Claim Missing Document
Check
Articles

PERSEBARAN SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT DAN MINERAL LOGAM DI PERAIRAN SAUMLAKI DAN SEKITARNYA, KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT, PROVINSI MALUKU Agus Didit Haryanto,Hersenanto Catur,Widiatmoko, Muhammad Aditio,Johanes Hutabarat,
Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.386 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v2i1.15593

Abstract

Banyak daerah yang memiliki sumber mineral yang belum diketahui terutama wilayah pesisir dan laut.Penelitian ini dilakukan sebagai upaya mengetahui persebaran sedimen dasar laut dan mineral yangterkandung di Perairan Saumlaki-Latdalam dan sekitarnya, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, ProvinsiMaluku. Maksud penelitian yaitu mengumpulkan dan menginventarisasi data dasar geologi kelautan,khususnya sedimen permukaan dasar laut dengan tujuan mengetahui jenis dan sebaran sedimenpermukaan dasar laut. Sampel pasir diuji laboratorium menggunakan analisis mineralogi butir dan analisisAtomic Absorption Spectroscopyuntuk mengetahui kandungan mineralnya. Hasil analisis besar butirmenunjukkan bahwa sedimen permukaan dasar laut perairan Saumlaki-Latdalam terdiri atas satuanlempung, satuan pasir halus, satuan pasir kasar, satuan pasir biogenik (terumbu karang).Peta sebaransedimen permukaan dasar laut yang dihasilkan menunjukkan bahwa sedimen permukaan dasar lautkecenderungan menghalus ke arah laut. Berdasarkan dari hasil analisis yang telah dilakukan, daerahpenelitian memiliki potensi mineral, terutama mineral logam. Hasil analisis mineral butir ditemukanbanyak mineral-mineral yang mengandung Fe seperti, siderite, magnetit, hematit, limonit, dan ilmenit.Dengan analisis AAS kandungan unsur Fe cukup tinggi dibanding dengan unsur yang lain. Penelitian inimemperlihatkan potensi tertinggi adalah mineral besi. Tinggi rendahnya sumber daya mineraldipengaruhi besarnya kadar mineral itu sendiri dan luas penyebaran mineral tersebut. Kata Kunci : mineral logam, saumlaki, sedimen dasar laut
POLA ALIRAN AIR PANAS BUMI DAERAH BITTUANG, KABUPATEN TANA TORAJA, SULAWESI SELATAN MENGGUNAKAN METODE DENSITAS KELURUSAN DAN GEOINDIKATOR AIR PANAS Johannes Hutabarat, Prasetya Ikra P, Agus Didit Haryanto,
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1720.168 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23197

Abstract

Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan memiliki kondisi geologi yang mungkin terpengaruh oleh sistem panas bumi. Pada suatu sistem panas bumi terdapat zona upflow dan outflow. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui zona upflow dan outflow sistem panas bumi daerah Bittuang. Metode yang digunakan yaitu pembuatan peta densitas kelurusan menggunakan metode Fault Fracture Density, serta perbandingan beberapa unsur geoindikator yaitu Na/K, Cl / SO4, SO4 / HCO3 dan Cl / [Na/K]. Pada daerah penelitian didapat 2489 kelurusan punggungan dan lembahan dengan trend dominan timurlaut - baratdaya, dapat dikelompokkan tiga kelas densitas, yaitu Densitas Rendah dengan nilai densitas < 29000 m/km2, Densitas Sedang dengan nilai densitas 29000 – 34000 m/km2, dan Densitas Tinggi dengan nilai densitas > 34000 m/km2. Perbandingan rasio geoindikator menunjukkan zona upflow berada di baratdaya dari sumber panasnya yaitu Gunungapi Karua. Pada daerah penelitian, air panas mengalir ke arah baratdaya dari Gunungapi Karua, kemudian masuk ke zona upflownya dimana pada zona ini memiliki permeabilitas dan gradien suhu bawah permukaan yang paling tinggi. Air panas dari zona upflow kemudian mengalir lateral ke baratdaya - selatan ke zona outflow. Pada zona lateral flow ditemukan manifestasi berupa air panas kelompok Balla (APB-1, APB-2, dan APB-3) sedangkan pada zona outflow ditemukan manifestasi berupa air panas kelompok Cepeng (APC-2 dan APC-2)Kata Kunci: Panas Bumi Bittuang; Densitas Kelurusan; Outflow; Upflow; Geoindikator 
HIDROGEOKIMIA AIR MANIFESTASI PANAS BUMI DI DAERAH CISOLOK – CISUKARAME, KABUPATEN SUKABUMI, PROVINSI JAWA BARAT M. Sidiq Alamsyah,Agus Didit Haryanto,Mega Fatimah Rosana, Mohamad Reza Abdillah,Muhammad Aditio,
Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1497.235 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v1i3.15087

Abstract

Identifikasi hidrogeokimia manifestasi panas bumi dilakukan sebagai pendugaan potensi sistem panas bumi di daerah Cisolok – Cisukarame. Analisis geokimia kation-anion, analisis isotop, dan analisis petrografi guna mengetahui kondisi geologi dan manifestasi panas bumi. Hasil penelitian menunjukkan wilayah Cisolok – Cisukarame merupakan sistem panas bumi tipe vulkanik, dengan pemunculan manifestasi aliran lateral berupa air klorida dan sulfat klorida. Pemunculan manifestasi diakibatkan oleh struktur geologi sesar normal yang berkembang berarah Utara – Selatan. Manifestasi panas bumi yang hadir berupa mata air panas, geyser, kubangan lumpur panas, steaming ground, kolam air panas, deposit fosil travertin dan sinter silika yang berasosiasi dengan aktivitas hidrotermal saat ini. Hal tersebut menggambarkan kondisi reservoar sistem dua fasa dominasi air. Geothermometer panas bumi Cisolok – Cisukarame berkisar  150 – 214 C, dengan  nilai hilang panas alamiah  19,6 MW. Sistem panas bumi Cisolok-Cisukarame dikategorikan sebagai sistem panas bumi bertemperatur sedang dengan sistem reservoar dominasi air berjenis air meteorik. Kata kunci : Cisolok – Cisukarame, Hidrogeokimia, Manifestasi Panas Bumi
ZONASI ALTERASI PADA TAMBANG TERBUKA GRASBERG PB9S3, KABUPATEN MIMIKA, PAPUA Agus Didit Haryanto, Firman Sumarwan, Kurniawan, Yonathan Kristiawan B, Mega F. Rosana,
Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1814.165 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v2i3.17255

Abstract

Daerah penelitian secara administratif berada di Distrik Grasberg, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Metoda yang digunakan dalam penelitian yaitu pemetaan lapangan pada tambang terbuka Grasberg dengan meninjau aspek-aspek keselamatan, analisa petrografi menggunakansayatan tipis, dan analisa spectral device, dengan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik alterasi yang berkembang di tambang terbuka Grasberg. Litologi daerah penelitian dikelompokan menjadi dua, yaitu Intrusi Andesit Fragmental dan Intrusi Diorit. Alterasi yang berkembang pada daerah penelitian dibedakan atas alterasi kuarsa-biotit-magnetit-anhidrit, alterasi kuarsa, alterasi k-feldspar-biotit-kuarsa-anhidrit, alterasi kuarsa-biotit-aktinolit-anhidrit.Kata Kunci : Alterasi, Grasberg, Intrusi
IMPLICATION OF FRACTURE DENSITY ON UNSERPENTINIZED ULTRAMAFIC ROCKS TOWARD CHARACTERISTICS OF SAPROLITE ZONE IN SOROWAKO, SOUTH SULAWESI Wibowo, Setiyo; Rosana, Mega Fatimah; Haryanto, Agus Didit
Bulletin of Scientific Contribution Vol 15, No 2 (2017): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v15i2.13375

Abstract

ABSTRACTUsage of nickel-containing materials has increased over time in accordance with economic growth. The largest worldwide nickel resources occur in surface laterite deposits that have formed during chemical weathering of ultramafic rocks where the area that represent one of largest nickel reserves in Indonesia is Sorowako. This study aims to identify the characteristics of saprolite zone on unserpentinized ultramafic-hosted of nickel laterite deposit in Sorowako. Based on depth profile of nickel content in lateritic deposit, it is known that the Ni grades reach a maximum in saprolite zones so that identification of factors affecting the characteristics of saprolite zone is indispensable. Fracture density on ultramafic bedrocks played the important roles during laterisation and each fractures density type has the implication toward the saprolite zones. By classification of fracture density, high to medium fractured types of bedrocks indicated the thick saprolite zone while the low to unfractured types are thinner. Saprolite zones of high to medium fractured type are more silicified than others due to the originality of silica accumulation occupied along opening fractures and joints. High silica content which is commonly present on lower layer of saprolite zone should to be aware especially when the Ni grade still above the cut-off which potentially affected to ore grade dilution. ABSTRAKPenggunaan material berbahan nikel telah mengalami peningkatan dari waktu ke waktu seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Sumberdaya nikel terbesar di dunia terjadi pada endapan laterit di permukaan yang terbentuk selama proses pelapukan kimiawi dari batuan ultramafik dimana salah satu lokasinya dengan tingkat cadangan nikel terbesar di Indonesia berada di Sorowako. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik zona saprolit endapan nikel laterit pada batuan ultramafik tak terserpentinisasi di Sorowako. Berdasarkan profil kedalaman terhadap kandungan nikel pada endapan laterit, telah diketahui bahwa kadar Ni mencapai maksimum dalam zona saprolit sehingga identifikasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik zona saprolit sangat diperlukan. Densitas rekahan pada batuan ultramafik berperan penting selama proses lateritisasi dan setiap tipe densitas rekahan memiliki implikasi terhadap zona saprolit. Melalui klasifikasi densitas rekahan, tipe rekahan berdensitas tinggi hingga sedang pada batuan dasarnya mengindikasikan zona saprolit yang tebal sedangkan zona saprolit pada tipe densitas rekahan rendah hingga tanpa rekahan lebih tipis. Zona saprolit dengan tipe rekahan tinggi hingga sedang lebih tersilisifikasi dibandingkan dengan tipe lainnya disebabkan oleh akumulasi alamiah dari silika yang bertempat di sepanjang bukaan rekahan atau kekar. Kandungan silika tinggi yang umumnya terdapat di lapisan bawah zona saprolit seharusnya diwaspadai terutama ketika kadar Ni-nya masih diatas ambang keekonomian yang berpotensi menyebabkan dilusi pada kadar bijih. 
DOMAIN GEOLOGI SEBAGAI DASAR PEMODELAN ESTIMASI SUMBERDAYA NIKEL LATERIT PERBUKITAN ZAHWAH, SOROWAKO, KABUPATEN LUWU TIMUR, PROVINSI SULAWESI SELATAN Hernadi, Deni; Rosana, Mega Fatimah; Haryanto, Agus Didit
Bulletin of Scientific Contribution Vol 15, No 2 (2017): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.125 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v15i2.13379

Abstract

ABSTRACTGood quality geochemistry data (Assay) reflects on geological modeling of lateritic resource geology guaranted. Strengthen of the geological modeling process is absolutely influenced by the Exploratory Data Analysis (EDA) process which aims to separate the geological domains of laterite deposits based on the characteristic of geochemistry, the weathering material and the lateral and vertical lithology composition of the laterite nickel deposits on Zahwah Hill study area, Sorowako, Luwu Timur Regency, South Sulawesi Province. Identification of population distribution of simple geochemical data based on graph of histogram, scatter plot and terniary diagram is a powerful tool to facilitate and separate nickel laterite domains. The impact of domain generalization will provide an overview of the geological model based on natural conditions of nickel laterite deposit, which will be constructed the process of mineral resource estimation based on zonation more reliable. Understanding nickel laterite weathering process is an essential and complementary fundamental trought dissociate geological domain of nickel laterit concept. Base on identification Zahwah hill lithology consist of ultramafic rock; harzburgit and dunit, chareterized by low serpentinized into unserpentized rock. Where the content of silica is very abundant and spread evenly on study diarea. The enrichment of Nickel ore in laterite deposits is found in the -1-inch material fraction only. In general, the geological domain of nickel laterite deposit on Zahwah hills Block Model Laterite Nickel Resources are separated into 3 parts of the limonite zone, saprolite zone and bedrock zone. Keyword: domain, geochemistry, laterite, nikel, saprolite  ABSTRAKKualitas data geokimia (Assay) yang baik mencerminkan terhadap penjaminan pemodelan geologi sumberdaya laterit. Kekuatan proses pemodelan geologi sangat dipengaruhi oleh proses Exploratory Data Analysis (EDA) yang bertujuan memisahkan domain geologi endapan laterit berdasarkan karaktersitik geokimia, material hasil pelapukan dan litologi penyusun baik lateral maupun vertikal pada endapan Nikel laterit pada area Penelitan Perbukitan Zahwah, Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Identifikasi distribusi populasi data geokimia secara sederhana berdasarkan grafik histogram, scatter plot dan terniary diagram merupakan media yang ampuh untuk memudahkan dan memisahkan domain Nikel laterit. Dampak generalisasi domain akan memberikan gambaran model geologi berdasarkan kondisi natural endapan nikel laterit sehingga akan memudahkan proses estimasi sumberdaya mineral berdasarkan zonasi. Pemahaman tentang teori pelapukan endapan nikel laterit merupakan konsep penting yang mendasar dan saling melengkapi terhadap proses memisahkan domain geologi laterit. Berdasarkan identifikasi litologi penyusun Perbukitan Zahwah merupakan batuan ultramafic yaitu batuan Harzburgit dan dunit. Dengan tingkat serpentinisasi rendah hingga tak terserpentinisasi. Dimana kandungan silika sangat melimpah dan tersebar merata diarea penelitan. Pengayaan bijih Nikel pada endapan laterite hanya terdapat pada material fraksi -1 inci. Proses domain geologi endapan nikel laterit pada Blok Medol Sumberdaya Nikel laterit Perbukitan Zahwah secara umum dipisahkan menjadi 3 bagian yaitu zona limonit, zona saprolit dan zona bedrock. Kata kunci: domain, geokimia, laterit, nikel, saprolit
PETROGRAFI BATUAN BEKU VOLKANIK BAWAH LAUT KOMPLEKS GUNUNG KOMBA, LAUT FLORES, INDONESIA -, Johanes Hutabarat; -, Agus Didit Haryanto; -, L. Sarmili
Bulletin of Scientific Contribution Vol 4, No 1 (2006): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.36 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v4i1.8115

Abstract

This study focuses on the petrography characteristics of the volcanic rocks in Mount Komba, Flores Sea, Nusa Tenggara Timur.Based on textural and mineralogical characteristics, volcanic rocks Mount Komba are composed of andesite-basaltic lava flows. It is chiefly porphyritic, intergranular, intersertal to glomeroporphyritic clots textures that contains variable proportion of plagioclase, pyroxene, biotite, hornblende and opaque oxide minerals phenocryst in very fine grained groundmass contains clinopyroxene, plagopclase laths, devitrified glass and opaque oxide minerals. Plagioclase phenocrysts show sieve-textured cores, opaque inclusions, compositional zoning, and skeletal melt pockets. Pyroxenes are strong zones with rims. Some are poikilitic. Biotite commonly exhibits a deep russet color parallel to its slow ray, the perpendicular direction being light to medium yellow brown. Some are altered to an asseblage of chlorite and finely granular opaque oxide minerals. Hornblende is perhaps slightly less abundant than biotite and occurs typically in euhedral to subhedralo crystals. It is pleochroic in shade of olive green and brownish yellow, rarely exhibiting a bright apple-green shade. Among the accessory minerals, opaque oxide minerals occurs as euhedral wedge-shape or blocky to slightly rounded, broken grains are common and also as a fine grainded alteration product associated with chlorite, formed from biotite and hornblende. Fresh glass is present, though in most cases the glass is devitrified.Some Mount Komba volcanic rocks studied exhibit varying degrees of propylitic or sericitic alteration. Feldspars plagioclase in particular, in most of the intensely hydrothermally altered Mount Komba volcanic rocks have been replaced by fine grained sericite, clay minerals, carbonate, chlorite, epidote and opaque oxide minerals.
ANALISIS KANDUNGAN MINERAL LOGAM DENGAN MENGGUNAKAN XRD DAN XRF PADA SINGKAPAN BERALTERASI TINGGI DAN RENDAH DI LOKASI PENAMBANGAN OPEN PIT KALIKUNING DAN LEROKIS PT. BATUTUA TEMBAGARAYA PROVINSI MALUKU SIRAJU, ASRUL; Hutabarat, Johanes; Sukiyah, Emi; Haryanto, Agus Didit
Bulletin of Scientific Contribution Vol 16, No 3 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1258.556 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v16i3.18661

Abstract

 ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di 4 lokasi singkapan batuan Vulkanik yang termanifestasi dengan alterasi hidrothermal wilayah tambang KaliKuning dan Lerokis Open PIT                        PT Batutua Tembagaraya. Metode penelitian yang dilakukan dengan survey lapangan dan pengambilan sampel batuan Vulkanik dari singkapan yang secara visual beralterasi rendah dan tinggi yang berada di 4 lokasi tersebut. Setelah pengambilan sampling batuan, batuan sampel disiapkan untuk pengamatan Petrografi, XRD,XRF serta analisis hasil pengukuran kandungan mineral dan logam oksida. Hasil pengamatan Petrografi, analisa hasil pengukuran XRD dan XRF maka dijumpai komposisi minireal penyusun utama maupun ubahan pada wilayah KaliKuning lebih bervariasi daripada Lerokis. Sedangkan kandungan unsur logam pada wilayah singkapan KaliKuning pada sampel KK-FW dan pada sampel Lerokis LR-FW memiliki komposisi logam oksida yang lebih dominan dari sampel KaliKuning KK-HW dan sampel Lerokis LR-HW. Dari hasil pengamatan wilayah KaliKuning Sampel KK-FW yang berada di Selatan-Barat, memiliki intensitas ubahan sedang, mineral sekunder yang teramati Klorit, Epidot, Okslda Besi, Kalsit, Kuarsa, Biotit dan Mineral Opak, menunjukan Meneral utama yang terkandung dilokasi ini adalah Kuarsa (SiO2)61,98%, Clinochlore, Group Piroksen dan Illite. Sedangkan logam oksida yang paling menonjol adalah Alluminium Oksida (Al2O3) 16,24%, Oksida Besi (Fe2O3) 7,46%, serta Mangan Oksida (MgO) 5,22%. Bagian Utara-Timur KaliKuning, sampel KK HW teridentifikasi Mineral yang mengalami ubahan sedang yaitu Klorit, Kuarsa, Biotit, Kalsit, Mineral Opak dan Illite. Mineral primer yaitu Kuarsa Cristobalite, Kristal Feldspar , Plagioklas. Hasil pengukuran XRD dan XRF menunjukan meneral utama yang terkandung dilokasi ini adalah Kuarsa Cristobalite (SiO2) 65,26%, Kristal Feldspar  dan Plagioklas. Logam oksida yang paling dominan yakni Alluminium Oksida (Al2O3) 16,55%, Oksida  Besi (Fe2O3) 3,9% dan Mangan Oksida (MgO) 0,82%. Sedangkan wilayah Lerokis sampel LR-FW yang berada di Selatan, mineral utama yang teramati yakni Kuarsa dan Plagioklas dengan intensitas ubahan kuat. Plagioklas tergantikan oleh Serisit dan Masadasar yang hampir seluruhnya terubah oleh Kuarsa, Serisit dan Mineral Opak. Hasil data pengukuran XRD dan XRF  menunjukan meneral utama dilokasi ini adalah Plagioklas dan Kuarsa (SiO2) 67,3%. Unsur logam oksida paling menonjol adalah Alluminium Oksida (Al2O3) 18,73% dan Oksida Besi (Fe2O3) 2,13%. Untuk Lerokis LR-HW bagian Selatan memiliki Mikrokristalin Plagioklas dan Gelas vulkanik dengan intensitas ubahan tinggi, terubahkan oleh Mineral Lempung, Klorit dan Serisit. Hasil pengukuran XRD dan XRF menunjukan Kuarsa, Clinochlore, Group Piroksen dan Illite. Logam oksida yang paling tinggi adalah Aluminium Oksida (Al2O3) 15,88%, Oksida Besi (Fe2O3) 7,15% dan Mangan Oksida (MgO) 7,36%.Kata Kunci: Wetar, KaliKuning, Lerokis, Alterasi, Mineral dan Logam Oksida
HUBUNGAN ANTARA GEOKIMIA MINYAK BUMI DAN BATUAN INDUK DI SUB-CEKUNGAN ARDJUNA TENGAH, CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA Yazid, Yusron; Haryanto, Agus Didit; Hutabarat, Johanes
Bulletin of Scientific Contribution Vol 15, No 1 (2017): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.943 KB)

Abstract

ABSTRACTThe research area is located in offshore North West Java, Central Ardjuna Sub-Basin that belonging to PT. Pertamina Hulu Energi Abar. The study focused on the source rock in Talang Akar Formation and hydrocarbons contained in the area. The data used in this research is the source rock and oil geochemical data. Source rock data is evaluated from wells YZD-1, YY-1 and DZN-1. From the analysis of the source rock was found that the source rock generate the hydrocarbons in the well YZD-1 and YY-1. The source rock is dominated by organic material with kerogen type II-III and III-II are derived from terrestrial organic material that mixes with algae tend to produce a mixture of oil and gas. Source rock organic material in wells YZD-1 depth interval 8421.9-8450 ft. deposited in the deep lake area in the oxic conditions. While the organic material in the source rock in the well YY-1 depth interval 6898.92-6909ft. deposited in the shallow lake in the oxic conditions. There are four oil samples, namely samples DST1 CC-1, CC-1 DST3, FZE-1 DST1, and FZE-1 DST2. The analysis showed that there is a positive correlation between samples and showed that the sample is deposited on the deep lake environments and shallow lakes with a mixture of organic material higher plants and algae. Based on the geochemical characteristics, oil samples taken from a number of wells are positively correlated to the source rock samples. Based on burial history modeling, the oil generation in the Basal Talang Akar Formation in this area began in the Early Miocene to the present. And in the Deltaic Talang Akar formation began in the Middle Miocene to the present. Keywords: Biomarker, Geochemistry, NWJ Basin, Petroleum, Source RockABSTRAKDaerah penelitian terletak di lepas pantai Jawa Barat Utara, Sub-Cekungan Ardjuna Tengah yang  termasuk ke dalam wilayah opreasi PT. Pertamina Hulu Energi Abar. Penelitian ini difokuskan  kepada batuan induk pada Formasi Talang Akar dan hidrokarbon yang terdapat pada daerah tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data geokimia batuan induk dan minyak bumi. Data batuan induk yang dievaluasi berasal dari  sumur  YZD-1, YY-1 dan DZN-1. Dari  analisis  batuan induk didapatkan bahwa  batuan  induk yang dapat menggenerasikan  hidrokarbon  terdapat  pada sumur YZD-1 dan YY-1.  Batuan induk tersebut didominasi oleh material organik kerogen tipe II-III dan III-II yang berasal dari material organik daratan yang bercampur dengan alga dan cenderung menghasilkan campuran minyak dan gas bumi. Material organik batuan induk di sumur YZD-1 pada interval kedalaman 8421.9-8450 kaki diendapkan di daerah danau dalam dengan kondisi oksik. Sedangkan pada material organic pada batuan induk di sumur YY-1 pada interval kedalaman 6898.92-6909 kaki diendapkan di daerah danau dangkal. Terdapat empat buah sampel minyak yaitu sampel CC-1 DST1, CC-1 DST3, FZE-1 DST1, dan FZE-1 DST2. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara sampel-sampel tersebut dan menunjukkan bahwa sampel tersebut  diendapkan pada lingkungan danau dalam dan danau dangkal dengan material organik campuran tumbuhan tingkat tinggi dan alga. Berdasarkan karakteristik geokimia, sampel  minyak  yang  diambil  dari sejumlah sumur tersebut berkorelasi positif dengan sampel batuan induk. Berdasarkan permodelan sejarah pemendaman diketahui generasi minyak pada Formasi Basal Talang Akar  di area ini dimulai pada Miosen Awal hingga saat ini. Dan padaFormasi Deltaic Talang Akar di mulai pada Miosen Tengah hingga saat ini. Kata kunci: Batuan Induk, Biomarker, Geokimia, NWJ Basin, Petroleum
ESTIMASI TEMPERATUR BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN KEHADIRAN MINERAL ALTERASI PADA SUMUR “X” LAPANGAN PANAS BUMI WAYANG WINDU, PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT Oktaviany, Vina; Hutabarat, Johanes; Haryanto, Agus Didit
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12 No 2 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v12i2.39

Abstract

Temperatur merupakan aspek penting dalam sistem panas bumi untuk pengembangan panas bumi sebagai sumber energi. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui jenis litologi, mineral alterasi, tipe dan intensitas alterasi serta penyebarannya pada sumur X, dan bertujuan menentukan temperatur berdasarkan geotermometer mineral yang kemudian dibandingkan dengan data hasil pengukuran temperatur (T) sumur. Objek dalam penelitian ini berupa serbuk bor (cutting) dari sumur X yang dianalisis dengan metode petrologi, petrografi, dan XRD. Hasilnya menunjukkan, bahwa litologi sumur X terdiri atas andesit terubah, tuf litik terubah, dan tuf kristal terubah. Mineral alterasi yang berkembang didominasi oleh mineral alterasi dengan pH netral yang berupa kuarsa sekunder, kalsit, epidot, montmorilonit, illit, smektit, klorit, oksida besi, dan pirit, serta beberapa mineral ber-pH asam seperti kaolinit, kristobalit, anhidrit, dan haloysit. Berdasarkan asosiasi mineralnya, alterasi pada sumur X dibagi menjadi tiga tipe, yaitu alterasi argilik dengan perkiraan temperatur antara 150oC hingga 180oC, alterasi subpropilitik antara 150oC s.d. 220oC, dan alterasi propilitik antara 210oC s.d. 280oC. Secara umum, hasil geotermometer mineral ini menunjukkan data temperatur yang lebih tinggi dibandingkan data T berdasarkan pengukuran sumur.