Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Deskriptif Penggemar K-pop sebagai Audiens Media dalam Mengonsumsi dan Memaknai Teks Budaya Meivita Ika Nursanti; Triyono Lukmantoro; Nurist Surraya ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.251 KB)

Abstract

Kemunculan grup musik Seo Taji and Boys di Korea Selatan pada tahun 1992menjadi sebuah titik balik bagi industri musik populer Korea. Fenomena tersebutterus berkembang dan telah menjadi salah satu fenomena budaya pop yang hadir,tumbuh, dan berkembang di tengah-tengah masyarakat saat ini. K-pop (dalambahasa Korea 가요, Gayo) (singkatan dari Korean pop atau Korean popularmusic) adalah sebuah genre musik terdiri dari pop, dance, electropop, hip hop,rock, R&B dan electronic music yang berasal dari Korea Selatan.Banyak orang menyebut serbuan K-pop sebagai hallyu (한류) ataugelombang Korea (Korean Wave). Gelombang ini awalnya dipicu keranjinganorang terhadap drama romantis Asia, termasuk drama Korea. Dari sini, anak mudaAsia kemudian mengenal K-pop dan menggilainya. Maklum, K-pop tidak hanyamemanjakan telinga dan mata, tetapi juga menancapkan imajinasi tentang selebritiKorea yang berpenampilan apik dan berwajah semulus porselen. Tidak heran, kinibanyak anak muda yang ingin "dicetak" seperti selebriti Korea. Banyak anakmuda di mana-mana histeris melihat aksi boyband/girlband Korea. Inilah puncakgunung es dari kisah tentang penetrasi budaya pop Korea di sekitar kita.Dalam perkembangannya, K-Pop telah tumbuh menjadi sebuah subkulturyang menyebar secara luas di berbagai belahan dunia. Idol group dan solo artisseperti BoA, Rain, DBSK, JYJ, Super Junior, B2ST, Girls‟ Generations,BIGBANG, Wonder Girls, 2NE1, 2PM, 2AM, Miss A, KARA, SHINee, f(x),After School, Brown Eyed Girls, Se7en, CNBLUE, F.T. Island, Secret, MBLAQsangat terkenal di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Jepang,Malaysia, Mongolia, Filipina, Indonesia, Thailand, Taiwan, Singapura, China, danVietnam (Cerojano, 2011).Kehadiran internet beserta jejaring sosial yang terdapat di dalamnya dapatdikatakan sangat membantu industri musik K-pop dalam menjangkau audiensyang lebih luas. Pengamat musik, Bens Leoseperti dikutip dalam sebuah portalkomunitas dan berita online tnol.co.idmengatakan musik K-pop yang telahmasuk ke Indonesia sekitar tahun 2009 berhasil populer di Indonesia berkatjaringan informasi dan teknologi internet, di mana kemudian masyarakat dapatdengan mudah mengakses dan melihat secara audiovisual. K-pop tidak hanyamengenalkan musik, tetapi K-pop juga mengenalkan budaya lewat gaya rambut,pakaian, maupun kostum (Nopiyanti, 2012).Pop culture yang beroperasi melalui fashion, musik, film maupun televisi inisangat dekat dengan dunia konsumsi di mana masyarakat dapat berekspresi didalamnya. Perilaku konsumsi individu maupun masyarakat yang terus menerus inipada akhirnya dapat menimbulkan sebuah sindrom fanatisme akibat hasilkomoditas budaya pop.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2009 (KBBI), fanatismeadalah keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu ajaran(politik, agama, dsb). Seseorang yang bersikap fanatik ini seringkali dijulukisebagai penggemaratau yang dalam skripsi ini disebut sebagai fans selebritis,serial televisi, band, dan komoditas budaya pop lainnyaseperti halnya dalamindustri K-pop.Henry Jenkins dalam Textual Poachers: Television Fans and ParticipatoryCulture (1992) menjelaskan mengenai kata “fan” (penggemar) yang merupakanabrevasi dari “fanatic”, yang berasal dari kata Latin “fanaticus”. Secara literal,“fanaticus” berarti “Dari atau berasal dari sebuah pemujaan; pelayan suatupemujaan; seorang pengikut” (“Of or belonging to the temple, a temple servant, adevotee”) (Oxford Latin Dictionary). Dalam perkembangannya, “fanatic”diartikan sebagai suatu bentuk kepercayaan religius yang berlebihan danmenyembah kepada setiap “antusiasme yang salah dan berlebihan”, yang padaakhirnya banyak menimbulkan kritik karena melawan kepercayaan dan dianggapsebagai suatu kegilaan yang timbul dari suatu posesi atas dewa atau iblis (OxfordEnglish Dictionary).Fenomena yang kemudian terjadi adalah menjamurnya fans K-pop di seluruhbelahan dunia. Fans yang berasal dari berbagai macam fandom idolgroupseperti misalnya ELF (Ever Lasting Friends) yang merupakan sebutanbagi penggemar Super Junior, B2UTY untuk penggemar B2ST, atau pun VIP bagipenggemar BIGBANGmenjadi sebuah kesatuan besar di bawah naunganfandom K-pop.Bagi kebanyakan orang, fandom K-pop dikenal dengan stereotip yangmelekat pada diri fans atau penggemarnya. Fans K-pop dianggap selalu bersikapberlebihan, gila, histeris, obsesif, adiktif, dan konsumtifketika mereka sangatgemar menghambur-hamburkan uang untuk membeli merchandise idola maupunmengejar idolanya hingga ke belahan dunia mana pun.Menurut Casey dalam Television Studies – The Key Concepts (2002: 91), fansselalu diasumsikan sebagai „canggung secara sosial dan kumpulan orang tidakberguna yang terbuai akan budaya populer, melalui sebuah media tertentu, dimanamenawarkan mereka kepuasan sintetis dan pelarian dari hidup mereka yangmenyedihkan.Stereotip tersebut salah satunya dapat dilihat dalam kehidupan di duniamaya. Mereka secara terang-terangan dapat menyatakan rasa cinta kepada idoladengan menggunakan fungsi mention pada Twitter dan ditujukan langsung keakun Twitter sang idola. Melalui dunia maya, mereka dapat dengan bebasmengungkapkan dan mencurahkan isi hati mereka kepada sesama fans K-popdengan posting pada blog maupun forum. Melalui dunia maya pula, fans K-popmelakukan sebuah aktivitas yang disebut dengan fangirling (berasal dari katafangirl. Fans lelaki disebut dengan sebutan fanboy. Fangirl dan fanboy seringdibedakan karena praktik tertentu yang mereka lakukan di dalam fandom. Namunpada dasarnya fans/penggemar/konsumen adalah sama) (Jenkins, 2007).Fangirling adalah sebutan yang digunakan untuk mendeskripsikankegembiraan berlebih atau bahkan ekstrim terhadap fandom tertentu. Internet telahmenjadi, bagi kebanyakan orang, sebuah sumber alternatif untuk informasi danhiburan, pada tingkat suatu bentuk media yang lebih “mapan” ketimbang televisidan media cetak (Rayner, Wall, Kruger, 2004: 104). Mereka sering menghabiskanwaktunya di depan komputer selama berjam-jam untuk berdiskusi mengenai objekkesenangan mereka hingga ke perilaku obesesif yang berlebihan yaitu stalking(istilah yang digunakan untuk mengacu pada perhatian obsesif yang tidakdiinginkan oleh seorang individu atau grup yang dilakukan oleh orang tertentu.Perilaku stalking sering dikaitkan dengan pelecehan dan intimidasi termasukmengikuti sang korban ke mana pun ia pergi dan memonitor segala perilakunya(http://www.thehistoryofastalker.com/stalkers-psychological-file).Melalui media seperti TV, dan terutama internet pula, fans K-pop dapatmemenuhi rasa „rindu‟ mereka. Mereka mengunduh video klip dan berbagaimacam variety show yang dibintangi idola mereka, mereka bertukar informasi dangossip terbaru melalui fanboard maupun bentuk media internet lainnya. Hal inibagi mereka adalah sebuah forum untuk mengekpresikan keluhan mereka, berbagiinformasi, dan mengesahkan identitas mereka sebagai fans (Rayner, Wall, Kruger,2004: 147).Bagi mereka fandom K-pop adalah sesuatu yang besar. Mereka memilikinama masing-masing, warna tertentu yang menunjukkan identitas mereka (warnabiru safir bagi fan Super Junior, warna merah untuk penggemar DBSK, dan lainlain),dan bahkan diakui secara resmi oleh label atau manajemen yang menaungiidola kesayangan mereka. Fandom K-pop telah berfungsi hampir menyerupaisebuah cult di mana penggemar yang terdapat di dalamnya seakan-akan telahdihipnotis untuk selalu memuja idola mereka selayaknya seorang dewa.Menurut Joli Jenson (dalam Storey, 2006:158), literatur mengenai kelompokpenggemar dihantui oleh citra penyimpangan. Penggemar selalu dicirikan sebagaisuatu kefanatikan yang potensial. Hal ini berarti bahwa kelompok penggemardilihat sebagai perilaku yang berlebihan dan berdekatan dengan kegilaan. Jensonmenunjukkan dua tipe khas patologi penggemar, „individu yang terobsesi‟(biasanya laki-laki) dan „kerumunan histeris‟ (biasanya perempuan).Para penggemar ditampilkan sebagai salah satu liyan yang berbahaya dalamkehidupan modern. “Kita” ini waras dan terhormat; “mereka” itu terobsesi danhisteris. Penggemar dipahami sebagai korban-korban pasif dan patologis mediamassa. Penggemar tidak bisa menciptakan jarak di antara dirinya dan objekkesenangannya.Para khalayak pop dikatakan memamerkan kesenangan mereka hinggamenimbulkan ekses emosional, sementara budaya resmi dan budaya dominansenantiasa mampu memelihara jarak dan kontrol estetik yang terhormat.Kelompok penggemar itu disebut-sebut hanya melakukan aktivitas kulturalkhalayak pop, sementara kelompok-kelompok dominan dikatakan memiliki minat,selera dan preferensi kultural. Hal ini diperkuat oleh objek-objek kekaguman.Budaya resmi atau dominan menghasilkan apresiasi estetik; kelompok penggemarhanya pas untuk pelbagai teks dan praktik budaya pop.Fans K-pop juga dikenal selalu loyal terhadap idolanya. Mereka tak seganseganuntuk mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk membeli segala macampernak-pernik tentang idolanya. Mereka juga tidak sayang untuk mengeluarkankocek yang besar untuk membeli hingga sepuluh CD album, saat idolanya merilisalbum baru, agar idola mereka dapat memenangkan penghargaan di berbagaiajang penghargaan musik. Merchandise sendiri terkadang memiliki harga yangtidak masuk akal bagi kebanyakan orang, terutama di luar fandom K-pop.Tidak hanya konsumsi merchandise atau pernak-pernik yang berhubungandengan idolanya, penggemar K-pop tentu tidak bisa dilepaskan dari konsumsimenonton konser. Di Indonesia sendiri, Showmaxx, selaku promotor yangmendatangkan Super Junior untuk konser di Indonesia, sampai harusmemperpanjang jadwal konser yang bertajuk Super Junior World Tour: SuperShow 4, menjadi tiga hari. Sebuah situs berita K-pop online, dkpopnews,memberitakan bahwa 60% audiens yang hadir di perhelatan konser Super Junior(Super Show 3: Super Junior the 3rd Asia Tour) di Singapura adalah penontonIndonesia. Mereka bahkan menyelenggarakan sebuah project dengan memberikansepuluh medali emas yang dipesan khusus untuk para anggota Super Junior.Masing-masing medali seharga sekitar $ 442.77 (Lee, 2011).Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa fandom K-pop telah berfungsihampir menyerupai sebuah cult di mana penggemar yang terdapat di dalamnyaseakan-akan telah dihipnotis untuk selalu memuja idola mereka selayaknyaseorang dewa. Obsesi mereka terhadap para idolanya sering dianggap berlebihandan melampaui batas.Casey (dalam Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 146) melihat bagaimana fansdalam representasinya seringkali ditolak dalam masyarakat. Casey menjelaskanbagaimana fans sering ditolak. Fans yang obsesif muncul karena telah „diambil‟oleh teks, dimana mereka (non-fans) tidak. Mereka (non-fans) mengkonstruksikanposisinya sebagai „normal‟ di mana sangat bertolak belakang dengan perilakufans. “Walaupun kita juga menikmati teks, „mereka‟ sangat berbeda dengan„kita‟.”Fans dan fandom sebagai salah satu area populer dalam studi mengenaiaudiens menjadi lebih layak dianalisis dalam studi kritikal ketika dalamperkembangannya, keberadaan fans telah dipengaruhi oleh teknologi dan media.Asumsi awal mengenai fans selalu dilihat sebagai mereka yang „obsesif‟, „anorak‟(seseorang yang memiliki ketertarikan yang kuat pada suatu hal, mungkin obsesifdan ketertarikan tersebut tidak dapat dipahami oleh orang lain; british slang,Oxford Dictionaries tahun 2012), dan „aneh‟, yang ketertarikan obsesinya adalahpada sebuah objek budaya tertentu sebagai „tameng‟ untuk mengejarkecanggungan atas kehidupan sosial mereka.Dewasa ini, representasi fandom telah mengalami perubahan. Jenkins (dalamRayner, Wall, Kruger, 2004: 147) mendeskripsikan bahwa fandom adalah sesuatuyang positif dan memberdayakan. Fandom adalah salah satu cara di manakhalayak dapat menjadi aktif dan berpartisipasi dalam mengkreasikan makna darisebuah teks dalam media.Penelitian ini akan berfokus pada bagaimana fans K-pop sebagai audiensmedia mengonsumsi dan memaknai teks di dalam media terkait dengan perilakufanatisme di dalam fandom yang mereka ikuti. Lebih lanjut, penelitian ini jugaakan membahas mengenai perilaku produksi yang dilakukan oleh penggemarsebagai hasil dari aktivitas konsumsi dan pemaknaan yang mereka lakukan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku penggemar K-pop, berkaitandengan motif yang mendorong mereka untuk melakukan aktivitas konsumsiadalah motif yang didasari oleh motif kepuasan. Konsumsi yang mereka lakukandidasari oleh keinginan mereka sendiri akan perasaan puas yang timbulsetelahnya. Kecintaan mereka terhadap idola menghapuskan rasa sayang untukmenghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit bagi kegiatan kegemaranmereka. Konsumsi yang mereka lakukan bukanlah diukur dari berapa banyakwaktu maupun biaya yang mereka keluarkan atau pun bagaimana lingkungansosial menilai mereka. Konsumsi yang mereka lakukan lebih berbicara mengenaikenikmatan yang dicapai sebagai pelampiasan akan hasrat atau perasaan rinduyang terpendam terhadap sang idola. Perilaku konsumsi yang dilakukan olehpenggemar K-pop umumnya meliputi mengunduh video, membeli merchandise,dan menonton konser. Video yang mereka unduh adalah video-video berupa videoklip, potongan-potongan scene, hingga video variety show. Sedangkan mengenaikonsumsi merchandise dapat bermacam-macam bentuknya seperti CD, kaos,photo book, dan light stick. Aktivitas menonton konser adalah aktivitas yangpaling ditunggu-tunggu. Hal ini disebabkan oleh satu tujuan utama yang samayaitu untuk bertatap muka langsung dengan idola.Selain itu, penggemar K-pop tidak hanya melakukan konsumsi, merekasenantiasa juga melakukan pemaknaan terhadap teks di media. Ketika merekamengonsumsi, mereka memaknai. Pemaknaan yang dilakukan oleh penggemartidak hanya dilakukan berdasarkan pengalaman mereka secara individu namunjuga secara kolektif, misalnya ketika sedang berada di dalam kelompok ataukomunitas penggemar. Perilaku pemaknaan secara kolektif ini, salah satunyadapat dilihat dengan seberapa sering penggemar saling berdiskusi, bertukarinformasi atau berdebat mengenai pengetahuan objektif yang tidak diketahui olehorang awam.Penggemar, selain melakukan aktivitas konsumsi, ternyata juga melakukanaktivitas produksi kreatif sebagai bentuk fanatisme. Aktivitas produksi adalahefek yang timbul dari kegiatan mengonsumsi teks di media secara terus-menerus.Serupa dengan motif penggemar dalam mengonsumsi, motif produksi teks budayayang dilakukan oleh penggemar K-pop juga didasari atas pemenuhan kebutuhanafeksi dan emosi mereka. Selain untuk mencapai kepuasan (satisfaction), produksiteks juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sebagai manusia sosial,yaitu kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan untuk mencari identitas sertakebutuhan akan pemenuhan diri. Contoh produksi yang dilakukan oleh penggemarK-pop adalah fan fiction dan fan art. Hasil produksi ini kemudian akan diunggahke media (internet) untuk kemudian dishare dengan sesama penggemar. Tidakhanya sampai di situ, penggemar lainnya yang turut mengonsumsi produksitersebut juga ditemukan memberikan feedback bagi si produser; seperti misalnyameninggalkan komentar atau kritik yang membangun.Media yang telah menjadi sebuah wadah utama bagi mayoritas penggemarK-pop adalah internet. Selain membantu mereka dalam kegiatan kegemaran(fangirling), internet juga membantu mereka dalam berkomunikasi serta bertukarinformasi dengan sesama penggemar lainnya di dunia maya walau belum pernahdilakukan tatap muka di antara keduanya. Penggemar K-pop biasanya memilikiforum-forum khusus yang memungkinkan mereka untuk melakukan sharingsecara beramai-ramai. Forum-forum ini umumnya adalah situs yang dibuat olehpenggemar dan diperuntukkan bagi penggemar pula. Tidak hanya melalui forum,tetapi situs-situs jejaring sosial seperti twitter dan tumblr juga memudahkanmereka dalam melakukan kegiatan fangirling. Melalui forum/jejaring sosialmereka bisa membicarakan berbagai macam hal, dari mulai video klip yang barukeluar hingga gaya rambut sang idola yang terus berganti-ganti.DAFTAR PUSTAKAAnda, Atri, et. Al. 2012. Jalan-Jalan K-pop. Jakarta: Gagas Media.Casey, Bernadette, et. Al. 2008. Television Studies: The Key Concepts, SecondEdition. Oxon: Routledge.Cheonsa, Choi. 2011. Hallyu: Korean Wave. Klaten: Cable Book.Engel, James F, Roger .D Blackwell, dan Paul W. 1995. Perilaku Konsumen.Jakarta: Binarupa Aksara.Featherstone, Mike. 2007. Consumer Culture and Postmodernism Second Edition.London: SAGE Publications Ltd.Friedman, Jonathan. 2005. Consumption and Identity. Singapore: HarwoodAcademic Publishers.Genosko, Gary. 1994. Baudrillard and Signs: Signification Ablaze. London:Routledge.Gray, Jonathan, Cornel Sandvoss, dan C. Lee Harrington (ed.). 2007. Fandom:Identities and Communities in A Mediated World. New York & London:New York University Press.Hellekson, Karen, dan Kristina Busse (ed.). 2006. Fan Fictions and FanCommunities in the Age of the Internet. Jefferson: McFarland & Company,Inc.Hills, Matt. 2002. Fan Cultures. London: Routledge.Jenkins, Henry. 1992. Textual Poachers: Television Fans and ParticipatoryCulture. New York & London: Routledge.Kelly, William. W (ed.). 2004. Fanning the Flames: Fans and Consumer Culturein Contemporary Japan. Albany: State University of New York Press.Korean Culture and Information Service. 2011. Contemporary Korea No. 1 TheKorean Wave: A New Pop Culture Phenomenon. Seoul: Koreean Cultureand Information Service Ministry of Culture, Sports and Tourism.Kuswarno, Engkus. 2009. Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi:Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: WidyaPadjadjaran.Mackay, Hugh (ed.). 1997. Consumption and Everyday Life. London: SagePublications Ltd.Moran, Dermot. 2000. Introduction to Phenomenology. London: Routledge.Neuman, Lawrence W. 2007. Basics of Social Rasearch: Qualitative andQuantitative Approaches Second Edition. Boston: Pearson Education Inc.Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosda.Rayner, Philip, Peter Wall dan Stephen Kruger. 2004. Media Studies: TheEssential Resource. London & New York: Routledge.Ritchie, Jane dan Jane Lewis. 2003. Qualitative Research Practice: A Guide forSocial Science Students and Researchers. London: SAGE Publications.Rusbiantoro, Dadang. 2008. Generasi MTV. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.Sastranegara, Arif. 2012. Boyband dan Girlband Korea: 21 Grupband KoreaSuper Populer. Surabaya: Citra Publishing.Schacht, Richard. 2005. Alienasi: Pengantar Paling Komprehensif.Jakarta: Jalasutra.Storey, John. 2006. Pengantar Komprehensif, Teori, dan Metode: CulturalStudies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.Storey, John. 2009. Fifth Edition Cultural Theory and Popular Culture: AnIntroduction. Harlow: Pearson Education Ltd.Yuanita, Sari. 2012. Korean Wave: Dari K-Pop Hingga Tampil Gaya Ala Korea.Yogyakarta: IdeaTerra Media Pustaka.Referensi SkripsiPujarama, Widya (2008). Kisah Harry Potter yang Menjadi Mitos: Studi Etnografiterhadap Penggemar Kisah Harry Potter dalam Situswww.harrypotterindonesia.com. Skripsi. Universitas Brawijaya.Qisthina (2010). Budaya Penggemar Musik Pop Korea (Studi Pada PolaKonsumsi dan Produksi ELF Super Junior di Kalangan Pelajar KotaMalang). Skripsi. Universitas Brawijaya.Sandika, Edria (2010). Dinamika Konsumsi dan Budaya Penggemar KomunitasTokusatsu Indonesia. Tesis. Universitas Indonesia.Referensi InternetCerojano, Teresa. (2011). K-pop‟s Slick Productions Win Fans Across Asia.dalam http://lifestyle.inquirer.net/14895/k-pops-slick-productions-winfans-across-asia. diakses tanggal 17 November pukul 17:45.Grossman, Lev. (2011). The Boy Who Lived Forever. dalamhttp://www.time.com/time/arts/article/0,8599,2081784-1,00.html. diaksestanggal 15 Januari 2013 pukul 21:00.Halim, Denny F. (2012). My Jakarta: Wina and Siska, K-pop Fans. dalamhttp://www.thejakartaglobe.com/myjakarta/my-jakarta-wina-and-siska-kpop-fans/504997. diakses tanggal 23 April 2012 pukul 23:15.Jenkins, Henry. (2007). Gender and Fan Culture (Round Fifteen, Part Two: BobRehak and Suzanne Scott. dalamhttp://henryjenkins.org/2007/09/gender_and_fan_culture_round_f_4.html.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 24:00.Kamil, Ati. (2012). “Gelombang Korea” Menerjang Dunia. dalamhttp://entertainment.kompas.com/read/2012/01/15/18035888/.Gelombang.Korea.Menerjang.Dunia. diakses tanggal 17 November 2012 pukul 23:00.Lee, Dajeong. (2011). 10 Gold Medals for Super Junior from Indonesian ELF.dalam http://www.dkpopnews.net/2011/01/photos-10-gold-medals-forsuper-junior.html. diakses tanggal 23 April 2012 pukul 21:00.Nopiyanti. (2012). Bens Leo: K-pop Penyelamat Musik Indonesia!. dalamhttp://www.tnol.co.id/film-musik/12710-bens-leo-k-pop-penyelamatmusik-indonesia.html. diakses tanggal 24 April 2012 pukul 20:10.Pasandaran, Camelia. (2012). „Gangnam Style‟ Star Psy to Ride Into Jakarta.dalam http://www.thejakartaglobe.com/entertainment/gangnam-style-starpsy-to-ride-into-jakarta/553423. diakses tanggal 16 November 2012 pukul21:45.Subi. (2012). K-pop Merchandising: Exploiting the Consumer. dalamhttp://seoulbeats.com/2012/01/k-pop-merchandising-exploiting-theconsumer/.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 23:45.Suwarna, Budi dan Frans Sartono. (2010). Super Korea, Super Tampang. dalamhttp://nasional.kompas.com/read/2010/12/12/03182533/. diakses tanggal16 November 2012 pukul 19:05.Third Jakarta Show Added For K-pop Band Super Junior. (2012). dalamhttp://www.thejakartaglobe.com/entertainment/third-jakarta-show-addedfor-k-pop-band-super-junior/512038. diakses tangal 23 April 2012 pukul22:00.Today’s K-pop Fan Groups: Too Obsessive?. (2011). dalamhttp://seoulbeats.com/2011/11/todays-k-pop-fan-groups-too-obsessive/.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 22:00.Referensi Media CetakBurhanudin, Tony. (2012, Juli). Imitator Jepang yang Sukses. Marketing: 66-67.Burhanudin, Tony. (2012, Juli). K-pop Sebagai National Branding Bangsa Korea.Marketing: 58-59.Ladjar, Angelina M. (2012, Juli). Tidak Sembarang Artis K-pop. Marketing: 76-77.Mulyadi, Ivan. (2012, Juli). Samsung as Global Brand. Marketing: 74-75.Tanoso, Harry. (2012, Juli). Harga Sinetron Korea Jauh Lebih Murah dariSinetron Lokal. Marketing: 82-83.Purwaningsih, Ike dan Miftah N. (2012, Oktober 7). Korea Masih Bikin Kepincut.Suara Merdeka: 21.
Representasi Orang Jawa dalam Iklan Televisi Djarum 76 Diandini Nata Pertiwi; Hedi Pudjo Santosa; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.782 KB)

Abstract

Representasi Orang Jawa dalam Iklan Televisi Djarum 76ABSTRAKPenelitian berjudul “Representasi Orang Jawa dalam Iklan Televisi Djarum 76”dengan subjek penelitian versi Matre, versi Pingin Sugih dan Ganteng, versi Ketipu,versi Takut Istri, versi Gayus, versi Ketiduran dilakukan untuk mengetahuibagaimana orang Jawa dan mitologi orang Jawa direpresentasikan dalam iklantersebut. Penelitian ini berlandaskan pada teori representasi dari Stuart Hall, teorisemiotika dari Roland Barthes, dengan menggunakan analisis Sintagmatik sebagaipemaknaan tataran pertama terhadap rangkaian teks. Penelitian ini jugamenggunakan analisis Paradigmatik untuk proses penggalian makna tataran keduayang bersifat konotatif dengan mengungkapkan mitologi, dan kode-kode ideologisdalam iklan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa orang Jawa dalam iklan Djarum76 tampil sebagai sosok yang merusak kerukunan, tidak memiliki keutamaan yangsangat dihargai oleh orang Jawa, tidak menjalankan tuntutan kerukunan yangdibebankan kepadanya sebagai orang Jawa dewasa, matre, sombong, mencerminkanfalsafah Jawa yaitu, inggah inggih ora kepanggih dan yen djiwit lara aja njiwit, tidakmawas diri, mencerminkan teori humor superioritas dan meremehkan, bersifatangkaramurka yang dibarengi dengan ungkapan umuk keblithuk, pemalas. Hal inisangat berseberangan sekali dengan stereotip yang ada di masyarakat. Penelitian inijuga berhasil mengungkapkan kepercayaan orang Jawa terhadap mahluk halus untukmengatasi masalah hidup.Kata kunci: Orang Jawa, Representasi, Iklan Djarum 76ABSTRACTResearch called representation the javanese in television commercial djarum 76 withthe subject of study version Matre, version Pingin Sugih dan Ganteng, versionKetipu, version Takut Istri, version Gayus, version Ketiduran conducted to determinehow The Javanese and mythology The Javanese represented in those ads. Thisresearch based on the theory of representation of the Stuart Hall, a theory ofsemiotics Roland Barthes, by using Sintagmatik analysis as the first level ofdefinition of the range of text. Research is also using analysis paradigmatik to thesecond process of extracting entendres a connotative by with reveals the mythology,and the ideological codes in ads. The results of this research show that the Javanesein ad Djarum 76 appeared as a destructive figure of harmony, Not having theprimacy of which is highly prized by The Javanese, don ' t run demands harmonycharged to him as The Javanese adult, matre, arrogant, reflecting of philosophy Javathat is, inggah inggih ora kepanggih, and yen djiwit lara is njiwit, not introspective,reflecting the humor theory of superiority and underestimate, spatiallyangkaramurka and as with expressions of umuk keblithuk, and a lubber. It isopposite the existing stereotypes in society. This research also managed to reveal inconfidence The Javanese against being ethereal to solve the problems of life.Keywords: The Javanese, Representation, Advertising Djarum 76PENDAHULUANA. Latar BelakangOrang Jawa adalah penduduk asli bagian tengah dan timur Pulau Jawa yang bahasaibunya adalah bahasa Jawa (Magnis-Suseno, 1991: 12). Rokok (udud) dan kebiasaanmerokok (ngudud) telah mewarnai kehidupan orang Jawa di berbagai lapisan.Aktivitas ngudud sudah menjadi bagian dari hidup bagi orang Jawa. Rokok dijadikansarana untuk melepas kepenatan permasalahan yang dihadapi dalam hidup seharihari.Beban psikologis yang dialami orang Jawa seakan-akan terasa berkurang danketentraman batin pun didapatkan setalah merokok. Selain itu, rokok juga dijadikansebagai media untuk memanggil makhluk yang tidak kasat mata untukmenyelesaikan masalah dalam kehidupan.Ritual orang Jawa ini diadopsi oleh Djarum 76 dalam pembuatan iklannya.Ritual orang Jawa dipilih oleh Djarum 76 untuk iklannya karena tembakau yangdipakai untuk memproduksi Djarum 76 semua berasal dari temanggung, danpengikut setia Djarum 76 kebanyakan berasal dari Jawa Tengah, dan Jawa Timur.Sosok orang Jawa yang dihadirkan dalam bentuk jin dalam iklan Djarum 76menggambarkan sisi religi Jawa yang masih menganut kepercayaan Kejawen, yangmenggunakan rokok sebagai media untuk memanggil makhluk ghaib. Iklan Djarum76 menggambarkan unsur etnisitas Jawa dengan menghadirkan sosok jin yangdirepresentasikan menggunakan baju adat Jawa, bahasa Jawa, dialek Jawa,karakteristik Jawa, dan lain sebagainya. Iklan rokok Djarum 76 berbeda sekalidengan iklan rokok pada umumnya. Iklan rokok pada umumnya menggambarkanimage maskulinitas atau syarat akan kebersamaan, dan persahabatan.Media televisi merupakan pilihan terbaik bagi kebanyakan pengiklan diIndonesia. Televisi merupakan salah satu media komunikasi yang sangat efektifuntuk memberikan informasi dibandingkan dengan media lainnya. Kelebihan mediatelevisi dalam menyampaikan pesan adalah pesan-pesan yang disampaikan melaluigambar, dan suara secara bersamaan, serta memberikan suasana hidup sehinggasangat mudah diterima oleh pemirsa. Siaran televisi juga memiliki sifat langsung,simultan, intim, dan nyata (Mulyana, 1997: 169). Budaya yang direpresentasikansecara terus-menerus dalam iklan televisi Djarum 76 akan mengakibatkan orangorangyang menonton iklan Djarum 76 memiliki stereotype bahkan prasangkaterhadap orang Jawa bahwa sikap, sifat, dan karakteristik orang Jawa itu seperti apayang direpresentasikan oleh sosok kedua jin itu. Padahal streotype yangmembuahkan prasangka tidak baik dihadirkan karena akan menghadirkan penilaianbaku yang tidak dapat diubah untuk satu etnis tertentu.B. Perumusan MasalahOrang Jawa dalam iklan Djarum 76 direpresentasikan melalui sosok jin yangmengenakan pakaian, dan juga menggunakan dialek Jawa. Tidak hanya di satu iklansaja namun direpresentasikan di beberapa iklan Djarum 76, sosok jindirepresentasikan secara terus menerus membuat orang memiliki asumsi ataupenilaian terhadap orang Jawa seperti apa yang digambarkan oleh jin dalam iklanDjarum 76. Oleh karena itu, rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimanaorang Jawa dan mitologinya direpresentasikan dalam iklan televisi Djarum 76?C. Tujuan PenelitianUntuk mengetahui mitologi orang Jawa, dan bagaimana orang Jawadirepresentasikan dalam iklan televisi Djarum 76.D. Kerangka Pemikiran Teoritis1. Representasi, dan orang JawaRepresentasi menurut Stuart Hall (1997: 15), “representasi menghubungkan makna,dan bahasa dengan budaya. Yang berarti menggunakan bahasa untuk mengatakantentang sesuatu, atau untuk mewakili dunia yang penuh arti, kepada orang lain.Representasi merupakan bagian penting dari proses di mana makna diproduksi, dandipertukarkan antara anggota suatu budaya. Ini melibatkan penggunaan bahasa,tanda-tanda, dan gambar yang berdiri untuk atau mewakili sesuatu”. Representasi inipenting untuk kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita memahami lingkungan kita dansatu sama lain. Pemahaman dihasilkan melalui campuran kompleks latar belakang,selera, kekhawatiran, pelatihan, kecenderungan, dan pengalaman, semua dibuat nyatabagi kita melalui prinsip-prinsip, dan proses representasi bahwa frame, dan mengaturpengalaman kami berada di dunia. Apa yang kita lihat adalah bukan apa yang ada,tapi apa tradisi sosial budaya, dan konteks melihat itu (Webb, 2009: 2).Iklan Djarum 76 juga menggunakan penandaan dalam produksi iklannya.Iklan Djarum 76 yang diproduksi dengan berbagai versi di dalamnyamerepresentasikan sosok orang Jawa. Orang Jawa diatur dalam pola pergaulannya dimana ada kaidah-kaidah yang harus diperhatikan. Hildred Greertz (dalam Magnis-Suseno, 1991: 38) mengatakan, “ada dua kaidah yang paling menentukan polapergaulan dalam masyarakat Jawa. Kaidah pertama disebut dengan rukun. Kaidahkedua disebut dengan prinsip hormat” Prinsip kerukunan tidak menyangkut suatusikap batin atau keadaan jiwa, melainkan penjagaan keselarasan dalam pergaulan.Yang perlu dicegah konflik-konflik yang terbuka. Ketentraman dalam masyarakatjangan sampai diganggu, jangan sampai nampak adanya perselisihan, danpertentangan. Oleh karena itu, Hildred Geertz menyebut keadaan rukun sebagaiharmonious social appearances. Mencegah terjadinya emosi-emosi yang bisamenimbulkan konflik atau sekurang-kurangnya dapat mencegah jangan sampaiemosi-emosi itu pecah secara terbuka (Magnis-Suseno, 1991: 40-41). Prinsip hormat,membawa diri sesuai dengan tuntutan-tuntutan tata krama sosial harus dilakukan.Mereka yang berkedudukan lebih tinggi harus diberi hormat. Sedangkan sikap yangtepat terhadap mereka yang berkedudukan lebih rendah adalah sikap kebapaan ataukeibuan, dan rasa tanggung jawab (Magnis-Suseno, 1991: 60-61).Orang Jawa memiliki watak nrima. Nrima adalah menerima segala sesuatudengan kesadaran tanpa merasa kecewa di belakang. Namun nrima tidak berartitanpa upaya gigih. Mereka tetap berpedoman jika masih ada hari, rezeki tentu ada,dan setiap orang yang mau bekerja tentu akan meraih rezeki (Endraswara, 2013: 35).Selain itu, orang Jawa dikenal memiliki sifat dermawan atau kanthong bolong.Kanthong bolong berarti memiliki sifat suka memberi. Kanthong bolong, kuncinyapada ikhlas, tulus, dan penuh perhatian (Endraswara, 2013: 51). Orang Jawa jugamempunyai karakteristik buruk yang biasa disebut dengan watak angkaramurka.Angkaramurka adalah watak yang didorong oleh keinginan, dan rasa ingin serba dariorang lain. Watak angkaramurka sering berbarengan dengan watak julig (licik) orangJawa (Endraswara, 2013: 37). Di setiap diri orang Jawa pun terdapat sifat sombong.Selalu merasa lebih dari orang lain, ingin dipuji, dan semua itu dilakukan untukmenaikan harga dirinya. Ungkapan umuk keblithuk, artinya yang sombong akancelaka (Endraswara, 2013: 101).2. Representasi dalam IklanIklan menurut Danesi (2009: 12), “Iklan berisikan pengumuman publik, promosi,dukungan, atau dukungan produk, layanan, bisnis, seseorang, suatu peristiwa, danlain-lain dalam rangka untuk menarik atau meningkatkan minat. Saat ini, iklan telahberubah menjadi bentuk dominan wacana sosial mempengaruhi gaya hidup,pandangan dunia, sistem ekonomi, politik, dan nilai-nilai bahkan tradisional, karenadirancang untuk menunjukkan bagaimana orang-orang terbaik yang bisa memenuhikebutuhan mereka dan mencapai tujuan mereka.” Iklan yang menampilkan gayahidup, trend, dan nilai-nilai sosial yang dianut oleh sebuah masyarakat dipercayadapat meningkatkan penjualan. Dengan cara seperti ini maka mengaburkan garisantara nilai guna produk dengan kesadaran sosial.Iklan merupakan suatu peralatan untuk membingkai ulang makna untukmenambah nilai komoditas (Goldman, 1994: 188). Tanda-tanda yang digunakaniklan merupakan praktek dari representasi. Representasi menggunakan bahasa agarbaik pengirim atau penerima memiliki pemahaman yang sama terhadap teks yangditampilkan. Bahasa yang mengandung tanda-tanda dalam suatu iklan yangmengakibatkan stereotip. Dengan bahasa yang digunakan iklan, iklan dapatmenunjukan dengan sengaja siapa, dan seperti apakah kita. Menurut Goddard (2001:62), “stereotipe bekerja pada tanda-tanda yang diberikan atas representasi sesuatudalam iklan”.E. Metoda Penelitian1. Tipe PenelitianTipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang mengacu pada pendekatansemiotika untuk mengungkap makna di balik tanda-tanda yang ditampilkan olehiklan yang dipilih peneliti. Penelitian ini menggunakan salah satu metode penelitiankualitatif yaitu studi analisis semiotika Roland Barthes dengan menggunakan teorirepresentasi Stuart Hall.2. Subyek PenelitianIklan Djarum 76 dengan berbagai versi yaitu versi Matre, versi Pingin Sugih, danGanteng, versi Jin Ketipu, versi Jin Takut Istri, versi Gayus, dan versi Jin Ketiduran.3. Jenis Data dan Sumber DataData Primer adalah data yang diperoleh langsung melalui pengamatan terhadapsubyek penelitian yaitu teks dan gambar audio visual dari iklan Djarum 76. DataSekunder, diperoleh dari pengumpulan data sekunder antara lain melalui berbagaibuku, jurnal atau pun literatur yang sesuai dengan tema penelitian ini.4. Teknik Analisis DataDidasarkan pada konsep The Codes of Television. The Codes of Television berartiperistiwa yang akan disiarkan telah dienkode oleh kode-kode sosial. Kode-kodetersebut terdiri dari beberapa level, sebagai berikut (Fiske, 1987: 4-5): level 1:“Reality”, level 2: “Representation”, level 3: “Ideology”.5. Unit AnalisisTampilan audio, video serta teks dalam iklan Djarum 76 dengan berbagai versi yaituversi Matre, versi Pingin Sugih dan Ganteng, versi Jin Ketipu, versi Jin Takut Istri,versi Gayus, dan versi Jin Ketiduran.PEMBAHASANA. HASIL PENELITIAN1. Aladdin Dengan Kepercayaan JawaJin yang keluar dari kendi, kemudian memberikan penawaran permintaan kepada“tuannya” (orang yang mengeluarkannya dari kendi), diadopsi dari budaya TimurTengah, yaitu kisah 1001 malam (Aladdin). Diadopsinya cerita Aladdin oleh iklan inidikarenakan, orang-orang Jawa juga mempercayai bahwa terdapat makhluk haluspenunggu suatu tempat yang dapat mengatasi masalah dalam hidupnya, danmenjadikan hidupnya menjadi lebih baik. Cerita Aladdin dalam iklan ini tidakdiadopsi secara penuh. Dalam iklan ini, tampilan jin diubah menjadi kejawaandengan mengenakan pakaian adat khas Jawa, memasukan karakteristik orang Jawa,dan lain sebagainya. Selain tampilan jin yang diubah, dalam iklan ini bentuk fisik,tempat di mana jin tersebut keluar juga diubah, dan cara mengeluarkan jin pundiubah. Jin tersebut dideskripsikan memang benar-benar memiliki perawakan sepertimanusia, yaitu tidak bertubuh raksasa, tidak seram, dan mempunyai bentuk fisikmanusia. Bentuk fisiknya sama seperti orang Jawa kebanyakan, yang tergolong rasmongoloid. Hal ini membuat jin dalam iklan ini dapat disebut dengan manusia,manusia yang merepresentasikan orang Jawa. Selain itu, identitas kejawaan jugadapat ditandai dalam penggunaan bahasa yang digunakan. Percakapan dalam iklanini banyak menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Jawa dengan dialek Jawa, danunggah-ungguh yang merupakan ciri orang Jawa. Dengan begitu, kita dapat melihatjati diri jin dalam iklan ini adalah orang Jawa karena bahasa tidak dapat dipisahkandari identitas pembicaranya.2. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi MatreKeadaan rukun tidak terwujud dalam iklan ini. Jin perempuan yang dapatdikategorikan dewasa sesuai dengan bentuk fisiknya, tidak mampu memprediksireaksi jin laki-laki dari pembicaraan yang dikeluarkannya, dan tingkah lakunya. Halini menyebabkan jin laki-laki mengambil sikap konfrontatif. Jin laki-laki jugaseharusnya tetap tenang, dan tidak menunjukan rasa kaget sehingga dirinyamenjalankan tuntutan yang dibebankan terhadap orang Jawa dewasa. Hawa nafsu jinperempuan akan harta disebut dengan serakah ataupun matre sesuai dengan watakangkaramurka yang dimiliki orang Jawa. Watak angkaramurka menyebabkankeserakahan yang menjadi-jadi pada jin perempuan. Jin perempuan tidak lagi mampumembungkus prakatanya dalam menyebutkan tuntutan-tuntutannya. Jin laki-lakiyang terpancing emosinya mengatakan berita yang tidak enak secara langsungkepada jin perempuan. Hal ini menyebabkan jin perempuan, dan laki-laki tidakmemiliki keutamaan yang sangat dihargai oleh orang Jawa.Keduanya dalam iklan ini berbicara, dan bertingkah laku sesuai dengankedudukan sosial. Kendi jin perempuan yang bergoyang terlebih dahulu sehinggamenyebabkan kendi keduanya terjatuh, dan mereka bisa terbebas dari dalam kendi.Oleh karena itu, jin perempuan menduduki hierarki sosial sebagai tuan. Dia memilikiderajat yang lebih tinggi, sehingga dia menggunakan tata krama ngoko ketikaberbicara. Jin laki-laki yang memiliki hierarki sosial lebih rendah, menghormati jinperempuan. Hal ini terlihat pada saat dia menawarkan permintaan, dia menggunakanunggah-ungguh Jawa, dan mempersilahkan dengan tata krama bahasa Jawa kramahalus. Pada saat jin perempuan menyebutkan permintaannya, terjadi perubahanhierarki sosial. Jin laki-laki menduduki hierarki sosial yang lebih tinggi dibandingkanjin perempuan. Hal ini membuat laki-laki tersebut bersikap sombong. Ketikaberbicara, jin laki-laki menggunakan ngoko, terlebih jin laki-laki kesal karena jinperempuan matre atau serakah. Permintaan-permintaan jin perempuan tidakdikabulkan oleh jin laki-laki. Hal tersebut mencerminkan falsafah atau sebutan orangJawa yang diungkapkan oleh Patria (2011) yaitu, inggah inggih ora kepanggih,dalam bahasa Indonesia berarti ya, ya tetapi tidak terlaksana.3. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi PinginSugih, dan GantengKeadaan rukun tidak terwujud dalam iklan ini. Jin tersebut memiliki karakter tidakmawas diri, sombong. Sifat sombongnya membuat dia tidak dapat mawas diri,sehingga dia tidak mampu melakukan self examination dengan baik. Jin tidakmencerminkan falsafah yen dijiwit lara aja njiwit, artinya jika dicubit sakit janganlahmencubit. Jin tidak dapat menjalankan tuntutan-tuntutan yang dituntut dari orangJawa dewasa. Sifat sombong yang mendominasi dalam dirinya membuat dirinya jugatidak memiliki keutamaan orang Jawa. Dalam iklan ini jin bertindak kasar dengancara memegang wajah laki-laki tersebut, dan langsung mengatakan hal yang tidakenak, dan juga berita buruk. Sifat sombongnya membuat dia tidak membungkusperkataannya.Perilaku, dan tutur kata jin sudah sesuai dengan kedudukan sosialnya. Jinyang memiliki hierarki sosial lebih rendah, menghormati laki-laki yangmengeluarkannya dari kendi. Laki-laki tersebut menduduki posisi sebagai tuan darijin tersebut. Layaknya tuan yang harus dihormati maka jin tersebut berperilakudengan unggah-ungguh Jawa, dan mempersilahkan dengan tata krama bahasa Jawa,yaitu krama halus. Namun, ketika laki-laki tersebut mengatakan permintaannyakepada jin terjadi perubahan hierarki sosial. Kedudukan hierarki sosial jin menjadilebih tinggi. Jin mulai bersikap sombong. Jin tersebut juga menggunakan padananngoko ketika menjawab permintaan dari tuannya. Permintaan kedua dari laki-lakitersebut dijawab dengan perkataan “ngimpiii”. Ngimpiii merupakan sinisme karenamuka laki-laki tersebut terlampau jelek sehingga permintaan ganteng untuk laki-lakiitu mustahil untuk dikabulkan. Kalau sudah jelek, jelek saja.Permintaan kedua dari laki-laki tersebut tidak dikabulkan oleh jin. Haltersebut mencerminkan falsafah orang Jawa yang diungkapkan oleh Patria (2011)yaitu, inggah inggih ora kepanggih. Jin yang tertawa setelah melihat lebih dekatwajah laki-laki tersebut, berkata “ngimpiii”, memberi penekanan bahwa itu adalahsuatu bentuk humor. Humor yang digunakan dalam iklan ini termasuk ke dalam teorihumor superioritas, dan meremehkan. Jin yang sedang berada dalam posisi super(hierarki sosialnya tinggi) menertawakan laki-laki yang merasa terhina, dandiremehkan. Jin tertawa karena di laki-laki di depannya saat dilihat dengan jelasternyata sangat jelek, jeleknya di luar kebiasaan.4. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi JinKetipuTindak-tanduk jin dalam iklan ini tidak mencerminkan tuntutan rukun. Watakangkaramurka yang mendominasi jin tersebut yang menyebabkan jin untuk tidakmau kalah dari lawannya. Hal tersebut karena diri jin juga didominasi oleh karaktersombong. Ungkapan umuk keblithuk terjadi pada iklan ini. Sifat sombong danangkaramurkanya dimanfaatkan oleh kedua laki-laki untuk memancing jin agar jinmemberikan penawaran lebih sesuai yang diinginkan oleh kedua laki-laki tersebut.Jin dalam berbicara, dan bertingkah laku sudah sesuai dengan derajatkedudukannya. Jin yang memiliki hierarki sosial lebih rendah, menghormati laki-lakiyang mengeluarkannya dari kendi. Laki-laki tersebut menduduki posisi sebagai tuandari jin tersebut. Layaknya tuan yang harus dihormati maka jin tersebut berperilakudengan unggah-ungguh Jawa, jin dibuat kesal dengan tingkah laku sosok yang miripdengan dirinya dari seberang. Jin yang kesal menggunakan padanan ngoko.Penggunakan padanan ngoko juga karena perubahan hierarki sosial. Laki-laki dansosok yang serupa dengan jin tersebut telah menduduki hierarki sosial yang lebihrendah daripada jin tersebut karena dianggap sebagai penipu.5. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi JinTakut IstriPerilaku jin perempuan mengganggu keselaran, dan ketenangan. Keduanya tidakdapat menjaga emosinya sehingga perselisihan, dan pertentangan di antara keduanyanampak kepermukaan, terlebih lagi disaksikan oleh laki-laki di depannya, sehinggaharmonious social appearances dapat terwujud. Hal di atas juga membuat jinperempuan, dan jin laki-laki tidak memiliki tuntutan rukun yang dituntut kepadaorang Jawa dewasa. Jin perempuan tidak membungkus perilakunya menjadi lebihsopan sehingga nampak kasar. Hal itu membuat dia tidak memiliki keutamaan orangJawa. Dalam iklan ini jin laki-laki memiliki suatu keutamaan yang dimiliki orangJawa yaitu suatu permintaan tidak langsung ditolak dan dijawab dengan inggih yangsopan.Perilaku, dan tutur kata jin sudah sesuai dengan kedudukan sosialnya. Dalamiklan ini hanya jin laki-laki yang berbicara, hal ini sesuai dengan konstruksi sosial dimasyarakat jika laki-laki yang selalu menjadi pemimpin dalam hal apa pun, danmempunyai kekuatan lebih besar. Namun, pada saat mempersilahkan laki-lakimenyebutkan satu permintaannya, jin tersebut tidak mempersilahkan dengan tatakrama krama halus, dan tidak membungkukkan badan, karena jin sudah merasacukup menghormati tuannya dengan perilakunya yang mencerminkan kesopananJawa. Sifat sombong yang mendasar pada dirinya membuat dia merasa gengsi untukmerendahkan diri lebih rendah karena di sampingnya terdapat jin perempuan.Perubahan hierarki sosial yang terjadi saat laki-laki tersebut menyebutkanpermintaannya menyebabkan jin tersebut menggunakan tata krama ngoko. Tatakrama ngoko yang digunakan jin dalam mengatakan, “sorry yo, aku yo weddi”merupakan bahasa tandingan dari laki-laki karena laki-laki tersebut menyebut bebiuntuk panggilan pacarnya. Hal tersebut untuk menaikan harga dirinya dihadapan jinperempuan. Permintaan dari laki-laki tersebut tidak dikabulkan olehnya. Hal tersebutmencerminkan falsafah orang Jawa yang diungkapkan oleh Patria (2011) yaitu,inggah inggih ora kepanggih.6. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi GayusKeadaan rukun tidak terwujud dalam iklan ini. Terlebih lagi sikap dan tutur katanyaketika menjawab permintan dari laki-laki tersebut, menjawab dengan kelicikan, dankesombongan. Hawa nafsu membuatnya tidak dapat membungkus kata-kata.Perilaku dan tutur kata jin tersebut tidak mencerminkan tuntutan yang dituntutkepada orang Jawa dewasa, dan keutamaan yang dimiliki oleh orang Jawa. Jin dalamiklan ini sudah bertingkah laku, dan bertutur kata sesuai dengan kedudukan sosialmereka di masyarakat. Jin yang baru keluar dari kendi menduduki hierarki sosialyang lebih rendah dibandingkan laki-laki yang berada di depannya. Laki-laki tersebutmenjadi tuan dari jin tersebut, karena laki-laki tersebut sudah mengeluarkan jin daridalam kendi. Rasa hormat terhadap tuannya membuat jin menggunakan tata kramakrama halus sewaktu mempersilahkan laki-laki tersebut menyebutkanpermintaannya.Ketika laki-laki tersebut mengatakan permintaannya kepada jin terjadiperubahan hierarki sosial. Jin yang merasa derajatnya sekarang lebih tinggidibandingkan laki-laki itu, mulai bersikap sombong. Jin tersebut juga menggunakanbahasa ngoko. Permintaan kedua dari laki-laki tersebut dijawab dengan perkataan“wani piro”. Wani piro berarti bayar berapa. Jin tersebut dapat mengabulkanpermintaan laki-laki jika laki-laki itu dapat membayarnya. Hal ini menggambarkankorupsi dapat dihilangkan dengan korupsi kembali. Menyiratkan bahwa tidakmanusia Jawa, dan jin Jawa sama-sama melakukan korupsi untuk mempermudah,dan mempercepat segala urusan. Sifat jin ini mencerminkan sifat angkaramurka yangdimiliki oleh orang Jawa. Watak angkaramurkanya dibarengi dengan sifat julig(licik). Permintaan laki-laki tersebut tidak dikabulkan, hal ini mencerminkan falsafahatau sebutan orang Jawa yang diungkapkan oleh Patria (2011) yaitu, inggah inggihora kepanggih.7. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi JinKetiduranJin yang tertidur saat kerja mengganggu keselarasan, dan ketenangan yang sudahada. Karakter malas ini sangat bertolak belakang dengan karakter orang Jawa yangidentik dengan kerja keras. Orang Jawa yang kerja keras sampai dengan usahamaksimalnya, sehingga orang Jawa dapat mensyukuri hasil kerja kerasnya tersebuttanpa mengeluh. Hal ini mencerminkan watak nrima. Orang Jawa berfikiranbagaimana dia mau meraih rezeki yang cukup jika dia bersifat malas. Jin yangterkejut karena bangun dengan cara dikagetkan membuat sikapnya menjadi tidaktenang, gugup, dan bingung. Jin tidak berlaku sesuai dengan tuntutan rukun yangdibebankan kepada orang Jawa dewasa.PENUTUPA. KESIMPULANReresentasi jin perempuan dalam iklan ini adalah sebagai berikut: perilaku, dan tuturkatanya merusak kerukunan, tidak menjalankan tuntutan rukun yang dibebankanterhadapnya sebagai orang Jawa dewasa, tidak memiliki keutamaan yang sangatdihargai oleh orang Jawa, memiliki sifat matre atau serakah sebagai cerminan watakangkaramurka, emosional, bertingkah laku sesuai dengan kedudukan social, sosokyang agung, wibawa, dan dominan. Representasi jin laki-laki dalam iklan ini adalahsebgai berikut: perilaku dan tutur katanya merusak kerukunan, tidak menjalankantuntutan rukun yang dibebankan kepadanya sebagai orang Jawa dewasa, tidakmemiliki keutamaan yang sangat dihargai oleh orang Jawa, bersifat sombong,mencerminkan falsafah Jawa, ya, ya tetapi tidak terlaksana, tidak mawas dirisehingga tidak dapat melakukan self examination, dan tidak mencerminkan falsafahJawa (jika dicubit sakit janganlah mencubit), memandang rendah sesuatu di luarkebiasaan, misalnya laki-laki jelek pada iklan Djarum 76 versi Pingin Sugih, danGanteng, mencerminkan teori humor superioritas dan meremehkan, bersifatangkaramurka yang dibarengi dengan ungkapan umuk keblithuk, licik (julig),pemalas, tidak mencerminkan watak nrima, perilaku dan tutur katanya sesuai dengankedudukan sosialnya di masyarakat, sosok yang agung, berwibawa, dan dominan.Representasi jin Jawa dalam iklan Djarum 76 berlawanan dengan stereotip, danterjadi demitologi, yaitu meninggalkan hal-hal yang bersifat mitologi, representasiorang Jawa tidak sesuai dengan mitos yang ada di masyarakat.B. DISKUSIPenelitian selanjutnya dapat meneliti kebahasaan yang ditampilkan dalam iklan ini,sehingga peneliti selanjutnya dapat memahami apa yang ingin disampaikanpengiklan melalui representasi bahasa dalam iklan Djarum 76.DAFTAR PUSTAKAAnderson, Sandra, Heather Bateman, Emma Harris dan Katy McAddam. 2006.Dictionary of Media Studies. London: A & C Black.Barker, Chris. 2004. SAGE Dictionary of Cultural Studies. London: SAGEPublication Ltd.Baskoro, Haryadi dan Sudomo Sunaryo, 2010. Catatan Perjalanan KeistimewaanYogya: Merunut Sejarah, Mencermati Perubahan, Menggagas Masa Depan.Pustaka Pelajar: Yogyakarta.Chandler, Daniel. 2007. Semiotics The Basics. London: Routledge.Danesi, Marcel. 2009. Dictionary of Media and Communications. London: M. E.Sharpe.Danesi, Marcel. Pesan, Tanda, dan Makna : Buku Teks Dasar Mengenai Semiotikadan Teori Komunikasi. Terjemahan Evi Setyarini, dan Lusi Lian Piantari.Yogyakarta: Jalasutra, 2004.Endraswara, Suwardi. 2013. Ilmu Jiwa Jawa: Etika dan Citarasa Jiwa Jawa.Penerbit Narasi: Yogyakarta.Fiske, John. 1987. Television Culture. London: Routledge.Fletcher, Winston. 2010. Advertising a Very Short Introduction. New York: OxfordUniversity Press.Odih, Pamela. 2007. Advertising in Modern and PostmodernTimes. London: SAGE Publications Ltd.Goldman, 1994.Geertz, Clifford. 2013. Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi dalam KebudayaanJawa. Jakarta: Komunitas BambuGoddard, Angela. 2001. The Language of Advertising. London: Routledge.Hall, Stuart dkk. 1980. Culture, Media Language. London: RoutledgeHall, Stuart. 1997. Representation. London: SAGE Publication Ltd.Kothari, R. C.. 2004. Research Methodology. New Delhi: New Age InternationalLtd.Magnis-Suseno, Franz. 1991. Etika Jawa. Jakarta: PT GramediaMartin, Bronwen dan Felizitas Ringham,. 2000. Dictionary of Semiotics. London:Cassel.Moleong, J. Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT RemajaRosdakarya.Mulyana, Deddy. 1997. Bercinta dengan Televisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Neuman, Lawrence W.. 2007. Basic of Social Research. Amerika: PearsonEducation.Rosidi, Ajip. 1977. Roro Mendut. PT Gunung Agung: JakartaSamovar, Larry A., Porter E Richard dan McDaniel Edwin R.. 2010.Communication between Culture. USA: Wadsworth.Santosa, Budhi Imam. 2012. Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup.Manasuka: Yogyakarta.Suwondo, Bambang. 1978. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah IstimewaYogyakarta. Balai Pustaka: JakartaWebb, Jen. 2009. Understanding Representation. London: SAGE Publication Ltd.Winarno, Bondan. 2008. Rumah Iklan. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.Nor, Russin Mariani Md., Sufean. 2004. Dasar Warga Sihat: Isu Psikologi FaktorRemaja Sekolah Merokok. http://www.scribd.com/doc/19784071/faktorremaja-merokok. Universitas Malaya. Diunduh 12 April 2013. Pukul 20. 35WIB.Patria, Asidigisianti Surya. 2 September 2011. Iklan Djarum 76 Tema Jin: KajianStruktur Dan Makna.asidigisiantipatria.cv.unesa.ac.id/bank/.../IklanDJARUM76_97-110__.pdf.Diunduh 5 Oktober 2013. Pukul 18. 48 WIB.Rahmanadji, Didiek. 2 Agustus 2007. Sejarah, Teori, Jenis, Dan Fungsi Humor.http://sastra.um.ac.id/wp-content/uploads/2009/10/Sejarah-Teori-Jenis-dan-Fungsi-Humor.pdf. Diunduh 23 November 2013. Pukul 19.28 WIB.Tanudjaja, Bing Bedjo. Kreativitas Pembuatan Iklan Produk Rokok Di Indonesia.Januari 2002. http://dgi-indonesia.com/wpcontent/uploads/2009/05/dkv02040108.pdf. Diunduh 13 Juli 2013.Universitas Kristen Petra. Pukul 07.05 WIB.Utama, Anggi Adhitya. 2012. Representasi Budaya Korupsi Dalam Iklan RokokDjarum 76 Versi Korupsi, Pungli dan Sogokan Di Media Televisi.jurnal.unpad.ac.id ejournal article download 1163 pdf . UniversitasPadjajaran. Diunduh 14 Juli 2013. Pukul 13.33 WIB.A., NURUL U. CHARISNA. 30 December 2012. Analisis Iklan DJARUM 76 dalamSemiotika Roland Barthes. http://nurul-u-c-fib09.web.unair.ac.id/. Diunduh14 Juli 2013. Pukul 12. 47 WIB.Aditya, Ivan. 9 Juli 2013. Antara Ritual dan Seks di Makam Roro Mendut.http://krjogja.com/read/179509/antara-ritual-dan-seks-di-makam-roromendut.kr. 20 Juli 2013. Diunduh 20 Juli 2013. Pukul 20. 19 WIB.Ahmeedalle. 29 November 2012. Aladdin Sinopsis.http://ahmeedalle.wordpress.com/2012/11/29/aladin-sinopsis/. Diunduh 18November 2013. Pukul 19.30 WIB.Ando, Cress. 2 Maret 2013. RORO JONGGRANG - LEGENDA CANDIPRAMBANAN (Cerita dari Jawa Tengah).https://www.facebook.com/notes/cress-ando/roro-jonggrang-legenda-candiprambanan-cerita-dari-jawa-tengah/429237253817823. Diunduh 19 Juli2013. Pukul 21.30 WIB.Anita. 30 Mei 2013 18:07 WIB. Komnas PA Desak Larangan Iklan Rokok.http://nasional.tvonenews.tv/berita/view/70846/2013/05/30/komnas_pa_desak_larangan_iklan_rokok.tvOne. Diunduh 13 Juli 2013. Pukul 06. 35 WIB.Asih, Reni. 25 November 2010. Sejarah vw combi camper.http://reninyip.blogspot.com/. Diunduh 19 Juli 2013. Pukul 22. 42 WIB.Bella, Aisah. 13 Maret 2013. Kisah Roro Mendut.http://mediaroromendot.blogspot.com/2012/03/kisah-roro-mendut.html.Diunduh 19 Juli 2013. Pukul 21.17 WIB.Diputra, Oka Jaya Made. 2012. Tiga Perusahaan Rokok Terbesar Di Indonesia.http://dablugen.blogspot.com/2012/04/3-perusahaan-rokok-terbesar-di.html.Diunduh 14 April 2013. Pukul 19. 55 WIB.Fitriya, Fahruddin. 22 April 2011. Manfaat Merokok Bagi Manusia.http://www.inouvetra.blogspot.com/2011/04/manfaat-rokok-bagimanusia.html?m=1.. Diunduh 19 Juli 2013. Pukul19. 43 WIB.http://www.djarum.com/index.php/en/brands/domestic/4. Diunduh 30 Mei 2013.Pukul 7.30 WIB.http://www.jogjakota.go.id/index/extra.detail/21, Sejarah Kota Yogyakarta. Diunduh21 Juli 2013. Pukul 20.07 WIB.Ifam. 19 Mei 2013. Menikmati Hidup Dengan “Ngudud”.http://berdiriberlari.blogspot.com/2013/05/menikmati-hidup-denganngudud.html. Diunduh 31 Mei 2013. Pukul 18.42 WIB.Ito. 9 Januari 2013. Tingwe, Bukan Sekedar Udud.http://sosbud.kompasiana.com/2013/01/09/ngudud-tingwe-516656.html.Diunduh 1 Juni 2013. Pukul 08.56 WIB.Labib, Zainul. 22 Novemer 2013. Macam-macam Ras Yang Ada Di Dunia.http://zain-corp.blogspot.com/2013/11/macam-macam-ras-yang-ada-didunia.html. Diunduh 22 November 2013. Pukul 21.00 WIBLynette. 12 Desember 2001. A Brief History of the VW Type II Bus, Edited by SillyWilly. http://www.bbc.co.uk/dna/ptop/plain/A649181. Diunduh 19 Juli 2013.Pukul 22.18 WIBMuhammad Yusuf. 2012. Televisi Menuju Online.http://inet.detik.com/read/2012/09/10/095558/2013074/398/televisi-menujuonline.Diunduh, Rabu 24 April 2013. Pukul 7. 47 WIB.Ninaa. 4 April 2012. Sinopsis Tentang Cerita Aladdin dan Lampu Ajaib.http://nseptianii.blogspot.com/2012/04/sinopsis-tentang-cerita-aladindan.html. Diunduh 18 November 2013. Pukul 19. 35 WIB.Rahinanugrahani. 16 April 2013. Citra Wanita Dalam Media Promosi Rokok DiIndonesia Tahun 1930-an.http://rahinanugrahani.blogspot.com/2013/04/citra-wanita-dalam-mediapromosi-rokok.html. Diunduh 12 Juli 2013. Pukul 09. 54 WIB.Robin. 20 April 2011. Buruh pabrik rokok PT Gudang Garam pulang kerja denganmengendarai sepeda di Kediri, Jawa Timur, 1989.http://store.tempo.co/foto/detail/P2004201100269/buruh-pabrik-rokok-ptgudang-garam-kediri. Diunduh 19 Juli 2013. Pukul 20. 30 WIB.Tia. 3 Maret 2005. Aladdin & Lampu Ajaib.http://dongeng1001malam.blogspot.com/2005/03/aladin-lampu-ajaib.html.Diunduh 18 November 2013. Pukul 20.00 WIB.Wibiono. 6 Oktober 2012. MaknaDan Filosofi Pakaian Adat Jawa Tengah: KebayaKartinian Dan Kain Jarik Batik.http://duniasosbud.blogspot.com/2012/10/makna-dan-filosofi-pakaian-adatjawa_6.html. Diunduh 2 Oktober 2013. Pukul 09.21 WIB.Widyastuti, Dhyah Ayu Retno. 29 mei 2012. Gerakan Anti Rokok Vs Iklan Rokok.http://fisip.uajy.ac.id/2012/05/30/gerakan-anti-rokok-vs-iklan-rokok/.Diunduh 12 Juli 2013. Pukul 10. 00 WIB.www.autolite.com. VW Combi. Diunduh 19 Juli 2013. Pukul 23.30 WIB.www.pustaka-kampar.com. Kegunaan Rokok. 22 Oktober 2012. Diunduh 1Sepetember 2013. Pukul 12.48 WIB.www.youtubedownloader.com. Iklan Djarum 76 Tahun 2007-2012. Diunduh 1 April2013. Pukul 05. 15 WIB.
Penaatan Kode Etik di Kalangan Jurnalis Peliput Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Setelah Penghapusan Amplop Jurnalis Choirul Ulil Albab; Adi Nugroho; Taufik Suprihartini; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.58 KB)

Abstract

Seorang jurnalis dituntut tetap netral dan independen dari pihak mana pun. Ganjar Pranowo setelah terpilih sebagai Gubernur Jawa Tengah, pada Oktober 2013 memberlakukan kebijakan penghapusan amplop untuk jurnalis. Banyak pro dan kontra atas kebijakan ini. Biasanya, Humas Pemprov Jateng membagikan amplop berisi Rp 150.00,00 kepada jurnalis yang meliput kegiatan Pemprov.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai penaatan Kode Etik di kalangan jurnalis Pemprov Jawa Tengah setelah penghapusan amplop untuk jurnalis. Teori-teori yang digunakan untuk mendukung penelitian ini diantaranya adalah Teori Pemberian Hadiah (Mauss: 2002), Sembilan Elemen Jurnalistik (Kovach: 2001), dan Teori-Teori Etika. Metode penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Kualitatif. Peneliti akan menggambarkan hasil penelitian di lapangan secara utuh. Peneliti memilih Kepala Biro Humas Pemprov Jateng, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, pengurus organisasi kewartawanan (PWI, AJI, dan IJTI), dan Jurnalis yang bertugas di Pemprov Jateng sebagai narasumber.Hasilnya, jurnalis di Jawa Tengah sebagian besar jurnalis menaati Kode Etik Jurnalistik, tidak ada perubahan dalam mekanisme kerja mereka. Beberapa kesalahan sempat dilakukan oleh jurnalis pemula seperti kesalahan verifikasi data dan cover both sides, karena jam terbang yang masih rendah. Kebijakan ini justru berdampak membuat hubungan antarjurnalis memburuk, muncul pengotak-kotakan di kalangan jurnalis. Terbukti dari munculnya sebutan jurnalis ring satu, ring dua, dan seterusnya. Kode Etik Jurnalistik wajib ditaati, namun semua pengurus organisasi kewartawanan tidak bisa menjamin anggotanya sudah memahami dan menaati isi dari kode etik. Konsistensi dari Ganjar Pranowo masih banyak dipertanyakan, pasalnya masih ada praktik amplop setelah kebijakan penghapusan amplop ini diberlakukan.
Persepakbolaan Indonesia dalam Kartun (Analisis Semiotika Editorial Cartoon Tabloid Bola) SANDY ALLIFIANSYAH D2C009024 JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013 Sandy Allifiansyah; Triyono Lukmantoro; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.651 KB)

Abstract

ABSTRACTName : Sandy AllifiansyahNIM : D2C009024Title : Indonesian Football Affairs in Cartoons (Semiotic Analysisof Editorial Cartoons in Tabloid Bola)Editorial Cartoons has a unique position in mass media. As a pictoral editorial, itcan stimulate the readers to see and represent it. In journalism, editorial cartoonwere also known as political cartoon. This term based on the politics issues thatoften represented in editorial cartoons of several mass media. In Indonesia someeditorial cartoon were also appear with a strong aspect of politics and policy.Neverthelss, Bola has a special theme of their editorial cartoons. The editorsalways represent the issue of the national sport affairs in their editorial cartoons,especially football issues.Indonesian football affairs in 2012 became the main focus in this research.This consideration based on the situation of Indonesian football affairs in 2012intself. As the the most popular sport in Indonesia, football has became themedium to get a power and interest. Beside that, football also became the favoriteentertainment for society and the people needs in Indonesia.This research used several theory for the basic ideas to reveal and examinehow editorial cartoons in Bola represented The Indonesia football affairs in 2012.Several theories used in this research are the representation by Stuart Hall, EllisCashmore notable ideas about sport and values, and the way Seno GumiraAjidarma thoughts about editorial cartoon from humorous and critical side. Alleditorial cartoons in this research are examined by semiotic approach from RolandBarthes and Saussure with syntagmatic, paradigmatic and the aspect of denotationand conotation. This semiotic approach used to understand how the Indonesianfootball affairs were represented in editorial cartoons of Bola in the 2012. Thisresearch reveals that Bola’s editorial cartoons represented the delapidatedconditions of Indonesian football affairs. Neverthless, this editorial cartoons alsogave the support for Indonesian national team and represented how the societymeans football in their everyday life.Keywods : representation, cartoons, editorial, humor, sportABSTRAKSINama : Sandy AllifiansyahNIM : D2C009024Judul : Persepakbolaan Indonesia dalam Kartun (Analisis SemiotikaEditorial Cartoon Tabloid Bola)Editorial Cartoon dalam media massa cetak memiliki posisi yang unik. Posisinyasebagai sebuah tajuk rencana dalam bentuk gambar, menjadi rangsangan bagimasyarakat untuk melihat dan merepresentasikannya. Istilah editorial cartoonsering pula disebut sebagai political cartoon. Di Indonesia, beberapa editorialcartoon juga hadir dalam balutan unsur politik yang kuat. Namun, tabloid Bolamemiliki ciri khasnya tersendiri dalam menyajikan editorial cartoon mereka.Konsistensi redaksi untuk selalu menghadirkan situasi keolahragaan, khususnyapersepakbolaan di Indonesia, menjadi keunikan yang tidak dimiliki media massaolah raga lain di Indonesia.Persepakbolaan Indonesia pada tahun 2012 menjadi fokus dalam penelitianini dengan pertimbangan bahwa situasi persepakbolaan nasional sepanjang tahuntersebut terjadi pergolakan kepentingan dalam tubuh kepengurusan dan prestasitimnas Indonesia. Beberapa teori yang berkaitan dengan representasi, humor, danolah raga, digunakan untuk menjelaskan bagaimana sebuah editorial cartoon Bolamerepresentasikan situasi persepakbolan Indonesia di tahun 2012. Teori-teoritersebut adalah teori representasi dari Stuart Hall, teori dari Ellis Cashmoretentang olah raga, pemikiran dari Seno Gumira Ajidarma tentang editorialcartoon yang dikaji dengan menggunakan pendekatan semiotika yang mengambilinspirasi dari pemikiran-pemikiran dari Roland Barthes dan Saussure tentangporos sintagmatik, paradigmatik dan aspek denotasi serta konotasi.Penelitian ini menunjukkan bahwa Bola melalui editorial cartoonnyamerepresentasikan buruknya situasi persepakbolaan Indonesia di tahun 2012,yang direpresentasikan lewat hadirnya dualisme kepemimpinan, dualisme timnasional, bentrokan suporter, dan anjloknya posisi Indonesia pada rangking FIFA.Meskipun demikian, editorial cartoon Bola tetap memberikan ruang untukmendukung timnas di laga-laga internasional. Selain itu editorial cartoon Bolajuga merepresentasikan bagaimana masyarakat Indonesia memaknai sepak boladalam kehidupan sehari-hari mereka.Kata kunci : representasi, kartun, editorial, humor, olah ragaJURNALPersepakbolaan Indonesia dalam Kartun(Analisis Semiotika Editorial Cartoon Tabloid Bola)PENDAHULUANTabloid Bola adalah salah satu tabloid olah raga di Indonesia yang sangat populer.Semenjak pertama kali tampil sebagai sisipan di harian Kompas, tabloid Bolahingga kini tetap mendapat tempat khusus di hati para penikmat dan pemerhatiolah raga di Indonesia. Salah satu indikasinya adalah konsistennya Bola dalammemberitakan kejadian dan berita seputar olah raga di Indonesia bahkan dibelahan dunia.Bola mempunyai sebuah editorial cartoon atau yang mereka sebutsebagai kartun opini. Kartun editorial ini mempunyai posisi yang unik karenaselalu merepresentasikan kondisi keolahragaan di Indonesia, terutama sepak bola.Kartun ini juga memuat Si Gundul sebagai maskot Bola. Pada edisi Bola pada hariSenin dan Kamis di tahun 2012, kartun Si Gundul muncul dua kali dalam duarubrik, yakni rubrik Forum Pembaca dan rubrik Kartun “Sepakbolaria” atau “SiGundul”. Dalam dua kali kemunculannya tersebut, Si Gundul hadir dalam duatampilan yang berbeda, pada rubrik Forum Pembaca, Si Gundul secara eksplisitmenghadirkan permasalahan mengenai pengelolaan dan kondisi olah raga diIndonesia. Sedangkan pada rubrik Kartun “Sepakbolaria” dan “Si Gundul”, kartunini hadir dalam sajian yang netral dan hanya menghadirkan humor-humor khasolah raga.Sosok Si Gundul yang kerap muncul dalam kartun opini di rubrik ForumPembaca Bola setiap Senin dan Kamis di tahun 2012, ternyata tidak hanyamenyuguhkan humor dan lelucon saja, melainkan juga merepresentasikan sebuahkondisi keolahragaan di Indonesia di tahun 2012, khususnya dalam bidang sepakbola, semisal konflik kepengurusan PSSI serta prestasi timnas Indonesia diberbagai ajang internasional. Bagaimanakah situasi persepakbolaan di Indonesiadirepresentasikan dalam kartun opini yang terdapat dalam rubrik Forum Pembacatabloid Bola di tahun 2012?Penelitian diharapkan dapat menambah dan mengembangkan kajianhumor dalam teori komunikasi yang implementasinya tidak hanya sebatas padaaspek politik, tetapi juga merambah pada aspek lain, yakni olah raga. Penelitianini mengambil pemikiran-pemikiran tentang representasi dari Stuart Hall, teorihumor dari Ermida yaitu ketidakbernalaran, penghinaan/superioritas, dan release.Ada pula teori-teori tentang olah raga dari Ellis Cashmore yang memandang olahraga dari berbagai pemikiran seperti Weberian, Marxis dan lain sebagainya.Penelitian ini menggunakan analisis semiotika yang melibatkan porossintagmatik, paradigmatik, dan aspek-aspek seperti denotasi dan konotasi untukmengungkap pesan tersembunyi dari editorial cartoon tersebut yang nantinya bisamenunjukkan posisi Bola terkait situasi persepakbolaan di Indonesia pada tahun2012.Penelitian ini membagi editorial cartoon Bola ke dalam dua sisi, yaknisatire dan support. Dari sisi satire, kartun ini dibagi ke dalam tujuh tema, yakniKonflik PSSI dan KPSI, ancaman sanksi FIFA, dualisme timnas, politisasi timnas,rekonsiliasi, campang-campingnya kondisi timnas dan prestasi timnas yangmencapai titik nadir di kancah internasional. Namun, editorial cartoon Bola tidakselamanya memberikan kritik dan evaluasi terhadap kondisi persepakbolaan diIndonesia selama tahun 2012. Unsur support juga dihadirkan saat timnasIndonesia berlaga di kancah internasional. Perhelatan piala AFF 2012 menjadifokus utama editorial cartonn Bola dalam menghimpun dukungan bagi timnasIndonesia. Selain itu, Bola juga menyajikan editorial cartoon yangmerepresentasikan kondisi masyarakat Indonesia dalam memaknai tayangansepak bola dan menggunakannya sebagai candu atas kesakitan sosial yang ada disekitar mereka. Pada penelitian ini, aspek tersebut disebut soccer and society.ISIPenelitian ini terbagai ke dalam dua bab pembahasan yang membahas editorialcartoon Bola dari dua sisi tersebut. Dari sisi satire dapat diketahui bahwa posisiBola mengenai konflik yang mendera persepkabolaan Indonesia di tahun 2012adalah sebagai berikut :1.Konflik PSSI dan KPSI : Bola memposisikan diri sebagai pihak yangmenyerukan persatuan dan penyelesaian konflik. Pada isu ini, Bola tidak memihakpada satu kubu, dan lebih menekankan pada percepatan penyelesaian konflik. Takjarang pula Bola menggunakan pendapat tokoh dan perayaan hari besar nasionalsebagai sarana introspeksi penyelesaian konflik.2. Rekonsiliasi : Rekonsiliasi bagi tabloid Bola hanyalah khayalan. Pada isurekonsiliasi ini, Bola tampak realistis, dan sangat mengacu pada kenyataan bahwasampai akhir tahun 2012 pun, rekonsiliasi belum juga tercapai. Hal yang menariktersaji pada kartun opini tanggal 13 Februari 2012. Pada kartun tersebut, Bolamenempatkan pihak KPSI sebagai pengacau terciptanya rekonsiliasi.3. Ancaman Sanksi FIFA : Secara keseluruhan kartun opini Bolamenempatkan diri sebagai wake up call atau pengingat bagi PSSI akan dekatnyasanksi dari FIFA. Mengingat pada tahun 2012, persepakbolaan Indonesia selaluditeror oleh deadline penyelesaian konflik oleh FIFA. Atas dari itulah kartun opiniBola selalu menjadi pengingat akan datangnya sanksi tersebut. Tujuannya agarkepengurusan PSSI peka terhadap ancaman tersebut.4. Politisasi di Tubuh PSSI : Pada kasus ini Bola memberikan kritikterhadap campur tangan Partai Demokrat dalam realisasi dana untuk timnasIndonesia. Hal tersebut juga ditunjukkan Bola saat terpilihnya Ramadhan Pohansebagai manajer timnas, sekaligus menjadi ketidaksetujuan Bola akan adanyapolitisasi di tubuh timnas Indonesia.5. Dualisme Timnas Indonesia : FIFA adalah organiasi tertinggi yangmempunyai hak mutlak untuk menentukan legalitas sebuah timnas untukmengikuti turnamen Internasional. Saat FIFA memutuskan bahwa timnas PSSIadalah timnas Indonesia yang legal dan berhak mengikuti Piala AFF 2012, makaBola juga memposisikan diri mereka sebagi media yang berdiri di atas legalitasFIFA. Bahkan pada kartun opini tanggal 18 Oktober 2012, Bola dengan tegasmengatakan bahwa timnas Indonesia bentukan KPSI adalah ilegal.6. Compang-campingnya Timnas Indonesia di Laga Internasional : Bolarealistis memandang kondisi compang-campingnya timnas di laga-lagainternasional, di antarnya saat partai persahabatan dan Pra Piala Asia. Sudutpandang Bola terhadap kondisi compang-campingnya timnas ini tampak padakartun opini tanggal 5 Juli 2012. Pada kartun tersebut Bola secara ekplisitmenunjukkan bahwa penyebab dari kondisi ini adalah buruknya kepengurusanPSSI, dan berimbas pada timnas Indonesia yang menjadi tumbal perselisihan.7. Prestasi Timnas Indonesia : Pada isu ini, Bola membandingakan posisitimnas Indonesia pada rangking FIFA dengan gelar akademik ketua umum PSSI.Selain itu, Bola juga membandingakan prestasi sepak bola Indonesia dengan juaraPiala Afrika 2012, Zambia, yang mempunyai penduduk lebih sedikit dantergolong negara miskin. Ada pula sindiran Bola akan rentetan hasil buruk timnasdi laga internasioanl, di antaranya kekalahan 0-10 melawan Bahrain, 0-6 melawanMalaysia Selection, dan 0-5 melawan Yordania.. Hal ini menunjukkan bahwaBola menempatkan kartun opini mereka sebagai satire sekaligus penggugahprestasi persepakbolaan nasional.Sementara itu dari sisi support atau soccer and society, Bolamerepresentasikan kondisi tersebut dalam pokok pembahasan sebagai berikut :8. Kontroversi Format dan Pendanaan Liga Indonesia : Editorial cartoonBola melauimenyotot keputusan Djohar Arifin sebagai ketua umum PSSI yangtidak segera menyatukan liga, dan malah mempertahankan format liga yangsebelumnya bermasalah di era kepemimpinan Nurdin Halid. Pendanaan liga jugadisorot oleh Bola dengan memberikan perhatian pada minimnya dana dansalahnya pengelolaan dari PT LPIS sebagai lembaga pengelola. Bahkan Bolamenunjukkan keprihatinannya terhadap tiga pemain asing Persipro Probolinggoyang terpakasa mengemis di jalanan demi menyambung hidup, sebagai akibat daritidak dibayarnya gaji mereka secaar penuh oleh pihak klub.9. Vandalisme Suporter Tanah Air : Isu ini direpresentasikan Bola denganwujud keprihatinan, tercatat dua kartun yang mengangkat demi ini munculberturut-turut dalam dalam kurun waktu seminggu. Peristiwa bentrokan suporteryang memilukan hingga merenggut korban jiwa tersebut terjadi saat partai Persijamelawan Persib di Gelora Bung Karno. Bola menjadikan tragedi ini sebagairangkaian permasalahan sepak bola nasional di tahun 2012 selain lain dualismeliga, dualisme kepemimpinan dan sanksi FIFA. Akumulasi masalah tersebutsemakin menambah runyam lingkaran setan persepakbolaan nasional di tahun2012.10. Tayangan Sepak Bola Adalah Candu Masyarat Indonesia : Bola ternyatamemiliki cara yang unik dalam menggambarkan situasi keseharian masyarakatIndonesia menjelang kejuaran dunia seperti Euro 2012. Bola merepresentasikanmelalui kartun opininya bahwa sepak bola telah masuk ke ruang-ruang keluargamasyarakat Indonesia, dan menjadi candu bersama untuk sejenak melupakankonflik politik yang mendera bangsa.11. Dukungan untuk Timnas Garuda : Tak hanya merepresentasikan konflikPSSI dan sanksi FIFA. Kartun opini Bola juga tidak sepenuhnya bersikap apatisterhadap timnas Indonesia. Hal tersebut ditunjukkan saat Piala AFF 2012berlangsung, Bola menjadikan kartun opininya sebagai sarana untuk menghimpundukungan bagi timnas Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa kartun opini Bolabersifat prososial yang mengedepankan keinginan dan harapan masyarakatIndonesia.PENUTUPPenelitian mengenai representasi persepakbolaan Indonesia dalam kolom kartunopini Bola di tahun 2012 adalah penelitian yang berfokus pada kajian tentangeditorial cartoon Bola di tahun 2012. Editorial cartoon yang diteliti adalahbeberapa editorial cartoon yang membahas tentang situasi persepakbolaanIndonesia di tahun 2012. Tahun tersebut dipilih karena 2012 adalah tahun-tahunsaat persepakbolaan Indonesia mengalami banyak permasalahan dan menyitaperhatian publik. Di antaranya konflik kepengurusan, dualisme tim nasional,ancaman sanksi FIFA dan, bentrokan suporter.Kartun opini Bola sangat menarik, sebab topik yang dibahas spesifik dankonsisten, yaitu olah raga. Pada penelitian ini, editorial cartoon yang dibahasadalah editorial cartoon yang spesifik membahas sepak bola, denganpertimbangan bahwa sepak bola adalah olah raga yang paling populer diIndonesia, lengkap dengan berbagai situasi dan permasalahannya di tahun 2012.Mengacu pada pendapat dari Marco Impiglia bahwa olah raga dan politik adalahsaudara kandung. Kadang olah raga berada di bawah pengaruh politik. Kondisipersepakbolaan Indonesia di tahun 2012 adalah pembenaran argumen tersebut,dan kartun opini Bola menjadi watchog untuk mengawasi segala kepentingan dankonflik yang terkait pada persepakbolaan Indonesia. Lebih dari itu, kartun opiniBola juga tak ragu untuk tetap memberikan dukungan pada timnas Indonesia kalabertanding.Penelitian mengambil kesimpulan bahwa Kartun opini Bola memiliki duasisi dalam merepresentasikan persepakbolaan Indonesia di tahun 2012. Sisipertama adalah satire yang berarti memberikan kritik dan tanggapan terkait situasipersepakbolaan di tahun 2012. Sisi kedua adalah support, yang berartimemberikan dukungan untuk timnas Indonesia saat berlaga di partai internasional.Selain itu, Persepakbolaan Indonesia dalam kolom kartun opini Bola tidak hanyadirepresentasikan pada sisi konflik belaka. Aspek soccer and society juga hadirdalam kolom ini. Bola merepresentasikan hal tersebut dan menunjukkan bahwasepak bola telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia, sekaligusmenjadi candu bagi masyarakat itu.Kesimpulan lain yang sekaligus merupakan kritik kepada Bola adalah Boladalam kartun opininya menunjukkan bahwa mereka berpihak pada otoritastertinggi sepak bola dunia, yakni FIFA. Hal tersebut tercermin dari keberpihakanBola pada timnas PSSI yang berhak tampil pada Piala AFF 2012 atas restu FIFA.Bola juga merepresentasikan FIFA pada kartun opininya sebagai pihak yangmemiliki kuasa penuh dalam menentukan nasib persepakbolaan Indonesia. Padatahun 2012, Bola tidak pernah memberi ruang untuk mengkritik berbagaikeputusan-keputusan FIFA terkait situasi persepakbolaan Indonesia. Kondisisebenarnya berbanding terbalik dengan tanggapan-tanggapan lain yang beredar dimedia massa nasional yang berani mengkritik keputusan terkait selalu terkatungkatungnyadeadline sanksi yang diberikan FIFA kepada Indonesia.DAFTAR PUSTAKAAlvarado, Buscombe, dkk. 2001. Representation and Photography. China:PALGRAVEBairner, Alan. 2001. Sport, Nasionalism, and Globalization. New York: StateUniversity of New York PressBarker, Chris. 2004. The SAGE Dictionary of Cultural Studies. London: SAGEPublications LtdBennett, Andy.2005. Culture and Everyday Life. London: SAGE Publications LtdBerger, Arthur Asa. 2010. The Object of Affection. Semiothics and ConsumerCulture. New York: PALGRAVE MACMILLANBilig, Michael. 2005. Laughter and Ridicule. London: SAGE Publications LtdBottomore, Tom. 1991. Dictionary of Marxist Thought. Oxford: BlackwellPublishers LtdCashmore, Ellis. 2000. Making Sense of Sports. London: RoutledgeChandler, Daniel. 2007. Semiotics. The Basic. Abingdon: RoutledgeCribb, Robert & Kahin. 2004. Kamus Sejarah Indonesia. Depok:Komunitas BambuDanesi, Marcel. 2009. Dictionary of Media and Communications. United States ofAmerica: M.E. Sharpe, Inc.Ermida, Isabel. 2008. The Language of Comic Narratives. Humor Construction inShort Stories. Berlin: Walter de GruyterFranklin, Hamer, dkk. 2005. Key Concepts of Journalism Studies. London: SAGEPublications LtdGardiner, Michael E. 2000. Critiques of Everyday Life. New York. RoutledgeHall, Stuart. 1997. Representation. London: SAGE Publications LtdHebdige, Dick. 1979. Subculture. The Meaning of Style. London: RoutledgeKamus Bahasa Indonesia. 2008. Jakarta: Pusat Bahasa DepartemenPendidikan NasionalJackson, Steven J. & David L. Andrews. 2005. Sport, Culture and Advertising.Identities, Commodities and The Politics of Representation. New York:Taylor & Francis e-LibraryKuncoro, Hanung. 2011. Si Gundul. Jakarta: Kompas GramediaLincoln, Yvonna S. & Guba. 1985. Naturalistic Inquiry. California: SAGEPublicationsLeeuwen, Theo Van. 2005. Introducing Social Semiotics. New York: Taylor &Francis e-LibraryMazid, Bahaa-Eddin M. 2008. Discourse and Communication. Los Angeles:SAGE PublicationsNorrick, Neal R. & Delia Chiaro. 2009. Humor in Interaction. Amsterdam: JohnBenjamins Publishing CoO’Sullivan, Tim. Hartley, Saunders, dkk. 1994. Key Concept in Communicationand Cultural Studies. London: RoutledgePoire, Beth A. Le. 2005. Family Communication. Nurturing and Control in aChanging World. California Lutheran University: California Lutheran UniversityPressPrendergast, Chistopher. 2000. The Triangle of Representation. New York:Columbia University PressRachmadi, Benny & Muhammad Misrad. 2009. Lagak Jakarta. Jakarta: KompasGramediaRoss, Alison. 1998. The Language of Humor. London: RoutledgeRowe, David. 2004. Sport, Culture, and The Media. England: The OpenUniversity PressSchement, Jorge Reina. 2002. Encyclopedia of Communication and Infornation.United Stetes of America: Gale GroupSebeok, Thomas A. 2001. Signs: An Introduction to Semiotics. Toronto:University of Toronto PressSchnurr, Stephanie. 2009. Leadership Discourse at Work. Interactions of Humor,Gender and Workplace Culture. London: PALGRAVE MACMILLANSteier, Elena. 2008. Frince. A Cartoon History of The George Dubya Bush Years.United States of AmericaSterling, Christopher H. 2009. Encyclopedia of Journalism. California: SAGEPublications LtdStott, Andrew. 2005. Comedy. New York: RouledgeTamburrini, Claudio & Torbjörn Tännsjö. 2001. Values in Sport. New York:Taylor and Francis e-LibraryTalbot, Mary. 2007. Media Discourse. Representation and Interaction.Edinburgh: Edinburgh University PressThwaites, Davis, dkk. 2002. Introducting Cultural and Media Studies. SemioticApproach. New York: PALGRAVEWebb, Jean. 2009. Understanding Representation. London: SAGE PublicationsLtdWest, Richard & Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi. Analisisdan Aplikasi. Jakarta: Salemba HumanikaInternet :republikaonline.com. Kronologi perseteruan PSSI dan KPSI. Dikutip tanggal 1Mei 2013 jam 17.46kompas.com. Indonesia Tersingkir dari Piala AFF. Dikutip tanggal 4 Juni 2013kompas.com. Menpora Peringatkan KPSI Soal Adu Timnas. Dikutip tanggal 12Mei 2013 jam 23.45bola.net. Peringkat Indonesia Tertahan di Posisi 151. Dikutip tanggal 16 Mei2013 jam 20.12tempo.co. Piala Asia, Indonesia Satu Grup dengan Irak. Dikutip tanggal 14 Mei2013 jam 22.02detik.com. PSSI Tunjuk Ramadhan Pohan Jadi Manajer Timnas Senior. Dikutiptanggal 12 Mei 2013 jam 23.47kompas.com. Rangking Indonesia di FIFA Tembus Peringkat Terburuk. Dikutiptanggal 16 Mei 2013 jam 20.30bolaindo.com. Terus Ditagih, PT MBI Tak Bergeming. Dikutip 27 Mei 2013 jam23.13tribuntimur.com. Timnas KPSI Akan Uji Coba ke Australia. Dikutip 12 Mei 2013jam 23.48tempo.co. Tim Rekonsiliasi AFF Panggil PSSI. Dikutip tanggal 29 April 2013 jam18.17inilah.com. Dramatis! Zambia Juara Piala Afrika. Dikutip tanggal 16 Mei 2013jam 20.15kompasiana.com. Zambia, Indonesia, dan Pengurus PSSI. Dikutip tanggal 16 Mei2013 jam 20.18duniasoccer.com. Diego Michiels Dipastikan Tak Ikut ke Piala AFF. Dikutiptanggal 9 Juni 2013 jam 21.33bbc.co.uk. Kematian Diego Mendieta Akan Dibawa ke FIFA. Dikutip tanggal 1Mei 2013 jam 15.23fifa.com. Dikutip tanggal 10 Mei 2013 jam 13.12okezone.com. Di balik Sejarah Angry Birds. Dikutip tanggal 10 Mei 2013 jam13.45suarapembaharuan.com. Klub-klub ISL Tetap Menolak Pemainnya Begabung keTimnas. Dikutip tanggal 12 Mei 2013 jam 23.58suarapembaharuan.com. Rekonsiliasi PSSI dan KPSI Terancam Buntu. Dikutiptanggal 9 Mei 2013 jam 18.35bola.net. Gaji Tak Terbayar, Tiga Pemain Asing Persipro Mengemis. Dikutiptanggal 29 mei 2013 jam 21.09okezone.com. Kronologis Java Cup 2012 Ditunda. Dikutip tanggal 30 Mei 2013jam 21.05kaskus.co.id Kronologi Perseteruan PSSI dan KPSI. Dikutp tanggal 15 Juni 2013jam 20.05detik.com. 0-10 Kekalahan terbesar Indonesia. Dikutip tanggal 16 Mei 2013 jam20.19duniasoccer.com. Diego Dipastikan Tidak Ikut Piala AFF 2012. Dikutip 9 Juni2013 jam 21.36anneahira.com. Tabloid Bola, Pelopor Media Massa Bertema Olah Raga. Dikutiptanggal 25 April 2013 jam 20.32indomanutd.org, dikutip tanggal 4 Juni 2013 jam 22.34indonesiacitizens.org, dikutip 4 Juni 2013 jam 23.35Media Cetak :Kompas 5 April 2012. Rekonsiliasi PSSI Terancam Status LSIKompas 11 Oktober 2012. Peringkat Terburuk Indonesia dalam Sejarah
Pembuatan Dan Pengelolaan Website Wawasan.Co (Marketing Communication) Veramitha Indriyani; Agus Toto Widyatmoko; Triyono Lukmantoro; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.106 KB)

Abstract

Portal berita online merupakan bentuk lain dari surat kabar online. Portal berita online saat ini dinilai lebih efisien karena sudah mulai banyak masyarakat yang meninggalkan surat kabar cetak dan beralih ke portal berita online yang dapat diakses dimana pun dan kapan pun. Bekerja sama dengan Harian Wawasan Semarang, dibuatlah sebuah portal berita online Wawasan.co. Wawasan.co bersegmentasi pada anak muda Jawa Tengah, khususnya Semarang yang berisi informasi lokal Jawa Tengah dalam delapan rubrik. Wawasan.co dibuat untuk menyediakan berita terkini dan berbagai informasi seputar Jawa Tengah melalui website yang dapat diakses oleh khalayak dan juga untuk mengembangkan keberadaan website Koranwawasan.com sebelumnya. Dalam pengelolaan Wawasan.co diperlukan adanya peran marketing communication dalam rangka memasarkan produk yang dapat dijual dan diberikan kepada khalayak. Marketing communication bertugas untuk melakukan kegiatan promosi website Wawasan.co dalam empat media sosial yaitu Facebook, Instagram, Twitter, dan Youtube. Kemudian, terdapat seorang reporter 3 yang bertugas melakukan kegiatan liputan mulai dari menulis artikel hingga mengambil foto/gambar pada rubrik Tahukah Kamu, Kuliner, Musik dan Film, dan sub rubrik Alam. Selain itu, tugas sebagai admin 3 yang mengelola media sosial sebagai sarana promosi kegiatan dan juga mengunduh berita ke rubrik Utama. Secara keseluruhan proses pembuatan dan pengelolaan portal berita online Wawasan.co berjalan dengan lancar dari mulai pra riset hingga evaluasi. Dikatakan berhasil karena hasil evaluasi dari Wawasan.co yaitu sebesar 93 persen khalayak tahu keberadaan Wawasan.co dan 95 persen berminat untuk mengunjungi Wawasan.co.
PEMBUATAN WEBSITE BERITA www.seputarpewarta.com (Fotografer dan Designer Grafis) KARYA BIDANG Fransiscus Anton Saputro; M Rofiuddin; Triyono Lukmantoro; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.308 KB)

Abstract

Berkembangnya teknologi elektronik dari waktu ke waktu memaksa media ikut serta dalam perkembangan ini. Dimulai dari media konvensional, kemudian berkembang menjadi media penyiaran seperti radio dan televisi. Terlebih lagi, saat ini mulai muncul istilah “media baru”. Media baru atau media online berisikian situs-situs berita, jejaring sosial, dan masih banyak lagi situs informasi lainnya. Perkembangan situs website lebih tersegmentasi. Ada situs tertentu yang membahas soal kesehatan, gaya hidup, olahraga, dan lainnya. Sangat jarang ditemui situs website yang memberitakan lebih dari satu tema. Melihat peluang ini, website berita www.seputarpewarta.com hadir untuk memberikan informasi seputar isu-isu dan kegiatan jurnalis khususnya yang ada di Kota Semarang.Pada website www.seputarpewarta.com, seorang reporter bertugas menentukan jadwal liputan, membuat berita, dan mengirim berita itu pada editor. Editor bertugas melakukan editing pada tulisan sebelum di tampilkan di website. Selain itu, terdapat pula fotografer dan designer grafis. Fotografer bertugas mendokumentasikan kegiatan yang mana menjadi ilustrasi dari berita yang ditulis reporter. Designer grafis bertugas melakukan design pada tampilan website, melakukan edit foto, dan juga menampilkan berita di website www.seputarpewarta.com. Banyak kendala selama proses pengembangan website seperti jadwal yang berubah, narasumber tidak bisa dihubungi, dan informasi yang kurang saat liputan.Dari data statistik, banyak pengguna internet yang mengunjungi Konten Berita sebagai salah satu rujukan informasi. Namun, ada beberapa berita yang kurang diminati pengguna internet. Terbukti dari jumlah pengunjung di bawah pengunjung berita lainnya.
Pengelolaan Aplikasi Berbasis Lokasi “Dalam Kota (Dalkot)” Divisi Marketing Communication Director dan Divisi Production Director Aditya Gilang Gifari; Djoko Setyabudi; Triyono Lukmantoro; Candra Sateria
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.788 KB)

Abstract

Dalkot (Dalam Kota) adalah sebuah layanan aplikasi seluler yang memanfaatkan Location-Based Service (LBS) yang menyediakan informasi mengenai lokasi wisata dan hiburan berdasarkan lokasi fisik penggunanya, dan sejak tanggal 6 Mei 2015 Aplikasi ini sudah dapat diunduh secara gratis melalui Google Play (Android) dan Apple Store (iOS). Namun ternyata sejak pertama kali aplikasi Dalkot soft launching, jumlah pengunduh aplikasi Dalkot sangatlah sedikit, belum banyak masyarakat kota Semarang yang mengunduh atau sekedar mengetahui keberadaan aplikasi Dalkot, beragam fitur dan konten informatif yang dimiliki oleh aplikasi Dalkot nyatanya belum mampu dipasarkan secara baik. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengelola dan mengkomunikasikan aplikasi Dalkot dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah pengunduh. Untuk mencapai tujuan tersebut, dibuat kegiatan, pengelolaan aplikasi Dalkot dalam bidang marketing communication yang terdiri dari kegiatan pre-event dalam bentuk buzzing melalui media sosial, dan event Dalkot Way-to-Eat sebagai sebuah strategi promosi yang berlangsung di 10 tempat kuliner di Kota Semarang yang bertujuan untuk meningkatkan perilaku target audiens untuk mengunduh Aplikasi Dalkot, selain itu juga terdapat kegiatan advertising dan online marketing sebagai bentuk penyebaran informasi mengenai aplikasi Dalkot sendiri dan event Dalkot Way-to-Eat.Sebagai Marketing Communication Director dan Production Director, penulis bertanggung jawab pada penyusunan dan realisasi konsep produksi, promotion, dan marketing secara keseluruhan, Hasilnya, kegiatan pengelolaan aplikasi Dalkot dalam bidang marketing communication ini efektif meningkatkan perilaku target audiens untuk mengunduh Aplikasi Dalkot. Untuk kedepan, PT. Maju Dalam Kota perlu untuk membuat kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan engagement dengan target audiens, dan hal ini bisa dilakukan dengan pelaksanaan kegiatan serupa secara kontinyu.
REPRESENTASI GAYA FASHION REMAJA METROPOLITAN DALAM SINETRON DIAM-DIAM SUKA Marliana Nurjayanti Nasoetion; Triyono Lukmantoro; M Bayu Widagdo; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.302 KB)

Abstract

Sinetron merupakan salah satu produk media massa yang keberadaannya memiliki kekuatan untuk menciptakan realitas sosial baru di masyarakat, melalui ideologi-ideologi yang dibawanya atas kehendak kelompok tertentu yang memiliki kekuatan besar, dalam hal ini adalah kelompok pengusaha media, praktisi, atau rumah produksi. Diam-Diam Suka merupakan sinetron yang menceritakan gaya fashiondalam kehidupan remaja metropolitan di Jakarta yang mempengaruhi berbagai aspek hingga akhirnya menimbulkan kesenjangan sosial diantara para remaja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membongkar dan memahami makna yang tampak maupun tidak tampak tentang gaya fashion remaja metropolitan dan gagasan dominan yang ada di dalam Diam-Diam Suka melalui analisis semiotika The Codes of Televisionmilik John Fiske.Hasil penelitian yang didapatkan adalah, bahwa gaya fashion menunjukkan citra diri dalam berpenampilan agar dapat dinilai atau dipahami orang lain melalui tanda-tanda non-verbal, selain itu remaja metropolitan cenderung mengutamakan kemewahan menjadi standar gaya fashion remaja di perkotaan. Analisis mendalam selanjutnya menemukan bahwa gaya fashion membentuk remaja-remaja ke dalam kelompok superioritas atau inferioritas yang kemudian menimbulkan kesenjangan sosial dalam pergaulan sehari-hari. Remaja yang tidak memiliki gaya fashion sesuai standar akan tergusur, terkucilkan, dan terpaksa menerima perlakuan semena-mena dari kelompok superioritas. Pada akhirnya Diam-Diam Suka memperlihatkan keberpihakan atas pembenaran untuk melihat kualitas remaja dari penampilan luar, bukan dari prestasinya.Lebih jauh lagi, selera fashion individu sering dipahami memiliki hubungan erat dengan tingkat ekonomi sehingga menciptakan kelas-kelas sosial yang berlanjut pada konflik dan kekerasan untuk menunjukkan supremasi kelas yang digambarkan sebagai sesuatu yang alamiah dan rasional. Keberadaan gaya fashion di kalangan remaja metropolitan akhirnya menjadi sebuah prestise dari ajang pamer kekayaan orangtua. Selain itu, ditemukan pula ketidaksetaraan gender dalam penggunaan fashion yang menyudutkan posisi perempuan. Gaya fashion remaja metropolitan berujung pada gagasan-gagasan tentang kehidupan mewah, kelompok superioritas, perbedaan kelas dapat mempengaruhi sistem kognitif masyarakat sehingga disarankan pemirsa televisi lebih kritis dalam menyikapi konten sinetron.Kata kunci: representasi, sinetron, fashion, remaja metropolitan, ideologi
NASIONALISME WARGA EKS-TIMOR LESTE DALAM FILM TANAH AIR BETA Ayu Pramudhita Noorkartika; Triyono Lukmantoro; M Bayu Widagdo; Hedi Pudjo Santosa
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.503 KB)

Abstract

Film tidak sekadar sebagai media yang sangat komunikatif, namun juga mampumenghadirkan kembali realitas yang ada ke dalam sebuah karya seni. Selain itu,film juga digunakan sebagai alat propaganda yang diyakini cukup efektif. TanahAir Beta merupakan sebuah film propaganda dari sineas dan tim untuk mengajakmasyarakat Indonesia menilik dan mengukur rasa cinta terhadap tanah air.Penelitian ini bertujuan mengetahui representasi nasionalisme warga eks-TimorLeste dalam film Tanah Air Beta. Teori yang digunakan dalam penelitian iniadalah teori representasi dari Stuart Hall dan teori nasionalisme dari BenedictAnderson. Tipe penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif dengan analisissemiotika Roland Barthes yang berusaha mengungkapkan makna yangtersembunyi di balik sebuah tanda, untuk meneliti dan mengkaji tanda-tanda didalam film.Temuan penelitian ini menunjukan bahwa Tanah Air Betamerepresentasikan nasionalisme sebagai sebuah bangsa yang pada hakekatnyaterbatas dan bangsa yang dibayangkan menjadi komunitas. Hal-hal tersebut dapatdilihat melalui tanda-tanda seperti dialog, kostum, penampilan, dan gambar yangberada di dalam film. Nasionalisme yang dikemas rapih dalam konteks keluargaini menunjukkan bahwa perbedaan etnis tidak menghalangi pencapaian cita-citauntuk kesatuan dan persatuan bangsa. Namun di sisi lain, nasionalisme dalam filmini juga ditunjukkan sebagai sebuah proses panjang yang harus dilalui, hargamahal yang harus dibayar, dan nasionalisme juga dibentuk melalui sebuahhukuman.Disarankan kepada para pembuat film untuk lebih mengembangkankonsep dan cara penyampaian nasionalisme dengan lebih variatif. Sehingga,mampu menggugah hati masyarakat untuk peduli terhadap bangsa.Kata Kunci: Representasi, Nasionalisme, Referendum Timor Leste, dan Anakanak.
Twitter sebagai Media Pertunjukan Diri Figur Publik melalui Tweet dengan Tema Isu Pemilihan Presiden 2014 (Analisis Semiotika Akun Twitter @AHMADDHANIPRAST dan @GlennFredly) Ria Rahmawati; Much. Yulianto; Triyono Lukmantoro; Hedi Pudjo Santosa
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.613 KB)

Abstract

Twitter merupakan media sosial yang berfungsi sebagai media komunikasi dan informasi. Kemudahan yang diberikan Twitter membuat fungsi Twitter digunakan sebagai ajang pertunjukan diri dari para penggunanya untuk menginformasikan hal-hal yang bersifat umum hingga pribadi. Figur publik atau selebritis adalah tokoh yang paling banyak memiliki followers atau pengikut dalam akun Twitter. Hal ini memberi kesempatan pada para figur publik untuk menunjukkan diri mereka. Pada tahun 2014, banyak dari beberapa figur publik yang berusaha menunjukkan diri sebagai orang yang peduli dengan masalah politik dengan memposting tweet bertema isu pemilihan presiden (Pilpres) 2014. Beberapa dari mereka adalah musisi Ahmad Dhani (@AHMADDHANIPRAST) dan Glenn Freedly (@GlennFredly). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pertunjukan diri pemilik akun Twitter @GlennFredly dan @AHMADDHANIPRAST melalui isu-isu politik tentang pemilihan presiden 2014 yang mereka posting. Peneliti menggunakan paradigma konstruktivistis dan tradisi semiotika untuk mengkaji dan mendeskripsikan teks tweet bertema isu Pilpres 2014 dari akun Twitter @AHMADDHANIPRAST dan @GlennFredly. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Interaksi Sosial, Teori Dramaturgi, Teori Stratifikasi Sosial.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akun Twitter @AHMADDHANIPRAST dan @GlennFredly melakukan pertunjukan diri di Twitter sebagai orang yang peduli dengan isu Pilpres 2014 yang sedang berkembang. Dhani menunjukkan diri sebagai orang yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta dengan memposting tweet isu Pilpres 2014 seperti pelanggaran HAM yang melibatkan Prabowo, Jokowi yang dinilai sebagai capres boneka, hingga ketegasan sebagai kriteria pemimpin yang baik. Sedangkan @GlennFredly menunjukkan diri sebagai orang yang mendukung pasangan Jokowi-JK dengan memposting tweet isu Pilpres 2014 seperti kekuasaan ditahun 1998, rapor merah kepemimpian SBY dengan latar belakang militer yang mempunyai sifat tegas, hingga seragam Nazi yang dipakai Ahmad Dhani dalam video klip dukungan untuk Prabowo-Hatta.Keyword: Twitter, Politik, Pertunjukan Diri
Co-Authors Ade Ayu Kartika Sari Rezki Adi Nugroho Aditya Gilang Gifari Agus Naryoso Agus Toto Widyatmoko Amalia Ayu Wulansari Arfianto Adi Nugroho Ayu Pramudhita Noorkartika Bayu Hastinoto Prawirodigdo Beta Fiftina Aryani Candra Sateria Choirul Ulil Albab Citra Luckyta Lentera Gulita Daeng Lanta Mutiara Rato R Dian Kurniati Diandini Nata Pertiwi Djoko Setyabudi Dwinda Harditya Fathimatul Muyassaroh Febryana Dewi Nilasari Fitriana Nur Indah S Frans Agung Prabowo Fransiscus Anton Saputro Frieda Isyana Putri Galih Arum Sri Gelar Mukti Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S Hedi Pudjo Santosa Herusna Yoda Sumbara Ika Adelia Iswari Ima Putri Siti Sekarini Intan Murni Handayani Joyo NS Gono Kevin Devanda Sudjarwo Leidena Sekar Negari Lintang Ratri Rahmiaji M Bayu Widagdo M Rofiuddin Marliana Nurjayanti Nasoetion Meivita Ika Nursanti Much Yulianto Much. Yulianto Muhammad Rofiuddin Nailah Fitri Zulfan Niki Hapsari Fatimah Nilna Rifda Kholisha Novelia Irawan S Nur Fajriani Falah Nurhanatiyas Mahardika Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Pandu Hidayat Primada Qurrota Ayun Putri Ramadhini R. Sigit Pandhu Kusumawardana Ria Rahmawati Rifqi Aditya Utama Rika Futri Adelia Rizki Kurnia Yuniasti Salsabila, Unik Hanifah Sandy Allifiansyah Shafira Indah Muthia Sholakhiyyatul Khizana Sri Budi Lestari Sunarto Sunarto Syarifa Larasati Tandiyo Pradekso Tandiyo Pradekso Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Titiek Hendriama Tri Yoga Adibtya Tama Triliana Kurniasari Turnomo Rahardjo Veramitha Indriyani Williams Wijaya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yoga M Pamungkas Yoga Yuniadi Zefa Alinda Fitria