Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

CONCERT HALL DI KOTAMOBAGU, Arsitektur Metafora Marjulino A. Lalumedja; Sonny Tilaar; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34694

Abstract

Kota Kotamobagu menawarkan berbagai bentuk hiburan bagi masyarakatnya yaitu mulai dari tempat wisata, kegiatan kerohanian, bahkan sampai pertunjukkan seni dan tari. Namun, saat ini di Kota Kotamobagu sendiri belum ada bangunan yang memadai khusus untuk mewadahi masyarakat Kota Kotamobagu dalam menyalurkan bakat dan kemampuan mereka di bidang seni dan tari tersebut. Sehingga untuk memenuhi tujuan tersebut maka diperlukan suatu fasilitas berupa concert hall. Berdasarkan pemilihan tapak di lokasi perencanaan maka kawasan yang terpilih sebagai tempat untuk membangun objek perancangan ini yaitu Kelurahan Kobo Besar Kecamatan Kotamobagu Timur. Objek perancangan concert hall di desain menggunakan tema metafora arsitektur di mana tema ini berfungsi untuk menganalogikan sebuah objek dasar berbentuk piano. Selain berfungsi sebagai tempat untuk mewadahi kegiatan seni dan tari bagi masyarakat Kota Kotamobagu, bentuk dasar objek yang di ambil dari bentuk alat musik piano ini juga di sesuaikan dengan fungsi estetika pada suatu objek rancangan sehingga memiliki karakter arsitektural yang sangat khas karena memiliki bentuk yang berbeda dengan objek pada umumnya. Untuk fisibilitas dari objek concert hall ini yaitu di dasarkan pada tingkat kelayakan lokasi tapak dan lingkungan serta layanan fasilitas objek yang ditawarkan. Concert hall ini dibangun dengan memperhatikan berbagai aspek perancangan agar tercipta fasilitas concert hall yang layak untuk dinikmati masyarakat dan nyaman.Kata kunci: Concert hall, Metafora, Kota Kotamobagu
ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN TERHADAP RTRW KABUPATEN SIAU TAGULANDANG BIARO 2014-2034 (STUDI KASUS : PULAU TAGULANDANG) Cheintya Gunena; Papia J. C. Franklin; Sonny Tilaar
MEDIA MATRASAIN Vol. 17 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v17i2.37037

Abstract

Kemampuan lahan adalah penilaian tanah secara sistematik dan pengelompokannya kedalam beberapa kategori berdasarkan sifat-sifat yang merupakan potensi dan penghambat dalam penggunaan secara lestari. Oleh karena itu dianggap penting untuk setiap perencanaan Tata Ruang Wilayah melakukan kajian kemampuan lahan. Terkait dengan hal tersebut, maka peneliti melakukan tinjauan terhadap RTRW Kabupaten SITARO 2014 – 2034 apakah arahan Tata Ruang yang telah dibuat memenuhi kriteria kemampuan lahan.  Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengidentifikasi penggunaan lahan di Pulau Tagulandang serta menganalisis dan memetakan kelas kemampuan lahan di Pulau Tagulandang menurut rencana pola ruang RTRW 2014-2034 Kabupaten Siau Tagulandang Biaro. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kemampuan lahan berdasarkan arahan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 /PRT/m/2007 yang dilakukan menggunakan overlay pada aplikasi sisstem informasi geografis (GIS). Dari hasil analisis didapatkan bahwa sebagian besar wilayah di Pulau Tagulandang adalah perkebunan dengan luas 4.731 Ha dan persentase 90,42% sedangkan yang paling kecil adalah 51 Ha yang merupakan hutan bakau dengan persentase hanya 0,98%. Untuk permukiman sendiri memiliki luas 336 Ha dengan persentase 6,42%. Selanjutnya kemampuan lahan Pulau Tagulandang menurut rencana pola ruang RTRW 2014-2034 Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, kawasan permukiman berada pada lahan dengan kemampuan sangat tinggi, agak tinggi dan sedang. Kawasan pariwisata terdapat pada lahan dengan kemampuan agak tinggi dan rendah. Lahan pada Pulau Tagulandang lebih khusus Kecamatan Tagulandang Selatan dan Tagulandang Utara didominasi  tingkat pengembangan rendah.
ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN KAWASAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN LUWUK DAN LUWUK UTARA KABUPATEN BANGGAI Andre P. Satolom; Sonny Tilaar; Roosje J. Poluan
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v18i1.37055

Abstract

The rapid development of settlements in Luwuk and North Luwuk Subdistricts has an impact on the physical condition of the land so that the demand for residential land needs increases. The purpose of this study is to analyze the carrying capacity of residential areas using the concept of building coverage and to analyze the direction of settlements based on the carrying capacity of residential areas in Luwuk and North Luwuk Districts. The research method used is descriptive quantitative, using a spatial analysis approach with the help of a Geographic Information System (GIS). In data analysis using technical guidelines for analysis of physical and environmental, economic and socio-cultural aspects in the preparation of spatial plans (Minister of Public Works Regulation No.20/PRT/M/2007). The analytical technique used is overlay and scoring analysis for assigning values to each parameter. The results of the analysis of the carrying capacity of residential areas in Luwuk and North Luwuk sub-districts are by establishing a protected area based on the physical condition of the environment. The direction of settlement development in Luwuk District for Class 1 is 20.16 Ha/48% land cover ratio, North Luwuk District 176.60 Ha/42% cover ratio. Class 2 in Luwuk District is 92.13 Ha/19% land cover ratio, North Luwuk District is 3588.01 Ha/50% cover ratio. Class 3 is 168.10 Ha/20% cover ratio, North Luwuk District 1866.62 Ha/20% cover ratio. and Class 4 Luwuk District 5080.15 Ha/0% cover ratio, North Luwuk District 23355.84 Ha/0% cover ratio.
ANALISIS PEMANFAATAN LAHAN PERMUKIMAN di KAWASAN BERLERENG KECAMATAN SINGKIL Patrick I. I. Manabung; Sonny Tilaar; Pierre H. Gosal
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v18i1.37056

Abstract

Manado City is an area that is very vulnerable to disaster aspects, one of which is landslides, due to the geographical and geological conditions of the region. Manado City has a very varied topography, one of which is in Singkil District. Based on data from the Singkil District Central Statistics Agency in 2019 Figures, there are 6 Kelurahans that have a sloping topography. While looking at the existing one in Singkil District, the sloped land has been used as a residential area. Land use in the city of Manado, especially the Singkil sub-district as a residential area, continues to increase. This can be seen from the construction of residential housing, which tends to have a negative impact on the local community because the construction is not in accordance with the existing spatial plan. The purpose of this study was to identify the distribution of settlements in the sloping area of Singkil district and to analyze the use of residential land in the sloped area of Singkil district. The data collection method in this study used Field Observation, Survey, Documentation and Mapping techniques and for the spatial analysis method consisting of digitization techniques, slope analysis techniques, Overley analysis techniques and descriptive analysis techniques. From the results of the analysis of the distribution of settlements, for the distribution of settlements in Singkil District, the direction of the distribution of settlements tends to be in the highlands. Based on the results of the analysis of land use in Singkil District, for Settlement covering an area of 91.22Ha, Cemetery covering an area of 4.25Ha, Sports Field covering an area of 0.80Ha, Services covering an area of 7.60Ha, Business covering an area of 5.55Ha, Industry covering an area of 0.40Ha, Roads covering an area of 22 ,35Ha, River area of 0.70Ha, and Others covering an area of 22.65Ha.
ANALISIS TINGKAT KENYAMANAN JALUR PEDESTRIAN DI KAWASAN PUSAT KOTA BITUNG Syalom W. Tambbotto; Sonny Tilaar; Surijadi Supardjo
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v18i1.37060

Abstract

City development has affected urban space, one of which is the Pedestrian Path, therefore the researcher aims to identify the use and condition of the pedestrian path and analyze the effect of the level of comfort on pedestrians in the Bitung City Center area. The method used in this study is a qualitative method and a quantitative method with Likert Scale Analysis to answer the Utilization and Condition of Pedestrian Paths and Multiple Linear Regression Analysis to answer the Influence of Comfort Levels on Pedestrian Users in the Bitung City Center Area. From the results of this study, the first conclusion can be drawn about the use and condition of the Pedestrian Paths in the Bitung City Center area. It was found that the Pedestrian Paths were used as a place for distributing billboards with good conditions (76%), good formal businesses (71.4%), Informal Business Fairly Good (52.4), Good Social Activities (80.8%), Green Line 76.2%, Poor Facilities (40%) with Good Cleanliness (80.8%), Good Circulation (71%) ) and Fairly Good Security (50.4%). and the second conclusion about the factors that affect the level of comfort for users of the Pedestrian Path, simultaneously the variables of the Green Line, Circulation, Security, Cleanliness and Facilities affect the Comfort Level of the Pedestrian Path in the Bitung City Center Area. Partially those that affect the level of comfort are influenced by the variables in Zone A, namely the Facilities, Cleanliness, Circulation Variables. While in Zone B the Green Line Variable, Facilities. Then in Zone C Variable Green Line, Circulation and in Zone D Variable Facilities.
CHRISTIAN CENTER DI KOTA TOMOHON: Optimalisasi Material Kayu dalam Gubahan Bentuk dan Ruang Arsitektural Andrew Posumah; Sonny Tilaar; Vicky H. Makarau
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 3 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 3, Juli 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Tomohon merupakan salah satu kota yang memiliki potensi sumber daya dan pariwisata yang walaupun telah terkelola dengan baik, namun masih memiliki potensi untuk lebih dikembangkan. Selain itu, kota Tomohon juga menjadi salah satu pusat perkembangan Kristianitas di Sulawesi Utara dimana kehadiran Kantor Sinode GMIM menjadi bukti nyata eksistensi sosial-budaya yang telah berpadu dengan Kristianitas. Namun sejauh ini, di Sulawesi Utara dan Tomohon sendiri, belum didapati fasilitas yang mengakomodasi kebutuhan interdenominasi gereja (interdenominasi). Christian Center terpilih sebagai objek yang memfasilitasi aspek sosial-spiritual, guna mewadahi kegiatan yang berbentuk rohani-edukatif, rekreatif, maupun sosial secara terpusat. Dalam konteks proyek Christian Center Di Kota Tomohon, penggunaan material kayu pada elemen-elemen struktural dan dekoratif telah berhasil menciptakan tampilan arsitektural yang modern dan minimalis, dengan nuansa alami yang hangat. Material kayu juga telah digunakan secara optimal untuk memaksimalkan penggunaan ruang dalam gereja, menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan bagi jemaat. Kayu adalah bahan yang bisa didaur ulang sehingga bersifat ramah lingkungan dan bersifat berkelanjutan dan selain memperindah dan memberi nilai jual lebih terhadap suatu objek, material kayu lebih efisien dalam fungsinya sebagai kontruksi tahan gempa. Kata Kunci: Kristianitas, Pusat, Kayu
SPORT CENTER DI MINAHASA SELATAN: Metafora Kombinasi Rohdrigo Mononimbar; Sonny Tilaar; Surijadi Supardjo
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 1 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 1, Januari 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Minahasa Selatan memiliki antusiasme tinggi untuk kegiatan olahraga baik yang dikompetisikan maupun rekreasional. Namun demikian tidak ditunjang dgn fasilitas yg memadai. Oleh karenanya perlu disediakan fasilitas terpadu yang terdiri dari lapangan sepak bola, bulutangkis, volley dan basket lengkap dengan infrastruktur pendukungnya. Fasilitas yang dimaksud adalah sport center. Keempat cabang olahraga tersebut dipilih untuk dihadirkan karena merupakan olahraga favorit di kalangan masyarakat setempat. Dengan dihadirkan Sport Center menjadi sebuah solusi dalam menjawab tantangan yang terjadi, dengan tapak terpilih di Desa Teep Trans, Kecamatan Amurang Barat mengingat lokasinya dilalui Jalan Trans Sulawesi dan terletak cenderung di tengah kabupaten Minahasa Selatan sehingga aksesibilitas pencapaiannya bisa dijangkau masyarakat dari seluruh kecamatan. Objek ini dirancang dengan menggunakan pendekatan Arsitektur Metafora dimana gubahan massa yang ada merepresentasikan ke-4 cabang olahraga terkait dalam 1 massa yang terintegrasi dengan standarisasi fasilitas kelas professional. Kata Kunci: fasilitas, olahraga, metafora
BADMINTON SPORT ACADEMY: Arsitektur Futuristic Kalvin D. Iskandar; Rieneke L. E. Sela; Sonny Tilaar
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 2 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 2, April 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minat masyarakat Sulawesi Utara yang sangat tinggi terhadap olahraga badminton membuat olahraga ini menjadi popular di kalangan masyarakat sehingga hal ini membuat masyarakat bukan hanya sekedar bermain melainkan ingin berkarir dengan menjadi atlet badminton. Namun fasilitas untuk menunjang kegiatan pembinaan dan pelatihan di Sulawesi Utara masih sangat minim dan masih jauh dari standar. Oleh karna itu dirancang badminton sport academy dengan tema arsitektur futuristik. Tujuan perancanganpnya yaitu menghadirkan suatu bangunan tempat pelatihan yang tidak hanya baik dari segi fungsi melainkan juga dari segi estetis dan keindahan bangunan dengan tetap memperhatikan persyaratan teknis dan memiliki fasilitas yang berstandar internasional. Dalam proses perancangan ini proses perancangan yang dipakai dalah model rancangan dari John Ziel yaitu, Image-prasent-tanse Cycle. Pendekatan perancangan meliputi tiga aspek yaitu pendekatan lokasi, pendekatan tipologi dan pendekatan tematik. Badminton sport academy ini didesain agar dapat mewadahi seluruh kegiatan pembinaan atlet. Pendalaman tema Arsitektur Futuristik yang di implementasikan ke dalam perancangan membuat hasil perancangan memiliki nilai kebaruan dan menambah disibilitas dan prospek dari objek rancangan. Kata Kunci: Badminton, Sport, Academy, Arsitektur Futuristik
GEDUNG PUSAT UMKM DI SANGIHE: Arsitektur Perilaku dan Lingkungan Sarah K. F. Rainga; Jefrey I. Kindangen; Sonny Tilaar
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 2 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 2, April 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM di Indonesia dilihat memberikan peran serta dampak yang positif bagi perekonomian negara. Dikawasan Asia Tenggara dinilai terbesar peran usaha kecil, menengah dan mikro. Kontribusi positif usaha kecil, menengah dan mikro terhadap produk nasional bruto (PDB) cukup besar. Pesatnya pertumbuhan usaha kecil, menengah dan mikro juga tidak terlepas dari dukungan pertumbuhan penduduk. Sangihe tidak memiliki ruang untuk pengembangan untuk menjual produk UMKM, membuat usaha kecil, menengah dan mikro yang ada terbelakang atau bahkan tidak maju. Oleh karena itu, hal ini dinilai membutuhkan ruang, sebagai ruang belajar dan pertemuan dengan pelaku bisnis dan kelompok kreatif, sebagai ruang kolaborasi untuk menghasilkan inovasi terbaru. Di kabupaten kepulauan Sangihe memiliki kearifan dan nilai-nilai lokal yang beragam. Potensi kearifan lokal dapat dipahami melalui sosial budaya, sejarah lokal, tradisi dan materi lokal. Dari segi sosial budaya, masyarakat Sangihe memiliki potensi besar bagi pengrajin lokal, seperti kedekatan mereka dengan pengrajin kerajinan tangan (Bika), peda (parang ) bahkan seni kuliner. Menghadirkan Pusat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di sangihe yang bisa sebagai fasilitas pengembangan serta pemberdayaan ekonomi lokal, dan juga sebagai tempat pemasaran UMKM kuliner maupun hasil produk khas daerah sehingga dapat tingkatkan produktivitas dalam bekerja. Gedung Pusat Usaha Mikro Kecil dan Menengah( UMKM) di sangihe dengan mengaplikasikan pendekatan Arsitektur perilaku dan lingkungan yang bisa menciptakan ruang yang bisa tingkatkan daya produksi dalam bekerja dengan mengintegrasikan alam kedalam bangunan. Kata Kunci : Sangihe, Gedung Pusat UMKM, Arsitektur Perilaku dan Lingkungan
FLOATING COTTAGE RESORT DI MINAHASA UTARA: Arsitektur Organik Gloria K. Utama; Frits O. P. Siregar; Sonny Tilaar
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 1 (2024): DASENG Volume 13 Nomor 1, Februari 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Floating Cottage Resort di Minahasa Utara adalah alternatif inovatif untuk pengembangan pariwisata juga sebagai respons terhadap potensi pariwisata dan lingkungan Minahasa Utara. Melalui integrasi bentuk organik dan material yang ramah lingkungan, bertujuan menciptakan lingkungan hunian yang harmonis dengan keindahan alam setempat. menciptakan harmoni antara pengalaman berlibur dan keberlanjutan ekologis. Metode perancangan melibatkan analisis topografi, iklim dan karakteristik alam Minahasa ditambah studi kelayakan teknis konstruksi bangunan terapung. Pendekatan organik tercermin dalam desain bentuk bangunan, penempatan, serta penggunaan material yang bersahaja dan berkelanjutan. Menciptakan struktur yang ramah lingkungan dan memaksimalkan interaksi dengan lingkungan sekitar. Perencanaan Floating Cottage Resort yang tidak hanya mencerminkan keindahan arsitektur, tetapi juga mempertimbangkan efisiensi energi, penggunaan bahan ramah lingkungan, dan integrasi yang baik dengan alam. Diharapkan, implementasi proyek ini akan memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan pariwisata Minahasa Utara sambil memelihara kelestarian alam lokal. Dengan kehadiran objek Floating Cottage Resort di Minahasa Utara, diharapkan implementasi proyek ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan sektor pariwisata di daerah tersebut, sambil tetap menjaga kelestarian alam lokal. Selain itu, tema arsitektur organik pada Floating Resort diharapkan bisa menjadi inspirasi untuk pengembangan ruang kerja berkelanjutan di Minahasa Utara dan sekitarnya. Kata Kunci : Arsitektur Organik, Floating Cottage Resort, Minahasa Utara