Claim Missing Document
Check
Articles

Puyang Dalam Kepercayaan Masyarakat Desa Ujanmas Lama Kecamatan Ujanmas Kabupaten Muara Enim Abdi Harwedi; Endang Rochmiatun; Otoman Otoman
Tanjak: Sejarah dan Peradaban Islam Vol 2 No 1 (2022): Tanjak : Jurnal Sejarah dan Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/tanjak.v2i1.11971

Abstract

This study attempts to describe the beliefs of the people of Ujanmas Lama Village towards the puyang and the traditions carried out by the community in respecting the puyang. The method used is the ethnographic method by conducting direct observations, interviews, and documentation. The results showed that the people of Ujanmas Lama Village understood puyang as ancestors or figures who had established a village. This makes the people of Ujanmas Lama Village very respectful of their puyang, so that people have confidence in the magical or supernatural powers of the puyang. People believe that anything that becomes a legacy is something that must be considered sacred and has spiritual power. From this community belief, people have great respect for puyang. The respect of the puyang in some of what is done by the pilgrimage community to the puyang tomb, such as to the objects of the puyang heritage, and the implementation of customary law that has existed since the kepuyangan era.
Peranan KH. Ahmad Taufiq Hasnuri Dalam Dakwah Islam di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan (1420-1441 H / 2000-2019 M) Farhan Pranata; Endang Rochmiatun; Padila Padila
Tanjak: Sejarah dan Peradaban Islam Vol 2 No 1 (2022): Tanjak : Jurnal Sejarah dan Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/tanjak.v2i1.11978

Abstract

This writing is entitled The Role of KH. Ahmad Taufiq Hasnuri in Syiar Islam in Palembang City, South Sumatra Province (1420-1441 H/2000-2019 AD). In this paper discusses the history of KH. Ahmad Taufiq Hasnuri on social life and education. And the role of KH. Ahmad Taufiq Hasnuri in the development of Islamic symbols in the city of Palembang. In this paper, historical methods are used with stages, heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The theory used in this research is the role theory proposed by Soejono Soekanto. KH Ahmad Taufiq Hasnuri is a phenomenal local cleric with the characteristics of his da'wah so that it is accepted and developed in the community.
Perkembangan Tari Pakkuru Sumange’ Pada Masyarakat Suku Bugis di Desa Sungsang II Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin Anwar Anwar; Endang Rochmiatun; Nurfitri Hadi
Tanjak: Sejarah dan Peradaban Islam Vol 2 No 1 (2022): Tanjak : Jurnal Sejarah dan Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/tanjak.v2i1.11980

Abstract

This writing is entitled The Development of the Pakkuru Sumange Dance in Sungsang II Village, Banyuasin II District, Banyuasin Regency. In this paper, we discuss the history and function of Pakkuru Sumange' Dance and the Development of Pakkuru Sumange' Dance. In this paper, we use the historical method of Data Collection Techniques (Observation, Interview and Documentation) Research Approach (Qualitative) Research Data Sources (Primary and Secondary) Data Analysis Techniques (Data Reduction, Data Presentation and Conlusion Drawing) Research Locations (Library Studies, Field Studies). The theory used in this study is the theory of Fusion proposed by A.L. Kroeber. Pakkuru Sumange dance is a dance that invites invited guests as guests of honor.
Elit Lokal Palembang dan Polemik Kebangkitan Kesultanan Palembang: Menggali Sumber Sejarah melalui Manuskrip Endang Rochmiatun
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.373 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v8i1.103

Abstract

The State of Sultan Mahmud Badaruddin II's descendant (zuriat) after the Sultanate of Palembang was controlled by Dutch Colonials in the XVIII AD century, Palembang Sultanate was the center of Islamic studies in Indonesian Archipelago and was the continuity of the development of Islam in Aceh which declined in the XVII AD. In XVIII AD ulema and intellectuals received great encouragement and attention from the Sultanate which causes the emergence of ulema writers whose works still can be read and taught in the society til now. The development of Islamic intellectuals at that time is inseparable from the role of the rulers (sultan) who ruled. The Sultan highly encouraged the ulema and intellectuals in conducting Islamic studies, especially during the reign of Sultan Mahmud Badaruddin II both nationally and internationally. --- Keadaan zuriat (keturunan) Sultan Mahmud Badaruddin II setelah Kesultanan Palembang dikuasai Kolonial Belanda pada Pada abad XVIII M, Kesultanan Palembang merupakan pusat kajian Islam di Nusantara dan merupakan kontinuitas dari perkembangan Islam di Aceh yang megalami kemunduran pada abad XVII M. Pada abad XVIII M tersebut para ulama dan cendekiawan mendapat dorongan serta perhatian yang besar dari pihak Kesultanan, sehingga muncul ulama-ulama penulis yang karya-karyanya masih tetap dapat dibaca dan diajarkan di masyarakat hingga sekarang. Berkembangnya bidang intelektual Islam pada masa itu tak lepas dari peran para penguasa (sultan) yang meme-rintah. Para Sultan sangat mendorong para ulama dan cendekiawan dalam melakukan kajian keislaman, terutama pada masa Sultan Mahmud Badaruddin II baik nasional maupun internasional.
Orang Laut, Bajak Laut, dan Raja Laut: Dinamika Kehidupan dan Kekuasaan dalam Naskah Kontrak Sultan-sultan Palembang Abad 18-19 Endang Rochmiatun
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3524.471 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.75

Abstract

Sriwijaya Kingdom and Palembang Sultanate were the maritime empires that could not be separated from an understanding of the sea. The role of sea as a liaison with other regions also made their knowledges opened, because any information and knowledge from the outside world or otherwise entered through the sea. The Manuscript Kontrak Sultan-Sultan Palembang of 18-19 centuries reveal the dynamics of the life and power of the sea. "Pirate" is one side of the power at sea which are often referred in the text. Behind the pirates actually contained another role in the dynamics of sea life, which is "the people of sea" and "the king of the sea". This study examines the dynamics of life and power of the Palembang Sultanate in 18-19 century as a maritime empire. Role, position, even the existence of conflict and domination helped to reinforce the relationship between the three entities of the sea community. In addition, this study also examined the agreements, conventions, and rules regulating those involved in aquatic life in the Palembang Sultanate. --- Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang adalah kerajaan maritim yang tak lepas dari pemahaman terhadap laut. Laut sebagai penghubung dengan wilayah lain juga telah membuka cakrawala pemikiran mereka, sebab informasi dan ilmu pengetahuan dari dunia luar atau sebaliknya masuk melalui laut. Naskah Kontrak Sultan-Sultan Palembang dari abad 18-19 mengungkap adanya dinamika kehidupan dan kekuasaan di laut. “Bajak laut” merupakan salah satu sisi kekuasaan di laut yang banyak disebut dalam naskah tersebut. Dibalik adanya bajak laut sebenarnya terdapat peran dalam dinamika kehidupan lainnya di laut yakni adanya “orang laut” dan “raja laut”. Kajian ini mengupas dinamika kehidupan dan kekuasaan Kesultanan Palembang pada abad 18-19 sebagai kerajaan maritim. Peran, kedudukan, bahkan adanya konflik dan dominasi ikut mewarnai hubungan antara ketiga entitas komunitas laut tersebut. Selain itu, kajian ini juga akan menelaah adanya kesepakatan-kesepakatan, dan konvensi aturan main (hukum) dalam mengatur mereka yang terlibat dalam kehidupan di perairan dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Palembang.
Naskah Gelumpai di Uluan Palembang: Antara Ajaran Islam dan Ajaran Hindu-Buddha Endang Rochmiatun
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.494 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.129

Abstract

This article discusses the manuscripts of gelumpai (bamboo blades) which have ulu or kaganga characters which are the cultural treasures of riverbank communities in South Sumatra. One of the gelumpai manuscripts in this study is a manuscript consisting of 14 bamboo blades. This manuscript was made around the 16th-17th century AD, which was produced by the ulama of the Palembang Darussalam Sultanate using upstream and Javanese characters. The contents of this text tell about profiles, character and social values, and invitations to refer to Islam as Shari'a in life. Another "gelumpai" text is a manuscript consisting of eight bamboo blades. This manuscript comes from the sub-ethnic Malays who occupy the Musi Rawas region today. Fill in the text of the text containing the teachings in Hinduism and Buddhism, with many mentioning the word Maharesi and pastors who recite mantras. --- Tulisan ini membincangkan tentang naskah gelumpai (bilah bambu) yang beraksara ulu atau kaganga yang menjadi kekayaan budaya masyarakat tepian sungai di Sumatera Selatan. Salah satu naskah gelumpai dalam kajian ini adalah naskah yang terdiri dari 14 bilah-bilah bambu. Naskah ini dibuat sekitar abad ke-16-17 Masehi, yang diproduksi oleh kalangan ulama Kesultanan Palembang Darussalam dengan menggunakan aksara hulu dan bahasa Jawa. Isi dari naskah ini menceritakan tentang profil, karakter dan nilai-nilai sosial, serta ajakan agar merujuk Islam sebagai syariat dalam kehidupan. Naskah “gelumpai” lainnya yakni naskah yang terdiri dari 8 bilah bambu. Naskah ini berasal dari sub Etnis Melayu yang menempati kawasan Musi Rawas saat ini. Isi teks naskah berisikan tentang ajaran-ajaran dalam Agama Hindu dan Budha, dengan banyak menyebutkan kata Maharesi dan pendeta yang membaca mantra-mantra.
Peran Sungai Musi dalam Perkembangan Peradaban Islam di Palembang: Dari Masa Kesultanan sampai Hindia-Belanda Ida Farida; Endang Rochmiatun; Nyimas Umi Kalsum
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1043.327 KB) | DOI: 10.30829/juspi.v3i1.4079

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang peran Sungai Musi dalam perkembangan peradaban Islam di Palembang yang dipengaruhi oleh Sungai Musi dan anak-anak sungainya. Kajian historis mengambil rentang waktu pada masa Kesultanan Palembang Darussalam sampai Hindia-Belanda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Morfologi perkotaan Palembang mengikuti alur Sungai Musi mulai dari muara Sungai Ogan sampai ke muara Sungai Komering dengan bentuk seperti pita. Karena sangat ditentukan oleh sungai, maka ketika Islam berkembang di daerah ini membentuk peradaban sesuai dengan kondisi geografisnya. Pada masa Hindia-Belanda, beberapa warisan peradaban ini mengalami penyesuaian dengan kepentingan politik pembangunan. Morfologi Palembang berubah menjadi “kota daratan”. Meski belum sepenuhnya, ada upaya adaptasi dari masyarakat atas perubahan-perubahan itu. Morfologi kota berubah, dari waterfront menjadi waterback. Simbol-simbol Islam lokal mulai tergantikan dengan simbol-simbol kolonialis. Bahkan, arsitektur masjid dan keraton tidak luput dari unsur-unsur kolonialis.Kata Kunci: Sungai Musi, peradaban Islam, Palembang.
Politik Identitas Komunitas Bali di Desa Mukti Jaya Kecamatan Muara Telang Kabupaten Banyuasin Indah Sari; Endang Rochmiatun
Ampera: A Research Journal on Politics and Islamic Civilization Vol 1 No 1 (2020): Ampera: A Research Journal on Politics and Islamic Civilization
Publisher : Program Studi Politik Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/ampera.v1i1.5203

Abstract

This paper explains and depicts the Politics of Bali Community Identity in the Mukti Jaya Village, Muara Telang District, Banyuasin District. This type of research is a study using a fact-based field case study approach in the field. The focus of this study is to find out how the Balinese group can be accepted and mingled, and even the existence of other migrant populations is recognized without social and cultural discrimination. This research wanted to know what processes and actions carried out by the Balinese group in order to get recognition and get their rights to be equal with other residents, and how the approach of the Balinese group with the majority community so that they never experienced conflict can live side by side safely and peacefully. In the village of Mukti Jaya, the Balinese group established very good relations with other migrants, the Balinese group upheld tolerance and help other fellow migrants. even the Balinese group was once the leader of a village head in the village of Mukti Jaya, with the holding of Balinese as the head of the Mukti Jaya Village the first milestone in getting permission to establish a place of worship in the village of Mukti Jaya. Balinese ethnic customs still flourish in the village of Mukti Jaya, and are still taught to the young generation of Balinese. for example Ogoh-ogoh celebrations, Ngaben ceremonies, and other Balinese arts.
AKULTURASI KEBUDAYAAN DALAM SENI “WAYANG PALEMBANG” Endang Rochmiatun
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 11 No. 1 (2021): Januari - Juni
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.833 KB) | DOI: 10.15548/khazanah.v11i1.522

Abstract

Wayang Palembang merupakan kesenian tradisional berupa seni pertunjukan dengan media tiruan orang yang terbuat dari kulit.Wayang Palembang mengandung nilai-nilai budaya yang universal karena menceritakan kehidupan manusia.Seni Wayang Palembang saat ini mengalami kemunduran bahkan punah. Kajian ini akan menguraikan eksistensi Wayang Palembang melalui jejak-jejak manuskrip (naskah-naskah kuno) yang membuktikan dahulu kesenian Wayang Palembang pernah eksis.
Ngumbai Lawok Ceremony: Social Construction and 'Urf' Perspective of the Coastal Muslim Community of Lampung Muhammad Saidun Anwar; Izomiddin Izomiddin; Endang Rochmiatun; Muhammad Noupal; Choirudin Choirudin
Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/rjsalb.v6i2.17587

Abstract

The study aims to explain the process of externalization, objectification, and internalization in the urf study of the implementation of ngumbai lawok. The research uses an ethnographic approach where data is taken by looking directly at the ceremonies and traditions to obtain details of the implementation carried out. Analysis of the data used is a descriptive analysis technique by describing the object's state under study. The results of this study describe ngumbai lawok is a form of traditional ceremony celebrated or carried out by the people of the West Coast as a form of gratitude to Allah swt to get fruitful results and avoid the calamity that will occur. The externalization process creates the ngumbai lawok ceremony, which is obtained based on his beliefs so far. The objectification process, which includes the ngumbai lawok ceremony, is obtained from the externalization process. Institutional agents consist of traditional leaders, community leaders, village heads, and fishing communities. The internalization process is explored in the name of the community again, perceiving and interpreting every meaning of the ngumbai lawok ceremony. Based on the urf theory review, ngumbai lawok is a form of gratitude in God's nature. In addition, it is a custom that has been accepted by the wider community, justified by considerations of common sense, brings good, and rejects damage. In ngumbai lawok, the request is also purely addressed to Allah and hopes for the blessing and salvation. In addition, in the ngumbai lawok ritual, in essence, the Coastal community only respects their previous ancestors and carries out traditions from generation to generation.