Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENGARUH MINYAK JINTEN HITAM (NEGELLA SATIVA) TERHADAP KADAR GLUKOSA DAN KOLESTEROL PADA PENDERITA DIABETES Abdul Halim; Tori Rihiantoro
Jurnal Keperawatan Vol 9, No 2 (2013): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.948 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v9i2.348

Abstract

Perkembangan pengobatan  penyakit DM dalam  rangka mencegah komplikasi terus dilakukan riset. Penggunaan obat-obat herbal dalam rangka menyembuhkan dan mengontrol penyakit juga sudah semakin banyak diteliti. Salah satunya adalah penelitian tentang jinten hitam (Nigella sativa).  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh minyak jinten hitam terhadap kadar glukosa dan kolesterol penderita diabetes. Desain penelitian  Kuasi Eksperimen dengan metode pengambilan data Pre and Post Test Two Group. Populasi penelitian  seluruh pasien diabetes tipe 2 yang berkunjung ke poliklinik penyakit dalam Rumah Sakit Abdul Moeloek Propinsi Lampung dalam kurun waktu 28 Juni – 19 Juli 2012 dengan jumlah sampel sebanyak 49 responden, terdiri dari 24 kelompok eksperimen dan 25 kelompok kontrol yang yang ditentukan dengan teknik consecutive sampling. Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan uji t dependen dan t independen.  Hasil penelitian ada perbedaan bermakna kadar glukosa (p value = 0,000) dan kolesterol (p value = 0,000) sebelum dan sesudah  terapi minyak jinten hitam pada. Sehingga terdapat pengaruh terapi minyak jinten hitam terhadap kadar glukosa dan kolesterol pada penderita diabetes. Ada perbedaan kadar glukosa (p value = 0,011) dan kolesterol (p value = 0,000 sebelum dan sesudah terapi placebo. Disimpulkan ada pengaruh  terapi plasebo terhadap kadar glukosa dan kolesterol pada penderita diabetes. Hasil lain menyimpulkan bahwa minyak jinten  hitam lebih efektif dalam  menurunkan glukosa darah dari pada placebo (p value = 0,006). Sedangkan untuk kolesterol minyak jinten hitam memiliki efektifitas yang sama dengan placebo (p value = 0,188). Saran agar minyak jinten hitam dijadikan terapi alternataif bagi penderita diabetes melalui uji klinik yang ketat.
PENGARUH TEKNIK RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI Tori Rihiantoro; Ririn Sri Handayani; Ni Luh Made Wahyuningrat; Suratminah Suratminah
Jurnal Keperawatan Vol 14 No 2 (2018): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.702 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v14i2.1295

Abstract

Pada fase pre operasi, klien mengalami berbagai  stresor yang dapat menyebabkan kecemasan. Kecemasan dapat memberikan efek yang dapat mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh yang menyebabkan penundaan operasi dan terhambatnya penyembuhan penyakit pada klien. Penatalaksanaan kecemasan salah satunya dengan relaksasi otot progresif. Terapi ini akan merangsang pengeluaran zat kimia endorphin dan ekefalin serta merangsang  signalotakyang  menyebabkan otot rileks dan meningkatkan aliran darahke otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik relaksasi otot progresif terhadap penurunan kecemasan pada pasien pre operasi. Desain penelitian ini adalah pra-eksperimen dengan rancanganone group pretest and post test. Sampel penelitian berjumlah 30 orang dengan teknik purposive sampling.Hasil penelitan menunjukkan rata-rata skor kecemasan sebelum terapi relaksasi otot progresif adalah 54.17, dengan standar deviasi 5.427. Sedangkan untuk rata-rata skor kecemasan sesudah terapi relaksasi otot progresif adalah 50,33 dengan standar deviasi 4,999. Analisis uji non parametik menggunakan uji wilcoxon didapatkan hasil ρvalue 0.000 (ρvalue 0.000 < α 0.05), maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi.Diharapkan agar terapi relaksasi otot progresif dapat dimasukkan kedalam program rumah sakit dalam menangani kecemasan pre operasi.
PENGARUH TERAPI MUSIK TERHADAP PEMULIHAN PASIEN PASKA OPERASI DENGAN ANESTESI UMUM Gilang Hadi Saputra; Tori Rihiantoro; Anita Puri
Jurnal Keperawatan Vol 16 No 1 (2020): Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jkep.v16i1.2640

Abstract

Pemulihan pada pasien paska operasi dengan anestesi umum merupakan kondisi kritis yang harus mendapatkan perhatian bagi perawat. Untuk itu perlu upaya perawatan yang mampu memastikan pasien dapat pemulihan tepat waktu bahkan lebih cepat dari yang seharusnya tanpa gejala sisa maupun efek samping laiinya. Terapi musik dipilih sebagai modalitas terapi yang diharapkan dapat diterapkan pada kondisi tersebut. Untuk itu  penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi musik terhadap pemulihan pada pasien paska operasi dengan anestesi umum. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien paska operasi dengan anestesi umum  anestesi umum yang dengan teknik purposive sampling diperoleh jumlah sampel 48 responden. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Quasi eksperimen dengan The Static Group Comparison. Pemantauan pemulihan deilakukan  menggunakan aldrete score. Data yang sudah dikumpulkan di analisis dengan menggunakan uji Mann-whitney. Hasil penelitian menyimpulkan terdapat perbedaan rata-rata skor waktu pemulihan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol yaitu sebesar 11,66. Hal ini berati terdapat pengaruh terapi musik terhadap pemulihan pasien paska operasi dengan anestesi umum. Saran diharapkan rumah sakit dapat memfasilitasi pemberian terapi musik dengan pasien pasca anestesi umum untuk mempercepat waktu pemulihan
Pengaruh Pemberian Aromaterapi Peppermint Inhalasi terhadap Mual Muntah pada Pasien Post Operasi dengan Anestesi Umum Tori Rihiantoro; Candra Oktavia; Giri Udani
Jurnal Keperawatan Vol 14, No 1 (2018): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.418 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v14i1.1000

Abstract

Penggunaan anestesi umum dapat menyebabkan pasien mengalami mual, muntah (sering dikenal dengan istilah PONV). InsidensiPONV mencapai 30% dari 100 juta lebih pasien bedah di seluruh dunia. Di Indonesia insiden terjadinya PONV belum tercatat jelas. Penanganan PONV dapat menggunakan terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Salah satu terapi non farmalkologi yaitu pemberian aromaterapi peppermint secara inhalasi. Tujuan penelitian ini adalah  untuk mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi peppermint inhalasi terhadap mual muntah pada pasien post operasi dengan anestesi umum.Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan rancangan Non Equivalent Control Group. Populasi pada penelitian ini adalah pasien post operasi dengan anestesi umum dengan jumlah sampel 20 orang. Hasil penelitian menyimpulkan adaperbedaan skor rata-rata PONV sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi peppermint inhalasi pada kelompok eksperimen yaitu 11.10 (p value=0.005), ada perbedaan skor rata-rata PONVpada pengukuran pertama dan pengukuran kedua pada kelompok controlyaitu 2.20 (p value=0.006), selanjutnya juga ada perbedaan selisih skor rata-rata PONV pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol yaitu 10.00 (p value+0.000). Hasil ini menunjukkan bahwa aromaterapi peppermintmemberikan pengaruh dalam menurunkan skor rata-rata PONVpada pasien post operasi dengan anastesi umum. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan untuk penerapan terapi aromatikpeppermintpada pasien post operasi yang mengalami  keluhan mual muntah.
PENGARUH PEMBERIAN BRONKODILATOR INHALASI DENGAN PENGENCERAN DAN TANPA PENGENCERAN NaCL 0,9% TERHADAP FUNGSI PARU PADA PASIEN ASMA Tori Rihiantoro
Jurnal Keperawatan Vol 10, No 1 (2014): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.764 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v10i1.329

Abstract

Terapi inhalasi bronkodilator pada pasien asma  merupakan pemberian obat secara langsung ke dalam saluran napas melalui penghisapan. Kenyataan di lapangan ada pebedaan dalam prosedur pemberiannya, dimana ada yang memberikannya dengan pengenceran NaCl 0,9%, tetapi ada juga yang memberikan tanpa pengenceran. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan dan tidak satunya prosedur dalam pelaksanaanya. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian obat bronkodilator inhalasi dengan pengenceran Nacl 0,9% dan tanpa pengenceran Nacl 0,9% terhadap fungsi paru pasien asma. Desain penelitian menggunakan Quasy-Eksperiment (Pre-Post Test Control Group Design). Populasi dalam penelitian adalah semua pasien asma yang dilakukan pemberian obat bronkodilator inhalasi. Sedangkan tehnik sampling yang dipakai adalah Accidental Sampling, yaitu seluruh pasien asma dengan pengobatan nebulizer yang menggunakan obat bronkodilator Inhalasi pada Bulan Agustus – September 201, dengan jumlah sampel 60 orang. Analisa data yang digunakan adalah uji T dependen dan uji T independen Hasil penelitian menunjukan peningkatan fungsi paru (VEP1) pada pasien asma lebih besar pada pasien yang diberikan terapi inhalasi bronkodilatior tanpa pengenceran (108,33 ml/detik dengan standar deviasi 18,952 ml/detik) dari pada dengan pengenceran NaCl 0,9% (96,67 ml/detik dengan standar deviasi 12,685 ml/detik). Ada perbedaan rata-rata nilai VEP1 pada pasien asma yang diberikan inhalasi dengan pengenceran NaCl 0.9% dengan tanpa pengenceran NaCl 0,9% (p = 0.007). Untuk itu disarankan agar disusun kembali suatu SOP pemberian bronkodilator inhalasi (nebulizer) yang mengacu pada hasil penelitian ini, yaitu  inhalasi bronkodilator tanpapengenceran. 
DISFUNGSI EREKSI PADA PENDERITABENIGN PROSTATE HYPERPLASIA (BPH)DI RUMAH SAKIT KOTA BANDAR LAMPUNG Heru Haryanto; Tori Rihiantoro
Jurnal Keperawatan Vol 12, No 2 (2016): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.985 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v12i2.612

Abstract

Pembesaran prostat dianggap sebagai bagian proses dari pertambahan usia (proses aging). Banyak penyebab yang mempengaruhinya sehingga terjadi kemunduran dari fungsi prostat. Permasalahan dari penyakit ini terjadinya disfungsi ereksi bagi si penderita. Meningkatnya prevalensi BPH meningkat pula prevalensi disfungsi ereksi. Tujuan penelitian ini diketahui hubungan Benign Prostate Hyperplasia (BPH) dengan disfungsi ereksi Di Poli Bedah RSUD dr. A. Dadi Tjokrodipo Kota Bandar Lampung tahun 2016. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, pemilihan sampel dengan teknik consecutive Sampling, dengan mengambil minimal 59 responden. Instrumen penelitian menggunakan studi dokumentasi dan angket kuesioner. Hasil univariat menunjukkan jumlah terbanyak berusia 61-70 tahun sebanyak 23 orang (38,3%),  terdiagnosis BPH sebanyak 35 orang (58,3%) dan yang tidak terdiagnosis BPH sebanyak 25 orang (41,7%), mengalami disfungsi ereksi sebanyak 21 orang (35%)  dan yang tidak disfungsi ereksi sebanyak 39 orang (65%).  Analisa data dengan menggunakan uji statistik Chi Square, didapatkan hasil adanya hubungan antara Benign Prostate Hyperplasia (BPH) dengan disfungsi ereksi di Poli Bedah RSUD dr. A. Dadi Tjokrodipo Kota Bandar Lampung tahun 2016, dengan p-value= 0,004. Saran penelitian yaitu agar hasil penelitian ini menjadi masukan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya pada saat pengkajian agar lebih dalam mengkaji status seksual pasien dengan BPH di RSUD dr. A. Dadi Tjokrodipo Kota Bandar Lampung.
PENGARUH TERAPI BEKAM TERHADAP TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI Siti Fatonah; Tori Rihiantoro; Titi Astuti
Jurnal Keperawatan Vol 11, No 1 (2015): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.678 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v11i1.519

Abstract

Hipertensi merupakan penyebab berbagai penyakit berat dan komplikasi.Penatalaksanaan hipertensi dilakukan secara farmakologis dan non farmakologi sebagai terapi komplementer, diantaranya terapi bekam.Tujuan  penelitianuntuk mengetahui pengaruh terapi bekam terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi.  Desain penelitianquasi experimental one group pre-post test  pada 30 responden hipertensi yang memenuhi kriteria. Tehnik sampling  Consecitive sampling. Pengumpulan data dilakukan pengukuran tekanan darah  sebelum dan setelah dibekam satu kali, kemudian dicatat pada  lembar observasi.Waktu penelitianSeptember tahun 2014 di Klinik Pengobatan Geratis Hilal Ahmar Bandar Lampung.Hasil pengukuran TD.sistole sebelum dilakukan bekam di dapatkan hasil mean 156,57 mmHg, standar deviasi 15,83 mmHg, sesudah terapi bekam diperoleh mean 149 mmHg, standar deviasi 18,49 mmHg. TD.diastolik sebelum bekam mean 95 mmHg, standar deviasi 7,31 mmHg, sesudah terapi bekam nilai mean 92,67 mmHg, standar deviasi 9,80 mmHg. Sedangkan mean MAP sebelum terapi bekam sebesar 115,56 mmHg, standar deviasi 8,90 mmHg, sesudah terapi bekam sebesar 111,44 mmHg, standar deviasi 11,83 mmHg. Hasil uji statistik, terdapat pengaruh yang bermakna pada tekanan darah sistolik dan MAP pada pasien hipertensi sebelum dan setelah terapi bekam dengan nilai p=0,000 (sistole) dan p=0,007 (MAP) dimana p<0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terapi bekam berpengaruh terhadap menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.Sedangkan tidak terdapat pengaruh yang bermakna pada tekanan darah diastolik pada pasien hipertensi sebelum dan setelah terapi bekam dengan nilai p=0,199. Saran kepada praktisi bekam untuk lebih giat dalam mempromosikan bekam sebagai pengobatan alternatif. Pada pasien-pasien yang mengalami gangguan perfusi sistemik utamanya pasien yang di rawat di runga ICU, untuk mengkombinasikan terapi bekam.
SENAM LANSIA DAN KEKAMBUHAN NYERI SENDI PADA LANSIA PENDERITA ARTHRITIS Sevilla Rain Dinianti; Tori Rihiantoro; Titi Astuti
Jurnal Keperawatan Vol 9, No 2 (2013): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.765 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v9i2.364

Abstract

Perubahan kondisi fisik pada lansia diantaranya adalah menurunnya kemampuan muskuloskeletal ke arah yang lebih buruk. Penurunan fungsi muskuloskeletal menyebabkan terjadinya perubahan secara degeneratif yang dirasakan dengan keluhan nyeri, kekakuan, hilanganya gerakan dan tanda-tanda inflamasi seperti nyeri tekan, disertai pula dengan pembengkakan yang mengakibatkan terjadinya gangguan mobilitas. Salah satu upaya untuk mengurangi keluhan nyeri sendi adalah dengan terapi non farmakologis yaitu senam lansia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan senam lansia terhadap kekambuhan nyeri sendi pada lansia penderita arthritis. Manfaat penelitian adalah menjadi bahan masukan bagi petugas panti dalam perencanaan program meningkatkan derajat kesehatan penghuni panti. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, menggunakan metode korelasi dengan pendekatan  cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia penderita arthritis baik pria mapun wanita yang tinggal di Unit Pelaksana Teknis Dinas Panti Sosial Lanjut Usia Tresna Werda Provinsi Lampung Tahun 2013, dengan jumlah 40 orang. Sampel diambil dengan teknik total populasi. Alat pengumpul data dalam penelitian ini menggunakan daftar wawancara dengan teknik pengumpul data menggunakan metode wawancara. Hasil penelitian menggunakan uji statistik chi square menunjukkan bahwa nilai signifikansi p-value = 0,000 yang berarti sig <α=(0,05). Disimpulkan bahwa ada hubungan senam lansia terhadap kekambuhan nyeri sendi lansia penderita arthritis di UPTD PSLU Tresna Werdha Provinsi Lampung tahun 2013 dan diharapkan lansia dapat terus melakukan senam lansia secara teratur.
EDUKASI DAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PASIEN DIABETES Jasmani Jasmani; Tori Rihiantoro
Jurnal Keperawatan Vol 12, No 1 (2016): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.463 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v12i1.371

Abstract

Hasil survei oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2011 jumlah penderita diabetes mellitus di dunia 200 juta orang, Indonesia adalah yang terbesar keempat. Pada tahun 2011, ada sekitar 5,6 juta orang di Indonesia yang menderita diabetes mellitus. Hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2007, prevalensi nasional DM di Indonesia sebanyak 5,7%. Beberapa faktor yang berhubungan dengan diabetes dan kadar glukosa darah adalah obesitas, riwayat keluarga dan gaya hidup kurang aktif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan edukasi oleh perawat dengan kadar glukosa darah pada pasien diabetes. Dalam penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien diabetes mellitus secara keseluruhan pada bulan Januari-Februari 2014 sebesar 36 pasien, sedangkan sampel yang diambil dari seluruh populasi 36 responden (total populasi). Analisis univariat digunakan untuk mengetahu distribusi frekuensi dan persentase, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji chi square. Hasil peneliian menjelaskan bahwa pelaksanaan edukasi DM oleh perawat sebagian besar kurang baik, yaitu sabanyak 19 (52,78%), sedangkan kadar glukosa darah pada pasien diabetes yang edukasinya kurang baik oleh perawat rata-rata 283,77 mg/dl, sedangkan pada pasien diabetes yang edukasinya baik oleh perawat rata-rata 258,825 mg/dl. Hasil analisis lanjutan menunjukan ada hubungan edukasi oleh perawat dengan kadar glukosa darah pada pasien diabetes dengan nilai p value: 0,044. Berdasarkan hasil tersebut disarankan agar perawat meningkatkan kualitas edukasi pada pasien diabetes melalui kegiatan pelatihan khusus edukator DM.
PERAN ORANG TUA DALAM KEBIASAAN MENCUCI TANGAN PADA ANAK USIA 6-8 TAHUN Tori Rihiantoro
Jurnal Keperawatan Vol 12, No 1 (2016): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.627 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v12i1.377

Abstract

Kebiasaan mencuci tangan adalah suatu perilaku sehat yang dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan seseorang. Mencuci tangan sebelum makan memakai air dan sabun dapat mengurangi penularan infeksi bakteri. Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Lampung tahun 2012, angka kesakitan penyakit pada sistem pencernaan seperti diare untuk semua umur di Provinsi Lampung dari tahun 2005-2012 cenderung meningkat, yaitu dari 9,8 per 1000 penduduk menjadi 18,24 per 1000  penduduk. Data yang didapat dari Puskesmas Pembantu Desa Sindang Sari tahun 2013 kunjungan paling banyak dengan kasus sistem pencernaan, seperti diare sebanyak 45 kasus, typoid 30 kasus, ispa 40 kasus, disentri 25 kasus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan peran orang tua dengan kebiasaan mencuci tangan pada anak usia 6-8 tahun di Desa Sindang Sari Tanjung Bintang Lampung Selatan tahun 2014. Metode penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan Juni 2014. Dengan sample 60 keluarga yang mempunyai anak usia 6-8 tahun. Tehnik pengambilan dengan simple random sampling. Hasil penelitian yang diperoleh sebagian besar peran ibu berkategori baik dengan jumlah 42 responden (70,0%). Dan peran ayah sebagian besar berkategori baik dengan jumlah 41 responden (63.3%). Pelaksanaan cuci tangan sebagian besar berkategori baik dengan jumlah 42 orang reponden (70,0%). Dari hasil uji statistik didapatkan nilai p Value = 0,00 dan nilai α = 0,05 maka nilai p Value < α, dan nilai OR = 104 dengan demikian  disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara peran ibu dengan kebiasaan mencuci tangan pada anak. Dan dari hasil uji statistik didapatkan nilai p Value = 0,00 dan nilai α = 0,05 maka nilai p Value < α, dan nilai OR = 160 dengan demikian  disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara peran ayah dengan kebiasaan mencuci tangan pada anak usia 6-8 tahun di Desa Sindang Sari Kecamatan Tanjung Bintang Lampung Selatan Tahun 2014. Dari hasil penelitian disarankan kepada setiap orang tua yang memiliki anak usia 6-8 tahun untuk memberikan contoh dan fasilitas untuk mencuci tangan.