Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PEMBUATAN PATCH BUKAL MUKOADHESIF ATENOLOL DENGAN VARIASI KONSENTRASI POLIMER Na-CMC DAN PVP K-30 Deby - Tristiyanti; Yola Desnera Putri; Riski Nur Utami
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.213 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v7i2.80

Abstract

AbstrakAtenolol adalah pemblok selektif β-1 yang memberikan efek antihipertensi. Atenolol memiliki permeabilitas yang kurang baik dalam saluran cerna sehingga untuk meningkatkan bioavaibilitas dibuat sediaan dalam bentuk patch bukal mukoadhesif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelepasan atenolol dan karakteristik fisik patch bukal mukoadhesif dengan variasi kadar Na-CMC dan PVP K-30. Sediaan patch bukal dibuat dengan lima variasi kadar (Na-CMC:PVP K-30) yaitu formula I (90:10); formula II (70:30); formula III (50:50); formula IV (30:70) dan formula V (10:90). Patch dibuat dengan menggunakan metode solvent casting. Evaluasi sediaan patch meliputi mutu fisik, keseragaman bobot, ketebalan patch, daya tahan lipatan, pH permukaan, swelling index, keseragaman kandungan, dan pelepasan atenolol secara in-vitro menggunakan alat sel difusi Franz. Hasil penelitian memperlihatkan ketebalan patch 1,12-1,16 mm, bobot patch 0,22 – 0,23 gram, pH 6,71-6,81 dan ketahanan lipatan > 300 lipatan. Pelepasan terbaik Atenolol mencapai 10,72 % pada Formulai I yaitu dengan perbandingan konsentrasi Na-CMC dan PVP K-30 (90:10)Kata kunci : atenolol, patch bukal, Na-CMC, PVP K-30AbstractAtenolol is β-1 selective bloker that widely used for the treatment of hypertension. Atenolol has poor permeability in the gastrointestinal tract, to increase the bioavaibility it was made as mucoadhesive buccal patches. This study was aimed to know the release of atenolol and physical characteristics with variations in the base levels of Na - CMC and PVP K-30. Buccal patch preparations were made with five levels of variation consisting of formula I (90:10); formula II (70:30); formula III (50:50); formula IV (30:70) and the formula V (10:90). Patches were prepared by solvent casting method. Patches were evaluated includes physical quality, patches thickness, mass uniformity, folding endurance, surface pH, swelling index, drug content uniformity and release of atenolol in-vitro using Franz diffusion cells. The results showed thickness of patch 1,12 – 1,16 mm, weight patch 0,22-0,23 gram, pH 6,71-6,81 and folding endurance > 300 folds. The best sustained release Atenolol up to 10,72% was show at Formula I which is a concentration ratio of Na-CMC and PVP K-30 (90:10).Keywords : atenolol, buccal patches, Na-CMC, PVP K-30
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN GEL ANTISELULIT KAFEIN DENGAN PENAMBAHAN ASAM GLIKOLAT SEBAGAI ENHANCER Yola Desnera Putri; Sohadi Warya; Novitaria Br Sembiring
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.46 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v8i2.122

Abstract

Selulit terjadi akibat perubahan pada jaringan adiposa yang menyebabkan fibrosklerosis, sehingga kulit nampak seperti kulit jeruk. Kafein merupakan zat yang aman dan efektif untuk mengobati selulit, namun sulit berpenetrasi melewati stratum korneum. Asam glikolat memiliki kemampuan meningkatkan penetrasi perkutan dengan mengurangi kohesi seluler antar keratinosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asam glikolat terhadap penetrasi kafein dalam sediaan gel. Gel terdiri dari kafein 1,5%, asam glikolat 5%, karbopol 2%, trietanolamin 0,5%, metilparaben 0,02%, propilparaben 0,01%, propilenglikol 15%, dan air. Formula 1 tidak mengandung asam glikolat dan formula 2 mengandung asam glikolat 5%. Sediaan dievaluasi selama 28 hari, meliputi: organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, dan uji penetrasi secara in vitro menggunakan difusi Franz selama 6 jam dan dibandingkan dengan gel antiselulit yang sudah beredar di pasaran. Gel  kafein terbukti stabil pada berbagai suhu penyimpanan dan cycling test. Jumlah kafein terpenetrasi pada sediaan gel pembanding, formula 1, dan formula 2 adalah 105,302; 173,241; dan 346,577 µg/cm2. Hasil menunjukkan asam glikolat mampu meningkatkan penetrasi kafein perkutan dalam sediaan gel.Kata kunci: Selulit, kafein, asam glikolat, penetrasi, enhancer
FORMULASI GRANUL INSTAN ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL BAWANG DAYAK (Eleutherine americana Merr.) DENGAN VARIASI PENGIKAT PVP K30 yola desnera putri; Sohadi Warya; Meisy Afdina
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.232 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v10i2.157

Abstract

Bawang dayak (Eleutherine americana Merr.) merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki banyak khasiat yang mengandung metabolit sekunder alkaloid, fenol, flavonoid, tanin, kuinon. Senyawa-senyawa tersebut memiliki kemampuan antioksidan yang dapat menghambat radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk membuat granul instan ekstrak bawang dayak sebagai antioksidan yang memenuhi sifat fisik granul yang baik. Metode ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan etanol 96%. Formulasi granul instan ekstrak bawang dayak menggunakan variasi pengikat PVP K30 yaitu 0,5% (F1), 1% (F2), 1,5% (F3). Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) dan evaluasi sifat fisik granul meliputi kandungan lembab, laju alir, sudut istirahat, kompresibilitas dan waktu melarut granul. Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak bawang dayak memiliki nilai IC50 15,389 µg/mL termasuk kategori antioksidan sangat kuat. Setelah dibuat granul, formula F1, F2 dan F3 memiliki antioksidan yang kuat dengan nilai IC50 71,756, 79,463 dan 76,086 µg/mL. Hasil dari evaluasi ketiga formula telah memenuhi uji fisik granul. Setelah 28 hari penyimpanan, hasil uji antioksidan ketiga formula memiliki nilai IC50 86,214, 99,480 dan 119,825 µg/mL. Berdasarkan hasil antioksidan dan uji fisik granul yang paling baik yaitu formula F1 dengan konsentrasi PVP K30 0,5%.  
FORMULASI DAN EVALUASI KRIM KEFIR SUSU KAMBING DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus [F.A.C Weber] Britton & Rose) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Yola Desnera Putri
PHRASE (Pharmaceutical Science) Journal Vol 2, No 1 (2022): PHRASE (PHARMACEUTICAL SCIENCE) JOURNAL VOL 2 NO 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52031/phrase.v2i1.238

Abstract

Kefir yang dikombinasi ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) mempunyai banyak manfaat, selain antioksidan yang kuat namun mempunyai manfaat lain yaitu sebagai bahan pencerah alami, melembabkan kulit serta dapat membuat kulit terlihat awet muda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji sediaan krim kefir ekstrak kulit buah naga merah yang memiliki aktivitas antioksidan. Pengujian aktivitas antioksidan di lakukan dengan metode DPPH. Kefir dan ekstrak di formulasikan dalam bentuk sediaan krim dengan tiga perbandingan basis asam stearat dan trietanolamin (16,7:2,3), (15,7:3,3) dan (14,7:4,3) gram, hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi 16,7:2,3 gram  merupakan basis yang paling baik maka di buat formula tiga konsentrasi yang berbeda 1% (F1), 2% (F2) dan 4% (F3). Evaluasi sediaan krim meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, uji daya sebar, uji iritasi dan uji sentrifugasi yang memenuhi persyaratan. Hasil penelitian menunjukkan antioksidan krim pada hari ke-0 dengan nilai IC50 F1, F2 dan F3 adalah 159, 142, dan 72,81 ppm. Setelah penyimpanan selama 28 hari nilai IC50 F1, F2, dan F3 menjadi 187, 148 dan 75,31 ppm.
FORMULASI DAN EVALUASI SABUN PADAT DENGAN PENAMBAHAN YOGHURT SEBAGAI ANTIOKSIDAN Yola Desnera Putri; Ledianasari Ledianasari; Giani Nurrahmawati
PHRASE (Pharmaceutical Science) Journal Vol 3, No 1 (2023): Pharmaceutical Science Journal Vol 3 No 1, 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52031/phrase.v3i1.518

Abstract

Soap was used to clean the skin but not damage the skin and able to protect skin from free radical effect. The compounds that could counteract free radical are antioxidants which can be found in yoghurt. The purpose of this research was to determine the formula and evaluation of solid soap with the addition of yoghurt according to the SNI 2016 requirements. The methods used are making yoghurt, evaluating yoghurt, testing the antioxidant activity of yoghurt, formulating solid soap, and evaluating solid soap. Solid soaps F1, F2, F3, F4 with yoghurt concentrations were 2; 2.5; 3; 3.5. The evaluation results of solid soaps from yoghurt to the four formulas had good results, namely water content, insoluble material in ethanol, free fatty acids, and chloride levels that met the SNI 2016 requirements. The evaluation of the antioxidant activity test showed that the yoghurt was 57.87 µg / mL with the category strong and of the four solid soap formulas only F1 and F4 still have strong antioxidant activity. F1 with antioxidant activity of 98.81 µg / mL in the strong category, and F4 with antioxidant activity of 82.36 µg / mL in the strong category.
FORMULASI SEDIAAN MIKROEMULSI TRANSDERMAL PIROKSIKAM DENGAN MENGGUNAKAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) SEBAGAI FASE MINYAK Yola Desnera Putri; Haruman Kartamihadrja; Lusi Fauziah
PHRASE (Pharmaceutical Science) Journal Vol 2, No 2 (2022): PHRASE (PHARMACEUTICAL SCIENCE) JOURNAL VOL 2 NO 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52031/phrase.v2i2.399

Abstract

Piroxicam is a non-steroidal anti-inflammatory drug thus in the oral dosage of piroxicam often can irritate the stomach, thus piroxicam was made be of a transdermal microemulsion  preparation. The research was conducted in the preparation of transdermal piroxicam microemulsions by used Virgin Coconut Oil (VCO) as oil phase and tween 80 as a surfactant. The formula was varied into 5 formulas with distinguished tween 80 concentrations of 40%, 45%, 50%, 55%, 60% and propylene glycol as cosurfactants with 15% concentration, and emulsion preparations without the addition of propylene glycol as cosurfactants. This study aimsed to created a stable and transparent physically microemulsion preparation and determined piroxicam the ratio of diffusion rate in piroxicam microemulsions and  piroxicam emulsions. The test was performed by using Franz diffusion test by using Whatman membrane. In the microemulsion formula, the percentage of diffused piroxicam content obtained was greatest at F5 (24.35%) at 180 minutes and compared to emulsion (2,66%). The diffusion test resultsed show that the effect of addition of cosurfactant at the diffusion rate of the microemulsion preparation is compared to the emulsion preparation without the addition of cosurfactant. This cosurfactant can help surfactants to penetrate skin membranes.
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT KATEKIN DALAM SEDIAAN DEODORAN ROLL ON TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS EPIDERMIDIS ATCC 12228 Putri, Yola Desnera; Fitriani, Dewi Fatimah; Tristiyanti, Deby
Edu Masda Journal Vol 8, No 1 (2024): Edu Masda Journal Volume 8 Nomor 1
Publisher : STIKes Kharisma Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52118/edumasda.v8i1.209

Abstract

Body odor can interfere with daily activities so as to cause discomfort to the body, therefore a catechin isolate deodorant is made to reduce underarm odor caused by the Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 bacteria. This study aims to determine the inhibitory power of catechin isolates against Staphylococcus epidermidis ATCC 1228 bacteria and determine the formulation and antibacterial activity of catechin isolate deodorant preparations. The formulation was carried out using 2 formulas with 2 different concentrations of triethanolamine and the use of 96% ethanol, in F1 the concentration of triethanolamine was 0.06% and using 96% ethanol while in F2 the concentration of triethanolamine was 0.09% and without using 96% ethanol. Preparation evaluation includes organoleptic, homogeneity, pH, viscosity and spreadability. The results showed that the antibacterial activity of catechin isolates was 1.5% with an inhibitory diameter of 3.95 mm which was included in the weak category. Catechin isolates can be formulated into roll-on deodorant preparations where after 28 days of storage the evaluation results including organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, and spreadability have met the requirements. The antibacterial activity of deodorant preparations on day 1 was included in the moderate category, but decreased on day 28 to the weak category. Abstrak Bau badan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga membuat ketidaknyaman pada tubuh, maka dari itu dibuat deodoran isolat katekin untuk mengurangi bau ketiak yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 12228. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat isolat katekin terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 1228 serta mengetahui formulasi dan aktivitas antibakteri sediaan deodoran isolat katekin. Formulasi dilakukan menggunakan 2 formula dengan 2 konsentrasi trietanolamin serta penggunaan etanol 96% yang berbeda, pada F1 konsentrasi trietanolamin sebesar 0,06% dan menggunakan etanol 96% sedangkan F2 konsentrasi trietanolamin sebesar 0,09% dan tanpa menggunakan etanol 96%. Evaluasi sediaan meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas dan daya sebar. Hasil penelitian diperoleh aktivitas antibakteri isolat katekin sebesar 1,5% dengan diameter hambat sebesar 3,95 mm yang termasuk kategori lemah. Isolat katekin dapat diformulasikan ke dalam sediaan deodoran roll on dimana setelah penyimpanan 28 hari hasil evaluasi meliputi organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, dan daya sebar telah memenuhi persyaratan. Aktivitas antibakteri sediaan deodoran pada hari ke-1 termasuk ke dalam kategori sedang, namun terjadi penurunan pada hari ke-28 menjadi kategori lemah. 
Transfersomes for Optimal Penetration of α-Mangostin (Garcinia mangostana L.) in Cosmetic Products using Vortexing-Sonication Putri, Yola Desnera; Tristiyanti, Deby; P Legowo, Wahyu; K Sari, Nia; Sriwidodo, Sriwidodo
Indonesian Journal of Pharmaceutics Vol 5, Issue 2, May - August 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran (Unpad)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/idjp.v5i2.51593

Abstract

Produk kosmetik berbasis transfersom semakin menarik perhatian karena teknologi nano vesikel ini dapat meningkatkan penetrasi bahan aktif seperti isolat manggis dari Garcinia mangostana L. ke dalam kulit. Teknologi ini menawarkan pengembangan produk kosmetik inovatif yang menjanjikan. Transfersom terdiri dari fosfolipid (yaitu fosfatidilkolin dari lesitin kedelai) dan surfaktan yang masing-masing membentuk vesikel dan meningkatkan fleksibilitas transferom sebagai aktivator tepi. Kami mengembangkan formula dengan isolat manggis dalam transfersom dan mengukur ukuran partikel dan persen penjebakan bahan aktif. Rasio yang digunakan adalah F1 (60:40), F2 (50:50), dan F3 (95:5). Setelah dioptimasi, formula dievaluasi untuk efisiensi penyerapan dan stabilitas fisik selama penyimpanan. Penelitian ini membuat transfersom dari isolat mangostin dengan metode vortexing-sonikasi dan homogenizer. Ukuran partikel diukur dengan alat analisis ukuran partikel dan efisiensi penyerapan dengan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula transfersom terbaik adalah F2 (50:50), dengan ukuran partikel 433,2 nm, PDI 0,399, zeta potensial -2,43 mV, dan efisiensi penjerapan 99,08%. Transfersom ini berpotensi sebagai sistem penghantaran isolat mangostin yang efisien ke dalam kulit dan dapat disimpan dengan lebih baik pada suhu dingin. Key words: Transferom, vortexing-sonikasi, isolat manggis
Variasi Konsentrasi Maltodekstrin Terhadap Karakteristik Fisik dan Aktivitas Antibakteri Orally Disintegrating Film Ekstrak Daun Pecut Kuda (Stachytarpheta jamaicencis L.) Putri, Yola Desnera; Ledianasari, Ledianasari; Aziza, Farradiba Nur
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1153.857 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v14i2.79

Abstract

Abstract: Orally dissolving film (ODF) preparations are a new invention that allows drugs to be used more conveniently than other oral solid preparations without the need for drinking water. Porterweed (Stachytarpheta jamaicencis L) is one of herbal medicine that can be developed into an Orally Disintegrating Film (ODF) preparation with providing fast disintegration time and convenience comsumption especially for patients who have difficulty swallowing tablets. Main component in ODF preparations is polymer. Combination of HPMC K100M and maltodextrin produce good physical characteristics. The research was aimed to determine the influence of variations concentration 3.5 grams, 4.5 grams and 5.5 grams of maltodextrin on the physical characteristic of ODF containing porterweed extract. Stages of research carried out the formulation of basis and preparations continued with physical evaluated and antibacterical activity. To ensure that the resulting ODF preparations are ideal, evaluation tests need to be carried out including organoleptic, pH of the preparations, average weight, thickness, swelling index, disintegration time, tensile strength, percent elongation, and antibacterial activity. The best physical characterictis evaluation is formula 2 of ODF porterweed extract (Stachytarpheta jamaicencis L) containing 4.5 grams of maltodextrin with pH surface 6.75 ± 0.025, average weight 0.0499 ± 0.0001 g, thickness 0.0997 ± 0.002 mm,  swelling index in 15;30; and 45 sec. are 257.49 ± 0.244%; 322.46 ± 0.202%; and 403.21 ± 0.197%, disintegration time in 54 sec., tensile strength 12.67± 0.374 MPa, percent elongation 20% and have strong category of antibacterial ability against Staphylococcus aureus in 11.43 ± 1.401 mm.
Pemanfaatan Ampas Kopi sebagai Bahan Pembuatan Sabun Batang Organik Metode Cold Process untuk Meningkatkan Produktivitas Komunitas Pemuda Cimahi Mardiah, Irma; Putri, Yola Desnera; Ferdiansyah, Rival; Gustini, Sri; Legowo, Wahyu Priyo
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 4 No 2 (2023): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v4i2.324

Abstract

Kedai Cenghar Kopi Cimahi yang berjarak sekitar tiga belas kilometer dari kampus menghasilkan ampas kopi sebanyak 1000-1500 gram setiap harinya tanpa adanya proses daur ulang. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memberikan bantuan berupa solusi bagi mitra dalam menghadapi permasalahan. Salah satu solusi yang ditawarkan kepada mitra adalah dengan meningkatkan nilai jual ampas kopi menjadi produk sabun scrub ampas kopi menggunakan metode Cold Process. Kegiatan ini dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan tentang pengertian sabun, regulasi produksi sabun, pelatihan pembuatan sabun dengan memanfaatkan ampas kopi menjadi salah satu bahan pembuatan sabun, pelatihan desain kemasan dan teknik pemasaran. Kegiatan ini dihadiri oleh komunitas pemuda cimahi yang antusias dalam mengikuti kegiatan dan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pemuda cimahi.