Articles
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN SOCIAL MEDIA FATIGUE SELAMA PEMBELAJARAN DARING PADA MAHASISWA KEPERAWATAN
Komang Suwari;
Putu Ayu Sani Utami;
Nyoman Agus Jagat Raya
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i01.p14
Social media fatigue rentan dialami oleh mahasiswa selama pembelajaran daring yang mengakibatkan dampak buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental seperti depresi, kecemasan, emosi yang tidak stabil, serta penurunan akademik akibat penggunaan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan social media fatigue selama pembelajaran daring pada mahasiswa keperawatan Universitas Udayana. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode study cross sectional. Sampel penelitian menggunakan probability sampling dengan teknik stratified random sampling (n=180). Data dikumpulkan dengan kuesioner Educational Stress Scale for Adolesccents (ESSA), Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) dan Social Media Fatigue Scale (SMFS). Hasil penelitian menunjukkan 156 (86,7%) responden memiliki tingkat social media fatigue sedang. Uji korelasi terhadap social media fatigue menunjukkan karakteristik responden tidak memiliki hubungan (p value usia = 0,999; jenis kelamin = 1,000; IPK = 1,000). Begitupun dengan kualitas tidur (p value = 0,162) dan resiliensi (p value = 0,333). Namun stres akademik memiliki hubungan yang signifikan dengan social media fatigue (p value = 0,001). Social media fatigue dapat dipengaruhi oleh stres akademik yang mengakibatkan mahasiswa cenderung menggunakan media sosial selama proses pembelajaran. Pencegahan social media fatigue dapat dilakukan dengan melakukan kontrol diri seperti self healing dan menggunakan media sosial secara efektif terutama sebagai sarana pembelajaran.
Recreational Activities and Travel Choices of the Elderly
Putu Ayu Sani Utami;
Ni Ketut Guru Prapti
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 2 No 2 (2020): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (466.093 KB)
|
DOI: 10.37287/ijghr.v2i2.135
Recreation is a way to get consolation for the elderly. The aim of this study is to analyze recreational activities and travel choices of the elderly who live in Denpasar city, Bali, Indonesia. The study used a descriptive method. The sample consisted of 100 elderly selected by convenience sampling technique. The data was collected by questionare and analyzed using frequency distribution. The results show that even though Bali is a tourist destination and there is an easy access for the elderly who live in the cities, it does not guarantee they come to every tourist spot, seen from most of the elderly (64%) had never done any recreational activities after entering old age. The main obstacle that prevented the elderly from doing recreational activities was taking care of grandchildren (46%). Characteristics of destination locations for elderly travel choices especially have a calm environment (26.9%). The favorite recreation destination is places of worship (63.9%). After recreation, they felt happy and refreshed (88.8%). Recreation can be a fun entertainment for the elderly in their daily routines activities to reduce boredom, but in recreation they should be accompanied by family and pay attention to the characteristics of their favorite tourist spot.
Pengalaman Berwisata Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia
Putu Ayu Sani Utami
Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta Vol 5 No 3 (2018): SEPTEMBER 2018
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35842/jkry.v5i3.268
Masa lansia rentan dengan kehidupan yang monoton yang disebabkan karena perubahan akibat penuaan, pensiun, menurunnya intensitas sosialisasi. Masa tua menyebabkan lansia memiliki banyak waktu luang dan seringkali tidak ada kegiatan berarti yang dapat dilakukan sehingga menimbulkan kepenatan pada lansia berdampak terhadap menurunkan kualitas hidup. Berwisata dapat menjadi solusi untuk menghilangkan kejenuhan karena memberikan efek relaksasi. Tujuan literature ini adalah mengetahui hubungan antara pengalaman berwisata terhadap kualitas hidup lansia secara keseluruhan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah systematic review. Pencarian literature (2010-2017) pada database artikel ilmiah yaitu Pubmed dan Google schoolar. Data dianalisis dengan kriteria yaitu terdapat nama penulis, tahun, kegiatan yang dilakukan dalam waktu luang, sampel adalah lansia yang pensiun, kualitas hidup yang dipengaruhi, perilaku berwisata. Selain itu pencarian juga dilakukan melalui daftar rujukan yang ada dalam literatur. Berwisata merupakan salah satu cara untuk menghilangkan stress dan memberikan relaksasi pada lansia. Hasil analisis menunjukkan berwisata dapat meningkatkan kualitas hidup lansia yang dilihat dari aspek kesehatan fisik, kesehatan mental, kemampuan sosialisasi, dan penurunan stress. Perjalanan wisata yang dicari lansia adalah aman, kenyamanan akomodasi, dan keindahan alam.selain itu lansia wanita lebih sering berwisata dibanding pria. Berwisata memberikan pengaruh yang positif terhadap kesehatan dan kualitas hidup lansia.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN RESILIENSI LANSIA SELAMA MASA PANDEMI COVID-19
Putra, Gede Rionald Ariwahyu;
Utami, Putu Ayu Sani;
Pramitaresthi, I Gusti Ayu
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 5 (2023): Oktober 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i05.p02
Pandemi Covid-19 merupakan situasi yang rentan menimbulkan berbagai permasalahan yang dapat memicu berkurangnya resiliensi lansia. Kerentanan lansia terhadap berbagai masalah seperti kecemasan dan penyakit selama pandemi menyebabkan lansia membutuhkan dukungan dari orang lain. Keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat dengan lansia selama pandemi. Keluarga menjadi salah satu sumber dukungan penting yang dimiliki lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan resiliensi lansia selama pandemi Covid-19. Desain penelitian adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Responden penelitian berjumlah 33 orang yang didapatkan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen pengambilan data menggunakan kuesioner dukungan keluarga dan Connor Davidson Resilience Scale 10 items. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan nilai correlation coefficient = 0,776 dan p-value = 0,000 (? = 0,05), artinya terdapat hubungan positif dan kuat antara dukungan keluarga dengan resiliensi lansia selama masa pandemi Covid-19. Dukungan keluarga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan resiliensi lansia. Interaksi yang adekuat dan membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari lansia perlu dilakukan keluarga agar lansia tetap merasa diperhatikan dan resiliensi mereka terjaga selama pandemi Covid-19.
Differences in the Nutritional Status of the Elderly with Hypertension in Rural and Urban Areas
Ni Kadek Novi Ansari;
Ni Luh Putu Eva Yanti;
Desak Made Widyanthari;
Putu Ayu Sani Utami
Caring: Indonesian Journal of Nursing Science Vol. 6 No. 2 (2024): Caring: Indonesian Journal of Nursing Science
Publisher : Talenta Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32734/ijns.v6i2.17318
Individuals with excess weight are more likely to experience increased blood pressure compared to those with normal weight. Hypertension is particularly prevalent among the elderly population. Additionally, the living environment whether urban or rural can influence the nutritional status of elderly individuals with hypertension. This study aims to compare the nutritional status of elderly individuals with hypertension residing in rural and urban areas. A quantitative comparative cross-sectional design was employed, and purposive sampling was used to select 152 participants. Data collection included measurements of body weight using digital scales, height or knee height using a stadiometer, and blood pressure using a digital sphygmomanometer. The results, analyzed using an independent t-test, revealed a significant difference in the nutritional status of elderly individuals with hypertension between rural and urban areas (p-value = 0,007), with a mean difference of 1,476. The findings indicate that the nutritional status of elderly individuals in rural areas is better compared to their urban counterparts. This difference is influenced by food intake and physical activity levels. Elderly individuals with hypertension in rural areas tend to consume homegrown foods and agricultural products, contributing to their healthier status. They should continue engaging in physical activities like gardening or farming. In contrast, elderly individuals in urban areas face challenges due to the availability of ready-to-eat or processed foods. It is essential for them to adopt healthier dietary habits and increase physical activity through walking or participating in community-based health programs to improve their nutritional and overall health status.
Legal Protection of Medical Waste Management in Community Health Centers : An Environmental Sustainability Analysis.
Arry Suarthawan, Made;
Jayantari, I Gusti Agung Mas Rwa;
Utami, Putu Ayu Sani;
Arjawa, I Gst Pt Bagus Suka
Journal of Law, Politic and Humanities Vol. 5 No. 4 (2025): (JLPH) Journal of Law, Politic and Humanities
Publisher : Dinasti Research
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38035/jlph.v5i4.1707
This study aims to analyze the regulation of medical waste management in Community Health Centers and its impact on environmental displacement. This study uses a normative legal method with a regulatory approach (statutory approach), contextual (conceptual approach), and analysis (analytical approach). Data sources include regulations, scientific journals, and related literature. The results of the study indicate that although national regulations such as Law Number 18 of 2008 and Minister of Health Regulation Number 7 of 2019 have been implemented, their implementation still encounters obstacles. Factors such as lack of waste management infrastructure, minimal understanding of medical personnel, and weak supervision cause medical waste management to be suboptimal. The impacts include soil, air, and air pollution, as well as the risk of spreading diseases that endanger public health and the environment. Thus, it is necessary to strengthen regulations, improve facilities, and provide effective supervision and training to support environmental demand
The Effect of Puzzle as Health Education Media on Knowledge and Attitude of DHF Prevention Among Trash Warrior Community
Aris Mudariani;
Ni Komang Ari Sawitri;
Indah Mei Rahajeng;
Putu Ayu Sani Utami
Caring: Indonesian Journal of Nursing Science Vol. 5 No. 1 (2023): Caring: Indonesian Journal of Nursing Science
Publisher : Talenta Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32734/ijns.v5i1.12447
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is a significant public health threat that can be controlled by engaging all community groups in preventive measures. Interventions targeting early age are pivotal in improving knowledge and attitudes toward DHF prevention. This study proposes a health promotion strategy using a Puzzle as an educational media targeting the Trash Warrior Community members aged 9-12 years to enhance knowledge and attitudes towards DHF prevention. This was a pre-experimental study with a one-group pretest-posttest conducted from February to March 2023. All Trash Warrior Community members aged 9 – 12 (n=20) were included as respondents. They were given a questionnaire consisting of 13 questions of knowledge and ten statements of attitudes towards DHF prevention before and after the health education. The intervention in this study was health education using puzzles in 5 small groups, each consisting of 4 children. Each group was given 30 minutes to arrange the puzzle. This study shows an improvement of mean value on knowledge for 2.1 points and attitude for 0,75 points. Based on the result of bivariate analysis using the Wilcoxon test, it was found that there was a significant effect of education using puzzle media on knowledge (p=0.000, p<0.05) and attitudes (p=0.045, p<0.05) in preventing DHF among Trash Warrior Community members aged 9-12 years. Health education using puzzles effectively increases children’s knowledge and attitude toward DHF prevention.
ANALISIS BEBAN PENGASUHAN KELUARGA YANG MERAWAT LANSIA DENGAN DEMENSIA
Nyoman Anggun Anggraini Sukma;
Putu Ayu Sani Utami;
Ni Luh Putu Eva Yanti;
Ni Komang Ari Sawitri
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p10
Keluarga merupakan pengasuh utama yang memberikan perawatan pada lansia demensia di rumah. Merawat penderita demensia dipandang sebagai salah satu bentuk perawatan yang sulit dan menegangkan, karena anggota keluarga yang merawat lansia dengan demensia sering mengalami kesulitan saat menghadapi perubahan besar dalam kepribadian dan perilaku lansia, hal tersebut dapat menimbulkan beban psikologis dan ketegangan fisik atau disebut sebagai beban pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran beban pengasuhan pada keluarga yang merawat lansia dengan demensia di Desa Lebih, Gianyar. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah keluarga yang merawat lansia demensia, menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling sejumlah 96 keluarga. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas beban pengasuhan yang dialami keluarga yang merawat lansia demensia berada pada kategori sedikit atau tidak ada sebanyak 53 orang (55,2%), ringan-sedang sebanyak 25 orang (26%), sedang-berat sebanyak 4 orang (4,2%) dan berat sebanyak 14 orang (14,6%). Lansia dengan kategori demensia berat, beban pengasuhan yang mayoritas dirasakan keluarga yaitu kategori berat (83,3%). Beban pengasuhan dapat dialami oleh keluarga, dimana demensia dengan kategori apapun dapat memberikan beban bagi keluarga. Skrining rutin perlu dilakukan bagi lansia untuk mendeteksi dini sebaran demensia, bagi keluarga dapat mencari kegiatan pengalihan peran dan mengoptimalkan dukungan anggota keluarga lain.
PERBEDAAN SUCCESSFUL AGING PADA LANSIA YANG TINGGAL DI PEDESAAN KAWASAN PARIWISATA DAN NON PARIWISATA
Desak Made Novi Andayani;
Ni Luh Putu Eva Yanti;
Kadek Eka Swedarma;
Putu Ayu Sani Utami
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p09
Indonesia memasuki periode aging population. Peningkatan pertumbuhan lansia secara kuantitas belum tentu diikuti dengan peningkatan kualitas hidup. Successful aging merupakan tujuan dari perkembangan tahap akhir pada lansia. Perbedaan pencapaian successful aging salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal lansia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan successful aging pada lansia yang tinggal di pedesaan kawasan pariwisata dan non pariwisata. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatif pada 86 lansia yang tinggal di kawasan pariwisata dan 82 lansia yang tinggal di kawasan non pariwisata yang dipilih melalui proportionate random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner successful aging. Hasil penelitian yang diperoleh dengan uji t tidak berpasangan (tingkat kepercayaan 95%) adalah p-value = 0,004 < 0,05 yang berarti terdapat perbedaan successful aging pada lansia yang tinggal di pedesaan kawasan pariwisata dan non pariwisata. Perbedaan successful aging lansia disebabkan oleh kondisi lingkungan tempat tinggal lansia. Lansia yang tinggal di kawasan pariwisata lebih bersifat individu dibandingkan lansia yang tinggal di kawasan non pariwisata yang lebih berfokus pada aktivitas sosial bermasyarakat. Diharapkan lansia dapat meningkatkan hubungan sosialnya dan lingkungan tempat tinggal lansia dapat menciptakan lingkungan yang positif bagi lansia sehingga lansia mudah dalam beradaptasi.
GAMBARAN PENGETAHUAN PEMANDU WISATA TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN WISATA ALL-TERRAIN VEHICLES (ATV) DI WILAYAH DESA SINGAPADU KALER
Ni Kadek Alya Damayanti;
Ni Luh Putu Eva Yanti;
Ni Komang Ari Sawitri;
Putu Ayu Sani Utami
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p04
Ekowisata dengan menggunakan All-Terrain Vehicles (ATV) memiliki risiko kecelakaan bagi wisatawan seperti terguling, perdarahan, patah tulang, dan pingsan. Pemandu wisata ATV belum pernah mendapatkan pelatihan pertolongan pertama kecelakaan saat berwisata ATV. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan pemandu wisata tentang pertolongan pertama pada kecelakaan pada wisata ATV di wilayah Desa Singapadu Kaler. Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif yang melibatkan 36 responden berdasarkan total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan konsep teori yang ada. Penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan pertolongan pertama pada kecelakaan wisata ATV berada pada ketegori baik 75%, kategori cukup 16,7%, dan kategori kurang 8,3%. Pengetahuan P3K pemandu wisata ATV ada beberapa aspek yang sudah baik dipahami seperti penanganan terjatuh, perdarahan, dan saat pingsan. Namun, ada pengetahuan pemandu wisata ATV yang masih kurang dalam menangani patah tulang. Seluruh pemandu wisata ATV menyatakan belum pernah mendapatkan pelatihan P3K dari petugas kesehatan. Peran perawat komunitas di puskemas diperlukan untuk membuat program promosi kesehatan bagi pelayanan upaya kesehatan kerja di wilayah Desa Singapadu Kaler.