Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PUSAT REHABILITASI PECANDU NARKOBA DI MINAHASA. Teori Gestalt dalam Arsitektur Leonie A. Tambajong; Judy O. Waani; Ingerid L. Moniaga
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17627

Abstract

Penyalahgunaan Narkoba merupakan salah satu dari kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Kejahatan luar biasa merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan hak asasi umat manusia lain, telah disepakati sacara internasional sebagai pelanggaran HAM berat yang berada dalam yuridiksi International Criminal Court dan Statuta Roma, mendapatkan hukuman seberat- beratnya termasuk hukuman mati bagi pelaku kejahatan tersebut. Berada di daerah perbatasan membuat Sulawesi Utara menjadi sasaran para pengedar narkoba. Saat ini Sulawesi Utara tercatat sebagai salah satu daerah penyalahgunaan narkoba tertinggi di Indonesia. Menurut data Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulut, terdapat 36.700 pengguna narkoba dan jika dilihat dari jenis pekerjaan, pelajar tingkat SMP menduduki peringkat pertama. Provinsi Sulawesi Utara membutuhkan wadah yang dengan tepat dan benar merehabilitasi para penyalahguna narkoba agar dapat mengurangi angka penyalahgunaan narkoba. Dengan menerapkan pendekatan tema, yaitu Teori Gestalt pada bangunan Pusat Rehabilitasi diharapkan mampu menonjolkan kesan aman, nyaman dan ‘diterima’ hingga mengubah cara pandang para pecandu narkoba. Pengaturan dan penataan lahan serta bangunan yang mendukung interaksi social, adanya elemen yang menstimulasi visual seperti pemandangan dan pengaplikasian warna pada bangunan. Berdasarkan tinjauan wilayah, Kabupaten Minahasa memiliki potensi besar dari sumber daya alam dan lingkungan. Kondisi lingkungan yang sebagian besar masih berupa ruang terbuka hijau dan jauh dari keramaian cocok menjadi lokasi pusat rehabilitasi.Kata Kunci : Pusat, Rehabilitasi, Pecandu Narkoba, Gestalt
SPORT CENTER GORONTALO. Arsitektur Biomorfik Furnicular Stanley J. Toreh; Judy O. Waani; Herry Kapugu
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17629

Abstract

Olahraga adalah salah satu cara untuk menyehatkan tubuh. Olahraga merupakan sarana bagi sebagian besar orang untuk mengurangi kejenuhan dari aktifitas sehari – hari. Ditambah peminat olahraga meningkat menjadi masalah dalam menyediakan fasilitas atau tempat berolahraga yang representative. Sport Center merupakan solusi kurangnya tempat yang layak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bahkan bisa menjadi tempat olahraga sekalian berekreasi. Rancangan Sport Center Gorontalo ini hadir dengan kategori Gedung Olahraga yang terdiri dari bangunan olahraga tertutup untuk cabang bola voli, basket, dan bulu tangkis  dengan ruang – ruang untuk kegiatan pengelolaan gedung olahraga. Komponen - komponen rancangan ruang – ruang terbuka hijau dan lapangan untuk latihan, serta hadir dengan performa yang terbilang unik dan berpotensi menjadi landmark bagi Kota Gorontalo. Keterbatasan sarana olahraga yang dapat mewadahi klub – klub atau kelompok kelompok orang di Gorontalo yang tidak tertampung oleh fasilitas olahraga yang sudah ada, sehingga mereka berlatih dengan fasilitas seadanya atau berlatih di tempat – tempat yang kurang representatif. Masalah lain yang perlu menjadi perhatian adalah fasilitas – fasilitas olahraga yang ada di Gorontalo kebanyakan tersebar letaknya sehingga sulit bagi klub – klub atau kelompok – kelompok orang untuk menjangkau lokasi fasilitas olahraga. perancangan gedung olahraga untuk mengatasi kebutuhan fasilitas olahraga di kota Gorontalo  yang memiliki keterbatasan dengan fasilitas olahraga dengan memperhatikan kebutuhan kebutuhan olahraga serta rekreasi melalui konsep biomorfik funicular. Penerapan konsep biomorfik pada sport center agar dapat menggunakan elemen eksisting alam sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan bentuk. Kata Kunci : Gedung Olahraga, Gorontalo
KANTOR DINAS PEMADAM KEBAKARAN DI MANADO. Geometri Modular Rocky B. Wongkar; Judy O. Waani; Hendriek H. Karongkong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17988

Abstract

Di kota Manado telah menunjukan pertumbuhan yang sangat pesat terutama di permukiman yang semakin padat dan menyebabkan rawannya resiko bencana kebakaran. Dalam hal ini sering terjadi pada kawasan-kawasan  padat seperti di pusat kota pertokoan, perkantoran, rumah makan, pasar, pemukiman penduduk (kumuh). Kebutuhan kota akan dinas pemadam kebakaran tidak terpenuhi karena kekurangan Petugas pemadam kebakaran. Akibat dari kondisi tersebut, begitu terjadi kebakaran, warga langsung panik dan tak tahu apa yang harus dilakukannya.Dinas pemadam kebakaran memiliki kantor sebagai pos unsur pelaksana pemadam kebakaran. Kantor tersebut berguna sebagai tempat parkir kendaraan pemadam kebakaran serta penyimpanan sarana dan prasarana dinas pemadaman kebakaran, pusat informasi dan pengaduan, serta lokasi operasi komando pemadam kebakaran.Berdasarakan pendekatan, tema Geometri modular maka kantor dinas pemadam kebakaran di manado ini di rancang. hasil desain merupakan konsep perancangan tapak dan ruang luar, konsep ruang dalam, konsep perancangan bangunan juga konsep-konsep lainnya yang diperlukan pada pengembangan objek rancangan.Perancangan gedungkantor dinas pemadam kebakaran di manado ini di laksanakan dengan pertimbangan – pertimbangan atau konsep – konsep dasar perancangan yang mengacu pada tipologi,tema dan eksisting site.sedangkan desain berdasarkan proses perancangan lima langkah,permulaan,persiapan,pengajuan usul evaluasi dan tindakan.sehingga di capai bentuk arsitektur yang ideal yang memenuhi kebutuhan sesuai dengan  fungsi layanan dinas pemadam kebakaran di kota Manado. Kata Kunci: Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Di Manado, Manado, Geometri Modular
HOTEL WISATA DI KOTAMOBAGU. Arsitektur Nusantara Juan O. Kiriman; Judy O. Waani; Faizah Mastutie
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19023

Abstract

Perkembangan perekonomian Kota Kotamobagu ke depan diperkirakan akan mengalami peningkatan yang pesat dikarenakan dinamika sosial ekonomi yang sangat aktif. Dapat dibayangkan saat ini Kota Kotamobagu telah menjadi simpul utama bagi beberapa kabupaten sekitar yang berdekatan seperti: Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Selatan, Bolaang Mongondow Timur, dan bahkan Minahasa Selatan.            Pada bagian lain Kota Kotamobagu telah berkembang jasa hotel dan restoran yang sangat mendukung pengembangan pariwisata di daerah, baik di Kota Kotamobagu sendiri maupun kabupaten-kabupaten sekitar serta provinsi dan nasional, maka untuk lebih mendukung wisatawan datang ke Kota Kotamobagu, harus ada hotel-hotel mewah yang menarik para wisatawan berkunjung ke Kotamobagu.            Pengembangan Hotel Wisata dengan Tema Arsitektur Nusantara akan menjadi prospek yang menjanjikan dimasa moderen sekarang ini dengan berbagai alasan. Dengan menghadirkan hotel yang berkarakter Kotamobagu akan menjadi daya tarik wisatawan datang ke Kota Kotamobagu.     Kata Kunci : Hotel, Kotamobagu, Arsitektur Nusantara
LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK DI MANADO. Arsitektur Perilaku Gabriella F. Lengkoan; Judy O. Waani; Frits O. Siregar
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20669

Abstract

Manado sebagai Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara menjadi pusat perkembangan dari segala bidang. Dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi dan ketidak seimbangan pernawaran dan permintaan kerja menjadi salah satu faktor pemicu tindak kriminal. Kejahatan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia tak terkecuali di Manado yang menjadi pusat perkembangan daerah. Kejahatan juga sangat mungkin terjadi pada anak-anak, tak jarang kita jumpai kasus kriminal yang dilakukan oleh anak-anak.Anak yang menjadi faktor penting dari suatu bangsa, dimana anak merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa dan generasi penerus bangsa yang harusnya dilindungi. . Dengan keterbatasan jumlah Lembaga Pemasyarakatan Anak di Indonesia saat ini mengakibatkan sebagian kasus pidana anak harus ditahan di Lembaga Pemasyarakatan dewasa. Penempatan anak bercampur dengan tahanan dewasa sangat rentan terhadap pelanggaran hak asasi anak dan beresiko pada psikologis anak.Dengan menggunakan pendekatan arsitektur perilaku kita dapat menghadirkan Lembaga Pemasyarakatan yang cocok untuk anak-anak. Dengan memahami pola perilaku para narapidana anak kita dapat mengadirkan fasilitas yang dapat membantu dalam proses belajar dan pengembangan karakter menjadi lebih baik., serta tidak memberikan kesan tertekan sehingga narapidana anak dapat merasa nyaman.Kata kunci : Anak, Lembaga Pemasyarakatan, Arsitektur Perilaku
AKADEMI DAN KONSERVATORI SENI MUSIK DI MANADO. Gestalt dalam Arsitektur Maria Vensensia; Judy O. Waani; Claudia S. Punuh
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20830

Abstract

Seni musik semakin berkembang dan telah bertumbuh luas di berbagai daerah, ini mengakibatkan minat dalam musik semakin bertambah dan masih akan terus bertambah. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan musik yang ada di dunia terlebih di Indonesia. Selain menjadi hoby peran media sosial yang semakin berkembang mendorong musik untuk ditekuni secara profesional. Oleh karena itu zaman sekarang banyak masyarakat yang ingin mempelajari musik itu secara lebih dalam seperti pendidikan yang mengkhususkan pada musik. Namun pendidikan musik yang terdapat di Indonesia paling banyak hanya berupa tempat-tempat kursus dan untuk pendidikan tinggi musik masih sangatlah kurang.  Salah satu objek Arsitektur yang memfasilitasi kegiatan ini adalah Akademi dan Konservatori musik. Akademi dan konservatori  musik merupakan wadah setara perguruan tinggi untuk menyalurkan dan mengembangkan keahlian dalam bermusik baik dalam hal pendidikan, pemeliharaan hingga pengembangan musical seperti pementasan baik teater, paduan suara yang menggabungkan lagu, dialog ucapan, akting, dan tarian serta ditunjang dengan ruang pembelajaran dan galeri. Bangunan ini membutuhkan ruang yang dapat menunjang kesinambungan fungsi dan kenyamanan pengguna, Konsep dari tema Gestalt ini menjamin rancangan bangunan dari segi kenyamanan bangunan baik strukrur maupun pola hubungan ruang. Dengan mempelajari prinsip rancangannya, maka kita akan mengetahui dan memahami penerapan tema ini pada objek bangunan. Kata kunci : Gestalt, Akademi, Konservatori, Musik
PSYCHIATRIC HOSPITAL. Spiritual Architecture Christopher S. Majore; Papia J. C. Franklin; Judy O. Waani
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.21253

Abstract

Arti kata “spritual” telah berkembang dari waktu ke waktu dan saat ini memiliki banyak arti dan konotasi. Dulu ia dikaitkan dengan agama, perasaan religius dan Roh Kudus. Namun di era yang modern ini, kata tersebut kini memiliki makna yang bersifat duniawi dan lebih luas serta tertuju pada rasa yang tidak ada pada/tidak berasal dari dunia ini. Ia telah menjadi kata yang biasa digunakan sebagai cara untuk mendefinisikan hal-hal yang tidak memiliki wujud dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Pada saat ini banyak arsitektur yang telah kehilangan maknanya, hanya sekedar seni retina mata. Alih-alih membuat kita merasakan keberadaan kita sebagai manusia yang ada di dunia, kita seperti ditempatkan untuk melihat dunia dari luar, layaknya bayangan penonton yang diproyeksikan di depan permukaan retina .Spiritual Architecture adalah sesuatu yang dengan sederhananya menggugah diri kita dengan mempengaruhi indra-indra kita dalam cara tertentu untuk membangkitkan perasaan batin kita pada tingkat yang lebih dalam.Manusia adalah suatu kesatuan dari jasmani dan rohani sehingga begitulah juga kita dalam ber-arsitektur yakni bukan hanya sekedar wadah jasmani manusia saja tetapi juga (terlebih lagi) aspek rohaninya (spiritual; jiwa). Kesehatan jiwa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan manusia dan merupakan bagian integral dalam menunjang kualitas hidup manusia yang utuh. Terganggunya kesehatan jiwa seseorang menandakan adanya ketidakseimbangan dalam dirinya. Spiritual Architecture yang dimaksud di sini adalah pendekatan perancangan yang mengangkat kembali unsur arsitektur yang mampu menyentuh ke dalam perasaan, menimbulkan reaksi dan sikap kejiwaan, arsitektur yang mendidik untuk menghayati ruang serta suasana secara manusia yang mulia dan utuh dalam arti menyeimbangkan, mengawinkan dimensi guna dan citra, yang telah lama timpang dalam dunia arsitektur modern.Kata Kunci : Psychiatric, Hospital, Spiritual, Architecture
KANTOR GUBERNUR SULAWESI TIMUR. Arsitektur Regionalisme Ardanny Pengan; Pingkan P. Egam; Judy O. Waani
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.21303

Abstract

Indonesia terdiri atas 34 provinsi yang telah ada saat ini. Tumbuh beberapa wacana dan aspirasi masyarakat untuk pemekaran provinsi-provinsi baru di Indonesia. Saat ini Provinsi terkahir di Indonesia yang ke 34 adalah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) diresmikan oleh DPR RI menjadi provinsi termuda di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2012 pada tanggal 25 Oktober 2012. Setelah empat tahun berlalu, kini muncul calon provinsi ke-35 di Indonesia, yaitu provinsi Sulawesi Timur, yang berasal dari pemekaran wilayah Sulawesi Tengah. Pembentukan Provinsi Sulawesi Timur (Sultim) tidak lagi dalam wacana setelah sidang rapat paripurna DPRD Sulawesi Tengah memutuskan Sultim sebagai daerah otonomi baru.Perlu di ciptakan suatu pusat pemerintahan daerah berskala kantor gubernur pemangkasan pelayanan administrasi dan pemangkasan birokrasi dari ibukota provinsi Sulawesi tengah menjadi ibu kota provinsi Sulawesi timur.Tujuan dari “Perancangan Kantor Gubernur Sulawesi Timur” adalah merancang kantor gubernur dengan pendekatan tema ”arsitektur regionalisme” yang dimana mampu bertahan terhadap budaya luar, dan orientasi yang menunjukan pandangan hidup dan system nilai masyarakat. berdasarkan pada standar-standar sarana dan prasarana kerja, yang diharapkan dapat menjadi lingkungan kerja yang baik sebagai upaya peningkatan motivasi kerja dan menciptakan suatu bentuk kinerja yang efisien dan terpadu serta dapat menjadi lambang kebanggaan atau kesejahteraan daerah Sulawesi timur. Kata kunci : Sulawesi Timur, Kantor Gubernur, Regionalisme
BOLAANG MONGONDOW CULTURAL CENTER. Arsitektur Neo Vernakular Reza P. Bahansubu; Judy O. Waani; Cynthia E. V. Wuisang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23679

Abstract

Kebudayaan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari manusia ataupun masyarakat, dimana ada kebudayaan disitu pula ada masyarakat. Di Kotamobagu kebudayaan belum dikenal oleh masyarakat luas. Kondisi saat ini masyarakat Kotamobagu khususnya generasi muda sudah perlahan melupakan kebudayaan mereka karena terbatasnya informasi akan budaya setempat dan juga faktor tidak adanya ketersediaan wadah para generasi muda untuk berekspresi,. Karena itulah dibutukan kehadiran sebuah pusat kebudayaan atau Cultural Center. Sebuah pusat kebudaaan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat yang mendekatkan budaya Bolaang Mongondow dengan orang Bolaang Mongondow sendiri, tetapi juga bertindak sebagai wadah pelestarian budaya yang dapat berkomunikasi langsung dengan masyarakat mengenai sejarah dan budayanya. Tema yang digunakan dalam perancangan Pusat kebudayaan iniadalah Neo Vernakular. Neo Vernakular adalah tema yang biasa digunakan dalam perancangan yang menerapkan unsur budaya dan lingkungan tetapi juga juga bisa menghasilkan karya baru yang orisinil dari perancang. Penerapan tema ini diharapkan mampu menginterpretasikan Budaya di Bolaang Mongondoow lewat objek Cultural Center yang dirancang. Kata Kunci :, Kebudayaan, , Cultural Center , Neo Vernakular..
ENTERTAINMENT CENTER DI MANADO. Biophilic Architecture Resky A. F. Th. Durandt; Judy O. Waani; Pingkan P. Egam
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24039

Abstract

           Kota Manado adalah Ibukota dari Provinsi Sulawesi utara yang merupakan kota kedua terbesar di pulau Sulawesi, berdasarkan Dinas Pariwisata, kota Manado memiliki 84 obyek pariwisata dimana 78 obyek diantaranya merupakan obyek pariwisata buatan. Pengembangan sektor pariwisata diyakini mampu memberi efek bagi kesejahteraan daerah dan mewujudkan manado sebagai Kota Ekowisata sebagai tujuan turis di ujung utara sulawesi.Entertainment Center merupakan bangunan yang mengakomodasi pusat hiburan terpusat, berdasarkan fenomena masyarakat dan pusat rekreasi yang sudah ada apabila obyek tersebut monoton akan ditinggalkan oleh masyarakat, Maka perlu sebuah bangunan hiburan yang menyediakan fasilitas menarik yang terpusat didalam satu area atau kawasan.Tema yang di terapkan dalam proses perancangan objek Entertainment Center adalah “Biophilic Architecture” tema ini mengangkat dan menampilkan sebuah hasil perancangan yang didalamnya menerapkan Prinsip-prinsip dari Biophilic Design (Nature in the spaces, Natural Analogues, Nature of the spaces) dengan 14 Patterns dan juga Karakter-karakter Biophilic yang menghadirkan suasana alami dengan elemen-elemen alam seperti tumbuhan, material-material alami dan mengadopsi bentuk-bentuk alam dan juga pemanfaatan alam ke dalam konsepsi perancangan massa . Penerapan tema ini diharapkan mampu menjadi sebuah citra baru terhadap fasilitas rekreasi dan entertainment yang unik di Kota Manado, sehingga dapat menarik minat masyarakat dan juga wisatawan dari luar dengan karakteristiknya serta menjadi icon bangunan pariwisata di Kota Manado yang kemudian dapat berdampak meningkatknya pertumbuhan perekonomian daerah di bidang pariwisata. Kata Kunci : Entertainment Center, Biophilic Architecture, Biophilic Design, Prinsip Biophilic Design(Nature in the spaces, Natural Analogues, Nature of the spaces)