Claim Missing Document
Check
Articles

SOSOK WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) DALAM TABLOID SOCCER (Analisis Semiotika Kolom Soccer Babes dan Kolom Love Story di Tabloid Soccer ) Dwinda Harditya; Hedi Pudjo Santosa; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.912 KB)

Abstract

Nama : Dwinda HardityaNIM : D2C009014Judul : SOSOK WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) DALAM TABLOID SOCCER (Analisis Semiotika Kolom Soccer Babes dan Kolom Love Story di Tabloid Soccer )ABSTRAKSIWAGs merupakan akronim dari wives and girfriends. WAGs pertama kali diperkenalkan oleh para jurnalis Inggris pada perhelatan Piala Dunia 2006 sebagai bentuk kekesalan terhadap para pacar dan istri personel Timnas Inggris yang dianggap mengganggu konsentrasi dan membawa dampak yang negatif. Pada perkembangannya istilah ini digunakan untuk menyebut para pacar dan istri pesepak bola profesional. Tabloid Soccer merupakan salah satu tabloid bertema sepak bola di Indonesia yang secara khusus membahas tentang sosok WAGs dalam kolom Soccer Babes dan Love Story.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sosok WAGs yang direpresentasikan melalui kolom Soccer Babes dan kolom Love Story. Selain itu, penelitian ini juga ingin membedah konstruksi sosok WAGs untuk mencari nilai tersembunyi tentang sosok WAGs Teori yang digunakan adalah teori representasi dari Stuart Hall dan Teori tentang konstruksi perempuan dalam tabloid. Tipe penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan sintagmatik dan paradigmatik dengan pendekatan analisis narasi dan pemikiran Roland Barthes tentang teknik konotasi pesan fotografis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tabloid Soccer menampilkan para pacar dan istri pesepak bola profesional tersebut dengan nilai-nilai yang positif, baik melalui narasi maupun tampilan gambar. Dengan menampilkan sosok WAGs dengan peran dan nilai-nilai positif tersebut, nilai-nilai negatif yang dihasilkan oleh pemaknaan WAGs terdahulu akan tertutupi. Soccer, membantu memperkenalkan dan membentuk pemahaman baru kepada pembacanya tentang sosok WAGs, lewat WAGs yang ditampilkan melalui kolom Soccer Babes dan kolom Love Story.Kata kunci : perempuan, tabloid, representasi, stereotip, fenomena sepak bola.Name : Dwinda HardityaNIM : D2C009014Title : WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) FIGURES IN TABLOID SOCCER (Semiotical Analysis of Soccer Babes Column and Love Story Column in Tabloid Soccer)ABSTRACTWAGs is an acronym for wives and girfriends. WAGs, first introduced by British journalists at the World Cup 2006 in Germany as a form of resentment against the wives and girlfriends who are interfere concentration of England national team personnel and have a negative effect. In the development, this term is used to describe all the wives and girlfriends professional footballer . Soccer is one of the football tabloid in Indonesia that specifically discusses the WAGs figures in Soccer Babes column and Love Story column.The purpose of this research is to identify the WAGs figures, which is represented by Soccer Babes column and Love Story column. In addition, this research also wanted to dissect WAGs construction to find the hidden value. This research used representation theory of Stuart Hall and theories about the construction of women in the tabloids. The type of research is a qualitative descriptive with semiotical approach and documentation technique for collecting data. Data analysis was performed with the syntagmatic and paradigmatic analysis with narrative analysis approach and message connotations photographic technique by Roland Barthes .The results showed, WAGs of professional footballers have positive values, both through with narrative and image display. WAGs with the main role and the positive values will covered negative values, which is generated by the previous WAGs. Soccer helps to introduce and establish a new understanding to the readers about WAGs figures through display and narrative in Soccer Babes column and Love Story column.Keywords : women, tabloid, representation, stereotypes , phenomenon of footballSOSOK WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) DALAMTABLOID SOCCER(Analisis Semiotika Kolom Soccer Babes dan Kolom Love Storydi Tabloid Soccer)I. PENDAHULUANWAGs (dibaca wog) merupakan akronim dari wives and girfriends, sebuah istilah yang dilekatkan pada pacar dan istri para pesepak bola profesional. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh para jurnalis Inggris pada perhelatan Piala Dunia 2006 di Jerman. Para WAGs personel Inggris tersebuat antara lain sosok Victoria Adams, mantan vokalis Spice girls yang merupakan istri David Beckham, Cheryl Tweedy istri dari bek Inggris Ashley Cole sekaligus anggota grup musik Girls Aloud, Alex Curran, super model Eropa yang sekaligus istri dari Steven Gerrard, dan masih banyak lagi yang kesemuanya merupakan artis, model, public figure papan atas di Inggris maupun Eropa. Para jurnalis Inggris yang dikenal tajam dalam mengkritik, menganggap para WAGs tersebut menjadi kambing hitam atas kegagalan Inggris di Piala Dunia 2006. Para WAGs tersebut dianggap mengganggu konsentrasi para pemain karena harus menemani dan melayani kehidupan sosialita mereka seperti berbelanja di butik dan pergi ke salon.Sejak saat itu, istilah, WAGs sudah menjadi sebuah stereotip negatif bagi para pacar dan istri pesepak bola profesional. Stereotip negatif yang dimaksud adalah para pacar dan istri mereka dianggap sebagai pendompleng status kepopuleran para pesepak bola profesional tersebut, selain itu penghasilan pesepak bola profesional yang tinggi dianggap menjadi daya tarik. Bagi para WAGs, selain gaji para pesepak bola yang tinggi, ketenaran akibat prestasi yang ditorehkan oleh para pesepak bola tersebut secara tidak langsung turutmenaikkan nama WAGs tersebut di mata masyarakat. Mereka yang awalnya berasal dari sosok yang tidak dikenal, belum terlalu terkenal di mata masyarakat, secara tiba-tiba dapat menjadi populer seiring dengan prestasi pacar atau suami mereka di dunia sepak bola, atau sosok yang terkenal dapat meningkatkan popularitas dengan berpacaran dengan pesepak bola profesional yang berprestasi. Media memiliki peran besar dalam memperkenalkan sosok WAGs tersebut lewat berbagai cara. Pertama, cara yang dilakukan adalah dengan mengkategorisasikan para WAGs tersebut. Kedua, melalui kontroversi yang dilakukan oleh pesepak bola terhadap WAGsnya maupun sebaliknya.Tabloid Soccer merupakan salah satu tabloid olahraga yang khusus mengambil tema sepak bola. Tabloid olahraga yang terbit di Indonesia yang membahas secara spesifik mengenai sosok WAGs melalui kolom Soccer babes dan love story. Kedua kolom tersebut termasuk dalam kategori rubrik Soccer Style dalam tabloid ini. Soccer Style merupakan salah satu rubrik dalam Tabloid Soccer yang membahas mengenai sisi lain dunia sepak bola. Soccer mencoba memberikan ruang bagi para perempuan untuk dapat muncul dalam tabloid olahraga yang seringkali didominasi oleh laki-laki. Hal tersebut salah satunya coba diwujudkan dengan cara menampilkan sosok WAGs yang selama ini jarang dibahas secara mendalam oleh media lain. Melalui kedua kolom tersebut, sosok WAGs coba diprofilkan sekaligus diperkenalkan kepada para pembaca tabloid ini. Sebagai sebuah media cetak, Soccer memiliki ideologi sendiri dalam menampilkan sosok WAGs. Soccer memiliki tampilan atau cara tersendiri untukmenghadirkan sosok ini bagi para pembacanya. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Soccer merepresentasikan sosok WAGs dalam kolom Soccer Babes dan Love Story. Penelitian ini menggunakan pendekaan teori representasi dari Stuart Hall, Tabloid dan konstruksi perempuan dari Martin Hamer dan Martin Conboy. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan semiotika dengan analisis data secara sintagmatik melalui analisis narasi dan teknik konotasi pesan fotografis dari Roland Barthes. Selain analisis sintagmatik, peneliti menggunakan analisis paradigmatik untuk mencari nilai tersembunyi yang terdapat dalam Soccer yang menampilkan sosok WAGs melalui kolom Soccer Babes dan Love Story.II. ISIDari dua belas sosok WAGs yang diwakili oleh sosok Eleanor Abbagnato, Michella Quattrocioche, Carolina Marcialis (Liga Italia), Heather Weir, Ursula Santirso, Georgina Dorsett (Liga Inggris), Pilar Rubio, Jorgelina Cardoso, Carolina Martin (Liga Spanyol), Maria Imizcoz Garcia, Lilli Hollunder, dan Anna Stachurska (Liga Jerman), yang termuat dalam kolom Soccer Babes dan kolom Love Story. Menurut Vladimir Propp, analisis sintagmatik menggunakan unit narasi dasar yang disebutkan oleh Propp sebagai sebuah “fungsi”, fungsi tersebut dapat diperoleh dari berbagai adegan atau bagian yang terdapat dalam film, komik, televisi, dan segala jenis produk media yang mengandung narasi (Berger, 1991: 14). Analisis paradigmatik digunakan untuk mencari nilai-nilai atau ideologi yang tersembunyi dalamteks yang mampu membangkitkan makna tertentu bagi pembaca (Berger, 1991: 18), secara analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik maka diperoleh nilai-nilai antara lain :1. Secara sintagmatik, melalui analisis narasi dan analisis fotografis Roland Barthes, Tabloid Soccer menampilkan sosok WAGs sebagai sosok perempuan yang aktif, memiliki pengaruh, ceria, setia independen, memiliki bakat, dan berprestasi. Melalui gambar, sosok WAGs ditampilkan Soccer sebagai sosok perempuan modis, berparas cantik, dan menampilkan nilai sensualitas perempuan dalam batas kewajaran.2. Secara paradigmatik, ada lima nilai yang bisa dipetik dari dua belas sosok WAGs yang diteliti, yaitu WAGs sebagai sosok penentu karir, WAGs sebagai pasangan ideal, WAGs sebagai perempuan mandiri, WAGs sebagai sosok perempuan pecinta fashion, dan WAGs sebagai sebuah stereotip yang dibenci.Pertama, Sosok WAGs sebagai penentu karir. Definisi WAGs sebagai sosok penentu karir adalah Sosok WAGs yang memiliki pengaruh besar terhadap karir pasangannya sebagai pesepak bola profesional, seperti pengaruh WAGs dalam menentukan klub yang dipilih oleh pasangannya dan WAGs membantu meningkatkan perubahan moral pasangannya dalam karir sepak bola.Kedua, WAGs sebagai sosok pasangan ideal didefinisikan bahwa sosok WAGs membantu memberi dukungan terhadap pasangannya sebagai pesepak bola profesional, dan menjadi sosok yang bisa diandalkan untuk membangun komitmen dalam membina sebuah hubungan.Ketiga, WAGs sebagai perempuan mandiri memiliki definisi sosok WAGs yang secara ekonomi mampu memiliki profesi yang bisa diandalkan untuk hidup, dan tidak bergantung dari penghasilan pasangannya. Hal ini sebagai perwujudan liberalisme secara ekonomi dan eksistensi yang dilakukan oleh WAGs.Keempat, WAGs sebagai sosok pecinta fashion didefinisikan sebagai sosok WAGs yang memiliki selera fashion yang baik, karena latar belakang sosok WAGs yang mayoritas merupakan selebriti sehingga memiliki selera fashion yang cukup baik, selain itu fashion merupakan salah identitas yang membangun karakter sosok WAGs.Kelima, sosok WAGs sebagai sebuah stereotip yang dibenci oleh perempuan didefinisikan sebagai WAGs merupakan sebuah stereotip yang diciptakan media-media di Inggris dan berkonotasi negatif, dari hasil penelitian ditemukan beberapa WAGs yang secara nyata menolak sebutan itu karena mampu mempengaruhi nilai dan peran mereka di mata masyarakat.Dari kelima nilai tersebut, dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa Tabloid Soccer, membantu memperkenalkan dan membentuk pemahaman baru kepada pembacanya tentang sosok WAGs, lewat WAGs yang ditampilkan melalui kolom Soccer Babes dan kolom Love Story.III. PENUTUPSoccer menampilkan para pacar dan istri pesepak bola profesional tersebut dengan nilai-nilai yang positif, baik melalui narasi maupun tampilan gambar. Dengan menampilkan sosok WAGs dengan peran dan nilai-nilai positif tersebut, nilai-nilai negatif yang dihasilkan oleh pemaknaan WAGs terdahulu akan tertutupi. Dalam hal ini, media berperan membentuk makna baru dengan merepresentasikan nilai-nilai dan bentuk yang berbeda.Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa Soccer tidak sekadar menganggap para WAGs sebagai news candy semata, melainkan ada nilai yang coba disampaikan kepada pembacanya, misalnya nilai kemandirian. Dalam penelitian ini, sosok WAGs telah mengalami pergeseran nilai yang ke arah positif dibanding ketika istilah ini muncul pertama kali pada 2006. Hal ini menunjukan bahwa sosok WAGs saat ini tidak bisa digeneralisir dengan makna terdahulu, perlu adanya pembanding atau informasi mendalam yang menunjukkan sosok WAGs memiliki nilai positif atau negatif.DAFTAR PUSTAKASUMBER BUKU :Barker, Chris. 2004. Dictionary Of Cultural Studies. London : Sage Publications.Barthes, Roland. 1990. Imaji, Musik, dan Teks. Yogyakarta : Jalasutra.Berger, Arthur Asa. 1991. Media Analysis Techniques. London : Sage Publications.Burton, Graeme. 2008. Yang Tersembunyi di Balik Media. Yogyakarta: Jalasutra.Cashmore, Elish. 2002. Key Concepts Sports and Exercise Psychology. London: Routledge.Coakley, Jay. 2001. Sports in Society : Issues & Controversies. New York: Mc Graw Hill.Conboy, Martin. 2006. Tabloid Britain. London : Routledge.Danesi, Marcel. 2010. Memahami Semiotika Media. Yogyakarta : Jalasutra.Denzin, Norman & Yvonna Lincoln. 1994. The SAGE Handbook of Qualitative Research. London: Sage Publications.Eriyanto. 2001. Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta : LKIS. Fiske, John. 2004. Cultural and Communication Studies : Sebuah pengantar paling Komprehensif. Yogyakarta : Jalasutra. Hall, Stuart. 1997. Representation : Cultural Representation and Signifying Practises. London : Sage Publications.Hamer, Martin. 2004. Key Concepts In Journalism Studies. London : Sage Publications.Kamus Bahasa Indonesia. (2008). Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kawamura, Yuniya. 2005. Fashionology: an introduction to fashion studies. Oxford: Berg Publisher. Kuper, Simon & Stefan Szymanski. 2009. Soccernomics. New York : Nation Books. Leslie, Larry Z. 2011. Celebrity in 21 Century. California : ABC CLIO LLC. Potter, Deborah. 2006. Handbook of Independent Journalism. United States: Bureau of International Information Programs U.S. Department Of State. Putnam, Hilary. 2001. Representation and Reality. Cambridge : The Mit Press. Rojek, Chris. 2001. Celebrity. London: Reaktion Books. Sugiarto, Atok. 2005. Paparazzi: Memahami Fotografi Kewartawanan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.Scapp, Ron & Brian Seitz. 2010. Fashion Statements. New York: Palgrave Macmilan. Schwarzmantel, John. 2008. Ideology and Politics. London: Sage Publications. Sterling, Cristopher H. 2009. Encyclopedia of Journalism. London : Sage Publications. Tannsjo, Torbjorn & Claudio Tamborini. 2000. Values in Sport. London: E & FN Spon. Tong, Roesmarie Putnam. 2008. Feminist Thought. Yogyakarta : JalaSutra. Turner, Rachel S. 2008. Neo Liberal Ideology: History, Concepts, and Policies. United Kingdom: Edinburgh University Press Ltd. Thornham, Sue. 2010. Teori Feminis Dan Cultural Studies. Yogyakarta: Jalasutra Thornham, Sue. 2007. Women, Feminism, and Media. United Kingdom: Edinburgh University Press Ltd. Urrichio, William. 2008. Media, Representations, and Identities. United Kingdom: Intellect Books.Van loon, Borin, dkk. 2008. Introducing Media Studies. Yogyakarta : Resist Book. Watkins, Susan Alice dkk. 2007. Feminisme untuk Pemula. Yogyakarta : Resist Book. Webb, Jenn. 2009. Understanding Representation. London : Sage Publications. Wood, Julie T. 1994. Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture. Stamford: Wadswoerth Publishing.SUMBER MEDIA CETAK : London Evening Standard, 5 July 2006.London Lite, 14 May 2007.Times Magazine, New Yorker, & Sunday Times, July 2006. New Yorker, 3 July 2006. The Football Agents, Buklet Tabloid Bola Edisi 03, Terbit 28 Januari 2013. 20 Highest Paid Footballers, Buklet Tabloid Bola Edisi 17, Terbit 6 Mei 2013. Tabloid Soccer edisi 1 September 2012. Tabloid Soccer edisi 15 Oktober 2012. Tabloid Soccer edisi 15 Desember 2012 Tabloid Soccer edisi 26 Januari 2013 Tabloid Soccer edisi 2 Februari 2013 Tabloid Soccer edisi 16 Februari 2013 Tabloid Soccer edisi 11 Mei 2013 Tabloid Soccer edisi 1 Juni 2013 Tabloid Soccer edisi 22 Juni 2013.SKRIPSI : Ayun, Primada Qurrota. 2011. Representasi Perempuan dalam Rubrik Sosialita Koran Kompas. Skripsi : Universitas Diponegoro. Savitri, Isma. 2009. Representasi Perempuan dalam Tabloid Bola. Skripsi: Universitas Diponegoro. Tambunan, Chrismanto. 2010. Konstruksi Perempuan Pada Iklan Obat Kuat di Media Cetak. Skripsi: Universitas Diponegoro.SUMBER INTERNEThttp://www.biography.com/people/mia-hamm-16472547, diakses 2 juli 2013. www.bola.net/bolatainment/shakira-dinobatkan-sebagai-WAGs-tercantik-di-euro-2012-b33ff4.html, diakses 9 Maret 2013. www. bolamaster.com, diakses 27 Juni 2013. bleachreport.com, diakses 27 Juni 2013.http://www.cbc.ca/sports/soccer/fifawomensworldcup2011/story/2011/05/27/spf-homare-sawa.html, diakses 2 juli 2013. dnaberita.com, diakses 27 Juni 2013. www. detiksport.com, diakses 19 Mei 2013. www.duniasoccer.com, diakses 27 Juni 2013.http://www.fifa.com, diakses 2 Juli 2013. Footbalerswives.com, diakses 27 Juni 2013. google images.com/WAGsEngland2006, 19 Mei 2013. Hufftington.post, diakses 27 Juni 2013. Lavaguardian.com, diakses 27 Juni 2013 www. kapanlagi.com, diakses 27 Juni 2013 Madrid-Barcelona.com , diakses 27 Juni 2013www. namafb.com, diakses 9 Maret 2013. Mirror.co.uk, diakses 27 Juni 2013. Reveal.co.uk, diakses 27 Juni 2013.http://rsssf.com/tableso/ol-women.html, diakses 2 Juli 2013. http://www.thesun.co.uk/themostbeautifulWAGs, diakses 27 Juni 2013 uk.omg.yahoo.co.uk, diakses 27 Juni 2013. www.wowkeren.com, diakses 27 Juni 2013zimbio.com, diakses 27 Juni 2013.www. zonabola.com, diakses 19 Mei 2013.
MAKNA IDENTITAS FANS KLUB SEPAK BOLA (CHELSEA INDONESIA SUPPORTERS CLUB) Ika Adelia Iswari; Triyono Lukmantoro; Turnomo Rahardjo; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.857 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sekelompok orang yang memiliki kesamaan visi dan misi yang cenderung untuk bergabung ke dalam suatu lingkaran. Lingkaran tersebut diwujudkan dengan terbentuknya suatu komunitas. Komunitas fans klub sepak bola merupakan hal yang biasa ditemui di lingkungan kita. Bermulai dari kegemaran dengan olahraga sepak bola kemudian munculnya keinginan untuk mengenal lebih dalam klub sepak bola yang didukung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana individu bisa memutuskan untuk bergabung ke dalam lingkungan yang baru dan bertemu dengan orang-orang baru dan bagaimana individu tersebut membentuk identitas dirinya yang pada awalnya hanya merupakan penggemar sepak bola menjadi salah satu supporter klub sepak bola tertentu.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Sintalitas Kelompok, Teori Perbandingan Sosial, dan Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth) dan konsep identitas diri. teknik analisis data kualitatif yang mengacu pada penelitian fenomenologi dari Clark Moustakas. Subjek penelitian ini adalah setiap orang (laki-laki dan perempuan) yang merupakan pendukung Chelsea, merupakan anggota komunitas Chelsea Indonesia Supporters Club.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan proses identitas sosial di dalam komunitas Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC) yang dialami oleh setiap individu yang merupakan anggota komunitas terjadi karena banyak faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah keluarga, dan kelompok-kelompok sekunder seperti teman. Individu menginginkan adanya kesamaan visi dan misi yang menurut mereka akan memudahkan dalam berinteraksi. Proses pengambilan keputusan di dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan oleh individu yang tergabung ke dalam komunitas Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC) tidak selalu dipengaruhi oleh interaksi antar sesama individu di dalam komunitas. 
Stereotip Etnis Tionghoa Dalam Stand-Up Comedy pada lakon “KOPER” (Analisis Semiotika) Nur Aini; Adi Nugroho; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.113 KB)

Abstract

1ABSTRAKSIJudul Skripsi : Stereotip Etnis Tionghoa Dalam Stand-Up Comedy padalakon “KOPER” (Analisis Semiotika)Nama : Nur AiniNim : D2C308012Jurusan : Ilmu KomunikasiKaum minoritas dapat dianggap sebagai kelompok subkultur yang dapat menyebabkan pergolakan di sebuah negara. Perbedaan identitas menjadi kerap muncul sebagai awal permasalahan SARA yang salah satunya ditandai dengan adanya stereotip kelompok, terutama pada kaum minoritas. Kemunculan stand-up comedy di Indonesia yang turut meramaikan hiburan tanah air, menjadi salah satu media bagi kaum minoritas untuk lebih terbuka dalam mengkomunikasikan hal tabu seperti rasisme yang dialami oleh etnis Tionghoa. Melalui stand-up comedy hal tersebut diangkat dengan perspektif dan cara yang lebih dapat diterima.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada pembaca tentang makna yang diungkapkan dalam pertunjukan stand-up comedy lakon “Koper” pada sesi Ernest Prakasa, seorang keturunan etnis Cina-Betawi. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes untuk memaknai kode-kode secara denotatif dan konotatif, juga teknik analisis Fiske dengan menguraikan simbol-simbol tayangan yang disajikan melalui tiga level analisis yaitu reality, representation, dan ideology.Hasil penelitian menunjukkan adanya temuan mengenai representasi etnis Tionghoa yang digambarkan melalui stand-up comedy dalam lakon “Koper”. Pertama mengenai diskriminasi sosial yang dialami, etnis Tionghoa seringkali mendapatkan perilaku yang berbeda dari masyarakat karena dianggap sebagai liyan. Kedua, adanya stereotip tentang fisikalitas Tionghoa terutama bentuk mata sipit sebagai ciri khas yang dimiliki masyarakat Tionghoa atau keturunannya, hingga sekarang masih seringkali muncul. Dan yang ketiga adalah kemampuan sosial-ekonominya yang selalu dianggap berada di tingkat menengah ke atas, di mana hal tersebut berdampak pada kecemburuan sosial masyarakat.Disetujui oleh Pembimbing 1Semarang, Maret 2013Drs. Adi Nugroho, M.SiNIP 19651017.199311.1.0012PENDAHULUANIndonesia, sebuah negara besar yang terdiri dari berbagai kepulauan, memiliki begitu banyak ragam etnis kebudayaan. Salah satunya etnis Tionghoa yang meskipun dianggap sebagai kelompok subkultur, namun secara faktual merupakan warga Indonesia. Berbagai peristiwa yang terjadi, di negara ini seolah memandang etnis tersebut dengan sebelah mata. Adanya ketimpangan sosial yang terjadi pada masa lalu antara kelompok pribumi dan Tionghoa (keturunan) membuat pribumi merasa takut dan terancam. Refleksi ketakutan yang muncul dari kalangan pribumi tersebut pada akhirnya berubah menjadi persepsi umum. Charless A. Coppel dan Rizal Sukma (dalam http: //www.yusufmaulana.com/2009/07/menakar-diaspora-etnis-tionghoa.html) mengidentifikasi lima persepsi masyarakat pribumi terhadap karakter umum etnis Tionghoa, yaitu :1. Mereka adalah bangsa (ras) yang terpisah, yakni bangsa Cina;2. Posisi mereka diuntungkan dalam struktur sosial di bawah pemerintahan kolonial Belanda;3. Struktur sosial diskriminatif selama penjajahan Belanda menempatkan mayoritas mereka lebih suka mengidentifikasi dengan bangsa Belanda, memiliki sikap arogan, memandang rendah masyarakat Indonesia asli, cenderung eksklusif, dan mempertahankan hubungan kekerabatan dengan Cina daratan;4. Merupakan kelompok yang tidak mungkin berubah dan akan selalu memperhatikan nilai-nilai kulturalnya di mana pun mereka berada;35. Merupakan kelompok yang hanya peduli kepada kepentingan mereka sendiri, khususnya kepentingan ekonomi.Pemerintahan pasca-reformasi akhirnya kembali mengakui keberadaan etnis Tionghoa. Warga etnis Tionghoa diakui sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) sah yang dilindungi dengan UU No 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Etnis Tionghoa mulai menunjukkan eksistensinya pada berbagai aspek kehidupan bermasyarakat mulai dari bidang politik, sosial, budaya, tidak terkecuali dalam bidang hiburan.Dalam dunia hiburan, Indonesia kembali mengalami satu era baru dengan kemunculan stand-up comedy. Stand-up comedy adalah komedi tunggal secara monolog yang ditampilkan di atas panggung, berinteraksi secara langsung dengan audiens, dan memiliki konten atau materi humor yang lebih tajam dan kritis. Dalam bukunya, Sudarmo juga menyebutkan bahwa dengan stand-up comedy, orang-orang berbagi tawa untuk melepas kegetiran hidup (Sudarmo, 2012: 175).Sudarmo (2012: 175) juga menyebutkan bahwa dengan SUC, orang-orang berbagi tawa untuk melepas kegetiran hidup. Ia juga mendefinisikan stand-up comedy sebagai kombinasi antara teater dan lawak improvisasi. Tradisi teater mensyaratkan kesiapan naskah/skenario, latihan, dan arahan sutradara. Lawak improvisasi, meskipun sebenarnya memiliki konsep/naskah, namun tidak tertulis, atau hanya mengandalkan kesepakatan dalam brifing sutradara (Sudarmo, 2012: 182). Dalam Stand-up comedy lakon “Koper”, setiap comic menyampaikan materi mereka dengan tetap menjaga karakter kentalnya masing-masing. Pertunjukan ini menceritakan perjalanan sebuah koper yang tua dan besar yang hendak dibuang4oleh pemiliknya di sebuah terminal karena dianggap berisi kenangan tentang istrinya yang membawa sial. Koper tersebut kemudian berpindah tangan, dari orang yang satu ke orang lainnya yang tidak saling mengenal.Berkaitan dengan penelitian ini, stereotip etnis minoritas yang sudah ada sejak dulu dan secara umum dianggap negatif, digambarkan menggunakan humor yang pada penelitian ini dikemukakan dalam stand-up comedy lakon “KOPER”. Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui adalah bagaimana representasi “Stereotip Etnis Tionghoa dalam Stand Up Comedy “KOPER”?”Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan representasi stereotip etnis Tionghoa dalam Stand Up Comedy pada lakon “KOPER”. Peneliti juga berharap agar penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan informasi kepada pembaca dalam memahami serta mengetahui studi semiotik mengenai representasi Stereotip Etnis Tionghoa dalam Stand Up Comedy “KOPER” serta dapat dijadikan bahan rujukan ataupun pertimbangan untuk kajian ilmu komunikasi dan menjadi sumber informasi bagi penelitian selanjutnya, serta menjadi masukan tersendiri di bidang Stand Up Comedy.Metodologi Penelitian1. Tipe PenelitianMenggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Metode penelitian yang digunakan adalah semiotik Barthes.2. Subyek PenelitianSasaran penelitian ini adalah stand-up comedy lakon “KOPER”, dengan subjek penelitian yaitu comic Ernest Prakasa.53. Unit AnalisisItem-item dalam stand-up comedy lakon “Koper” yang terdiri atas scene-scene, monolog yang terdiri dari bit-bit dan punchline yang mempunyai relevansi dengan rumusan masalah.4. Teknik Pengumpulan DataData primer penelitian ini berupa potongan gambar scene-scene dari pertunjukan yang disiarkan di Metro TV pada tanggal 19 dan 26 Februari 2012 dengan tajuk stand-up comedy lakon “Koper”. Sedangkan data sekundernya adalah studi pustaka mengenai sosok tionghoa yang diperoleh dari artikel, buku maupun sumber dari internet.5. Teknik Analisis DataTeknik analisis data pada penelitian ini didasarkan pada konsep The Codes of Television dipaparkan oleh Fiske (1987:5) bahwa peristiwa yang akan disiarkan telah dienkode oleh kode-kode sosial. Kode-kode tersebut terdiri dari beberapa level, sebagai berikut:a. Level 1: “Reality”b. Level 2: “Representation”c. Level 3: “Ideology”6HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANSosok Tionghoa dalam stand-up comedy lakon Koper hanya diwakili oleh karakter Ernest Prakasa sebagai comic. Dalam beberapa bagian, Ernest menggambarkan sebuah keadaan yang menjadi stereotip mengenai etnis Tionghoa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahardjo (2005), dikemukakan persepsi orang Jawa tentang stereotip Cina dalam komunikasi antaretnis, sebagai berikut:Tabel 4.1Persepsi tentang stereotip dalam komunikasi antaretnisNoStereotipJawa - Cina (skala 1-5)1Pelit2,482Licik2,343Curiga2,144Sombong2,445Eksklusif2,276Mementingkan diri sendiri2,397Memandang rendah2,068Malas bekerja1,929Mudah disuap2,4110Hemat3,6611Jujur3,5012Sopan3,9213Ramah3,831. Diskriminasi Sosial Etnis TionghoaMonolog menggunakan kata “rasis” terdengar menyindir (meskipun dengan bercanda), yang ditujukan kepada panitia acara yang memilihkan peran itu untuknya sebagai penjaga toilet.7Seragam PDL. Seragam adalah simbol kepatuhan, kepasrahan, dan tunduk kepada peraturan. Pakaian yang dikenakan Ernest (PDL) adalah pakaian seragam yang digunakan oleh seorang pekerja lapangan, bekerja di luar kantor dan lebih banyak menggunakan tenaga. Seperti yang dikemukakan oleh Bungin (2006: 48), bahwa pekerja kasar, buruh harian, buruh lepas, dan semacamnya yang lebih banyak menggunakan tenaga dari pada kemampuan manajerial distratakan sebagai kelas sosial bawah (lower class).Gesture tubuh yang menyindir, terlihat dari cara mengibaskan baju seragamnya sembari melihat ke arah di luar penonton serta mengucapkan kata “ck..!”. Secara keseluruhan dimaknai sebagai sindiran akan diskriminasi sosial yang dialami oleh kelompok etnis Cina di masa lalu.2. Fisikalitas Etnis TionghoaBentuk mata sipit yang apabila dilihat oleh penonton dari kejauhan seperti orang yang berbicara dengan keadaan mata terpejam.Konotasinya, kalimat-kalimat yang muncul dalam bit tentang bentuk mata sipit merupakan hal yang lucu, ketika seorang comic membuat penonton menertawakannya melalui keadaan fisik yang berbeda pada dirinya. Humor semacam ini menunjukkan sebuah pengakuan atas ketidaksempurnaan dan kelemahan diri kepada penonton. Menurut Malcolm Khusner (dalam Sathyanarayana, 2007 92), meskipun pada menertawakan diri sendiri dapat menjatuhkan, namun sesungguhnya8humor tersebut dapat meningkatkan daya tarik dan membangun empati penonton.Adapun monolog yang sengaja mengganti istilah mata sipit dengan kurang belo, ciri khas yang biasa ditemui pada keturunan India dan Timur Tengah. Dalam teori humor, Ernest menggunakan self deprecating humor dimana mencela kaumnya sendiri merupakan salah satu bagian dari pengungkapan diri dengan menambahkan, “...lha mandang dua mata aja susah..! Apa lagi sebelah..!”. Ungkapan ini memiliki konotasi bahwa orang Cina tidak pernah merendahkan orang lain.Adanya stereotip bahwa orang Cina memiliki sifat angkuh, eksklusif dan memandang rendah etnis lain sengaja ditekankan bahwa hal tersebut tidak benar adanya. Dalam catatan Taher, disebutkan faktor kultural yang memiliki kaitan yang erat dengan permasalahan ini. Meskipun pada masa Orde Baru mengeluarkan kebijakan pemerintah tentang asimilasi (pembauran), ternyata Cina yang merupakan kebudayaan yang tertua di dunia ini cukup kuat dan berpengaruh di wilayah tertentu. Sebagai konsekuensinya, masyarakat Cina menjadi cenderung bersifat chauvinistik, sering memandang rendah kebudayaan bangsa-bangsa lain (Rahardjo, 2005: 19). Namun tentu saja tidak semua dari mereka memiliki sikap yang demikian. Tidak adil apabila stereotip itu dilekatkan pada semua orang Tionghoa padahal masih ada orang Tionghoa yang sangat bersahabat.93. Kelas Sosial-Ekonomi Etnis TionghoaDalam sebuah bit, dimana Ernest menemukan sebuah koper tidak bertuan yang tergeletak begitu saja di jalan. Kemudian dengan rasa penasaran, Ernest memperlihatkan dia sedang memeriksa koper tersebut dan mencoba menentengnya sembari berjalan. Ernest bercerita bahwa ternyata orang Cina tidak semuanya kaya.Konotasinya yaitu anggapan bahwa semua orang Tionghoa di negeri ini dianggap kaya dan memiliki kemampuan ekonomi yang mencukupi. Koper tersebut diartikan sebagai simbol kekayaan yang digunakan untuk menyimpan uang. Dalam bit tersebut Ernest menyebutkan, “gaya ya, kaya business man Shanghai!”. Secara harfiah, kalimat tersebut memiliki makna bahwa comic yang merupakan keturunan Cina-Betawi ini adalah bukan seorang pengusaha kaya seperti yang distereotipkan oleh masyarakat.Stereotip ini sendiri bermula dari pemerintahan kolonial Hindia-Belanda yang membagi masyarakat waktu itu menjadi tiga golongan, yaitu 1) orang Eropa yang kedudukannya paling tinggi; 2) orang Cina, India, dan Arab sebagai golongan Timur Asing dengan kedudukan sosial menengah; dan 3) golongan pribumi yang menempati kedudukan sosial terendah (Rahardjo, 2005: 18). Keistimewaan yang diberikan kepada masyarakat keturunan Cina memiliki posisi (ekonomi) yang lebih dominan dibanding komunitas masyarakat lokal. Hal ini membuat interaksi mereka dengan pribumi menjadi berjarak.10Keberhasilan banyak orang Tionghoa di bidang ekonomi memang seringkali menimbulkan kecemburuan sosial. Hanya saja keberhasilan ini tidak terjadi pada seluruh orang Tionghoa. Masih banyak orang Tionghoa biasa yang hidup secara sederhana dengan usaha mereka dan masih berjuang untuk memenuhi kebutuhannya. Banyak orang Tionghoa yang memiliki kemapanan finansial, namun perlu ditekankan pula bahwa kemapanan tersebut adalah buah dari kerja keras mereka.Selain itu pada bit yang menyampaikan bahwa Engkong atau kakek Ernest adalah seorang warga Tionghoa asli yang merantau ke negeri ini, kemudian ditambahkan bahwa tidak semua produk Cina itu KW, diambil dari kata kualitas dengan pelafalan kwalitas, yang artinya barang tiruan.Ketika dianalisis berdasarkan makna konotasi, terdapat kalimat yang ambigu. Disebutkan di dalam penampilannya, kata asli dalam bit tersebut memiliki artinya yang lain. Stereotip yang ingin diperjelas disini adalah anggapan masyarakat yang menggeneralisasikan bahwa barang made in China (yang berupa produk tekstil/ garmen dan elektronik) bahwa barang Cina seringkali disebut sebagai barang yang memiliki image peyoratif/negatif. dikenal dengan barang tiruan, bermutu rendah, dan murah (dikutip dari republika.co.id), Hal ini seringkali dikaitkan dengan isu ekonomi kapitalis yang digencarkan di negeri tersebut, yang lebih mementingkan bisnis dan ekonomi daripada aspek yang lain, menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekayaan yang berlimpah.11PENUTUPStereotip yang direpresentasikan dalam stand-up comedy lakon Koper berbicara mengenai diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dengan anggapan bahwa etnis Tionghoa adalah sebuah kelompok ras yang terpisah, sehingga dibeda-bedakan dengan kelompok masyarakat pribumi. Adapun ciri fisik yang khas dan mencolok yaitu bentuk mata sipit yang menjadi bahan untuk menyudutkan mereka dalam interaksi mereka dengan kaum mayoritas pribumi, dan menyebabkan etnis Tionghoa seringkali mendapatkan serangan verbal sebagai bentuk pengungkungan eksistensi mereka.Status sosial-ekonomi etnis Tionghoa distereotipkan sebagian besar lebih baik dari para pribumi. Padahal untuk mencapai tingkat kesuksesan seperti demikian, kaum Tionghoa telah menjalani kerja keras secara turun temurun. Namun demikian kecemburuan sosial yang merebak dan terstruktur dalam masyarakat Indonesia menyebabkan labelisasi „kaya‟ dan „eksklusif‟ bagi masyarakat Tionghoa. Akibatnya, gerak kaum Tionghoa seolah terkurung dalam ranah ekonomi yang semakin mengukuhkan dominasi finansial mereka.
Representasi Sosok Anak-Anak Pedalaman Papua dalam Film Denias, Senandung di Atas Awan Daeng Lanta Mutiara Rato R; Triyono Lukmantoro; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.306 KB)

Abstract

Representasi Sosok Anak-Anak Pedalaman Papua dalam Film Denias,Senandung di Atas AwanJUDUL : Representasi Sosok Anak-Anak Pedalaman Papuadalam Film Denias, Senandung di Atas AwanNAMA : Daeng Lanta Mutiara Rato RasanaeNIM : 14030110151029ABSTRAKFilm adalah media populer yang digunakan tidak hanya untuk menyampaikanpesan-pesan, tetapi juga menyalurkan pandangan-pandangan kepada khalayak.Perkembangan film Indonesia menjadikan para pembuat film semakin kreatifmengangkat tema dan subjek film, salah satunya tentang anak-anak pedalaman.Ini yang membuat Alenia Pictures memproduksi Denias, Senandung di AtasAwan. Film ini menjadi tema segar di tengah sedikitnya film anak-anak nasional,yang semuanya berlatar kota metropolitan. Film yang diproduksi tahun 2006 inimenceritakan perjuangan anak-anak pedalaman Papua mengejar pendidikan.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui representasi sosok anak-anakpedalaman Papua. Dengan tipe penelitian kualitatif, penelitian menggunakananalisis semiotika. Teknik analisis data menggunakan konsep Kode-Kode Televisiyang dikemukakan John Fiske. Analisis dilakukan dengan tiga level, yakni levelrealitas, level representasi, dan level ideologi. Level realitas dan level representasidianalisis secara sintagmatik, sedangkan analisis secara paradigmatik untuk levelideologi.Hasil penelitian menemukan bahwa anak-anak pedalaman Papuadigambarkan sebagai Other, seperti halnya stereotip terhadap ras kulit hitam.Stereotip ini digambarkan primitif, miskin, bodoh, dan suka berkelahi. Sangatmungkin bagi pembuat film untuk mengonstruksi realitas agar dapatmenempatkan ideologi-ideologi. Di sini, pembuat film menggunakan anak-anaksebagai alat penyalur ideologi dominan. Pendidikan membuat peradaban danpemikiran anak-anak pedalaman lebih modern. Film ini juga menonjolkan sisinasionalis seorang anak pedalaman Papua, serta menjunjung peran militer secarapositif. Konstruksi realitas dilakukan dengan menghilangkan fakta tentang konfliksosial politik di Papua. Selain berusaha mengajak penonton anak-anak semangatbersekolah, film ini juga menyiratkan makna yang kuat bahwa Papua adalahbagian dari wilayah Indonesia yang tidak boleh dipisahkan.Kata kunci: film, representasi, anak-anak, PapuaTITLE : Representation of Papua Inland Children Figure onDenias, Senandung di Atas AwanNAME : Daeng Lanta Mutiara Rato RasanaeNIM : 14030110151029ABSTRACTMovie is popular media that is used not only to convey messages, but also to leadideas to public. Indonesia movie development causes the movie makers gettingcreative in raising movie themes and subjects, one of them is about the inlandchildren. This is the reason why Alenia Pictures produced Denias, Senandung diAtas Awan. The movie becomes a fresh theme in the middle of some nationalchildren movies, which all are set in metropolitan cities. The movie was producedin the year 2006, tells about the Papua inland children who struggle to reacheducation.The research aims to determine the representation of Papua inland childrenfigure. With qualitative type, the research uses semiotics analysis. Data analysistechnique applies the concept of Television Codes put forward by John Fiske. Theanalysis is applied by three levels, namely reality level, representation level, andideology level. Reality and representation level are sintagmatically analyzed,whereas paradigmatically analyzed for ideology level.The final results of the research find out that Papua inland children aredescribed as Other, just as the stereotypes of black race. The stereotypes aredescribed as primitive, poor, foolish, and fight a lot. It is very possible for moviemaker to construct reality so they can put down ideologies. Here, movie makeruse the children as a medium for dominant ideology. Education makes theircivilization and ideas get a little more modern. The movie also shows up theirnationalist side, and positively give a full respect for military role as well. Theconstruction of reality is attempted by missing the facts about social politicconflict in Papua. Beside attempting to invite the children audience to be schoolspirited,the movie implies a strong meaning that Papua is part of Indonesiaterritories that may not be separated.Keyword : movie, representation, children, PapuaPENDAHULUANMedia audio visual telah menjadi bentuk hiburan yang banyak digunakankhalayak, salah satunya film. Selain berfungsi menghibur, film diproduksi sebagaipenyalur pesan dari pembuat film kepada khalayak. Dalam perkembangan filmIndonesia pada kurun dekade terakhir, pembuat film semakin kreatifmengeksplorasi tema-tema baru. Tak hanya menyampaikan pesan, pembuat filmpun meletakkan ideologi-ideologi. Tujuannya selain agar penonton menerimapesan yang dimaksud, juga agar ideologi-ideologi tersebut terserap dan menempeldi benak penonton. Ini menjadikan film sebagai salah satu media komunikasimassa yang efektif.Pembuat film tentu menyadari benak penonton anak-anak dengan mudahmenyerap apa yang mereka lihat dan dengar. Namun, pembuat film juga perlumemilih tema yang sesuai dan disukai anak-anak, yakni film yang mengandungpesan moral dan bertema petualangan. Menurut analisis Heru Effendy (2008: 28),kelompok remaja maupun anak adalah sasaran empuk bagi film-film denganmuatan pendidikan yang baik. Dari segi ekonomis, bisa dideskripsikan bahwalebih dari separuh penonton film Indonesia di bioskop saat ini adalah remaja. Disisi lain, jumlah anak-anak tidak sebanyak remaja, hingga film anak-anak yangdiproduksi tidak sampai 5% dari total produksi film Indonesia.Rumah produksi Alenia Pictures menemukan celah baru yang selama inibelum dirambah film lain. Film Denias, Senandung di Atas Awan menjadi debutAlenia sekaligus film anak-anak pertama yang menyorot kehidupan di pedalamanPapua.Film Indonesia tampaknya masih berkiblat pada perfilman Hollywood, dimana kehidupan pedalaman ditampilkan secara kurang beradab atau masihprimitif. Terlebih pada ras kulit hitam, secara global mereka ditampilkan sebagaisosok yang identik dengan kekerasan, bodoh, miskin, dan primitif. Tak jauhberbeda dengan film tentang pedalaman Papua, pembuat film masihmengadopsi—walau walau tak seesktrem—stereotip-stereotip kulit hitamHollywood tersebut.Adalah kewenangan pembuat film untuk membentuk seperti apa realitas dilayar, terlepas dari sesuai tidaknya dengan dunia nyata. Demikian juga dalam filmDenias, Senandung di Atas Awan, menceritakan keinginan anak-anak pedalamanuntuk belajar, meski hanya di sekolah darurat yang berbentuk Honai sederhana.Denias dan teman-temannya diceritakan sangat akrab dengan seorang TNI-AD,dikenal dengan nama Maleo, yang bertugas di desanya.Namun tak dapat dipungkiri, sebagai daerah yang sedang mengalamikonflik, Papua ada dalam pengawasan TNI. Menurut laporan Human RightsWatch (HRW) pada 2007, wilayah pegunungan/dataran tinggi Papua telah lamamenjadi wilayah konfrontasi antara militer dan polisi Indonesia dengan sel-selkecil Organisasi Papua Merdeka (OPM), sebuah organisasi politik bawah tanahyang didirikan sejak tahun 1965. Organisasi rahasia ini telah berulang kalimelakukan serangan terhadap instalasi militer Indonesia, sementara militerIndonesia dengan gencar melakukan sweeping hingga ke daerah-daerah palingterpencil untuk memberantas kaum yang disebut pemberontak ini. Sweeping yangdilakukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak jarang disertai penjarahan,perusakan barang milik penduduk setempat bahkan tindak kekerasan hinggapemerkosaan dan pembunuhan terhadap rakyat sipil. Menurut laporan terbaruHRW, pengawasan militer untuk daerah dataran tinggi Papua jauh lebih intensifdari daerah-daerah lain di Papua(http://pravdakino.multiply.com/journal/item/24?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem diakses 4 Juli 2012).Mengesampingkan fakta-fakta tentang perlakuan kekerasan TNI di tanahPapua terhadap rakyat sipil, dalam Denias, Senandung di Atas Awan, sosok TNIADyang dipanggil Maleo (diperankan Ari Sihasale) justru sangat akrab dengananak-anak. Maleo merupakan salah satu tokoh panutan Denias yang mengantarsemangatnya mengejar mimpi ke sekolah fasilitas di kota.Di balik kesuksesan Denias, Senandung di Atas Awan menyentuh emosipenonton dalam kegigihan Denias untuk menuntut ilmu, film ini justrumenempatkan—tak hanya orang dewasa Papua seperti film-film sebelumnya,tetapi juga—anak-anak dalam ke-inferioritas-an. Alenia Pictures nampaknyaberhasil menggambarkan keoptimisan seorang anak meraih pendidikan sembarimenjual keibaan terhadap anak-anak Papua itu sendiri. Yang artinya, realitas yangdiadaptasi dari film ini berhasil dikonstruksi sedemikian rupa sehinggamembelokkan stereotip-stereotip miring terhadap orang-orang Papua, menjadilebih beradab lewat sosok anak-anak yang mengejar pendidikan. Namun tetap,terpinggirkan dan inferior bahkan di kampung halamannya sendiri.Berdasarkan sosok orang Papua yang ditampilkan sacara tidak mengancamseperti ini, maka penelitian merumuskan permasalahan tentang representasi sosokanak-anak pedalaman Papua dalam film Denias, Senandung di Atas Awan.ISIPenelitian ini menggunakan tipe deskriptif kualitatif dengan analisis semiotika,yakni menganalisis teks media sebagai suatu kesatuan struktur untuk melihat danmembaca makna yang terkandung di balik teks. Untuk meneliti respresentasisendiri menggunakan tanda (gambar, bunyi dan lain-lain) untuk menghubungkan,menggambarkan, memotret, atau mereproduksi sesuatu yang dilihat, diindera,dibayangkan, atau dirasakan dalam bentuk fisik tertentu (Danesi, 2010: 24).Data yang diperoleh untuk melakukan penelitian ini berdasarkanpengamatan dan pengkajian pada film Denias, Senandung di Atas Awan, denganteknik analisis kode-kode televisi John Fiske. Kode-kode ini meliputi tiga level,yakni level realitas, level representasi, dan level ideologi. Analisis ketiga leveltersebut lebih lanjut akan mengungkapkan bagaimana pembuat filmmerepresentasikan sosok anak-anak pedalaman Papua melalui tanda-tanda,bagaimana realitas dikonstruksi untuk mencapai makna yang mengandungideologi pembuat film.Memahami bagaimana media (termasuk film) merepresentasikan realitas,Croteau dan Hoynes (2000: 214) menjelaskan dalam tiga gagasan. Pertama,representasi bukanlah realitas. Ada proses seleksi di mana terdapat aspek-aspekyang ditonjolkan atau diabaikan. Kedua, media tidak merefleksikan dunia nyata.Disebabkan keterbatasan waktu, sumber daya, atau alasan lain yang tidakmemungkinkan. Ketiga, penggunaan kata nyata. Dalam perspektif konstruksionis,adanya pembingkaian isu menyebabkan representasi realitas tidak pernah benarbenarnyata.Bagi penonton anak-anak yang terbiasa dengan pemandangan kotametropolitan, film ini memiliki daya tarik sendiri. Pembuat film sengajamengenalkan Papua dari pemandangan etnografi yang indah dan eksotis,ditambah dengan budaya dan penampilan fisik orang Papua yang berbeda darikita. Perbedaan yang ditonjolkan ini seperti perulangan dari stereotip kulit hitamyang biasa dilihat di film Hollywood, yang oleh Donald Bogle dalam Hall (1997:251) disebut sebagai Other. Dari lima tipe stereotip yakni Tom, Coon, Mullato,Mammies, dan Bad Bucks, dua diantaranya terdapat di film ini. Sosok Denias yanglugu jelas dikategorikan pada tipe Tom. Karakternya adalah anak baik hati danpatuh, sering dianiaya Noel, tidak pernah melawan orang kulit putih(direpresentasikan pada sosok Maleo, Pak Guru, Ibu Gembala, dan Angel), gigihnamun pasrah ketika menyadari usahanya tidak membuahkan hasil. Karakter inicukup berhasil diperankan dengan baik oleh Albert Fakdawer hingga film inimendapat banyak pujian karena sukses menarik simpati penonton. Tapisebaliknya, karakter Noel yang suka berbuat onar mendekati tipe Bad Bucks.Meskipun di akhir cerita, anak nakal ini kapok dan menjadi anak baik sepertiDenias.Pengamatan menemukan bahwa pembuat film dekat dengan pemikirandominan bahwa Papua masih inferior. Tampak dari bagaimana realitas yangdirepresentasikan masih terkait dengan stereotip tentang Papua. Stereotip terkaitdengan pandangan atau judgment atas identitas, baik kondisi fisik, jender, ras,maupun politik. Sederhananya, menurut Richard Dyer (dalam Hall 1997: 257),stereotip didefenisikan sebagai karakteristik yang simpel, gamblang, dapat diingat,mudah diserap, umum dikenal tentang seseorang atau kelompok tertentu.Meskipun melalui karakter polos anak-anak, kepedalaman mereka ditonjolkandengan budaya dan adat yang primitif. Hal utama yang mudah ditangkap sebagaisisi primitif di film Denias, Senandung di Atas Awan tampak menonjol dalampenampilan fisik sebagai penanda tubuh. Bahkan kamera sering mengambilgambar penampilan ini secara close up. Penduduk lokal di latar pedalamantampak menonjol dengan kulit hitam dan penampilannya yang hampir telanjangkarena hanya berpakaian untuk menutupi alat kelaminnya saja. Pakaian ini berupakoteka pada laki-laki, dan sadli pada perempuan. Semuanya bertelanjang dada.Perbedaan dalam merepresentasikan tubuh ini menjadi bukti nyata akan perbedaanras. Ras dianggap sebagai fakta sosial, sebuah bukti diri atas identitas dan karaktermanusia. Di sisi lain, pembuat film memperhatikan sisi estetika berpakaian yangmenyesuaikan budaya kota, yaitu dengan memperlihatkan pakaian menutup auratpada tokoh-tokoh utama film. Selain itu, kehidupan pedalaman Papua yang miskinjuga ditampilkan di film ini. Diceritakan dari hambatan Denias dan Enos masuksekolah fasilitas di kota karena mereka bukan anak siapa-siapa.Kurangnya akses pendidikan di pedalaman direpresentasikan pada sosokanak-anak yang terkesan bodoh karena kepolosannya. Namun di dalam film,kesan bodoh ini justru dijadikan bahan lelucon untuk penonton. Bahkan Deniasyang tergolong paling cerdas di antara teman-teman desanya tidak bisamembedakan sapi, anjing, dan babi, serta tidak bisa menyusun peta Indonesiadengan benar. Sementara itu, stereotip keras pada watak orang Papua pundirepresentasikan pada anak-anak pedalaman ini. Denias dan Noel diceritakanbermusuhan dan mudah terpancing emosi yang berbuntut adu fisik. Teman-temanmereka, bukannya melerai, justru menonton perkelahian mereka dengan senang.Sedangkan secara tersirat, pembuat film memasukkan ideologi ataupandangan dominan. Lewat sosok anak-anak penuh semangat sekolah yangdisajikan di film Denias, Senandung di Atas Awan, Papua terlihat sangat damai.Namun di sinilah ideologi diletakkan, dan dikonstruksi melalui representasi,hingga memunculkan makna baru bagi penonton. Fiske (1987: 11) menyatakankita ini telah menjadi generasi pembaca yang dikonstruksi oleh teks, bahkanmenurut Althusser (1971), konstruksi subjek-dalam-ideologi merupakan praktikideologi utama pada masyarakat kapitalis, yang kemudian disebut ideologidominan. Ini mengapa banyak penonton simpati dengan film ini, karena maknadari pesan pembuat film tersalurkan.Adanya tokoh Maleo, Ibu Gembala, dan Pak Guru menjadi tandaberlakunya ideologi dominan di film ini. Ketiganya tokoh penting bagi hidupDenias, ketiganya pula diceritakan berasal dari Jawa. Di sini pembuat filmmemposisikan Jawa sebagai role model bagi anak-anak pedalaman Papua.Terdapat oposisi biner antara pemikiran anak-anak dan orang dewasa dipedalaman Papua tentang Jawa. Pemikiran anak-anak pedalaman Papua sudahlebih terbuka, maju, dan modern dibanding para orang tua yang kolot. Deniasmemandang belajar di sekolah adalah sebuah keharusan. Denias dan temantemannyabahkan mendambakan seragam merah-putih agar bisa seperti anak-anaksekolah di Jawa. Sementara ayah Denias, Samuel, dan kepala suku berkerasmenilai belajar adalah kewajiban anak-anak di Jawa, tak perlu diterapkan dipedalaman Papua. Ideologi yang disampaikan dalam film ini adalah pandanganmodernisme, yaitu dengan menyetarakan Papua dengan Jawa, tetapi tetapmerendahkan Papua dengan stereotip-stereotip atas Other yang mengacu padarasisme.Ada pun bagi penonton dewasa yang sedikit banyak mengertikompleksnya konflik yang terjadi di Papua, representasi ke-Indonesia-an yang adadi film ini jelas sebuah konstruksi yang berlebihan. Namun bagi penonton anakanak,yang dalam pelajaran di sekolahnya dipatenkan bahwa Papua, yang dulubernama Irian Jaya ini, adalah bagian dari Republik Indonesia, representasinasionalisme di film ini tidak mengada-ada. Berdasarkan argumen Ernest Gellnerdan Hobsbawn dalam Billig (2002: 19), nasionalisme sangat terkait dengankonsep negara-bangsa, yang mana di kondisi ini prinsip politik terlihat alami.Lingkup negara-bangsa adalah segala bentuk karakter dasar tentang modernitas.Sementara sejarawan Watson dan Johnson menyebut munculnya rasa patriotismedan loyalitas. Begitu nasionalisnya seorang Denias, bocah ini hormat di hadapanpeta Indonesia dari kertas karton meski dengan susunan pulau yang salah. Deniasjuga menyanyikan reffrain lagu Indonesia Raya dengan baik, walaupun denganlafal yang keliru: Endonesa. Anak-anak pedalaman ini pun senang bukan kepalangsaat Maleo memberikan masing-masing seragam merah-putih.Dari Maleo pula anak-anak ini belajar tentang Indonesia. Peran Maleo difilm ini tidak menunjukkan fungsi seorang tentara yang bertugas, karenakeberadaannya di desa Denias lebih pada misi sosial. Satu-satunya identitastentara Maleo yang terlihat jelas hanya pada saat ia mengenakan seragamprofesinya dengan lengkap. Menengok beberapa pemikiran Louis Althusser(1969), ideologi diproduksi pada subjek, seperti halnya pemaknaan representasi.Pada masyarakat kapitalis, Althusser menjelaskan pendekatan konseptual peranideologi (Wayne, 2005: 88). Repressive State Apparatus (RSAs) atau AparatusNegara Represif dan Ideological State Apparatus (ISAs) yaitu Aparatus NegaraIdeologis. Kedua pendekatan ini bersama-sama menyokong kekuatan negarauntuk kelas penguasa, dan mempertahankan status quo.Fungsi militer yang ditugaskan di Papua antara lain mengawasi aktivitaswarga setempat. Dari pemberitaan media, kerap terjadi bentrokan antara militerdengan warga sipil. Bahkan berbagai bentuk penindasan hingga pembantaiandilakukan satuan militer, mengakibatkan penderitaan dan tekanan dialami wargasipil. Anak-anak pun menjadi sulit mendapat akses pendidikan karena ketatnyaoperasi militer dijalankan. Dari sini terlihat pendekatan pertama Althusser.Tentara berkuasa, menguasai negara.Anak-anak pedalaman Papua digunakan sebagai alat untuk mengangkatkekuatan militer di Papua, tapi dengan menyinggung sisi lembut seorang militer,yang selama ini identik keras. Jelas bahwa ideologi di sini adalah militerismepemerintah Indonesia, direpresentasikam dengan menjunjung tinggi sosok militersebagai aspek yang ditonjolkan. Dan mengabaikan aspek lainnya seperti apasesungguhnya fungsi militer di tanah Papua, karena dalam film sama sekali tidakditampilkan konflik nyata sedikit pun.PENUTUPFilm ini tidak hanya berusaha menekankan pentingnya pendidikan bagianak-anak, termasuk anak-anak pedalaman Papua. Tetapi juga menyajikankebudayaan Papua, memberi contoh bagaimana menjadi anak Indonesia, hinggamemperkenalkan sosok militer. Penelitian menemukan representasi sosok anakanakpedalaman Papua, juga ideologi-ideologi yang tersimpan di baliknya.a. Anak-anak pedalaman Papua dianggap sebagai Other, yang membedakanmereka dengan anak-anak kita. Perbedaan tidak hanya diperlihatkan dariwarna kulit, tetapi juga kebudayaan, ekonomi, intelektual, dan perilaku.Anak-anak pedalaman berkulit hitam ini direpresentasikan dengankebudayaan primitif, keluarga miskin, tidak pintar, dan suka berkelahi.Representasi atas ke-other-an ini menyiratkan pandangan tentang perbedaanras. Bahwa ras orang Papua masih dianggap lebih rendah dan tidak seberadabkita yang tinggal di Jawa, misalnya.b. Pemikiran anak-anak pedalaman Papua direpresentasikan sudah lebih majudengan menyadari pentingnya pendidikan. Semangat belajar dan menuntutilmu hingga ke kota merupakan bentuk kemajuan peradaban anak-anakpedalaman Papua. Di samping itu, semangat belajar Denias dan teman-temandidorong oleh orang-orang pendatang dari Jawa. Pembuat film memasukkanideologi modernisme, sebagai upaya menyetarakan peradaban Papua denganJawa.c. Pada sosok Denias, anak pedalaman Papua direpresentasikan sebagai pribadiyang nasionalis. Bentuk kecintaannya pada negara ditonjolkan lewatpenghormatan terhadap wilayah Indonesia, seragam sekolah merah-putih,lagu Indonesia Raya, dan upacara bendera. Dengan representasi ini, pembuatfilm mengambil jalan aman, yakni menghilangkan konflik sosial politik diPapua, dan meletakkan nasionalisme sebagai ideologi dominan. Untukmematenkan Papua sebagai wilayah yang tak terpisah dari Negara KesatuanRepublik Indonesia.d. Keseharian hidup anak-anak pedalaman Papua digambarkan tidak lepas dariperan militer. Film merepresentasikan anak-anak pedalaman Papua yangberteman baik dengan TNI-AD yang bertugas di wilayahnya. Keakraban diantara mereka membentuk pencitraan positif militer di Papua. Maka dalamrepresentasi ini terdapat ideologi militerisme, yang mana penontonmenangkap makna bahwa militer adalah pengayom rakyat Papua, berdedikasitinggi untuk misi sosial, antara lain mengusahakan pendidikan yang layakbagi anak-anak pedalaman Papua.DAFTAR PUSTAKABillig, Michael. 2002. Banal Nationalism. London: SAGE Publications.Croteau, David dan William Hoynes. 2000. Media Society: Industries, Images andAudiences. Thousand Oaks: Pine Forge Press.Danesi, Marcel. 2010. Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra.Effendy, Heru. 2008. Industri Perfilman Indonesia: Sebuah Kajian. Jakarta:Erlangga.Fiske, John. 2001. Television Culture. New York: Routledge.Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representations and SignifyingPractices. London: SAGE Publications.Wayne, Mike (ed.). 2005. Understanding Film: Marxist Perspectives. London:Pluto Press.Sumber internet:Veronique. 2008. Problem Representasi dalam Film “Denias, Senandung di AtasAwan”. Dalam http://pravdakino.multiply.com/journal/item/24?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem. Diakses pada 4 Juli 2012.
Political Rhetoric of Jokowi and Prabowo in the 2019 Presidential Election: A Semiotic Analysis of Tempo Magazine Covers Triyono Lukmantoro; Hasfi, Nurul; Tandiyo Pradekso; Sandy Allifiansyah
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 10 No. 1 (2025): June 2025 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v10i1.1033

Abstract

Tempo magazine's covers depicting the political battle between Jokowi and Prabowo in the context of the 2019 Presidential Election are worth examining. Not only because in 2019, Jokowi and Prabowo met as rivals who defeated each other for the second time after the 2014 Presidential Election. Using semiotic analysis and media agenda setting theory, this study aims to identify the connotational aspects of the figures of Jokowi and Prabowo in the context of the 2019 Presidential Election on various covers of Tempo magazine. This research highlights the importance of the agenda setting process carried out by the Tempo Magazine Editor in determining the cover of Tempo Magazine in the context of the 2019 presidential election in Indonesia. This study finds that Tempo Magazine’s covers show no bias toward any presidential candidate, positioning Tempo as a neutral observer of the candidates' political behavior. The covers depict a balance of power leading to societal polarization and support divisions. Moreover, the agenda media discourse shows, instead of building opposition, it suggests a political coalition, reflecting the political communication character of Jokowi administration.
Co-Authors Ade Ayu Kartika Sari Rezki Adi Nugroho Aditya Gilang Gifari Agus Naryoso Agus Toto Widyatmoko Amalia Ayu Wulansari Arfianto Adi Nugroho Ayu Pramudhita Noorkartika Bayu Hastinoto Prawirodigdo Beta Fiftina Aryani Candra Sateria Choirul Ulil Albab Citra Luckyta Lentera Gulita Daeng Lanta Mutiara Rato R Dian Kurniati Diandini Nata Pertiwi Djoko Setyabudi Dwinda Harditya Fathimatul Muyassaroh Febryana Dewi Nilasari Fitriana Nur Indah S Frans Agung Prabowo Fransiscus Anton Saputro Frieda Isyana Putri Galih Arum Sri Gelar Mukti Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S Hedi Pudjo Santosa Herusna Yoda Sumbara Ika Adelia Iswari Ima Putri Siti Sekarini Intan Murni Handayani Joyo NS Gono Kevin Devanda Sudjarwo Leidena Sekar Negari Lintang Ratri Rahmiaji M Bayu Widagdo M Rofiuddin Marliana Nurjayanti Nasoetion Meivita Ika Nursanti Much Yulianto Much. Yulianto Muhammad Rofiuddin Nailah Fitri Zulfan Niki Hapsari Fatimah Nilna Rifda Kholisha Novelia Irawan S Nur Fajriani Falah Nurhanatiyas Mahardika Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Pandu Hidayat Primada Qurrota Ayun Putri Ramadhini R. Sigit Pandhu Kusumawardana Ria Rahmawati Rifqi Aditya Utama Rika Futri Adelia Rizki Kurnia Yuniasti Salsabila, Unik Hanifah Sandy Allifiansyah Shafira Indah Muthia Sholakhiyyatul Khizana Sri Budi Lestari Sunarto Sunarto Syarifa Larasati Tandiyo Pradekso Tandiyo Pradekso Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Titiek Hendriama Tri Yoga Adibtya Tama Triliana Kurniasari Turnomo Rahardjo Veramitha Indriyani Williams Wijaya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yoga M Pamungkas Yoga Yuniadi Zefa Alinda Fitria