Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

HUBUNGAN FAKTOR PERSEPSI DUKUNGAN ORGANISASI DENGAN PELAKSANAAN MANAJEMEN NYERI DI RUANG INTENSIF Nurul Iklima; Anggi Saputra; Umi Khasanah; Saparingga Dasti Putri; Hera Wahyuni
Jurnal Keperawatan BSI Vol 9 No 1 (2021): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.494 KB)

Abstract

Nyeri membutuhkan penilaian yang sistematis dan akurat untuk menentukan perawatan yang tepat. Penilaian rasa nyeri di ICU menjadi sangat penting ketika pasien tidak bisa berkomunikasi secara verbal. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk melihat hubungan faktor persepsi dukungan organisasi terhadap pelaksanaan manajemen nyeri di ICU. Jenis penelitian ini kuantitatif dengan rancangan studi potong lintang (cross sectional). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode total sampling yaitu semua perawat yang bekerja di ruang perawatan intensif sebanyak 84 perawat. Penelitian ini menggunakan instrument baku terkait persepsi dukungan organisasi dan pelaksanaan manajemen nyeri. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi dukungan organisasi Sebagian besar tidak mendukung dalam pelaksanaannya yaitu sebanyak (61,9%).Faktor Persepsi Dukungan Organisasi tidak memiliki hubungan yang berarti dengan pelaksanaan manajemen nyeri yaitu dengan nilai (p>0,05). Pelaksanaan manajemen nyeri belum dilaksanakan dengan baik, hal ini berhubungan dengan kondisi perawat yang masih berkendala di pengetahuan. Sehingga perawat diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kompetensi melalui pendidikan serta pelatihan.
GAMBARAN KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIHIPERTENSI PADA LANSIA DI RSUD KOTA BANDUNG Anita Putri Wijayanti; Hudzaifah Al Fatih; Sri Hayati; Saparingga Dasti Putri; Lena Rahmidar
Jurnal Keperawatan BSI Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang berdampak menimbulkan komplikasi seperti stroke, infark miokard, gagal jantung, demensia, gagal ginjal, gangguan penglihatan dan bisa berujung menyebabkan kematian. Oleh karena itu penderita hipertensi harus minum obat antihipertensi setiap hari untuk mencegah terjadinya kekambuhan dan komplikasi. Kepatuhan pasien minum obat antihipertensi merupakan suatu tindakan yang perlu dilakukan supaya obat selalu di minum setiap hari. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran kepatuhan pengobatan Antihipertensi pada lansia di Poli Jantung RSUD Kota Bandung. Jenis penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif korelasi dengan pendektan cross sectional. Jumlah responden sebanyak 83 orang dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden. Analisa data dilakukan dengan univariat berupa persentase dan analisis bivariat dengan uji rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengahnya responden (55,6%) sebanyak 46 orang tidak patuh terhadap pengobatan hipertensi. Diharapkan tenaga kesehatan dapat melakukan peran sebagai edukator untuk melakukan pendidikan kesehatan tentang hipertensi dan memberitahukan kepada lansia dengan hipertensi untuk selalu minum obat setiap hari dan juga kepada keluarga lansia untuk mengingatkan minum obat antihipertensi.
PENGARUH BEBAN KERJA DAN EFIKASI DIRI TERHADAP KINERJA PERAWAT RSUD KOTA BANDUNG MELALUI BURNOUT SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Putri, Saparingga Dasti; Purwadhi; Handayani, Nining
Jurnal Aplikasi Manajemen & Kewirausahaan MASSARO Vol. 6 No. 2 (2024): Jurnal Aplikasi Manajemen & Kewirausahaan MASSARO
Publisher : Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat ITB Nobel Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37476/massaro.v6i2.4770

Abstract

Beban kerja merupakan faktor fundamental dalam menentukan sejauh mana baiknya kinerja seorang perawat dalam melaksanakan tugasnya. Perawat dihadapkan pada tuntutan memberikan kinerja yang optimal. Hal ini berdampak pada internal diri perawat yaitu risiko terjadinya burnout. Selain itu, dengan kondisi ini membuat perawat kehilangan semangat dan kekurangan kepercayaan diri. Efikasi diri yang tinggi akan membuat perawat berusaha dan beradaptasi dengan rintangan yang ditemui. Tingginya beban kerja dapat meningkatkan burnout pada perawat yang akhirnya berpengaruh negative pada kinerja perawat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara beban kerja dan efikasi diri terhadap kinerja perawat RSUD Kota Bandung melalui burnout sebagai variabel intervening. Populasi penelitian ini berjumlah 400 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah probably sampling dengan jumlah sampel sebanyak 100 sampel. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif observasional analitik dengan rancangan crossectional.. Instrumen statistik yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan menggunakan uji validitas, realibilitas normalitas. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa Fhitung > Ftabel atau 782,454 > 2,699, artinya terdapat pengaruh beban kerja dan efikasi diri terhadap kinerja perawat RSUD Kota Bandung  melalui  burnout sebagai variabel intervening dengan nilai R sebesar 20,3% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti  dalam penelitian ini.
Pengalaman Pasien Guillain-Barre Syndrome Selama Fase Hospitalisasi Trisyani, Yanny; Susanti, Vera; Muhaemin, Muhaemin; Winara, Winara; Risnianingsih, Nina; Putri, Saparingga Dasti; Tambunan, Natalia
Journal of Telenursing (JOTING) Vol 6 No 2 (2024): Journal of Telenursing (JOTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/joting.v6i2.13843

Abstract

Guillain-Barré Syndrome (GBS) is a rare autoimmune condition that can lead to muscle weakness and total paralysis, often occurring following an infection. The hospitalization phase for GBS patients can significantly impact their mental health and recovery process. This study aims to map the literature concerning the subjective experiences of GBS patients during hospitalization, identify the challenges they face, and understand the psychosocial impacts and the support needs required. The methodology employed is a scoping review based on the Arksey and O'Malley framework, with data gathered from three primary databases: PubMed, Scopus, and Medline. Inclusion criteria include studies reporting on subjective experiences during hospitalization, primary studies employing qualitative, quantitative, or mixed-method approaches, and articles published in English within the last ten years (2015-2024). Eight articles met the inclusion criteria, and the analysis showed that GBS patients experience significant physical, psychological, and social challenges, as well as complex interactions with healthcare providers. These findings underscore the importance of clear communication and emotional support during care, while also identifying gaps in the existing research. Recommendations for further research include the development of interventions that are more responsive to the needs of GBS patients, aimed at improving the quality of care and patient experiences during hospitalization. Keywords: Guillain-Barre Syndrome, Experience, Hospital.
GAMBARAN WORK-FAMILY CONFLICT PADA PERAWAT DI SANTOSA HOSPITAL BANDUNG CENTRAL Tania, Mery; Saputra, Anggi; Putri, Saparingga Dasti; Noerohmah, Siti Dida; Fatih, Hudzaifah Al
Jurnal Keperawatan Vol. 18 No. 2 (2025): Volume 18, Nomor 2, Juli 2025
Publisher : LPPM Akper Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/jk.v18i2.493

Abstract

Stres kerja merupakan reaksi fisik dan emosional yang muncul ketika tuntutan pekerjaan melebihi kemampuan individu untuk menghadapinya. Kondisi ini dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, dan kinerja profesional, terutama pada profesi dengan tekanan tinggi seperti perawat. Faktor-faktor yang memengaruhi stres kerja antara lain beban kerja, work-family conflict (wfc), status pernikahan, jumlah anak, dan dukungan sosial. WFC menjadi faktor penting karena perawat wanita sering menghadapi konflik peran antara pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran work-family conflict pada perawat wanita di Ruang Ruby Santosa Hospital Bandung Central. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Populasi terdiri dari 40 perawat wanita, dengan 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen penelitian berupa kuesioner. Hasil Penelitian menunjukan sebagian besar (60%) mengalami work-family conflict berat sebanyak 18 responden, hampir setengahnya (40%) mengalami work-family conflict sedang sebanyak 12 responden dan tidak ada reponden yang mengalami work-family conflict ringan. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan panduan praktis bagi manajemen rumah sakit dalam meningkatkan kesejahteraan perawat dan kualitas pelayanan kesehatan.
MENJAGA KEBERSIHAN REPRODUKSI PADA REMAJA Tania, Mery; Putri, Saparingga Dasti; Iklima, Nurul
Masyarakat Mandiri dan Berdaya Vol. 4 No. 3 (2025): Volume 4, Nomor 3, Juni 2025
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/mbm.v4i3.494

Abstract

Kegiatan edukasi mengenai kebersihan reproduksi pada remaja putri di SMK PIRAMIDA Bandung menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, terjadi peningkatan skor rata-rata dari 56 menjadi 88, dengan lebih dari 85% peserta mampu menjawab pertanyaan dengan benar setelah edukasi. Mayoritas siswa memahami kaitan antara perilaku personal hygiene yang buruk dan risiko infeksi saluran reproduksi. Perubahan sikap juga teridentifikasi, seperti meningkatnya kesadaran mengganti pembalut setiap 4–6 jam dan penerapan teknik membasuh yang benar. Dari wawancara dan kuesioner, siswa menyatakan bahwa kegiatan ini bermanfaat dan menyenangkan, serta mendorong agar program edukatif serupa dijalankan secara rutin. Temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan interaktif dan praktis dalam membentuk perilaku hidup bersih dan sehat pada remaja.
SKRINING GULA DARAH, KOLESTEROL DAN ASAM URAT SEBAGAI UPAYA DETEKSI DINI PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA MASYARAKAT Putri, Saparingga Dasti; Maidartati, Maidartati; Tania, Mery
Masyarakat Mandiri dan Berdaya Vol. 4 No. 6 (2025): Volume 4, Nomor 6, Desember 2025
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/mbm.v4i6.621

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes melitus dan penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas baik secara global maupun nasional. Salah satu tantangan utama pengendalian PTM adalah rendahnya deteksi dini faktor risiko metabolik, khususnya peningkatan kadar gula darah dan kolesterol. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan literasi kesehatan masyarakat melalui skrining gula darah dan kolesterol yang disertai edukasi kesehatan. Kegiatan dilaksanakan pada 7 Oktober 2025 di Skadik 202 Lanud Sulaiman melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan Tentara Nasional Indonesia (TNI), dengan melibatkan dosen dan mahasiswa keperawatan Universitas ARS. Metode pelaksanaan meliputi edukasi pra-skrining, pemeriksaan gula darah dan kolesterol menggunakan alat tes cepat, konseling hasil pemeriksaan, serta pemberian rekomendasi tindak lanjut. Hasil kegiatan menunjukkan partisipasi masyarakat yang tinggi serta peningkatan pemahaman peserta mengenai faktor risiko PTM dan pentingnya deteksi dini. Kolaborasi dengan TNI mendukung keteraturan dan efektivitas pelaksanaan kegiatan, sehingga skrining dan edukasi kesehatan dapat berjalan optimal. Kegiatan ini menegaskan bahwa skrining kesehatan berbasis komunitas yang terintegrasi dengan edukasi dan kolaborasi lintas sektor merupakan strategi promotif–preventif yang efektif dalam mendukung pengendalian PTM
Pengembangan Wirausaha Peternak Ikan Jaring Terapung di Desa Batulayang Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Barat Rian Andriani; Angki Wibisono; Willma Fauzzia; Najip Hendra S Parino; Saparingga Dasti Putri; Fransiska Sabu Kopong
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia (JPKMI) Vol. 3 No. 2 (2023): Agustus: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia (JPKMI)
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpkmi.v3i2.1693

Abstract

Pengembangan wirausaha peternak ikan jaring terapung di Desa Batulayang sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Prodi Magister Manajemen Universitas Adhirajasa Reswara Sanjaya menjadi langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan usaha peternak ikan jaring terapung. Kolaborasi antara akademisi, ahli perikanan, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat menjadi kunci keberhasilan dalam pengembangan wirausaha ini. Fokus utama kegiatan pengabdian adalah memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada peternak ikan jaring terapung. Tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan dukungan bagi para peternak untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keuntungan usaha. Penyuluhan memberikan pemahaman mengenai strategi pengembangan wirausaha, manajemen usaha, pemasaran, dan teknik budidaya ikan jaring terapung yang optimal. Pelatihan dilakukan untuk meningkatkan kreativitas dan keahlian peternak dalam mengelola usaha, meningkatkan efisiensi operasional, dan menghasilkan produk ikan berkualitas. Tantangan yang dihadapi peternak saat ini adalah pendapatan yang tidak memadai. Oleh karena itu, pengembangan usaha dan diversifikasi produk menjadi fokus utama dalam kegiatan pengabdian ini. Dengan peningkatan keterampilan dan dukungan yang diberikan, diharapkan peternak dapat mengembangkan produk olahan ikan dengan nilai tambah dan memperluas jangkauan pasar. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang berkelanjutan dan kolaboratif, diharapkan terjadi peningkatan berkelanjutan dalam usaha peternak ikan jaring terapung di Desa Batulayang. Peningkatan pendapatan peternak akan berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat setempat, pertumbuhan ekonomi lokal, dan pengurangan tingkat kemiskinan di pedesaan. Upaya ini juga dapat menjadi contoh dan model inspiratif dalam pengembangan wirausaha perikanan di daerah lain.
Penanganan pada Pasien IDCM yang Mengalami Hiperkalemia Berat: Case Report Putri, Saparingga Dasti; Tambunan, Natalia; Pen, Inggried Angelica Valentina Wiliyams; Pamungkas, Sultan Muhammad Wahyu; Priambodo, Ayu Prawesti; Mirwanti, Ristina
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i3.21125

Abstract

ABSTRACT Idiopathic Dilated Cardiomyopathy (IDCM) is a condition that can trigger malignant arrhythmias such as Ventricular Tachycardia (VT) and Ventricular Fibrillation (VF), especially if accompanied by severe hyperkalemia. The combination of myocardial dysfunction, impaired renal function, and electrolyte imbalance increases the risk of fatal complications such as cardiac arrest. Objective: To report the case management of an IDCM patient with severe hyperkalemia causing malignant arrhythmias, and to highlight the importance of a multidisciplinary approach in its clinical management. This case study uses a single case approach to a 52-year-old patient treated in the Intensive Care Unit. Data were collected through direct assessment, observation, and supporting examinations during five days of intensive care. The patient experienced severe hyperkalemia (K+ 7.05 mmol/L) which triggered VT and progressed to VF. Emergency management was carried out with ACLS, administration of calcium gluconate, insulin-dextrose, Kalitake, sodium bicarbonate, and inotropic support. Hemodialysis was performed to treat persistent electrolyte disturbances. The patient showed significant clinical improvement after comprehensive intervention. Management of severe hyperkalemia in IDCM patients requires coordination between cardiology, nephrology, and intensive care specialists. Rapid intervention, aggressive medical therapy, and hemodialysis can save lives and restore patient stability. Keywords: Nursing Care, Idiopathic Dilated Cardiomyopathy (IDCM), Hyperkalemia.  ABSTRAK Idiopathic Dilated Cardiomyopathy (IDCM) merupakan kondisi yang dapat memicu aritmia maligna seperti Ventricular Tachycardia (VT) dan Ventricular Fibrillation (VF), terutama jika disertai dengan hiperkalemia berat. Kombinasi antara disfungsi miokard, gangguan fungsi ginjal, dan ketidakseimbangan elektrolit memperbesar risiko komplikasi fatal seperti cardiac arrest.Tujuan: Melaporkan penanganan kasus pasien IDCM dengan hiperkalemia berat yang menyebabkan aritmia maligna, serta menyoroti pentingnya pendekatan multidisiplin dalam manajemen klinisnya.Studi kasus ini menggunakan pendekatan single case terhadap pasien berusia 52 tahun yang dirawat di ICU. Data dikumpulkan melalui pengkajian langsung, observasi, dan pemeriksaan penunjang selama lima hari perawatan intensif. Hasil: Pasien mengalami hiperkalemia berat (K+ 7.05 mmol/L) yang memicu VT dan berkembang menjadi VF. Penanganan darurat dilakukan dengan ACLS, pemberian kalsium glukonat, insulin-dextrose, Kalitake, natrium bikarbonat, dan dukungan inotropik. Hemodialisis dilakukan untuk mengatasi gangguan elektrolit yang persisten. Pasien menunjukkan perbaikan klinis signifikan setelah intervensi komprehensif. Penanganan hiperkalemia berat pada pasien IDCM membutuhkan koordinasi antara spesialis kardiologi, nefrologi, dan perawatan intensif. Intervensi cepat, terapi medis agresif, serta hemodialisis dapat menyelamatkan nyawa dan memulihkan stabilitas pasien. Kata Kunci: Asuhan Keperawatan, Idiopathic Dilated Cardiomyopathy (IDCM), Hiperkalemia.
Persepsi Perawat tentang Kesiapsiagaan dan Tantangan dalam Merawat Penyintas Bencana: Tinjauan Literatur Kurhayati, Kurhayati; Saban, Faiza Zulfikar; Putri, Saparingga Dasti; Setyawan, Y Dodi; Nasrullah, Kurnia; Kosasih, Cecep Eli; Trisyani, Yanny
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i3.21002

Abstract

ABSTRACT Natural disasters and health crises have experienced a significant increase in the last decade. Nurses have a role in disaster mitigation and response, including providing holistic care to victims in every phase of response. Previous studies reported that nurses are often faced with various situations and challenges in every phase of emergency response such as limited resources and low preparedness. Previous studies have focused more on evaluating disaster preparedness training programs or the effectiveness of standard protocol-based nursing interventions, but have not sufficiently explored how nurses' direct experiences shape their perceptions of preparedness and the challenges they face. This study aims to explore nurses' perceptions of preparedness and challenges in caring for disaster survivors. This study method uses a scoping review approach with the Arksey O'Malley methodology framework. Literature searches were conducted on the Scopus, PubMed, EBSCOhost, and ScienceDirect databases for the journal period 2015 - 2025 resulting in 791 articles. In the process of screening and selecting articles, a systematic approach followed the PRISMA protocol. The process of selecting studies and reporting results followed the PRISMA-ScR guidelines. Of the 791 articles found, 10 final articles met all inclusion criteria. This study identified three nurses' perceptions of preparedness and challenges in caring for disaster survivors, namely perceptions of lack of preparedness, perceptions of limited resources and coordination, and perceptions of emotional distress during the disaster response process. Conclusions: Nurses face psychosocial and technical barriers when caring for disaster survivors. Resource support plays a role in supporting nurses' preparedness in the field. These results emphasize the need for increased disaster training programs and policy development to strengthen nurses' preparedness in dealing with crisis situations. Keywords: Nurse Preparedness, Disaster Survivors, Nurse Perception, Disaster Response, Nursing Challenges.  ABSTRAK Bencana alam dan krisis kesehatan mengalami proses peningkatan yang signifikan dalam dekade terakhir, Perawat mempunyai peran dalam mitigasi dan respon bencana, termasuk memberikan perawatan holistik pada korban dalam setiap fase penanggulangan. Studi terdahulu melaporkan bahwa perawat sering dihadapi berbagai situasi dan tantangan dalam setiap fase tanggap darurat seperti keterbatasan sumberdaya dan kesiapsiagaan yang rendah. Penelitian terdahulu lebih menitikberatkan pada evaluasi program pelatihan kesiapsiagaan bencana atau efektivitas intervensi keperawatan berbasis protokol standar, namun belum cukup menggali bagaimana pengalaman langsung perawat membentuk persepsi mereka terhadap kesiapsiagaan dan tantangan yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi perawat terhadap kesiapsiagaan dan tantangan dalam merawat penyintas bencana. Metode kajian ini menggunakan pendekatan scoping review dengan kerangka metodologi Arksey O’Malley. Pencarian literatur dilakukan pada basis data Scopus, PubMed, EBSCOhost, dan ScienceDirect untuk tahun jurnal periode 2015 - 2025 menghasilkan 791 artikel. Dalam proses screening dan seleksi artikel, pendekatan sistematis mengikuti protokol PRISMA.  Proses seleksi studi dan pelaporan hasil mengikuti pedoman PRISMA-ScR. Dari 791 artikel yang ditemukan, ada 10 artikel final yang memenuhi semua kriteria inklusi. Penelitian ini mengidentifikasi tiga persepsi perawat terhadap kesiapsiagaan dan tantangan dalam merawat penyintas bencana yaitu ppersepsi tentang kurangnya kesiapsiagaan, persepsi tentang keterbatasan sumber daya dan koordinasi, serta persepsi tentang tekanan emosional selama proses tanggap bencana. Perawat menghadapi hambatan dari aspek psikososial dan teknis saat merawat penyintas bencana. Dukungan sumber daya berperan dalam mendukung kesiapsiagaan perawat di lapangan. Hasil ini menegaskan perlu adanya peningkatan program pelatihan bencana dan pengembangan kebijakan guna memperkuat kesiapan perawat dalam menghadapi situasi krisis. Kata Kunci: Kesiapsiagaan Perawat, Penyintas Bencana, Persepsi Perawat, Tanggap Bencana, Tantangan Keperawatan.