Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PROLIFERATION OF OIL PALM (Elaeis guineensis Jacq.) EMBRYOGENIC CALLUS WITH REPEATED SUBCULTURES IN LIQUID MEDIUM Karyanti, Karyanti; Tajuddin, Teuku; Khairiyah, Hayat; Purwoko, Devit; Sukarnih, Tati; Rahmadara, Gemilang; Hanifah, Nurul Fitri; Rudiyana, Yayan; Kitagawa, Sayuri; Mira, Farida Rosana; Saga, Hirohisa
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 8 No. 1 (2021): June 2021
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.075 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v8i1.4715

Abstract

The availability of high-quality seeds is now a necessity. This is due to a government program to replace oil palm trees in smallholder plantations with high quality seeds. An efficient protocol to produce a large number of embryos is needed. To increase the number of embryogenic callus production, the callus proliferation experiment was carried out through suspension culture. This study aimed to examine the proliferation ability of embryogenic callus from three different oil palm clones, in several repeated subcultures. Liquid MS media added with 1 ppm 2.4-D and 0.1 ppm NAA were used. Embryogenic callus was weighed by 0.1 - 0.2 g, transferred into the liquid media, shaking at 60-80 rpm and 27 ºC for 8 weeks without light. Continues subcultures were repeated up to 7 times. The results showed that the growth rate of embryogenic callus increased in the third and fourth subcultures and then decreased in subsequent subcultures. It also revealed that the entire embryogenic callus from the first subculture up to seventh subculture still has the ability to regenerate into new plants. These results indicate that oil palm embryogenic callus can be proliferated by suspension culture with a limit up to the fourth subculture. Ketersediaan benih kelapa sawit berkualitas saat ini merupakan kebutuhan karena adanya program pemerintah untuk menggantikan tanaman sawit di kebun-kebun petani. Salah satu cara vegetatif yang dapat dilakukan adalah meningkatkan jumlah kalus embriogenik yang dihasilkan melalui pengembangan kultur suspensi. Penelitian ini bertujuan mengkaji kemampuan proliferasi kalus embriogenik dari tiga klon kelapa sawit, pada beberapa kali subkultur yang berulang. Media cair MS dengan penambahan 1 ppm 2,4-D dan 0,1 ppm NAA digunakan untuk memperbanyak 0,1–0,2 g kalus embriogenik, dikocok pada 60-80 rpm dan suhu 27 ºC tanpa cahaya selama 8 minggu. Subkultur berulang dilakukan hingga 7 kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kemampuan proliferasi kalus dipengaruhi oleh genotip tanaman induk. Rata-rata kalus embriogenik dapat meningkat pada subkultur ke-3 dan ke-4 dan semakin menurun pada subkultur selanjutnya. Kalus embriogenik hasil proliferasi subkultur pertama hingga ke-7 dapat tumbuh menjadi calon tanaman baru. Hasil ini menunjukkan bahwa kalus embriogenik kelapa sawit dapat diperbanyak dengan kultur suspensi pada batas sampai subkultur ke-4.
Pelatihan Komunikasi Asertif dengan Teknik Psychoeducational Intervention untuk Mencegah Cyberbullying Karyanti, Karyanti; Syarif, Dina Fariza Tryani; Fatchurahman, M.
Carmin: Journal of Community Service Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Borneo Research and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59329/carmin.v4i1.115

Abstract

The training held in the Stimulus Community Partnership Program Community Service (PKMS) is aimed at employees in the UMPR environment. Implementation of assertive communication training using psychoeducational intervention techniques to prevent cyberbullying at SMK Negeri 3 Palangka Raya as a solution to problems faced by students who are in the adolescent phase and tend to be involved in cyberbullying either as perpetrators or victims. Cases of cyberbullying in the school environment do not only involve students as bullies and victims. Incidents of cyberbullying are increasing internationally and are considered a problem both inside and outside of school. Cyberbullying has received attention because it affects many individuals of various ages in a variety of settings, especially adolescents. The training activities were implemented for one day on August 15, 2022. The training participants totaled 150 students. Based on the results of the analysis of the success of the training, 91% of students experienced increased knowledge about cyberbullying and had assertive communication skills.
PEMBIASAAN MENYANYIKAN LAGU DAERAH PADA AWAL PEMBELAJARAN SEBAGAI UPAYA PENANAMAN LITERASI BUDAYA SISWA SMP NEGERI 6 SEMARANG Istiqomah, Lina Nuril; Suneki, Sri; Karyanti, Karyanti; Maryanto, Maryanto
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 3 (2024): Vol. 7 No. 3 (2024): Volume 7 No 3 Tahun 2024 (Special Issue)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i3.32353

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data primer dan sekunder dikumpulkan guna menggambarkan penelitian. Data diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan semuanya dilakukan secara induktif selama proses analisis data. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana kebiasaan menyanyikan lagu daerah di awal pembelajaran dapat menanamkan literasi budaya. Ketersediaan fasilitas yang memadai merupakan faktor penting dalam mendukung proses pembiasaan menyanyikan lagu daerah pada awal pembelajaran sebagai upaya menanamkan literasi budaya bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Semarang. Memperkenalkan literasi budaya kepada siswa sangatlah penting. Melalui literasi budaya, siswa dapat menyelami kekayaan budaya di sekitar mereka, baik budaya lokal maupun budaya global. Tantangan dalam penerapan kebiasaan menyanyikan lagu daerah muncul pada siswa yang kurang antusias saat bernyanyi. Untuk mengatasinya, strategi reward dan punishment diterapkan dengan tujuan memberikan pemahaman kepada siswa bahwa lagu daerah merupakan salah satu wujud dari literasi budaya.
IMPLEMENTASI SISTEM AMONG KI HAJAR DEWANTARA DALAM MEWUJUDKAN MERDEKA BELAJAR PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DI SMP NEGERI 6 SEMARANG Trisnowati, Indi Depi; Suneki, Sri; Karyanti, Karyanti; Maryanto, Maryanto
PeTeKa (Jurnal Penelitian Tindakan Kelas dan Pengembangan Pembelajaran) Vol 7, No 3 (2024): PeTeKa (Jurnal Penelitian Tindakan Kelas dan Pengembangan Pembelajaran) Publish
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ptk.v7i3.424-430

Abstract

Konsepsi sistem among ini merupakan suatu pemikiran yang sangat mendasar dalam bagaimana suatu proses pendidikan itu dijalankan, oleh sebab itu konsepsi sitem among ini harus diimplementasikan dalam setiap mata pelajaran oleh seorang pendidik. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana implementasi sistem among KHD dalam mewujudkan merdeka belajar pada mata pelajaran pendidikan pancasila di SMP N 6 Semarang. penelitian ini merupakan penelitian tindak kelas yang bersifat kolaboratif. Hasil dari penelitian ini yaitu sistem among telah di implementasikan sesuai dengan konsepsinya dalam mewujudkan merdeka belajar. Terdapat tiga pilar yang telah diimplementasikan dengan baik oleh peneliti, yaitu ing ngarso sung tulodho, dibuktikan dengan guru telah memberikan dan menjadi tauladan yang baik dalam segala aspek sikap, perilaku, metode pembelajaran, kedisiplinan dan keterlibatan sosial, ing madyo mangun karso dibuktikan dengan guru telah mengambil peran aktif ditengah tengah siswa untuk membangkitkan semangat, inisiatif dan kreatif mereka. Dengan membuka dialog interaktif, berkolaborasi dalam proyek, berperan sebagai narasumber dan fasilitator, dan tut wuri handayani, Guru mendorong siswa untuk mengeksplorasi potensi mereka secara penuh, baik dalam daya, cipta, rasa, karsa maupun karya.
Pelatihan Self Healing Untuk Mengurangi Burnout Konselor Sekolah Syarif, Dina Fariza Tryani; Fatchurahman, M.; Karyanti, Karyanti
Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara Vol 6 No 1 (2022): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/ja.v6i1.16804

Abstract

Training held in Community Service Stimulus Community Partnership Program (PKMS) is intended for counselors. The implementation of Self Healing is designed to reduce Burnout School Counselor, as a solution to problems faced by employees who tend to experience psychological stress, such as stress which may hinder the performance of school counselors. For that counselors and psychologists can facilitate Burnout Prospective school counselors. Organizational changes, such as restructuring and mergers, can result in higher levels of job stress and demands, such as psychological uncertainty about how the change will affect their position, role ambiguity i.e., unclear expectations. Employees indicated that one of the outcomes of psychological stress was Burnout. Burnout is a psychological process produced by work stress that is inseparable and results in emotional exhaustion, personality changes, and decreased feelings of achievement. The training activities were carried out for two days from October 09 to October 10, 2021. The training participants consisted of 20 counselors. The team evaluates the program and the results of self-healing using an instrument in the form of a scale. The scale is used as a pre-test and post-test. Based on the results of the pre-test and post-test ontraining, self-healing participants at the beginning of the activity experienced burnout in the high and medium categories, after thetreatment was carried out self-healing, based on the results of the post-test. burnout counselordecreased in the medium and low categories. It can be concluded thattraining self-healing can reduce burnout counselor.