Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Efektivitas Liquid Suction Heat Exchanger (LSHX) pada Mesin Refrigerasi dengan R404A pada Berbagai Tingkat Subcooling Andriyanto Setyawan
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-13 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Liquid-to-suction heat exchanger has been used for air conditioning and refrigeration machines over years. It is aimed to increase the cooling capacity and coefficient of performance. In this research, the influence of LSHX utilization on a refrigerating machine with refrigerant R404a has been tested. The test was focused on the heat exchanger effectiveness under various evaporating temperature. To vary the evaporating temperature, a valve has been installed on the inlet side of thermostatic expansion valve. By varying the openings of this valve, the pressure of suction line could be varied from 30 psi to 50 psi, results in the evaporating temperatures from -24°C to -10°C. With the LSHX, the liquid refrigerant temperature could be lowered by 4°C to 8°C. The reduction of the temperature improves the capacity and coefficient to performance up to 16%. Based on the experimental results, the effectiveness of the LSHX ranges from 0.18 to 0.25. The lower the evaporating temperature gives the higher the effectiveness of the LSHX. However, subcooling and superheating should be limited to a certain value in order to control the compressor within safe operating conditions.
Pengaruh Variasi Debit Refrigeran Sekunder Terhadap Kinerja Sistem Chiller Brine Cooling Windy Hermawan Mitrakusuma; Andriyanto Setyawan; Racchel Dewi RiyantoPutri
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-13 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chiller merupakan alat penghasil fluida (refrigeran sekunder) dingin dan digunakan pada sistem distribusi air dingin. Distribusi fluida dingin akan sangat mempengaruhi kinerja dari mesin pendingin. Dalam penelitian ini akan dikaji pengaruh debit aliran fluida dingin terhadap mesin pendinginnya.Sistem pendingin yang digunakan adalah system refrigerasi kompresi uap berpendingin udara (air cooled condensor) dengan refrigeran sekunder adalah propylene glycol 33%. Fluida dingin, dalam kasus penelitian ini, digunakan untuk mendinginkan kabin menggunakan koil yang tertanam dalam dinding pada kabin yang didinginkan. Temperatur termostat dalam ruangan diset pada temperatur 24, artinya pada temperatur refrigeran sekunder akan berhenti mengalir. Pengamatan dilakukan dengan 3 (tiga) kecepatan/debit refrigeran sekunder mengalir pada koil pendingin di dalam kabin. Data pengamatan yang dicatat adalah, temperatur kabin, temperatur cut-in dan cut-off sustem, laju aliran air, tegangan sistem dan arus yang mengalir dalam sistem. Hasil pengujian menunjukkan bahwa laju aliran refrigeran sekunder sangat berpengaruh terhadak kinerja mesin. Diperoleh bahwa dengan meningkatnya debit aliran refrigeran sekunder, akan mempercepat waktu pencapaian temperatur di kabin. Selain itu dengan bertambahnya debit aliran menyebabkan kebutuhan daya menurun. Nampak bahwa pada debit daya pada debit 5,5 Lpm, 3 Lpm, dan 1,8 Lpm, masing masing diperoleh kapasitas pendinginan 320,4 W, 229,0 W, dan 297,4 W. Demikian pula untuk COP, dengan kenaikan debit aliran refrigeran sekunder, koefisien unjuk kerja rata rata meningkat.
Pengaruh Asap Rokok pada Peningkatan Konsentrasi PM2.5 dan PM10 di Ruang Tamu Akibat Merokok di Dalam dan di Luar Rumah Neneng Nuryati; Kasni Sumeru; Andriyanto Setyawan; Yudi Prana Hikmat; Husain Akbar Sumeru; Mohamad Firdaus bin Sukri
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.85-92

Abstract

Udara bersih adalah kebutuhan dasar untuk menjamin kesehatan bagi penghuni rumah. Asap rokok adalah salah satu polutan yang sering berada di rumah. Efek negatif dari asap rokok pada kesehatan telah dilaporkan oleh beberapa ahli. Namun, hingga saat ini, masih banyak dijumpai perokok yang merokok di tempat sembarang di sekitar rumah, seperti di teras, di dalam ruang tamu dan di kamar mandi. Perilaku ini akan berdampak buruk bagi kualitas udara di dalam rumah. Partikulat berdiameter kurang dari 2.5 µm (PM2.5) dan kurang dari 10 µm (PM10) adalah salah satu polutan utama yang dihasilkan oleh asap rokok. Berdasarkan beberapa penelitian, melaporkan bahwa selain akan mengendap di paru-paru, PM2.5 dan PM10 dapat menyebabkan beberapa penyakit, antara lain asma, ISPA (infeksi saluran pernafasan akut), kanker paru-paru dan meningkatkan tingkat mortalitas. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran PM2.5 dan PM10 di dalam ruang tamu akibat perokok yang merokok di kamar mandi, di dalam ruang tamu dan di teras. Pengukuran konsentrasi PM2.5 dan PM10 dilakukan di rumah dengan luas sekitar 45 m2. Pengambilan data dilakukan sebelum merokok, 15 menit setelah rokok dinyalakan, 30 dan 60 menit setelah rokok dimatikan.  Berdasarkan pengukuran didapat bahwa konsetrasi PM2.5 dan PM10 di ruang tamu akan meningkat di atas baku mutu untuk semua lokasi merokok di area rumah. Meskipun perokok merokok di teras dengan pintu ruang tamu tertutup, konsentrasi PM2.5 dan PM10 di ruang tamu tetap meningkat, dari yang sebelumya 27 dan 68 µg/m3 menjadi 63 dan 127 µg/m3. Dari penelitian ini didapat kesimpulan bahwa meskipun merokok di luar rumah, dengan pintu tertutup, tetap dapat meningkatkan konsentrasi PM2.5 dan PM10 di ruang tamu jauh di atas di atas baku mutu. Tentu saja hal ini akan berdampak buruk bagi seluruh penghuni rumah.
Pengaruh Panjang Pipa Suction dan Liquid terhadap Kinerja AC Split Hanif, Zakwan; Setyawan, Andriyanto; Najmudin, Hafid
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 13 No. 01 (2022): Vol 13 (2022): Prosiding 13th Industrial Research Workshop and National Semin
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.426 KB) | DOI: 10.35313/irwns.v13i01.4169

Abstract

AC split merupakan salah satu pengkondisi udara yang sangat umum digunakan karena bentuknya yang kecil dan ringkas. Terdapat dua bagian pada AC split yaitu indoor unit dan outdoor unit, jarak keduanya dihubungkan oleh pipa tembaga untuk tempat mengalirnya refrigeran. Namun kerap kali panjang pipa AC split tidak mengikuti panjang standar yang dikeluarkan oleh produsen yaitu 5m. tentunya hal ini akan mempengaruhi kinerja dari AC split tersebut. Dari hasil pengujian yang dilakukan dengan memvariasikan panjang pipa sebesar 15, 20, 25, dan 30 m didapatkan hasil bahwa semakin panjang pipa maka kapasitas pendinginannya akan turun. Terjadi penurunan kapasitas pendinginan sebesar 29% akibat penambahan panjang pipa sebesar 15 meter. EER mengalami penurunan berturut-turut sebesar 3,43; 3,02; 2,81; dan 2,54. Drop tekanan pada pipa mengalami kenaikan seiring dengan penambahan panjang pipa. Drop tekanan terbesar terdapat pada pipa liquid dengan variasi panjang pipa 30 m yaitu sebesar 12,96 kPa dan terjadi penurunan total daya input sebesar 4%.
Evaluasi Debit Dan Tekanan Udara Pada Salah Satu Exhaust Fan System Di Basement Parking Mall XX Fauzan, Azhar; Setyawan, Andriyanto
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 13 No. 01 (2022): Vol 13 (2022): Prosiding 13th Industrial Research Workshop and National Semin
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.894 KB) | DOI: 10.35313/irwns.v13i01.4196

Abstract

Basement parking merupakan ruangan tertutup yang digunakan untuk menyimpan kendaraan bermotor seperti di Mall XX. Penggunaan exhaust fan system pada basement parking dapat membantu mempercepat sirkulasi udara dari dalam ruangan menuju ke lingkungan. Penelitian ini dilakukan evaluasi pada exhaust fan system yang meliputi debit udara grille, tekanan udara saluran ducting, dan kinerja fan. Keseluruhan grille pada perancangan memiliki debit udara dan ukuran yang sama yaitu sebesar 2367 CFM dan 1.150 × 535 mm serta kapasitas fan 31020 CFM. Pehitungan dan plot pada curva fan dilakukan menggunakan data hasil pengukuran pada kecepatan udara grille, kecepatan udara louver, luas penampang grille, luas penampang louver, dan dimensi ducting. Hasil perhitungan debit udara terus mengalami penurunan pada section yang semakin jauh dari fan, total debit udara hasil pengukuran 20.320 CFM sedangkan total debit udara pada perancangan 33.138 CFM artinya sistem hanya memenuhi 61% dari debit udara yang dibutuhkan. Kinerja fan 86% dari kapasitas maksimalnya, hasil plot curva fan menunjukkan tekanan total 313,6 Pa dan hasil perhitungan tekanan saluran ducting dengan memperhatikan friction loss menggunakan aplikasi duct sizer serta karta equivalent diameter menunjukkan tekanan total saluran ducting terbesar pada saluran 1 sebesar 90,84 Pa yang artinya kapasitas fan sudah mencukupi kebutuhan tekanan udara saluran ducting.
Kaji Eksperimental Pengaruh Variasi Panjang Pipa Kapiler Terhadap Performansi Pada Sistem Mini Brine Cooling Dengan Lshx Untuk Pembuatan Es Balok Cavin, Michel; Muliawan, Rizki; Setyawan, Andriyanto
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 14 No. 1 (2023): Vol 14 (2023): Prosiding 14th Industrial Research Workshop and National Semina
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v14i1.5377

Abstract

Brine cooling merupakan salah satu sistem refrigerasi komersial yang banyak digunakan di industri-industri besar untuk pembuatan es balok. Sistem ini menggunakan refrigeran sekunder sebagai media pemindah kalor, yaitu brine. Pipa kapiler merupakan salah satu jenis alat ekspansi yang berfungsi untuk menurunkan temperatur dan juga tekanan refrigeran yang akan diteruskan ke evaporator. Ukuran panjang dan diameter pipa kapiler sangat berpengaruh pada performansi dari sistem refrigerasi. Untuk mengetahui efisiensi yang terbaik dilakukan dengan metode pengambilan data lalu pengolahan data, pada variasi panjang pipa kapiler 3,3 m COP aktual diperoleh 3,3, COP Carnot 4,5, dan efisiensi sistem sebesar 73,6% variasi panjang pipa kapiler 1,65 m diperoleh COP aktual sebesar 3,25, COP Carnot sebesar 4,7 dan efisiensi sistem yaitu 69,2% turun sebesar 5,7% dari variasi panjang pipa kapiler 3,3, pada variasi panjang pipa kapiler 4,95 m, COP aktual yang diperoleh 3,2, COP Carnot 4,36 dan efisiensi sistem sebesar 73,3% turun sebesar 0,4% dari variasi panjang pipa kapiler 3,3 m, maka dari itu panjang pipa kapiler 3,3 m mempunyai nilai efisiensi sistem yang terbaik. Konsumsi energi pada variasi panjang pipa kapiler 3,3 m diperoleh 2,579 kWh, variasi panjang pipa kapiler 1,65 m diperoleh 4,386 kWh, variasi panjang pipa kapiler 4,95 m diperoleh 2,952 kWh.
Kaji Eksperimental Pengaruh Variasi Durasi Pemvakuman terhadap Performansi AC berdasarkan Metode CSPF Septiyany, Risma; Setyawan, Andriyanto; Simbolon, Luga Martin; Najmudin, Hafid
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 14 No. 1 (2023): Vol 14 (2023): Prosiding 14th Industrial Research Workshop and National Semina
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v14i1.5381

Abstract

Menghilangkan udara, uap air serta gas-gas tidak terkondensasi lain yang mungkin terperangkap pada sistem selama proses instalasi berlangsung adalah tujuan utama dari proses pemvakuman unit AC split. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya serta kondisi di lapangan, ditemukan adanya variasi pada durasi pemvakuman. Hal ini tidak hanya berdampak pada jumlah udara, uap air serta gas-gas tidak terkondensasi lain yang dihilangkan oleh pompa vakum, tapi juga performansi dari sistem itu sendiri. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya, dilakukan uji performansi pada suatu unit AC split dengan memvariasikan durasi pemvakuman mulai dari 0, 15, 30, 45 hingga 60 menit. Selama pengujian, indoor chamber dipertahankan pada TDB 27°C dan TWB 19°C sementara outdoor chamber pada TDB 35°C dan TWB 24°C. Adapun metode perhitungan yang digunakan yaitu Cooling Seasonal Performance Factor (CSPF) berdasarkan standard ISO 16358-1. Hasil pengujian menunjukan bahwa sistem yang tidak divakum menghasilkan performansi terendah dengan nilai CSPF 3,72. Sedangkan sistem yang divakum menunjukan hasil yang lebih baik dengan nilai CSPF tertinggi sebesar 3,85 pada variasi 60 menit. Artinya, proses pemvakuman dapat meningkatkan performansi suatu unit AC hingga 3,5%. Selain itu juga ditunjukkan bahwa pemvakuman dengan durasi 15 menit menghasikan kenaikan performansi yang signifikan jika dibandingkan dengan unit yang tidak divakum.
Kaji Eksperimental Pengaruh Variasi Massa Refrigeran terhadap Kinerja AC Split menggunakan Metode CSPF Julyanti, Annissa Ayu; Setyawan, Andriyanto; Simbolon, Luga Martin; Najmudin, Hafid
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 14 No. 1 (2023): Vol 14 (2023): Prosiding 14th Industrial Research Workshop and National Semina
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v14i1.5382

Abstract

Salah satu faktor yang menentukan kinerja AC Split adalah jumlah refrigeran dan besarnya kapasitas AC Split. Kinerja AC Split dapat dinilai pada kondisi kerja meliputi kapasitas pendinginan serta daya masukan yang dikonsumsi oleh mesin berdasarkan jumlah refrigeran yang masuk ke dalam sistem. Untuk mengetahui jumlah refrigeran tersebut pengisian refrigeran perlu dilakukan, salah satunya pengisian berdasarkan tekanan. Namun, jika tekanannya terlalu tinggi akan menyebabkan beberapa dampak buruk terhadap kondisi kerja AC Split. Agar AC Split dapat menghasilkan kondisi kerja terbaik, massa refrigeran yang masuk ke dalam AC Split perlu dipertimbangkan. Untuk menganalisis kondisi kerja tersebut, penulis melakukan penelitian berdasarkan standar ISO 5151 dengan menguji AC Split kapasitas 1 PK menggunakan refrigeran R-410A. Refrigeran divariasikan sebesar 70%, 80%, 90%, 100%, 110%, dan 120% dari massa pengisian idealnya dengan besar selisih tiap variasi sebesar 58 gram. Metode perhitungan kinerja yang dipilih yaitu Cooling Seasonal Performance Factor (CSPF) berdasarkan standar ISO 16538-1. Hasil pengujian ini menunjukkan seberapa besar pengaruh jumlah massa refrigeran terhadap kinerja AC Split dan hasil kinerja terbesar diperoleh pada massa pengisian 110% dari massa pengisian idealnya. Adapun persentase kenaikan kinerja AC Split pada massa pengisian 100% dan 110% memiliki selisih di bawah 1% sehingga tidak terjadi peningkatan kinerja sistem yang signifikan.
Kaji Eksperimental Pengaruh Perubahan Tegangan Suplai terhadap Performansi Sistem AC Split Febriani, Feby; Setyawan, Andriyanto; Simbolon, Luga Martin; Najmudin, Hafid
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 14 No. 1 (2023): Vol 14 (2023): Prosiding 14th Industrial Research Workshop and National Semina
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v14i1.5383

Abstract

Tegangan listrik yang disuplai ke rumah hunian sering kali berfluktuasi. Jatuh tegangan yang terjadi dapat menyebabkan besarnya tegangan yang diterima oleh konsumen tidak sebanding dengan nilai tegangan yang dikirim. Ketidaksesuaian tegangan suplai terhadap tegangan ratingnya akan berdampak pada kinerja suatu peralatan listrik, seperti pengkondisi udara (AC). Untuk memperoleh performa terbaiknya maka dilakukan kaji eksperimental terkait pengaruh perubahan tegangan suplai terhadap performansi AC Split yang berkapasitas pendinginan 1 PK dengan 8 variasi perubahan tegangan. Besarnya tegangan yang disuplai dalam pengoperasian AC diatur mulai dari 240 V ke 170 V, dengan penurunan sebesar 10 V menggunakan AC Power Source. Pengujian ini dilakukan di dalam psychrometric chamber yang dirancang sesuai standar ISO 5151 pada TDB,indoor side = 27⁰C, TWB,indoor side = 19⁰C, TDB,outdoor side = 35⁰C serta TWB,outdoor side = 24⁰C. Hasil dari pengujian ini didapatkan bahwa sistem bertegangan 220 V menghasilkan nilai EER paling optimum yakni sebesar 11,26 (Btu/hr)/W, sistem bertegangan 240 V mengalami penurunan hingga mencapai 10,96 (Btu/hr)/W sedangkan sistem bertegangan rendah 170 V memberikan pengaruh besar terhadap penurunan performansi hingga 7,6% yang hanya mencapai 10,38 (Btu/hr)/W.
Desain dan Implementasi Arduino Uno dan Raspberry Pi pada Penggunaan LoRaWAN untuk Sistem Monitoring Temperatur dan Kelembapan Fathurrohman, Azmi Muhammad; Arman, Muhammad; Setyawan, Andriyanto; Sugiyarto, Sugiyarto; Ayu, Wirenda Sekar
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 14 No. 1 (2023): Vol 14 (2023): Prosiding 14th Industrial Research Workshop and National Semina
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v14i1.5393

Abstract

LoRa merupakan sebuah teknologi komunikasi jarak jauh yang memanfaatkan gelombang radio sebagai media pengirimannya. LoRa mampu menunjang kebutuhan monitoring atau instrumentasi seperti monitoring temperatur dan kelembapan pada freezer di daerah yang minim infrastruktur. Pada perancangan ini, penggunaan LoRa akan dikolaborasikan dengan microcontroller Arduino Uno dan Raspberry Pi untuk menjalin komunikasi antar LoRa, baik mengirimkan data maupun perintah. Untuk menunjang monitoring dalam cakupan yang luas, sistem komunikasi LoRa dibekali Internet of Things (IoT). Perancangan yang dilakukan memerlukan tiga perangkat yang menunjang pengaplikasian LoRa ini, yaitu Node, Gateway dan Aplikasi. Berdasarkan hasil perancangan, sistem monitoring temperatur dan kelembapan pada sistem refrigerasi freezer berbasis IoT bekerja sesuai rancangan dan dapat menampilkan hasil dari pengukuran pada aplikasi monitoring sebagai media user-interface.