Claim Missing Document
Check
Articles

PARADIGMA HUKUM RESPONSIF (Suatu kajian tentang Makamah Konstitusi sebagai Lembaga Penegak Hukum) Muchtar, Henni
Humanus Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.555 KB) | DOI: 10.24036/jh.v11i2.2165

Abstract

It is really ironic that an institution of law enforcer like constitutional court whose objectives are to to defend the rights, create substantive justice and prosperity for the society, is apparently extending its authority—including constitutional complain toward the static Supreme Court’s decision—which causes concern among the society. People are worried about the lack of control of the extension on authority, indicating it will become the highest institution with no check and balances as well as the fear of increasing debates and problems among the society. This article suggests that constitutional court can explain the consideration of extending the authority to the public, in order to counter the public’s anxiousness that the institution is becoming the highest authority without check and balances.Key words: extension of authority, constitutional court, constitutional complain, society rights, Supreme Court
ANALISIS YURIDIS NORMATIF SINKRONISASI PERATURAN DAERAH DENGAN HAK ASASI MANUSIA Muchtar, Henni
Humanus Vol 14, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.821 KB) | DOI: 10.24036/jh.v14i1.5405

Abstract

In this reformation era, local administrations need to concern about the recognition and protection of human rights. This article proposed research questions; what kind of bylaws is considered violating human rights from juridical normative view and its synchronization with existing human rights instruments? The above question is based on the idea that in every development plan is not free from public awareness/sense of justice, as well as legal benefit and certainty, which may offend human rights instruments. The research used normative juridical research, which is the method of legal research by researching library materials or secondary materials. This is a normative juridical research on issues concerning the synchronization bylaws with human rights. The research findings based on the study on Pesisir Selatan Regency Regulation No. 8 of 2007 on Nagari Administration, it is not compatible with Human Rights Act No. 39 of 1999. This can be seen from the lack of explicit accommodation on cultural identity of Minangkabau ethnic communities such as indigenous customary court, the function of Kerapatan Adat Nagari, and customary symbols as well as customary title that are overlooked in the regulations. Furthermore, when viewed from the perspective of Civil and Political Rights Act No. 11 of 2005, it is reflected that identity of titles such as titles of tribe, clan, and family is not a concern of the nagari administration. Thus it is a violation of the civil rights of indigenous peoples. Likewise, viewed from the ILO Convention 169 of 1990 on Indigeus Peoples (protection against indigenous peoples), the central government to local administrations must accommodate the interests of indigenous peoples in the state and administration. The separation of the interests indigenous and the nagari government is considered a human rights violation.Keywords: bylaws, human rights, indigenous peoples, nagari
Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan di Dunia Perbankan Muchtar, Henni
Jurnal Demokrasi Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Ilmiah Politik Kenegaraan
Publisher : Pusat Kajian Civics Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.679 KB)

Abstract

Indonesia is rich with many cases and big scandals that connected to white collar crime, even that occurred in capital market, at a bank, or the other sector. One of big cases, which cause contraversion in perception of Indonesian People, is presumption of accounting manipulation report from Lippo Bank Direction. The proof cause Bapepam imposes a fine in the amount for 2.5 billion rupiahs to Lippo Bank Direction. However, it is not a simply case because it is still have another law implication from imposition of fine so that it is important to make criminal policy to solve Lippo Bank Scandal. Kata Kunci: White collar crime, Lippo Bank Scandal. Criminal Policy
Sisi Gelap Pelaksanaan Penangkapan oleh Penyidik (Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaksanaan Tugas Jabatan) Muchtar, Henni
Jurnal Demokrasi Vol 10, No 2 (2011): Jurnal Ilmiah Politik Kenegaraan
Publisher : Pusat Kajian Civics Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.119 KB)

Abstract

The law should be fair and struggle for the justice. Yet, the error catching is dark side for the application of law by apparatus especially for policeman. Because of that, improving and increasing the system of law is really crucial for our country especially for the criminal policy. The improvisation that should be done is in structure and substance from law criminal itself.Kata Kunci: Penangkapan, penahanan, penyidik pertanggung-jawaban, tugas jabatan
Pengembangan Ilmu Hukum di Indonesia: Reformasi dalam Penyelesaian Permasalahan Hukum Ismansyah, Ismansyah; Muchtar, Henni
Jurnal Demokrasi Vol 9, No 2 (2010): Jurnal Ilmiah Politik Kenegaraan
Publisher : Pusat Kajian Civics Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.799 KB)

Abstract

This article will discuss the reform of law in Indonesia, especially that of related to law conflict resolution. Law is a complex system. Linkages between the elements can not be separated. Law is not just the law. The law is not always a command of the State authorities. Law is the result of social forces and means of social control. On the other side, politics often intervene on the act and the implementation of the law. Law can be viewed and studied from various angles. The inability of law in addressing social problems outside the law will result in the authority of the law itself. Kata Kunci: law, legal problems, the development of legal science, legal reform
Bukti Sisi Buram Proses Peradilan Pidana Indonesia pada Kasus Salah Tangkap Muchtar, Henni
Jurnal Demokrasi Vol 8, No 1 (2009): Jurnal Ilmiah Politik Kenegaraan
Publisher : Pusat Kajian Civics Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.097 KB)

Abstract

Basically, all policemen have the main duties to maintain social order and security, to enforce the rule, and to give the best service to all citizens (society). But, in fact, most of them did not do their duties well and, moreover, they often arrest people who did not do any guilt at all. In some cases, many people were often forced to admit the guilt that they have never done at all. This article tries to discuss the issues related to the mistake or misjudgment of the policemen in catching or arresting people. Kata Kunci: Masyarakat,  Polisi, Hukum, Peradilan, Pidana, Kasus
Peningkatan Pengetahuan dan Pemahaman Masyarakat Nagari Pasie Laweh tentang Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak melalui Penyuluhan Fatmariza, Fatmariza; Muchtar, Henni; Dewi, Susi Fitria; Irwan, Irwan; Putra, Ideal; Suasti, Yurni; Febriani, Rika
VIVABIO: Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol 2, No 1 (2020): VIVABIO: Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/vivabio.2.1.2020.28398

Abstract

Kekerasan terhadap perempuan dan anak di daerah pedesaan masih sedikit yang tercatat dan dilaporkan. Hal ini disebabkan karena kasus lebih banyak diselesaikan secara adat sehingga penyelesaiannya seringkali mengabaikan korban. Beberapa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi diantaranya adalah rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat, kurangnya perhatian dan kepedulian tokoh-tokoh masyarakat dan Pemerintah Desa, serta rendahnya akses masyarakat terhadap informasi terkait kekerasan. Menyikapi persoalan tersebut, penulis melakukan penyuluhan tentang berbagai aspek terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak kepada masyarakat Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman. Kegiatan penyuluhan ini diikuti oleh perempuan dan laki-laki yang mewakili berbagai kelompok masyarakat. Materi yang disampaikan berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan dan anak, perlindungan hukum, budaya yang menyebabkan kekerasan terhadap perempuan dan anak, dampak serta peran tokoh masyarakat  dan Pemerintah Nagari dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Hasil penyuluhan menunjukkan bahwa pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak semakin baik, namun belum utuh. Masyarakat masih menganggap bentuk kekerasan adalah dalam bentuk luka fisik. Padahal ada bentuk kekerasan lain seperti kekerasan yang bersifat psikologis. Sikap masyarakat juga semakin baik karena tidak lagi menganggap kekerasan terhadap perempuan sebagai aib yang harus ditutupi. Masyarakat juga sudah paham tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi kekerasan. Di samping itu, mereka juga merasa perlu adanya lembaga khusus di desa untuk memudahkan akses penanganan kekerasan. Berdasarkan hasil kegiatan penyuluhan ini, memperlihatkan adanya peningkatan pengetahuan, sikap yang baik, tindakan yang tepat oleh masyarakat dalam upaya mencegah dan menangani masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak di Nagari tersebut
Kesadaran Hukum Masyarakat Menghadapi Sengketa Hukum dan HAM di Nagari Barung Barung Belantai Henni Muchtar; Yusnanik Bachtiar; Akmal Akmal; Zaky Farid Luthfi; Fatmariza Fatmariza
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 4 No 1 (2022): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v4i1.234

Abstract

The objectives of the Community Services (PKM) in Nagari Barung Barung Belantai, Koto XI Tarusan District, Pesisir Selatan Regency are: (1) to increase knowledge of legal and human rights to the community and the Nagari government especially land issues and other civil cases. (2) to improve the quality of the skills of the community and the Nagari government to understand the flow of reporters/complaints and the operational resolution of cases of violations of human rights law in accordance with applicable procedures, and (3) to improve the capabilities and skills of the community and the Nagari government how to complain and where they complain the violations of human right. The method used is counselling, consultation, and case resolution according to the conditions faced and equipped with a reflective communicative method. The results achieved were that 85% of the participants had the knowledge, skills and attitudes towards legal and human rights settlements, especially in resolving cases of communal, tribal, and communal land and other legal cases.
TINJAUAN TENTANG IMPLEMENTASI PENEGAKAN HUKUM TERHADAP KEJAHATAN KORPORASI OLEH KEJAKSAAN AGUNG (Studi Yuridis Empiris Tentang Penyidikan Kasus Kejahatan Perbankan) Henni - Muchtar; Masruchin - Ruba'I; Mochamad - Munir
Wacana Journal of Social and Humanity Studies Vol. 13 No. 2 (2010)
Publisher : Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.716 KB)

Abstract

ABSTRAK Permasalahan penegakan hukum di Indonesia masih menjadi tuntutan utama. Terjadinya reformasi telah mengikutsertakan masyarakat untuk melakukan pengawasan, terhadap kinerja Kejaksaan Agung. Terutama dalam melakukan penegakan hukum terhadap kasus kejahatan korporasi yang berkaitan dengan kejahatan perbankan. Kejahatan perbankan telah merugikan keuangan negara dan kejahatan tersebut muncul sebagai akibat dari kebijakan pemerintah di bidang moneter dan keuangan (Pakto 27 Oktober 1988). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan memahami prosedur yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung dalam melaksanakan penyidikan dan faktor-faktor yang menjadi kendala bagi Kejaksaan Agung dalam melakukan penyidikan terhadap kejahatan korporasi yang berkaitan dengan kejahatan perbankan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif empiris dengan lokasi penelitian pada lembaga Kejaksaan Agung dan BPKP-Pusat Jakarta. Data primer diperoleh dari Kasubdit Tindak Pidana Korupsi, Kasubsi Tindak Pidana khusus dan Deputi Investigasi BPKP, melalui wawancara. Data sekunder diperoleh dari bahan-bahan kepustakaan yang berkaitan dengan masalah penelitian melalui studi dokumentasi. Data tersebut kemudian dianalisis berdasarkan interpretasi emik yang dipakai untuk mendeskripsikan interpretasi etik. Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa kewenangan melakukan penyidikan terhadap kejahatan perbankan diserahkan pada Jampidsus. Dasar yuridisnya, Undang-Undang No 5 Tahun 1991. Legitasi pelaksanaannya melalui Keppres No. 55 Tahun 1991. Dalam melakukan penyidikan Kejaksaan Agung berkoordinasi dengan BPKP. Penyidikan didahului dengan mendapatkan informasi dari BPK dan BPKP, kemudian ditindaklanjuti. Hasil pemeriksaan menunjukkan, kasus kejahatan perbankan meliputi penyalahgunaan BLBI, Kredit macet dan pelanggaran BMPK. Dalam melakukan penyidikan terdapat faktor-faktor yang menjadi penghalang bagi Kejaksaan Agung, secara yuridis dan non yuridis, berkaitan dengan pemanggilan, pemeriksaan dan penahanan tersangka, disamping alasan teknis seperti tempus delicti, masalah administrasi, pemeriksaan rekening koran dan lain-lain. Beberapa saran diberikan dari hasil penelitian, secara yuridis dan non yuridis, harus ada peraturan yang pasti untuk menjembati bilamana terjadi konflik kewenangan, harapan adanya koordinasi antar lembaga dan pemahaman kasus perbankan secara profesional sehingga Kejaksaan Agung menjadi pilar dan ujung tombak dalam penegakan hukum. Kata kunci : penyidikan, kejahatan korporasi, perbankan, Kejaksaan Agung. ABSTRACT Issues about law enforcement in Indonesia still to be main demand. Reform has involved society in controlling Attorney General. Especially in law enforcement toward corporate crime that related with banking. Banking crime has harmed state financial and the crime emerge as effect of government policy in monetary and financial (Pakto, October 27 1988) This research aiming at knowing and understanding the procedures that conducted by Attorney General in performing investigation and obstacle factors in performing investigation toward corporate crime that related with banking crime This research is qualitative research with empirical descriptive in nature with research location at Attorney General institution and central BPKP, Jakarta. Primary data are obtained by interview of Kasubdit Tindak Pidana Korupsi, Kasubsi Tindak Pidana Khusus and Deputi Investigasi BPKP. Secondary data are obtained from literature that related with research issue by documentation. Then data are analyzed based on ethical interpretation that used to describe ethical interpretation. Results showed that authority to perform investigation toward banking crime is delegated to Jampidsus. The juridical base is Act No 5 of 1991. Legitimacy of its enforcement based on Presidential Decree No. 55 of 1991. In performing investigation Attorney General coordination with BPKP. The investigation preceded by information obtaining from BPK and BPKP, than this information is followed up. Inspection results showed, banking crimes include: BLBI abuse, jammed credit, and BMPK violations. In performing investigation, there are several obstacles for Attorney General, jurisdictionally and non jurisdictionally, related with suspect summons, inspection and arrest, beside technical reason as tempus delicti, administration problems, new account inspection etc. The research suggest jurisdictionally and non jurisdictionally, there should be a definite regulation to bridge authority conflict, hope for coordination between institutions and case understanding so the Attorney General became the pillar and tip of spear in law enforcement. Key words : investigation, corporate, bank crime, Attorney General.
Pengembangan Objek Wisata Danau Mas Harun Bastari di Kabupaten Rejang Lebong Bengkulu Ayunita Triana; Henni Muchtar
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 2 No. 1 (2022): JECCO: Third Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v2i1.36

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya pengembangan objek wisata Danau Mas Harun Bastari di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Hal ini disebabkan karena persediaan sarana dan prasarana yang masih terbatas, pendanaan yang minim dan belum maksimalnya peran pemerintah dalam pengembangan objek wisata ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan alternatif model yang dipilih dalam pengembangan objek wisata Danau Mas Harun Bastari, mengetahui kendala-kendala yang dapat menghambat pengembangan objek wisata Danau Mas Harun Bastari, dan menganalisis upaya-upaya yang dilakukan Pemerintahan Daerah dalam meminimalisirkan kendala tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data secara observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling yang terdiri dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong, pengelola objek wisata, Kepala Desa Karang Jaya, masyarakat dan pengunjung. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik analisis data dilakukan melalui pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Co-Authors Akmal Akmal Akmal Akmal Al Rafni Alfino Muliadi Alisa, Merlin Tri Almajuniati, Windi Aminah, Maiza Anisa, Leni Aprise, Igo Ardiansyah, Doni Aria Zurnetti, Aria Awilda Awilda Awilda, Awilda Ayunita Triana Azwar Ananda Bachtiar, Yusnanik Baharuddin, Fajri Rahman Barqah Nosi Helpia David Hidayat Debi Debora Depi Zahrawati Dewi, Susi Fitria Diana Lestari Ellysia Syafitri Elvira, Lara Engla Ersya, Muhammad Prima Ersya, Muhammad Prima Fadhilla, Sri Melda Fadilah, Ifnur Fadli Nofratama Fahma, Muhamad Frimadani Fatmariza Fatmariza Fersa, Kenari Aisyah Ginasti, Anib Hakimi, Rifdal Haliya Haliya Harbi Sadri Hasibuan, Huwaida Afra Hasrul Hasrul, Hasrul Hasrul Piliang Hutabarat, Wildan Yusran Ideal Putra Indrawadi, Junaidi Ira Rahayu Utami Irwan Hamdi Ismansyah Ismansyah Kenji Fadjri Yazid Laras Konija Putri Liardi, Jefri Luthfi, Zaky Farid Maria Montessori Marisa, Ade Marleni, Resi Budi Masruchin - Ruba'I Miftahul Jannah Mira Laharisa Mochamad - Munir Muhammad Budiman, Ali Nabila Putri Ningsih, Ayu Nabila Sufah Nadia Afrita Nadila, Nadila Nafsil Afdila Novi Novi Novika Sari, Winda Nurfadillah, Mariska Nurjannah Nurjannah Nurman S Nurman S Okma Sandra Oktaviani Oktaviani Prasetio, Ari Dwi Pratiwi Ariska Pratiwi, Adella Putri Prima Ersya, Muhammad Puput Mia Anjela Puspitasari, Abda Rani Putri Dwi Ramadhan Putri Handayani Putri, Nadia Dwi Putri, Rana Meltha Rahma Fitri, Fadilla Ramadhanty, Suci Prischa Rani Saputri Rika Febriani Rike Amalia Ririn Okta Yulia Rivad, Muhammad Salsabila, Dzykra Santia, Windi Saputri, Corri Juni Tari Sari, Yesi Fitria Silvia Evandri Siska Nedita Puspa Sri Rahayu Sukma, Mega Melati Suryanef Suryanef Syafira Saisa Billah Sykin, Azura Tiara Rahayu Tristiadina, Arini Turahma, Asri Ulfa Mutia Wiranto Wiranto Yolanda, Asturi Yulia Fitri Wijaya Yulista, Maghfira Yurni Suasti Yusnanik Bachtiar Yusnanik Bachtiar Yusnanik Bakhtiar