Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Perbandingan Faktor-Faktor yang Menyebabkan Gangguan Pola Haid pada Remaja Putri di SMAN 1 Tasikmalaya Neng Aneu Nurul Hidayah; Indri Budiarti; Ismet Muchtar Nur
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.753

Abstract

Abstract. Menstrual disorders are characterized by heavy or scanty bleeding, and prolonged or irregular menstruation. Signs of distress during menstruation are also influenced by biological factors such as hormonal disturbances and lifestyle, physical activity and nutritional status. The purpose of the study was to determine the relationship between lifestyle (diet & exercise) and BMI with menstrual pattern disorders in adolescents in Tasikmalaya City. The research method using cross sectional. The independent variables in this study were lifestyle (diet & exercise) and menstrual pattern disorders as the dependent variable. The sampling technique was purposive sampling, the number of samples was 74 people. Data analysis used Fisher exact test and logistic regression. The results showed that BMI with irregular menstrual patterns were mostly obese (86.5%) and those with regular menstrual patterns were mostly normal (75.7%); lifestyle eating patterns with irregular menstrual patterns are mostly unbalanced (64.9%) and mostly balanced on regular menstrual patterns (75.7%); the description of a sports lifestyle with irregular menstrual patterns and regular menstrual patterns, most of them exercise with 51.4% and 100%, respectively. Fisher exact statistical test results obtained that there is a relationship between lifestyle (diet and exercise) and BMI with menstrual pattern disorders with p value <0.05 (0.001<0.05; 0.000<0.05 and 0.000<0, 05). The results of the logistic regression test showed that there was a relationship between diet and BMI with menstrual pattern disorders (0.01<0.05 and 0.003<0.05), respectively, while exercise was not associated with menstrual pattern disorders (0.997>0.05). It was concluded that there was a significant relationship between lifestyle, namely diet, exercise and BMI with menstrual pattern disorders. Abstrak. Gangguan haid ditandai dengan perdarahan yang banyak atau sedikit, dan haid yang berkepanjangan atau tidak teratur. Tanda-tanda distres selama haid, ternyata juga dipengaruhi oleh faktor biologis seperti gangguan hormonal dan gaya hidup aktivitas fisik dan status gizi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan gaya hidup (pola makan & olah raga) dan BMI dengan gangguan pola haid pada remaja di Kota Tasikmalaya. Metode penelitian dengan menggunakan cross sectional. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah gaya hidup (pola makan & olahraga) dan gangguan pola haid sebagai variabel terikat. Teknik sampling dengan cara Purposive sampling, jumlah sampel sebanyak 74 orang. Analisis data menggunakan uji fisher exact dan regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BMI dengan pola haid tidak teratur sebagian besar obesitas (86,5%) dan pada pola haid teratur sebagian besar normal (75,7%); gaya hidup pola makan dengan pola haid tidak teratur sebagian besar tidak seimbang (64,9%) dan pada pola haid teratur sebagian besar seimbang (75,7%); gambaran gaya hidup olahraga dengan pola haid tidak teratur dan pada pola haid teratur sebagian besar berolahraga dengan masing-masing 51,4% dan 100%. Hasil uji statistik fisher exact diperoleh bahwa terdapat hubungan gaya hidup (pola makan dan olahraga) dan BMI dengan gangguan pola haid dengan masing-masing p value <0,05 (0,001<0,05; 0,000<0,05 dan 0,000<0,05). Hasil uji regresi logistik menunjukkan terdapat hubungan pola makan dan BMI dengan gangguan pola haid dengan masing-masing (0,01<0,05 dan 0,003<0,05), sedangkan olahraga tidak berhubungan gangguan pola haid (0.997>0,05).Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara dengan gaya hidup yaitu pola makan, olahraga dan BMI dengan gangguan pola haid.
Granuloma pada Limfadenitis TB: Kajian Pustaka Aurora Rahma Koesdinar; Wida Purbaningsih; Ismet Muchtar Nur
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1831

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is an infectious infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis (M.tb) and is the 10th leading cause of death that ranks 4th in the world. Incidence of extrapulmonary TB events generally occurs in several organs, namely TB lymphadenitis, TB pleurisy, TB peritonitis, Miliary TB, TB meningitis, bone and joint TB. Tuberculous lymphadenitis represents about 30%–40% of cases of extrapulmonary tuberculosis. Histopathological picture TB lymphadenitis will usually be found granulomas, necrosis caseouse, epitheloid cells and Langhan's cells. Granulomas serve to isolate antigens from the host which will provide the body with protection from the introduction of antigens that are important in mycobacterial infections. Abstrak. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (M.tb) dan merupakan 10 penyebab kematian utama yang berada di urutan ke-4 di dunia. Insidensi kejadian TB ekstraparu pada umumnya terjadi pada beberapa organ yaitu Limfadenitis TB, Pleuritis TB, Peritonis TB, Miliary TB, Meningitis TB, TB tulang dan sendi. Limfadenitis TB mewakili sekitar 30%–40% dari kasus tuberkulosis ekstraparu. Gambaran histopatolgi Limfadenitis TB biasanya akan ditemukan granuloma, necrosis caseouse, epitheloid cell dan langhan’s cell. Granuloma berfungsi untuk mengisolasi antigen dari inang yang akan memberi tubuh perlindungan dari pengenalan antigen yang penting pada infeksi mikrobakteri.
Beban Kerja dan Kelelahan Kerja pada Pekerja Tatalaksana di Unisba Pradipto Atyanto Wibowo; Santun Bhekti Rahimah; Ismet Muchtar Nur
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6656

Abstract

Abstract. The workload is something that arises from the interaction between the needs of the work environment that is used as a workplace, and the skills and perceptions of workers. The work environment has a different workload for each worker, depending on the type of work. Fatigue is a common condition experienced by most workers after doing work. Each worker has a different workload and risk of fatigue. Universitas Islam Bandung management workers are employees who are under the auspices of kopsyakardos at Unisba. The purpose of this research is to find out the relationship between workload and work fatigue in Unisba management officers in 2022. This research is a quantitative analytic study that uses a cross-sectional research design. The sampling technique used total sampling, as many as 66 Unisba management officers. using the chi-square test, and analyzing with SPSS 25 software. Using two questionnaires, namely a workload assessment tool to determine the level of workload on workers and the KAUPK2 Questionnaire to assess work fatigue in workers. Based on the results of the study, it was found that respondents with moderate workload and fatigue were 3,27% people, respondents with a moderate workload but very tired were absent, respondents with a heavy workload but tired were 59,01% people, respondents with a heavy workload but very tired. as many as 37,7% people. Based on the results it is known that p = 0.263, thus the p-value < 0.05 where there is no significant relationship between workload and work fatigue in Unisba management workers in 2022. Fatigue experienced by workers will have an impact on the loss of willingness to work which causes the workforce to stop working. Abstrak. Beban kerja adalah sesuatu yang timbul dari interaksi antara kebutuhan lingkungan kerja yang digunakan sebagai tempat kerja, keterampilan dan persepsi pekerja. Lingkungan kerja memiliki beban kerja yang berbeda untuk setiap pekerja, tergantung pada jenis pekerjaan. Kelelahan merupakan kondisi yang umum dialami oleh sebagian besar pekerja setelah melakukan pekerjaan, Setiap pekerja mempunyai beban kerja dan resiko kelelahan yang berbeda. Pekerja tatalaksana Unisba adalah pegawai yang berada pada di bawah naungan kopsyakardos pada Unisba. Tujuan peneltian ini adalah mengetahui hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada petugas tatalaksana Unisba Tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif yang menggunakan desain penelitian yang bersifat cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, sebanyak 66 orang petugas tatalaksana Unisba. menggunakan uji chi – square, dan dianalisis dengan software SPSS 25. Menggunakan dua kuisoner yaitu alat ukur penilaian beban kerja untuk mengetahui tingkat beban kerja pada pekerja dan Kuesioner KAUPK2 untuk menilai kelelahan kerja pada pekerja. Berdasarkan hasil penelitian diketahui responden yang beban kerja sedang dan kelelahan kerja lelah sebanyak 3,27% orang, responden beban kerja sedang namun kelelahan kerja sangat lelah tidak ada, responden beban kerja berat namun kelelahan kerja lelah sebanyak 59,01% orang, responden beban kerja berat namun kelelahan kerja sangat lelah sebanyak 37,7% orang. Berdasarkan hasil diketahui bahwa p=0,263 dengan demikian p value < 0,05 dimana tidak terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada pekerja tatalaksana unisba tahun 2022. Kelelahan yang dialami tenaga kerja akan berdampak pada hilangnya kemauan bekerja yang menyebabkan tenaga kerja berhenti bekerja.
Kejadian Diare pada Balita Berhubungan dengan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga Lina Munita Sari Sari; Siti Annisa Devi Trusda; Ismet Muchtar Nur
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5915

Abstract

Abstract. In Indonesia, diarrhea still become public health problem because it is the main cause of mortality among children. Java as the most populated island in Indonesia, especially East Java, has the highest cases of diarrhea in toddlers in 2017. Clean and Healthy Living Behavior (CHLB) in the household can prevent diarrhea. The purpose of this study was to analyze the relationship between the level of knowledge mothers about CHLB in the household with the incidence of diarrhea in toddlers. The method used was analytic observational with a cross sectional approach. The research subjects were 70 mothers who had toddlers who were selected using the consecutive sampling technique. Research data processing using the Chi-square test. The results showed that 55 people (79%) had good CHLB knowledge, 15 people (21%) had sufficient CHLB knowledge. Meanwhile, 19 respondents (27%) had diarrhea, and the 51 people (73%) had no diarrhea, and there was a significant relationship between the level of knowledge mothers about PHBS in the household and the incidence of diarrhea in toddlers with P-value of 0.016 (<0.05). So it can be concluded that there is a relationship between the level of knowledge of mothers about PHBS in the household and incidence of diarrhea in toddlers in Lajing Village, Arosbaya District, Bangkalan Regency. Toddlers experiencing diarrhea occur not only due to poor knowledge of CHLB, but can also be caused by factors of consuming food that is not fully cooked and poor hygiene of milk bottles. Keywords: CHLB, Diarrhea Incidence, Mother's Knowledge, Toddlers. Abstrak. Diare pada balita merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia karena termasuk penyebab utama kematian anak. Pada tahun 2017, kasus diare pada balita di Jawa Timur menempati peringkat kedua tertinggi di Indonesia. Kejadian diare dapat dicegah dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di rumah tangga. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang PHBS di rumah tangga dengan kejadian diare pada balita. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional, dengan subjek berjumlah 70 orang Ibu yang memiliki balita. Pengolahan data memakai uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 55 orang (79%) pengetahuan PHBS baik, 15 orang (21%) pengetahuan PHBS cukup. Sedangkan 19 orang (27%) responden memiki balita dengan diare, dan 51 orang (73%) memiliki balita tidak diare. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu tentang PHBS di rumah tangga dengan kejadian diare pada balita dengan (p=0,016). Dapat disimpulkan, terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang PHBS di rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di Kelurahan Lajing Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan. Kejadian diare pada balita terjadi bukan hanya karena pengetahuan ibu tentang PHBS yang kurang baik, melainkan juga bisa disebabkan oleh faktor kebersihan makanan balita. Kata Kunci: Balita, Kejadian Diare, Pengetahuan Ibu, PHBS.
Kebersihan Tangan dan Infeksi Cacing Enterobius Vermicularis pada Anak Sekolah Dasar Ahmad Heru Sopyan; Yuke Andriane; Ismet Muchtar Nur
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6138

Abstract

Abstract. Enterobiasis is an infection with the worm Enterobius vermicularis which is still a global public health problem in both developed and developing countries. One of the factors that increases the risk of Enterobiasis is poor hand hygiene. The purpose of this study was to find out whether there is a relationship between hand hygiene and Enterobiasis in grade 6 students at SDN Jayamakmur 1 Karawang, West Java, in 2022. The type of research was analytic observational with a cross sectional research design. The research population was 6th grade students at SDN Jayamakmur 1 Karawang, West Java, with a total sample of 32 people. Data collection was carried out using a hand hygiene questionnaire and anal swab examination and analyzed using the Chi-square test. The results of the study showed that the number of students who had good hand hygiene and those who had poor hand hygiene were almost the same and the frequency distribution of Enterobiasis examinations showed that most of the respondents did not experience Enterobiasis. The results showed that there was a relationship between hand hygiene and Enterobiasis in grade 6 students at SDN Jayamakmur 1 Karawang, West Java, in 2022 (P-value = 0.006). Hand hygiene is important in everyday life because hands are the first medium that is very often contaminated with parasites, especially Enterobius vermicularis, which can cause Enterobiasis. Abstrak. Enterobiasis merupakan infeksi cacing Enterobius vermicularis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global baik di negara maju maupun berkembang. Salah satu faktor yang meningkatkan risiko Enterobiasis adalah kebersihan tangan yang kurang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan kebersihan tangan dengan Enterobiasis pada siswa kelas 6 SDN jayamakmur 1 Karawang Jawa Barat tahun 2022. Jenis penelitian adalah analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian adalah siswa kelas 6 di SDN Jayamakmur 1 Karawang Jawa Barat dengan jumlah sampel sebanyak 32 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner kebersihan tangan dan pemeriksaan anal swab serta dianalisis dengan uji Chi-square. Hasil penerlitian menunjukan jumlah siswa yang memiliki kebersihan tangan yang baik dengan yang memiliki kebersihan tangan yang buruk hampir sama banyak dan distribusi frekuensi pemeriksaan Enterobiasis sebagian besar responden tidak mengalami Enterobiasis. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan antara kebersihan tangan dengan Enterobiasis pada siswa kelas 6 SDN Jayamakmur 1 Karawang Jawa Barat tahun 2022 (P-value = 0,006). Kebersihan tangan merupakan hal penting dalam kehidupan sehari-hari karena tangan merupakan perantara pertama yang sangat sering terkontaminasi parasit khususnya Enterobius vermicularis sehingga dapat menyebabkan Enterobiasis.
Pekerjaan Ibu Sebagai Faktor Dominan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 24 – 59 Bulan di Desa Mulyasari Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut Tahun 2021 Asty Sabrina Utami; Zulmansyah; Ismet Muchtar Nur
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6272

Abstract

Abstract. Stunting is a condition of failure to grow in toddlers due to chronic malnutrition thus it is too short for their age. Data from BKKBN 2017 showed that in Garut Regency is the highest in West Java with a stunting prevalence rate that exceeds the national prevalence rate. Data from the Garut Regency Health Office indicated that Mulyasari Village, Bayongbong District, is one of the districts in the Garut Regency with a significant stunting rate. This study aims to determine the frequency and description of the characteristic description of stunted children in children aged 24-59 months, maternal characteristics, environmental characteristics, and behavioral characteristics in Mulyasari Village, Bayongbong District, Garut Regency in 2021.This type of research is descriptive observational research that is retrospective. The data were analyzed using univariate analysis. The results of this study showed that the most of the toddlers were stunted (87%) which the dominant factor in the incidence of stunting among children aged between 24 and 59 months in Mulyasari Village, Bayongbong District, Garut Regency in 2021 is unemployed mothers, representing 87% of cases. Abstrak. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat adanya kekurangan gizi kronis sehingga terlalu pendek untuk usianya. Data BKKBN 2017 menunjukkan bahwa Kabupaten Garut menjadi urutan tertinggi di Jawa Barat dengan angka prevalensi stunting yang melebihi angka prevalensi nasional. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Garut menunjukkan bahwa Desa Mulyasari Kecamatan Bayongbong menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Garut yang menjadi fokus utama daerah stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi dan gambaran karakteristik anak stunting pada anak usia 24 – 59 bulan, karakteristik ibu, karakteristik lingkungan dan karakteristik perilaku di Desa Mulyasari Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut Tahun 2021. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional deskriptif yang bersifat retrospektif. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar balita stunting dengan kategori stunted (87%) dengan faktor yang mendominasi pada kejadian stunting di Desa Mulyasari Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut tahun 2021 adalah ibu yang tidak bekerja yaitu sebesar 87%.
Perbandingan Efek Antibakteri Ekstrak Air Kopi Arabika dengan Ekstrak Air Teh Hijau pada Kultur Bakteri Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) ATTC 33951 Muhammad Gibran Al Madani; Hendro Sudjono Yuwono; Ismet Muchtar Nur
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10332

Abstract

Abstract. Arabica coffee and green tea are known as plants that contain active antibacterial compounds such as alkaloids, tannins, phenolic compounds, flavonoids, triterpenoids, and glycosides. Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) is a common bacteria that emerges due to methicillin resistance, posing a significant infection problem in both hospitals and the general population. This study aims to analyze the comparative antibacterial strength of Arabica coffee water extract and green tea water extract against MRSA bacteria. This research is a pure in vitro experiment using the Disk Diffusion method on MRSA ATCC 33951 bacterial cultures conducted at the Microbiology Laboratory of the Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran, Bandung. The arabica coffee water extract and green tea water extract used were at concentrations of 50% and 100%, while vancomycin was used as the positive control in this study. The inhibition zones were measured in millimeters. Statistical analysis was performed using the Kruskal-Wallis test at a 95% confidence level. The research results showed that the Arabica coffee water extract at concentrations of 50% and 100% had average inhibition zones of 9,75 mm and 14,25 mm, while the green tea water extract at concentrations of 50% and 100% had average inhibition zones of 22,25 mm and 26 mm. Vancomycin as the positive control had an average inhibition zone of 21,75 mm. The green tea water extract had a larger inhibition zone compared to the Arabica coffee water extract with p = 0,000 (p < 0,05). In conclusion, the green tea water extract has a stronger antibacterial effect compared to the arabica coffee water extract. Abstrak. Kopi arabika dan teh hijau dikenal sebagai tanaman yang memiliki kandungan zat aktif yang bersifat antibakteri seperti alkaloid, tanin, senyawa fenolik, flavonoid, triterpenoid, dan glikosida,. Bakteri yang sering muncul akibat resistensi methicillin adalah Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) yang menjadi masalah infeksi di rumah sakit dan masyarakat umum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kekuatan antibakteri ekstrak air kopi arabika dan ekstrak air teh hijau terhadap bakteri MRSA. Penelitian ini merupakan eksperimen murni in vitro dengan metode Disk Diffusion pada biakan bakteri MRSA ATCC 33951 yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. Ekstrak air kopi arabika dan teh hijau yang digunakan adalah konsentrasi 50% dan 100%, sedangkan kontrol positif pada penelitian ini menggunan vankomisin. Zona hambat diukur dalam satuan millimeter. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak air kopi arabika konsentrasi 50% dan 100% memiliki daya zona hambat rata-rata sebesar 9,75 mm dan 14,25 mm, sedangkan ekstrak air teh hijau pada konsentrasi 50% dan 100% memiliki zona hambat rata-rata sebesar 22,25 mm dan 26 mm. Vankomisin sebagai kontrol positif memiliki zona hambat rata-rata sebesar 21,75 mm. Ekstrak air teh hijau memiliki zona hambat yang lebih besar dari ekstrak air kopi arabika dengan p = 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak air teh hijau lebih memiliki efek antibakteri yang lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak air kopi arabika.
Hubungan Antara Kemiskinan dengan Kejadian Anemia Defisiensi Zat Besi pada Ibu Hamil di Kota Bandung Tahun 2015–2020 Nurul Izzati Fauzia; Agung Firmansyah Sumantri; Ismet Muchtar Nur
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12415

Abstract

Abstract. Anemia is a condition where red blood cells do not meet the body's physiological needs, this occurs because the erythrocytes in the body are not balanced. The condition of anemia often occurs in pregnant women, the most common occurrence is iron deficiency anemia and this condition has serious consequences for the mother and fetus. There are several factors that can cause pregnant women to experience iron deficiency anemia, one of which is economic level. Economic level is measured from the poverty level based on daily calorie intake. Poverty is a condition caused by cultural factors in a partickeular area that occur in a particular person or group of people, thereby causing them to remain attached to poverty. This study aims to determine the relationship between economic level and the incidence of iron deficiency anemia in pregnant women in Bandung City. The method used in this research was a retrospective cohort approach. The data used is secondary data from the Bandung City Health Service and the Bandung City Central Statistics Agency. Statistical tests use Spearman rank. The research results show a value of p=0.704 (p>0.05). The conclusion is that there is no relationship between economic level and the incidence of iron deficiency anemia in pregnant women in Bandung City in the 2015-2020 period. This is because economic level is a factor that indirectly influences the incidence of anemia. Abstrak. Anemia merupakan kondisi sel darah merah yang tidak memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh, ini terjadi karena eritrosit didalam tubuh tidak seimbang. Kondisi anemia pun sering terjadi pada wanita hamil, insidensi yang sering terjadi adalah anemia defisiensi zat besi dan keadaan ini memiliki konsekuensi serius untuk ibu dan fetus. Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan wanita hamil mengalami anemia defisiensi zat besi, salah satunya tingkat ekonomi. Tingkat ekonomi dinilai dari tingkat kemiskinan berdasarkan asupan kalori per hari. Kemiskinan merupakan keadaan yang disebabkan oleh faktor budaya suatu daerah tertentu yang terjadi pada seseorang atau sekelompok masyarakat tertentu sehingga membuatnya tetap melekat dengan kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat ekonomi dengan kejadian anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil di Kota Bandung. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kohort retrospektif. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Bandung dan Badan Pusat Statistika Kota Bandung. Uji statistik menggunakan rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan nilai p=0,704 (p>0,05). Kesimpulannya tidak ada hubungan antara tingkat ekonomi dengan kejadian anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil di Kota Bandung pada periode tahun 2015-2020. Hasil ini disebabkan karena tingkat ekonomi merupakan faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung terhadap kejadian anemia.