Articles
Larangan Perkawinan Sesuku dalam Masyarakat Canduang; (Tinjauan Kemaslahatan dalam Hukum Islam)
Danil, Muhammad
Jurnal AL-AHKAM Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/alahkam.v10i2.1857
Intermarriage among one tribe is a model of marriage that is prohibited in custom. This marriage is used in Minangkabau society which almost entirely embraced Islam. However, this ban can survive from the very beginning until now as seen in the present day society. This study aims to find out what is the reason, the form of marriage restriction among citizens in one tribe and its legal consequences to Canduang’s society. In this study the writer uses the analysis of mashlaha in Islamic law for what reason of society’s inhibitions in prohibiting marriage among tribal people; how the form of kemashlahatan ban marriage between tribal people and how the consequences of marriage ban law among tribal people. This study shows that the reason for marriage ban among tribal people in the “canduang” society is a shame factor. This prohibition is used to prove that between one tribe’s relatives must be maintained for being a wider level of unity. Penalties imposed on offenders aimed at preventing fractures in the fraternal system within the tribe and continue to maintain a sil- aturrahmi tie between members of the Canduang community. The prohibition affects the strong sense of unity within the country. Either way, legal conse- quences, and forms of marriage restriction among tribal people are included in one form of mashlahah mursalah
Political Communication Strategy in Legislative Elections: A Case Study of Nasrul in the Period of 2019-2024 in Payakumbuh City
Muhammad Danil;
Erliza Fitri
COMMENTATE: Journal of Communication Management Vol. 2 No. 2 (2021): COMMENTATE: Journal of Communication Management
Publisher : Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) Institut Bisnis dan Komunikasi LSPR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37535/103002220213
This study discusses the political communication carried out by Nasrul in the 2019–2024 legislative elections in Payakumbuh City. The focus of this research is on the elected candidates from the Prosperous Justice Party (PKS) due to being elected as a member of the DPRD Payakumbuh City with the most votes. The author assumes that his victory was motivated by good political communication. This research is a field research with a qualitative approach, while data collection is carried out through interviews with direct respondents Nasrul as the main source and secondary sources are the head of the PKS faction, a team of volunteers, community leaders who were selected based on sampling. The purpose of this study was to "know about the political communication used by Nasrul in the legislative elections" in Payakumbuh City for the 2019-2024 period. The results of this study, get the following conclusions: first, the political communication strategy used by Nasrul: 1) Nasrul uses the style of public relations communication (building relationships with the community). 2) Delivering political messages in the form of vision and mission. 3) Using media outside the campaign space such as stickers and calendars. 4) The effectiveness of Nasrul's political communication that is getting support in the form of voting in the legislative elections with acquiring 986 votes in electoral districts III (East Payakumbuh and North Payakumbuh).
PENTINGNYA MEMAHAMI PERAN METODOLOGI STUDI ISLAM TERHADAP GENERASI MILENIAL DI ERA DIGITALISASI
Muhammad Danil
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 21, No. 2, Desember 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/profetika.v21i2.13082
The methodology of Islamic studies is said to be of urgency for the current millennial generation. Where the teaching of islam, which are a doctrinal legacy, have been swallowed up by the times along with the development of modern digitalization. Therefore, the aims of this research is to find out more about the importance of Islamic study methodology for the millennial generation. By using a qualitative descriptive method, the author uses a cognitive moral development approach and behavioral psychology which are expected to be able to understand the methodology of Islamic studies to the millennial generation. Millennial generation or often called Gen Y, their interest in Islamic studies is not because of coercion. But their goal in understanding Islam in more detail in the midst of technological sophistication, is because they will make Islam their way of life. Islam should be used as a guideline by the current millennial generation, who have been exposed to the internet since birth so that they do not take wrong steps in the future. To do this, they can get to know Islamic studies further through existing approaches as well as Islamic character education which is then applied in everyday life.
Korelasi Variasi Gaya Mengajar Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dengan Hasil Belajar Peserta Didik
Fuji Pratami;
Muhammad Danil;
Hamdanil Hamdanil
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 3 No. 2 (2020): Volume 3 Nomor 2 Desember 2020
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jrpp.v3i2.1357
Tujuan penelitian untuk mengetahui korelasi dan hubungan antara variasi gaya mengajar guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dengan hasil belajar peserta didik kelas XI di SMA N 1 Rambatan Semester Genap T.A 2019/2020. Metode yang digunakan metode korelasional. Hasil korelasi variasi gaya mengajar guru PAI-BP dengan hasil belajar PAI-BP peserta didik kelas XI di SMA N 1 Rambatan : tidak terdapat korelasi yang signifikan antara penerapan variasi gaya mengajar dengan hasil belajar PAI-BP peserta didik kelas XI di SMA N 1 Rambatan. Hasil penelitian : korelasi variasi gaya mengajar dengan hasil belajar terdapat harga rxy sebesar -0,114, dilihat pada tabel indek korelasi “r’ product moment pada kelas interval 0,00-0,20 dinyatakan dengan harga r_xy dengan interpretasi variasi gaya mengajar dan hasil belajar peserta didik terdapat korelasi, akan tetapi sangat lemah atau rendah. variasi gaya mengajar guru pendidikan agama Islam memberikan konstribusi terhadap hasil belajar PAI-BP peserta didik di SMA N 1 Rambatan sebesar 1,3%, sedangkan sisanya 98,7% berasal dari variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian.
Konsep Islam Terkait Pemanfaan Tanah Mati Yang Diperuntukan Untuk Perbatasan Wilayah
Muhammad Danil
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 4 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (338.355 KB)
|
DOI: 10.31004/jpdk.v4i4.5311
Tanah perbatasan di kanagarian Canduang Koto Laweh sekarang dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk beraktifitas, dengan menjadikannya sebagai lahan pertanian dan tempat tinggal mereka. Hal ini disebabkan karena anggapan mereka itu tanah mati, sehingga setiap pemanfaatan tersebut selalu memicu timbul sengketa bagi masyarakat kedua kanagarian. Untuk itu masalah ini merupakan masalah yang membutuhkan penyelesaian yang tepat demi terjaganya ketentraman antar masyarakat dikedua kanagarian yaitu: kanagarian Canduang Koto Laweh dengan kanagarian Koto Tinggi. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan sumber data primer dari wawancara dengan para pengarap tanah tersebut, kemudian dengan para niniak mamak, dan alim ulama, yang penulis pekluat lewat data obserpasi tidak langsung penulis. Sedangkan data sekunter penulis dapatkan dari pencaria terhadap buku, artikel, dan dokumentasi terkait dengan teknik olah data melalu pengelompokan, penganalisisan yang berakhir dengan penarikan kesimpulan. Penelitian ini berkesimpulan bahwa konsep tanah perbatasan di Canduang Koto Laweh tidak sama dengan konsep tanah mati dalam fiqh mu’amalah sehingga tidak bisa di olah begitu saja. Sehingga hasilnya ini sangat membantu masyarakat sekitar tentang pemahaman konsep tanah perbatasan yang ada, serta membantu para niniak mamak, alim ulama dan masyarakat luas terhadap pengetahuan tanah perbatasan.
Cadar: Pengaruh Dan Proses Membentuk Ulang Identitas Diri Dalam Keminoritasan
Muhammad Danil
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 4 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (293.482 KB)
|
DOI: 10.31004/jpdk.v4i4.5777
Penelitian ini terkait mahasiswa bercadar yang semakin hari semakin digandrungi oleh beberapa kalangan, dimulai oleh kaum akademisi sampai pada golongan awam. Cadar yang semula merupakan sebuah tradisi pakaian orang Persia sebelum Islam bisa merambah ke dunia luas dengan klem sebagai kewajiban dalam agama. Namun tidak hanya sisi positif yang muncul, tapi juga sisi negatif dengan bebagai macam sebutan, tentu para peminatnya mempunyai cara tersendiri dalam meproduksi ulang sebuah identitas diri pasca keputusan bercadar tersebut. Sehingga fenomena ini sangat menarik untuk terus dikaji dan digali perkembanganya. Fokus pada rumusan masalah, apa pengaruh yang menyebabkan mahasiswa bercadar dan bagaimana mereka membentuk identitas sosial mereka pasca bercadar. Dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh yang menyebabkan mereka memutuskan bercadar dan bagaimana mereka membentuk identitas pasca keputusan tersebut. Untuk teknik, penelitian ini mengunakan penelitian lapangan dengan mewawancarai mahasiswa yang bercadar tersebut secara mendalam dan diperkuat dengan observasi. Data yang didapatkan oleh peneliti kemudian dikelompokan melaluli beberapa pengelompokan baru yang diberi kode-kode dan pengklasifikasian, baru kemudian dilakukan analisis untuk menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa mahasiswa memilih bercadar karena terpengaruh keluarga dekat, media sosial, dan lingkungan. Sedangkan dalam pembentukan identitas pasca bercadar dilakukan dengan berperan aktif dalam kegiatan kemahasiswaan.
KHATAM AL-QURAN: METODE MENYEBARKAN SEMANGAT ââ¬Å½MENCINTAI AL QURAN DI TANAH RANTAU
Muhammad Danil
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2021): November
Publisher : FKIP Universitas Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (150.62 KB)
|
DOI: 10.29303/jppm.v4i4.3042
Abstrak - Pengabdian Masyarakat ini diadakan pada TPA MKS pada acara Khatam al-Quran dengan tujuan untuk melibatkan diri secara langsung dengan masyarakat, sebagai bentuk kewajiban sosial dan pengamalan tridarma perguruan tinggi. Sedangkan metode dalam pengabdian ini melalui partisipan aktif dalam kepanitian dan narasumber dari awal sampai akhir acara. TPA MKS merupakan lembaga pendidikan anak yang didirikan masyarakat Minangkabau yang merantau ke Mandaiiling Natal. Daya tarik MDA ini dalam hal metode pengajaran, sehingga peminatnya cukup banyak dengan rata rata 100 orang pertahun yang dikhatam. Khatam al-Quran yang sudah dilakukan mencapai angkatan 27. Khatam al-Quran ini diadakan sekali setahun terhadap peserta yang sudah lancar membaca al-Quran. Salah salah satu keunggul yang dimiliki TPA ini adalah melancarkan baca al-Quran dalam satu tahun dari ââ¬ÅNolââ¬Â. Acara khatam al-Quran ini biasa diadakan dengan serangkaian hiburan seperti digiring para peserta sekitaran jalan pasar lama sampai pasar baru dengan iringi oleh kesenian Minangkabau sepertik Rebana dan Tabuik serta tambahan Dromben. Namun karena situasi masih dalam penanganan covid-19 maka itu semua ditiadakan. Acarapun dibuat sehari saja dengan acara inti khatam al-Quran tanpa iringan dan hiburan lain serta tetap mematuhi prokes. Hasil pengabdian ini menyimpulkan bahwa khatam al-Quran merupakan kegiatan yang perlu dilakukan setiap selesai proses pendidikan yang dilaksankan. Kemeriahan acara juga menentukan daya tarik masyarakat tersebut terhadap TPA penyelengara khatam tersebut. Dan kedepanya diharapkan tetap dilakukan dengan metode yang lebih meriah serta ditambahkan dengan kegiatan lain diluar acara inti khatam al-Quran
Political Ethics as A Way to Perfect Religious Humanism
Muhammad Danil;
Melia Rosa
Indev: Literasi Media Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Vol 3, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31958/indev.v3i2.13311
The ethics of a politician are a necessity to pay attention to in perfecting religious humanism in the world of politics so that it can produce policies that support a prosperous and prosperous society. However, so far what we have encountered has only been limited to campaigning in the stage of gaining the most votes. The speakers related to political ethics, religious ethics, and the relationship between religion and politics have been discussed by figures such as Al Farabi, Ibnu Taymiyah, Miroljub Jevtic, Anthony Gill and others. Therefore, research like this should continue to be carried out so that the results will have a positive impact on politics and our society in the future. Research related to ethics was carried out using library research where the sources were taken from materials that focused on highlighting ethics, politics and religion with a data processing process that went through several stages starting with data coding and ending with drawing conclusions. The results of this research determine that the ethics that must be present in a politician to perfect his religious humanism are related to justice, honesty, responsibility, and broad knowledge which are crucial to the formation of a prosperous and prosperous society which can give birth to a civilization of high value.
Reforming of Marriage Law Through Constitutional Court Decision in Indonesia: Reformasi Undang-Undang Perkawinan Melalui Putusan Mahkamah Konstitusi di Indonesia
Rosa, Melia;
Huda, Yasrul;
Danil, Muhammad;
Maulidah, Chabibatul;
Arlis, Arlis
Jurnal Konstitusi Vol. 21 No. 4 (2024)
Publisher : Constitutional Court of the Republic of Indonesia, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31078/jk2148
The authority of the Constitutional Court to conduct judicial review against the 1945 Constitution often generates both support and criticism, particularly among those who feel disadvantaged by the existence of Law No. 1 of 1974. This study employs a qualitative research method with a normative juridical approach. The findings indicate that the Constitutional Court frequently engages in ijtihad (independent reasoning) when adjudicating cases. Additional considerations underlying these decisions include developments in science, technology, reform, and the renewal of Islamic thought, all of which influence the dynamic application of Islamic law in Indonesia. The implication of this study is that the Constitutional Court not only serves as an institution that tests statutory laws against the 1945 Constitution, but also plays an active role in legal interpretation (ijtihad), particularly concerning religious and matrimonial law. Consequently, the Court takes on a more prominent role in directing the development of Indonesian law in line with contemporary changes. Following the Court’s decisions, stricter oversight is necessary to ensure that legal amendments are effectively implemented in practice, so that the benefits of these reforms are truly felt by the public.
Modernisasi Sebagai Pergeseran Akhlak Dan Identitas Manusia Modren
Danil, Muhammad;
Effendi, Amri;
Mak'ruf, Jamalludin;
Iska, Syukri
Bayani Vol 4 No 2 (2024): Bayani: Jurnal Studi Islam
Publisher : LPPAIK Universitas Muhammadiyah Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52496/bayaniV.4I.2pp145-165
Akhlak dalam kontek modernisasi sudah sangat jarang menjadi pembahasan, karena kesibukan terhadap kemajuan teknologi sehingga manusia merasa tidak butuh lagi bagaimana berhubunggan dengan sesamanya bahkan sampai hubungan dengan tuhan. Seharusnya semakin modren zaman, makin sadar manusia pentingnya akhlak. Karena semua itu bisa mereka temui dengan kekritisannya terhadap dasar segala sesuatu, tapi justru itu yang hilang. Padahal kalau kita cermati akhlak adalah hal yang urgen dalam dalam modernisasi, karena selain sebagai pembentuk ikatan saudara yang telah tercerabut oleh kemajuan teknologi. Akhlak juga sebagai penjawab atas kehampaan dan kegersangan hati manusia sekarang ini. Penelitian ini mengungkapkan Masyarakat heterogen merupakan ranah akhlak yang bernilai tinggi, karena manusia tidak lagi berkumpul dari satu komonitas atau ras saja. Modernisasi juga ditandai dengan mobilitas masyarakat yang tinggi seharusnya menjadi alat penyebaran akhlak dalam kehidupanan manusia yang terus mencari tempat yang baru untuk ditinggali. Individualis merupakan corak tersendiri dari kelemahan masyarakan modernis karena pertahan manusia terbaik dalam bersaing dengan teknologi yang serbah canggih adalah koloni yang kuat.