Seperti: arisan,berjulan sepatu, tas dan perlengkapan perempuan lainnya, dan menjadi pengurusorganisasi ekstra dari perusahaannya mempunyai bisnis makanan. Selain itupemimpin perempuan terkadang menyembunyikan masalah perusahaan ataupribadinya. Di depan stakeholder pemimpin perempuan harus terlihat baik dantidak punya masalah. Oleh karena itu karena impression management penting,maka melalui impression management, pemimpin perempuan menunjukan padastakeholder bahwa dia adalah pemimpin perempuan yang terampil dan ahli dalampekerjaannya.Pemimpin perempuan selalu terlihat bersemangat dan ceria ketikamenghadapi stakeholder karena dengan begitu memberikan pandangan bahwapemimpin senang ketika bertemu dengan stakeholder. Padahal pada backstagepemimpin perempuan, stakeholder tidak mengetahui komentar apa yangdiberikan pada stakeholder atau persiapan penting yang dilakukan olehstakeholder perempuan.DAFTAR PUSTAKABuku:Arivia, Gadis. ( 2006). Feminisme Sebuah Kata Hati. Jakarta : KompasBarletta, Martha. (2004). Marketing to women (Mendongkrak laba dari konsumenpaling kaya dalam segmen pasar terbesar). Jakarta: PPMBungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi ( Teori, Paradigma, danDiskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat ). Jakarta : Kencana.Bungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta : PrenadaMedia Group.Cornelissen, Joep. (2009). Corporate Communication, A guide to theory andpractice. New Delhi: Sage PublicationDenzim, Norman K dan Yvonna S.Lincoln.(1994). Handbook of QualitativeResearch. California : Sage PublicationsDow, Bonnie J dan Wood, Julia. The Sage Handbook of Gender andCommunication. USA: Sage PublicationsGamble, Teri and Gamble, Michael.(2006). Communication Work.MC Graw-hill humanitiesGriffin, Em. (2004). A First Look at Communication Theory. New York:McGraw-Hill.Kelley, Martha J.M., Lt Col, U.S, (1997). Gender Differences and leadershipstudy. Alabama: Maxwell Airforce BaseKriyantono, Rahmat.(2006). Tekhnik Praktik Riset Komunikasi. DisertaiContoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising,Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Kencana.Kuswarno, Engkus. (2008). Etnografi Komunikas,. Suatu Pengantar danContoh Penelitiannya, Bandung: Widya Padjajaran, (2008).Littlejohn, Stephen W. (1996). Theories of Human Communication.California:Belmont, Woodsworth.Littlejohn, Stephen W Littlejohn dan Karen A Foss .( 2009). Teori Komunikasi,Theories of Human Communication, Edisi 9, Jakarta: Salemba HumanikaMadison, D.Soyini. (2005).Critical Ethnography : Method, Ethics, andPerformance. California : Sage Publications.Moleong, Lexy J. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : RemajaRosdakaryaMuhammad, Arni, (2005). Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi AksaraMulyana, Deddy. (2003). Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru IlmuKomunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja RosdakaryaNeuman,W.Lawrence. (1997). Social Research Methods. Qualitative andQuantitave Approach, Third Edition. Boston : Allyn & Bacon A ViacomCompanyNuraini (2010). Perilaku Legislator Perempuan dalam MemperjuangkanKepentingan Perempuan. Skripsi. Unversitas DiponegoroPace, Wayne R dam Faules, Don F. (2006). Komunikasi Organisasi, strategimeningkatkan kinerja perusahaan. Bandung: PT Remaja RosdakaryaPrayitno, Ujianto Singgih, (1996). Wanita dalam pembangunan (Studi terhadapperaturan perundang-undangan RI terhadap konvensi PBB tentangpenghapusan diskrimnasi terhadap wanita). Jakarta: CV.ErasariRahardjo, Turnomo. (2006). Menghargai Perbedaan Kultural : MindfulnessDalam Komunikasi Antaretnis. Yogyakarta : Pustaka PelajarRitzer, George. (1996). Modern Sociological Theory. New York: The McGraw HillSantoso, Anang, (2004), Bahasa Peremouan. Jakarta: Bumi AksaraSaptari, Ratna dan Holzner, Brigitte, (1997). Perempuan kerja dan perubahansosial (sebuah pengantar studi perempuan). Jakarta: Pustaka UtamaGrafitySunarto. (2009). Televisi, Kekerasan dan Perempuan. Jakarta:KompasTong, Rosemarie. (2006). Feminist Though. Bandung: JalasuteraYin, Robert K. (2011). Qualitative Research from start to finish. London: TheGuilford PressInternetPearson, J. Michael dan Furumo, Kimberly. (2007). Gender-BasedCommunication Styles, Trust, and Satisfaction in Virtual Teamsdalam http://jiito.org/articles/JIITOv2p047-060Furumo35.pdf di unduhpada tanggal 6 Maret 2011 pukul 20.00 WIBSnellen, Deborah. (2006). Gender Communication.Colorado dalamhttp://www.cacubo.org/proDevOpp/Gender%20Communication.pdfdiunduh pada tanggal 7 Maret 2011 pukul 08.00 WIBVerghese, Tom. (2008). Women Leading Across Borders dalamhttp://www.culturalsynergies.com/resources/Women_Leading_Across_Borders.pdf diunduh pada tanggal 6 Maret 2011 pukul 20.30 WIBMajalahRahayu, Eva Martha (2010, April). Panggil Mereka Women on Top, SWASembada: 28Rahayu, Eva Martha (2012, April). Karena Wanita Punya Talenta , SWASembada: 29
PEMBUATAN DAN PENGELOLAAN WEBSITE “WAWASAN.CO” (Desainer Website, Admin 1, Reporter 1, Fotografer, dan Editor) Rifqi Aditya Utama; Agus Toto Widyatmoko; Triyono Lukmantoro; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.707 KB)

Abstract

Seiring berkembangnya teknologi dan bertambahnya kebutuhan masyarakat akan informasi, pada November 2002, Wawasan membuka situs resminya www.wawasan.co.id sebagai sarana penyebaran informasi melalui internet. Namun, seiring pergantian kepemimpinan di Wawasan, terutama divisi redaksi, domain website resmi Wawasan pada tahun 2011 berubah menjadi www.wawasandigital.com. Hingga kini, Wawasan memiliki beberapa alamat domain, yaitu www.wawasan.co.id, www.wawasandigital.com, www.koranwawasan.com, www.wawasan.co , dan sub domain www.epaper.koranwawasan.com.Dalam perkembangannya, Harian Wawasan pada sektor online justru mengalami kemunduran. Berdasarkan hasil observasi, pengunjung www.koranwawasan.com per bulannya hanya sekitar 400 visitor, atau lebih kurang 13 orang perharinya. Dari total 14 rubrik, hampir keseluruhan dari rubrik-rubrik tersebut tidak update secara rutin setiap hari layaknya website online yang mengejar aktualitas.Selain website yang kurang terupdate, permasalahan lainnya adalah tampilan atau template yang digunakan. Dari segi tampilan antarmuka, website Wawasan ini memiliki beberapa kekurangan, diantaranya banyak gambar atau foto yang tidak muncul disetiap beritanya. Gambar atau foto dalam sebuah berita sangatlah penting untuk menarik perhatian pembaca.Kami bekerjasama dengan Harian Wawasan untuk membuat dan mengelola website www.wawasan.co. Pembuatan website baru ini karena tidak memungkinkan untuk melakukan perubahan pada website sebelumnya. Karya Bidang ini bertujuan untuk menyediakan berita terkini dan berbagai informasi seputar Jawa Tengah untuk khalayak, yang dapat diakses melalui website www.wawasan.co.Hasil yang didapat selama 50 hari project, Wawasan.co berhasil memenuhi target sebanyak 6.856 visitors, dengan rincian 258 visitors per hari, dan 1.500 visitors per bulannya dengan target awal 50 visitors per hari. Tim Wawasan.co juga berhasil memenuhi target berita dengan mengunggah 69 artikel dari target 60 artikel selama project berlangsung.Media online seperti Wawasan.co, dalam menyampaikan informasi harus tetap menggunakan kode etik jurnalistik seperti media konvensional, dengan memberikan fakta dan artikel yang memiliki nilai serta informatif. Perbedaannya, pemantauan website harus dilakukan secara rutin, terutama pada waktu prime time. Karena portal online sangat rentan terjadi eror, baik itu karena faktor internal website maupun faktor eksternal seperti hacker.
Representasi Persahabatan dalam Film 5 cm Intan Murni Handayani; Triyono Lukmantoro; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.455 KB)

Abstract

Representasi Persahabatan dalam Film 5 cmSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata-1Jurusan IlmumKomunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama: Intan Murni HandayaniNIM: D2C 009 034JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013ABSTRAKSIFilm merupakan salah satu media massa yang menjadi wadah bagi parapembuat film untuk menyampaikan pesan serta nilai-nilai yang dimiliki olehpara penggarap film, di mana film selanjutnya akan merepresentasikan nilainilaitadi. Banyak tema yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakatyang diangkat ke dalam film, salah satunya tema persahabatan. Film 5 cmadalah salah satu film bertema bersahabatan yang mencoba merepresentasikansebuah persahabatan dengan konsep yang berbeda. Persahabatan dipahamisebagai hubungan yang ada sepanjang waktu antara orang-orang yang memilikidan saling berbagi kesamaan dan yang paling mendasar adalah persamaansejarah (Beebe, 1996: 273).Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui tanda-tanda verbal dannon-verbal tentang nilai-nilai kebersamaan dan gagasan dominan yang ada didalamnya. Melalui analisis semiotika, penelitian ini akan melihat bagaimanasebuah persahabatan direpresentasikan dalam film 5 cm.Hasil penelitian yang didapatkan adalah, persahabatan adalah sebuahhubungan yang dapat menimbulkan kejenuhan bagi individu yang ada didalamnya jika intensitas pertemuan tinggi. Analisis mendalam selanjutnyamenemukan bahwa persahabatan bukanlah hubungan yang didasarkankebersamaan atau hal-hal yang bersifat fisik, melainkan sebuah hubungan yangdidasarkan pada keterikatan emosional yang akan menimbulkan empati,perhatian, kepercayaan, dan kepedulian.Lebih jauh lagi, persahabatan sering dipahami sebagai hubungan yangmenekankan pada kedekatan emosional dan keakraban, di mana setiap individuadalah rekan yang memiliki posisi sama. Dalam film ini, digambarkan bahwadalam persahabatan ada seseorang yang akan berfungsi sebagai pemimpin.Selain itu, selain itu ditemukan ketidakadilan yang mendiskriminasikan peranperangender.Kebersamaan masih menjadi bagian dari persahabatan namun bukanlahsebuah faktor utama dan keterikatan emosional akan menjadi alasan untukmempertahankan persahabatan. Diharapkan melalui penelitian ini dapatmemberikan konsep baru bagi para penggarap film dan masyarakat untukmemahami persahabatan tidak semata dari kebersamaan.Kata kunci: representasi, komunikasi antarpribadi, semiotika.ABSTRACTFilm is one of mass media that be the space for the filmmaker to delivermessages and values own by the filmmaker, where film will represent the valuesby movie. A lot of theme pertaining to the life social societyappointed into amovie, friendship is one of them. Some of the film’s theme of friendshiphas itsown representation about concept and meaning of friendship. Friendshipunderstood as a relationship that exist all the time between those who havingand sharing in common and most fundamental equation is history (Beebe, 1996:273)Purpose of this research is to know value of verbal or non-verbal signsina community and the dominant idea in it. Through the analysis of semiotics,the study will look at how a friendship is represented in the 5 cm the movie.Result of the research is obtained friendship is a relationship that caninflict overfullness for individuals who were in it if it have high intensity ofmeeting. And than, advance analysis found that relationship is not relation basedon togetherness or things physical, but instead a relationship based on emotionalattachment that will lead to emphaty, attention, trust, and care.Furthemore, the friendship is often understood as a relationship thatplaces emphasis on the emotional closeness and familiarity, where everyindividuals is a collegue who has the same position. This film described that infriendship there is someone who will serve as a leader. In addition, besides theinjusticefound discriminate on gender roles.Togetherness still be a part of friendship but is not a main factor, andemotional attachment will be the reason to maintain friendship. Expectedthrough this research would provide new concept for the tillers film and societyto understand.Key words: representation, Interpersonal communication, semioticsLATAR BELAKANGFilm sebagai salah satu bentuk media massa menarik minat penonton dalammengkonsumsi informasi dengan cara yang berbeda dengan media lainnya. Jikasurat kabar memberikan informasi secara visual melalui tulisan serta gambardan radio hadir dengan memancing imajinasi pendengar melalui suara, makafilm hadir dengan menggabungkan keduanya. Pesan dihadirkan kepada audienssecara audio dan visual yang disertai dengan gerak.Selain itu, pesan yang disampaikan oleh para penggarap film dibawakan kedalam sebuah cerita yang alurnya dekat dengan kehidupan dan lingkunganmasyarakat. Diamati lebih jauh, film bukan hanya sebagai tontonan maupunhiburan semata. Film mampu merepresentasikan berbagai hal dalam kehidupanmasyarakat seperti sejarah, kebiasaan masyarakat, hubungan pernikahan,kehidupan bertetangga, dan lain-lain. Setiap film tentu memiliki cara yangberbeda-beda dalam merepresentasikan isu maupun tema yang diangkat sesuaidengan tujuan pembuat film.Salah satu isu sosial masyarakat yang sering diangkat ke layar lebar adalah‘persahabatan’, banyak sineas Indonesia mengangkat tema bersahabatan danmemberikan konsep serta bentuk yang berbeda tentang sebuah persahabatan.misalnya film Laskar Pelangi (2008), Mengejar Matahari (2004), SerigalaTerakhir (2009), dan Negeri lima Menara (2012). Beberapa film inimerepresentasikan persahabatan mulai dari sebuah hubungan yang indah danmembahagiakan, hingga hubungan yang penuh dengan kekecewaan.Film memang selalu dibumbui dengan konflik dan tidak sedikit konflik yangmenjadi klimaks dalam film. Konflik antar suami-istri, orang tua dan anak, sertakonflik antara sepasang kekasih tentu akan berbeda dengan konflik yangdialami oleh individu-individu yang saling bersahabat. Unsur kedekatan dankepercayaan dalam Persahabatan belum tentu terlepas dari konflik.Setiap film tentu memiliki pesan tersendiri yang ingin disampaikan melaluisimbol-simbol serta tanda-tanda, begitu juga film dengan tema bersahabatanyang juga mencoba merepresentasikan sebuah persahabatan dengan caranyamasing-masing. Permasalahan yang ingin diungkapkan disini adalah bagaimanatanda-tanda serta simbol-simbol dalam film 5 cm mencoba menjelaskan sertamerepresentasikan persahabatan.ISIFilm 5 cm akan di analisi melalui tiga level konsep yang dikemukakanoleh John Fiske tentang The Codes of Television, yakni level reality yangpenampilan (appearance), kostum (wardrobe), tata rias (make-up), lingkungan(environment), latar (setting), gaya bicara (speech), dan ekspresi (expression).Kode-kode dalam level reality adalah kode-kode sosial film yangmenggambarkan realitas dan terlihat nyata dan jelas. Level ini akan membuatpenonton merasa lebih dekat dengan berbagai unsur yang ada dalam film,karena berbagai realitas kehidupan sosial masyarakat dihadirkan di sini. Selainitu, kode-kode sosial pada level ini juga akan memperkuat karakter dari paratokoh dalam film. Sehingga, penonton secara tidak langsung ikut merasakanperasaan sang tokoh dalam film, misalnya melalui ekpresi dan kostum pemain.Level representation meliputi aspek kamera, aspek pencahayaan (lighting),aspek editing, aspek tata suara (sound), aspek penarasian, dan aspek karakterdan penokohan. Kode-kode pada level representation merupakan bagian-bagianterpenting yang akan memberikan pengaruh terhadap bagus tidaknya film yangdiproduksi. Level ini merupakan dapur dalam sebuah produksi film, yangmengolah serta memadupadankan berbagai aspek tadi dalam satu kesatuan,sehingga tersaji sebuah tontonan yang mampu merepresentasikan sebuah idemaupun gagasan. Karena itu, berbagai aspek yang ada bukanlah sesuatu yangberdiri sendiri melainkan saling mempengaruhi agar dapat memproduksi sebuahfilm yang bagus. Fokus analisis dari bab ini adalah adegan-adegan yangmenampilkan representasi persahabatan.Dua level sebelumnya akan membawa peneliti membaca simbol-simboltersembunyi sehingga menemukan nilai-nilai yang baik secara sadar atau tidakoleh para penggarap film, ada dan tertanam di dalam film,. Level ideology akanmengkaji kode-kode secara paradigmatik, di mana kode-kode tadi adalah kodekodeideologis yang merujuk pada representasi persahabatan dalam 5 cm.Analisis paradigmatik melibatkan perpaduan dan kontras dari masing-masingpenanda yang dihadirkan dalam teks, dengan penanda yang tidak ada dalamsuatu keadaan yang sama. Kode-kode yang ada dalam 5 cm akan diuraikanmencakup hal-hal yang diatur dalam koherensi dan penerimaan sosial olehberbagai kode ideologis1. Dinamika persahabatan dalam film 5 cm: Persahabatan di dalam 5 cm adalahhubungan yang bergerak. Pergerakannya berupa, interaksi dan komunikasi,memunculkan kejenuhan, penghentian komunikasi, dan yang terakhir adalahrekonsiliasi.2. Persahabatan dan konsep kebersamaan : Kebersamaan bukanlah faktor utamayang mendasari persahabatan, melainkan ikatan emosional masing-masingindividu. Kebersamaan hanyalah sebuah bumbu dalam persahabatan yang jikadilakukan dengan monoton dapat menimbulkan konflik berupa kejenuhan.Kebersamaan menjadi faktor yang mengantarkan terbentuknya sebuahpersahabatan, sedangkan ikatan emosional, kepercayaan, rasa salingmembutuhkan menjadi faktor utama yang mendasari dipertahankannya sebuahpersahabatan.3. Posisi dominan laki-laki dalam persahabatan : Persahabatan bukanlahhubungan yang selalu menganggap setiap individu di dalamnya memiliki posisidan peran yang sama atau pun setara. Dalam 5 cm justru laki-laki danperempuan memiliki posisi dan peran yang berbeda. Perilaku-perilaku yangditujukan kepada Riani adalah suatu perwujudan bagaimana nilai-nilai patriarkiberkembang di masyarakat. Dengan adanya kekuasaan dan kekuatannya, lakilakidianggap memiliki peran penting serta sangat dibutuhkan oleh kaumperempuan.4. Dalam film yang menceritakan tentang persahabatan, di mana setiap orangseharusnya memiliki posisi yang setara, maskulinitas dan femininitas bukanlahdua hal yang setara. Peran laki-laki yang dominan karena kuatnya konstruksipatriarki di masyarakat, menjadikan Riani sebagai seorang perempuan punberada di bawah kekuasaan patriarki.5. Melalui adegan-adegan yang ada dalam film 5 cm, Genta memiliki peransebagai sosok pemimpin walau pun tidak ada sebuah status yang menyatakanbahwa dia adalah seorang pemimpin. Dapat diambil kesimpulan bahwa setiaphubungan yang melibatkan orang lain akan ada sosok yang memimpinhubungan tersebut, ketika ada seseorang yang mengambil keputusan dalampersahabatan maka orang tersebut akan berperan sebagai pemimpin dalampelaksanaan keputusan yang diambil.6. pemain juga dikonstruksikan berpenampilan seindah mungkin lengkapdengan makeu-up. Ini menggambarkan bahwa 5 cm juga menjadi salah satuproduk kapitalis yang mencari keuntungan semata dengan menampilkan aktrisdan aktor yang terkenal agar dapat menjual film. Untuk tetap menjagakeindahan, akhirnya berbagai esensi mendaki gunung pun dihilangkan. Padahaltidak menutup kemungkinan kegiatan mendaki gunung ini akan ditiru olehmasyarakat yang juga pemula.PENUTUPFilm sebagai salah satu produk kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagaisarana hiburan, namun penting untuk dipahami bahwa terdapat tanda-tandatersembunyi yang mencoba merepresentasikan nilai-nilai budaya yang ada dimasyarakat. Bagaimana nilai-nilai tadi diproduksi oleh para pembuat film,sedikit banyak akan memberikan pengaruh kepada masyarakat yang menonton.Pada akhirnya, persahabatan digambarkan sebagai hubungan yang didasaridengan ikatan emosional. Hal ini digambarkan melalui adegan ketika lima tokohdalam 5 cm berada dalam masa penghentian komunikasi, mereka merasakankerinduan ingin bertemu. Kerinduan ini merupakan bentuk ikatan emosional.Walau pun mereka berpisah namun persahabatan mereka akan tetap terjaga.Interaksi dan komunikasi yang dimiliki oleh setiap individu dalam sebuahpersahabatan adalah proses yang terjadi karena adanya faktor sepertikepercayaan, keterbukaan, dan penerimaan oleh lingkungan sekitar. Sehinggaseseorang akan menjadi dirinya sendiri ketika sedang bersama sahabatnyaseperti berpenampilan, bersikap, dan berperilaku apa adanya. Selain itu,komunikasi dalam persahabatan dilakukan secara verbal dan nonverbal. Verbaladalah pesan yang disampaikan melalui kata-kata, dan komunikasi nonverbaladalah pesan yang tersirat melalui ekspresi dan gesture. Komunikasi nonverbalini akan mengkomunikasikan hal-hal yang bersifat emosional yang akanmendukung pesan verbal seperti ungkapan empati, kesedihan, kasih sayang, dankepedulian.Konflik disimbolkan dengan berbagai ungkapan dari individu yangmengungkapkan kebosanan tentang berbagai hal. Penyebab utama konflikkarena adanya rasa ketidaknyamanan (disonansi) yang dialami setiap orangyang berakibat pada kejenuhan. Nilai-nilai maskulinitas dalam film 5 cmditunjukkan dengan pemeran film yang empat di antaranya adalah laki-laki,gambaran-gambaran mengenai fisik yang kuat, pengambilan keputusan, sertadominasi laki-laki, serta sikap mereka dalam memperlakukan Riani, yaitucenderung lembut dan menjaga serta penguasaan terhadap Riani. SehinggaRiani pun sebagai perempuan dikesankan memiliki posisi yang inferior.Kepercayaan adalah konsep yang dibentuk secara perlahan setelah setiapindividu mulai mengenali lawan bicaranya masing-masing sehingga seseorangtidak ragu lagi untuk membuka diri. 5 cm merepresentasikan persahabatansebagai suatu hubungan yang tidak hanya didasari oleh kebersamaan. Tapi jugahubungan yang didasari oleh kedekatan emosional sehingga konflik seperti apapun yang terjadi di antara mereka akan coba mereka selesaikan karena adausaha dari setiap individu untuk mempertahankan persahabatan. Film 5 cmmerupakan salah satu produk kapitalis, karena banyak hal-hal penting yangberkaitan dengan mendaki gunung yang dihilangkan untuk menampilkangambar-gambar yang dapat menarik minat penonton.DAFTAR PUSTAKAFILMFilm 5 cm : Karya Sutradara Rizal Mantovani. Skenario: Donny Dirgantoro,Sunil Soraya, dan Hilman Mutasi. Rilis di bioskop 12 Desember2012.. Produksi Soraya Intericine Film.BUKUAbrams, Nathan., et al. (2001). Film Studying. USA: Oxford University PressInc..Beebe, Steven A. (1994). Communication in Small Groups: Principles andPractices, 4th Ed. USA: HarperCollins College Publisher.Beebe, Steven A., Susan J. Beebe, Mark. V. Redmond. (2005). InterpersonalCommunication: Relating to Others (4th ed.). USA: PearsonEducation Inc.Bordwell, David. (1986). Film Art. USA: Newbwry Award RecordIncorporation.Burton, Graeme. (1990). More than Meet the Eyes (3rd ed.). London: Arnold.Butler, Andrew M. (2005). Film Studies.USA:Trafalgar Square Publishing.Chandler, Daniel. (2002). Semiotics: The Basic (2nd Ed). London: Routledge.Devito, Joseph A. (1997). Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: ProfessionalBooks.Devito, Joseph A. (2000). The Interpersonal Communication Book. 9th Ed.USA: Longman PubEffendy, Heru. (2009). Mari Membuat Film. Jakarta: Erlangga.Fiske, John. (1999). Televison Culture: Popular Pleasures and Politics.London: Routledge.Fiske, John. (2010). Cultural and Communication Studies: Sebuah PengantarPaling Komprehensif. Terjemahan Drs. Yosal Iriantara, MS.Yogyakarta: JALASUTRA.Hall, Stuart. (1997). Representation. London: SAGE publication.Littlejohn, Stephen W. (2009). Theory Of Human Communication 9th ed.Jakarta: Salemba Humanika.Mosse, Julia Cleves. (1996). Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: PustakaPelajar.Mulhall, Stephen. (2001). On Film. USA: Routledge.Naratama. (2013). Menjadi Sutradara Televisi.Jakarta: PT Gramedia.Neuman, Lawrence W. (2007). Basic of Social Research: Qualitative andQuantitave Approaches (2nd ed.). USA: Pearson Education Inc.Paningkiran, Halim. (2013). Make-Up Karakter untuk Televisi dan Film.Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.Pearson, Nelson, Titsworth, Harter. (2011). Human Communication (4th ed.).New York: The Mac Grown-Hill Inc.Saadawi, El Nawal. (2001) Perempuan dalam Budaya Patriarki. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Sobur, Alex. (2003). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Stadler, Jane., dan Kelly McWilliam. (2009). Screen Media: Analysing Filmand Television. Singapore: CMO Image Printing.Stolley, Kathy S. (2005). The Basic of Sociology. USA: Greenwood PressStorey, John.(2008). Cultural Theory and Popular Culture: an Introduction.Britain: Henry Ling Ltd.Sumarno, Marselli. (1996). Dasar-Dasar Apresiasi Film. Jakarta: PT Grasindo.West, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi:Analisis dan Aplikasi (3rd Ed.). Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.INTERNET5 cm Film Terpuji Festival Film Bandung. Dalamm.antaranews.com/berita/380306/5-cm-film-terpuji-festival-filmbandun.Diunduh pada 13 Juli 2013. @5 cm. (2012). Dalam http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-5003-12-405162_5-cm#UUsOSNGyOoK. Diunduh pada 2 April pukul 22.00 WIB. @Eratnya Persahabatan di Puncak Semeru. Dalam http://www.yangmuda.com/read/detail/1936537/film-5-cm-eratnya-persahabatan-di-puncaksemeru.Diunduh pada 4 Mei 2013 pukul 21.00 WIB. @Film 5 cm: Esensi Sebuah Persahabatan, Cinta, dan Perjuangan. Dalamhttp://www.kabar24.com/index.php/film-5-cm-esensi-sebuahpersahabatan-cinta-dan-perjuangan/. Diunduh pada 2 April pukul22.00 WIB. @Kejanggalan-Kejanggalan Film ‘5 cm’. Dalamhttp://hiburan.kompasiana.com/film/ 2013/01/05/kejanggalankejanggalan-film-5-cm-521571.html. Diunduh pada 5 April 2013pukul 20.00 WIB. @Yanuar Elang Riki. (2009). Serigala Terakhir, Pemeran Utama Tak SelaluJawara. Okezone, dalamhttp://celebrity.okezone.com/read/2009/11/05/35/272496/serigalaterakhir-pemeran-utama-tak-selalu-jawara. Diunduh pada 2 Aprilpukul 21.00 WIB.JURNALPonti, Lucia et all. (2010). A Measure for the Study of Friendship and RomanticRelationship Quality from Adolescence to Early-Adulthood. TheOpen Psychology Journal. Vol. 3: 76-87.
Eksistensi Graffiti sebagai Media Ekspresi Subkultur Anak Muda Triliana Kurniasari; Taufik Suprihatini; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.248 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Menuangkan pesan ke dalam bentuk visual masih sering menjadi pilihan karena bentuk visual memiliki beberapa kelebihan, seperti bisa dinikmati lebih lama, pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan lebih jelas, dan dapat terdokumentasikan dengan baik. Sementara di sisi lain, komunikasi visual juga bisa menjadi representasi sosial budaya suatu masyarakat yang dijalankan dan menjadi kebiasaan yang berlangsung lama dalam masyarakat itu. Di sini masyarakat dalam suatu cara tertentu memilih untuk berkomunikasi visual yang justru menunjukkan kelebihannya dibandingkan dengan budaya lainnya, termasuk lewat kemunculan budaya komunikasi visual dalam karya seni rupa jalanan atau street art.Graffiti, sebagai salah satu bentuk street art, mengandung pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh para pembuatnya. Pesan bisa muncul secara tersembunyi atau eksplisit. Graffiti dipelopori oleh anak-anak muda yang “gatal” ingin menuangkan ide-ide kreatifnya untuk menunjukkan eksistensi dan ekspresi diri walaupun menggunakan cara-cara yang kerap dianggap melanggar aturan atau norma. Graffiti yang ada di Indonesia kemudian kental dihubungkan dengan kota Yogyakarta, karena bisa dikatakan hampir tiap tembok jalanan di sana tak luput dari sentuhan dan perhatian seniman lukis jalanan.Pada awalnya, menurut Majalah HAI No. 36/XXX/4-10 September 2006 (Wicandra, 2006: 52), graffiti menjadi sekadar coretan dinding yang berafiliasi dengan kelompok atau geng tertentu. Kemudian graffiti menemukan gaya baru yang mengarah pada artistic graffiti sehingga muncul seni mural yang banyak menyajikan kritik sosial. Di sini tembok jalanan menjadi tempat atau medium alternatif bagi seniman guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas. Dengan menggunakan nama jalanan (street name) dan ideologinya masing-masing, setiap writer (pembuat graffiti) menumpahkan ekspresinya melalui penampakan warna, objek, dan kata-kata dalam graffiti.Setiap kota ternyata memiliki ceritanya sendiri tentang keberadaan budaya visual graffiti, termasuk di Kota Semarang yang terlihat dari mulai banyaknyasudut kota yang dihiasi oleh graffiti. Walaupun aktivitas graffitinya tidak seramai di Yogyakarta, Kota Semarang pernah dihiasi graffiti mural yang menjadi perbincangan banyak orang yang bertema “Cicak vs Buaya”. Mural ini dibuat oleh 12 PM (one two pm), salah satu komunitas street art di kota Semarang, di Jalan Hayam Wuruk, Pleburan, Semarang, dan merupakan hasil kerjasama antara komunitas street art 12 PM dengan LSM Antikorupsi KP2KKN Jateng. Pesan dalam mural ini begitu mengena karena menggambarkan tentang kondisi politik di Indonesia saat itu yang sarat dengan kisruh politik antara Polri (digambarkan sebagai Buaya) dan KPK (sebagai Cicak).Daya kritis dalam graffiti menunjukkan seni memang tak bisa dipisahkan dengan realitas kehidupan sosial di masyarakat. Seni juga tidak bisa berdiam jika ada ketimpangan dalam kehidupan. Dengan bahasa dan style yang berkarakter, seni mampu berbicara dengan bahasa sendiri. Para seniman akan terus berekspresi meskipun wahana atau wadah mereka banyak yang hilang akibat ditelan perubahan zaman. Tembok jalanan menjadi tempat atau medium alternatif bagi seniman guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas. Demi sebuah eksistensi dan mempertahankan identitas agar tetap diakui, kelompok seniman street art tak kehabisan akal guna menuangkan uneg-uneg, mereka berkreasi bukan lagi di atas kanvas namun di tembok-tembok jalan (Andrianto, 2009).Kemunculan komunitas graffiti sendiri sesungguhnya merupakan salah satu bentuk subkultur anak muda di tengah masyarakat. Apa yang membuat subkultur anak muda sangat “terlihat” adalah adanya sifat khas dan perilaku anak muda yang suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer, dan tentu saja, berbeda. Beberapa cara yang dilakukan anak muda untuk mengkomunikasikan eksistensi dirinya muncul salah satunya lewat kebiasaan yang melanggar aturan atau norma. Dalam hal ini, graffiti yang muncul kerap dianggap sebagai salah satu masalah yang ditimbulkan anak muda ketika mereka tidak berhasil mendapatkan akses komunikasi yang diharapkan. Praktik graffiti kerap dijuluki sebagai vandalisme karena bentuknya yang dianggap merusak,mengotori, dan memperkumuh tembok kota. Karena itu, kerap muncul undang-undang yang melarang keberadaan graffiti di tengah masyarakat.Perkembangan komunitas graffiti menjadi suatu subkultur anak muda, dengan adanya sifat khas dan perilaku yang suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer, dan tentu saja, berbeda. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini merumuskan permasalahan tentang eksistensi graffiti sebagai media komunikasi dan ekspresi subkultur anak muda.PEMBAHASANPenelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus, di mana peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa yang akan diselidiki dan bilamana fokus penelitian terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) dalam konteks kehidupan nyata (Yin, 2002: 1). Menggunakan tiga orang informan yang terdiri dari para writer, studi kasus dipilih agar dapat memahami dan menjawab keingintahuan peneliti terhadap fenomena graffiti yang tengah berlangsung secara spesifik di Kota Semarang dengan batasan penelitian yang dibahas yakni eksistensi subkultur dan ekspresi yang dibawa oleh subkultur melalui graffiti. Selain itu, penelitian dilakukan karena terdapat keunikan pada penggunaan graffiti sebagai media komunikasi subkultur yang menyajikan berbagai elemen visual mulai dari penampakan garis, objek, warna, kata-kata, hingga penempatannya di jalanan yang mampu menarik perhatian khalayak.Graffiti sebagai bentuk komunikasi visual, sesuai dengan pendapat Chaffee (1993: 3) bahwa komunikasi mempunyai banyak muka, informasi bisa ditransmisikan melalui berbagai bentuk. Di sini komunikasi terbentuk melalui visualisasi graffiti berupa objek, kata-kata, dan pewarnaan sebagai media berekspresi anak muda. Adanya penampakan objek biasanya mewakili pesan yang ingin disampaikan, sementara kata-kata yang tersaji bisa menjadi sarana yang memudahkan penerimaan pesan oleh khalayak. Sedangkan penggunaan warna, bagi informan pria, secara psikologis menunjukkan ekspresi maskulinitas dengan kecenderungan warna gelap. Hal ini berbeda dengan informan wanita yang cenderung menunjukkan ekspresi keceriaan, kesetiaan, atau dedikasi pada orang lain. Tidak hanya itu, mereka yang merasa sebagai pemalu dan tidak percaya diri,bisa menyuarakan ekspresinya lewat graffiti karena di sini mereka tidak harus berbicara.Berdasarkan pengamatan, dominasi graffiti yang muncul di Semarang cenderung menyampaikan pesan visual dan tidak banyak graffiti yang membawa pesan sosial terkait dengan kondisi masyarakat di sekitarnya. Pesan visual tersebut biasanya dibuat dengan maksud memperindah suatu lokasi atau untuk menunjukkan eksistensi diri pada komunitas dan masyarakat. Dalam hal ini, berbagai elemen dalam graffiti bisa menghasilkan bentuk estetika tersendiri dalam berkomunikasi sehingga mampu membangun hubungan antara pembuat dengan khalayaknya. Hal ini karena adanya tiga elemen estetika visual seperti yang diutarakan Dake (2005: 7) tentang objek (yaitu graffiti), pembuat (yaitu writer), dan khalayak. Ketiga elemen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain yang pada akhirnya saling membentuk umpan dan timbal balik atas penampakan graffiti.Sementara itu, keberadaan graffiti merupakan suatu bentuk subkultur di tengah masyarakat. Hebdige (Hasan, 2011: 220-221) berpandangan bahwa subkultur adalah subversi bagi apa yang dianggap normal. Subkultur bisa saja dianggap sebagai hal yang negatif karena watak kritisnya terhadap standar masyarakat yang dominan. Subkultur dibawa secara bersama-sama oleh kumpulan individu yang merasa diabaikan oleh standar masyarakat dan menyebabkan mereka mengembangkan perasaan kememadaian terhadap identitasnya sendiri.Mengikuti cara Gelder (Hasan, 2011: 221-222) yang mengusulkan enam kunci cara mendefinisikan subkultur, terlihat ada persamaan dan perbedaan bila masing-masing kunci tersebut diperbandingkan dengan hasil pengamatan di lapangan sebagai berikut:a. Melalui hubungan negatif mereka terhadap kerja (misalnya bersifat parasit, malas-malasan suka bermain di waktu luang).Berkaitan dengan hal ini, kenyataannya setiap writer tetap melakoni pekerjaan lain dalam rangka mempertahankan posisinya secara ekonomi dan politik agar tetap diakui keberadaannya oleh masyarakat. Umumnya mereka ini sangat aktif mengembangkan seni atau mengakrabi dunia anak muda. Dunia yang digeluti tidak jauh dari dunia kreatif, seperti menjadi desainer grafis. Jadi bisadikatakan hubungan negatif yang diutarakan Gelder tidak tampak pada subkultur graffiti yang muncul di Semarang.b. Melalui hubungan mereka yang ambivalen atau negatif terhadap kelas (jika subkultur bukanlah „kesadaran kelas‟ dan tidak konformitas terhadap definisi kelas secara tradisional).Secara umum, graffiti di Semarang tidak dijadikan sebagai sebuah gerakan yang merujuk pada kelas tertentu termasuk kelas atau kelompok akar rumput. Lebih tepatnya, para pelaku yang muncul justru mengandalkan graffiti hanya sebagai sumber ketenaran kelompok dan individu. Graffiti yang tersaji kebanyakan melambangkan nama kelompok dan belum banyak jenis graffiti mural yang menyikapi keadaan sekitar dengan kritis. Ini menandakan bahwa graffiti di Semarang masih berupaya pada usaha mencari “jati diri” street art yang ingin dikembangkan oleh subkultur.c. Melalui asosiasi mereka terhadap teritori atau wilayah (misalnya di jalanan, di klab, kelompok tertentu) daripada pada kepemilikan dan kekayaan.Sebagai salah satu bentuk street art, graffiti sudah tentu beredar di jalanan. Setiap kelompok (crew) umumnya mempunyai penanda markasnya masing-masing. Di sini ada kebiasaan untuk mencantumkan tanda tangan di setiap sudut jalanan yang pernah disinggahi, tidak peduli apakah itu ditimpakan di tembok, baliho, bahkan rambu lalu lintas. Selain itu, ada aturan yang dianut setiap writer untuk saling meminta ijin sebelum menimpa gambar writer lain. Aturan lainnya yang berlaku adalah tidak menggambar di daerah terlarang seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah.d. Melalui perpindahan mereka keluar rumah dan ke dalam bentuk-bentuk kepemilikan non-domestik (kelompok sosial daripada keluarga).Berbeda dengan pendapat Gelder ini, pergerakan subkultur graffiti di Semarang tetap mendapat dukungan domestik yakni dari keluarga. Kenyataannya setiap individu tidak melepaskan dirinya dari pergaulan dalam kelompok sosial termasuk dengan subkultur lain berkembang di sekitarnya. Artinya tidak ada perpindahan para pelakunya ke luar rumah, melainkan secara seimbang mereka bergerak di antara kutub domestik dan non-domestik.e. Melalui ikatan mereka yang unik terhadap gaya yang berlebihan dan kadang keterlaluan.Mengamati pergerakan writer di Semarang, ternyata tidak terdapat gaya berlebihan yang muncul melainkan terdapat pembedaan gaya yang khas terhadap komunitas atau subkultur lain. Kekhasan yang muncul hanyalah penggunaan identitas crew yang melekat pada pakaian yang didesain dan didistribusikan komunitas graffiti secara independen (distro). Hal ini dikarenakan setiap writer umumnya juga bergerak di bidang desain grafis sehingga bisa mengambil keuntungan untuk mengenalkan crew-nya melalui distro tersebut.f. Melalui penolakan mereka terhadap kedangkalan (banalitas) dari kehidupan yang umum yang merupakan korban masifikasi dan tren.Salah satu bentuk penolakan dalam subkultur graffiti misalnya adalah penggunaan ideologi indie atau DIY (Do It Yourself) seperti yang dianut kelompok musik underground, komunitas BMX, skateboard, dan subkultur lainnya. Ideologi indie berlaku pada pemakaian identitas pada merek distro yang dikenakan setiap individu dan biasanya setiap writer akan melekatkan karakter graffitinya ke dalam merek distronya. Penolakan lainnya berupa perlawanan atau perebutan ruang publik dengan tembok-tembok komersial. Ketika wajah perkotaan dipenuhi oleh pesan komersial, saat itulah writer menggunakan graffiti sebagai ajang perlawanan lewat pembuatan tagging secara masif dan diam-diam dalam satu spot komersial.Karakteristik utama dari semua subkultur adalah bahwa anggota subkultur terpisah atau terlepas di berbagai tingkat yang dianggap sebagai budaya dominan. Pembagian tersebut bisa berupa isolasi total atau terbatas pada aspek-aspek kehidupan seperti pekerjaan, sekolah, kesenangan, pernikahan, pertemanan, agama, atau tempat tinggal. Sebagai tambahan, pemisahan tersebut bisa terjadi dengan sukarela, karena lokasi geografis, atau kebebasan (Ferrante, 2011: 61). Hal inilah yang terjadi pada subkultur graffiti yang memisahkan diri dari masyarakat dengan membentuk identitasnya sendiri berdasarkan kesepakatan dan aturan yang dianut di dalam kelompoknya. Dalam pembentukan identitas tersebut, subkulturgraffiti juga membawa ekspresi perlawanan yang mengiringi pergerakannya di tengah masyarakat.Sementara itu, kultur perlawanan yang terbentuk dalam subkultur graffiti Semarang berupa “perang” public space, di mana para writer bertarung memperebutkan ruang publik dengan pemerintah dan para pengiklan. Ruang publik adalah tempat berinteraksi yang mempertemukan semua unsur masyarakat ke dalam sebuah situasi yang luas. Karenanya tidak jarang ruang publik dimanfaatkan berbagai pihak untuk kepentingan menyampaikan pesan. Salah satunya oleh pemerintah dalam mensosialisasikan kebijakan kepada masyarakat melalui baliho, spanduk, dan sebagainya. Pihak lainnya yakni para pemilik modal atau pengiklan yang mampu menyewa tembok untuk kepentingan komersial. Di sini, kultur perlawanan oleh subkultur graffiti mewujud dalam bentuk vandalisme. Vandalisme memang tidak bisa dipisahkan dari budaya graffiti dan lebih sering muncul lewat timpa-menimpa gambar graffiti.Berdasar pengamatan, iklan komersial ternyata cukup mendominasi wajah ruang publik. Setiap tempat di sudut kota tidak ada yang tidak tersentuh iklan, sebut saja di jembatan penyeberangan, di persimpangan jalan, di sekitar lampu merah, di tembok rumah, di mana pun bisa ditemui iklan komersial. Bahkan penempatan iklan komersial tidak jarang menyalahi aturan, seperti dengan menempelkan sederet poster iklan yang sama pada satu tembok. Kemampuan iklan komersial melahap ruang publik dikarenakan kemampuan pemilik modal untuk membayar waktu dan tempat beriklan. Karenanya bila dilihat secara kasat mata, iklan komersial begitu merajai beragam medium yang tersaji di jalanan. Pada posisi inilah graffiti menjadi pesaing iklan-iklan komersial. Writer sejatinya termasuk salah satu pihak yang bersaing mendapatkan perhatian khalayak di ruang publik. Karena adanya persaingan tersebut, tidak jarang tanda tangan atau tagging ditimpakan pada iklan-iklan komersial di tembok kota.Perlawanan ini menciptakan subkultur graffiti yang memadukan tiga bentuk protes seperti yang disebutkan Yinger (Hasan, 2011: 222), yaitu 1) penentangan terhadap nilai dominan berupa tindakan masyarakat yang patuh pada pemerintah dan budaya konsumerisme karena adanya iklan komersial, 2) penentangan terhadap struktur kekuasaan yang terlihat melalui larangan mencorat-coret tembok atau kemampuan pemilik modal dalam membeli tembok, dan 3) penentangan terhadap pola-pola komunikasi yang terperangkap dalam nilai-nilai dominan itu yakni berupa paksaan mematuhi peraturan pemerintah serta bujukan dan rayuan terhadap terbentuknya masyarakat konsumen.Adanya ekspresi perlawanan memang tidak pernah lepas dari graffiti, di mana dengan perlawanan tersebut graffiti bisa mendapatkan posisinya saat ini di masyarakat. Posisi tersebut di satu sisi masih lekat dengan penolakan yang menganggapnya sebagai perusakan terhadap fasilitas publik, sedangkan di sisi lain ia diterima karena efektivitasnya dalam mengkritisi keadaan sosial masyarakat.PENUTUPFenomena graffiti yang muncul di beberapa kota belakangan ini menjadikan dinamika perkotaan yang semakin beragam menarik untuk dipelajari. Tidak terkecuali di Kota Semarang di mana kemunculannya mendapat penilaian yang berbeda-beda dari masyarakat. Bagi sebagian kalangan, graffiti dianggap hanya sebagai coretan tembok belaka yang tidak mempunyai makna. Namun bagi sebagian yang lainnya, graffiti dianggap sebagai karya seni yang menyatukan elemen garis, bentuk, dan warna di medium tembok jalanan. Selain itu, graffiti juga dianggap bisa menyampaikan pesan tentang eksistensi pembuatnya.Eksistensi gerakan graffiti di Semarang masih berupaya mencari jati diri dengan cara bergerilya dari satu tembok ke tembok lainnya, masif, dan militan. Ada kecenderungan graffiti menjadi semacam tren di kalangan anak muda yang muncul dengan ideologi “ikut-ikutan”. Hal ini terlihat dari kemunculan banyak seniman (writer) baru yang menggunakan graffiti hanya sebagai ajang pemenuh kepuasan pribadi dan eksistensi diri, yakni dengan membuat pesan visual seperti dalam piece, tagging, dan throw-up yang dibuat sebebas-bebasnya, tanpa mengandung pesan sosial tertentu seperti yang ada pada jenis mural dan stensil. Meskipun demikian, seniman yang lebih senior biasanya telah menemukan originalitas karya dengan membuat graffiti yang berisi pesan sosial.Gerakan graffiti di Semarang membawa ekspresi perlawanan yang berupa perebutan ruang publik antara para seniman dengan para pemilik modal. Perlawanan terlihat dari kecenderungan writer untuk menimpa gambar secarasembunyi-sembunyi dan tanpa ijin di spot-spot yang dipenuhi dengan pesan periklanan atau komersial. Hal ini terkait dengan kenyataan banyaknya tembok kota yang menjadi spot komersial sehingga sarana untuk menumpahkan ekspresi semakin berkurang. Karena bentuk perlawanan tersebut, graffiti di Semarang masih lekat dengan stempel vandalisme. Masyarakat cenderung menilai graffiti sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dan mengotori keindahan lingkungan.Menggunakan metode studi kasus, penelitian ini memberikan gambaran bagaimana komunitas graffiti membentuk subkultur yang terus bertahan di tengah masyarakat dan menggunakan graffiti sebagai media ekspresi dan komunikasi. Dalam hal ini, studi kasus dipilih untuk menjawab keingintahuan peneliti berkaitan dengan kemunculan fenomena graffiti secara spesifik di suatu wilayah, yaitu di Semarang, dengan batasan penelitian yang dibahas yakni eksistensi subkultur dan ekspresi yang dibawa oleh subkultur melalui graffiti. Hal ini terkait dengan pemanfaatan graffiti untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Penempatannya di jalanan menjadi daya tarik tersendiri, di mana mulai dari proses pembuatan hingga hasil akhir selalu menarik perhatian khalayak yang lalu lalang di jalanan.Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perkembangan komunikasi visual di kalangan anak muda, khususnya graffiti yang disajikan sebagai bentuk ekspresi diri namun kerap dianggap vandalisme oleh masyarakat. Peneliti berusaha memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa graffiti selayaknya dihargai sebagai media komunikasi dan ekspresi anak muda yang menyajikan berbagai pesan mulai dari eksistensi individu hingga pesan sosial. Oleh karena itu, peneliti memberikan rekomendasi agar writer mampu menyajikan graffiti yang bisa dipertanggungjawabkan, artinya memiliki konsep yang jelas dan mengandung pesan sosial sekaligus pesan visual sehingga bisa menimbulkan timbal balik yang lebih banyak dari khalayak. Dengan demikian fungsi sosial dan visual graffiti sama-sama bisa terpenuhi, yakni di satu sisi pesan pesan sosial mampu membangkitkan pemahaman bahwa graffiti bisa ditujukan sebagai media mengkritisi keadaan di lingkungan masyarakat. Sementara di sisi lain, secara visual graffiti dapat dimanfaatkan untuk memperindah lokasi.DAFTAR PUSTAKAChaffee, Lyman G. 1993. Political Protest and Street art: Popular Tools for Democratization in Hispanic Countries. Westport: Greenwood Publishing Group, Inc.Dake, Dennis. 2005. “Aesthetic Theory” (dalam Handbook of Visual Communication: Theory, Methods, and Media, Ken Smith dkk, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc., hal. 3-22).Ferrante, Joan. 2011. Seeing Sociology: An Introduction. California: Wadsworth Cengage Learning.Hasan, Sandi Suwardi. 2011. Pengantar Cultural Studies. Yogyakarta: Ar Ruz Media.Yin, Robert K. 2002. Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Sumber internet:Andrianto, Andi. 2009. “Graffiti, Simbol Perlawanan Kota” (http://www.suara merdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=58125; diakses 25/03/2012 22:16:13)Wicandra, Obed Bima. 2006. “Graffiti di Indonesia: Sebuah Politik Identitas Ataukah Tren? Kajian Politik Identitas pada Bomber di Surabaya” dalam Jurnal Nirmana Vol. 8, No. 2, Juli 2006, hal. 51-57. (http://fportfolio. petra.ac.id/user_files/02-032/POLITIK%20IDENTITAS%20GRAFFITI. PDF; diakses 24/03/2012 21:31:26)
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PERSUASI PENDAMPING DALAM PROGRAM REHABILITASI SOSIAL WANITA PEKERJA SEKS PADA RESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANG Theresia Karo Karo; Turnomo Rahardjo; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.152 KB)

Abstract

MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PERSUASI PENDAMPINGDALAM PROGRAM REHABILITASI SOSIAL WANITA PEKERJA SEKS PADARESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANGABSTRAKKomunikasi persuasi adalah suatu proses memengaruhi sikap, pendapat danperilaku orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal. Dengan menggunakankata-kata lisan dan tertulis, menanamkan opini baru dan usaha yang disadari mengubahsikap, kepercayaan, dan perilaku orang lain melalui transmisi pesan. Pada programrehabilitasi sosial terhadap wanita pekerja seks (WPS) di Resosialisasi Argorejo KotaSemarang, pendamping berperan untuk mempengaruhi motivasi WPS dalammengembalikan perannya di masyarakat dengan beralih pekerjaan.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatanfenomenologi. Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan pengalaman unik pendampingdari pihak Resosialisasi Argorejo, Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga Kota Semarang,dan PKBI Griya ASA Kota Semarang terhadap WPS mengenai komunikasi persuasi yangdilakukan dalam komunikasi antarpribadi dan kelompok dengan pendekatan insentif.Konsep diri WPS akan mempengaruhi pengambilan keputusan. Hal ini diperjelas denganpendekatan insentif dalam Teori Respons kognitif dan pendekatan nilai-ekspetansi. Teoriini menjelaskan bahwa seseorang mengambil sikap yang memberikan keuntungan lebihbesar.Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa pendamping dan WPSmelakukan pendekatan awal secara individual dan dalam kelompok. Hal inimempengaruhi tingkat kedekatan, keterbukaan dan kepercayaan WPS terhadappendamping. Ketika WPS mampu untuk memaknai pesan, perilaku yang ditunjukkanakan sesuai dengan tujuan program rehabilitasi sosial. WPS juga akan memahami bahwaberalih pekerjaan akan memberikan kesempatan yang lebih baik lagi dalam menjalankanperannya sebagai bagian dari masyarakat, yakni dengan mematuhi aturan, norma dannilai yang berlaku di masyarakat.Kata kunci : Persuasi, Rehabilitasi, WPSUNDERSTANDING THE COMMUNICATION EXPERIENCE OF PERSUASIONIN A SOCIAL REHABILITATION PROGRAMME TO ACCOMPANYINGWOMEN SEX WORKERS ON RESOCIALIZATION ARGOREJO SEMARANGABSTRACTPersuasion is a process influenced by the attitudes, opinions, and behaviors of others,both verbal and nonverbal. By using the words spoken and written, instilling a newopinion and effort consciously changing the attitudes, beliefs, and behavior of otherthrough transmission of the message. On the social rehabilitation of women sex workers(WSW) in Semarang City, Resocialization Argorejo escort role to influence motivation inreturn for her role in the community by switching jobs.This research uses qualitative descriptive study type with the approach of thePhenomenology. This research seeks to explain the unique experience of accompanyingfrom Resocialization Argorejo, Dinas Sosial, Pemuda and Olahraga Semarang City, andLSM PKBI Griya ASA toward WSW about communication persuasion in interpersonalcommunication and group incentive approach. The concept of self WSW will affectdecision making. This is made clear by the incentive approach in Cognitive ResponseTheory and approach to value-ekspetansi. This theory explains that a person take a stancethat provides greater advantages.Based on the results of the study, suggests that the escort WSW doing the initialapproach, individually and in groups. This affects the level of closeness, openness, andtrust of WSW to escort. When WSW is able to interpret the message, the behavior that isdemonstrated to be in accordance with the purposes of social rehabilitation programmes.WSW will also understand that turning the job will give her a better chance of runningagain in her role as part of the community, namely the compliance with rules, norms, andvalues which prevail in the community.Keywords : Persuasion, Rehabilitation, WSWMEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PERSUASI PENDAMPINGDALAM PROGRAM REHABILITASI SOSIAL WANITA PEKERJA SEKS PADARESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANGA. PendahuluanNilai dan aturan yang berlaku di masyarakat merupakan hasil dari budaya. Budayaterbentuk dari kebiasaan manusia dalam mereprentasikan satu hal dan yang lainnya,selanjutnya menjadikannya sebagai patokan di kehidupan selanjutnya. Aturan yangberlaku dalam masyarakat menjadi patokan untuk mengatur tingkah laku dalamberinteraksi. Wanita pekerja seks (WPS) atau lebih dikenal dengan pekerja seks komersial(PSK) adalah wanita yang pekerjaan utamanya sehari-hari memuaskan nafsu seksuallaki-laki atau siapa saja yang sanggup memberikan imbalan tertentu yang biasa berupauang atau benda berharga lainnya (Mudjijono, 2005:16). Hal ini menjadi pemisah antaramasyarakat dan WPS. Pemisahan ini bukan tanpa alasan, WPS merupakan jenis pekerjaanyang sulit diterima oleh masyarakat karena dianggap tidak bermoral dan melanggar aturanyang berlaku di masyarakat.Dalam kebebasan individu terdapat batasan sosial dalam berinteraksi. Norma-normasosial membatasi perilaku individu. Masing-masing individu yang terlibat di dalammasyarakat melalui perilaku yang dipilih secara aktif dan sukarela. Pembentukan sikapsosial dalam masyarakat dinyatakan dengan cara-cara kegiatan yang sama danberulang-ulang terhadap suatu objek sosial, biasanya tidak hanya oleh seseorang tetapijuga oleh orang lain yang sekelompok atau di masyarakat.Alasan yang paling utama dalam bekerja sebagai WPS, seringkali terkait denganmateri. Ketika sudah tidak ada lagi pilihan lain untuk mempertahankan hidupnya, makajalan pintas ini dianggap setimpal dengan terpenuhinya kebutuhan dasar yang mendesak.Kurangnya pendidikan, keahlian dan pengetahuan akan hal-hal yang bersifat rohanimenjadikan WPS sebagai pilihan untuk mempertahankan hidup, ditambah lagi saat inisangat sulit menemukan pekerjaan dengan pendidikan dan tingkat pengetahuan yangminim.Tingginya jumlah lokalisasi dan semakin meningkatnya jumlah WPS semakinmenunjukkannya ekonomi masyarakat yang semakin kritis. Bekerja sebagai WPSbukanlah pilihan untuk memperoleh materi. Tetapi karena dianggap dapat menghasilkanuang dengan cepat, jumlah yang banyak, dan mudah, membuat mereka memilihpekerjaan ini. Konsekuensi yang harus ditanggung oleh WPS merupakan dikucilkan olehmasyarakatUntuk membimbing dan mendampingi WPS maka pemerintah bersama-sama denganmasyarakat mengadakan program rehabilitasi sosial, yakni yang bertujuan untukmemasyarakatkan kembali. Tugas ini menjadi tanggung-jawab dalam programKementerian Sosial di Indonesia. Dinsospora Kota Semarang mendapat bagian untukmelaksanakan program rehabilitasi sosial, yang lebih merumuskan pada programpengentasan WPS untuk masa depan.Lokalisasi menjadi salah satu sasaran bagi Dinas Sosial Pemuda dan Olah Raga(Dinsospora) Kota Semarang dengan pengadaan program rehabilitasi sosial. Program inimulai sejak tahun 2009, bekerja sama dengan lokalisasi Sunan Kuning atau yangsekarang berganti nama dengan sebutan Resosialisasi (Resos) Argorejo di Kota Semarangyang diketuai oleh Bapak Suwandi E.P. Rehabilitasi sosial yang diadakan di ResosialisasiArgorejo bekerja sama dengan Dinsospora Kota Semarang, Dinas Kesehatan KotaSemarang, Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, dan Bina Masyarakat KapolresKota Semarang. Subjek penelitian ini melibatkan lima orang narasumber yaitu tiga orangpendamping dan dua orang wanita pekerja seks. Tiga orang pendamping terdiri dariKetua Resosialisasi Argorejo Kota Semarang, pekerja lapangan (PL) dari LSM PKBIGriya ASA Kota Semarang dan Kepala Bidang Penyandang Masalah KesejahteraanSosial (PMKS) Dinsospora Kota Semarang. Ketiganya dengan latar belakang yangberbeda tetapi memiliki tujuan yang sama dalam program rehabilitasi sosial. Beberapateori yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya komunikasi persuasi, untukmengetahui proses dan strategi komunikasi yang terjadi antara pendamping dan WPSdalam pengambilan keputusan yang baru. Selain itu juga digunakan pendekatan insentif,Teori Respons Kognitif dan nilai ekspetansi untuk memahami pengaruh keuntunganmaksimal yang mempengaruhi sikap WPS dalam pengambilan keputusan.Rehabilitasi sosial berfungsi untuk melaksanakan proses memasyarakatkan kembalianggota masyarakat yang perilakunya tidak sesuai dengan harapan dari sebagian besarmasyarakat. Tujuan utama dari pengadaan pendampingan dan konseling ini adalahbagaimana pendamping dapat melakukan komunikasi persuasi yang efektif, sehinggadapat mengarahkan WPS kepada keputusan meninggalkan dunia prostitusi dan memilihpekerjaan yang lebih bermartabat. Tentunya dibutuhkan waktu dan tahapan dalammembimbing dan setiap keputusan tidak dapat dipaksakan kepada orang lain.Untuk itu, Pemerintah Kota Semarang mengadakan program rehabilitasi sosial, selainuntuk pengentasan masalah tuna sosial, juga dapat memberikan solusi dari kesenjangansosial yang muncul antara WPS dan masyarakat, akibat konsekuensi dari pekerjaan mereka.Program rehabilitasi sosial ini dilakukan secara bertahap dan dalam kurun waktu tiga tahundiharapkan WPS dapat meninggalkan dunia prostitusi serta kembali mematuhi norma dannilai yang berlaku di masyarakat. Tidak menutup kemungkinan proses rehabilitasi inimenemui hambatan.Komunikasi persuasi bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, dan perilakuseseorang yang menimbulkan perubahan. Dalam melaksanakannya pendamping berperansebagai komunikator yang mampu untuk melakukan komunikasi secara personal kepadasetiap individu dan lebih baik bila dilakukan secara tatap muka. WPS sebagai pihakpenerima pesan merupakan individu atau kelompok yang menjadi sasaran persuasi untukmengubah pendapat, sikap dan perilakunya. Sedangkan pesan merupakan pemberianpengertian. Setiap pesan yang disampaikan oleh pendamping dapat mempengaruhipengambilan keputusan pada WPS.B. ISIDengan menggunakan pendekatan interpretif untuk menganalisis fenomena yang ditelitiyang dipadu dengan self-disclosure theory, pendekatan insentif (Teori Respons Kognitifdan nilai ekspetansi) dan komunikasi persuasi. Tujuan penelitian adalah untuk memahamipengalaman komunikasi persuasi dan mengetahui kendala komunikasi yang munculdalam melakukan pendampingan itu sendiri. Karena tujuan interpretasi bukan untukmenemukan hukum yang mengatur kejadian-kejadian, tetapi berusaha mengungkapkancara-cara yang dilakukan orang dalam memahami pengalaman mereka sendiri.Paradigma interpretif kemudian dikombinasikan dengan pendekatanfenomenologis, yang sama-sama berusaha melihat realitas berdasarkan pengalamanindividu yang mengalami langsung pengalaman tersebut tanpa berusaha mengategorikanfenomena yang ada. Diharapkan dapat terjadi pemahaman terhadap cara-cara orangdalam memahami pengalaman mereka sendiri dan akhirnya menentukan realitaskeberadaan manusia yang merupakan inti dari paradigma interpretif.Dalam penelitian ini dapat dilihat bagaimana pendamping membangun kedekatandan keterbukaan terhadap WPS. Pendamping berasal dari latar belakang yangberbeda-beda, informan I merupakan pendamping dari pihak pengurus Resosialisasi(Resos) Argorejo sendiri. Kesibukan sebagai ketua yang membatasi informan I untukmelakukan pendekatan secara personal terhadap WPS. Untuk pertemuan antara informanI dengan WPS, dilakukan secara berkelompok dalam penyuluhan. Hal tersebut dilakukanoleh pengurus Resos Argorejo atau bawahan dari informan I yang telah dibentuk.Interaksi yang dilakukan tidak secara langsung, melainkan mengawasi melalui laporandari pengurus Resos Argorejo.Pendekatan oleh informan kedua, dilakukan dalam dua bentuk, komunikasiantarpribadi dan komunikasi dalam kelompok. Komunikasi antarpribadi dilakukan ketikapendamping menerima laporan kesehatan dari klinik Griya ASA, yang menjadi tempatcek kesehatan bagi WPS. Komunikasi kelompok dilakukan pada saat pelatihanketerampilan yang diadakan sekali dalam sebulan di Gedung Resos.Selanjutnya, informan yang ketiga berasal dari pihak pemerintah. Informan IIIditunjuk sebagai Kepala Bidang PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial) dalamDinsospora Kota Semarang. Awal pendekatannya hampir sama dengan informan I yangmelakukan pendekatan secara berkelompok, yakni dalam acara penyuluhan atau pelatihanyang dilakukan sekali dalam sebulan oleh Dinsospora Kota Semarang. Dapat diakuinya,dengan intensitas pertemuan yang jarang, sehingga beranggapan bahwa ia kurang dapatmengenal WPS secara individual.Dalam penelitian ini akan dilihat bagaimana komunikasi persuasi yang dilakukanoleh pendamping terhadap WPS. Kasus nyatanya adalah WPS yang memiliki harapanakan pemenuhan kebutuhan dan pemuasan dalam hal materi, yang berujung padapelanggaran nilai dan norma dalam masyarakat. Stigma yang diberikan oleh masyarakatsebagai akibat dari ketidakmampuan individu. Untuk mengembalikan kembali WPS kedalam masyarakat maka perlu dilakukan pendekatan secara persuasi yang mengajak WPSmemikirkan kembali tentang pekerjaannya.Pendekatan komunikasi yang efektif dilakukan dengan menyesuaikan pesan persuasiagar terkait dengan dasar motivasi setiap WPS. Hal ini disebabkan oleh karena lebih darisetengah WPS yang ada di Resos Argorejo memiliki latar belakang yang sama, yaknimasalah ekonomi dan berpendidikan rendah. Maka pendampingan dengan mengarahkanWPS pada pelatihan keterampilan dirasa sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh WPS.Pendamping mewajibkan bagi setiap WPS di Resos Argorejo untuk mengikuti programrehabilitasi sosial yang bertujuan untuk beralih pekerjaan.Pendamping dalam penelitian ini memiliki cara yang berbeda dalam melangsungkankomunikasi persuasi. Hubungan awal yang tercipta dalam komunikasi persuasi yangdilangsungkan oleh ketiga pendamping adalah 1) Ayah dan anak, 2) Teman dan teman, 3)Pemerintah dan masyarakat. Pertama hubungan ayah-anak terlihat dari informan I yangjuga sebagai Ketua Resosialisasi Argorejo. Dia cukup dihormati di kalangan WPS, olehsebab itu WPS menganggapnya sebagai ayah dan informan I juga menganggap WPSsebagai anaknya. Tetapi yang unik adalah walaupun ada anggapan informan I sebagaiayah, hubungannya dengan WPS tidak dekat secara personal. Lebih kepada bentukmenghormati, segan, dan patuh terhadap informan I. Dengan posisi yang cukup tinggi dikalangan Resosialisasi Argorejo membuat kesibukannya semakin padat. Sehingga dirinyakurang terlibat secara langsung dengan WPS. Walaupun begitu, dia tetap mengontrollewat pengurus Resos Argorejo dan mengajukan kegiatan baru yang berhubungan denganpendampingan WPS. Hubungan yang hampir sama juga ditunjukkan oleh informan IIIyang menempatkan dirinya pada bentuk hubungan pemerintah dan masyarakat.Pendampingan ini bertujuan untuk mengentaskan dan mengembalikan WPS padakewajibannya sebagai anggota masyarakat yang mematuhi nilai dan norma yang berlaku,yakni dengan pemberian pengajaran keahlian, penyuluhan dan kejar paket pendidikanbagi yang WPS yang membutuhkannya. Pendekatan yang dilakukan oleh informan I danIII merupakan pendekatan berbentuk kelompok. Hubungan yang lebih santai ditunjukkanoleh informan yang kedua. Menggunakan pendekatan sebagai seorang teman.Memberikan perhatian yang sederhana dengan menanyakan kabar dan berinteraksi secaralangsung membuat WPS merasa diperhatikan.Identifikasi diri WPS cukup berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan darikomunikasi persuasi yang disampaikan oleh pendamping. Tingkat ekonomi yang rendahadalah alasan yang paling banyak yang menjadi latar belakang pekerjaan mereka sebagaiWPS. Para WPS di Resos Argorejo rata-rata merupakan tulang punggung keluarga.Sebanyak 75% dari uang hasil bekerja diserahkan WPS kepada keluarga. Meningkatnyaprostitusi sejalan dengan terjadinya krisis ekonomi. Terdapat pula kekecewaan dariperceraian, dilihat dari jumlah persentase 44% WPS yang mayoritas bercerai. Selanjutnya,tingkat pendidikan yang rendah, hal ini dapat dilihat dari persentasi tingkat pendidikanWPS di Resos Argorejo yang hanya tamatan SD (Sekolah Dasar) yakni 52%. Sehinggahal ini mempersempit kesempatan untuk memperoleh pekerjaan dengan pendidikan yangrendah. Terdapat pula alasan lainnya yakni kepuasan secara seksual, kemarahan, dantrafficking yang menjadi latar belakang pekerjaan sebagai WPS.Informan IV dan V memiliki latar belakang yang sama yakni masalah materi,informan IV yang harus memenuhi kebutuhannya setelah bercerai dengan suami danmasih memiliki tanggung jawab untuk menyekolahkan anak. Sehingga informan IV danV terpaksa bekerja sebagai WPS. Mereka sadar akan tingkat pendidikan yang rendah dankurangnya keahlian mempersempit kesempatan mereka untuk bekerja di masyarakat.Sehingga, pilihan sebagai WPS dirasa dapat menjadi sumber penghasilan berkecukupantanpa membutuhkan ijasah dan pengalaman bekerja.Dengan pekerjaan mereka, kedua informan menyadari konsekuensi yang merekaterima selama menjalani pekerjaan sebagai WPS. Mereka harus pintar untukmenyembunyikan pekerjaan mereka dari keluarga dan masyarakat yang mengenal merekadi daerah asalnya. Mereka mengaku malu kalau sampai keluarga terdekat mengetahuipekerjaannya. Untuk itu mereka memilih tempat yang jauh dari keluarga, seperticontohnya informan IV berasal dari Jawa Timur sedangkan informan V berasal dariJepara. Selanjutnya harus pintar dalam menjaga diri, sebab tidak jarang dengan pekerjaanmereka, terdapat tamu yang bertindak sesuka hati. Usaha selanjutnya yang dilakukan olehWPS adalah berupaya untuk menjaga kesehatan tubuh agar tidak terkena penyakit danhal-hal merugikan lainnya.Penelitian ini menjelaskan bagaimana tanggapan WPS terhadap komunikasi persuasioleh pendamping dalam program rehabilitasi sosial. Informan IV mengakui bahwabanyak manfaat yang didapat dari program rehabilitasi sosial yang dijalaninya sejak 2011.Tetapi untuk mencari pekerjaan lain, dia berpendapat bahwa hal ini masih jauh darirencananya. Karena dia masih mengumpulkan modal untuk membangun usaha.Sedangkan hal yang sebaliknya didapatkan dari informan V yang sudah mulai berpikiruntuk mencari pekerjaan lain. Dengan keahliannya membuat keterampilan tangan dansudah mulai dipasarkan, membuatnya berpikir untuk keluar ari pekerjaannya sebagaiWPS. Ia juga ingin untuk menghasilkan uang secara halal dan berkumpul kembalibersama keluarga. Dirinya menyadari bahwa umur yang sudah melebihi 45 tahunmembuatnya berpikir untuk menekuni pekerjaan lain.Informan IV beranggapan bahwa pendamping yang mendampinginya cukup mampudalam mengajar atau menjadi pelatih. Dirinya akan sangat terbuka dengan pendampingkalau hanya seputar masalah pekerjaan dan program rehabilitasi sosial, tetapi biladitanyakan mengenai masalah pribadi, dirinya tidak dapat menceritakan kepadapendamping atau orang lain. Sedangkan oleh informan V, dirinya beranggapan bahwapendamping sudah cukup mampu untuk mengajar dan membimbingnya. Dirinya cukupdekat dengan pendamping dari PKBI Griya ASA Kota Semarang dibandingkan dengandua pendamping lainnya. Informan V beranggapan bahwa semua pendamping samabaiknya dan bentuk perhatian yang diterima juga sama rata bagi semua WPS.C. PENUTUPPenelitian ini merupakan studi yang mengkaji mengenai pengalaman komunikasi persuasipendamping dengan wanita pekerja seks dalam program rehabilitasi sosial padaResosialisasi Argorejo, Kota Semarang. Instrumen yang digunakan dalam studi ini adalahindepth interview, dengan mencoba menggali pengalaman narasumber dalammelangsungkan komunikasi persuasi dalam pendampingan pada program rehabilitasisosial, baik itu dalam penyuluhan maupun dalam pelatihan keterampilan untuk mencapaitujuan resosialisasi WPS.Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini antara lain, pendekatan oleh pendampingdilakukan dengan dua cara yakni pendekatan secara individual dan pendekatan dalamkelompok. Pendamping yang menggunakan pendekatan secara individual pada awalperkenalan dengan intensitas pertemuan yang tinggi mempengaruhi tingkat kedekatan,keterbukaan, dan kepercayaan yang semakin tinggi dari WPS terhadap pendamping,begitu pula sebaliknya. Selanjutnya dapat dilihat bahwa keberhasilan pendamping terletakpada ada atau tidaknya motivasi WPS untuk mencari pekerjaan lain dengan modalkeahlian yang diterima. Sedangkan, pengambilan keputusan untuk beralih pekerjaan tidakdapat dipaksakan oleh pihak manapun, baik dari lembaga atau pemerintah danmasyarakat. Kendala dalam proses komunikasi persuasi ini adalah kurangnya penanganansecara individual kepada WPS. Untuk ini dirasa perlu untuk melakukan dialog denganpemerintah atau elemen masyarakat lainnya, guna mencapai satu titik temu mengenai apayang sebenarnya dibutuhkan oleh WPS sehingga dapat memberantas prostitusi.Akan lebih baik bila pendekatan komunikasi persuasi dengan menyertakan buktinyata. Pendamping saat ini semuanya berasal dari elemen masyarakat dan pemerintah,akan lebih baik bila memang terdapat pendamping dengan latar belakang yang samadengan WPS sehingga terdapat perasaan senasib yang dapat menggerakkan WPS.Selanjutnya, ditemukan alasan lain yang muncul pada WPS pada saat pengambilankeputusan untuk meninggalkan pekerjaan sebagai WPS, yang pertama menjadi ibu rumahtangga dan faktor umur yang semakin tua.Pengalaman komunikasi persuasi pendamping dalam menyampaikan programrehabilitasi sosial ternyata lebih rumit. Pendekatan komunikasi antarpribadi denganmenciptakan hubungan yang terbuka sehingga menciptakan rasa kedekatan dankepercayaan. Pendekatan dengan komunikasi kelompok menggunakan TeoriPenstrukturan Adaptif, yang menyatakan bahwa aturan yang dibuat oleh kelompokberfungsi sebagai perilaku para anggotanya. Aturan yang ada akan membatasi individudalam berperilaku akan tetapi aturan yang sama dapat membuat individu memahami danmelakukan interaksi dengan orang lain.Dalam penelitian ini, penyampaian pesan untuk mempengaruhi WPS mengikutiprogram rehabilitasi sosial yang bertujuan pada resosialisasi atau memasyarakatkan WPSdengan beralih profesi tidak digunakan secara mendalam oleh pendamping. Pendekatanawal yang dilakukan sangat berpengaruh dalam proses pembentukan sikap. Dua dari tigaorang pendamping melakukan pendekatan awal secara kelompok dan dengan tingkatkedekatan yang rendah, sehingga dapat disimpulkan bahwa pendamping belum mampuuntuk membentuk motivasi pada WPS untuk beralih pekerjaan.Pendekatan insentif terhadap sikap dengan Teori Respon Kognitif dan pendekatannilai-ekspentasi. Teori ini kemudian mengasumsikan bahwa seseorang memberikanrespon terhadap suatu komunikasi dengan beberapa pikiran positif atau negatif dan bahwapikiran-pikiran ini sebaliknya menentukan apakah orang akan mengubah sikapnyasebagai akibat dari komunikasi atau tidak. Pada WPS, perubahan sikap untuk mengikutipesan dari komunikasi persuasi yang disampaikan oleh pendamping adalah denganmemperhitungkan keuntungannya. Bagi WPS bila sebagai wanita pekerja seks akanmemenuhi kebutuhannya dalam hal materi, maka hal ini akan menutupi nilai negatif yangtercipta dari pekerjaan mereka. Sehingga, WPS masih akan tetap melakukanpekerjaannya selama memiliki kesempatan dan menguntungkannya.Penelitian ini dapat memberi referensi bagi pendamping tentang pentingnyamencapai satu kesepakatan mengenai apa yang harus dilakukan oleh pendamping dan apayang sebenarnya dibutuhkan oleh WPS dalam mencapai realisasi beralih pekerjaan.Selain pesan yang disampaikan, sangat perlu menciptakan komunikasi antarpribadi yangbaik, dan perlu diperhitungkan kemampuan pendamping dalam menyampaikan pesan.Latar belakang ekonomi dan pendidikan yang rendah, serta kekecewaan (perceraian)merupakan alasan utama, sehingga hal ini dapat menjadi bahan untuk menyesuaikanpesan persuasi agar terkait dengan dasar motivasi setiap WPS dalam pemenuhan harapanmereka.Lebih jauh lagi penelitian ini dapat membawa pengaruh positif terhadap masyarakat.Masyarakat dapat lebih mengerti dan paham akan situasi dari WPS dan tidak hanya bisamemberikan stigma tetapi juga dapat membantu dalam meyakinkan WPS untuk beralihpekerjaan. Hal yang penting adalah agar tidak dengan secara paksa untuk menutuplokalisasi. Karena perubahan keputusan untuk beralih pekerjaan merupakan proses yangbertahap dan memerlukan waktu. Keputusan tersebut berasal dari dalam dirimasing-masing WPS untuk beralih pekerjaan, pilihan tersebut tidak dapat dipaksakan.DAFTAR PUSTAKAReferensi Buku :Denzin, Norman K & Yvonna S. Lincoln. (1994). Handbook of QualitativeResearch. California: Sage PublicationDevito, Joseph A. (1997). Human Communication (Edisi kelima). Jakarta:Profesional BooksGerungan, W, A. (2000). Psikologi Sosial (Edisi kedua). Bandung: RefikaAditamaFisher, Aubrey. (1986). Teori-Teori Komunikasi. Bandung: RemajaRosdakaryaGudykunst, B William. (2005). Theorizing About InterculturalCommunication. California: Sage PublicationLiliweri, Alo. 2003. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta: LKiSLiliweri, Alo. 2009. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta:Pustaka PelajarLittlejohn, Stephen W. (1999). Theories of Human Communication, SixthEdition. Belmont, California: Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. (2008). Theories of HumanCommunication. Thomson Wadsworth: USALittlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. (2009). Communication. SAGE: USAMartin, Judith N & Thomas K. Nakayama. (2003). InterculturalCommunication in Context. California: Mountain View: MayfieldMoran, Dermot. (2000). Introduction to Phenomenology. London: RoutledgeMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. ThousandOaks, California: Sage Publication Inc.Nimmo, Dan. (2000). Komunikasi Politik. Bandung: Remaja RosdakaryaSears, Freedman dan Peplau. (2006). Psikologi Sosial. Jakarta: ErlanggaSuranto. (2010). Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: Graha IlmuSuranto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha IlmuSeverin dan Tankard. (2005). Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan Terapandi Dalam Media Massa. Jakarta: KencanaUchjana, Onong. (2002). Dinamika Komunikasi. Bandung: RosdakaryaWest dan Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi. Jakarta: SalembaHumanikaZgourides, D. George & Christie S. Zgourides. (2000). Sociology. USA: IDGBooks WorldwideSkripsi / Laporan Penelitian :Irsyadina, Iffah (2007).“Komunikasi Persuasif Pendampingan dalam ProgramPendampingan Anak Jalanan” . Skripsi. Universitas DiponegoroSetiawan, YB (2007). "Memahami Komunikasi Kelompok Dalam Pendampingan KorbanKekerasan Berbasis Gender ". Skripsi. Universitas DiponegoroYunda, Nugraheni (2013). "Memahami Komunikasi Persuasif Kelompok DukunganSebaya (KDS) Smile Plus dalam Meyakinkan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)Bergabung untuk Menumbuhkan Kepercayaan Diri”. Skripsi. Universitas DiponegoroPeraturan Daerah Kabupaten Klaten No. 27 Tahun 2002 tentang Larangan Pelacuran,Pasal 1 angka 4Referensi Internet :Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga, Provinsi Jawa Tengah. (2012). Seksi PelayananRehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Narkobahttp://dinsos.jatengprov.go.id/index.php/yanrehsos/95-seksi-pelayanan-rehsos-tuna-sosial-korban-narkoba. Diakses pada tanggal 19 September 2012 pukul 09.17 WIB.Oktarini, Fitri. (2003). 129 Ribu Perempuan Indonesia Jadi pekerja Seks.http://www.tempo.co/read/news/2003/06/20/05520469/null, diakses 27 September 2012,pukul 14.30 WIBKomisi Nasional Perempuan. (2012). Perempuan dan Pemiskinan.http://www.komnasperempuan.or.id/pengetahuan_perempuan/perempuan-dan-pemiskinan/, diakses 27 September 2012 pukul 14.06 WIBKementrian pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.(2012). Situasi Eksplitasi Seks Komersial Anak di Semarang.http://www.gugustugastrafficking.org/index.php?option=com_content&view=article&id=651:jawa-tengah-situasi-eksploitasi-seks-komersial-anak-disemarang&catid=145:situasi-eska&Itemid=185, diakses 27 September 2012 pukul 14.50WIBKompasiana. (2012). Prostitusi dan Indonesiaku.http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/07/prostitusi-dan-indonesia-ku/, diakses tanggal 9Oktober 2012 pukul 15.30 WIBLandasan hukum dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 27(http://lib.unnes.ac.id/14214/ diakses tanggal 19 September 2012 pukul 08.32 WIB)Merdeka. (2012). Sunan Kuning Jadi Percontohan Lokalisasi sejak 2009.http://www.merdeka.com/peristiwa/sunan-kuning-jadi-percontohan-lokalisasi-sejak-2009.html diakses pada tanggal 15 Maret 2013, pukul 01.33 WIBRadar Bekasi. (2012) Apa Benar Motivasi PSK adalah Ekonomi?http://www.radar-bekasi.com/?p=33924, diakses 27 September 2012 pukul 13.42 WIBSuara Merdeka. (2008). Kondom 100 Persen untuk Resos Argorejo.http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/09/18/31264/Kondom.100.Persen.untuk.Resos.Argorejo diakses 15 Maret 2013, pukul 01.51 WIB
REPRESENTASI IDENTITAS KEINDONESIAAN DALAM FILM MERAH PUTIH Sholakhiyyatul Khizana; Triyono Lukmantoro; Nurrist Surayya Ulfa; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.323 KB)

Abstract

Setiap negara memiliki identitas nasionalnya sendiri, salah satu ciri yang digunakan untuk mengenali negara tersebut. Hal ini menjadi rumit ketika negara tersebut memiliki beragam kebudayaan atau multikultur. Budaya mana yang kemudian akan diangkat untuk dijadikan sebuah identitas nasional. Umumnya sebuah identitas diangkat berdasarkan budaya mayoritas yang berada dalam sebuah negara, hal inilah yang kemudian membuat masyarakat luas menyalahartikan ‘Jawa’ sebagai identitas nasional. Merah Putih merupakan film yang merepresentasikan sebuah identitas keindonesiaan melalui pluralisme. Identitas nasional tidak lagi diangkat berdasarkan sebuah kebudayaan mayoritas namun semua kebudayaan yang mendiami wilayah Indonesia termasuk budaya minoritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi identitas keindonesiaan dalam film Merah Putih.Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis semiotika John Fiske ‘the codes of television’. Film ini diuraikan secara sintagmatik pada level realitas dan level representasi, sedangkan penguraian level ideologi menggunakan analisis secara paradigmatik.Merah Putih merepresentasikan pluralisme sebagai identitas nasional. Masing-masing karakter dalam film ini dengan baik merepresentasikan budaya asalnya, baik dengan tata cara berpakaian, bahasa yang digunakan, pola pikir,kebiasaan, ritual peribadatan dan sebagainya. Identitas asal yang disandang para karakter dalam film ini memungkinkan terbentuknya berbagai entosentrisme, prasangka, dan stereotip. Kesadaran akan identitas nasionallah yang kemudianmenyatukan berbagai perbedaan yang ada. Temuan yang menarik dalam penelitianini adalah, bagaimana identitas gender ikut terbawa dalam arus perselisihankebudayaan. Pada dasarnya lingkunganlah yang memposisikan kelas sosial laki-laki dan perempuan, dalam film perang berlatar tahun 1940-an ini maskulinitas tampak dijunjung tinggi dan peran perempuan terdiskriminasi. Pluralisme tidak berpengaruhpada kelas sosial ini karena dalam film ini baik budaya mayoritas maupun minoritas memiliki pandangan yang sama terhadap posisi laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat.Kata kunci : film, identitas nasional, pluralisme
Pembuatan Program Talk Show Sore Binggo (Sebagai Pengarah Acara) Frans Agung Prabowo; Triyono Lukmantoro; Lintang Ratri Rahmiaji; Titiek Hendriama
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.81 KB)

Abstract

Radio merupakan salah satu media yang bertahan cukup lama dan bisa bertahan meskipun muncul media-media baru yang lain dalam memberikan informasi dan hiburan. Radio Republik Indonesia (RRI) mulai berdiri sejak 11 September 1945 yang merupakan salah satu radio tertua di Indonesia. Radio Republik Indonesia Semarang juga merupakan radio yang cukup tua dibanding radio-radio swasta lainnya. Radio dengan empat programa ini memiliki programa yang dikhususkan untuk pendengar yang segmentasinya anak muda. Programa tersebut adalah Pro 2 RRI. Pro 2 RRI itu sendiri memiliki program unggulan, salah satunya adalah Sore Binggo.Program Sore Binggo sudah berjalan di Pro 2 RRI Semarang selama 7 bulan dan merupakan salah satu program unggulan di Pro 2 RRI Semarang. Inilah alasan penulis memilih program Sore Binggo untuk dikembangkan lagi. Selain karena program yang baru, penulis juga ingin merubah pandangan pendengar yang mengatakan bahwa RRI merupakan radio orang tua dan hanya berisi berita saja.Tugas penulis adalah sebagai pengarah acara yang bertugas menjalankan acara sesuai dengan run down dan sesuai konsep yang telah dibuat oleh pengarah kreatif serta telah disetujui oleh produser. Promosi dengan menggunakan media sosial seperti twitter, instagram, Line, whatsapp dilakukan sebelum acara berlangsung dan selama acara berlangsung.
Pemaknaan Khalayak terhadap Adegan Axe Effect dalam Iklan Televisi Axe Galih Arum Sri Gelar Mukti; Hedi Pudjo Santosa; Triyono Lukmantoro; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.843 KB)

Abstract

Iklan, merupakan sarana komunikasi yang digunakan untuk mempromosikan suatu produk atau jasa. Produk wewangian Axe yang ditujukan untuk konsumen laki-laki, selalu lebih menonjolkan sosok perempuan ketimbang laki-laki itu sendiri dalam iklan-iklannya. Perempuan-perempuan tersebut menjadi obyek yang terkena pengaruh Axe Effect dan berubah tingkah lakunya menjadi agresif untuk mendekati tokoh laki-laki.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interpretasi khalayak terhadap adegan AxeEffect dalam iklan televisi Axe. Untuk itu, penelitian ini juga mendeskripsikan mengenai sosok laki-laki dan perempuan yang menjadi pemeran adegan Axe Effect, serta dimensi jender yang menyertainya. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi untuk memahami bahwa pengalaman dan latar belakang sosial dapat berperan dalam terciptanya makna yang berbeda-beda mengenai suatu adegan atau tayangan iklan. Usia dan jenis kelamin juga sangat mempengaruhi pemaknaan. Khalayak yang merupakan keluarga, dapat terlibat pula dalam perdebatan atas penilaiannya masing-masing saat menyaksikan suatu teks media (dalam hal ini tayangan iklan Axe) secara bersama-sama.Hasil penelitian menunjukkan khalayak memaknai adegan Axe Effect sebagai suatu adegan yang sangat berlebihan dan tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Visualisasi laki-laki dan perempuan dalam adegan Axe effect juga seolah bertukar menurut enam dimensi infantalisasi simbolik. Sosok laki-laki dinilai cukup normal, meskipun terlalu pasif. Sosok perempuan dinilai terlalu agresif sehingga menimbulkan kesan negatif, oleh karena itu ada kekurangsetujuan iklan tersebut tampil di media massa. Meskipun begitu, maskulinitas tetap melekat pada sosok laki-laki, dan femininitas pada sosok perempuan. Karena iklan memang selalu dirancang untuk terciptanya jarak dari kenyataan, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk memahami sisi kreatif, penokohan, dan fungsi dari sebuah tayangan iklan. Khalayak tidak hanya harus sekedar mulai aktif memaknai, namun juga mengkritisi pesan iklan secara cerdas.Kata kunci : Resepsi, Interpretasi, Iklan, Jender, Axe effect
Co-Authors Ade Ayu Kartika Sari Rezki Adi Nugroho Aditya Gilang Gifari Agus Naryoso Agus Toto Widyatmoko Amalia Ayu Wulansari Arfianto Adi Nugroho Ayu Pramudhita Noorkartika Bayu Hastinoto Prawirodigdo Beta Fiftina Aryani Candra Sateria Choirul Ulil Albab Citra Luckyta Lentera Gulita Daeng Lanta Mutiara Rato R Dian Kurniati Diandini Nata Pertiwi Djoko Setyabudi Dwinda Harditya Fathimatul Muyassaroh Febryana Dewi Nilasari Fitriana Nur Indah S Frans Agung Prabowo Fransiscus Anton Saputro Frieda Isyana Putri Galih Arum Sri Gelar Mukti Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S Hedi Pudjo Santosa Herusna Yoda Sumbara Ika Adelia Iswari Ima Putri Siti Sekarini Intan Murni Handayani Joyo NS Gono Kevin Devanda Sudjarwo Leidena Sekar Negari Lintang Ratri Rahmiaji M Bayu Widagdo M Rofiuddin Marliana Nurjayanti Nasoetion Meivita Ika Nursanti Much Yulianto Much. Yulianto Muhammad Rofiuddin Nailah Fitri Zulfan Niki Hapsari Fatimah Nilna Rifda Kholisha Novelia Irawan S Nur Fajriani Falah Nurhanatiyas Mahardika Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Pandu Hidayat Primada Qurrota Ayun Putri Ramadhini R. Sigit Pandhu Kusumawardana Ria Rahmawati Rifqi Aditya Utama Rika Futri Adelia Rizki Kurnia Yuniasti Salsabila, Unik Hanifah Sandy Allifiansyah Shafira Indah Muthia Sholakhiyyatul Khizana Sri Budi Lestari Sunarto Sunarto Syarifa Larasati Tandiyo Pradekso Tandiyo Pradekso Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Titiek Hendriama Tri Yoga Adibtya Tama Triliana Kurniasari Turnomo Rahardjo Veramitha Indriyani Williams Wijaya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yoga M Pamungkas Yoga Yuniadi Zefa Alinda Fitria