Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Komodifikasi Mushaf Al-Qur'an: Melacak Validitas Pemilihan Ayat-Ayat Perempuan dalam Mushaf Al-Qur'an Ummul Mukminim Husna, Rifqatul; Muhimmah, Siti Musriatul; Ayu, Fitri
FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam, dan Living Qur'an Vol 2 No 02 (2023): FIRDAUS: Jurnal Keislaman, Pemikiran Islam dan Living Qur'an
Publisher : Prodi IAT STAI Al Akbar Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62589/iat.v2i02.220

Abstract

Al-Qur’an sebagai panduan umat Islam, menuntut adanya kreatif dan inovatif dalam desain penyajiaan mushafnya, sebagai upaya memenuhi kebutuhan setiap muslim. Namun, di sisi lain komodifikasi Al-Qur’an juga tidak dapat dipisahkan dari dunia industri dan jual beli. Penerbit Oasis Terrace Recident merupakan salah satu penerbit Al-Qur’an dengan pemilihan tema perempuan. Ayat-ayat yang berkaitan dengan perempuan diberi tanda khusus (highlight) warna pink dengan harapan lebih mudah dipelajari dan dipahami oleh kaum muslimah.. Oleh karenanya, pada penelitian kali ini dibahas bagaimana penerbit Oasis Terrace Recident, dalam memilih dan menyajikan ayat-ayat bertemakan perempuan, dan bagaimana hubungannya dengan komodifikasi Al-Qur’an. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan jenis Library Research yang bersumber dari Al-Qur’an Ummul Mukminin. Selain itu, peneliti juga menggunakan salah satu tahapan dalam metode tafsir tematik sebagai cara pemilihan ayat-ayat Al-Qur’an bertemakan perempuan. Penelitian bersifat deskriptif-analitik. Hasil dari penelitian yaitu; Pertama, saat ini komoditas Al-Qur’an merupakan keniscayaan, demikian dengan penerbit Al-Qur’an Ummul Mukminin. Namun, yang bisa dilakukan adalah memenuhi standarisasi dalam penerbitan Al-Qur’an. Dalam hal ini Ummul Mukminin sudah mendapatkan pengesahan (tashih) untuk terbit. Kedua; dalam pemilihan ayat tentang perempuan, mushaf Ummul Mukminin lebih memprioritaskan pada pemilihan ayat berdasarkan kosa kata atau lafaz yang tertera. Tidak memprioritaskan pada konten ayat.
Addressing the Practice of Religious Tolerance by Panji Gumilang (In the studies of Wahbah Az-Zuhaili and Quraish Shihab) Mualik Fauzi; Rifqatul Husna
EDUKASIA: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 5 No. 1 (2024): Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : LP. Ma'arif Janggan Magetan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62775/edukasia.v5i1.1135

Abstract

Studying the subject of religious tolerance is always fascinating. This research holds a significant place in the field of religion studies because to the fluctuations in relationships between religious groups throughout different regions of the world, including Indonesia. Numerous Islamic scholars, particularly those who study tafsir, attempt to define tolerance normatively by drawing on passages from the Quran. Wahbah al-Zuhayli is a modern scholar who takes tolerance very seriously. Al-Zuhayli's interpretation, while methodologically sound, generally adopts the methodology of ancient ulama literature. But the issue of tolerance that he highlights stems from the social reality that religious communities currently inhabit. Al-Zuhayli opens his discussion on tolerance by elucidating the notion of wasatiyyah al-Islam, or Islamic moderation. Al-Zuhayli then categorized the four primary themes of tolerance found in the Koran. First, the interactions amongst the Samawi faiths. Forming a moderate and tolerant mindset is made possible by the heavenly religion's shared core doctrines. The second is the freedom to select one's religion. This point demonstrates how Islamic law upholds the Ri'ayah al-Din concept. The third is the ban on inciting hate. Fourth, the advice to put justice first and the outlawing of acts of terror. Each and every person is entitled to protection for their soul's freedom. According to Al-Zuhayli's perspective, religious groups generally get along well and are tolerant of one another. This is also a scientific refutation of the violent ideologies that radical organizations frequently advance.
Pembinaan Al-Qur’an Serta Penanaman Moral kepada Siswa Musala Al-Muhakim Randutata Paiton Probolinggo Abd. Basid; Rifqatul Husna; Abd. Somad; Luthviyah Romziana
PARTISIPATORY Vol 4 No 1 (2025): PARTICIPATORY: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM IAI TABAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/participatory.v4i1.3354

Abstract

The community service activities (PkM) that we conducted were aimed at making students of Musala Al-Muhakim Randutata Paiton Probolinggo accustomed to reading the Qur'an fluently and fluently, and forming good morals. We chose the halaqah learning method because in our opinion this method is the most effective. The first solution is to hold teaching and learning activities (KBM) to read the Qur'an and also deepen the knowledge of reading the Qur'an, such as Tajwid Science and makharij al-khuruf based on the halaqah that has been determined previously. And the second solution includes knowledge (cognitive), feelings (feeling), and actions (action). After carrying out community service (PkM) at Musala Al-Muhakim Randutata Paiton Probolinggo, we can conclude that community service activities (PkM) have a positive effect on students of Musala Al-Muhakim Randutata Paiton Probolinggo in fluency in reading the Qur’an and improving morals.
Pandangan Pendakwah Artis Terhadap Landasan Al-Qur’an tentang Hijrah: Analisis Komentar atas Adi Hidayat, Hanan Attaki dan Oki Setianadewi Mahfud, Nurul Camalia; Husna, Rifqatul
Tazkir: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Keislaman Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/tazkir.v11i1.16776

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis pandangan tiga pendakwah artis populer, yaitu Adi Hidayat, Hanan Attaki, dan Oki Setianadewi, terhadap konsep hijrah berdasarkan landasan Al-Qur’an. Hijrah yang dalam Al-Qur’an diartikan sebagai perpindahan fisik maupun spiritual menuju ketaatan kepada Allah yang telah menjadi tema sentral dalam cerama ketiga pendawah ini. Melalui analisis komentar dan interpretasi mereka, penelitian ini megeksplorasi bagaimana hijrah disampaikan kepada khalayak Muslim modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan tujuan menggambarkan pandangan tiga pendawah artis, yaitu Adi Hidayat, Hanan Attaki, dan Oki Setianadewi terhadap konsep hijrah berdasarkan Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiganya mempengaruhi persepsi masyarakat tentang hijrah melalui pendekatan yang berbeda, yang berakar pada pemahaman Al-Qur’an namun disesuaikan dengan audiens masing-masing. Adi Hidayat sering menekankan aspek intelektual dan teologis hijrah dengan pendekatan berbasis tafsir. Hanan Attaki mengemas hijrah dalam transformasi spiritual yang relevan dengan kehidupan anak muda, menekankan pentingnya perubahan hati. Sementara itu, Oki Setianadewi lebih menekankan asek sosial dan emosional hijrah, khususnya bagi wanita muslim. Penelitian ini memberikan wawasan mengenai bagaimana pendakwah artis memainkan peran penting dalam membentuk trend hijrah dikalangan Muslim Indonesia, dan relevansi pesan mereka dengan kondisi sosial budaya kontemporer.
Histeria dan Gangguan Jin Dalam Islam: Mengurai Fenomena Kesurupan Dari Sudut Pandang Al-Qur’an Rifqatul Husna; Nayyiratudz Tadzkiroh
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Vol. 5 No. 2 (2024): Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/tjiss.v5i2.8176

Abstract

Fenomena kesurupan merupakan peristiwa yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat. Terlebih pada zaman sekarang, banyak orang yang mengkaitkan fenomena kesurupan dengan arwah orang yang sudah mati. Pada artikel ini akan meneliti tentang pandangan ulama tafsir terkait fenomena kesurupan berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 275 yang kemudian dikaitkan dengan pandangan masyarakat terkait fenomena kesurupan karena arwah orang mati. Adapun metode penelitian yang penulis gunakan yaitu metode deskriptif analisis dengan menggunakan data-data pustaka sehingga penelitian ini bersifat library research. Metode tafsir yang digunakan pada penelitian ini adalah metode tafsir tematik. Adanya penelitian ini dapat membantu masyarakat untuk meyakini suatu hal dengan berdasarkan dalil agama, yaitu Al-Qur’an, hadis, dan kesepakatan ulama. Serta melunturkan keyakinan-keyakinan yang hanya berporoskan pada presepsi saja. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah definisi dari kesurupan yang merupakan sebuah perilaku yang dilakukan oleh seseorang di luar kesadaran atau kendali dirinya. Penyebab kesurupan dapat terjadi karena dua faktor yaitu; (1) penyakit saraf dan (2) gangguan jin. Akan tetapi mayoritas ulama tidak membenarkan pendapat pertama. Para ulama tafsir lebih menetapkan bahwa kesurupan terjadi karena ulah jin yang merasuki diri seseorang. Tidak ada arwah orang mati dapat merasuki tubuh seseorang, karena ruh orang mati telah kembali kepada alamnya yaitu alam barzakh.
Konsep Al-Raja’ dalam Al-Qur’an dan Hubungannya terhadap Mental Husna, Rifqatul; Ni’mah, Nailun
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 9 No. 2 December 2023
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v9i02.36091

Abstract

Among the factors of increasing depression rates in Indonesia is motivated by a sense of hopelessness or loss of hope in someone. This is one of the reasons for raising the theme in this thematic study. Research that aims to reveal more deeply the meaning of al-raja' in the Qur'an so that it is expected to be applied in everyday life, and make the concept of al-raja' as a motivation in facing every phase of life that will be lived. This study uses thematic method of interpretation (mauḍū’i) by collecting verses about al-raja' in the Qur'an along with data related to the study of the meaning of al-raja'. There are 7 concepts of al-raja' in the Qur'an that are more applicable in contrast to previous studies that tend to be overshadowed by Sufism studies, namely: hope for Allah Swt., prayer, tawakkal, hope for forgiveness, hope for just retribution, hope for obedience, and hope for guidance. This concept is expected to be applied easily in every situation, so that it becomes a source of strength, peace, and comfort for individuals in facing life's challenges and tests.
Addressing the Practice of Religious Tolerance by Panji Gumilang (In the studies of Wahbah Az-Zuhaili and Quraish Shihab) Fauzi, Mualik; Husna, Rifqatul
EDUKASIA Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 5 No. 1 (2024): Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : LP. Ma'arif Janggan Magetan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62775/edukasia.v5i1.1135

Abstract

Studying the subject of religious tolerance is always fascinating. This research holds a significant place in the field of religion studies because to the fluctuations in relationships between religious groups throughout different regions of the world, including Indonesia. Numerous Islamic scholars, particularly those who study tafsir, attempt to define tolerance normatively by drawing on passages from the Quran. Wahbah al-Zuhayli is a modern scholar who takes tolerance very seriously. Al-Zuhayli's interpretation, while methodologically sound, generally adopts the methodology of ancient ulama literature. But the issue of tolerance that he highlights stems from the social reality that religious communities currently inhabit. Al-Zuhayli opens his discussion on tolerance by elucidating the notion of wasatiyyah al-Islam, or Islamic moderation. Al-Zuhayli then categorized the four primary themes of tolerance found in the Koran. First, the interactions amongst the Samawi faiths. Forming a moderate and tolerant mindset is made possible by the heavenly religion's shared core doctrines. The second is the freedom to select one's religion. This point demonstrates how Islamic law upholds the Ri'ayah al-Din concept. The third is the ban on inciting hate. Fourth, the advice to put justice first and the outlawing of acts of terror. Each and every person is entitled to protection for their soul's freedom. According to Al-Zuhayli's perspective, religious groups generally get along well and are tolerant of one another. This is also a scientific refutation of the violent ideologies that radical organizations frequently advance.
PKM Pendampingan dalam Meningkatkan Pemahaman Santri Terhadap Materi Ghoorib Melalui Metode Ummi di Wilayah Al-Mawaddah Husna, Rifqatul; Unsiyyah , Ummi Farhatil; Maulidiyah, Nur Laila Zahrotul; Hasanah, Ulfatul; Zayyadi, Zayyadi
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 1 No. 3 (2024): Desember
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/hbwkt111

Abstract

Gharoibul ayat  adalah istilah yang merujuk pada bacaan-bacaan Al-Qur'an yang jarang digunakan atau memiliki variasi yang tidak umum dalam ilmu qira'at. Pembelajaran Gharoibul ayat sangat penting dalam memperluas pemahaman umat Islam terhadap keragaman cara membaca Al-Qur'an yang diakui secara sah dalam tradisi qira'at mutawatir. Seiring berkembangnya zaman Santri sering kali bingung dalam membedakan antara aturan bacaan Gharib dengan aturan tajwid lainnya, karena gharoibul qira’ah adalah materi yang relatif lebih kompleks dan jarang ditemukan dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Pengabdian ini membantu santri dalam memahami materi ilmu Gharoibul ayat  serta membiasakan santri dalam mengamalkan materi Gharoibul ayat . Metode yang digunakan ialah metode pendampingan yang bekerja secara langsung dan terlibat dalam kegiatan santri untuk memberikan bimbingan dan arahan. Adapun langkah yang dilakukan ialah menerapkan metode ummi yang efektif dan terstruktur, pendampingan intensif dalam kelompok kecil, alat bantu dan evaluasi pada santri, dengan beberapa langkah yang telah dilakukan menunjukan hasil signifikan dalam meningkatkan pemahaman santri terhadap materi Gharoibul ayat  dengan baik. Keterbatasan dalam pengabdian ini ialah tingkat pemahaman santri yang berbeda beda dalam memahami materi Gharoibul ayat  serta kurangnya minat dan motivasi terhadap beberapa santri, hal ini dapat diatasi dengan adanya pendampingan intensif dan evaluasi berkala yang telah dilakukan.
Teori Al-Qur'an dalam Mengatasi Anak Tantrum dan Relevansinya dengan Love Languages Najiyah, Wasilatun; Rifqatul Husna
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 6 No. 1 (2025): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58401/takwiluna.v6i1.2059

Abstract

Tantrums in children are excessive reactions when they have difficulty in managing their emotions as indicated in QS. al-A'raf: 150 with the characteristics of great anger, hurling something at others, and pulling someone’s hair aggressively. In the Qur'an, there is the best solution for dealing with tantrums contained in QS. Al Baqarah: 156, QS. Ar Ra'd: 28, and QS. Taha: 44. Therefore, this study provides a new approach to overcoming tantrums in children by combining two concepts, namely the theory of the Qur'an in overcoming the child and love language in the Qur'an. This research is a thematic research that uses the library research method with data analysis techniques in the form of content analysis. The results of this study concluded that some verses that were relevant to the concept of Love Languages ​​namely QS. Al Qalam: 4, QS. Yusuf: 99, QS. Al Baqarah: 127, QS. An-Naml: 35-36, and QS. al-Ahqaf: 15 emphasize the importance of recognizing the language of love according to the tantrum. This concept aims so that the child's character can be formed properly so that it has a positive impact on its development. The combination of the Qur'an and Love Languages ​​in overcoming tantrums is not only a solution to the situation but also a form of implementation in caring for children who are mandated by Allah.
Interaction Between Religious People in the Qur’an: Examining Tolerance in Tafsir Bun Yanun Marshush Husna, Rifqatul; Maqfirah, Muflihatul; Alsounusi, Salih Abdulrahman
SUHUF Vol 35, No 2 (2023): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/suhuf.v35i2.23120

Abstract

Indonesia is a pluralistic and tolerant country with the largest Muslim population in the world. Various ethnicities, cultures, and religions thrive in Indonesia. This diversity is, on the one hand, a noble value, but on the other hand, it has led to conflicts among fellow citizens due to the misuse of the true meaning of tolerance. Therefore, it is crucial to have an understanding of the concept of tolerance along with its rules to create a harmonious and respectful coexistence among religious communities in Indonesia. This research was conducted to find out the meaning of tolerance according to Indonesian ulama who are active in crucial activities for religious relations in Indonesia by referring to the QS. Al-Mumlahanah in the interpretation of Bun-Yanun Marshush. The research employs a literature review using qualitative analysis techniques and a thematic (maudhui) method. Data collection is based on documentation techniques, where primary data is sourced from the Qur’an and the book “Tafsir Al-Qur’an Juz XXVIII Juz Qad Sami’ Allah Bun-Yanun Marshush” (A Solid Building). Secondary data is drawn from various relevant tafsir books, publications, and journals related to the subject, which are then comprehensively studied. In conclusion, this research finds that: 1) Allah does not prohibit Muslims from aiding non-Muslims with the condition that they do not act hostile towards and expel Muslims from their homeland, and 2) the prohibition forming friendships with those who assist non-Muslims in their hostility against Muslims, with a clear distinction between right and wrong