Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Peningkatan pengetahuan tentang penanganan fraktur pra hospital pada Siswa SMA Negeri 5 Kota Bengkulu dengan metode demonstrasi Imron Rosyadi; Yusran Hasymi; Nova Yustisia; Bardah Wasalamah; Esti Sorena; Desi Susilawati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.36144

Abstract

AbstrakKondisi gawat darurat pada anak usia SMA memiliki potensi yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan anak usia SMA memiliki aktivitas yang sangat tinggi di luar rumah. Kondisi gawat darurat seperti fraktur dapat menimpa siswa SMA saat berada di sekolah. Sehingga kemampuan untuk melakukan pertolongan pertama pada saat kejadian sangat dibutuhkan. SMA Negeri 5 Kota Bengkulu terletak di pusat Kota Bengkulu dengan lalu lintas yang cukup padat. Hal ini menjadi faktor yang kuat bagi pengabdi untuk memilih SMA Negeri 5 menjadi lokasi pengabdian masyarakat. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang penanganan fraktur pra hospital dengan menggunakan metode demonstrasi dengan diawali penyuluhan kesehatan. Peserta pengabdian masyarakat adalah siswa kelas XI yang berjumlah 50 orang. Metode pelaksanaan yang dilakukan adalah dengan memberikan pretest terlebih dahulu. Selanjutnya pengabdi memberikan edukasi kesehatan dan demonstrasi penanganan fraktur pada peserta. Setelah itu pengabdi memberikan posttest untuk mengukur tingkat pemahaman siswa dalam menangani fraktur. Hasil yang didapatkan adalah adanya peningkatan skor pengetahuan siswa. Rerata nilai pretest adalah 75 dan rerata nilai posttest adalah 85. Hasil pengabdian ini menunjukkan pemberian edukasi kesehatan dan metode demonstrasi efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa SMA dalam memberikan pertolongan gawat darurat pra hospital pada korban yang mengalami fraktur. Kata kunci: fraktur; pra hospital; edukasi kesehatan; demonstrasi AbstractEmergency conditions in high school students have a high potential. This is because high school students have very high activities outside the home. Emergency conditions such as fractures can occur to high school students while at school. Therefore, the ability to provide first aid at the time of the incident is crucial. State Senior High School 5 in Bengkulu City is located in the center of Bengkulu City with heavy traffic. This is a strong factor for volunteers to choose State Senior High School 5 as the location for community service. The aim of this community service is to improve students' understanding of pre-hospital fracture management using a demonstration method preceded by health education. The participants of the community service are 50 students in grade XI. The implementation method includes conducting a pretest first. Then, the volunteers provide health education and demonstrate fracture management to the participants. After that, a posttest is given to measure the students' level of understanding in handling fractures. The results show an increase in students' knowledge scores. The average pretest score is 75 and the average posttest score is 85. This community service project demonstrates that health education and demonstration methods are effective in improving high school students' understanding of providing pre-hospital emergency assistance to victims with fractures. Keywords: fracture; pre-hospital; health education; demonstration
Pengaruh Penerapan Model Charting By Exception (CBE) Terhadap Nilai Interdialytic Weight Gain (IDWG) Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisa di RS Harapan dan Doa Kota Bengkulu Bardah Wasalamah; Nova Yustisia; Encik Putri Ema Komala; Titin Aprilatutini
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.37492

Abstract

Hemodialisa (HD) merupakan terapi pengganti ginjal yang paling banyak dijalani oleh pasien PGK di Indonesia dengan persentase sebesar 82%. Pembatasan cairan merupakan regimen yang paling sulit untuk dijalani oleh pasien HD yang menyebabkan terjadinya peningkatan nilai Interdilytic Weight Gain (IDWG) dengan berbagai komplikasi pada berbagai sistem tubuh. Pembatasan cairan menjadi faktor utama yang menyebabkan masalah paling sering pada pasien HD. Penerapan model Charting by Exception (CBE) merupakan salah satu metode inovatif yang dapat dilakukan oleh pasien secara mandiri dalam melakukan monitoring cairan. Diharapkan akan memberikan dampak positif terhadap kontrol nilai IDWG sebagau marker onjektif dari kepatuhan pembatasan cairan. Penelitian bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh penerapan model Charting by exeption  (CBE) terhadap nilai Interdialytic Weight Gain (IDWG) pasien yang menjalani hemodialisa. Desain penelitian ini adalah quasy experiment pre and post-test with control group design. Penelitian dilakukan di RS Harapan dan Doa Kota Bengkulu dengan melibatkan 52 responden. Responden dibimbing melakukan monitoring cairan menggunakan My hemodialysis Journal yang telah dikembangkan berdasarkan teori model dokumentasi CBE oleh peneliti. IDWG diukur secara konsisten selama 1 bulan atau delapan kali Hemodialisa. Penerapan model CBE secara signifikan dapat menurunkan nilai Interdialytic Weight Gain (IDWG) pasien Hemodialisa dengan p-value 0,021. Penurunan nilai IDWG pada kelompok intervensi lebih tinggi dengan rata-rata nilai IDWG adalah 1,96 dibandingkan kelompok kontrol 2,42 setelah diberikan intervensi.
Exploring Ageism: The Lived Experiences of Older Adults in Community Settings, Bengkulu City, Indonesia Nova Yustisia; Titin Aprilatutini; Encik Putri Ema Komala; Bardah Wasalamah; Desi Dwi Siwi Atika Dewi; Mahmasoni Masdar
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 9 No. 4 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v9i4.8868

Abstract

Introduction: Ageism poses a serious threat to healthy aging and remains under-researched in low- and middle-income countries. In Indonesia cultural traditions emphasize deference to elders through rituals and honorific language. At the same time, older adults often find themselves sidelined when real decisions are made in families and community groups. This stark contrast between symbolic respect and practical exclusion necessitates a more in-depth examination of the mechanisms of ageism in daily life and the responses of elderly individuals to it. This study examined the ways in which ageism affects elders in Bengkulu City, Indonesia, and how they actively resist its impact. Methods: This study is a qualitative phenomenological design using in-depth semi-structured interviews that are analyzed using Colaizzi’s seven-step method. Interview transcripts were analyzed using Colaizzi's seven-step method. Purposive sampling was used to determine the participants. The total number of participants involved was 20 people aged 61-75 years (mean = 67.75, SD = 3.78), with the majority of respondents being female in Bengkulu City, Indonesia (June–September 2024). Trustworthiness increased by credibility, dependability, transferability, and confirmability. Results: This study produced four primary themes and sixteen sub-themes. Elders are venerated symbolically yet marginalized in home and community decision-making processes. Secondly, numerous individuals embrace silence and emotional suppression as a reaction to internalized ageist beliefs. Third, ageism connects with gender and socioeconomic disadvantage, exacerbating marginalization, especially for older women who serve as caretakers. Their aspirations for dignified aging highlight the necessity for dependable income, accessible healthcare, and legal protections against ageism. Conclusion: Addressing ageism in this context requires action at multiple levels. Practitioners and policymakers should empower older adults in decision-making, promote intergenerational dialogue, design gender-sensitive social protections, integrate spiritual support into elder services, and introduce robust anti-ageism legislation. By moving beyond ceremonial respect to genuine inclusion, societies can honor older adult’s contributions and ensure their dignity.