Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Memotret Kerja Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Serva Minora dalam Upaya Pemberdayaan Pendidikan Putriliany, Della Adzkia; Kewuel, Hipolitus Kristoforus
Antropocene : Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/antropocene.v5i1.2791

Abstract

Penelitian ini berfokus pada upaya pemberdayaan pendidikan yang dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Serva Minora. Penelitian ini kemudian mencoba untuk mengidentifikasi konsep yang digunakan dalam program pemberdayaan tersebut, serta implementasi konsep terhadap pemberdayaan yang dilakukan. Untuk memperoleh data, penelitian ini menggunakan metode etnografi yang melibatkan observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pengelola dan peserta program, serta analisis dokumen terkait. Pendekatan pendidikan kritis dan teori pendidikan hadap masalah digunakan sebagai kerangka konseptual untuk menganalisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program pemberdayaan yang dilaksanakan oleh Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Serva Minora memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan pribadi dan profesional siswa. Program-program tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan akademis siswa, tetapi juga keterampilan hidup dan kesiapan mereka di masa mendatang. Siswa yang mengikuti program ini mengalami peningkatan dalam pemikiran kritis, kreativitas, dan kepercayaan diri.
Menepis Diskriminasi: Membaca Proses Liminalitas dan Semangat Stoikisme Seniman Difabel di Kota Malang Aprilia, Erlinda Dian; Kewuel, Hipolitus Kristoforus
Antropocene : Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 2 (2023): Mei
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/antropocene.v3i2.1685

Abstract

Berdasarkan waktu terjadinya, para difabel terbagi menjadi dua yakni difabel kongenital dan non kongenital. Di Kota Malang, terdapat beberapa seniman difabel yang menekuni pada beberapa bidang. Selain terjebak dalam stereotipe masyarakat mereka juga mengalami permasalahan dalam proses berkarya, padahal beberapa dari mereka memiliki prestasi dalam bidang seni. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara seniman difabel kongenital dan non kongenital serta memahami proses liminalitas yang didalamnya terdapat prinsip stoikisme untuk membantu dalam survive di kehidupan mereka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode etnografi yang menghasilkan data kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan antara seniman difabel kongenital dan non kongenital yang terletak pada aspek ekonomi, pendidikan, tingkat dan jenis difabel, serta waktu terjadinya difabel. Hal yang mendasari dari perbedaan tersebut adalah durasi proses adaptasi yang dibutuhkan oleh seniman difabel kongenital dan non kongenital. Dalam proses fase liminalitas, seniman difabel kongenital dan non kongenital juga mengalami perbedaan sejak titik awal terjadinya ketiga fase tersebut. Di samping itu, seniman difabel kongenital dan non kongenital menerapkan prinsip stoikisme dalam menghadapi tantangan saat menghadapi fase liminalitas.
Konsep Kerja dan Praktik Diri Affective Labor atau Relawan Komunitas Turun Tangan Bojonegoro Magfiroh, Lailatul; Kewuel, Hipolitus Kristoforus
Antropocene : Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora Vol. 3 No. 2 (2023): Mei
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/antropocene.v3i4.1687

Abstract

Saat ini, kelompok atau komunitas berbasis sosial telah banyak memberi sumbangsihnya dalam membantu masyarakat, misalnya masa sulit COVID-19 maupun pasca COVID-19. Dari pernyataan di atas relevan dengan salah satu komunitas berbasis sosial di Kabupaten Bojonegoro yaitu Turun Tangan. Turun Tangan terdiri dari para relawan atau bahasanya dalam kepenulisan ini yaitu affective labor. Penelitian ini berupaya untuk menelisik terkait konsep kerja yang dipegang teguh oleh relawan Turun Tangan Bojonegoro serta sarana atau teknik perawatan diri yang dilakukan. Penelitian ini disusun dengan metode kualitatif dengan kepenulisan etnografi. Data dalam penelitian ini didapatkan dari observasi partisipasi dan wawancara mendalam, serta dianalisis menggunakan teori affective labor dan teori care of the self. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa affective labor Turun Tangan Bojonegoro dapat merumuskan gerakan sosial berdasar dari tiga konsep kerja. Tindakan yang dilakukan relawan dengan melibatkan orang lain atau masyarakat, nantinya manfaat yang didapatkan harus selalu mengarah untuk kebermanfaatan dan kebaikan diri relawan untuk mencapai bentuk transformasi kehidupan.
Konstruksi Identitas Anak Muda Kota Malang Pengguna Fotografi Analog Di Era Digital Nailarifqa, Adara; Kewuel, Hipolitus Kristoforus
Konstruksi Sosial : Jurnal Penelitian Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2024): Januari
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/konstruksisosial.v3i4.1686

Abstract

Generasi muda zaman sekarang adalah mereka yang sejak lahir terekspos pada kemudahan yang ditawarkan kemajuan teknologi digital. Mereka tidak mengenal fotografi analog, sebuah sistem untuk menghasilkan foto di masa lalu sebelum adanya fotografi digital. Kerumitan dan proses panjang yang dimilikinya membuat teknologi ini sempat ditinggalkan semenjak kemunculan fotografi digital. Namun demikian, fotografi analog justru menarik minat kalangan anak muda dan kembali marak digunakan dewasa ini. Penelitian ini berupaya untuk mencari alasan sesungguhnya para anak muda menggeluti fotografi analog yang rumit dan seperti apa identitas yang ingin dibangun dari hal tersebut. Penelitian ini menggunakan metode etnografi. Data dalam penelitian ini didapatkan dari observasi partisipasi dan wawancara mendalam, serta dianalisis menggunakan teori distingsi selera dan post-strukturalisme. Hasil dari penelitian ini adalah anak muda yang menggeluti fotografi analog merupakan golongan kelas sosial yang mampu menghidupi hobinya secara finansial, dan fotografi analog secara sengaja digunakan oleh anak muda pada hari ini untuk menunjukkan selera dan membedakan diri mereka dari kelas sosial yang lain. Anak muda memiliki keinginan untuk menantang diri mereka dalam sebuah proses mendefinisikan foto yang paling baik, dan pergulatan tersebut turut berperan dalam membentuk maupun menegaskan identitas yang melekat dalam diri mereka.
Lo Tiwa: Ritual of Human and Non-Human Relationship in Lembata Regency, East Nusa Tenggara Province, Indonesia Kewuel, Hipolitus Kristoforus; Langoday, Thomas Ola; Rongan, Wilhelmus Ola; Kraeng, Pankrasius Olak; Tugang, Noria Anak; Aileen, Aileen
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 26 No 1 (2024): June
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v26.n1.p10-17.2024

Abstract

This research focuses on the perspective of indigenous ecologies to see how the Lembata people maintain and care for their relationship with nature. The research located in the Lebatukan District highlands area of Lembata Regency in East Nusa Tenggara Province of Indonesia. The Lo Tiwa ritual is carried out by the Lembata people when pests attack their crops. When snails were attacking rice plants, people realized that they could eradicate the slugs through modern ways. However, they also realized that with the pesticide technology, the life of snails was threatened with extinction, which is considered unwise in preserving the local environment. Instead, they raised this issue on the altar of the Lo Tiwa ritual. In this way, preserving the relationship between humans and nature has happened, which is an integral part of environmental studies. Snails as pests are not killed, and rice plants are free from pests. In the Indonesian context, this research finds its context in efforts to promote a culture where the government wants to place culture, including rituals, as one of the essential forces in development. Apart from rituals, other cultural promotion objects include; oral traditions, manuscripts, customs, folk games, traditional sports, traditional knowledge, arts, and languages.