Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pengaruh Variasi Konsentrasi Kombinasi Starter Kultur dan Enzim Bromelin Terhadap Karakteristik Sensori Keju Kacang Tolo (Vigna unguiculata L.) Herlinda Mawardika; Lia Agustina; Ninis Yuliati; Dwi Sutanti
JURNAL PHARMA BHAKTA Vol 1 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kacang merupakan bahan pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena mengandung protein dan lemak yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh penambahan kombinasi starter bakteri dan enzim bromelin dengan konsentrasi berbeda terhadap karakteristik keju nabati kacang tolo. Susu kacang tolo difermentasikan dengan kombinasi starter bakteri L. bulgaricus, L. acidophilus dan S. thermophillus (2,5%, 5% dan 10%). Selanjutnya enzim bromelin (2%, 4%, dan 6%) ditambahkan ke curd dari formulasi terbaik. Evaluasi yang dilakukan meliputi uji organoleptik, rendemen, uji kadar pH, analisis protein kualitatif dan uji hedonik. Hasil menunjukkan bahwa keju memiliki tekstur lunak, warna putih kekuningan, rasa asin, dan aroma khas kacang tolo. Kombinasi starter bakteri sebesar 10% dan enzim renet 6% menghasilkan keju dengan rendemen terbesar (36,78%). Keju diketahui memiliki rentang pH 5,9-6,0 dan mengandung protein. Sesuai dengan persentase hasil uji hedonik, keju dengan tekstur lunak/lembut, warna putih kekuningan, memiliki rasa asin, dan beraroma khas kacang tolo lebih disukasi oleh panelis. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa penambahan kombinasi starter bakteri dan enzim bromelin berpengaruh terhadap karakteristik sensori keju nabati kacang tolo.
FORMULASI DAN UJI MUTU FISIK SEDIAAN FACE SCRUB KULIT ARI KEDELAI (Glycine max) Lia Agustina; Vindy Sheila; Ninis Yuliati
JURNAL PHARMA BHAKTA Vol 2 No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Kerusakan kulit paling banyak disebabkan oleh radikal bebas salah satunya ditandai dengan kulit kering. Kedelai mengandung isoflavon sebagai antioksidan. Antioksidan dalam kosmetik memberikan efek kelembapan kulit. Kedelai dapat dimanfaatkan menjadi kosmetika yaitu scrub. Face scrub salah satu produk kosmetik pembersih yang menipiskan kulit wajah (exfoliating cleanser) digunakan karena mampu mengangkat sel kulit mati yang tidak dapat dibersikan kosmetik pembersih. Tujuan: Penelitian ini bertujuan Mengetahui pengaruh dari variasi konsentrasi kedelai terhadap kualitas fisik gel face scrub dan mengetahui pengaruh variasi konsentrasi kedelai terhadap efektivitas peningkatan kelembapan kulit yang berbeda. Metode: penelitian ini dibuat sediaan gel face scrub lalu dievaluasi karakteristik gel face scrub meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat, dan iritasi. Selanjutnya diuji peningkatan efektivitas kelembapan menggunakan alat skin detector. Simpulan: Hasil penelitian ini menunjukan adanya pengaruh variasi konsentrasi kedelai sebesar terhadap kualitas fisik sediaan gel face. Variasi konsentrasi kedelai berpengaruh terhadap peningkatan kelembapan.
FORMULASI DAN EVALUASI GEL JAHE MERAH (Zingiber officinale Roscoe) DENGAN HPMC SEBAGAI GELLING AGENT Nita Damayanti; Lia Agustina
JURNAL PHARMA BHAKTA Vol 2 No 2 (2022): November 2022
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jahe merah (Zingiber Officinale Roscoe) merupakan salah satu dari temu-temuan suku Zingiberaceae yang mempunyai komponen minyak atsiri dan oleoresin paling tinggi dibandingkan jenis jahe lainnya. Kandungan dari rimpang jahe merah dapat digunakan untuk berbagai macam obat salah satunya untuk aromaterapi. Kualitas mutu fisik sediaan gel dipengaruhi oleh bahan-bahan tambahan dalam formulasi yang digunakan untuk proses pembuatannya, salah satunya adalah HPMC sebagai gelling agent . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas formulasi gel dari minyak atsiri jahe merah dengan melihat dari sifat fisik sediaan gel yang mengandung minyak atsiri jahe merah dengan variasi konsentrasi yaitu sebesar 2%, 4% dan 6%. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Uji mutu fisik sediaan gel meliputi uji organoleptik, uji kesukaan dan uji homogenitas. Hasil penelitian menunjukkan sediaan telah memenuhi syarat uji mutu fisik.
Formulasi Sediaan Nutrasetikal Teh Celup Kombinasi Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa) dan Bunga Kenop (Globe amaranth) dengan Variasi Konsentrasi Stevia sebagai Perasa Agustina, Lia; Amaranggana, Amalia Putri; Yuliati, Ninis; Damayanti, Nita
Health & Medical Sciences Vol. 1 No. 3 (2024): Mei
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/phms.v1i3.220

Abstract

Telah dilakukan penelitian formulasi nutrasetikal sediaan teh celup kombinasi bunga rosella (Hibiscus sabdarifa) dan bunga kenop (Globe amaranth) dengan variasi konsentrasi stevia sebagai perasa. Stevia dalam formulasi berfungsi sebagai pengganti gula dan memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh konsentrasi stevia pada kesukaan responden. Formula teh celup terdiri atas 0,7% bunga Rosella (Hibiscus sabdarifa) dan 1% bunga kenop (Globe amaranth) dengan variasi konsentrasi konsentrasi stevia yaitu 1,3% (Formula 1), 1% (Formula 2) dan 0,7% (Formula 3). Ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdarifa) dan bunga kenop (Globe amaranth) dievaluasi kandungan metabolit sekundernya. Formula teh celup dievaluasi dengan uji organoleptis, uji kadar air dan kesukaan responden. Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak bunga Rosela dan bunga Kenop mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa bunga Rosella dan bunga Kenop dapat digunakan dalam formulasi nutrasetikal teh celup. Evaluasi organoleptis dari ketiga formula menunjukkan karakteristik bau khas teh, warna merah kecoklatan dan kadar air kurang dari 10% (sesuai dengan persyaratan dalam Materia Medika Indonesia). Hasil kesukaan pada responden menunjukkan bahwa warna, rasa, dan bau khas sediaan teh celup herbal dapat diterima. Dari hasil uji kesukaan juga menunjukkan bahwa formula kedua adalah yang paling banyak disukai oleh responden.
KAJIAN KUALITATIF PENGARUH KOMBINASI OLEUM LEMONGRASS, OLEUM CITRI, DAN OLEUM ANISI TERHADAP PREFERENSI PENGGUNA SEDIAAN AROMATERAPI Agustina, Lia; Tiyas, Widya; Candra, Sofita; Wahyuni, Ismiy; Sabban, Indra; Soehartono, David Raditya
JURNAL PHARMA BHAKTA Vol 4 No 2 (2024): November 2024
Publisher : FACULTY OF PHARMACY, INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/jpb.v4i2.113

Abstract

Latar belakang: Aromaterapi merupakan praktik pengobatan komplementer yang menggunakan minyak esensial untuk meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental. Di Indonesia, popularitas aromaterapi berkembang pesat, khususnya dalam bentuk produk praktis seperti roll-on, yang memudahkan pengguna untuk merasakan manfaat aromaterapi kapan saja. Tujuan: Penelitian ini diharapkan dapat mengungkap respons pengguna terhadap kombinasi minyak-minyak tersebut serta faktor-faktor yang memengaruhi preferensi mereka dalam menggunakan aromaterapi. Metode: Komposisi minyak telon terdiri dari Oleum Cajuputi, Oleum Cocos, dan Oleum Anisi. Pada penelitian ini dalam formulasi 4 menggunakan minyak biji anggur sebagai Corrigens odoris. Sediaan aromaterapi yang sudah dibuat dilakukan uji kesukaan. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian terkait penerimaan aroma dari empat formulasi (F1, F2, F3, dan F4), tampak bahwa F1 dan F2 memiliki tingkat penerimaan yang lebih tinggi oleh panelis dibandingkan dengan F3 dan F4. Mayoritas panelis memberikan penilaian Suka dan Sangat Suka untuk aroma pada formulasi F1 dan F2. Simpulan: Penerimaan aroma oleh panelis sangat dipengaruhi oleh kombinasi minyak esensial yang digunakan dalam formulasi aromaterapi. Komposisi yang lebih seimbang seperti pada F1 dan F2 lebih diterima oleh panelis, sedangkan formulasi yang mengandung aroma lebih tajam seperti pada F3 dan F4 cenderung menghasilkan variasi preferensi.
Uji Aktivitas Antioksidan Okara (Ampas Tahu) dan Formulasi Sediaan Face Scrub dengan Bahan Aktif Okara (Ampas Tahu) Agustina, Lia; Widianti, Riska Widianti; Yuliati, Ninis; Lestari , Tri Puji; Soehartono , David R.
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 3 (2025): Mei-Jun
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v2i3.373

Abstract

Kulit merupakan organ pelindung utama tubuh dari paparan sinar ultraviolet (UV), sekaligus berfungsi dalam proses ekskresi, pengaturan suhu tubuh, dan sebagai indera peraba. Agar dapat menjalankan fungsinya secara optimal, kulit membutuhkan antioksidan yang berperan dalam menetralisir efek merugikan dari radikal bebas. Antioksidan merupakan senyawa yang berfungsi menghambat reaksi oksidasi dengan menetralkan radikal bebas. Ampas tahu (okara) merupakan hasil samping produksi tahu yang memiliki kandungan isoflavons ebagai antioksidan. Face scrub merupakan salah satu bentuk sediaan topical yang berfungsi mengangkat sel-sel kulit mati dari permukaan wajah melalui proses eksfoliasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur aktivitas antioksidan dari okara melalui metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl), serta evaluasi mutu fisik sediaan face scrub. Sediaan face scrub dibuat dalam empat formulasi: F0 (tanpa zat aktif), F1 (2,5% okara), F2 (5% okara), dan F3 (7,5% okara).  Hasil uji karakteristik sediaan yang meliputi uji homogenitas, iritasi, organoleptis, pH, dan stabilitas menunjukkan bahwa seluruh formulasi memenuhi persyaratan mutu. Hasil uji aktivitas antioksidan okara menunjukkan IC50 sebesar 477,636 ppm (antioksidan lemah). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa okara dapat digunakan sebagai bahan dalam formulasi face scrub dan memiliki potensi aktivitas antioksidan.
Anticoagulant Activity and Gel Formulation of Black Garlic (Allium sativum Linn.) Extract Agustina, Lia; Prameswari, Dinasty Isna; Yuliati, Ninis; Lestari, Tri Puji; Soehartono, David Raditya
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 8 No. 1 (2026): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v8i1.8185

Abstract

Bruising or contusion can cause pain, discomfort, and aesthetic concerns that may affect phy­sical function and overall quality of life. Therefore, topical anticoagulants are needed as a targeted therapy to improve local circulation and accelerate tissue repair and recovery. However, limitations of conven­tional anticoagulants highlight the need for safer alternatives, with black garlic emerging as a promising natural source of anticoagulant bioactive compounds. This study aimed to evaluate the in vitro anticoagu­lant activity of black garlic and determine the influence of different extract concentrations on the physi­cal characteristics of gel formulations. The experimental design utilized the Lee-White method to observe blood clotting time. Gel preparations containing black garlic at concentrations of 2.5%, 5.0%, and 20.0% were formulated and evaluated for organoleptic properties, homogeneity, pH, adhesion, spreadability, vis­cosity, and irritation. The anticoagulant activity assay revealed a concentration­dependent increase in anticoagulant activity, with the 20% formulation showing the most pronounced effect. The results showed that all three concentrations exhibited anticoagulant effects. Statistical analysis using the Kruskal–Wallis revealed significant differences (p < 0.05), indicating varying anticoagulant activity among formulations. Physical evaluation showed that increasing extract concentration significantly affected pH, organoleptic properties, and viscosity, with pH ranging from 5.50–6.19, spreadability 5.75–6.36 cm, and adhesion 5.06– 5.32 s, while all formulations remained homogeneous, non-irritating, and exhibited decreased viscosity at higher concentrations (F3 was below standard). Overall, black garlic extract demonstrated potential as an anticoagulant agent in topical formulations.