ABSTRACT Fine motor skill development remains an aspect of elementary student growth that is often inadequately addressed in formal classroom learning, particularly in art education, while local cultural heritage such as Sundanese wayang faces declining appreciation amid rapid digitalization. This study aimed to implement the Project Based Learning (PjBL) model through the making of Wayang Sukuraga to develop the fine motor skills of fourth-grade students at SDN Selaawi. A qualitative descriptive method was employed, involving 30 fourth-grade students as research subjects and their homeroom teacher as the key informant. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation over three weeks, beginning with a mosaic-making pretest to establish a baseline of students' fine motor abilities, followed by PjBL implementation through six stages of wayang production including cutting, assembling, pasting, and attaching the handle stick. Data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, with validity ensured through source and technique triangulation. The results showed that students exhibited low enthusiasm and high dependency on teacher assistance during the pretest, whereas during PjBL implementation they demonstrated significantly greater enthusiasm, independence, and neater, more controlled craftsmanship. These findings indicate that PjBL through Wayang Sukuraga effectively stimulates fine motor coordination while embedding meaningful local cultural values within the Kurikulum Merdeka framework. Keywords: Project Based Learning, fine motor skills, Wayang Sukuraga ABSTRAK Keterampilan motorik halus merupakan aspek perkembangan siswa sekolah dasar yang sering kurang mendapat perhatian optimal dalam pembelajaran formal, khususnya pada mata pelajaran seni, sementara warisan budaya lokal seperti wayang Sunda menghadapi penurunan minat di tengah derasnya arus digitalisasi. Penelitian ini bertujuan mengimplementasikan model Project Based Learning (PjBL) melalui pembuatan Wayang Sukuraga untuk mengembangkan keterampilan motorik halus siswa kelas IV SDN Selaawi. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan melibatkan 30 siswa kelas IV sebagai subjek penelitian dan wali kelas sebagai informan utama. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi selama tiga minggu, diawali dengan pretest pembuatan mozaik untuk memperoleh baseline kemampuan motorik halus siswa, kemudian dilanjutkan dengan implementasi PjBL melalui enam tahap pembuatan wayang meliputi menggunting, merangkai, menempel, hingga memasang stik pegangan. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, dengan keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap pretest siswa menunjukkan antusiasme rendah dan ketergantungan tinggi pada bantuan guru, sedangkan pada tahap implementasi PjBL siswa menunjukkan antusiasme, kemandirian, serta kerapian karya yang jauh lebih baik. Temuan ini menunjukkan bahwa PjBL melalui pembuatan Wayang Sukuraga efektif menstimulasi koordinasi motorik halus sekaligus menanamkan nilai kearifan lokal yang bermakna dalam kerangka Kurikulum Merdeka. Kata Kunci: Project Based Learning, keterampilan motorik halus, Wayang Sukuraga