Claim Missing Document
Check
Articles

PEMAKNAAN MASYARAKAT BELITUNG TERHADAP MARGINALISASI KELOMPOK DAN MOTIVASI DALAM FILM LASKAR PELANGI Putri Ramadhini; Sri Budi Lestari; Wiwid Noor Rakhmad; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.719 KB)

Abstract

Phenomenal movie titled Laskar Pelangi represent group discrepancy occur in Belitong. Interpretation of Belitong’s citizen toward group marginalization and motivation that happen in Belitong potrayed in Laskar Pelangi to be background of this research. The problem that arises is movie has many multiple interpretations message that could be interpreted by audience in asymmetric way. Audience within Belitong Island have their own mindset to interpret Laskar Pelangi, accompanied their straight experience because the movie has background as it main story in Belitung. The purpose of this research to discribe the interpretation of Belitong’s citizens about marginalization symptom that newcomer group did toward local group, and motivation as represented in Laskar Pelangi movie. This reserarch uses theory of social stratifications, theory of active audience, and theory of audience interpretation with reception analyze methods. Object of research is Belitong’s local citizens that watched Laskar Pelangi movie. The result is show audience capability to identify group marginalization potrayed in many scene such as the comparison between students PN Timah primary school with Muhammadiyah primary school. Discrepancy also seen from the difference of look, tools and infrastucture of school, activities during holiday and their job. Boundary areas between groups be marked on guardrail with disallowance to enter specific area. Informants have different interpretation and interpret movie based on mindset that being affected b y their own background. Based on the decoding-encoding audience theory of Stuart Hall, informants grouped in Dominant-Hegemonic Position, Negotiated Position and Oppositional Position.Informant at Dominant-Hegemonic position accept the meaning as it contained in the film about group marginalization and motivation recognized by the informant indeed found in the real life. Informant at Negotiated position generally accept the meaning as it defined and signed but deny some inappropriate aspect because being represented excessively and unsuitable according Belitongs conditions are better than before. Informant at Opppositional position measure scenes in the film were too excessive and only intended to make the story being more attractive, even considered disfigure the condition of Belitong’s society that couldn’t found in the real life.
Kuis Kebangsaan sebagai Propaganda Politik Novelia Irawan S; Much. Yulianto; Triyono Lukmantoro; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.173 KB)

Abstract

Propaganda dapat berarti menyampaikan pesan yang benar atau pun yang menyesatkan, dimana umumnya isi propaganda hanya menyampaikan fakta-faktapilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu untuk mengubah pemikiran kognitif kelompok sasaran untuk kepentingan tertentu. Propaganda diatur melalui simbol-simbol signifikan. Program acara Kuis Kebangsaan ini merupakan salahsatu bentuk nyata propaganda melalui simbol-simbol, dengan menampilkan simbol-simbol yang barkaitan dengan pasangan calon presiden dan wakil presiden dari Partai Hanura, yaitu Wiranto dan Hary Tanoesudibjo.Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan propaganda politik yang digunakan dalam program Kuis Kebangsaan pada stasiun RCTI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika model John Fiskemelalui tahapan analisis sintagmatik dan paradigmatik dengan tiga level, yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi. Strategi propaganda program acara kuis ini adalah dengan menggunakan topeng pendidikan. Dalam program acara mencantumkan simbol-simbol WIN-HT pada dekorasi, editing, dan password. Narasumber yang hadir pun juga merupakan calon legislatif Partai Hanura. Setiap warna yang digunakan selalu diusahakan berkaitan dengan Hanura, yaitu kuning. Program acara ini juga menunjukkan propaganda secara ideologi. Pertama populisme, yaitu usaha-usaha dari pemimpin untuk “merakyat” melalui penggambaran sosok Wiranto dan Hary Tanoesudibjo yang terkesan nasionalis dan herois. Kedua dumbing down melalui penanyangan kuis pendidikan yang dikemas sebagai edutainment. Terakhir adalah demokrasi media. Dengan adanya kapitalisme media, maka pemilik media yang ikut dalam politik, dapat dengan mudah mengendalikan sisi politik melalui medianya. Berbagai teknik propaganda pun telah diterapkan dalam Kuis Kebangsaan.Propaganda politik yang ada di program acara Kuis Kebangsaan adalah propaganda yang tersusun dengan baik. Namun propaganda ini gagal dengan adanya sikap yang sudah ada dan tren sosial di masyarakat. Kata kunci : propaganda, politik, kuis
CYBER CATHARSIS PADA BLOG RADITYA DIKA Zefa Alinda Fitria; Triyono Lukmantoro; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.444 KB)

Abstract

CYBER CATHARSIS PADA BLOG RADITYA DIKAAbstractBlog, is one form of social media that is most commonly used and is ableto attract users who are so great. Even in its use, blogs have their own designationfor active users to update the text and then imprinted on the pages in the blog.Users are referred to the creation of this blogger ideas and ideas without beingbound by standard rules of writing and theme writing. In fact, not infrequentlyuser blog pages online diary filled with the experience of a personal experiencethat has unique style. This is partly demonstrated by the blogger whose name isknown through the writings in the blog address www.radityadika.com. As aliterary figure, Raditya Dika unsparing report various life experiences, from thingsthat are fun, sad, embarrassing, even though personal stories. All of thisexperience shows how important social media can facilitate the psychologicalaspect of a person as a place to share and pour emotion is referred to as acatharsis. In contrast to the interpersonal communication that exists with thespeaker, virtual communication with the media writing can accommodate all userswithout the need to feel the burden of anxiety disordered communication .This study aims to describe the writings Raditya Dika cyber ladencatharsis. The researcher used a qualitative approach with semiotic analysismethods to see how Raditya Dika construct experiences through reality, whichcan then be interpreted by readers that content catharsis, but has a distinctivewriting style like in the analysis of literary works. To that end, this studysupported the use of the theory of media (Media Equation Theory) and the theoryof human personality (Psychoanalytic theory) .The results showed that absurd style Raditya Dika used in constructing theexperience in ways unique, such as the delivery of messages is hyperbolic, poetic,and have an element of comedy in its delivery. However, with Raditya Dikaabsurd style in constructing experiences, researchers assessed it be an attraction togive a lesson on the importance of creativity in the frame of mind and dare to be„different‟ in creating a work, particularly in the field of writing.Keywords : Blog, Catharsis, Raditya Dika, Construction, EmotionCYBER CATHARSIS PADA BLOG RADITYA DIKAAbstrakBlog, merupakan salah satu bentuk media sosial yang paling umumdigunakan dan mampu menjaring penggunanya yang begitu besar. Bahkan dalampenggunaannya, blog memiliki sebutan sendiri bagi penggunanya yang aktifmeng-update tulisan yang kemudian dicantumkan pada halam blog. Penggunayang disebut blogger ini dapat mengkreasikan ide-ide dan gagasan tanpa terikatoleh aturan baku penulisan dan tema tulisan. Bahkan tak jarang pengguna blogyang mengisi halaman diary online dengan pengalaman pengalaman pribadi yangmempunyai corak keunikan tersendiri. Hal ini salah satunya ditunjukkan olehblogger yang namanya dikenal melalui karya tulisan dalam alamat blogwww.radityadika.com. Sebagai sosok penulis, Raditya Dika tak tanggungtanggungmenceritakan berbagai pengalaman hidup, dari mulai hal-hal yangmenyenangkan, menyedihkan, memalukan, bahkan kisah pribadi sekalipun.Kesemua pengalaman ini menunjukkan betapa pentingnya media sosial yangdapat memfasilitasi aspek psikologis seseorang sebagai tempat untuk berbagi danmencurahkan emosi yang disebut dengan istilah katarsis (catharsis). Berbedadengan komunikasi yang terjalin antarpribadi dengan lawan bicara, komunikasivirtual dengan media penulisan dapat menampung semua beban penggunanyatanpa perlu merasakan ganggunan kecemasan berkomunikasi.Penelitian ini, bertujuan mendeskripsikan karya tulisan Raditya Dika yangbermuatan cyber catharsis. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif denganmetode analisis semiotika untuk melihat bagaimana Raditya Dikamengkonstruksikan pengalaman-pengalaman melalui realitas, yang kemudiandapat dimaknai oleh pembaca sebagai tulisan yang bermuatan catharsis, namunmemiliki gaya penulisan tersendiri seperti layaknya analisis dalam karya sastra.Untuk itu, penelitian ini didukung dengan penggunaan teori teori media (MediaEquation Theory) dan teori kepribadian manusia (Psychoanalytic Theory).Hasil penelitian menunjukkan gaya absurd yang digunakan Raditya Dikadalam mengkonstruksikan pengalaman dengan cara-cara unik, sepertipenyampaian pesan secara hiperbolis, puitis, dan memiliki unsur komedi dalampenyampaiannya. Namun dengan gaya absurd Raditya Dika dalammengkonstruksikan pengalamannya, justru dinilai peneliti menjadi daya tarikuntuk memberikan pelajaran akan pentingnya kreativitas dalam kerangka berpikirdan berani menjadi „berbeda‟ dalam mencipta suatu karya, khususnya di bidangpenulisan.Kata kunci : Blog, Katarsis, Raditya Dika, Konstruksi, Emosi1.1 Latar BelakangBerbagai tulisan dalam buku-buku karya penulis yang akrab dipanggilRadith ini sebagian besar isinya merupakan cuplikan dari blog pribadi miliknyadengan alamat web www.kambingjantan.com. Blog yang saat ini telah bergantinama menjadi www.radityadika.com ini banyak mengulas kehidupan pribadiseorang Raditya Dika dari berbagai sisi mengenai problematika yang terjadidalam kesehariannya. Problematika yang terjadi dalam kehidupan seseorang jikatidak disikapi secara bijak dan dikelola secara benar akan menimbulkan dampakyang merugikan bagi diri sendiri maupun lingkungan. Permasalahan yang dialamioleh individu sebagai suatu kondisi yang tidak menyenangkan dapat mengganggukondisi psikis atau mental maupun fisik. Hingga pada akhirnya pada suatu kondisiseseorang dapat secara tidak sadar mengeluarkan emosi secara berlebihan dengancara-cara yang destruktif. Pengeluaran emosi dalam bentuk yang destruktif dapatterjadi pada setiap orang jika tidak ada penyaluran yang tepat untuk menetralisirmunculnya efek negatif dari emosi.Sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk hidup bersama denganyang lain, manusia dibekali dengan daya nalar dan perasaan atau emosi. Keduahal ini merupakan aspek yang mendukung komunikasi antarmanusia melaluiinteraksi dan sosialisasi. Dengan daya nalar, manusia akan terikat oleh kebutuhaninformasi dari orang lain. Sedangkan menggunakan perasaan dan emosinya,manusia akan terikat oleh kebutuhan untuk berbagi dan mengutarakan keinginankeinginannya.Untuk memenuhi setiap kebutuhan ini diperlukan komunikasi.Komunikasi mampu menjembatani pikiran, perkataan, dan perbuatan denganmenggunakan bahasa dari masing-masing pihak yang berkomunikasi (Liliweri,1997 : 64).Berdasarkan fungsi interaksi dan komunikasi inilah manusia terikatdengan manusia lainnya untuk dapat berbagi, baik untuk menyampaikan ide-ide,gagasan, dan keinginan masing-masing pihak. Melalui proses pengiriman danpenerimaan pesan, sebuah hubungan interaksional akan terjalin dari pihak-pihakyang terlibat di dalamnya. Pesan yang disampaikan oleh komunikator (pengirimpesan) harus dapat dimengerti oleh komunikan (penerima pesan) agar timbulkesamaan makna sehingga akan terbentuk komunikasi yang efektif. Namunseringkali proses pengiriman pesan ini terkendala pada pihak yang menyampaikanpesan itu sendiri. Menurut James Mc Croskey, pada dasarnya setiap orang pernahmengalami kecemasan dalam berkomunikasi (communication anxiety).Kecemasan berkomunikasi merupakan kecenderungan untuk mengalamikecemasan secara berlebihan dalam waktu yang relatif lama dan dalam berbagaisituasi yang berbeda (Morissan dan Wardhany, 2009 : 50 - 51). Untuk metralisirkecemasan tersebut, dibutuhkan suatu cara yang disebu dengam katarsis(catharsis). Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melakukan katarsis,sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan seseorang sebagai reaksiketidakmampuan menghadapi suatu permasalahan dan tidak dapat keluar darimasalah tersebut. Salah satunya dengan menuliskan pengalaman pribadi dalammedia sosial blogging sebagai sarana pelampiasan perasaan.1.2 PermasalahanFenomena yang disebut oleh anak muda sebagai fenomena nge-blog inisemakin berkembang setelah kemunculan tulisan-tulisan karya Raditya Dika yangsecara terbuka menjadikan media blogging sebagai tempat berbagi menceritakanseluruh pengalaman hidupnya. Tidak terlepas dari sifat dasar manusia yang inginselalu berbagi untuk menyumbangkan gagasan dan perasaannya, setiap orangmembutuhkan sosok „pendengar‟ untuk berbagai hal. Terlebih lagi untuk hal-halyang berkaitan erat dengan perasaan dan emosi manusia yang membutuhkanruang untuk penyalurannya. Namun terkadang seseorang terhalang oleh adanyakecemasan dalam komunikasi, seperti yang terjadi dalam komunikasiinterpersonal. Untuk itulan, peneliti peneliti ingin melihat bagaimana cara RadityaDika mengkomunikasikan pengalaman hidupnya yang mengecewakan melaluicara katarsis sebagai sarana alternatif pelampiasan kecemasan berkomunikasi.1.3 Tujuan PenelitianTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karya tulisan padablog Raditya Dika yang mencerminkan bentuk katarsis online (cyber catharsis)atau pelampiasan perasaan melalui sosial media.1.4 Kerangka TeoretisPenelitian ini menggunakan teori Kepribadian Psikoanalisis dan teori EkuasiMedia.1.5 Metoda PenelitianPenelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif deskripstif dengan paradigmakonstruktivistik. Dalam hal ini, pengalaman hidup Raditya Dika sebagai hasilkonstruksi sosial dapat dimaknai sebagai teks yang bermuatan katarsis.Pemaknaan atas teks dilakukan dengan menggunakan analisis semiotika JuliaKristeva, yang memfokuskan kajian bahasa sebagai salah satu bentuk karya sastrayang melekat makna-makna tersembunyi di dalamnya. Namun untukmenganalisis makna dalam teks karya sastra, lebih lanjut dapat dilakukanpembacaan makna secara subyektif yang mengedepankan peran aktif pembacadengan berbagai pengalaman psikologis dan pengalaman membaca sebelumya.Berdasarkan hal inilah, Michael Riffaterre memperkenalkan tahapan pembacaanteks dalam karya sastra melalui empat hal, yakni : Ketidaklangsungan ekspresi,pembacaan heuristik dan hermeneutik, matriks dan varian, serta hubunganintertekstualitas.1.6 Temuan PenelitianPenelitian ini dilakukan dengan pembacaan teks pada blog Raditya Dikayang bermuatan cyber catharsis terhadap dua postingan yang berjudul “PahitManis Cinta Adalah...” dan “Hal-hal yang Gue Pikirin Pas Lagi Laper dan GueBingung Kenapa Juga Gue Pikirin...”. Kedua postingan ini dapat dilakukanpembacaan makna dengan dua hahap, yakni tahap pertama (heuristik) dan tahapkedua (hermeneutik). Pembacaan tahap pertama (heuristik) dilakukan dengan caramembubuhkan tambahan kata yang diberi tanda kurung untuk lebihmempermudah memahami maksud kalimat yang dicantumkan pada halaman blog.Kemudian tahap kedua dilakukan dengan membaca teks padakalimat secara penuhuntuk lebih memahami maksud kalimat yang mengandung makna konotasi ataumakna kias.Postingan “Pahit Manis Cinta Adalah...” dapat digolongkan ke dalam tekskarya sastra berbentuk puisi yang hampir semua kalimat dalam bait menggunakangaya bahasa, seperti metafora, personifikasi, elipsis, dan lain sebagainya.Postingan ini berisi kegelisahan atau kekecewaan Raditya Dika terhadap kisahpercintaan yang pernah dialami di masa lalu. Kemudian postingan “Hal-hal yangGue Pikirin Pas Lagi Laper dan Gue Bingung Kenapa Juga Gue Pikirin...”berbentuk prosa komedi. Postingan ini berisi kegelisahan Raditya Dika terhadaphal-hal sepele yang dialami saat sedang merasakan lapar maupun saat makan danhal-hal absurd yang dipikirkan Raditya Dika berkaitan dengan rasa lapar.1.7 Hasil PenelitianKedua postingan Raditya Dika yang berjudul “Pahit Manis Cinta Adalah...”dan “Hal-hal yang Gue Pikirin Pas Lagi Laper dan Gue Bingung Kenapa JugaGue Pikirin...” dikonstruksikan mengandung muatan katarsis berdasarkan asumsidari teori kepribadian Psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud.Postingan tersebut dipandang sebagai ungkapan perasaan Raditya Dika mengenaikejadian yang tidak menyenangkan, baik berupa kekecewaan, kekesalan, ataukebingungan terhadap kejadian yang dialami. Ditinjau dari struktur kepribadianmanusia, terdapat aspek bawah sadar sebagai tempat menyimpan memori-memoridan transferensi-transferensi dari kejadian masa lalu. Kesemua hal-hal negatifyang tersimpan dalam bawah sadar ini harus dikeluarkan agar tidak menimbun dialam bawah sadar dan keluar dalam kesadaran dalam bentuk yang destruktif(meusak). Apa yang menjadi dasar kegelisahan ini dikarenakan manusiamempunyai keinginan (id) yang berisi seluruh hawa nafsu dan keinginankeinginan.Namun terkadang Id ini berjalan tidak sesuai dengan konsep realitas(ego). Oleh karena itu, dibutuhkan cara untuk melampiaskan seluruh energinegatif yang tersimpan dalam alam bawah sadar agar muncul dalam kesadarandalam bentuk konstruktif. Cara ini disebut dengan mekanisme pertahanan ego.Wujud katarsis dilakukan dengan mekanisme pertahanan ego, yakni sublimasi.Sublimasi merupakan suatu cara untuk melampiaskan perasaan yang dilakukandengan cara-cara positif seperti menghasilkan suatu karya. Hal inilah yangdilakukan Raditya Dika unutk menyalurkan perasaannya melalui media penulisanonline blog sebagai media untuk menampung segala jenis gagasan dan perasaanpengunanya. Kemudian apa yang ditampilkan dalam media sosial blog tersebutdapat menjadi konsumsi khalayak, bahkan menjadi sebuah karya yang menghiburseperti layaknya tulisan yang dimuat dalam website atau blogwww.radityadika.com.1.8 KesimpulanPengalaman hidup Raditya Dika yang dituangkan dalam blog dikonstruksikansebagai tulisan bermuatan cyber catharsis. Peneliti meerubrikasi tulisan RadityaDika ke dalam bentuk karya sastra dengan menggunakan analisis bahasa sebagaialat untuk berkomunikasi dan mengungkapkan gagasan-gagasan yang tersimpandalam alam bawah sadar. Teks yang memuat bahasa karya sastra ini kemudiandicari maknanya dengan menggunakan analisis semiotika Riffaterre. Bahasabahasayang bersifat konotatif ini menyimpan makna tersendiri dari sistem bawahsadar manusia.Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa blog dapat dijadikan sarana untukpelampiasan perasaan yang mampu mengatasi kecemasan berkomunikasi danmampu menampung segala hal yang disampaikan penggunanya secara terbuka.DAFTAR PUSTAKABuku :Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. (2008). Psikologi Remaja :Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : PT. Bumi Aksara.Aminuddin. (1991). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : C. V. SinarBaru.Atmazaki. (1993). Analisis Sajak : Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Bandung :Angkasa.Bocock, Robert. (2002). Sigmund Freud. London : Routledge.Bateman, Anthony and Jeremy Holmes. Introduction to Psychoanalysis :Contemporary Theory and Practice. London : Routledge.Berger, Arthur Asa. (1991). Media Analysis Techniques. California : SAGEPublications.Berger, Peter L. and Thomas Luckmann. 1966. The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge. New York : SAGE Publication,Inc.Bertens, Kees. (1980). Memperkenalkan Psikoanalisa Sigmund Freud . Jakarta :PT. Gramedia. [Eds.] Freud, Sigmund. (1980). Ueber Psychoanalyse, FunfVorlesungen. London : Imago Publishing.Bungin, Burhan. (2007). Imaji Media Massa : Konstruksi Sosial Iklan Televisidalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta : Jendela.Bungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, KebijakanPublik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta : Kencana.Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. (2010). Sosiolinguistik Perkenalan Awal.Jakarta : Rineka Cipta.Chaplin, J. P. (2011). Dictionary of Psychology. New York : Dell Publishing, Inc.Chun, Wendy Hui Kyong and Thomas Keenan. (2006). New Media Old Media : AHistory and Theory Reader. New York : Routledge.Corbetta, Piergiorgio. (2003). Social Research : Theory, Methods, andTechniques. London : SAGE Publications.Danesi, Marcel. (2010). Pengantar Memahami Semiotika Media. Terj.A.Gunawan Admiranto. Yogyakarta : Jalasutra.Denzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln. (1994). Handbook of QualitaiveResearch. London : SAGE Publications.Dominick, Joseph R. The Dynamics of Mass Communication. America : McGrawHill.Fachri, Hisyam A. (2010). Tarot Psikologi : Menemukan Jati Diri, Konseling, danHipnosis Terapan.. Jakarta : Gagas Media.Fiske, John. (2011). Cultural and Communication Studies : Sebuah PengantarPaling Komprehensif. Terj. Yosal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim.Yogyakarta : Jalasutra.Friedman, Howard S. dan Miriam W. Schutack. (2008). Kepribadian : TeoriKlasik dan Riset Modern. Terj. Dina Mardiana. Jakarta : Erlangga.Gerungan, W. A. (2004). Psikologi Sosial. Bandung : Refika Aditama.Hall, Calvin S, Gardner Linsey, John B. Compbell. (1993). Teori-teoriPsikodinamik (Klinis) : Psikologi Kepribadian. Terj. Yustinus Semiun.Yogyakarta : Kanisius.Hall, Stuart, Dorothy Hobson, dkk. [ed]. (2011). Budaya Media Bahasa. Terj.Saleh Rahmana. Yogyakarta : Jalasutra.Heller, Sharon. (2005). Freud A to Z. Canada : John Wiley & Sons, Inc.Irwanto. (2002). Psikologi Umum. Jakarta : PT. Prenhallindo.Kothari, C. R. (2004). Methodology : Methods and Techniques (Second RevisedEdition). New Delhi : New Age International Publishers.Liliweri, Alo. (1997). Komunikasi Antar Pribadi. Bandung : PT. Citra AdityaBakti.Littlejohn, Stephen W. and Karen A. Foss. 2009. Encyclopedia of CommunicationTheory. California: SAGE Publication, Inc.Maslow, Abraham H. (1994). Motivasi dan Kepribadian 2. Terj. Nurul Imam.Jakarta : PT. Pustaka Binaman Pressindo.McQuail, Denis. (1987). Teori Komunikasi Massa. Terj. Agus Dharma danAminuddin Ram. Jakarta : Erlangga.Morissan dan Andy Corry Wardhani. (2009). Teori Komunikasi : Komunikator,Pesan, Percakapan, dan Hubungan. Jakarta : Ghalia Indonesia.Morreall, John. (2009). Comic Relief : A Comprehensive Philosophy of Humour.UK : John Wiley & Sons, Ltd.Nurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : Rajawali Pers.Piliang, Yasraf Amir. (1998). Sebuah Dunia yang Dilipat : Realitas KebudayaanMenjelag Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. Bandung : MizanPustaka.Rakhmat, Jalaluddin. (2011). Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. RemajaRosdakarya.Rybacki, Karyn C. and Rynacki Donald C. (1990). Communication Critism :Approaches and Genre. United State : Wadsworth Pub Company.Sobur, Alex. (2006). Semiotika Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.Shoemaker, Pamela J. And Stephen D. Reese. (1991). Mediating the Message :Theories of Influences on Mass Media Content. New York : Longman.Sujanto, Agus, Halem Lubis, Taufik Hadi. (1984). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Aksara Baru.Suryabrata, Sumaji. (2003). Psikologi Kepribadian. Jakarta : PT. Raja GrafindoPersada.Thwaites, Tony, Lyod Davis, Warwick Mules. (2009). Introducing Cultural andMedia Studies : Sebuah Pendekatan Semiotik. Terj. Ikramullah Mahyiddin.Yogyakarta : Jalasutra.Waluyo, Herman J. (2002). Apresiasi Puisi. Jakarta : Gramedia.Wade, Carole dan Carol Tavris. (2008). Psikologi. Terj. Benedictine Widyasintadan Darma Juwono. Jakarta : Erlangga.West, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi :Analisis dan Aplikasi. Terj. Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta : PT.Salemba Humanika.Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan. (2007). Teori Kepribadian. Bandung :PT. Remaja Rosdakarya.Zoest, Aart Van. (1993). Semiotika : Tentang Tanda, Cara Kerjanya, dan Apayang Kita Lakukan Dengannya. Terj. Ani Soekowati. Jakarta : YayasanSumber Agung.Jurnal :Powell, Esta. 2007. Catharsis in Psychology and Beyond : A Historic Overview.Washington DC : Author.Tesis :Wulandari, Diah. (2010). Analisis Framing : Konstruksi Pemberitaan Politik Ber-Isu Gender. Tesis. Universitas Diponegoro.Artikel :Noguchi, Yuki. (2005). Cyber-Catharsis : Bloggers Use Web Sites as Therapy.http://www.washingtonpost.com/wpdyn/content/article/2005/10/11/AR2005101101781.html. Diakses pada 20Juli 2013.Internet :Anonim. (2013). Kata-kata Mutiara Cinta Terbaik Kahlil Gibran.http://statuzgue.blogspot.com/2013/03/kata-kata-mutiara-cinta-kahlilgibran.html. Diakses 14 Oktober 2013.Anonim. (2013). Pengertian RSS Feed dan Kegunaan.http://prowebpro.com/articles/ pengertian rss feed dan kegunaan html.Diakses pada 2 November 2012.Darwati, Yuli. (2013). Dinamika Kepribadian Menurut Sigmund Freud.http://www.slideshare.net/elmakrufi/dinamika-kepribadian-sigmund-freud.Diakses pada 10 November 2013.Dika, Raditya. Ini Dia Cara Standup Comedian Menemukan Bahan Komedi.http://radityadika.com/ini-dia-cara-standup-comedian-menemukan-bahankomedi,Diakses pada 24 Oktober.Fajar. (2012). Biografi Raditya Dika - Penulis Muda Indonesia. http://kolombiografi.blogspot.com/2012/02/biografi-raditya-dika.html. Diakses pada 18November 2013.Hary, Eka. (2011). Pengertian Blog dan Mengenal Sejarah Blog.http://www.ekahary.com/pengertian-blog-dan-mengenal-sejarah-blog.Diakses pada 25 September 2013.Isharyanto. (2013). Perempuan Dilarang Melucu : Beberapa Makna Humor.http://hiburan.kompasiana.com/humor/2013/05/10/perempuan-dilarangmelucu-beberapa-makna-humor-558883.html. Diakses pada 28 Juli 2013.Ismono, Henry. (2009). Raditya Dika : Semua Berawal dari Kesuksesan "Ngeblog".http://entertainment.kompas.com/read/2009/01/07/10305623/Raditya.Dika.Semua.Berawal.dari.Kesuksesan.Ngeblog. Diakses pada18 November 2013.Janiar, Nia. (2010). Menulislah dan Jangan Bunuh Diri.http://ruangpsikologi.com/menulislah-dan-jangan-bunuh-diri. Diakses pada13 September 2013.Kresna, Arya. (2010). Menatap Kelucuan : Menelaah Opera Van Java.http://aryaningaryakresna.blogspot.com/2010/04/menatap-kelucuanmenelaah-opera-van.html. Diakses pada 18 November 2013.Purwanti, Tenni. (2011). Hari Blogger Nasional, Sejarah dan Perkembangannya.http://tekno.kompas.com/read/2011/10/27/18033547/Hari.Blogger.Nasional.Sejarah.dan.Perkembangannya. Diakses pada 18 November 2013.Rivera, Ryan. “Tanpa tahun”. How Anxiety Can Impair Communication.http://www.calmclinic.com/anxiety/impairs-communication. Diakses pada 2Mei 2013.Tasmil. (2010). Blog Sebagai Media Kampanye Politik.http://tasmil.blogspot.com/2010/03/my-history.html. Diakses pada 27September 2013.Website :www.alexa.comwww.benablog.comwww.blog.bukukita.comwww.poconggg.comwww.radityadika.com
REPRESENTASI NASIONALISME WARGA PERBATASAN KALIMANTAN BARAT DALAM FILM (Analisis Semiotika pada Film Tanah Surga...Katanya) Febryana Dewi Nilasari; Taufik Suprihatini; Triyono Lukmantoro; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.258 KB)

Abstract

Film bertema nasionalisme dianggap memiliki daya tarik tersendiri. Berbeda dengan film lainnya yang memiliki tema drama dan mengangkat fenomena kehidupan sehari-hari, film yang bertema nasionalisme sangat dipengaruhi oleh faktor sosial politik yang ada di Indonesia. Pada film Tanah Surga... Katanya memperlihatkan secara gamblang kondisi keterpurukan dan kekalahan Indonesia dari negara tetangga (Malaysia) dalam  hal mensejahterakan rakyatnya. Film ini bercerita tentang sudut pandang lain dari semangat nasionalisme bangsa Indonesia yaitu bagaimana perjuangan warga perbatasan Kalimantan Barat untuk mempertahankan semangat nasionalismenya di tengah kehidupan yang serba terbatas di daerah perbatasan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi nasionalisme warga perbatasan Kalimantan Barat dalam film Tanah Surga... Katanya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori representasi Stuart Hall dalam paradigma konstruktivis. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika John Fiske “the code of television” yang memasukkan kode-kode sosial ke dalam tiga level yakni level realitas, level representasi dan level ideologi.Hasil penelitian menunjukkan pada level realitas film ini menunjukkan realitas kesenjangan yang terjadi di perbatasan Kalimantan Barat dan perbatasan Malaysia (Sarawak). Perbatasan Kalimantan digambarkan miskin (tradisional) sedangkan Malaysia digambarkan sejahtera (modern). Pada level representasi film ini menunjukkan visualisasi pesan nasionalisme di tengah keterpurukan warga perbatasan Kalimantan Barat yang disampaikan melalui beberapa aspek teknis. Alur cerita, konflik, dan dialog menceritakan kehidupan Salman dan Kakek Hasyim sebagai tokoh utama yang memiliki jiwa nasionalisme melawan setiap keadaan perbatasan yang menguji rasa nasionalisme. Level ideologis dalam film ini mengungkapkan ideologi nasionalisme warga perbatasan Kalimantan Barat melalui bentuk-bentuk perlawanan atau perjuangan melawan menghadapi keadaan (kemiskinan, keterpencilan, ketidakadilan dalam pembangunan). Bentuk-bentuk nasionalisme warga perbatasan meliputi, nasionalisme pada simbol-simbol negara, nasionalisme dalam mempertahankan kewarganegaraan, nasionalisme dalam kemiskinan, nasionalisme untuk generasi selanjutnya. Kata Kunci : film, nasionalisme, semiotika, perbatasan Kalimantan Barat
Pembuatan Website Berita www.seputarpewarta.com (Reporter & Fotografer ) Nur Fajriani Falah; M Rofiuddin; Triyono Lukmantoro; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.56 KB)

Abstract

Memasuki era media baru, konsumen media cenderung mencari berita yangterfokus pada apa yang mereka butuhkan. Begitu pula dalam sebuah lembagaorganisasi, berbagai website resmi disediakan untuk mengakses berita mengenailembaga tersebut.Menyadari tidak adanya website yang memberitakan mengenai bidangjurnalistik di Semarang, maka dibuatlah website berita www.seputarpewarta.com.Bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang, selama satubulan website ini secara terus menerus memberitakan isu seputar jurnalistik,kegiatan dan profil jurnalis. Penyebaran informasi mengenai website jugadilakukan dengan memanfaatkan media sosial seperti facebook, twitter, danofficial line.Beberapa tugas yang dilaksanakan selama pengerjaan website ini diantaranya adalah reporter, fotografer, editor, dan desainer grafis. Sebagaireporter, tugas yang dilaksanakan yakni melakukan liputan serta menulis naskah,dan sebagai fotografer pengambilan gambar juga dilakukan saat liputan.Sedangkan sebagai editor, yang dilakukan adalah mengedit naskah berita yangtelah ditulis oleh reporter lainnya. Dan sebagai designer grafis kegiatanmenggunggah berita ke website “Seputar Pewarta” kemudian mempromosikannyake media sosial juga dilakukan.Meskipun begitu ada pula beberapa hambatan yang dialami sepertikualitas foto yang diupload, kesalahan dalam penulisan, hingga kesulitan dalampengaturan jadwal wawancara dengan narasumber. Namun, secara keseluruhanhambatan tersebut bisa diatasi.Selanjutnya, dari hasil perhitungan setelah pelaksanan, sebanyak 40 beritatelah diunggah dan meraih total 14.489 pageviews. Hasil tersebut didapat dari tigakonten yang ada pada website “Seputar Pewarta”, yakni konten berita, artikel, dansosok. Meskipun begitu masih terdapat beberapa kekurangan dalam website,seperti kualitas tulisan berita, tampilan website serta publikasi. Hal tersebut perludiperbaiki agar website “Seputar Pewarta” menjadi lebih baik.
STRUKTUR NARASI PADA TAYANGAN STAND UP COMEDY Yoga M Pamungkas; Adi Nugroho; Triyono Lukmantoro; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.425 KB)

Abstract

Stand  Up Comedy, merupakan sebuah wadah bagi beberapa masyarakat untuk menyalurkan pendapat, pikiran, dan kritik terhadap keadaan sekitar yang pada mulanya dianggap tabu kemudian layak untuk diperbincangkan seperti pemerintahan yang buruk, isu sosial, politik, Tuhan, dan SARA (Suku, Agam, Ras, dan Antargolongan). Seseorang yang seringkali melakukan aksi Stand Up Comedy atau disebut dengan comic memegang perang penting dalam memberikan sebuah suguhan yang menarik kepada penonton. Materi Stand Up Comedy yang dibuat oleh comic berangkat dari observasi yang dilakukan untuk kemudian dituangkan ke dalam sebuah materi dengan memiliki struktur yang tersusun sedemikian rupa serta untuk menghasilkan tawa dari penonton. Struktur narasi pada materi Stand Up Comedy pada akhirnya memegang peranan penting bagaimana comic dapat menyampaikan pendapat, pikiran, dan kritiknya tanpa menyakiti hati penonton bahkan bersama-sama menertawakan hal-hal yang seringkali dianggap tabu bahkan sensitif untuk diperbincangkan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur narasi pada tayangan Stand Up Comedy oleh Pandji Pragiwaksono dan Sam D Putra yang ditayangkan oleh Metro TV dan Kompas TV. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalm kajian budaya dan media terkati struktur narasi untuk memahami materi Stand Up Comedy yang dibuat oleh comic. Selain itu, juga menggunakan paradigma naratif, istilah atau pakem yang menjadi acuan dalam dunia Stand Up Comedy yaitu set up dan punchline, serta menggunakan teori humor.Hasil penelitian menunjukkan baik Pandji Pragiwaksono maupun Sam D Putra sama-sama memberikan kritik kepada pemerintahan serta tingkah laku masyarakatnya. Pandji memiliki kemampuan berinteraksi dengan penonton serta menirukan gerakan-gerakan unik dalam menunjang penampilan Stand Up Comedy miliknya. Sedangkan Sammy memiliki kemampuan untuk mengajak penonton sejenak berpikir dari materi yang disampaikan olehnya untuk kemudian menertawakan hal yang sebenarnya sangat-sangat sensitif bahkan tabu untuk diperbincangkan dan sangat berani dalam membeberkan fakta-fakta bahkan berani untuk menyindir dengan menyebutkan nama baik secara langsung maupun tidak langsung. Keduanya memiliki gaya penyampaian yang berbeda untuk menarik perhatian dan tawa namun tetap memberikan pengetahuan dan pendidikan kepada penonontonnya. Kata Kunci: Struktur Narasi, Humor, Paradigma Naratif, Pandji Pragiwaksono, Sam D Putra
Representasi Figur Ustaz/Ustazah pada Iklan Televisi Niki Hapsari Fatimah; Wiwid Noor Rakhmad; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Representasi Figur Ustaz/Ustazah pada Iklan TelevisiABSTRAKFenomena ustaz/ustazah masuk dalam ranah dunia entertaiment di Indonesiatidaklah menjadi hal yang tabu bahkan sudah menjadi trend. Termasuk keikutsertaanustaz/ustazh sebagai endorser untuk produk-produk komersial. Menunjukanbagaimana representasi figur ustaz/ustazah dalam iklan Larutan Penyegar Cap KakiTiga dan provider Telkomsel, peneliti menggunakan konsep yang dikemukakan olehJohn Fiske dalam buku Television Culture, yaitu tentang The Codes of Television.Setelah melakukan analisis sintagmatik pada level reality dan level representation,peneliti kemudian melakukan analisis secara paradigmatik untuk level ideology.Analisis paradigmatik dilakukan untuk mengetahui makna terdalam dari teks iklanLarutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel dengan melihat hubungan eksternalpada suatu tanda dengan tanda lain. Selain itu, analisis paradigmatik juga berfungsiuntuk menunjukkan adanya arti „kedua‟ dan realitas lain yang mungkin bersifatabstrak yang ada di balik gagasan-gagasan yang teridentifikasi dalam analisissintagmatik.Setelah melakukan analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik, makadidapat beberapa temuan penelitian, yaitu adanya eksploitasi simbol-simbolkeislaman, di mana figur ustaz/ustazah di jadikan sebagai komoditas, representasiustaz/ustazah sebagai icon dunia konsumsi, serta mitos di balik representasi figurustaz/ustazah pada iklan televisi. Temuan-temuan penelitian yang didapat olehpeneliti menjelaskan bahwa ustaz/ustazah yang ditampilkan di iklan televisi oleh sipembuat iklan bukan lagi sebagai ustaz seperti yang masyarakat kenal sebagaiseorang suri tauladan, seorang yang berilmu dan nasehatnya dituruti banyak orangatau pun penyambung wahyu Tuhan yang diterima nabi, melainkan sebagai iconkonsumsi dan tidak berbeda dengan endorser-endorser lain dari kalangan bintangfilm, penyanyi, dsb.Kata Kunci: Iklan, Representasi, Simbol-simbol keislaman, Ustaz/ustazah, Semiotika.ABSTRACTThe phenomenon ustaz/ustazah entered in the realm of entertainment world inIndonesia is not a taboo even has become a trend. Including participationustaz/ustazah as endorser of commercial products. Researcher use John Fiske‟s ideain Television Culture, about The Codes of Television to show how ustaz/ustazahfigure representation on Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga and Telkomsel commercialads. After conducted syntagmatic analysis at the level of reality and level ofrepresentation, researcher then conduct a paradigmatic analysis to the level ofideology. Paradigmatic analysis conducted to know meaning of text in LarutanPenyegar Cap Kaki Tiga and Telkomsel commercial ads within looking at eksternalrelation on a symbol with another. Besides, paradigmatic analysis usefull to show thesecond meaning and another reality that may be abstract behind some ideas whichindentified with sintagmatic analysis.After conducting sintagmatic analysis and paradigmatic analysis, then thereare some research finding, that is Islamic symbol exploitation where ustaz/ustazahfigure used as commodity, ustaz/ustazah representation as communication icon, andthe myth behind ustaz/ustazah figure representation on television ads. Researchfindings which obtained explain that exposed ustaz/ustazah on commercial tv ads byadvertiser is not the ustaz whom people know as role models/knowledgeable personwhose their advice obeyed/connector of God‟s revelation which accepeted by theprophet anymore, but as the commercial icon and hasn‟t difference from anotherendorsers fo movie stars, singers, ect.Keywords: Ads (advertising), Representation, Islamic symbols, Ustaz/ustazah,SemioticI. PendaguluanSekarang ini banyak sekali iklan di layar televisi yang menawarkan berbagaimacam produk dengan variasi dan kreativitas bermacam-macam. Pada umumnyaiklan televisi menampilkan model iklan wanita yang cantik, atau jika pria yangditampilkan berparas tampan. Seringkali iklan-iklan televisi menggunakan modeliklan yang dikenal oleh masyarakat seperti bintang film, bintang sinetron, penyanyi,peragawati atau peragawan, musisi, pelawak hingga tokoh ustaz/ustazah yangmerupakan simbol keislaman bagi masyarakat Indonesia. Pengiklan dalam hal iniprodusen memang menganggarkan dana untuk promosi dalam bentuk iklan televisidan sesuai kebutuhan dari produknya masing-masing.Popularitas televisi kemudian membuat televisi tidak lagi dipandang sebagaiseperangkat kotak elektronik yang berkemampuan audio visual, tapi lebih dari itu,televisi merupakan seperangkat media transfer nilai, ideologi serta budaya yang saratakan kepentingan dan perebutan pengaruh/kekuasaan. Popularitas juga dirasakan olehustaz/ustazah di ranah pertelevisian dengan memiliki banyak jamaah pada gilirannyamenyeret tokoh masyarakat tersebut untuk ikut terlibat dalam iklan-iklan produkkomersial. Sayangnya, ustaz/ustazah yang ditampilkan di iklan televisi oleh sipembuat iklan bukan lagi sebagai ustaz seperti yang masyarakat kenal sebagaiseorang suri tauladan, seorang yang berilmu dan nasehatnya dituruti banyak orang,penyambung wahyu Tuhan yang diterima nabi, melainkan sebagai icon konsumsi dantidak berbeda dengan endorser-endorser lain dari kalangan bintang film, penyanyi,dsb.Masyarakat di Indonesia sejatinya mengenal ustaz adalah pemuka masyarakat,karena dianggap sebagai orang yang berilmu dan nasehatnya diturut oleh banyakorang. Masyarakat menetapkan siapa yang bakal menjadi 'ustaz' mereka.Ustaz/ustazah yang merupakan simbol keislaman muncul di layar televesi tidak lagihanya berada di balik mimbar untuk berdakwah, melainkan menjadi endorser iklanproduk-produk yang bersifat komersial, seperti iklan untuk produk helm GM, AXIS,Ekstra Joss, Fresh Care yang dibintangi oleh ustaz Jefri Al Buchori (Uje), iklanLarutan Penyegar Cap Kaki Tiga, “Bintang Toedjoe Masuk Angin” oleh MamahDedeh, serta iklan Telkomsel, oleh ustaz Maulana, dan beberapa iklan produkkomersial lainnya. Kemuculan ustaz/ustazah pada iklan-iklan tersebut bukanlahsebuah kebetulan, melainkan tanda pada media iklan televisi yang bisa dikaji denganperspektif semiotika.Secara teoretis semua teks media termasuk iklan merupakan representasi darirealitas. Namun realitas tersebut bukan realitas yang sesungguhnya, akan tetapirealitas dalam versi si pembuat teks, yakni realitas yang dibentuk oleh pihak-pihakyang terlibat dalam proses mediasi teks. Demikian pun representasi figur paraustaz/ustazah merupakan realitas yang dikemas sesuai kebutuhan si pembuat iklan.Akan banyak arti ‟kedua‟ yang muncul dari tanda berupa representasi ustaz/ustazahyang ada pada iklan Telkomsel versi Ustaz Maulana, serta Larutan Penyegar CapKaki Tiga oleh Mamah Dedeh. Pada penelitian ini, peneliti akan membahas masalahseperti yang telah dirumuskan yaitu, bagaimana figur ustaz/ustazah sebagai simbolkeislaman direpresentasikan pada iklan televisi?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna ‟kedua‟ atau maknakonotatif dari representasi ustaz/ustazah sebagai simbol keislaman di dalam iklantelevisi.II. Kerangka Teori dan Metode Penelitian.Mengungkap makna di balik repesentasi ustaz/ustazah dalam iklan televisiartinya mengkaji tentang tanda. Ilmu tentang tanda yang mampu menemukan maknatersembunyi di balik sebuah teks seperti pada iklan yang melibatkan ustaz/ustazahadalah bidang semiotika. Semiotika adalah cabang ilmu yang berhubungan denganpengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistemtanda dan proses yang berlaku bagi pengguna tanda (Zoest, 1993: 1). Semiotika yangmengulas masalah-masalah, katakanlah, tanda tanpa disengaja dan konotasi dikenaldengan semiotika konotatif. Seperti munculnya figur ustaz/ustazah pada iklan televisitentu saja tidak kemudian diartikan sebagai siar agama seperti halnya ketikaustaz/ustazah tersebut berdiri di balik mimbar. Ada arti „kedua‟ di balik representasiustaz/ustazah sebagai simbol keislamaan.Memaknai representasi melibatkan faktor-faktor yang kompleks. Representasididefinisikan sebagai penggunaan “tanda-tanda” (gambar, suara, dan sebagainya)untuk menampilkan ulang sesuatu yang diserap, diindrakan, dibayangkan, ataudirasakan dalam bentuk fisik. Representasi bergantung pada tanda dan citra yangsudah ada dan dipahami secara kultural, dalam pemahaman bahasa dan penandaanyang bermacam-macam atau sistem tekstual secara timbal balik (Hartley, 2004: 265).Kemunculan Ustaz Maulana dan Mamah Dedeh pada iklan televisi misalnya,merupakan bentuk representasi, yakni mewakili suatu fakta figur ustaz/ustazah yangdikenal masyarakat sebagai pemuka agama. Melalui fungsi tanda „mewakili‟ kitamempelajari realitas.Agama memainkan peranan yang sangat penting di dalam mempertahankanikatan anatara individu dan kelompok yang lebih luas, baik sebagai dasar persekutuanmaupun sebagai sarana untuk mengungkapkan nilai-nilai yang di hayati bersama(Raho, 2013: 77). Ilmu sosiologipun memiliki pendekatan teoritis untuk mempelajariAgama di tengah masyarakat. Sosiolog Prancis Emile Durkheim mengidentifikasisalah satu fungsi utama agama untuk operasi masyarakat, adalah membangun kohesisosial. Agama menyatukan orang melalui simbolisme bersama, nilai-nilai, dan norma.Pemikiran keagamaan dan ritual mendirikan aturan fair play, mengatur kehidupansosial kita.Simbol merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam kehidupanberagama. Hubungan yang suci tidak dapat dilakukan tanpa simbol-simbol. Simbolsimbolkeagamaan tersebut membangkitkan perasaan keterikatan dan kesatuan padaanggota-anggota pemeluk agama yang sama. Memiliki simbol yang sama merupakancara efektif untuk semakin memperkuat rsa persatuan di dalam kelompok pemeluk.Dalam budaya dominan yang telah mapan di masyarakat. Indonesia yangmayoritas beragama islam, ustaz/ustazah sebagai simbol agama merupakan figuryang memiliki pengaruh terhadap pengikutnya. Tokoh agama seperti misalnyaustaz/ustazah adalah figur yang dijadikan panutan dan memiliki pengaruh pada parajamaah, ummat, atau pengikutnya dan dianggap memiliki kharisma. Kharismamerupakan suatu kualitas tertentu dalam kepribadian seseorang dengan mana diadibedakan dari orang biasa dan diperlakukan sebagai seseorang yang memilikanugrah kekuasaan adikodrati, adimunusiawi, atau setidaknya kekuatan/ kualitas yangsangat luar biasa.Ustaz/ustazah di mana istilah tersebut merupakan salah satu status yang ada ditengah masyarakat dan memiliki peranan. Sosiologi menggunakan duaistilah, status dan peran, untuk menggambarkan bentuk dasar interaksi dalammasyarakat (Kimmel & Aronson, 2010: 76). Status Ustaz/ustazah merupakanpencapaian status yang dianggap begitu penting sehingga membayangi, mendominasidan mengendalikan posisi di masyarakat serta menjadi status master.Peran sosial adalah set perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menempatistatus tertentu. Peran sebagai tokoh masyarakat dalam hal ini ustaz/ustazah, tentunyamerupakan representasi dari adanya sifat-sifat tanggung jawab, mampumenyampaikan pesan-pesan agama.Iklan adalah sebuah message, artinya bahwa iklan mengandung suatu sumberyang mengeluarkannya, yaitu perusahaan yang menghasilkan produk yangdiluncurkan dengan semua keunggulannya, suatu titik resepsi-penerimaan, yaitupublik, dan suatu saluran transmisi, yang disebut media (Barthes, 2007: 281).Untuk mengkaji iklan dalam perspektif semiotika, bisa dikaji lewat sistemtanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang, baikyang berupa verbal maupun yang berupa ikon. Iklan juga menggunakan tiruan indeks,terutama dalam iklan radio, televisi, dan film.Menunjukkan bagaimana representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi,peneliti menggunakan konsep yang dikemukakan oleh John Fiske dalam bukuTelevision Culture, yaitu tentang The Codes of Television. John Fiske menyatakanbahwa untuk menganalisis iklan di media televisi dibagi menjadi tiga level, yaitulevel reality, level representation dan level ideology. Pada level reality kode-kodeyang diamati dapat berupa penampilan, pakaian, riasan, lingkungan, gaya bicara, danekspresi. Sedangkan pada level kedua, yaitu representation meliputi kamera,pencahayaan, musik dan suara, penarasian, dialog, karakter, dan pemeranan. Danpada level terakhir, level ideology yaitu berusaha menampilkan kode-kode yangtersembunyi dalam sebuah gambar seperti patriarki, kelas, individu, feminisme danjuga kode-kode di balik representasi figur ustaz/ustazah pada iklan produk komersialdi televisi (Fiske, 2001: 4-5).Tiga level tersebut diurai dalam dua bagian, yakni analisis sitagmatik danparadigmatik. Pada analisis sintagmatik menjelaskan tanda-tanda atau makna-maknayang muncul dalam shot atau adegan dari berbagai aspek teknis yang merujuk padarepresentasi figur ustaz/ustaz pada iklan televisi pada level reality dan levelrepresentation. Level ideology akan diuraikan dengan analisis paradigmatik, dimanaanalisis paradigmatik berusaha mengetahui makna terdalam dari sebuah teks denganmelihat hubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain. Analisisparadigmatic berguna dalam penelitian representasi, dan khususnya untukmemastikan tanda apa yang telah dipilih pada pengeluaran yang lain (Hartley, 2004:221).III. PembahasanAnalisis sintagmatik menguraikan tanda-tanda atau makna-makna yangmuncul dalam shot-shot dan adegan-adegan yang terjalin dari berbagai kombinasiaspek teknis yang merujuk pada representasi figur ustaz/ustazah pada iklan LarutanPenyegar Cap Kaki Tiga yang dibintangi oleh Mamah Dedeh dan juga iklanTelkomsel yang dibintangi oleh Ustaz Maulana. Secara sintagmatik, iklan-iklantersebut akan dianalisis sebatas tanda-tanda yang muncul dari hal-hal teknis produksiiklan.Kode sosial dalam sebuah iklan televisi terlihat jelas dan nyata pada level ini,sehingga pemirsa bisa lebih dekat dengan unsur-unsur yang ada dalam iklan. Sepertisaat pemirsa melihat penampilan yang ditunjukkan oleh para endorser iklan.Penampilan yang ditambah dengan kostum dan riasan yang digunakan dan dipakaioleh para pemain akan memperjelas karakter seseorang dalam sebuah iklan.Lingkungan yang menjadi latar dalam iklan juga memberikan pengaruh yang sangatpenting dalam iklan. Bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh para pemain melalui mimikmuka dan ekspresi dapat membuat para pemirsa lebih memahami perasaan sangtokoh.Hal-hal dalam level reality telah diencode secara elektronik oleh kode-kodeteknis (technical code), sedangkan dalam level ke-2, yaitu level representation.Seperti halnya dalam produksi film, yang penting dalam sebuah iklan adalah gambardan suara, tanpa gambar dan suara yang mendukung maka tidak akan tercipta sebuahiklan yang bagus. Oleh sebab itu, untuk mendukung terciptanya gambar dan musikyang bagus terdapat beberapa aspek penting yang dibutuhkan. Aspek-aspek yangterdapat dalam level representation sebuah iklan bisa merepresentasikan pesan atauide yang ingin diutarakan oleh sutradaranya.Misalnya dalam level ini terdapat aspek kamera. Pengambilan gambar olehkamera akan membawa pemirsa kepada gambar-gambar yang dapatmerepresentasikan pesan dari sebuah iklan. Sebuah gambar dengan menggunakanteknik-tekniknya dapat membawa pemirsa mengenal tokoh-tokoh, tempat dansuasana dalam sebuah iklan. Dengan didukung pencahayaan yang baik, maka akanmenghasilkan gambar yang baik. Pencahayaan bertujuan untuk lebih memperjelasmaksud dari sebuah gambar. Demikian juga pada musik yang dapat mendukungterciptanya suasana dalam iklan. Dialog dan konflik juga menjadi aspek pentingdalam sebuah iklan. Dengan adanya konflik dan dialog yang menarik, maka akantercipta jalan cerita yang juga menarik.Secara garis besar pada level reality Mamah Dedeh dan Ustaz Maulana ditampilkan sesuai dengan statusnya di masyarakat, yakni dengan busanamuslim/muslimah sesuai dengan identitas agama islam, gaya bicara yang santun danpenuh ajakan, setting dan suasana yang akrab dengan statusnya sebagai ustaz/ustazahseperti tanah suci Mekah, dsb. Tetapi, masuk pada level representation aspek-aspekdi dalamnya mengerucut pada kepentingan si pembuat iklan. Seperti, pengambilangambar yang didominasi gambar produk komersial, dialog yang mengarah pada pesanpromosi produk, dsb.Berikutnya, pada analisis paradigmatik, berusaha mengetahui makna terdalamdari teks iklan Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel dengan melihathubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain. Selain itu, analisisparadigmatik juga berfungsi untuk menunjukkan adanya arti „kedua‟ dan realitas lainyang mungkin bersifat abstrak yang ada di balik gagasan-gagasan yang teridentifikasidalam analisis sintagmatik.Setelah melakukan analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik darirepresentasi figur ustaz/ustazah pada kedua iklan, maka didapat beberapa temuanpenelitian, yaitu adanya eksploitasi simbol-simbol keIslaman, di mana figurustaz/ustazah, tempat peribadatan, busana yang merupakan identitasmuslim/muslimah di jadikan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan untukmendapat keuntungan. Kemudian, ustaz/ustazah yang muncul dalam iklan televisitidak lain adalah penanda dan memiliki kesamaan dari dunia konsumsi itu sendiri.Ustaz Maulana dan Mamah Dedeh hadir dalam iklan-iklan tersebut hanyalahmewakili dunia pemakaian atau penggunaan produk-produk yang mereka iklankan,dengan kata lain representasi ustaz/ustazah pada iklan televisi hanya sebagai icondunia konsumsi. Temuan berikuntya adalah adanya mitos yang menganggap bahwasemua pesan yang disampaikan ustaz/ustazah adalah benar dan pantas dijadikanpanutan di balik representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi.IV. KesimpulanTeori semiotika konotatif milik Barthes membawa peneliti menemukan arti„kedua„ di dalam iklan Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel, dimanaMamah Dedeh dan ustaz Maulana yang merupakan figur ustaz/ustazah hadir dalamiklan televisi justru bukan sebagai penyampai pesan agama yang melainkanmenyampaikan pesan-pesan untuk mempromosikan produk komersial.Representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi untuk produk komersialpada akhirnya menggeser peran ustaz/ustazah di masyarakat. Jika peran merupakanset perilaku yang diharapkan pada seseorang yang memiliki status, dalam hal iniustaz/ustazah dengan perannya menyampaikan pesan Tuhan, maka representasiustaz/ustazah pada iklan televisi untuk produk komersial pesan ustaz/ustazah adalahmenyampaikan pesan promosi produk komersial yang diiklankan.Agama menurut Email Durkheim diidentifikasikan sebagai pembangun kohesimasyarakat salah satunya melalui simbol. Ustaz/ustazah merupakan salah satu bentuksimbol agama Islam dimana figur tersebut juga menjadi alat untuk membangunkohesi di masyarakat. Teori tersebut kemudian digunakan pembuat iklan untukmenggiring jamaah dari ustaz/ustazah yang memiliki kohesi tersebut untukmenggunakan produk yang sama atau yang digunakan oleh panutannya seperti yangdirepresentasikan dalam iklan.Representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi yang diperlihatkan peneliti,serta temuan-temuan penelitian yang didapat, diharapkan mampu membuat pembacasebagai penikmat televisi untuk lebih berfikir kritis ketika akan memaknai pesanpesaniklan televisi yang kenyataannya sarat akan kepentingan.Daftar PustakaBarthes, Roland. 2007. Petualang Semiologi. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.Fiske, J. 2001. Television Culture. London: Methuen & Co. Ltd.Hartley, John. 2004. Communication, Cultural, & Media Studies.Yogjakarta:Jalasutra.Kimmel, Michael. Amy Aronson. 2010. Sociology now: the essentials (2nd ed.).Boston: Allyn & Bacon.Stout, Daniel A. 2006. Encyclopedia of Religion, Communication, and Media.London and New York: Routledge.Zoest, Art Van. 1993. Semiotika. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.
Meme Comic dengan Isu Pemilihan Presiden 2014 Nailah Fitri Zulfan; Hedi Pudjo Santosa; Much Yulianto; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.597 KB)

Abstract

Foto/gambar apa pun bisa dibuat meme comic dan juga bisa disesuaikan dengan situasi tertentu yang sedang hangat dibicarakan masyarakat. Seperti pemberitaan di media konvensional yang selalu terkini, meme comic pun menampilkan isu-isu terkini yang sedang hangat di masyarakat. Tahun 2014 merupakan tahun politik, karena pada tahun ini terdapat pemilihan presiden dan wakil presiden. Isu politik menjadi ramai dibicarakan, termasuk dibicarakan lewat meme comic. Meme comic menjadi wadah pembicaraan masyarakat mengenai pemilihan presiden 2014. Perbincangan politik terkait pemilihan presiden 2014 yang berat ditampilkan lewat meme comic yang menghibur.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika mitos yang dikembangkan Roland Barthes. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan makna yang ditampilkan lewat meme comic dengan isu pilpres 2014. Peneliti menggunakan paradigma kritis untuk mengkaji dan mendeskripsikan meme comic bertema isu Pilpres 2014. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Pop Culture, Teori Postmodern, Teori Media Baru.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meme comic dengan isu pilpres 2014 menampilkan makna-makna tersembunyi, yaitu humor yang sudah dikawinkan dengan isu politik. Fungsinya adalah untuk membungkus isu politik yang sensitif dan kaku agar menjadi lebih ringan dan diterima semua kalangan tanpa harus membuat tersinggung. Isu politik lewat meme comic pilpres 2014, menjadikan kritik, saran dan ledekan yang diarahkan kepada capres-cawapres menjadi sesuatu yang tidak perlu ditanggapi secara serius dan kaku. Makna lain yang ditampilkan adalah meme comic dengan isu pilpres 2014 ini bukanlah sesuatu yang terbentuk dari ide yang benar-benar baru. Meme comic merupakan bentuk intertektualitas, dimana ide yang terbentuk dari ide yang sudah ada sebelumnya.Keyword: Meme Comic, Politik, Humor, Intertekstual
VIVA.CO.ID dan KEPENTINGAN EKONOMI POLITIK ABURIZAL BAKRIE (Kajian analisis isi terhadap viva.co.id mengenai pemberitaan keluarga Bakrie, perusahaan-perusahaan Bakrie Group, Partai Golkar, dan sosok Aburizal Bakrie) R. Sigit Pandhu Kusumawardana; Wiwid Noor Rakhmad; Tandiyo Pradekso; Triyono Lukmantoro; Muhammad Rofiuddin
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMasalah kepemilikan media muncul sebagai akibat kapitalisasi media. Salah satu media swasta yang dimiliki oleh seorang pengusaha sekaligus politisi adalah portal berita viva.co.id. portal berita ini dimiliki oleh Aburizal Bakrie. Bisnisnya menjamur ke berbagai industri. Lebih dari itu, sepak terjangnya di dunia politik begitu agresif. Dia terpilih sebagai ketua umum Partai Golkar. Dan kini dia memutuskan untuk maju sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014. Sebagai media massa swasta yang tergabung dalam sebuah kelompok usaha yang begitu besar dan dimiliki oleh Aburizal Bakrie, bagaimana kecenderungan pemberitaan viva.co.id mengenai lingkaran kekuasaan Aburizal Bakrie menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kecenderungan pemberitaan viva.co.idmengenai keluarga Bakrie, Partai Golkar, perusahaan-perusahaan milik Bakrie Group, dan sosok Abu Rizal Bakrie itu sendiri. Teori yang digunakan adalah teori-teori kritis, banyak pemikiran Karl Marx, Noam Chomsky, dan Arthur Asa Berger digunakan dalam penelitian ini. Metodologi yang digunakan adalah analisis isi kuantitatif. Hal ini relefan untuk digunakan karena sesuai dengan prinsip kontekstual dan fleksibilitas. Teknik sampling yang digunakan adalah random dengan total sampel sebesar 169 berita. Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa dalam penulisan berita, viva.co.id memiliki kecenderungan yang positif atau mendukung keluarga Bakrie, Partai Golkar, perusahaan-perusahaan milik Bakrie Group, dan sosok Aburizal Bakrie itu sendiri. Indikator tersebut dapat dilihat dari aspek tema berita yang cenderung bertema bisnis. Sementara objek pemberitaan terbesar pada tema tersebut adalah perusahaan-perusahaan milik Bakrie Group. Dari aspek nilai berita viva.co.id tidak berani memasukkan nilai berita konflik ke dalam pemberitaannya, hal ini berarti viva.co.id tidak berani mengulas konflik yang terjadi di antara anggota dalam lingkaran kekuasaaan Aburizal Bakrie. Kemudian pada aspek narasumber, ditemukan fakta bahwa viva.co.id cenderung memilih “orang dalam” ketika membangun sebuah berita, sementara sebagian besar komentar ahli yang dijadikan narasumber bernada positif. Dilihat dari lead dan tubuh beritanya pun cenderung mendukung lingkaran kekuasaan Aburizal Bakrie. Lebih dari itu, selama rentang waktu 2009-2012 terjadi pergeseran topik berita dari bisnis ke politik. Hal ini terkait dengan pencalonan Aburizal Bakrie sebagai presiden. Kata kunci: viva.co.id, analisis isi kritis, Aburizal Bakrie, kecenderungan berita
Kontruksi Agama dan Identitas dalam film Cinta Tapi Beda (Analisis Semiotika Film Cinta Tapi Beda) Fitriana Nur Indah S; Triyono Lukmantoro; Wiwid Noor Rakhmad; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.385 KB)

Abstract

Cinta Tapi Beda (2012) that produced by Hestu Saputra and Hanung Bramantyo is one example of the film with the theme of love story of different religions and ethnicities. When released in theaters, December 2012, the film has some pros and cons in the society. Many people found this movie humiliate Minangkabau ethnic group as native of Padang. However, it also had many positive comments because the film is considered to be able to describe the complexity of the love story of different religions and ethnicities in Indonesia. The purpose of this study was to examine how religion and identity construction carried out and communicated in Cinta Tapi Beda (2012). This study uses theory of social construction of Peter L. Berger and Thomas Luckmann in konstrutivis paradigm. The method used in this research is the analysis of semiotic codes of television technical analysis of John Fiske (in Fiske, 1987: 5), which is divided into three levels, namely reality, representation, and ideology.From this research, the findings, which are syntagmatic Islam and Christian is displayed in a simple, not overdone, and obedient to the teachings of his religion. There is a difference between the portrayal of women by men who are Muslims. Munawaroh, Cahyo’s mother and Retno , Cahyo’s sister as Muslim women are described as soft and solehah. They wear veils as evidence of obedient on religion. While the appearance of Cahyo and Fadholi use man’s clothes in general, but they use the peci when pray. They are also described as personal hard and adamant, but still obey to the teachings of religion. As for players who are Christians, the appearance of men and women there was no significant difference. They look like in general. The use of accessories such as necklaces cross only Diana and David.The second finding is based on paradigmatic analysis performed is the myth of religion is presented, which is considered both religion is intolerant of other religions. Other findings is the truth claims made interreligious conflict. Understanding of different religions romantic relationship with all the obstacles. Finally, the attitude of tolerance towards religious pluralism and identity.
Co-Authors Ade Ayu Kartika Sari Rezki Adi Nugroho Aditya Gilang Gifari Agus Naryoso Agus Toto Widyatmoko Amalia Ayu Wulansari Arfianto Adi Nugroho Ayu Pramudhita Noorkartika Bayu Hastinoto Prawirodigdo Beta Fiftina Aryani Candra Sateria Choirul Ulil Albab Citra Luckyta Lentera Gulita Daeng Lanta Mutiara Rato R Dian Kurniati Diandini Nata Pertiwi Djoko Setyabudi Dwinda Harditya Fathimatul Muyassaroh Febryana Dewi Nilasari Fitriana Nur Indah S Frans Agung Prabowo Fransiscus Anton Saputro Frieda Isyana Putri Galih Arum Sri Gelar Mukti Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S Hedi Pudjo Santosa Herusna Yoda Sumbara Ika Adelia Iswari Ima Putri Siti Sekarini Intan Murni Handayani Joyo NS Gono Kevin Devanda Sudjarwo Leidena Sekar Negari Lintang Ratri Rahmiaji M Bayu Widagdo M Rofiuddin Marliana Nurjayanti Nasoetion Meivita Ika Nursanti Much Yulianto Much. Yulianto Muhammad Rofiuddin Nailah Fitri Zulfan Niki Hapsari Fatimah Nilna Rifda Kholisha Novelia Irawan S Nur Fajriani Falah Nurhanatiyas Mahardika Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Pandu Hidayat Primada Qurrota Ayun Putri Ramadhini R. Sigit Pandhu Kusumawardana Ria Rahmawati Rifqi Aditya Utama Rika Futri Adelia Rizki Kurnia Yuniasti Salsabila, Unik Hanifah Sandy Allifiansyah Shafira Indah Muthia Sholakhiyyatul Khizana Sri Budi Lestari Sunarto Sunarto Syarifa Larasati Tandiyo Pradekso Tandiyo Pradekso Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Titiek Hendriama Tri Yoga Adibtya Tama Triliana Kurniasari Turnomo Rahardjo Veramitha Indriyani Williams Wijaya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yoga M Pamungkas Yoga Yuniadi Zefa Alinda Fitria