I Gede Mega Putra
Departemen/KSM Obstetri Dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana-RSUP Sanglah Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Faktor-faktor klinikopatologi kekambuhan kanker serviks stadium I-IIA2 pasca histerektomi radikal di RSUP Sanglah periode 2019–2020 Putu Raka Widhiarta; I Nyoman Bayu Mahendra; Made Bagus Dwi Aryana; I Gede Megaputra
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 1 (2021): (Available online : 1 April 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.25 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i1.903

Abstract

Background: Cervical cancer is the second-largest malignant disease in Indonesia. Recurrence in early-stage cervical cancer is high. However, data of clinicopathological factors for recurrence of early stage cervical cancer in Indonesia, especially in Denpasar, are still challenging to find. Thus, this study aims to determine the clinicopathological factors for recurrence cervical stage I-IIA2 post radical hysterectomy at Sanglah General Hospital.Methods: This research is an analytical cross sectional study using medical record data and the sampling technique is total sampling. According to the inclusion and exclusion criteria, the data obtained were 46 data, which were then analyzed using SPSS version 25 for Windows.Results: The bivariate analysis of this study showed that the variables age, histopathology, incision margin, and parametrial involvement were not significantly associated with the recurrence rate (p> 0.05). The factors significantly associated with the recurrence rate were a clinical stage, tumor size, and positive lymph nodes (p <0.05).Conclusion: Clinical stage, tumor size, and lymph node metastases are three independent factors for cervical cancer recurrence after radical hysterectomy surgery.Keywords: Cervical Cancer, Recurrence, Radical Hysterectomy, Sanglah General Hospital Denpasar.  Latar belakang:  Kanker serviks adalah penyakit keganasan kedua terbanyak di Indonesia. Kekambuhan pada kanker serviks stadium awal tergolong tinggi. Namun, data mengenai faktor-faktor kekambuhan kanker serviks stadium awal di Indonesia khususnya di Denpasar masih sulit ditemukan. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor kekambuhan kanker serviks stadium I-IIA2 pasca histerektomi radikal di RSUP Sanglah Denpasar.Metode: penelitian ini merupakan penelitian analitik potong lintang dengan menggunakan data rekam medis dan teknik penentuan sampel adalah Total Sampling.  Data yang didapat sesuai kriteria inklusi dan eksklusi adalah 46 data yang kemudian doiolah dengan SPSS versi 25 untuk Windows.Hasil: Analisis bivariat penelitian ini menunjukan bahwa variabel usia, histopatologi, batas sayatan, dan keterlibatan parametrium tidak berhubungan secara bermakna dengan tingkat kekambuhan (p>0,05). Faktor-faktor yang berhubungan secara bermakna dengan tingkat kekambuhan adalah stadium klinis, ukuran tumor, dan kelenjar limfe positif (p<0,05).Kesimpulan: Stadium klinis, ukuran tumor, dan metastasis pada kelenjar limfe adalah tiga faktor independen untuk kekambuhan kanker serviks setelah operasi radikal histerektomi.
Ekspresi reseptor vitamin D plasenta yang rendah sebagai faktor risiko terjadinya preeklampsia dengan gambaran berat I Gede Mahendra Adiguna Dira; Ketut Suwiyoga; I Wayan Artana Putra; I Gede Mega Putra; Ida Bagus Gede Fajar Manuaba; I Gde Sastra Winata; I Wayan Megadhana
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 1 (2022): (Available Online : 1 April 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/ism.v13i1.1208

Abstract

Introduction: Preeclampsia is the cause of 10-15% of maternal deaths in Indonesia and occurs in about 2-10% of all pregnancies worldwide. The pathogenesis that underlies the occurrence of preeclampsia is not yet clearly known so that preeclampsia is referred to as a disease of theory. Nutritional factors such as vitamin D also play a role in the development of preeclampsia. This study aims to determine the relationship between vitamin D receptor expression as a risk factor for preeclampsia with severe features.Method: This study used a case-control design conducted in the maternity ward of Sanglah General Hospital, Denpasar from February to August 2020. A sample of 44 subjects was obtained and divided into case groups and control groups. Examination of vitamin D receptors using a central area placenta measuring 2x2 cm which was then examined semi-quantitatively at the Histology Laboratory, Faculty of Medicine, Udayana University.Result: The results were analyzed using the chi square test. There was no significant difference in the characteristics of the two groups. There was a significant relationship between low VDR expression in the placenta and the incidence of preeclampsia with severe features (p-value 0.002; 95% CI 1.96-31.57; OR 7.88).Conclusion: Low VDR placenta expression in pregnant women increases the risk of preeclampsia with a severe picture of 7.88 times greater than high VDR expression. Pendahuluan: Preeklampsia menjadi penyebab 10-15% kematian maternal di Indonesia, dan terjadi pada sekitar 2-10% dari seluruh kehamilan di seluruh dunia. Patogenesis yang mendasari terjadinya preeklampsia sampai saat ini belum jelas diketahui sehingga preeklampsia disebut sebagai disease of theory. Faktor nutrisi seperti vitamin D juga memainkan peran dalam terjadinya preeklampsia. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan ekspresi reseptor vitamin D sebagai faktor risiko terjadinya preeklamsia dengan gambaran berat.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kasus-kontrol yang dilakukan di Ruang Bersalin RSUP Sanglah Denpasar pada Februari sampai Agustus 2020. Didapatkan sampel sebanyak 44 subyek dan dibagi kedalam kelompok kasus dan kelompok kontrol. Pemeriksaan reseptor vitamin D menggunakan plasenta area sentral ukuran 2x2 cm yang kemudian diperiksa secara semikuantitatif di Laboratorium Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Hasil dianalisa menggunakan uji chi square.Hasil: Tidak terdapat perbedaan karakteristik yang bermakna pada kedua kelompok. Terdapat hubungan yang bermakna antara ekspresi VDR pada plasenta yang rendah terhadap kejadian preeklamsia dengan gambaran berat (p-value 0.002; IK 95% 1.96-31.57; OR 7.88).SimpulanEkspresi VDR plasenta yang rendah pada ibu hamil meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia dengan gambaran berat sebesar 7,88 kali lebih besar dibandingkan ekspresi VDR tinggi.
Polimorfisme gen COL1A1 sebagai faktor risiko terjadinya prolaps organ panggul pada perempuan Bali, Indonesia Putra Agung Eka Aricandana; I Gede Mega Putra; I Wayan Megadhana; Anak Agung Ngurah Anantasika; Ida Bagus Gde Fajar Manuaba; I Gede Ngurah Harry Wijaya Surya
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 1 (2022): (Available Online : 1 April 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/ism.v13i1.1209

Abstract

Introduction: Pelvic organ prolapse (POP) is still a common health problem in women, especially in the elderly female population. Pelvic organ prolapse is associated with a reduced quality of life for millions of women worldwide. The purpose of this study was to determine the role of the COL1A1 rs 1800012 gene polymorphism as a risk factor for pelvic organ prolapse in Balinese women, Indonesia.Methods: This case-control observational study involved 60 Balinese women aged 30-70 years divided into 30 subjects with pelvic organ prolapse as a case group and 30 subjects with non-pelvic organ prolapse as a control group. Subject selection and clinical examination were carried out at the Reconstructive Urogynecology Polyclinic and Obstetrics and Gynecology Polyclinic, Sanglah Central General Hospital Denpasar and Prima Medika General Hospital Denpasar. Three ml of blood sample was drawn and then put into a bottle containing EDTA for Polymerase Chain Reaction COL1A1 rs 180012 gene polymorphisms at the Integrated Biomedical Laboratory, Faculty of Medicine, Udayana University. The data obtained were then analyzed using the Statistical Product and Service Solutions software version 21.0.Results: COL1A1 gene polymorphism was found in eight subjects in the case group and one subject in the control group. The results of bivariate analysis showed a significant relationship between the COL1A1 gene polymorphism and the incidence of pelvic organ prolapse (p = 0.011). The results of multivariate analysis revealed a significant relationship between COL1A1 gene polymorphisms and pelvic organ prolapse after controlling for controlled variables (parity status, occupation, BMI, age, menopause, and history of hysterectomy). Multivariate analysis showed adjusted odd ratio of 16.157 for the COL1A1 gene polymorphism (p = 0.021).Conclusion: COL1A1 gene polymorphism significantly increases the risk of pelvic organ prolapse in Balinese women.  Pendahuluan: Prolaps organ panggul (POP) masih menjadi masalah kesehatan umum pada perempuan, terutama pada populasi wanita lanjut usia. Prolaps organ panggul berkaitan dengan penurunan kualitas hidup dari jutaan wanita di seluruh dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran polimorfisme gen COL1A1 rs 1800012 sebagai faktor risiko kejadian prolaps organ panggul pada perempuan Bali, Indonesia.Metode: Studi observasional kasus kontrol ini melibatkan 60 orang perempuan Bali berusia 30-70 tahun yang terdiri dari 30 orang dengan diagnosis prolaps organ panggul sebagai kelompok kasus dan 30 orang dengan diagnosis non prolaps organ panggul sebagai kelompok kontrol. Pemilihan subjek dan pemeriksaan klinis dilakukan di Poliklinik Uroginekologi Rekonstruksi dan Poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar dan Rumah Sakit Umum Prima Medika Denpasar. Sampel darah diambil sebanyak 3 ml kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi EDTA dan dilakukan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction untuk polimorfisme gen COL1A1 rs 180012 di Laboratorium Biomedik Terpadu Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak Statistical Product and Service Solutions versi 21.0.Hasil: Polimorfisme gen COL1A1 ditemukan pada 8 subjek pada kelompok kasus dan 1 subjek pada kelompok kontrol. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara polimorfisme gen COL1A1 dan kejadian prolaps organ panggul (p = 0,011). Hasil analisis multivariat memperjelas hubungan signifikan antara polimorfisme gen COL1A1 dan prolaps organ panggul setelah dikontrol dengan variabel terkendali (status paritas, pekerjaan, imt, umur, menopause, dan riwayat histerektomi). Hasil analisis multivariat menunjukkan adjusted odd ratio sebesar 16,157 untuk polimorfisme gen COL1A1 (p = 0,021).Simpulan: Polimorfisme gen COL1A1 secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya prolaps organ panggul pada perempuan Bali.
Kadar 25(OH)D dan rasio HDL-LDL serum yang rendah sebagai faktor risiko terjadinya preeklamsia dengan gambaran berat Leony Lim; Ketut Suwiyoga; I Wayan Artana Putra; Anak Agung Ngurah Jaya Kusuma; I Gede Mega Putra; Anom Suardika; I Wayan Megadhana
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 1 (2022): (Available Online : 1 April 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.198 KB) | DOI: 10.15562/ism.v13i1.1219

Abstract

Background: Preeclampsia is a health problem because it contributes to high rates of maternal and baby morbidity and mortality. The pathogenesis of preeclampsia is still unknown, but vitamin D deficiency and low HDL-LDL serum ratio are thought to play an important role. Therefore, a study was conducted on low 25(OH)D serum level and low HDL-LDL serum ratio as risk factors for preeclampsia with severe features.Methods: This study has a case-control design, conducted at Obstetric and Gynecology emergency room at Sanglah Hospital from January 2020 to June 2020. Subjects were 44 pregnant women, consisting 22 normal pregnant women as controls and 22 pregnant women with preeclampsia with severe features as cases, selected by purposive consecutive sampling and analyzed using SPSS 21.Results: Preeclampsia with severe features was found 5 times higher in pregnant women with low 25(OH)D serum level than in normal pregnant women (OR = 4,91, CI 95% = 1,33-18,21, p = 0,014). Preeclampsia with severe features was found 8 times higher in pregnant women with low HDL-LDL serum ratio than in normal pregnant women (OR = 7,88, CI 95% = 1,96-31,57, p = 0,002).Conclusion: Low 25(OH)D serum level and low HDL-LDL serum ratio are risk factors for Preeclampsia with severe features. Pendahuluan: Preeklamsia merupakan masalah kesehatan karena berkontribusi terhadap tingginya angka morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi. Patogenesis preeklamsia sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti, namun kadar vitamin D dan rasio HDL–LDL serum yang rendah diduga berperan penting dalam mekanisme terjadinya preeklamsia. Penelitian kemudian dilakukan terhadap kadar 25(OH)D dan rasio HDL-LDL serum yang rendah sebagai faktor risiko terjadinya preeklamsia dengan gambaran berat.Metode : Desain penelitian ini adalah kasus kontrol (case control) yang dilakukan di Instalasi Gawat Darurat Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah, Denpasar mulai Januari 2020 sampai Juni 2020. Subyek penelitian berjumlah 44 orang ibu hamil, yang terdiri dari 22 ibu hamil normal sebagai kontrol dan 22 ibu hamil dengan preeklamsia dengan gambaran berat sebagai kasus, yang dipilih secara purposive consecutive sampling,  dan dianalisis menggunakan SPSS 21.Hasil: Risiko terjadinya preeklamsia dengan gambaran berat  adalah 5 kali lebih tinggi pada ibu hamil dengan kadar 25(OH)D serum yang rendah dibandingkan ibu hamil normal (OR = 4,91, IK 95% = 1,33-18,21, p = 0,014). Risiko terjadinya preeklamsia dengan gambaran berat adalah 8 kali lebih tinggi pada ibu hamil dengan rasio HDL-LDL serum yang rendah dibandingkan ibu hamil normal (OR = 7,88, IK 95% = 1,96-31,57, p = 0,002).Simpulan : Kadar 25(OH)D dan rasio HDL-LDL serum yang rendah merupakan faktor risiko preeklamsia dengan gambaran berat.
Kadar heat shock protein 70 cairan amnion yang tinggi sebagai faktor risiko terjadinya ketuban pecah dini pada kehamilan aterm Ines Kurniaty Hartono; Ketut Suwiyoga; I Ketut Surya Negara; I Gede Mega Putra; Made Bagus Dwi Aryana; I Gde Sastra Winata; I Wayan Megadhana
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 1 (2022): (Available Online : 1 April 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.351 KB) | DOI: 10.15562/ism.v13i1.1220

Abstract

Background: Premature rupture of membranes (PROM) is a condition that complicates labor with an unclear pathogenesis. HSP70 is thought to be involved in this pathogenesis process and the presence of HSP in the extracellular compartment reflects tissue damage and induces an immunologic response. Therefore, this study aimed to study the relationship between HSP70 levels in amniotic fluid and the incidence of PROM.Methods: This study used a case-control design in the ER delivery room and the laboratory of Sanglah Hospital, Denpasar. Samples were taken from mothers who gave full term delivery in the emergency room at Sanglah Hospital Denpasar with mothers who gave birth at term with KPD as cases and mothers who gave full term delivery without KPD as controls. Data was taken from medical records and measured levels of HSP70 at the Sanglah Hospital Denpasar Laboratory. Data analysis was performed using the Mann-Whitney test and ROC test.Results: A total of 28 cases and 28 controls were recruited. There were no significant differences in baseline characteristics between cases and controls. The MannWhitney test found significant differences in the mean levels of HSP70, 11.58 (±8.16) ng/mL in controls and 17.15 (±6.51) ng/mL in cases, respectively. ROC analysis found an AUC of 0.737 with an optimal cutoff value of 12.5 ng/mL. An amniotic fluid HSP70 level of more than 12.5 ng/mL was associated with PROM with an OR of 17.33 (95% CI 3.43 - 87.70).Conclusion: High amniotic fluid HSP 70 level is a risk factor for PROM in term pregnancy.  Latar belakang: Ketuban pecah dini (KPD) merupakan suatu kondisi yang mempersulit persalinan dengan patogenesis yang belum jelas. HSP70 dianggap terlibat dalam proses patogenesis ini dan keberadaan HSP di kompartemen ekstraseluler mencerminkan kerusakan jaringan dan menginduksi respon imunologi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan kadar HSP70 dalam cairan ketuban dengan kejadian KPD.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol di ruang bersalin IGD dan Laboratorium RSUP Sanglah Denpasar. Sampel diambil dari ibu yang bersalin cukup bulan di ruang bersalin IGD RSUP Sanglah Denpasar dengan ibu yang melahirkan cukup bulan dengan KPD sebagai kasus dan ibu yang bersalin cukup bulan tanpa KPD sebagai kontrol. Data diambil dari rekam medis dan dilakukan pengukuran kadar HSP70 di Laboratorium RSUP Sanglah Denpasar. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Mann-Whitney dan uji ROC.Hasil: Sebanyak 28 kasus dan 28 kontrol direkrut. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam karakteristik dasar antara kasus dan kontrol. Uji MannWhitney menemukan perbedaan yang signifikan dalam tingkat rata-rata HSP70, masing-masing 11,58 (± 8,16) ng/mL pada kontrol dan 17,15 (± 6,51) ng/mL dalam kasus. Analisis ROC menemukan AUC 0,737 dengan nilai cutoff optimal 12,5 ng/mL. Tingkat HSP70 cairan ketuban lebih dari 12,5 ng/mL dikaitkan dengan PROM dengan OR 17,33 (95% CI 3,43 - 87,70).Simpulan: kadar HSP 70 cairan amnion yang tinggi merupakan faktor risiko terjadinya KPD pada kehamilan aterm.
Penanganan inversio uteri: sebuah tinjauan pustaka Endang Sri Widiyanti; I Gede Mega Putra
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 1 (2022): (Available Online : 1 April 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.288 KB) | DOI: 10.15562/ism.v13i1.1262

Abstract

Acute uterine inversion is a rare but life-threatening emergency in the field of obstetrics. The main signs and symptoms of acute uterine inversion are bleeding and shock. The accuracy and speed of diagnosis and case management will reduce morbidity and mortality due to uterine inversion. This literature review is expected to increase our knowledge as practitioners in dealing with uterine inversion cases. In principle, there are two goals for the treatment of acute uterine inversion, namely repositioning the uterus and treating the shock that occurs. The success of uterine inversion repositioning is highly dependent on the speed of early detection. The longer the uterus is inverted, the more difficult it will be to reposition it. There are several non-surgical techniques for repositioning the uterus, including: Johnson maneuver, Henderson and Alles maneuver, use of tocolytics, and repositioning with hydrostatic pressure. Surgical procedures can be performed abdominally, namely the Huntington's Procedure, with abdominal repositioning laparotomy and the Haultain's Procedure, with abdominal cervical repositioning-repositioning laparotomy. Kejadian inversio uteri akut merupakan kegawatdaruratan di bidang Obstetri yang jarang terjadi namun mengancam nyawa. Tanda dan gejala utama inversio uteri akut adalah perdarahan dan syok. Ketepatan dan kecepatan diagnosa dan penanganan kasus akan mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat inversio uteri. Tinjauan pustaka ini diharapkan dapat menambah pengetahuan kita sebagai praktisi dalam menangani kasus inversio uteri. Pada prinsipnya ada dua tujuan penanganan inversio uteri akut, yaitu reposisi uterus dan penanganan syok yang terjadi. Keberhasilan reposisi inversio uteri sangat tergantung pada kecepatan deteksi dini. Semakin lama uterus terinversi akan semakin sulit melakukan reposisi. Terdapat beberapa teknik non-bedah untuk reposisi inversio uteri, antara lain: manuver Johnson, manuver Henderson dan Alles, penggunaan tokolitik, dan reposisi dengan tekanan hidrostatik. Prosedur pembedahan dapat dilakukan melalui abdominal, yaitu Prosedur Huntington, dengan laparotomi-reposisi melalui abdominal dan Prosedur Haultain, dengan laparotomi- insisi cincin servikalis-reposisi melalui abdominal.