Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Monitoring Tekanan Darah Pasien Pasca Spinal Anestesi Dengan Klasifikasi American Society Of Anesthesiologist 2 Di Rumah Sakit Jatiwinangun Danang Tri Yudono; Amin Susanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.536

Abstract

Tindakan spinal anestesi dapat menimbulkan terjadinya vasodilatasi pembuluh darah vena yang mengakibatkan terjadinya akumulasi darah di visera dan ekstremitas bawah. Hal ini dapat menyebabkan menurunnya volume darah di sirkulasi dan curah jantung, vasodilatasi arteri mengakibatkan turunnya resistensi sistemik. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif, dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 45 pasien dengan spinal anestesi dengan klasifikasi pasien ASA 2. Tehnik dalam pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai mean tekanan darah sistolik saat pre induksi spinal yaitu 138,5, setelah 5 menit pasca induksi spinal didapatkan penurunan nilai mean 119,3, setelah 10 menit pasca spinal anestesi didapatkan penurunan nilai mean 89,3. Hasil tekanan darah diastolic sebelum dilakukan Tindakan spinal anestesi sebesar 87,8, terjadi penurunan setealah 5 menit pasca spinal anestesi sebesar 75,8, dan menurun Kembali setelah 10 menit pasca induksi spinal anestesi, Kesimpulan penelitian ini menunjukan terjadinya penurunan tekanan darah sistolik maupun diastolic pasca anestesi spinal baik di 5 menit maupun di 10 menit pasca spinal anestesi.
Edukasi dan Implementasi Tentang Mobilisasi Dini pada Pasien Pasca Sectio Caesarea dengan Anestesi Spinal di RSU Karya Bakti Ujung Bandar Rantauprapat Juniaman Zega; Danang Tri Yudono; Tophan Heri Wibowo
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/p9dgc130

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini berjudul “Edukasi & Implementasi Tentang Mobilisasi Dini Pada Pasien Pasca Sectio Caesarea Dengan Anestesi Spinal di RSU Karya Bakti Ujung Bandar Rantauprapat”. Judul ini dipilih karena masih banyak pasien pasca operasi sectio caesarea dengan anestesi spinal di RSU Karya Bakti Ujung Bandar Rantauprapat kurang pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan mobilisasi dini yang benar. Mobilisasi dini adalah aktivitas yang dilakukan oleh pasien post pembedahan, mulai dari latihan ringan di atas tempat tidur (latihan pernapasan, latihan batuk efektif dan menggerakkan tungkai) sampai dengan pasien bisa turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi dan keluar kamar. Salah satu tujuan mobilisasi dini yaitu untuk meningkatkan sirkulasi darah dan Memulihkan kemampuan aktivitas pasien agar bisa bergerak secara normal dan memenuhi kebutuhan gerak sehari-hari. Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang mobilisasi dini pada pasien pasca sc dengan spinal anestesi sehingga pasien memiliki pengetahuan serta dapat mempraktikan secara mandiri mengenai mobilisasi dini setelah operasi, program ini akan dilakukan melalui metode ceramah, demonstrasi, dan penggunaan leaflet. Jumlah peserta yang terlibat sebanyak 30 pasien yang diberi pre-test dan post-test untuk mengevaluasi pengetahuan tentang mobilisasi dini post sc. Hasil yang diharapkan akan memberikan pengetahuan dan keterampilan pasien dalam melakukan mobilisasi dini post sc secara mandiri dan benar.
Edukasi Audiovisual Prosedur Anestesi Spinal Dan Pemberian Essential Oil Dalam Menurunkan Kecemasan Pada Pasien Spinal Anestesi Sania Saputri; Danang Tri Yudono; Ikit Netra Wirakhmi
Indonesian Journal of Community Dedication Vol. 8 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Community Dedication (IJCD)
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35892/community.v8i2.3513

Abstract

Kecemasan preoperatif merupakan masalah psikologis yang sering dialami pasien yang akan menjalani operasi dengan anestesi spinal. Kurangnya pemahaman mengenai prosedur anestesi dapat meningkatkan rasa takut, khawatir, dan ketidakpastian, sehingga diperlukan intervensi nonfarmakologis berupa edukasi audiovisual yang dipadukan dengan pemberian essential oil lavender. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengetahui tingkat kecemasan pasien sebelum dan sesudah diberikan edukasi audiovisual prosedur anestesi spinal serta essential oil lavender. Kegiatan dilaksanakan di Ruang Antasena dan Ruang Gayatri RST TK.III 04.06.01 Wijayakusuma Purwokerto pada 50 pasien preoperasi yang akan menjalani anestesi spinal. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pengukuran tingkat kecemasan sebelum intervensi menggunakan kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale, screening alergi dan kenyamanan terhadap aroma lavender, pemberian edukasi audiovisual prosedur anestesi spinal selama 5 menit, sesi tanya jawab, pemberian inhalasi essential oil lavender menggunakan diffuser selama 15 menit, kemudian pengukuran kembali tingkat kecemasan setelah intervensi. Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar pasien berada pada kategori kecemasan sedang sebanyak 19 responden (38,0%) dan kecemasan berat sebanyak 17 responden (34,0%). Setelah intervensi, kecemasan pasien menurun, ditandai dengan meningkatnya kategori tidak ada kecemasan menjadi 7 responden (14,0%) dan kecemasan ringan menjadi 18 responden (36,0%), serta menurunnya kecemasan berat menjadi 5 responden (10,0%) dan tidak ditemukan lagi kategori panik. Edukasi audiovisual prosedur anestesi spinal yang dipadukan dengan essential oil lavender dapat digunakan sebagai intervensi nonfarmakologis untuk menurunkan kecemasan pasien preoperasi dan direkomendasikan sebagai bagian dari edukasi rutin preanestesi di ruang rawat inap.
Factors Influencing the Incidence of Hypothermia in Spinal Anesthesia Patients at the Central Surgery Installation of Islamic Fatimah Hospital, Cilacap Elsha Paramadinah; Danang Tri Yudono; Feti Kumala Dewi
Viva Medika Vol 16 No 4 (2023)
Publisher : LPPM Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/vm.v16i4.1221

Abstract

The patient’s care body temperature below 36°C is usually diagnosed as hypothermia. The human thermoregulatory system maintains metabolic activity by keeping body temperature about 37ºC. Hypothermia is linked to anesthesia and surgery. This study examines the risk factors for hypothermia in spinal anesthesia patients at the Central Surgical Installation of RSI Fatimah Cilacap. Age, gender, BMI, and length are variables. This research method is using a quantitative analytical observational approach with total sampling technique. The results of this study showed that the most dominant age of respondents was adults 25-46 years (45.9%) with mild hypothermia (29.7%). The study also found 59.5% of participants were female and 29.7% had mild or moderate hypothermia. Most respondents (64.9%) had an average BMI 37.8% had mild hypoyhermia. Finally, 56.8% of respondents had 1-2-hour surgery, with 32.4% experiencing mild hypothermia. The conclusion of this study found that Body Mass Index (BMI) is the main risk factor for hypothermia with 64.9% of people having a normal BMI.
Implementasi Teknik Rewarming terhadap Peningkatan Suhu Tubuh pada Pasien Hipotermi Pasca Operasi dengan Anestesi Spinal Fitri Handayani; Danang Tri Yudono; Fauziah Hanum; Made Suandika
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 3 (2026): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v6i3.935

Abstract

Introduction: Hypothermia is a common complication in postoperative patients, particularly following spinal anesthesia, which may cause discomfort, increase infection risk, delay wound healing, and prolong recovery time. Preliminary data at RSI Fatimah Cilacap showed that approximately 80% of patients undergoing spinal anesthesia experienced mild to moderate hypothermia, while current management remains largely pharmacological. Objective: The purpose of this service was to implement a rewarming technique using hot packs and aluminum foil blankets to improve body temperature in postoperative hypothermic patients following spinal anesthesia. Method: This public service was conducted on 30 postoperative patients who met hypothermia criteria (body temperature <36°C) in the recovery room of RSI Fatimah Cilacap. The methods included patient education, body temperature monitoring, application of hot packs to the inner arms for 15 minutes, and the use of aluminum foil blankets for 15–30 minutes. Result: The results demonstrated a significant increase in patients’ body temperature, with an average rise of 1.2°C after 15 minutes of combined intervention. There was also a reduction in shivering grade, with patients at grade 0 increasing from 57.7% to 93%. Most patients (83.3%) achieved recovery within 15 minutes, indicating the effectiveness of the rewarming method. Conclusion: The combination of hot packs and aluminum foil blankets is an effective non-pharmacological intervention to increase body temperature and reduce shivering in postoperative hypothermic patients following spinal anesthesia.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa D-IV Keperawatan Anestesiologi tentang Difficult Airway Management pada Anestesi Umum Jovanca Christy Amara Wibowo; Danang Tri Yudono; Magenda Bisma Yudha
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i2.334

Abstract

Latar Belakang: Salah satu tantangan dalam anestesi umum adalah difficult airway management (DAM), yang ditandai dengan kesulitan intubasi dan ventilasi jalan napas. Difficult Airway Management menjadi perhatian serius dalam anestesiologi karena dapat menyebabkan komplikasi fatal, dengan risiko gagal intubasi mencapai 2,6 per 1000 kasus dalam anestesi umum. Meskipun demikian, 80% perawat belum terampil dalam penatalaksanaan DAM. Oleh karena itu, penting bagi institusi melakukan evaluasi dan meningkatkan pengetahuan dan sikap mahasiswa mengenai DAM guna meminimalkan risiko kompilkasi. Tujuan: Penelitian ini untuk mengevaluasi pengetahuan dan sikap Mahasiswa D-IV Keperawatan Anestesiologi dalam memahami Difficult Airway Management Pada Anestesi Umum. Metode: Dengan desain kuantitatif cross-sectional, penelitian ini melibatkan 150 mahasiswa yang dipilih melalui stratified random sampling. Instrumen ini merupakan adaptasi dari penelitian yang relevan sebelumnya dengan kuesioner berskala Likert (1-5) yang telah divalidasi dan diuji reliabilitasnya. Nilai Cronbach's Alpha 0.858 (skala pengetahuan) dan 0.832 (skala sikap). Hasil: Analisis data menggunakan uji non-parametrik Spearman’s Rho menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara pengetahuan dan sikap mahasiswa D-IV Keperawatan Anestesiologi terkait DAM pada anestesi umum (p-value 0,000 < 0,050). Kesimpulan: Semakin tinggi pengetahuan mahasiswa, semakin baik sikap mahasiswa dalam memahami penatalaksanaan DAM pada anestesi umum. Kata Kunci: anestesi umum, difficult airway management (DAM), hubungan pengetahuan dan sikap, mahasiswa kesehatan
Gambaran Lama Waktu Pulih Sadar Pada Pasien Pasca Anestesi Umum Dengan Riwayat Merokok Di RSI Purwokerto Inaya Ramadhanti; Danang Tri Yudono; Iki Netra Wirakhmi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1040

Abstract

Anestesi umum merupakan teknik pembedahan yang paling sering digunakan, namun berpotensi menimbulkan komplikasi pascaoperasi berupa keterlambatan pulih sadar (prolonged recovery). Riwayat merokok diduga berperan dalam memperpanjang pemulihan melalui kerusakan fungsi silia bronkus, peningkatan produksi mukus, akumulasi karbon monoksida, serta perubahan metabolisme obat anestesi. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran lama waktu pulih sadar pada pasien pascaanestesi umum dengan riwayat merokok di RSI Purwokerto. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional terhadap 63 pasien yang dipilih melalui total sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi menggunakan Aldrete Score (skor &gt;8), sedangkan data sekunder berasal dari rekam medis. Analisis dilakukan secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Mayoritas responden berusia 26–35 tahun (22,2%), berjenis kelamin perempuan (55,6%), berstatus fisik ASA II (82,5%), dan menjalani operasi berdurasi 1–2 jam (61,9%). Sebanyak 34 responden (54,0%) mengalami pulih sadar cepat (&lt;15 menit) dan 29 responden (46,0%) mengalami pulih sadar lambat (&gt;15 menit). Pulih sadar lambat didominasi perokok aktif (34,9%), sedangkan pulih sadar cepat didominasi perokok pasif (44,4%). Temuan ini menegaskan perlunya pengkajian statusmerokok praoperasi serta pemantauan respirasi dan saturasi oksigen yang lebih ketat selama masa pemulihan.
Penerapan Edukasi Teknik Relaksasi Napas Dalam Untuk Mengurangi Kecemasan Pra Operatif Pasien Bedah Di RS Wijayakusuma Purwokerto Martha Crisyanti Zalukhu; Danang Tri Yudono; Fauziah Hanum
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1252

Abstract

Kecemasan pra-operatif merupakan masalah yang sering dialami pasien sebelum pembedahan yang dapat memengaruhi kondisi fisiologis seperti peningkatan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan menerapkan edukasi teknik relaksasi napas dalam serta mengevaluasi pengaruhnya terhadap tingkat kecemasan pra-operatif pada pasien bedah di RS TK III 04.06.01 Wijayakusuma Purwokerto. Metode pelaksanaan dilakukan terhadap 30 responden yang memenuhi kriteria inklusi melalui skrining menggunakan instrumen Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS). Intervensi diberikan melalui penayangan video edukasi berdurasi 2–3 menit dan praktik langsung yang dipandu oleh perawat anestesi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mayoritas peserta adalah perempuan (63,3%) dan berada pada kelompok usia dewasa akhir (70%). Terjadi penurunan rata-rata skor kecemasan yang signifikan dari 15,87 (cemas sedang) sebelum edukasi menjadi 11,53 (cemas ringan) setelah edukasi. Sebanyak 90% peserta memiliki tingkat pengetahuan yang baik dan seluruh peserta (100%) mampu melakukan teknik relaksasi secara terampil. Hasil observasi menunjukkan tekanan darah, frekuensi denyut jantung, dan saturasi oksigen tetap berada dalam rentang normal setelah intervensi. Keterbatasan dalam kegiatan ini meliputi perubahan jadwal operasi pasien yang mendadak serta kelelahan responden akibat banyaknya instrumen evaluasi yang diisi secara berulang. Dapat disimpulkan bahwa edukasi teknik relaksasi napas dalam efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan pra-operatif dan menjaga stabilitas fisiologis pasien bedah.
Implementation of an Electric Hot Pack to Increase Body Temperature in Postoperative Patients with Hypothermia at Pandega Pangandaran Regional General Hospital Tia Nuraisyah; Danang Tri Yudono; Linda Yanti
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 4 (2026): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v6i4.962

Abstract

Introduction: Hypothermia is a common complication in postoperative patients due to the effects of anesthesia, particularly in patients undergoing regional or general anesthesia. Hypothermia negatively affects patient recovery, such as causing cardiovascular system disorders, increasing the risk of bleeding, and delaying the healing process. Previous studies have explored various non-pharmacological interventions to manage core body temperature drop after surgery. Objective: The purpose of this study was to implement an electric hotpack as a non-pharmacological intervention to increase the body temperature of postoperative hypothermic patients at RSUD Pandega Pangandaran. Method: The method used a quantitative observational design with a pre-post intervention approach involving 30 postoperative patients who experienced hypothermia (body temperature <36°C). The intervention consisted of applying an electric hotpack for 15 minutes to the back area. Result: The results showed that the average body temperature of the patients increased from 34.5°C to 35.4°C after the intervention. Participant characteristics were dominated by males (53.3%), early adulthood (43.3%), and patients with regional anesthesia (63.3%). This temperature increase demonstrated the effectiveness of the electric hotpack in reducing the degree of hypothermia in postoperative patients. Conclusion: The implementation of an electric hotpack is an effective alternative for non-pharmacological management that is easy, inexpensive, and practical in post-anesthesia care. Medical personnel, particularly nurse anesthetists, should utilize this intervention widely in clinical practice
Gambaran Tingkat Kepatuhan Penata Anestesi dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di Kabupaten Cilacap Mochamad Bayu Nuryatmaja; Danang Tri Yudono; Magenda Bisma Yudha
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): Juli : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v5i2.6095

Abstract

The use of Personal Protective Equipment (PPE) by health workers is very important in preventing the transmission of infections, especially in the Central Surgical Installation (IBS) room which has a high risk. Anesthesia organizers are health workers who are vulnerable to exposure to infection because they often perform actions that are in direct contact with the patient's body fluids. The purpose of this study was to identify the characteristics of the level of compliance of anesthesiologists in the use of PPE based on gender, age, education level and length of work in hospitals in the Cilacap Regency Region. This study is quantitative descriptive with a cross dectional approach. The research population is 38 respondents, the focus of observation in this study is an overview of the compliance of anesthesiologists in the use of personal protective equipment (PPE) in Cilacap Regency. This study showed compliance in the use of PPE with the compliant category as many as 24 respondents (63.2%), less compliant as many as 11 respondents (28.9%), while non-compliance as many as 3 respondents (7.9%). The results of this study show that there is compliance, lack of compliance, and non-compliance with anesthesia surgeons in Cilacap Regency.