Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Upaya Meningkatkan Sosial Emosional Anak melalui Program Funshare: Inovasi Pengabdian Kolaboratif di SD Inpres Doyo Baru Riski Tasijawa; Krislina Pattipeiluhu; Dorce Bu’tu; Santy Layan; Yustinus Polhaupessy; Yansa Anse Pattipeiluhu; Kornelia Maryanti Da Silva; Cristian Msen; Albertina Insyur
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 5 No 4 (2025): JPMI - Agustus 2025
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.3704

Abstract

Masalah sosial emosional anak di SD Inpres Doyo Baru, seperti rendahnya keberanian berbicara, interaksi yang terbatas antar kelompok budaya, dan kurangnya empati, mendorong perlunya intervensi berbasis kontekstual. Program Funshare dikembangkan sebagai upaya pengabdian masyarakat untuk meningkatkan keterampilan sosial emosional anak melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif. Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari, terdiri dari enam sesi tematik yang melibatkan permainan edukatif, diskusi kelompok, dan aktivitas berbagi. Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung, catatan fasilitator, dan wawancara dengan guru. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada aspek kerja sama (80%), kemampuan bersosialisasi (75%), ekspresi emosi (70%), dan empati (60%). Anak-anak menjadi lebih terbuka, berani berbicara, dan aktif menjalin hubungan sosial lintas kelompok. Kegiatan ini berdampak pada terciptanya lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung pengembangan karakter anak. Funshare terbukti sebagai model efektif dalam menumbuhkan keterampilan sosial emosional anak di lingkungan pendidikan dasar.
Anjangsana Lintas Agama Rumah Moderasi Beragama STAKPN Sentani: Menyelami Nilai-Nilai Hindu Bali melalui Seni Budaya Fredrik Warwer; Ida Bagus Gede Surya Peradantha; Yohanes Kristian Labobar; Yakob Godlif Malatuny; Daniel Syafaat Siahaan; Jolanti Wisje Pentury; Dorce Bu’tu; Lewi Kabanga; Santy Layan; Riski Tasijawa; Seprianti Elisabet Pandi; Shintia Maria Kapojos
IHSAN : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 8, No 1 (2026): Ihsan: Jurnal Pengabdian Masyarakat (April)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/ihsan.v8i1.25909

Abstract

Papua memiliki keragaman budaya dan agama yang tinggi sehingga membutuhkan ruang perjumpaan lintas iman yang autentik, kontekstual, dan menyentuh secara emosional. Melalui program Kampung Moderasi Beragama, STAKPN Sentani menginisiasi Kunjungan Lintas Iman di Pura Agung Giri Cyclop untuk menggali nilai-nilai moderasi beragama dari perspektif Hindu Bali dengan pendekatan seni budaya. Kegiatan dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan tokoh agama Hindu, dialog interaktif lintas iman, serta penyusunan laporan reflektif dan artikel ilmiah. Salah satu hasil penting adalah terciptanya karya seni kolaboratif berupa Pupuh Durma berjudul “Turunnya Sang Juru Selamat”, yang dibawakan oleh penyanyi Hindu dan diterjemahkan secara lisan oleh peserta Kristen Protestan. Karya ini mengisahkan kelahiran Yesus Kristus dalam perspektif spiritual universal melalui seni vokal tradisional Bali. Kolaborasi ini membuka ruang ekspresi spiritual bersama yang melampaui batas agama, budaya, dan wilayah. Nilai-nilai seperti Tat Twam Asi, Vasudhaiva Kutumbakam, serta cinta sebagai inti ajaran agama disampaikan secara puitis dan reflektif. Program ini menunjukkan bahwa moderasi beragama dapat diwujudkan tidak hanya melalui wacana normatif, tetapi juga melalui praktik seni inklusif yang sederhana dan dapat direplikasi di berbagai konteks multikultural.
Internalisasi Moderasi Beragama dalam Konteks Oikumene di Kampus STAKPN Sentani Santy Layan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.260

Abstract

This paper aims to analyze the internalization of religious moderation values using the ecumenical approach at the STAKPN Sentani campus. This research uses a qualitative approach with a case study method. Researchers used an approach of in-depth interviews, observations, and documentation studies for data collection in this study. The research found that the internalization of moderation values for students in the STAKPN Sentani environment, which is different denominations and Church doctrines, was successfully carried out by campus residents, so that harmonization, togetherness, and responsibility in caring for life together remained intertwined until this moment. Several perspectives have been considered in religious moderation from an ecumenical point of view among students to ensure that no divisions among doctrines or traditions have been held. The conclusion that can be drawn is that ecumenism is the choice of path used to connect Christians in all aspects, including denominations, doctrines, and common ideals for proclaiming the gospel. Through the internalization of moderation values for students in STAKPN Sentani environments of different denominations and doctrines the Church can take care of harmonization, unity, togetherness, and shared responsibility in arranging life together according to God's will.Keywords: STAKPN Sentani students; religious moderation; Ecumene AbstrakPenulisan ini bertujuan menganalisis internalisasi nilai-nilai moderasi beragama menggunakan pendekatan oikumene di kampus STAKPN Sentani. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Peneliti menggunakan pendekatan yaitu wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi untuk pengumpulan data dalam penelitian ini. Penelitian menemukan, internalisasi nilai-nilai moderasi bagi mahasiswa di lingkungan STAKPN Sentani yang berbeda denominasi dan doktrin Gereja berhasil dilakukan oleh warga kampus, sehingga harmonisasi, kebersamaan, dan tanggung jawab dalam merawat hidup bersama tetap terjalin sampai detik ini. Beberapa perspektif telah dipertimbangkan dalam moderasi agama dari sudut pandang oikumene di kalangan mahasiswa untuk memastikan bahwa tidak ada perpecahan di antara doktrin atau aliran yang telah dipegang. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah oikumene menjadi pilihan jalan yang digunakan untuk menghubungkan umat Kristiani dalam segala aspek, termasuk denominasi, doktrin, dan cita-cita bersama untuk mewartakan injil. Melalui internalisasi nilai-nilai moderasi bagi mahasiswa di lingkungan STAKPN Sentani yang berbeda denominasi dan doktrin Gereja dapat merawat harmonisasi, persatuan, kebersamaan, dan tanggung jawab bersama dalam menata hidup bersama sesuai kehendak Tuhan.Kata kunci: mahasiswa STAKPN Sentani; moderasi beragama; oikumene
Kehilangan Hutan, Kehilangan Masa Depan: Krisis Ekologi Dalam Pendekatan Biblis Fredrik Warwer; Yakob Godlif Malatuny; Santy Layan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.446

Abstract

The destruction of forests in Indonesia has resulted in disasters and threatens the future of humanity on earth. Using forests for personal interests is an action that humans should prohibit. Theological reflection or Christian perspective studies are needed to encourage a contemplative approach to forests. This paper aims to examine the issue of ecological crisis in Indonesia with a biblical approach. A qualitative methodology of literature review approach is used in this article. The research reveals that deforestation continues to be the most significant form of land degradation in Indonesia. Although the Central Bureau of Statistics reported a substantial decrease in deforestation in Indonesia from 2019 to 2020, the country lost 213 million hectares of forest, equivalent to 3.5 times the size of Bali Island, between 2015 and 2020. Therefore, eco theology seeks to critique the Christian tradition to raise public awareness of the ecological crisis and not just concern for the environment. Awareness of forest sustainability should be instilled in the younger generation through planting programs to develop a sense of belonging, appreciation, and responsibility for the forest. This is an expression of gratitude to the Owner, God, while at the same time showing love to others and ensuring the preservation of the planet for future generations. Keywords: Forest Loss, Future Loss, Ecological Crisis, Biblical ApproachKeywords: forest los; future loss; ecological crisis; biblical approach Abstrak Kerusakan hutan di Indonesia mengakibatkan bencana dan mengancam masa depan umat manusia di muka bumi. Pemanfaatan hutan untuk kepentingan pribadi adalah tindakan yang seharusnya dilarang oleh manusia. Dibutuhkan refleksi teologi atau kajian perspektif Kristen untuk mendorong pendekatan kontemplatif terhadap hutan. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji persoalan krisis ekologi di Indonesia dengan pendekatan biblis. Metodologi kualitatif pendekatan tinjauan literatur digunakan dalam artikel ini. Penelitian ini mengungkapkan bahwa deforestasi terus menjadi bentuk degradasi lahan yang paling signifikan di Indonesia. Meskipun Badan Pusat Statistik melaporkan penurunan deforestasi yang signifikan di Indonesia dari tahun 2019 hingga 2020, kenyataannya negara ini kehilangan 213 juta hektar hutan, atau setara dengan 3,5 kali luas Pulau Bali, antara tahun 2015 dan 2020. Oleh karena itu, ekoteologi berusaha untuk mengkritik tradisi Kristen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang krisis ekologi, dan bukan hanya sekedar kepedulian terhadap lingkungan. Kesadaran akan kelestarian hutan harus ditanamkan kepada generasi muda melalui program penanaman, sehingga mereka dapat mengembangkan rasa memiliki, menghargai, dan bertanggung jawab terhadap hutan. Hal ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pemilik, Tuhan, dan sekaligus menunjukkan rasa cinta kasih kepada sesama, serta memastikan kelestarian planet ini untuk generasi mendatang.Kata Kunci: kehilangan hutan; kehilangan masa depan; krisis ekologi; pendekatan biblis
Pros and Cons of Military-Based Character Education: A Critical Discourse Analysis of Fairclough’s Framework Lewi Kabanga'; Robinhot Sagala; Santy Layan; Dorce Bu’tu
ELS Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities Vol. 8 No. 3 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/els-jish.v8i3.46835

Abstract

This study investigates the ideological contestations embedded in public discourse regarding the West Java Governor’s policy on character education in military barracks. Adopting Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis (CDA) framework, data were collected from eleven public figures representing diverse institutional backgrounds, whose statements were disseminated through major Indonesian online media outlets (Kompas, Detik, Tempo, NU-Online, Gesuri.id, CNN Indonesia, Liputan6) and YouTube. The findings reveal that pro-policy discourse predominantly employed legitimizing diction, affirmative modalities, and metaphors that framed military barracks as spaces for discipline and nation-building. Conversely, counter-discourse highlighted risks of child rights violations, psychological harm, and incompatibility with inclusive and holistic educational principles. These opposing discourses demonstrate intertextual practices ranging from legal references to cultural values, while also reflecting broader ideological struggles between state-driven discipline-oriented education and civil society’s advocacy for democratic, child-centered learning. The study contributes to CDA scholarship by extending its application to the underexplored domain of military-based character education in Indonesia and offers insights into how power and ideology shape the trajectory of educational policy debates.