Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Arboreal mammals inventory in Tapos area of gunung Gede Pangrango national park Amin Indra Wahyuni; Ardian Khairiah; Bambang Mulyawan
Bioscience Vol 6, No 1 (2022): Biology
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/0202261114291-0-00

Abstract

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) is a mountainous tropical rain forest ecosystem area that has the potential natural resources of flora, fauna and ecosystems, so inventory is needed to know the existence of a various species and organism community structure in that habitat. This study was aimed to get arboreal mammal inventory data in Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Tapos area and expected to provide scientific data that can be used as a reference for conservation efforts at PTN Tapos. The method used in this study is line transect in Cibayawak and Pasir Banteng track and the activity observation using focal animal sampling method and continued with data descriptive analysis. 5 species of mammal consist Ratufa bicolor, Tupaia javanica, Hylobates moloch, Trachypitecus auratus and Callociurus notatus species were found in this study. 5 mammal species found in Cibayawak track consist of 36 individuals while in Pasir Banteng track, 3 species mammal found consist of 11 individuals. High amount of mammal found in Cibayawak track caused by the availability of feed based on the finding of primate forage trees from species Ficus sp., feeding activity found from Ratufa bicolor and Tupaia javanica, and also availability of water sources in the form of river as water source and as well as a limiting factor.Pusat Taman Nasional (PTN) Tapos merupakan salah satu bidang pengelolaan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang memiliki visi pengembangan konservasi sebagai pusat konservasi hutan hujan tropis yang sinergis dengan pembangunan wilayah dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data inventarisasi primata dan mamalia kecil di kawasan PTN Tapos. Metode yang digunakan adalah line transect di jalur cibayawak dan pasir banteng dan pengamatan perilaku dengan metode focal animal sampling dilanjutkan dengan analisis data secara deskriptif. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data sains yang dapat digunakan sebagai referensi untuk upaya konservasi di PTN Tapos. Dari penelitian ini ditemukan 5 spesies mamalia terdiri dari spesies Ratufa bicolor, Tupaia javanica, Hylobates moloch, Trachypitecus auratus dan Callociurus notatus. Pada jalur cibayawak ditemukan 5 spesies mamalia dengan jumlah mencapai 36 individu sedangkan pada jalur Pasir banteng ditemukan 3 spesies mamalia sejumlah 11 individu. Tingginya jumlah temuan mamalia di jalur cibayawak dikarenakan ketersediaan pakan yang lebih tinggi berdasarkan  temuan pohon pakan primata dari spesies Ficus sp. serta aktivitas makan Ratufa bicolor dan Tupaia javanica. 
Potential Medicinal Plant Species For Fever Used by Minangkabau Ethnic at Nagari Taruang-Taruang, West Sumatra, Indonesia Ardian Khairiah; Nisyawati Nisyawati; Marina Silalahi; Adeel Abdulkarim Fadhel Altuhaish
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 15, No 2 (2022): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v15i2.25261

Abstract

AbstractFever is a symptom of illness that is commonly found in the Minangkabau ethnic community. This way, the Minangkabau ethnic community has local knowledge of utilizing plants to cure fever. The purpose of this study was to obtain species of plants used by the Minangkabau ethnic community in the treatment of diseases with symptoms of fever, as well as their potential as modern medicinal ingredients. The research method was carried out by using the open, semi-structural, and participatory observation techniques. Interviews were conducted with 9 key informants selected by purposive sampling and 126 respondents selected by snowball sampling. Data were analyzed qualitatively with descriptive statistic and quantitatively by calculating the Cultural Significance Index (CSI) and fidelity value. The medicinal plants used were 40 species from 22 families. The most used families were Euphorbiaceae (5 species), Musaceae, and Poaceae (each of 4 species), and Rubiaceae (3 species). Cocos nucifera had the highest CSI value, indicating the species was widely used in Minangkabau community. Based on the value of fidelity, 70% value was obtained by 4 plants to treat fever, namely Costus speciosus, Kalanchoe pinnata, Sacciolepeis interrupta, and Enhydra fluctuans. The four plants have the potential to be further developed into modern medicinal ingredients.AbstrakDemam merupakan gejala sakit yang umum ditemukan pada masyarakat etnis Minangkabau. Masyarakat etnis Minangkabau memiliki pengetahuan lokal dalam memanfaatkan tumbuhan untuk penyembuhan demam. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh jenis tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat etnis Minangkabau dalam pengobatan penyakit dengan gejala demam, serta potensinya sebagai bahan obat modern. Metode penelitian dilakukan dengan teknik wawancara terbuka, semistruktural dan observasi partisipasif. Wawancara dilakukan pada 9 orang informan kunci yang dipilih secara purposive sampling dan 126 orang responden yang dipilih menggunakan snowball sampling. Data dianalisis secara statistika deskriptif dan kuantitatif dengan menghitung nilai kultural (Index of Cultural Significance) dan nilai Fidelitas. Tumbuhan yang obat yang dimanfaatkan sebanyak 40 jenis yang berasal dari 22 suku. Famili terbanyak yang dimanfaatkan yaitu Euphorbiaceae (5 jenis), Poaceae dan Musaceae (masing masing 4 jenis), dan Rubiaceae (3 jenis). Cocos nucifera merupakan tumbuhan obat dengan nilai kultural (CSI) tertinggi. Berdasarkan nilai fidelitas terdapat 4 tanaman yang memiliki nilai 70% dalam penyembuhan demam, yaitu Costus speciosus, Kalanchoe pinnata, Sacciolepeis interrupta, dan Enhydra fluctuans. Keempat tanaman tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan obat modern.
POPULASI DAN SEBARAN MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) DI KAWASAN RESORT PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL TAPOS, TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO Ardian Khairiah; Taqiyuddin Zanki Haidar; Kenni Sondari; Amin Indra Wahyuni; Armar Riliansyah Tamala; Ade Basyuri; Alma Fadilah; Nida Khairun Nisaa; Lingga Heru Prasetio; Hilal Fadlan Ramada; Dinda Rama Haribowo; Puji Gantina
BIO EDUCATIO : (The Journal of Science and Biology Education) Vol 7, No 2 (2022): Bio Educatio : The Journal of Science and Biology Education
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.3 KB) | DOI: 10.31949/be.v7i2.4179

Abstract

Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) telah mengalami penurunan cukup tajam dikarenakan beberapa faktor, salah satunya adalah perburuan langsung di habitat alaminya untuk diperdagangkan dan dibunuh sebagai hama. Kawasan hutan Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Tapos merupakan salah satu habitat Monyet Ekor Panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan populasi dan sebaran Monyet Ekor Panjang di kawasan Resort PTN Tapos. Pengumpulan data populasi dilakukan dengan metode transek jalur sepanjang 1000m pada pukul 08.00 – 16.00, dan pengumpulan data sebaran dilakukan melalui titik koordinat lokasi hasil perjumpaan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis). Analisis data populasi menggunakan persamaan King’s method, sedangkan titik koordinat yang telah terkumpul ditampilkan dalam bentuk peta sebaran menggunakan ArcGIS 10.8 kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan estimasi populasi tertinggi berada di blok hutan Pasir Koja jalur atas sebanyak 47,03 individu/ha dengan kepadatan populasi sebesar 4,70 individu/ha. Sedangkan, hasil terendah terdapat di blok hutan Pasir Beunyeng pada jalur atas dengan estimasi populasi sebanyak 2,73 ind/ha dan kepadatan populasinya 0,27 individu/ha. Pada blok hutan Pasir Koja, Monyet Ekor Panjang paling banyak ditemukan pada wilayah PTN Tapos. Namun, terdapat dua lokasi Monyet Ekor Panjang yang ditemukan diluar wilayah PTN Tapos. Sedangkan pada blok hutan Pasir Beunyeng lokasi temuan Monyet Ekor Panjang berada diluar area wilayah PTN Tapos
Diversity of Long-tailed Macaque Food Trees (Macaca fascicularis) at The Tapos National Park Management Resort Area, Mount Gede Pangrango National Park Dinda Rama Haribowo; Ardian Khairiah; Ence Maman; Dia Kurnia Alam; Hilal Fadlan Ramada; Indi Pitria Damayanti; Nida Khairun Nisaa; Salwa Fakhirah Alayafi; Rizky Reza Vahlevi; Feby Irfanullah; Lingga Heru Prasetio
Jurnal Biologi Tropis Vol. 23 No. 3 (2023): July - September
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v23i3.5035

Abstract

: Long-tailed macaque (LTM) are arboreal primates which have an ecological function as seed dispersers and as controllers of insect populations in their habitat. LTM populations were found in the Tapos National Park Management Resort forest area, MGPNP. The existence of food trees greatly influences the existence and activity of LTM, so knowledge about the diversity of LTM food trees in the Tapos National Park Management Resort area is very important to do. This research aims to determine the level of species dominance in the plant community and diversity of LTM food trees in the Pasir Koja and Pasir Beunyeng Forest Blocks, Tapos Management Resort Area.  Data collection on LTM food trees was carried out using the grid line method of vegetation analysis. Data processing was carried out by calculating the importance value index (IVI) of food tree vegetation and calculating the diversity index (H') of food tree species. The results showed that the highest IVI value in the Pasir Koja forest block was Bamboo (Bambusa sp.) with a value of 106.76%, while Ki acret (Spathodea campanulata) had the lowest IVI value of 10.65%. Meanwhile, the highest IVI value in the Pasir Beunyeng forest block was Kaliandra (Calliandra surinamensis) with an IVI of 166.60%, while reed bamboo (Gigantochloa atter) had the lowest IVI value of 17.62%. The food tree species diversity index in the Pasir Koja and Pasir Beunyeng forest blocks is categorized as low.
Kualitas dan Status Nutrien Perairan Curug di Kawasan Resort Tapos, Bogor Ardian Khairiah; Dinda Rama Haribowo; Ahmad Zulfikar Wicaksono; Alfan Farhan Rijaluddin; Firdaus Ramadhan; Arrum Sekar Diningrum; Ratih Mayangsari; Taqiyuddin Zanki Haidar
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 3 (2024): May 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.3.580-588

Abstract

Curug di kawasan Resort Tapos Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ini merupakan air terjun alami yang alirannya mendukung fungsi utama dalam ekosistem yaitu sebagai habitat dan sumber air untuk biota di sekitar perairan dan masyarakat sekitar kawasan, sehingga perlu diketahui kualitas airnya. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis kualitas perairan berdasarkan kondisi kimia fisik perairan (WQI), bakteri coliform (TC dan EC) dan fitoplankton (Komposisi dan struktur komunitas). Status nutrien juga diamati dalam penelitian ini menggunakan perhitungan indeks fitoplankton (X dan In). Berdasarkan kondisi kimia fisik, kedua perairan pada kawasan Resort Tapos sesuai untuk pertumbuhan fitoplankton dan tidak menunjukkan adanya cemaran. Berdasarkan nilai WQI, kedua perairan terkategori sangat baik, namun ditemukan adanya cemaran bakteri Coliform dan E.Coli. Kelimpahan fitoplankton total kedua perairan (212-812 ind/l) yang terdiri dari 5 filum, 7 kelas dan 21 jenis. Komunitas fitoplankton kedua perairan (H’: 1.16-2.61; J’: 0.38-0.72; D: 0.13-0.55). Ditemukan adanya dominansi di LBC karena arus air. Status nutrien kedua perairan (X: β-meso/oligosaprobic; In: Oligotrofik), hal ini menunjukkan cemaran ringan dan rendah kadar nutrien. Berdasarkan uji korelasi Pearson, parameter DO berkorelasi sangat tinggi dengan indeks kualitas perairan dengan arah positif.
Respon Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza sativa L.) Pada Kombinasi Pupuk Organik Granular dan Anorganik Ardian Khairiah; Sulyanah Sulyanah; Dasumiati Dasumiati
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 17, No 1 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i1.35754

Abstract

AbstrakPenggunaan pupuk anorganik dalam budi daya tanaman yang berlebihan dapat mengakibat kerusakan lingkungan. Pemberian Pupuk Organik Granul (POG) diharapkan dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik sekaligus meningkatkan produksi padi Galur Mukti Padi (GMP) 04. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi penggunaan POG dan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan dan produksi padi GMP 04, dan memperoleh dosis POG yang dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) split plot dua faktor. Faktor pertama dosis POG (0, 70, dan 140 g/m2) dan faktor kedua dosis pupuk anorganik (0, 25, 50, dan 100% dari dosis rekomendasi). Data dianalisis dengan uji ANOVA menggunakan aplikasi SAS. Hasil menunjukkan pemberian POG dosis 70 g/m2 dan 140 g/m2 berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi padi GMP 04 (P <0,05). Perlakuan POG 140 g/m2 menghasilkan persentase gabah isi tertinggi. Kombinasi antara POG dan pupuk anorganik berpengaruh nyata pada parameter jumlah gabah isi/malai, bobot kering/rumpun dan bobot 500 bulir/rumpun (P <0,05). Perlakuan POG 70 g/m2+pupuk anorganik 100% menghasilkan jumlah gabah isi/malai, bobot kering/rumpun, dan bobot 500 bulir/rumpun yang lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Penambahan POG belum mampu  mengurangi penggunaan pupuk anorganik, namun dapat memaksimalkan pertumbuhan dan produksi padi GMP 04 pada dosis 70 g/m2.AbstractExcessive use of inorganic fertilizers in plant cultivation can result in environmental damage. The provision of Granulated Organic Fertilizer (POG) is expected to reduce the use of inorganic fertilizer while increasing production of Mukti Padi (GMP) 04 rice strains. The research aims to determine the effect of the combination of using POG and inorganic fertilizer on the growth and production of GMP 04 rice, and to obtain the correct dose of POG. can reduce the use of inorganic fertilizers. The research used a split plot randomized block design (RAK) with two factors. The first factor is the dose of POG (0, 70, and 140 g/m2) and the second factor is the dose of inorganic fertilizer (0, 25, 50, and 100 of the recommended dose). Data were analyzed using the ANOVA test using the SAS application. The results showed that giving POG doses of 70 g/m2 and 140 g/m2 had an effect on the growth and production of GMP 04 rice (P<0.05). Treatment G2 (140 g/m2) produced the highest percentage of filled grain. The combination of POG and inorganic fertilizer had a significant effect on the parameters of number of filled grains/panicle, dry weight/clump and weight of 500 grains/clump (P<0.05). The G1A3 treatment (70 g/m2, 100%) produced a higher number of filled grains/panicles, dry weight/clump, and weight of 500 grains/clump than other treatments. The addition of POG has not been able to reduce the use of inorganic fertilizer, but it can maximize the growth and production of GMP 04 rice at a dose of 70 g/m2.
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kale (Brassica oleracea L. var. acephala) Pada Sistem Hidroponik Deep Flow Technique dengan Penambahan Pupuk Organik Cair Dasumiati Dasumiati; Mutiara Marhaban Siregar; Ardian Khairiah; Junaidi Junaidi
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 17, No 1 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i1.35563

Abstract

 AbstrakKale merupakan tanaman hortikultura yang kaya antioksidan, karotenoid, dan antosianin. Kale dapat dibudidayakan secara hidroponik dengan menggunakan AB mix sebagai pupuk, namun nutrisinya sering mengendap di dasar bak sulit terserap oleh akar. Penambahan Pupuk Organik Cair (POC) yang disemprotkan ke daun diharapkan dapat menjadi nutrisi tambahan bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon pertumbuhan dan produksi tanaman kale terhadap penambahan POC pada sistem hidroponik Deep Flow Technique (DFT). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan, yaitu dosis POC (0; 10; 20; 30; dan 40 mL/L). POC disemprotkan ke daun setiap minggu sejak hari ke-0 sampai 35 hari setelah tanaman. Analisis data menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Penambahan POC berpengaruh nyata pada pertumbuhan tanaman kale (P <0,05), yaitu POC konsentrasi 10 mL/L dapat meningkatkan panjang akar tanaman (41,25 cm) dan berpengaruh tidak nyata terhadap parameter lainnya seperti tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat basah, dan kering tanaman serta berat layak konsumsi. Namun, tanaman kale yang disemprot POC memiliki nilai rata-rata semua parameter lebih tinggi dari kontrol (0 mL/L). Perlakuan POC 10 mL/L memiliki rata-rata parameter pertumbuhan dan produksi lebih tinggi dari yang lainnya, sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kale pada sistem hidroponik DFT.AbstractKale is a horticultural plant that is rich in antioxidants, carotenoids and anthocyanins. Kale can be cultivated hydroponically using AB mix as fertilizer, but the nutrients often settle at the bottom of the tub and are difficult for the roots to absorb. The addition of Liquid Organic Fertilizer (POC) which is sprayed through the leaves is expected to provide additional nutrition for plants. This research aims to analyze the growth and production response of kale plants to the addition of POC in the Deep Flow Technique (DFT) hydroponic system. The study used a randomized block design with 5 treatments, namely POC doses (0; 10; 20; 30; and 40 mL/L). POC is sprayed on the leaves every week from day 0 to 35 days after planting. Data analysis used analysis of variance (ANOVA) and further DMRT test at the 5% level. The addition of POC has a significant effect on the growth of kale plants (P <0.05), namely POC concentration of 10 mL/L can increase plant root length (41.25 cm) and has no significant effect on other parameters such as plant height, number of leaves, stem diameter. , wet and dry weight of the plant and weight suitable for consumption. However, kale plants sprayed with POC had an average value of all parameters higher than the control (0 mL/L). The 10 mL/L POC treatment has higher average growth and production parameters than the others, so it has the potential to increase the growth and production of kale plants in the DFT hydroponic system.
Inorganic Fertilizer Efficiency Using Liquid Organic Fertilizer on Peanut Growth and Production (Arachis hypogaea L.) Dasumiati, Dasumiati; Nurrahmah, Annisa; Khairiah, Ardian; Junaidi, Junaidi; Altuhaish, Adeel Abdulkarim Fadhl
El-Hayah:Jurnal Biologi Vol 10, No 1 (2024): EL-HAYAH (VOL 10, NO 1 September 2024)
Publisher : Program Study of Biology, Science and Technology Faculty, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/elha.v10i1.28962

Abstract

Fertilization is important in increasing crop production. The use of liquid organic fertilizer (LOF) in addition to inorganic fertilizer in crop cultivation is expected to reduce the use of inorganic fertilizer and increase growth and production. The research aimed to determine the effect of LOF on peanut growth and production and to obtain the right dose to reduce the use of inorganic fertilizer doses. The research used a factorial Randomized Group Design (RGD) with two factors. The first factor was LOF dose (0, 3, 5, and 7 ml/L/Plot) and the second factor was inorganic fertilizer dose (0, 25, 50, and 100% of the recommended dose). Data analysis using ANOVA and DMRT. The results showed that the dose of LOF had a very significant effect (P0.01) on plant height, number of leaves, leaf area, number of filled pods, and total number of pods. The best dose in improving all these parameters was LOF 3 ml/L/Plot. The combination treatment of LOF and inorganic fertilizer had a very significant effect (P0.01) on the number of filled pods, but not significant effect (P0.05) on other parameters. The best combination of LOF dose and inorganic fertilizer was C1A1 (3 ml/L/Plot LOF + 25% Inorganic) which produced almost the same number of filled pods as C0A2 (0 ml/L/Plot LOF + 50% Inorganic), and higher than other treatments. The C1A3 treatment also produced higher fresh pod weight and dry pod weight than the other treatments. The application of LOF 3 ml/L/Plot + 25% inorganic fertilizer from the recommended dose can increase peanut production, and can reduce the use of inorganic fertilizer by 75%.
Keanekaragaman dan Potensi Pemanfaatan Tumbuhan Paku di Kawasan Tapos, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Ramadhani, Lidia Anggita; Haribowo, Dinda Rama; Khairiah, Ardian; Wulandari, Ainun; Hindrayani, Woro; Aminudin, Iwan; Putra, Anis Fuady Surya; Fadly, Iqbal Faraidlika; Vahlevi, Rizky Reza
Bioma : Berkala Ilmiah Biologi Vol. 25 No 2, Tahun 2023
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/bioma.2023.58621

Abstract

Kawasan resort Tapos Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan daerah yang masih alami dan rendah aktivitas manusia sehingga informasi mengenai flora di dalamnya belum banyak dilaporkan. Salah satunya adalah tumbuhan paku yang memiliki banyak manfaat. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai jenis tumbuhan paku dan potensi pemanfaatannya di kawasan tersebut. Pengambilan sampel tumbuhan paku dilakukan dengan metode jelajah (Cruise Method) sepanjang jalur. Berdasarkan hasil diperoleh 34 jenis paku yang tergolong dalam 18 famili pada kedua lokasi. Terdapat 22 jenis paku yang termasuk dalam 15 famili di Cibayawak (CB) dan terdapat 15 jenis paku yang termasuk dalam 8 famili di Lebak Bumi Ciherang (LBC). Beberapa jenis tumbuhan paku yang ditemukan memiliki potensi yang bisa dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi. Kondisi abiotik di kedua lokasi masih mendukung keberadaan jenis tumbuhan paku.
Aktivitas Makan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional Tapos, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Iffatalya, Hana; Haribowo, Dinda Rama; Khairiah, Ardian; Pirmansyah, Fitra; Rijal, Ahmad; Wahyuni, Amin Indra; Haidar, Taqiyuddin Zanki; Basyuri, Ade; Sondari, Kenni; Sopiah, Wanda; Zidny, Faqih Fathurahman; Wulandari, Salsabila Ratna
Bioma : Berkala Ilmiah Biologi Vol. 25, No 1, Tahun 2023
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/bioma.25.1.60-73

Abstract

Monyet ekor panjang (MEP) memiliki peran dalam meregenerasi hutan, salah satunya melalui aktivitas makan. Resort PTN Tapos merupakan salah satu habitat MEP yang lokasinya berdekatan dengan pemukiman warga sehingga dapat mempengaruhi aktivitas makan MEP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas makan MEP yang meliputi aktivitas yang sering dilakukan, aktivitas makan berdasarkan waktu, usia, serta jenis pakan yang dimakan oleh MEP pada dua lokasi pengamatan, yaitu Blok Hutan Pasir Beunyeng (PB) dan Pasir Koja (PK). Pengamatan aktivitas MEP menggunakan metode instantaneous scan sampling dan disajikan dalam bentuk persentase. Aktivitas makan MEP yang teramati di Blok PB sebesar 10,92%, sedangkan di blok PK sebesar 21,72%. Aktivitas waktu makan MEP di blok PB tertinggi pada sore hari 71,43%, sedangkan di blok PK tertinggi pada pagi hari 76,92%. Aktivitas makan MEP berdasarkan usia di blok PB tertinggi pada remaja 53,85%, sedangkan di blok PK tertinggi pada remaja 41,07%. Kelompok MEP di blok PB lebih memilih jenis pakan daun Calliandra sp. sebesar 76,92%, sedangkan MEP di blok PK lebih memilih jenis pakan daun Bambusa sp. sebesar 39,29%. Sumber pakan MEP di habitatnya terus berkurang disebabkan peralihan fungsi lahan sehingga pergerakan MEP cenderung memasuki perkebunan penduduk sekitar.