Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PERANCANGAN IDENTITAS TEMPAT PADA SEKOLAH CANDRA NAYA DENGAN PENDEKATAN NARASI ARSITEKTUR Saputra Wijaya, Natania; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30901

Abstract

A place will have meaning as a Place, if there is contiguity, uniqueness, and connection both physically and non-physically. In its development, a place can experience degradation from activity or physicality known as Placeless Place. One of the places that experienced this phenomenon was Candra Naya School. At first, the existence of Candra Naya School had existed since 1946 in the Candra Naya Building, but due to changes in land use, Candra Naya School was moved to Jl. Jembatan Besi II. Since its move in 1993 until its current existence, Candra Naya School has lost its authenticity, uniqueness, disconnection with its environment and sense of belonging, making Candra Naya School experience the process of Placeless Place. Referring to this background, there is a problem of how to solve the architectural Placeless Place at Candra Naya School. Therefore, the purpose of this design is to restore the identity, uniqueness, historical ties, and meaning of student life at Candra Naya School. The design approach used is Narrative Architecture through space experience with the stages of Edu-cial, Society-Hub, and Historium activities.Edu-cial is a community-oriented educational space where interaction between students and the community occurs. Society-Hub is a space to accommodate activities and serve the community. And, Historium is a space about the historical journey of Candra Naya School. These stages of activity will become a bond between students, the community, and Candra Naya School so that a Sense of Place is created and becomes a Place again. Keywords: edu-cial; historium; narrative architecture; placeless place; society-hub Abstrak Suatu tempat akan memiliki makna sebagai Place, jika terdapat keontetikan, keunikan, dan koneksi baik secara fisik maupun non fisik. Dalam perkembangannya, tempat dapat mengalami degradasi dari aktivitas atau fisik dikenal dengan istilah Placeless Place. Salah satu tempat yang mengalami fenomena tersebut adalah Sekolah Candra Naya. Pada awalnya, eksistensi Sekolah Candra Naya sudah ada sejak tahun 1946 di Gedung Candra Naya, namun akibat pergantian tata guna lahan membuat Sekolah Candra Naya dipindahkan ke Jl. Jembatan Besi II. Sejak kepindahannya di tahun 1993 hingga eksistensinya saat ini, Sekolah Candra Naya kehilangan keotentikan, keunikan, diskoneksi dengan lingkungannya dan sense of belonging sehingga menjadikan Sekolah Candra Naya mengalami proses Placeless Place. Mengacu pada latar belakang tersebut, terdapat permasalahan bagaimana penyelesaian arsitektural Placeless Place pada Sekolah Candra Naya. Oleh karena itu, tujuan dari desain ini adalah untuk mengembalikan identitas, keunikan, ikatan historis, serta memaknai kehidupan siswa di Sekolah Candra Naya. Pendekatan desain yang digunakan adalah Arsitektur Naratif melalui pengalaman ruang dengan tahapan aktivitas Edu-cial, Society-Hub, serta Historium. Edu-cial merupakan ruang pendidikan yang berorientasi pada masyarakat dimana terjadi interaksi antara siswa dan masyarakat. Society-Hub merupakan ruang untuk mewadahi kegiatan serta melayani masyarakat. Serta, Historium merupakan ruang tentang perjalanan sejarah Sekolah Candra Naya. Tahapan aktivitas ini akan menjadi pengikat antar siswa, masyarakat, dan Sekolah Candra Naya itu sehingga terciptanya Sense of Place dan menjadi Place kembali.
IMPLEMENTASI EVERYDAYNESS DAN TRANSPROGRAMMING PADA PUSAT PERBELANJAAN MELAWAI PLAZA Gracia, Hannah; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30902

Abstract

The Blok M area was previously known as a favorite "hang out" place for young people in the 80s and 90s. This is demonstrated by the existence of 'Lintas Melawai' as an exhibition for private vehicles together with popular Indonesian works inspired by the area. The popularity of Blok M was also influenced by the development of business and shopping centers which at that time were the only area that had 3 shopping centers at once in Jakarta, namely Plaza Aldiron, Plaza Melawai, and Plaza Blok M. Melawai Plaza, which was founded in 1983, was crowded with visitors at the same time. with the popularity of 'Lintas Melawai'. Entering the 2000s, shopping centers in the Blok M area began to quiet down due to the emergence of interest in more modern shopping centers in the south of Jakarta. This condition also had an impact on Melawai Plaza, plus the impact of the Covid-19 pandemic in 2019-2021 which caused most shops to go bankrupt and were forced to close. Currently Melawai Plaza is a placeless building with its "hanging out" identity lost and its design less flexible to current developments. Therefore, it is hoped that the research can reconnect lost historical identities, repair the disconnect between users and Melawai Plaza, and adapt to regional and contemporary developments. Through an everydayness approach to collecting existing building data and transprogramming to process the data into different program configurations, program proposals were obtained, namely Retail and Interactive ExhibiGold, Communal Space, and Skate Park. It is hoped that the resulting design proposal will wrap Melawai Plaza in a new identity and give the meaning of place to Melawai Plaza. Keywords:  everydayness; Melawai Plaza; placeless place; transprogramming Abstrak Kawasan Blok M dahulu dikenal sebagai tempat “nongkrong” favorit bagi kawula muda di era 80 hingga 90an. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ‘Lintas Melawai’ sebagai ajang pameran kendaraan pribadi bersama karya-karya populer tanah air yang terinspirasi dari kawasan tersebut. Popularitas Blok M juga dipengaruhi oleh perkembangan pusat bisnis dan perbelanjaan yang kala itu menjadi satu-satunya kawasan yang memiliki 3 pusat perbelanjaan sekaligus di Jakarta, yaitu Plaza Aldiron, Plaza Melawai, dan Plaza Blok M. Melawai Plaza yang berdiri sejak tahun 1983 ramai dikunjungi bersamaan dengan popularitas ‘Lintas Melawai’. Memasuki tahun 2000an, pusat perbelanjaan di kawasan Blok M mulai sepi karena munculnya peminat pusat-pusat perbelanjaan di selatan Jakarta yang lebih modern. Kondisi ini juga berimbas pada Melawai Plaza, ditambah adanya dampak pandemi Covid-19 pada tahun 2019-2021 yang menyebabkan sebagian besar toko bangkrut dan terpaksa tutup. Saat ini Melawai Plaza menjadi bangunan placeless dengan identitas “nongkrong”-nya yang hilang dan desainnya yang kurang fleksibel terhadap perkembangan zaman. Oleh karena itu, penelitian diharapkan dapat menghubungkan kembali identitas historis yang hilang, memperbaiki diskoneksi antara pengguna dan Melawai Plaza, serta menyesuaikan perkembangan kawasan dan zaman. Melalui pendekatan everydayness untuk pengumpulan data bangunan eksisting dan transprogramming untuk mengolah data menjadi konfigurasi program yang berbeda, didapatkan usulan program, yaitu Retail and Interactive ExhibiGold, Communal Space, serta Skate Park. Usulan perancangan yang dihasilkan, diharapkan akan membungkus Melawai Plaza dalam identitas baru serta memberi makna place pada Melawai Plaza.
PERANCANGAN ESCAPE HEALING PADA GEDUNG NITOUR DI KAWASAN HARMONI SEBAGAI THIRD PLACE DENGAN PENDEKATAN INFILL Theana, Biancha; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33930

Abstract

One of the icons in the Harmoni area of Central Jakarta is the Nitour Building, which was originally known as the Oger Freres Building in 1810. It served as a tailor shop for glamorous Dutch women's attire before parties at the Societeit De Harmonie building. The strength of Harmoni’s sense of place at that time lay in its role as the center of social and cultural activity in Batavia. The name "Nitour" derived from Netherlands-Indische Touristen Bureau (Dutch Travel Agency), in 1926, and recognized as the first travel agency in Indonesia. Over time, the Nitour Building has declining in  function and significance, as well disconnection from its surrounding environment. While maintaining its remaining colonial architectural character and historical value, the Nitour Building is now being proposed as a Cultural Heritage Building. Changes in the functions of buildings around the Harmoni area have led to a loss of the district’s identity. Based on these findings, a redesign proposal for the Nitour Building is needed, incorporating the concept of a Third Place and Infill Building as a way to restore meaning and identity to the building and its surroundings. The new design of the Nitour Building aims to become a comfortable place for leisure, blending the Third Place concept while preserving the original structure and adding new spaces for workshops. The goal is to revitalize the Harmoni area and position the Nitour Building as a hub for social activity. Keywords:  architecture third place; harmoni area; nitour building; placelessness Abstrak Salah satu ikon di kawasan Harmoni Jakarta Pusat adalah Gedung Nitour yang pada tahun 1810 bernama Gedung Oger Freres sebagai tempat menjahit busana glamor perempuan Belanda sebelum pesta di Gedung Societeit De Harmonie.  Kekuatan place kawasan Harmoni saat itu yaitu menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya di Batavia. Nama Nitour diambil dari NetherlandsIndische Touristen Bureau (agen perjalanan Belanda) yang berdiri sejak tahun 1926 dan menjadi agen travel pertama di Indonesia. Dalam perkembangannya, Gedung Nitour mengalami  penurunan fungsi dan peranan serta mengalami diskoneksi dengan lingkungannya. Dengan mempertahankan karakteristik arsitektur kolonial yang masih ada dan nilai sejarah yang dimilikinya, gedung Nitour kini sedang diusulkan untuk dijadikan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Perubahan fungsi bangunan di sekitar kawasan Harmoni telah mengakibatkan hilangnya identitas kawasan tersebut. Berdasarkan temuan tersebut, maka diperlukan usulan perancangan ulang Gedung Nitour dengan konsep Third place dan Infill Building sebagai upaya untuk mengembalikan makna dan identitas pada gedung serta kawasannya. Desain baru Gedung Nitour akan menjadi tempat bersantai yang nyaman, menggabungkan konsep Third Place dan mempertahankan bangunan asli dengan penambahan ruang baru untuk workshop. Tujuannya adalah untuk menghidupkan kembali kawasan Harmoni dan menjadikan Gedung Nitour sebagai pusat kegiatan sosial.
PENGADAAN DAN PENATAAN TAMAN TOGA UNTUK MENDUKUNG PROKLIM RW.016 KELURAHAN TOMANG, JAKARTA BARAT Solikhah, Nafiah
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v8i2.34917

Abstract

As a city formed from an agglomeration of urban villages, Jakarta requires a holistic urban management strategy. On the other hand, environmental issues related to global warming and the impact of the greenhouse effect are also challenges that must be faced. In response to these two problems, which are also felt by other regions in Indonesia, the Climate Village Program (Proklim) was introduced, a national-scale program managed by the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) to optimize community participation and other stakeholders in strengthening adaptive capacity to the effects of climate change. In 2025, the area of ​​RT.001 to RT.009 RW.16 Tomang Village successfully entered the assessment of the Climate Village Program (Proklim) at the DKI Jakarta level. Based on initial discussions between Partners and the Untar Team, one of the Proklim assessment criteria is the need for regional collaboration with University partners. The problem faced by partners is the lack of green open space, so it is necessary to restore the village road shoulder area and alleys according to their ecological function, especially to support Proklim. Therefore, to support Proklim, particularly in the RT 001 to RT 009 RW 16 area of ​​Tomang Village, the implementation team provided a solution for the procurement and arrangement of a Home Herbal Garden (Toga). The method used was participatory, where the proposing team acted as facilitators for partners. Partners became the main actors in developing Proklim's flagship program, particularly the management of the Toga Garden. This community service activity is a concrete form of Untar's participation in the surrounding community as well as an implementation of the impactful campus program. Keywords: Home Herbal Garden (Toga), Proklim, Urban Village, Community Empowerment Abstrak Sebagai kota yang terbentuk dari aglomerasi kampung kota, Jakarta memerlukan strategi pengelolaan kota yang holistik. Di sisi lain, masalah lingkungan yang berkaitan dengan pemanasan global dan dampak dari efek rumah kaca juga merupakan tantangan yang harus dihadapi. Sebagai respons terhadap kedua masalah ini yang juga dirasakan oleh daerah lain di Indonesia, diperkenalkan Program Kampung Iklim (Proklim) yang merupakan program berskala nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengoptimalkan partisipasi masyarakat serta pemangku kepentingan lainnya dalam menguatkan kapasitas adaptasi terhadap pengaruh perubahan iklim. Pada tahun 2025, wilayah RT.001 s/d RT.009 RW.16 Kelurahan Tomang berhasil masuk dalam penilaian Program Kampung lklim (Proklim) Tingkat DKI Jakarta. Berdasarkan diskusi awal Mitra dengan Tim Untar, salah satu kriteria penilaian Proklim adalah diperlukannya kerja sama wilayah dengan mitra Perguruan Tinggi. Permasalahan yang dimiliki oleh mitra yaitu masih kekurangan ruang terbuka hijau sehingga perlu mengembalikan area bahu jalan kampung dan gang sesuai fungsi ekologis terutama untuk menunjang Proklim. Oleh karena itu, untuk mendukung Proklim khususnya di wilayah RT 001 s/d RT 009 RW 16 Kelurahan Tomang, Tim pelaksana memberi solusi pengadaan dan penataan Taman Tanaman Obat Keluarga (Toga). Metode yang digunakan adalah partisipatif dimana tim pengusul menjadi fasilitator bagi mitra. Mitra menjadi pelaku utama dalam menyusun program unggulan Proklim, terutama tata kelola Taman Toga. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan salah satu bentuk konkret dari peran serta Untar dalam komunitas di sekitarnya sekaligus sebagai implementasi program kampus berdampak.
PERENCANAAN RUANG DALAM DAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN MASJID JAMI AT-TAUFIQ TANJUNG GEDONG Solikhah, Nafiah
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 6 No. 3 (2023): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v6i3.28527

Abstract

The Jami At-Taufiq Mosque is located in Tanjung Gedong Village, Tomang Village, Grogol District, precisely on theeast side of Tarumanagara University (Untar) Campus I at a distance of 500 meters which is used by residents forreligious activities and social education. The Jami At Taufiq Mosque was chosen as the location for the CommunityService (PKM) partner based on the consideration of its location not being too far from Untar so that this PKMactivity could benefit the community around the Untar campus and be more ef ective in implementation andsupervision. There are two problems faced by partners. First, the limiting element of internal space is structuraldegradation, especially at the roof junction point. Second, the elements that fill the interior space are a result of theproblematic elements that divide the interior space, so that the interior space of the At Taufiq mosque cannot beutilized for activities optimally. The solution given to the problem of outdoor space dividing elements is by providingtechnical design and implementation proposals for the roof meeting area so that it is responsive to the flow ofrainwater and filling the interior space elements by applying Islamic planning, namely separating men's andwomen's areas in the form of partitions with geometric pattern elements. . The activity stages include: identifyinginternal space problems, preparing draft interior space planning drawings, determining implementation prioritiesas design realization, and stages of implementing design realization according to priorities. Based on the results ofthe activity, it is known that the elements dividing the interior space at the At Taufiq Mosque in the form of structuraldegradation, especially at the roof junction point, are the main problems that have been resolved by designing andrealizing renovations that take into account the roof elevation. PKM activities also produced furniture designproposals to optimize activities in the space inside the At-Taufiq Mosque. ABSTRAK: Masjid Jami At-Taufiq terletak di Kampung Tanjung Gedong, Kelurahan Tomang, Kecamatan Grogol, tepatnya disisi timur Universitas Tarumanagara (Untar) Kampus I dengan jarak 500 meter yang dimanfaatkan oleh wargauntuk aktivitas keagamaan maupun edukasi sosial kemasyarakatan. Masjid Jami At Taufiq dipilih sebagai lokasimitra Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berdasarkan pertimbangan lokasinya yang tidak terlalu jauh dariUntar sehingga kegiatan PKM ini bisa bermanfaat bagi lingkungan masyarakat sekitar kampus Untar dan menjadilebih efektif dalam pelaksanaan dan pengawasan. Terdapat dua permasalahan yang dihadapi oleh mitra. Pertama,elemen pembatas ruang dalam berupa degradasi struktur terutama pada titik temu atap. Kedua, elemen pengisiruang dalam sebagai dampak dari elemen pembatas ruang dalam yang bermasalah, sehingga ruang dalam padamasjid At Taufiq tidak bisa dimanfaatkan untuk aktivitas secara optimal. Solusi yang diberikan pada permasalahanelemen pembatas ruang luar yaitu dengan memberikan usulan desain teknis dan pelaksanaan pada area pertemuanatap agar responsif terhadap aliran air hujan dan pengisian elemen ruang dalam dengan menerapkan Islamicplanning yaitu pemisahan area laki-laki dan perempuan berupa partisi dengan elemen pola geometris. Tahapankegiatan meliputi: identifikasi masalah ruang dalam, penyusunan draft gambar perencanaan ruang dalam,penentuan prioritas pelaksanaan sebagai realisasi desain, dan tahapan pelaksanaan realisasi desain sesuaiprioritas. Berdasarkan hasil kegiatan, diketahui bahwa elemen pembatas ruang dalam pada Masjid At Taufiqberupa degradasi struktur terutama pada titik temu atap merupakan permasalahan utama yang telah diselesaikandengan desain dan realisasi renovasi yang mempertimbangkan elevasi atap. Kegiatan PKM juga menghasilkanusulan desain furniture untuk mengoptimalkan kegiatan di ruang dalam Masjid At-Taufiq.
PERANCANGAN ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS TARUMANAGARA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN Jonathan, Gabriel; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35568

Abstract

Tarumanagara University is a private university in Jakarta that has been established since 1959. Currently, Tarumanagara University has experienced development through the presence of several campuses in various areas, along with an increasing number of students. Based on survey results, the majority of students at Tarumanagara University come from outside the city, which presents an opportunity to establish a student dormitory that can support students from outside the area, especially first-year students. One of the strategic locations for the development of a student dormitory is on Jl. Letjen S. Parman or next to Tarumanagara University Campus 2. The application of a sustainable architecture design approach in planning the student dormitory is considered suitable to improve the comfort of dormitory residents and reduce the building’s operational costs. This research uses a qualitative approach by collecting data through case studies, interviews, observations, questionnaires, and literature studies. This article aims to produce a spatial program proposal and design a student dormitory using a sustainable architecture approach. The final result will be a proposed design for a student dormitory that applies sustainable architectural principles, including both main and supporting facilities. Keywords: student dormitory; sustainable architecture; Tarumanagara University Abstrak Universitas Tarumanagara merupakan perguruan tinggi swasta di Jakarta yang telah berdiri dari tahun 1959. Saat ini, Universitas Tarumanagara telah berkembang dengan beberapa kampus yang terletak di beberapa wilayah begitupun juga dengan jumlah mahasiswa yang semakin meningkat. Berdasarkan hasil survei, sebagian besar mahasiswa Universitas Tarumanagara berasal dari luar kota, hal ini dapat menjadi suatu peluang untuk mendirikan fasilitas asrama mahasiswa yang dapat menunjang mahasiswa yang berasal dari luar kota terutama mahasiswa tingkat pertama. Salah satu lokasi yang strategis untuk mendirikan asrama mahasiswa berada pada JL. Letjen S. Parman atau di sebelah Universitas Tarumanagara Kampus 2. Pendekatan desain sustainable architecture dalam perancangan sebuah asrama mahasiswa menjadi salah satu pendekatan yang cocok untuk meningkatkan kenyamanan penghuni asrama serta meringankan untuk biaya operasional bangunan. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan data melalui studi kasus, wawancara, observasi, Kuesioner dan literatur. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan usulan program ruang, perancangan asrama mahasiswa dengan pendekatan sustainable architecture. Hasil akhir yang dihasilkan merupakan usulan desain asrama mahasiswa dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan berupa pengolahan massa bangunan, penggunaan material ramah lingkungan, pengolahan fasilitas utama berupa unit kamar dan fasilitas penunjang, dan pengolahan ruang luar.
KOEKSISTENSI IMAN DAN ALAM: IMPLEMENTASI BIOMIMETIK PADA REDESAIN MASJID JABAL NUR SENTUL SEBAGAI WADAH RELIGI DAN EDUKASI ISLAM Wahyudi, Ervian Alfath; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35569

Abstract

The discourse surrounding mosque typologies has long been a subject of ongoing debate within the Indonesian Muslim community. This phenomenon has led to societal fixation on specific visual expectations of mosque architecture, contributing to a stagnation in architectural innovation. This study seeks to demonstrate how mosques in Indonesia were historically constructed and explores how architectural knowledge can integrate Indonesia’s cultural heritage with modern technologies to establish a new typology in harmony with nature. The research employs qualitative methods and literature review such as typological comparative analysis; biomimetic design strategies; the use of kinetic tiles for energy generation; water harvesting and distribution systems. These methods serve as the foundation for dialectical reasoning, later applied to case studies to assess the effectiveness of the proposed strategies. The study proofs that vernacular mosques have historically existed outside of imposed visual norms, and that biomimetic approaches can enrich both the spiritual spatial experience and the functional performance of buildings to support a symbiotic relationship with the natural environment.nature. Keywords:  architecture; biomimetic; design strategy; mosque Abstrak Wacana mengenai fenomena tipologi masjid telah menjadi perdebatan panjang di komunitas Muslim Indonesia. Fenomena tersebut menyibukkan dan menyeret komunitas Muslim Indonesia kepada stigma karakter visual sebuah masjid, menghasilkan pertumbuhan pengetahuan arsitektur yang stagnan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bagaimana masjid di Indonesia dibangun secara historis dan bagaimana ilmu arsitektur dapat menggabungkan warisan budaya Indonesia dan teknologi modern untuk mereformasi tipologi baru yang hidup berdampingan dengan alam. Penelitian ini menggunakan metode kajian kualitatif dan literatur berupa studi komparatif tipologis, strategi desain biomimetik, energi ubin kinetik, dan metode pengumpulan dan distribusi air. Metode-metode ini digunakan sebagai dasar argumentasi dialektika, yang kemudian diterapkan pada studi kasus untuk membuktikan validitas strategi desain yang diusulkan. Penelitian ini membuktikan bahwa secara historis masjid vernakular ada di luar stigma itu sendiri, dan strategi desain biomimetik dapat meningkatkan tidak hanya pengalaman spasial kontemplatif tetapi juga kepraktisan sistem bangunan untuk memastikan koeksistensi bangunan dan alam.