Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Analisis Makna dan Nilai Moral dalam Pantun Tradisi Sekujang: Sesuaikah Menjadi Materi Pembelajaran Siswa Sekolah Dasar? Atika Susanti; Ady Darmansyah
Eduprof : Islamic Education Journal Vol. 4 No. 2 (2022): Eduprof : Islamic Education Journal
Publisher : Program Pascasarjana, Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47453/eduprof.v4i2.143

Abstract

Classroom learning should present material that is closest to students' lives, such as local culture. Meanwhile, local wisdom in the Sekujang tradition is a cultural heritage that must be taught to students. The purpose of this study is to describe the meaning and moral values in the traditional poetry of Sekujang; and the suitability of rhymes in the Sekujang tradition as learning materials for elementary school students. This type of research is descriptive qualitative. The subjects of this study were the traditional head and fifth grade teacher at elementary school 81 Seluma. The research instrument used by the researcher was in the form of interview guide sheets and documentation. The data analysis technique used in this study is the Miles and Huberman model. The results of this study explain that the Sekujang tradition has a rhyme that is rich in meaning and moral values. This Sekujang rhyme is appropriate if it is included in the material in elementary schools because there are basic competencies and Pantun and Character materials in Indonesian language learning and civics education Theme 6 (Cita-citaku), Sub-theme 1 (Aku dan Cita-citaku), Learning 1 Indonesian language and civics education subject. Abstrak Pembelajaran di kelas harus menghadirkan materi yang paling dekat dengan kehidupan siswa, seperti budaya setempat. Sementara itu, kearifan lokal pada tradisi Sekujang merupakan warisan budaya yang harus diajarkan kepada siswa. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan makna dan nilai moral dalam pantun tradisi Sekujang; dan kesesuaian pantun pada tradisi Sekujang menjadi materi pembelajaran siswa sekolah dasar. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Subyek penelitian adalah ketua adat dan guru kelas V SDN 81 Seluma. Instrumen penelitian yang digunakan oleh peneliti berupa lembar pedoman wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa tradisi Sekujang memiliki pantun yang kaya akan makna dan nilai moral. Pantun Sekujang ini sesuai jika dimasukan ke dalam materi di sekolah dasar karena terdapat Kompetensi Dasar (KD) dan materi Pantun dan Karakter dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan PPKn Tema 6 (Cita-citaku), Subtema 1 (Aku dan Cita-citaku), Pembelajaran 1 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dan PPKn.
Implementasi Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa di SD Plus Islamic Village Tangerang Dio Eriawandi; Ady Darmansyah; Umi Sumiati As
Action Research Journal Indonesia (ARJI) Vol. 8 No. 2 (2026): Action Research Journal Indonesia (ARJI)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/arji.v8i2.717

Abstract

Di sekolah dasar, kesulitan belajar siswa sering muncul dalam bentuk hambatan akademik maupun non-akademik, seperti kurangnya motivasi belajar, masalah konsentrasi, kesulitan memahami materi, hingga persoalan perilaku dan emosi. Kondisi ini menunjukkan bahwa layanan bimbingan dan konseling tidak hanya dibutuhkan pada jenjang SMP dan SMA, tetapi juga penting diterapkan di SD untuk membantu perkembangan dan keberhasilan belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru bimbingan dan konseling (BK) di sekolah dasar, pelaksanaan layanan bimbingan konseling yang dijalankan oleh guru BK, serta upaya yang ditempuh guru BK dalam menangani kesulitan belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Adapun subjek penelitian meliputi guru BK, guru kelas, dan kepala sekolah. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik, yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sementara itu, analisis data ditempuh melalui serangkaian tahapan yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa peran guru BK dalam implementasinya telah membuktikan bahwa kesulitan belajar siswa tidak semata-mata dapat diatasi melalui intervensi guru BK secara langsung. Peran tersebut terwujud dalam berbagai fungsi, di antaranya sebagai fasilitator yang memanfaatkan sarana dan prasarana BK untuk mengarahkan, membimbing, serta menangani permasalahan akademik maupun non-akademik siswa, sekaligus hadir sebagai pendengar yang empatik dan responsif. Pelaksanaan bimbingan konseling hampir selaras dengan pedoman penyelenggaraan bimbingan konseling yang dapat diimplementasikan bagi sekolah dasar meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Upaya guru yang BK lakukan dapat membantu para guru kelas mengatasi kesulitan belajar dengan mendiagnosis yang mengalami kesulitan belajar, mendalami faktor yang dapat meningkatkan keberhasilan belajar, mencari akar masalah dan juga mencari solusinya. Penelitian diharapkan dapat dijadikan sebagai inovasi atau gagasan ide bagi seluruh satuan pendidikan khususnya sekolah dasar bahwa tidak hanya tingkat SMP dan SMA yang membutuhkan kompetensi guru BK, tetapi di sekolah dasar pula sangat dibutuhkan.