Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Suhu terhadap Aktivitas Antioksidan dalam Daun Zaitun (Olea europaea L.) dengan Metode DPPH Ulfi Abdul Rahman Oey; Tintrim Rahayu; Gatra Ervi Jayanti
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v5i1.15927

Abstract

Causes of degenerative diseases are caused by activities and unhealthy lifestyle. unhealthy lifestyle which in turn triggers free radicals. free radicals are moleculs that are not oxidized which cause the formation of new molecules that can damage body cells. free radicals can be overcome by giving natural antioxidants, one of which is form the olive plant (Olea europaea L.).The purpose of this study was to determine the effect of temperature treatment on antioxidant activity in olive leaves based on leaf age by calculating the IC50 value. The method used in this research is the DPPH method. Based on the results of the study, it can be concluded that the temperature of 31.6°c in young leaves according to calculations is categorized as a strong antioxidant because it provides a calculated value of 82.778 ppm and 165.093 ppm on old leaves and classified as moderate antioxidants, while temperature of 44°c give dominant level under 31.6°c with IC50 values 123.78 ppm for young leaves and 165.170 ppm for old leaves and classified as moderate antioxidants according to the theory that compounds that have very strong antioxidant activity values IC50 values are less than 50 ppm, strong if the IC50 are between 50 and 100, moderate antioxidant if the IC50 values are feasible 100-250 ppm, weak if the IC50 value is 250-500 ppm and inactive if the IC50 value is more than 500 ppm. and vice versa related to the selection of leaf age also affects the level of antioxidant activity seen from the comparison of results from the two treatments that young leaves have a higher level of antioxidant activity than old leaves in counteracting free radicals.Keywords : Temperature, Antioxidant, Olive (Olea europaea L.), DPPH.ABSTRAKPenyebab penyakit degeneratif disebabkan karena aktivitas dan pola hidup yang kurang sehat. Pola hidup kurang sehat yang pada akhirnya memicu radikal bebas. Radikal bebas adalah molekul yang tidak teroksidasi yang menyebabkan terbentuk molekul baru yang dapat merusak sel tubuh. Radikal bebas dapat diatasi dengan pemberian antioksidan salah satunya dari tumbuhan zaitun (Olea europaea L.). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan suhu terhadap aktivitas antioksidan pada daun zaitun berdasarkan umur daun melalui perhitungan nilai IC50. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode DPPH. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan suhu 31.6°C pada daun muda  menurut perhitungan IC50 dikategorikan sebagai antioksidan kuat karena memberikan nilai hasil perhitungan IC50  sebesar 82.778 ppm dan 165.093 ppm pada daun tua dan tergolong antioksidan sedang, sementara pada perlakuan suhu 44°C memberikan pengaruh lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan suhu 31.6°C dengan nilai IC50 sebesar 123.78 ppm untuk daun muda dan 165.170 ppm untuk daun tua dan tergolong antioksidan sedang sesuai teori bahwa senyawa yang memiliki nilai aktivitas antioksidan sangat kuat jika nilai IC50 kurang dari 50 ppm, kuat apabila nilai IC50 bernilai antara 50 sampai 100, antioksidan sedang apabila jika nilai IC50 bernilai 100-250 ppm, lemah jika nilai IC50 bernilai 250-500 ppm dan tidak aktif jika nilai IC50 bernilai lebih dari 500 ppm, begitupun sebaliknya terkait pemilihan umur daun juga berpengaruh terhadap tinggi rendahnya aktivitas antioksidan dilihat dari perbandingan hasil dari kedua perlakuan bahwa daun muda memiliki tingkat aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan dengan daun tua dalam menangkal radikal bebas.Kata Kunci : Suhu, Antioksidan, Zaitun (Olea europaea L.), DPPH.
Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Kotoran Rusa Bawean (Axis kuhlii) dan Kotoran Kambing (Capra aegagrus hircus) terhadap Pertumbuhan Tanaman Selada (Lactuca sativa) Zuhria binti Suhnin; Saimul Laili; Tintrim Rahayu
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v5i2.15400

Abstract

Goat dung (Capra aegagrus hircus) and bawean deer dung (Axis kuhlii) are grouped into groups with the same texture. The value of the ratio of C / N goat pukan is generally still above >30 While deer dung has a ratio level of C / N >35. This research took place at Jl Tambak Desa Tambak Keramat Kec.Tambak pulau bawean. The study was conducted from August 2021 to September 2021.The study used a complete randomized design experiment (RAL) using three 10 repetition treatments. The research data is analyzed by using ANOVA. If there is a significant influence, then the analysis continues with the BNT (Real Difference Tere¬cil) test of 5%.The results showed that the treatment that has a high and very good effect on the growth of lettuce plants (Lactuca sativa) treatment (P1), while in the treatment (P2) shows unfavorable results for the growth of lettuce plants (Lactuca sativa). Keywords: Bawean Deer Dung, Goat Dung, Lettuce ABSTRAK Kotoran kambing (Capra aegagrus hircus) dan kotoran rusa bawean (Axis kuhlii) dikelompokkan menjadi satu golongan dengan tekstur yang sama Nilai rasio C/N pukan kambing umumnya masih diatas >30 Sedangkan kotoran rusa mempunyai tingkat rasio C/N >35. Penelitian ini bertempat di Jl Tambak Desa Tambak Keramat Kec.Tambak pulau bawean dilakukan dari agustus 2021 sampai dengan bulan september 2021.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap  menggunakan tiga perlakuan 10 pengulangan.Data penelitian dianalisis dengan menggu­nakan ANOVA.Apabila terdapat pengaruh yang signifikan, maka analisis  dilanjut­kan dengan uji BNT (Beda Nyata Terke­cil) 5%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang berpengaruh yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa) adalah perlakuan campuran tanah humus dengan kotoran rusa bawean (P1) terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun berat basah dan kering tanaman selada, sedangkan pada perlakuan campuran tanah humus humus dengan kotoran kambing yang masih fresh (P2) menunjukkan  hasil yang tidak signifikan bagi pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa). Kata kunci: Kotoran Rusa Bawean, Kotoran Kambing, Selada
Pengaruh Variasi Konsentrasi Indole Butyric Acid (IBA) pada Anggrek (Dendrobium hybrid) terhadap Pertumbuhan dan Survival dalam Media Cocopeat Dewi Anjar Setyowati; Tintrim Rahayu; Gatra Ervi Jayanti; Dita Agisimanto
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v5i2.16959

Abstract

Orchids have endemic flowers with high aesthetic value and are widespread throughout Indonesia. One of the widely cultivated orchid varieties is the Dendrobium Orchid. The orchid cultivation process requires special handling, especially in the growing environment, which must be by the plant’s original habitat, so that plant growth and development become more optimal, especially the planting medium and the provision of nutrients must be appropriate. This study aimed to determine the optimal concentration of IBA on the growth of orchid plants (Dendrobium hybrid) and to determine the optimal variation of IBA concentration on the survival of orchid plants in cocopeat media. The research method was carried out experimentally using the Randomized Block Design (RAK). To compare the growth between the concentration of IBA and root growth has given four treatments: P1: 0.25 ml/L, P2: 0.50 ml/L, P3: 0, 75ml/L, P4: 1ml/L each treatment was given three replications and each replication contained four plant seeds with a total of 48 plant seeds. Observation parameters included root length, number of new roots, leaf length, number of leaves, plant length, plant wet weight, and plant survival. The optimal concentration of IBA on orchid growth at a concentration of 0.25 ml/L IBA optimal orchid growth was found in the parameters of the number of new roots. Plant length at a concentration of 0.75 ml/L IBA optimal orchid growth was found in root length and planted wet weight parameters. In the survival parameters of orchid plant life, the optimal concentration of IBA was found at a concentration of 0.25 ml/L. Keywords: Orchid, growth, orchid survival, and IBA ABSTRAK Anggrek memiliki bunga endemik yang memiliki nilai estetika tinggi dan menyebar luas di seluruh Indonesia. Salah satu varietas anggrek yang banyak dibudidayakan yaitu Anggrek Dendrobium. Proses budidaya anggrek memerlukan penanganan khusus terutama pada lingkungan tumbuh yang harus sesuai dengan habitat asli tanaman, agar pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi lebih optimal terutama media tanam dan pemberian unsur hara harus tepat. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui konsentrasi pemberian IBA yang optimal terhadap pertumbuhan tanaman angrek (Dendrobium hybrid) serta untuk mengetahui pemberian variasi konsentrasi IBA yang optimal terhadap survival kehidupan tanaman anggrek (Dendrobium hybrid) dalam media cocopeat. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK).untuk membandingkan pertumbuhan antara konsentrasi IBA terhadap pertumbuhan akar yang diberi 4 perlakuan : P1:0,25 ml/L, P2:0,50ml/L, P3: 0,75ml/L, P4: 1ml/L masing-masing perlakuan di berikan 3 ulangan dan setiap ulangan terdapat 4 bibit tanaman dengan jumlah keseluruhan 48 bibit tanaman. Parameter pengamatan meliputi panjang akar, jumlah akar baru, panjang daun, jumlah daun, panjang tanaman, berat basah tanaman, dan survival tanaman. Konsentrasi IBA yang optimal terhadap pertumbuhan anggrek pada konsentrasi 0,25 ml/L IBA pertumbuhan anggrek yang optimal terdapat pada parameter jumlah akar baru .Pada konsentrasi 0,50 ml/L IBA pertumbuhan anggrek yang optimal terdapat pada parameter panjang daun, jumlah daun, dan panjang tanaman. Pada konsentrasi 0,75 ml/L IBA pertumbuhan anggrek yang optimal terdapat pada parameter panjang akar dan berat basah tanaman. Pada parameter survival kehidupan tanaman anggrek konsntrasi pemberia IBA  yang optimal terdapat pada konsentrasi 0,25 ml/L. Keywords: Anggrek, pertumbuhan, survival anggrek, dan IBA
Pengaruh Kolkisin Metode Semprot dan Tetes terhadap Respon Fenotipik dan Profil Kromosom Phalaenopsis pulcherrima Istiqomah, Nuri Lailatul; Rahayu, Tintrim; Jayanti, Gatra Ervi
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 8, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.8.2.2023.86-95

Abstract

Kolkisin  merupakan mutagen untuk memengaruhi karakter  Phalaenopsis pulcherrima  tipe bunga kecil, diharapkan bunga yang lebih besar saat fase generatif. Tujuan penelitian adalah mengamati pengaruh terbaik melalui metode dan konsentrasi kolkisin yang berbeda terhadap Phalaenopsis pulcherrima pada fase vegetatif. Penelitian dilakukan di  Laboratorium Orchidology dan Nursery, Universitas Islam Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Rancangan penelitian berupa rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga ulangan dan terdiri dari perlakuan tetes, semprot, dan kombinasi (tetes dan semprot). Konsentrasi kolkisin 0,5%, 1%, 1,5% dan 2%. Hasil uji multivariate dan uji univariat menunjukkan metode dan konsentrasi kolkisin yang berbeda berpengaruh pada respon fenotipik Phalaenopsis pulcherrima (diameter batang, diameter akar, luas daun, ketebalan daun serta berat basah tanaman). Pada uji lanjut Games-Howell 5% perlakuan tetes dengan konsentrasi 1% merupakan perlakuan kolkisin terbaik berdasarkan indikator diameter batang, luas daun serta berat tanaman dan perlakuan tetes dengan konsentrasi kolkisin 0,5% untuk indikator ketebalan daun. Perlakuan terbaik adalah tetes dan kombinasi (tetes dan semprot) dengan konsentrasi 2% terhadap diameter akar Phalaenopsis pulcherrima.   Colchicine is a mutagen to the affect character of Phalaenopsis pulcherrima’s small flower can be bigger flowers for the generative phase. The research was to observe the best effect of different methods and concentrations of colchicine on Phalaenopsis pulcherrima in the vegetative phase. The research was conducted in the Orchidology and Nursery Laboratory, Universitas Islam Malang. The experimental method is a method of this research. Research Design with completely randomized design (CRD) in three replications of drip, spray, and combination (drops and sprays) with concentrations of 0.5%, 1%, 1.5% and 2% of colchicine’s treatment. The multivariate and  univariate test showed different methods and concentrations of colchicine effected on phenotypic response of Phalaenopsis pulcherrima (stem diameter, root diameter, leaf area, leaf thickness, and plant weight). In Games-Howell test 5%, drip treatment and 1% concentration was the best colchicine treatment in indicators of stem diameter, leaf area, plant weight and 0.5% concentration in leaf thickness. Drops and combinations treatment (concentration of 2%) is best treatment of root diameter. The best treatments are drops and combinations (drops and sprays) with a concentration of 2% on the root diameter of Phalaenopsis pulcherrima.
Uji Beberapa Jenis Sitokinin Terhadap Pertumbuhan Protocorm Like Body (PLB) Anggrek (Dendrobium sp.) Pada Media MS Dalam Bentuk Thin Liquid Film Emeliya, Emeliya; Rahayu, Tintrim; Jayanti, Gatra Ervi; Agisimanto, Dita
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 9, Nomor 1, Tahun 2024
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.9.1.2024.29-38

Abstract

Sitokinin berperan dalam pembelahan dan pembesaran sel sehingga memacu pertumbuhan tanaman,  sitokinin juga memacu pembentukan tunas baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai jenis sitokinin terhadap pertumbuhan PLB Anggrek (Dendrobium sp.) pada media MS dalam bentuk Thin Liquid Film secara in vitro. Metode penelitian menggunakan penelitian eksperimental dengan rancangan acak Lengkap (RAL) yaitu perlakuan kontrol dan jenis sitokinin BAP 0,1 mg/L, Kinetin 0,1 mg/L, 2-iP 0,1 mg/L, Metatopolin 0,1 mg/L, dan Air kelapa 10 mL, sehingga terdapat 7 perlakuan dengan 4 kali ulangan. Parameter yang diamati adalah persentase eksplan tumbuh, respon eksplan, saat muncul tunas, akar pertama muncul, daun pertama muncul, warna daun dan berat PLB. Analisis data menggunakan ANNOVA. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan perlakuan terbaik pada perlakuan 2-iP 0,1 mg/L terhadap parameter respon PLB, waktu muncul tunas pertama dan waktu daun pertama muncul. Pada parameter waktu akar pertama muncul yang paling cepat pada perlakuan BAP 0,1 mg/L. Perubahan warna yang terjadi pada PLB yaitu hijau 145 B menjadi hijau 141 A pada perlakuan BAP 0,1 mg/L. Pada  perlakuan kinetin 0,1 mg/L merupakan berat PLB yang paling optimum.  Cytokinins play a role in cell division and enlargement thereby stimulating plant growth, cytokinins also stimulate the formation of new shoots. The aim of this research was to determine the effect of giving various types of cytokinins on the growth of PLB Orchids (Dendrobium sp.) on MS media in the form of Thin Liquid Film in vitro. The research method used experimental research with a completely randomized design (CRD), namely control treatment and cytokinin type BAP 0.1 mg/L, Kinetin 0.1 mg/L, 2-iP 0.1 mg/L, Metatopolin 0.1 mg/L L, and 10 mL coconut water, so there were 7 treatments with 4 repetitions. The parameters observed were the percentage of explant growth, explant response, when shoots appeared, first roots appeared, first leaves appeared, leaf color and PLB weight. Data analysis using ANNOVA. Based on the observation results, it was found that the best treatment was the 2-iP 0.1 mg/L treatment for the PLB response parameters, the time the first shoot appeared and the time the first leaf appeared. The time parameter for the first roots to appear was the fastest in the 0.1 mg/L BAP treatment. The color change that occurred in PLB was green 145 B to green 141 A in the BAP 0.1 mg/L treatment. In the kinetin treatment 0.1 mg/L was the most optimum PLB weight.
Korelasi Warna Ujung Akar dengan Warna Bunga Berdasarkan Anatomi Ujung Akar Anggrek Phalaenopsis, Dendrobium dan Vanda Alifia, Ersa; Rahayu, Tintrim; Jayanti, Gatra Ervi
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 9, Nomor 1, Tahun 2024
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.9.1.2024.10-19

Abstract

Anggrek merupakan tanaman hias yang memiliki ciri khas bunga yang indah dan bentuk bunga yang membedakan dengan tanaman lainnya. Keragaman anggrek yang cukup tinggi di Indonesia, dibutuhkan penelitian untuk menunjukkan korelasi antara warna ujung akar dengan warna bunga anggrek, yang dapat dilihat dari anatomi ujung akar anggrek. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui korelasi warna pada ujung akar dengan warna bunga anggrek  Phalaenopsis, Dendrobium dan Vanda. Penelitian ini menggunakan metode kualititatif secara deskriptif dengan menampilkan data dalam bentuk gambar dan deskripsi dari 9 sampel anggrek dengan warna yang berbeda, dan dianalisis dengan kuantitatif berdasarkan kode warna yang tertera pada Royal Horticultural Society (RHS) dikombinasikan dengan Red, Green, Blue (RGB), uji korelasi warna dilakukan menggunakan Korelasi Pearson. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan warna ujung akar dengan warna bunga anggrek Phalaenopsis, Dendrobium dan Vanda terdapat adanya pigmen pembentuk warna klorofil, antosianin dan karotenoid yang dapat dilihat dari anatomi ujung akar pada sel korteks. Vanda memiliki nilai korelasi yang diperoleh sebesar 0,661 dan dinyatakan mempunyai kesamaan hubungan positif dengan kekuatan korelasi paling kuat dibandingkan anggrek Phalaenopsis dan Dendrobium.  Kesimpulan, yaitu warna ujung akar dengan bunga anggrek Phalaenopsis, Dendrobium dan Vanda memiliki korelasi warna yang dapat dilihat dari anatomi ujung akar irisan melintang pada sel korteks.  Orchids are ornamental plants that have beautiful flower characteristics and flower shapes that distinguish them from other plants. The diversity of orchids is quite high in Indonesia, research is needed to show the correlation between the color of the root tip and the color of the orchid flower, which can be seen from the anatomy of the root tip of the orchid. The purpose of this study was to determine the correlation of the color at the tip of the root with the color of the Phalaenopsis, Dendrobium and Vanda orchids. This study used a descriptive qualitative method by displaying data in the form of pictures and descriptions of 9 samples of orchids with different colors, and analyzed quantitatively based on the color codes listed on the Royal Horticultural Society (RHS) combined with Red, Green, Blue (RGB), color correlation test was performed using Pearson Correlation. The results obtained in this study showed that the color of the root tips with the colors of Phalaenopsis, Dendrobium and Vanda orchids contained pigments that form the color of chlorophyll, anthocyanins and carotenoids which can be seen from the anatomy of the root tips in the cortical cells. Vanda has a correlation value of 0.661 and is stated to have the same positive relationship with the strongest correlation strength compared to Phalaenopsis and Dendrobium orchids. The conclusion is that the color of the root tip with Phalaenopsis, Dendrobium and Vanda flowers has a color correlation which can be seen from the anatomy of the root tip of the cross section of the cortex cells.
Profil Histokimia dan Analisis In Silico Senyawa Metabolit Sekunder pada Daun Zaitun (Olea europaea L.) Maghfiroh, Lailatul; Rahayu, Tintrim; Hayati, Ari
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1132

Abstract

Olive (Olea europaea L.) is a plant that is native of the Mediterranean region which was also able to grow in Indonesia. The plants contain secondary metabolite that will be useful for a survival of a certain species. One of the tests to know a compound of the secondary metabolite on the leaves of zaitun is the histochemical analysis. The knowledge about secondary metabolite containing on a tissue of cell can be done the continued testing for ensure secondary metabolite profile of the compound in form of 3D molecular structure that is using in silico analysis. The research aimed to know the histochemical profile and structure of 3D molecular secondary metabolite of olive leaves. The method was used descriptive-qualitative and the research was done two stages; histochemical testing and was continued with visualization of the chemical structure by ‘in silico’ method in form of chemical structure 3D image. The result showed that histochemical analysis at five these secondary metabolites contained in olive leaves; the terpenoids, an alkaloid, phenolic, lipophilic, and flavonoid. While the tannin compound undetectable. All these secondary metabolite containing in olive leaves can be seen in form of 3D structure.Keywords: Olive (Olea europaea L.), secondary metabolites, histochemical, In silicoABSTRAKZaitun (Olea europaea L.) merupakan tanaman yang berasal dari daerah Mediterania yang juga dapat tumbuh di Indonesia. Tanaman zaitun mengandung metabolit sekunder yang bermanfaat untuk pertahanan hidup suatu species tertentu. Salah satu pengujian untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder pada daun zaitun adalah dengan analisis histokimia. Pengetahuan tentang kandungan metabolit pada suatu jaringan sel dapat dilakukan pengujian lanjut untuk memastikan profil senyawa metabolit sekunder tanaman dalam bentuk struktur 3D molekular, yaitu menggunakan analisis In silico. Penelitian bertujuan untuk mengetahui profil histokimia dan struktur molekuler 3D metabolit sekunder daun zaitun. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan penelitian ini dilakukan dengan 2 tahapan; uji histokimia dan dilanjutkan dengan visualisasi struktur kimia metode in silico berupa struktur kimia gambar 3D. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis histokimia pada lima metabolit sekunder terkandung pada daun zaitun yaitu terpenoid, alkaloid, fenolik, lipofil, dan flavonoid. Sedangkan senyawa tannin tidak terdeteksi. Semua senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada daun zaitun dapat dilihat dalam bentuk struktur 3D.Kata kunci: Zaitun (Olea europaea L.), Metabolit sekunder, Histokimia, In silico
Profil Metabolit Skunder Daun Tin (Ficus carica) melalui Analisis Histokimia dan Deteksi Flavonoid dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Anisa, Khoiria; Rahayu, Tintrim; Hayati, Ari
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1266

Abstract

Tin (Ficus carica) is one of the plants that was mentioned in the Al-Qur’an (at-Tiin 1-3). The plant has the potential of its leaves that can be used as a medicine. In this research were done two tests that are histochemical test and phytochemical test. The method used is descriptive method and the data is processed by descriptive qualitative. Histochemical analysis aims to determine the profile of secondary metabolite compounds in Tin leaf (Ficus carica); among the metabolites were tested the alkaloid, terpenoid, phenol, flavonoid and lipophilic. The second test is the phytochemical test to the examine flavonoid aglycon present, among the tested it  is anthocyanin, flavones, flavonol and, biflavonil by thin layer chromatography method. The result showed that the histochemical analysis of Tin leaf (Ficus carica) contain secondary alkaloid, phenol, flavonoid and lipophilic. The phytochemical test result is flavonoid aglycon that show existence is anthocyanin, flavones and biflavonil.Keywords: Tin (Ficus carica), Histochemical profile, Phytochemical test, Flavonoid, TLC.ABSTRAKTin (Ficus carica) adalah salah satu tanaman yang disebutkan di dalam kitab suci Al-Qur’an (Surat At-Tiin 1-3) yang memiliki potensi pada daunnya dapat digunakan sebagai obat. Telah dilakukan penelitian analisis histokimia dan uji fitokimia daun Tin (Ficus carica). Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif. Data diolah secara deskriptif kualitatif. Analisis histokimia bertujuan untuk mengetahui profil senyawa metabolit sekunder dalam daun Tin (Ficus carica); di antara uji metabolit dilakukan uji alkaloid, terpenoid, fenol, flavonoid dan lipofilik. Uji fitokimia bertujuan untuk memeriksa aglikon flavonoid yang ada, di antara aglikon yang diuji yaitu antosianin, flavon, flavonol dan biflavonil dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis histokimia daun Tin (Ficus carica) terdeteksi mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, fenol, flavonoid dan lipofilik. Hasil uji fitokimia menunjukkan adanya senyawa antosianin, flavon dan biflavonil.Kata kunci: Tin (Ficus carica), Profil histokimia, Uji fitokomia, Flavonoid, KLT.
Kajian Penambahan BahanOrganik Pada Media Tanam VW Pada Organogenesis AnggrekDendrobium SecaraIn Vitro Rahmah, Siti; Rahayu, Tintrim; Hayati, Ari
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1392

Abstract

In vitro tissue culture is a growth optimization technique of Dendrobium orchid with according to media composition. Nutritions in the media are important for dendrobium orchid. Dendrobium orchid  include plant from orchidaceae family its spread throughout the world like indonesia. Its features are easily planted, intersest is continuous and varied, easily assembled, the flower crown is not easy to fall and wither. Research aimed at obtaining media compositions that are easily available and able to fulfill the needs of orchid plants. The research was conducted using descriptive methods to compare different trearment; Vacin & Went and VW media with adding organic matter; extract bean sprouts, potato extrac, and water coconut; wich is conducted for eight weeks after planting. The result of addition organic matter on VW media was different toward organogenesis of orchid. The average number of shoots is 1.8; the number of leaves average of 6.8 and the number of roots average of 3.6 formed from two until eight weeks after culture.Keywords: tissue culture, growing media, Dendrobium orchid, organogenesis.ABSTRAKKultur jaringan in vitro adalah salah satu teknik optimalisasi pada pertumbuhan tanaman angrek Dendrobium dengan menyesuaikan komposisi medianya. Nutrisi yang terdapat di dalam media sangat penting bagi pertumbuhan anggrek. Anggrek Dendrobium termasuk tanaman dari keluarga Orchidaceae yang penyebarannya sampai ke pelosok dunia seperti Indonesia. Keistimewaanya mudah ditanam, bunganya terus-menerus dan bermacam-macam, mudah disusun, serta mahkota bunga tidak mudah jatuh dan layu. Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan komposisi media yang mudah didapat dan mampu memenuhi kebutuhan tanaman anggrek. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif untuk membandingkan perlakuan media yang berbeda yaitu media Vacin & Went, dan VW dengan penambahan bahan organik; ekstrak tauge kacang hijau, ekstrak kentang, dan air kelapa muda; yang dilakukan selama delapan minggu setelah tanam. Hasil penambahan bahan organik pada media VW berbeda terhadap organogenesis eksplan anggrek. Jumlah tunas rata-rata 1,8; Jumlah daun rata-rata 6,8 dan jumlah akar rata-rata 3,6 yang terbentuk dari dua minggu setelah kultur (MSK) sampai minggu terakhir pengamatan delapan MSK.Kata kunci: kultur jaringan, media tanam, angrek Dendrobium,organogenesis.
Pengaruh Kulit Bawang Merah (Allium cepa L.) Sebagai Zpt Alami Terhadap Pembentukan Akar Stek Pucuk Tanaman Krisan (Chrysanthemum sp) Fadhil, Ilnia; Rahayu, Tintrim; Hayati, Ari
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1416

Abstract

Chrysanthemum (Chrysanthemum sp.) is mainstay commodities in horticulture industry that have very bright market prospects. One aspect that needs to be done is to use good quality chrysanthemum seeds. The obstacle of seeds from cuttings propagation is thin roots. Efforts to increase root cuttings are by giving exogenous growth regulating substances to stimulate root formation in propagation shoot cuttings. The objective of this study was to find out the effect of onion skin (Allium cepa L.) on the formation of chrysanthemum (Chrysanthemum sp) cutting roots. The natural growth regulating agent used is red onion skin (Allium cepa L.). The method that used is experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 6 treatments, 1 treatment as control and 5 treatments as a treatment that is given different concentration namely 60%, 70%, 80%, 90%, and 100% with 5 times retreatment. From the data that has been obtained from the experimental results, data analysis is done using analysis of variance (ANOVA) using Microsoft Excel. If the results show the value is significantly different then it will be followed by BNT 0.05 test. Parameters observed include percentage of growing cutting, root length, number of root and when buds appear. The result showed that onion skin significantly affects the roots formation of chrysanthemum cuttings. The optimal effect of onion skin was shown at 80% concentration on the number of roots and root length with an average number of roots 19 and 3,7 cm root length. ABSTRAKKrisan (Chrysanthemum sp.) merupakan komoditas andalan dalam industri hortikultura yang memiliki prospek pasar yang sangat cerah. Salah satu aspek yang perlu dilakukan yaitu menggunakan bibit tanaman krisan yang berkualitas baik. Kendala  pada bibit hasil perbanyakan dengan stek adalah perakaran yang kurang lebat. Upaya meningkatkan perakaran bibit stek adalah dengan memberikan zat pengatur tumbuh secara eksogen untuk merangsang pertumbuhan akar dalam perbanyakan melalui stek pucuk. Zat Pengatur Tumbuh alami yang digunakan adalah kulit bawang merah (Allium  cepa  L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kulit bawang merah (Allium cepa L.) terhadap pembentukan akar stek pucuk tanaman krisan (Chrysanthemum sp). Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)  yang terdiri dari 6 perlakuan, 1 perlakuan sebagai kontrol dan 5 perlakuan sebagai perlakuan yang diberi konsentrasi yang berbeda yaitu 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100% dengan 5 kali ulangan. Dari data yang telah diperoleh dari hasil eksperimen dilakukan analisis data menggunakan analisis varian (ANOVA) dengan menggunakan Microsoft Excel. Apabila hasil menunjukkan nilai berbeda nyata maka akan dilanjutkan dengan uji BNT 0.05. Parameter yang diamati meliputi persentase tumbuh stek, panjang akar, jumlah akar dan waktu muncul tunas. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa pemberian kulit bawang merah berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan akar stek tanaman krisan. Pengaruh kulit bawang merah yang optimal ditunjukkan pada konsentrasi 80% terhadap jumlah akar dan panjang akar dengan rata-rata jumlah akar 19 dan panjang akar 3,7 cm.Kata kunci: Kulit bawang merah, Zat pengatur tumbuh alami, Stek pucuk krisan.
Co-Authors AA Sudharmawan, AA Abd Chalim Asnawi Afif Hilmi Ahmad Syauqi ahmad syauqi, ahmad Ainur Rofiq Ainur Rofiq Ainur Rohmah Alifia, Ersa Alik Maulidiyah Ana Li'atul Mufidah Anisa, Khoiria Ari Hayati Ari Hayati Arifyani, Laily Febrian Arinto Y.P Wardoyo Asnawi, Abd Chalim Aza Zunairoh Budi Santoso Devi Sugiarto Dewi Anjar Setyowati Dewi Rahayu Saraswati Dewi, Lina Purnama Dionysius J.D.H Santjojo Dita Agisimanto Dita Agisimanto Dita Agisimanto Dwi Budi Santoso Edi Santoso Edi Santoso Eka Prasetyowati Emeliya, Emeliya Fadhil, Ilnia Farah Aida Qotrun Nada Fitri, Hanin Rahma Garnis Mufarrohah Rohmah Garnis Mufarrohah Rohmah Gatra Ervi Jayanthi Gatra Ervi Jayanti Gatra Ervi Jayanti Gatra Ervi Jayati Gumiwang, Wulan Dari Neng Hadi, Muhammad Sholikhul Haikal, Muhammad Wildan Hasanah, Rochmatul Hesti Nofanda Hesti Nofanda, Hesti Hilmi, Afif Hosnia Sari Ilnia Fadhil Istifadah, Hayati Istiqomah, Nuri Lailatul Khoiria Anisa LAILATUL MAGHFIROH Lailatul Maghfiroh Lailatul Mufairoh Lutfi Niam Lutfi Niam, Lutfi Lutfiah sudarmaji Ma'rifatul As'adah Mai Suroh Majida Ramadhan Marista, Bilqis Mawardi, Azis Mochamad Ircham Firmansah Mufairoh, Lailatul Mufidah, Ana Liatul Muhammad Ni'amul Albab Mustakim, Moch Nada, Farah Aida Qotrun Nilam Firdausi Nilam Firdausi, Nilam Nindi Afifa Nisa Nisa, Kholisatun Nur Ainiah Nurul Jadid Mubarokati Oey, Ulfi Abdul Rahman Oktavia Rahayu Puspitarini Pratiwi, Radita Intan Aisyah Purnamasari, Viska Puspa, Andria Putri, Nela Vede Rhofa Radita Intan Aisyah Pratiwi Rafida Azizah Reza Priski Dwi Jayanti Riadul Jannah Saimul Laili Salsabilla, Dyah Ajeng Saraswati Subagyo Sari, Hosnia Setyowati, Dewi Anjar Sirojuddin M. Rochmat Siti Marhumah Siti Marhumah, Siti Siti Milatil Hasanah Siti Rahmah Suhnin, Zuhria binti Suroh, Mai Syafitri, Fitria Indah Taufiq Hidayat Ulfi Abdul Rahman Oey Vira Ruainiah Ruswandari Winda Tul Habibah Wulan Dari Neng Gumiwang Yaqutun Nafisah Yuliana Ratna Sari, Yuliana Ratna Zuhria binti Suhnin