Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Representasi Analisis Kebebasan dan Penjara Sosial dalam Tayangan Film Barbie Salma Puteri Andanie; Misyi Gusthini
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 (2024): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v4i3.1077

Abstract

This study analyzes how the film Barbie depicts freedom and social constraints, focusing on how these themes emerge through the characters and story. The aim of this analysis is to provide an understanding of how Barbie reflects modern issues related to identity, empowerment, and the challenges of achieving true freedom in a society filled with rules. As Greta Gerwig (2023) stated, "I thought I was living in a perfect world, with no problems, but I started to see there were many things blocking me from truly being free." The film depicts Barbie’s journey of self-discovery as she challenges traditional gender roles and confronts societal expectations. According to Miller (2023), although the film conveys a message of liberation, it also shows that the struggle against strong social norms is ongoing. The research method used in this study is qualitative narrative analysis, where the author examines the narrative, characters, and symbolism in Barbie to explore how the themes of freedom and social confinement are represented. The findings of this study indicate that Barbie portrays the complexity of freedom in a society controlled by rigid gender norms, while also highlighting the importance of solidarity among women in overcoming social barriers. The film sends a message about how the courage to defy social norms can bring about change and individual liberation.
Alegori Cinta, Kematian, dan Politik dalam Puisi “The Phoenix and the Turtle” Karya William Shakespeare Dwi Oktavia Susanti; Misyi Gusthini
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 5 No. 1 (2025): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v5i1.1374

Abstract

Penelitian ini menganalisis puisi “The Phoenix and the Turtle” karya William Shakespeare melalui pendekatan hermeneutik dan semiotik-alegoris untuk mengungkapkan lapisan representasi makna yang tersembunyi di balik simbolisme dan struktur puitiknya. Puisi ini merepresentasikan cinta spiritual antara Phoenix dan Turtle Dove yang secara alegoris dihubungkan dengan figur historis Ratu Elizabeth I dan Robert Devereux (Earl of Essex). Berpegang pada pendekatan teori alegori milik (BLOOMFIELD, 1987), retorika politik menurut (Leopold dkk., 2020), serta pemikiran representasi metafisik oleh (Tregear, 2023), penelitian ini menunjukkan bahwa puisi tersebut tidak hanya menceritakan kisah cinta tragis namun juga merupakan kritik terhadap relaitas politik dan eksistensial pada masa Elizabethan. Analisis dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif yang menelaah struktur simbolik, makna metaforis dan konteks historik. Temuan utama mengungkap cinta ideal sebagai entitas transenden yang direfleksikan dalam puisi ini, sekaligus digambarkannya kematian nilai-nilai luhur yang tidak dapat bertahan dalam dunia yang dikungkung oleh logika kekuasaan. Bagian “Threnos” dalam puisi ini menegaskan kegagalan “Reason” nalar untuk memahami cinta sejati, sehingga puisi ini tampil sebagai eksperimen estetis-filosofis yang mempertanyakan kemampuan alegori dan bahasa dalam mengungkapkan kebenaran spiritual. Dengan demikian, “The Phoenix and the Turtle” bukan hanya sebagai elegi cinta namun juga sebagai kritik terhadap batas-batas rasionalitas dan dunia representasi itu sendiri.
Representasi Perempuan Dalam Terjemahan Film Barbie and Three Musketeers Nur Apriliyana Fitriyaningsih; Misyi Gusthini; Zietha Arlamanda Asri
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 5 No. 1 (2025): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v5i1.1380

Abstract

Penelitian ini menganalisis representasi perempuan dalam terjemahan film Barbie and The Three Musketeer menggunakan pendekatan teori representasi Stuart Hall (1997) dan Teori penerjemahan Lawrence Venuti (1995). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana perempuan direpresentasikan dalam film baik versi asli maupun dalam terjemahan takarir bahasa Indonesia. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis wacana kritis pada delapan data dialog terpilih dalam film. Hasil analisis menunjukkan bahwa perempuan direpresentasikan sebagai perempuan yang kuat, cerdas, dan mampu menembus batas-batas sosial peran gender yang umumnya didominasi oleh laki-laki dan strategi penerjemahan yang dominan adalah domestikasi, yang meskipun memudahkan pemahaman audiens lokal, cenderung mengurangi kekuatan pesan resistensi dan pemberdayaan perempuan yang ada dalam bahasa sumber. Beberapa makna simbolik dan nada kritik mengalami pelemahan, yang berdampak pada perubahan makna ideologis. Temuan ini menegaskan bahwa penerjemahan tidak hanya berfungsi sebagai pengalih bahasa, tetapi juga sebagai praktik representasi yang sarat nilai dan ideologi.
Analisis Strategi Penerjemahan dalam Buku Petunjuk Alat Pemantau Tekanan Darah Otomatis Nabilah Dewi Ramadhanti; Misyi Gusthini
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 5 No. 1 (2025): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v5i1.1396

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi penerjemahan istilah dan instruksi medis yang digunakan dalam menerjemahkan buku panduan alat pemantau tekanan darah otomatis OMRON HEM-7124 dari bahasa inggris ke bahasa indonesia. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis teks. Data yang dianalisis terdiri dari kalimat dan frasa yang mengandung istilah teknis dan medis, menggunakan teori strategi penerjemahan dari Molina dan Albir (2002). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat enam strategi penerjemahan yang digunakan, yaitu penerjemahan harfiah, peminjaman, reduksi, modulasi, amplifikasi linguistic, dan kalke. Strategi yang paling banyak digunakan adalah penerjemahan harfiah, karena Sebagian besar petunjuk teknis bisa diterjemahkan langsung tanpa mengubah makna dan tetap terdengar alamai dalam bahasa sasaran. Peminjaman istilah digunakan untuk menjaga istilah medis yang tidak memiliki padanan umum dalam bahasa indonesia. Sementara itu, strategi lainnya digunakan dengan selektif sesuai dengan konteks dan kebutuhan pembaca. Temuan ini menunjukkan bahwa menerjemahkan teks teknis memerlukan pemilihan strategi yang tepat agar pesan dapat disampaikan dengan akurat, jelas, dan mudah dimengerti oleh pengguna.
Strategi Penerjemahan Dalam Mengungkap Nuansa Emosional Dan Kultural Lagu 'Chop Suey!' Oleh System Of A Down: Analisis Komparatif Terjemahan Lirik Frida Putri Purgito; Misyi Gusthini
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 5 No. 2 (2025): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v5i2.1560

Abstract

Penelitian ini menganalisis strategi penerjemahan yang digunakan dalam versi bahasa Indonesia lagu "Chop Suey!" karya System of a Down, dengan membandingkan dua pendekatan penerjemahan yang diambil dari blog Cintya Maharani (interpretasilirik.com) dan Yoga (gimanacuk.com). Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana masing-masing penerjemah mempertahankan atau mengadaptasi makna emosional, kultural, dan simbolik yang terkandung dalam lirik aslinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik dokumentasi sebagai metode pengumpulan data. Sumber data terdiri atas lirik lagu asli dan dua versi terjemahan dalam bahasa Indonesia. Analisis dilakukan secara tekstual menggunakan teori strategi penerjemahan dari Vinay dan Darbelnet (1995), didukung oleh prosedur dari Newmark (1988) seperti transposisi, modulasi, adaptasi, dan peminjaman, serta prinsip skopos dari Nord (2018). Untuk meningkatkan validitas, dilakukan triangulasi teori dengan merujuk pada Hatim dan Munday (2019), Mu’in et al. (2024), dan Wilss (1996). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjemahan oleh Cintya Maharani lebih efektif dalam menyampaikan nuansa emosional dan kultural dibandingkan dengan terjemahan oleh Yoga yang cenderung literal. Penelitian ini memberikan kontribusi pada studi penerjemahan lirik lagu, khususnya dalam menunjukkan pentingnya keseimbangan antara kesetiaan makna dan kepekaan terhadap konteks budaya serta emosional dalam proses penerjemahan.
Analisis Strategi Penerjemahan Metafora Dalam Cerpen “Eveline” Karya James Joyce Fienda Putri Arindi; Misyi Gusthini
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v5i3.2009

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi penerjemahan metafora dan jenis metafora yang terdapat pada cerpen “Eveline” karya James Joyce serta terjemahannya dalam bahasa Indonesia untuk memahami bagaimana metafora dialihkan agar pesan dan nuansa emosional dalam teks sumber tetap tersampaikan secara tepat dalam bahasa sasaran. Analisis dilakukan menggunakan teori klasifikasi metafora dan strategi penerjemahan metafora oleh Newmark (1988). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data berupa dua belas metafora yang diidentifikasi dari teks sumber dan padanannya dalam teks terjemahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dua strategi penerjemahan metafora yang digunakan, yakni mereperoduksi imaji yang sama dalam bahasa sasaran dan konversi menjadi makna. Selain itu, ditemukan empat jenis metafora yang meliputi dead metaphor, cliche metaphor, stock metaphor dan original metaphor. Jenis dead metaphor ditemukan sebanyak satu data, cliche metaphor dua data, stock metaphor delapan data dan original metaphor satu data. Strategi yang paling banyak digunakan adalah strategi mereproduksi imaji yang sama dalam bahasa sasaran dengan sembilan data dan strategi konversi menjadi makna dengan tiga data. Staretgi mereproduksi imaji yang sama merupakan strategi yang paling banyak digunakan, sedangkan stock metaphor menjadi jenis metafora yang paling dominan ditemukan dalam cerpen ini.
TINDAK TUTUR DALAM PIDATO SAMBUTAN MENTERI KEUANGAN ‘SRI MULYANI’ (KONVENSI SAINS-TEKNOLOGI 2025) : KAJIAN PRAGMATIK Misyi Gusthini; Risa Fitriyani; Dini Sri Istiningdias
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2090

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi dan makna tuturan yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, yang memberikan sambutan pada Konvensi Sains-Teknologi 2025 di kampus Institut Teknologi Bandung pada 7 Agustus 2025. Dalam pidatonya, terdapat pernyataan yang membuat para pendidik di seluruh Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap momen tersebut, “Banyak yang di media sosial selalu mengatakan, oh menjadi dosen atau guru tidak dihargai karena gajinya tidak besar, apakah semuanya harus keuangan negara? Ataukah ada partisipasi masyarakat?” Tuturan tersebut menimbulkan berbagai interpretasi dari kalangan pendidik maupun non-pendidik sehingga penulis merasa perlu untuk menganalisis secara mendalam makna dari tuturan tersebut. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, penulis menganalisis teks transkripsi pidato Menteri Keuangan dalam Konvensi Sains-Teknologi 2025. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman pola tindak tutur dalam konteks pidato politik formal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 12 data, yang terdiri dari 9 data representatif termasuk representatif-direktif, serta 3 data ekspresif termasuk ekspresif-representatif-direktif. Tindak tutur representatif digunakan untuk menyampaikan pernyataan, serta menginformasikan asal dana pendidikan dari APBN, jumlahnya, dan bagaimana dana tersebut didistribusikan dalam klaster 1, 2, dan 3 beserta tujuan masing-masing. Sementara itu, tindak tutur ekspresif digunakan untuk mengungkapkan sudut pandang pribadi Menteri Keuangan terkait keluhan para pendidik di Indonesia mengenai dana tunjangan kinerja.
A Pragmatics Analysis of Dark Humor In The End of The F***ing World Series Shofa Hanin Assyifa; Misyi Gusthini
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 1 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JANUARI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i1.2180

Abstract

This study examines the characteristics of dark humor in the dialogues of the series The End of The F***ing World, directed by Jonathan Entwisle. Employing a pragmatic approach (Yule, 1996), Attardo’s (1994) General Theory of Verbal Humor (GTVH), and Grice’s (1975) theory of maxim violations, the study investigates how dark humor operates within character interactions. Dark humor is defined as a form of aggressive humor that derives amusement from taboo or sensitive subjects, often serving as both emotional release and social commentary. Data were collected from dialogues and analyzed using descriptive qualitative methods. The findings indicate that character interactions frequently feature hyperbolic and social dark humor to comment on extreme or socially sensitive situations, while deadpan and cynical humor conveys acceptance, resignation, and coping in stressful or unconventional circumstances. Pragmatically, these forms of dark humor serve multiple functions: they act as coping mechanisms, provide social commentary, and allow the expression of complex emotions, such as frustration, empathy, and resignation, in ways that are mutually understood within interactions but may appear ambiguous to outsiders. Overall, the study suggests that dark humor in the series functions not merely as entertainment but as a strategic communicative tool, enabling characters to manage emotional tension, navigate sensitive social issues, and reflect on social and psychological dimensions of their experiences.
Deconstructing Aestheticism in Oscar Wilde’s The Picture of Dorian Gray: Beauty and Moral Corruption Nabila Yuliandini; Dini Sri Istiningdias; Misyi Gusthini
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (Maret)
Publisher : CV Insan Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57248/jishum.v4i3.779

Abstract

This analysis of Oscar Wilde's The Picture of Dorian Gray using an aestheticism approach and decadence theory. This study aims to analyze the representation of aestheticism influenced by the thoughts of Walter Pater and the concept of decadence rooted in the ideas of Charles Baudelaire through the main character Dorian Gray. The method used is a descriptive qualitative analysis of the elements of characterization and symbolism in the novel. The analysis shows that Dorian Gray represents the extreme application of aestheticism, placing beauty, youth, and pleasure as the main goals of life without considering the moral consequences. The separation between Dorian's body, which remains beautiful, and the portrait that bears the inner decay becomes the main symbol of the paradox of aestheticism. From the perspective of decadence, Dorian's life reflects the decline of moral values, the excessive pursuit of pleasure, and the state of "spleen" in the form of boredom and existential emptiness. This study concludes that The Picture of Dorian Gray not only celebrates beauty but also critiques aesthetic life detached from ethical values.