Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Jurnal Bioedukasi

KEKERABATAN FENETIK UBI KAYU (Manihot esculenta) DI PULAU TERNATE BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI ., suparman
BIOEDUKASI Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : BIOEDUKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.631 KB)

Abstract

Penelitian kekerabatan fenetik Ubi Kayu (Manihot esculenta) berdasarkan karakter morfologi dari tujuh populasi (Kelurahan Djan, Akehuda, Tafure, Rua, Loto, Togafo dan Kastela) telah dilakukan. Data morfologi dari tiap populasi diubah menjadi data biner (1-0) berdasarkan ada tidaknya indikator morfologi tiap populasi. Data tersebut dibandingakan dan dianalisis indeks kemiripannya dari tiap populasi dengan populasi lainnya. Indeks kemiripan diolah menjadi Dendogram berdasarkan metode UPGMA dengan software NTsys 2.0. indeks kemiripan tertinggi dimiliki oleh populasi Loto dan kastela yakni 0,74 (74%). Sedangkan yang terendah yakni 0,22 (22%) adalah antara populasi Akehuda dan Togafo, sedangkan rata- rata indek kemiripan dari semua populasi adalah 0,54 (54%) tergolong tinggi. Pola kekerabatan fenetik yang terbentuk adalah tiga kelompok. Berdasarkan dendogram menunjukan bahwa pola kekerabatan dipengaruhi oleh kedekatan wilayah dan mobilisasi manusia. Hal ini dapat dilihat pada anggota kelompok II dan III yang keduanya berada pada satu wilayah yang berdekatan atau satu jalur mobilisasai manusia. Sehingga penyebaran tanaman Ubi kayu diprediksikan sangat dipengaruhi oleh manusia.  Kata kunci : ubi kayu (Manihot esculenta), kekrabatan fenetik, karakter morfologi, pulau ternate.
MARKAH MOLEKULER DALAM IDENTIFIKASI DAN ANALISIS KEKERABATAN TUMBUHAN SERTA IMPLIKASINYA BAGI MATA KULIAH GENETIKA (Telaah keilmuan genetika molekuler tumbuhan) ., suparman
BIOEDUKASI Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : BIOEDUKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.631 KB)

Abstract

Sifat morfologi tanaman meliputi batang, variasi bunga dan bagian-bagian bunga serta variasi bentuk daun telah lama menjadi acuan identifikasi, pemetaan kekerabatan dan taksonomi tanaman, namun sifat morfologi dinilai terbatas karena langsung dipengaruhi lingkungan. Penanda lain yang lebih stabil berupa penanda biokimia seperti isozyma. Penanda ini lebih baik, kurang dipengaruhi kondisi pertumbuhan karakter kuantitatif dan lebih cocok untuk identifikasi varietas, namun terkadang penanda ini juga tidak menunjukan perbedaan yang nyata antar genotip yang diuji. Keterbatasan tersebut, memunculkan markah molekuler, yakni penanda yang ditentukan langsung oleh materi genetik berupa DNA. Sekuen DNA memberikan banyak character state karena perbedaan laju perubahan basa-basa nukleotida di dalam lokus yang berbeda dan lebih akurat  serta  menghasilkan  kekerabatan  yang  lebih  alami.  Karakter  markah  molekuler  berupa sekuen DNA pada tumbuhan dapat diambil dari genom nDNA, cpDNA, dan mtDNA. Sekuen DNA yang banyak digunakan pada tumbuhan ialah : mikrosatelit, ITS, gen rbcL, gapC, ndhF, matK, dan psaA. Gen rbcL secara khusus telah direkomendasikan sebagai DNA pada tumbuhan. Perkembangan markah molekuler memberikan implikasi berupa penambahan materi pada kuliah genetika yakni materi dasar bioinformatika dan filogenetik molekuler sebagai tool dalam analisis data molekuler. Lebih jauh lagi, bioinformatika dan filogenetika molekuler ini dapat direkomendasikan menjadi matakuliah pilihan. Kata kunci : markah molekuler, sekuen DNA, kekerabatan tumbuhan, DNA barkode
KAJIAN KEKERABATAN FILOGENETIK DURIAN (Durio zibethinus) VARIETAS LOKAL TERNATE BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI Wahab, Maimuna A.; ., Sundari; ., Suparman
BIOEDUKASI Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : BIOEDUKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.631 KB)

Abstract

Ternate adalah daerah sentra produksi durian di Maluku Utara. Menurut data statistik Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Ternate tahun 2005, terdapat 95,5 ha areal tanah yang ditanami durian. Hampir 50 % potensi lahan terdapat di Ternate. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui varietas lokal dominan dan hubungan kekerabatan filogenetik durian (Durio zibethinus) lokal varietas Ternate.Penelitian ini bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan dan dikerjakan setelah kenyataan, maka penelitian ini disebut sebagai penelitian sesudah kejadian. Pada   kajian ini digunakan penandamorfologi untuk dijadikan dasar kajian identifikasi tanaman secara filogenetik. Filogenetik adalah salahsatu sistem klasifikasi yang didasarkan pada kekerabatan hubungan nenek moyang (evolusioner) antara takson satu dengan lainnya. Kekerabatan Filogenetik diantara sampel (organisme) dapat dimulai denganpembuatan matrik yang menetapkan status karakter setiap penanda untuk masing-masing sampel. Hasilanalisis  tersebut  kemudian  dapat  digambarkan  dalam  bentuk  matrik  similaritas  dan  diilustrasikan dengan pohon filogenetik atau dendogram.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 varietas lokal durian Ternate, Kekerabatanvaietas durian di Ternate terbagi dalam 3 klaster utama, yaitu 1) varietas 12 dan 13 (durian sina dan udi)dengan indeks 90,32%, 2) varietas 7 dan 10 (durian luri kecil dan air tege-tege) dengan indeks 89,54%,3) varietas 3 dan 6 (durian gajah kuning dan mentega) dengan indeks 84,54%, sedangkan varietas lain polanya tidak jelas. Kata kunci: Kekerabatan, filogenetik, durian, ternate, morfologi
DESAIN PRIMER PCR IN SILICO UNTUK AMPLIFIKASI GEN rbcL PADA GENUS Mangifera ., suparman
BIOEDUKASI Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : BIOEDUKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.631 KB)

Abstract

Penelitian ini merupakan studi bioinformatika untuk mendapatkan sekuen primer gen rbcL pada genus tanaman Mangifera. Gen rbcL merupakan gen barcode yang digunakan untuk identifikasi dan pembeda antar  jenis  pada  kelompok  tumbuhan  tingkat  tinggi  juga  dapat  digunakan  untuk  rekonstruksi filogenentik tumbuhan. Metode yang digunakan dalam mendapatkan primer optimal ialah dengan cara in silico yakni simulasi dengan computer menggunakan informasi website genebank yang menyediakan berbagai  gen.  Desain  primer  gen  rbcL  dimulai  dengan  mengunduh  sekuen  DNA  dari  gen  rbcL Mangifera indica dari GenBank dan mengkopy dalam bentuk pasta sebagai acuan untuk mencari daerah lestari. Primer dibuat dengan dua arah pembacaan DNA : forward (rbcL-F) dan primer reverse (rbcL- R). Primer didesain dengan menggunakan software primer designer yakni Genamics Expression dan selanjutnya primer dikonfirmasi secara insilico menggunakan perangkat lunak blast primer pada NCBI untuk mengetahui posisi akurat penempelan primer pada gen rbcL secara bioinformatika. Primer gen rbcL yang dihasilkan ialah CTTGGCAGCATTCCGAGTA untuk primer forward dan TCACAAGCAGCAGCCAGTTC untuk primer reverse. Prediksi suhu optimal annealing ialah 61-64 derajat celsius. Produk PCR yang didapatkan sepanjang 1272 bp. Kata kunci : Mangifera, primer rbcL, studi bioinformatika
Pelatihan dan Pendampingan Praktikum IPA Kontekstual Bagi Guru- guru setingkat SD di MIN SasaKota Ternate Ade Haerullah; Suparman Suparman
JURNAL BIOEDUKASI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Bioedukasi Edisi Maret
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.766 KB) | DOI: 10.33387/bioedu.v4i2.164

Abstract

Kegiatan Pengabdian mandiri dosen untuk guru setingkat Sekolah Dasar di Kota Ternate khususnya guru-guru MIN Sasa Ternate dan MI Al-Marif Ternate. Dari hasil observasi, analisis situasi, dan justifikasi masalah bersama kedua mitra maka masalah prioritas yang penting untuk dicarikan solusi ialah proses pembelajaran yang secara umum masih bersifat tekstual. Salah satu penyebabnya ialah kemampuan guru dalam melaksanakan praktikum masih kurang. Sehingga tawaran solusi konkrit berdasarkan hal tersebut ialah pelatihan dan pendampingan praktikum IPA kontekstual bagi guru-guru yang dilanjutkan dengan pendampingan pelaksanaan praktikum. Luaran pengabdian ini ialah keterampilan melakukan praktikum IPA kontekstual oleh guru, dan panduan praktikum IPA untuk siswa SD materi air, fotosintesis, makanan, dan listrik.Metode pengabdian dilakukan dua tahap, yakni pelatihan praktikum dan pendampingan praktikum.Hasil kegiatan yakni 20 orang guru mengikuti pelatihan praktikum IPA kontekstual dengan materi: sifat air, fotosintesis, listrik, dan berat badan. Sebanyak 95% peserta merasakan mendapat pengalaman baru setelah mengikuti pelatihan, dan secara keseluruhan guru mengungkapkan akan menerapakan praktikum yang telah dilatih.
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING Suparman Suparman; Dwi Nastuti Husen
JURNAL BIOEDUKASI Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Bioedukasi Edisi Maret
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.867 KB) | DOI: 10.33387/bioedu.v3i2.109

Abstract

Problem Based Learning (PBL) merupakan pembelajaran yang dilakukan dengan menghadapkan siswa pada permasalahan nyata pada kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri dalam memecahakan masalah dan mengupayakan berbagai macam solusinya, mendorong siswa untuk berpikir kreatif. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui peningkatan berpikir kreatif siswa pada siswa kelas VII-3 SMP Negeri 12 Kota Tidore Kepulauanmelalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada konsep pencemaran lingkungan. Metode yang dilakukan berupa Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatkan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa di siklus I dan siklus II. Hasil berpikir kreatif siswa pada siklus I adalah 12,9 dengan kategori kreatif sedangkan pada siklus II meningkat  menjadi 15,1 dengan kategori sangat kreatif. Kata kunci : 
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA PADA KONSEP PENCEMARAN LINGKUNGAN Suparman Suparman; Rosita Wondal; Susilawati Djamrud
JURNAL BIOEDUKASI Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Bioedukasi Edisi Oktober
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.36 KB) | DOI: 10.33387/bioedu.v2i1.63

Abstract

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4–6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri I Sahu, melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, pada materi pencemaran lingkungan. Hasil dan analisis data menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada materi pencemaran lingkungan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VII SMPN I Sahu tahun pelajaran 2013/2014 pada materi pencemaran lingkungan. Presentase aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 51,82% meningkat menjadi 83,32% pada siklus II. Sedangkan presentase ketuntasan belajar pada siklus I di peroleh  nilai rata-rata  16,85  %  kemudian  meningkat  dengan  nilai rata-rata tes  siklus  II yaitu  81,45%. Sedangkan nilai presentase aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan model jigsaw pada siklus I mencapai 90,47% dan siklus II mencapai 100%. Kata kunci: jigsaw, SMPN 1 Sahu, pencemaran lingkungan
PENGARUH MEDIA KULTUR PISANG LOKAL TERNATE TERHADAP FEKUNDITAS LALAT BUAH (DROSOPHILA MELANOGASTER MEIGEN 1979) STRAIN NORMAL Widya Safira Waimahing; Chumidach Roini; Nurmaya Papuangan; Suparman Suparman
JURNAL BIOEDUKASI Vol 5, No 1: Jurnal Bioedukasi Edisi April 2022
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v5i1.4400

Abstract

Drosophila melanogaster is one of the most common fruit fly species. This study aims to see the effect of culture media on the fecundity of these flies. The culture media used were pisang raja, pisang mulut bebek and pisang mas. The study was preceded by catching and identifying fruit flies, making culture media, making parent stock, isolating pupae to mating on each culture medium and counting the number of pupae. Data were analyzed using ANOVA. The results showed that there was a significant effect of Ternate local banana culture media, in this case plantain culture media, on the fecundity of fruit fly (D. melanogaster) with a significant value of 0.014 out of 0.05. Based on this research, it can be concluded that there is a significant effect of Ternate local banana culture media on fruit fly fecundity.
UJI KANDUNGAN SENYAWA DAN ORGANOLEPTIK BUAH MANGROVE UNTUK DIJADIKAN SIRUP DAN MINUMAN SERBUK MANGROVE Ade Tian; Abdulrasyid Tolangara; Suparman Suparman
JURNAL BIOEDUKASI Vol 6, No 1: Jurnal Bioedukasi Edisi April 2023
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v6i1.5900

Abstract

Pengelolaan mangrove sangat variatif dan menghasilkan banyak produk. Dua potensi pangan yang dapat dikelola dari mangrove adalah sirup dan minuman serbuk buah mangrove. Sirup dapat dihasilkan dari jenis Sonneratia alba  yang diambil ekstraknya dan dikombinasi dengan gula, frambosen dan pewarna makanan. Serbuk mangrove dibuat dari buah mangrove jenis Rhizopora apiculata dengan cara dijemur, sangrai lalu digiling sampai halus dari bagian epikotil mangrove. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan senyawa dan uji organoleptik pada kedua buah mangrove. Metode yang digunakan ialah ekstrasi SOXHLET dan APHA untuk mengetahui kandungan karbohidrat, protein, lemak dan senyawa sianida (HCN) serta uji organoleptik yang meliputi: rasa, tekstur, aroma dan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan gizi yang dimiliki yaitu berupa lemak sebesar 0,26 %, protein sebesar 0,3 % dan karbohidrat sebesar 1,6 %. Sonneratia alba  dan Rhizopora apiculata memiliki kandungan HCN sebesar 16,20 ppm dan 12,70 ppm sehingga aman untuk dikonsumsi dan dapat diolah menjadi olahan pangan lainnya. Pengujian organoleptik pada sirup dan minuman serbuk buah mangrove dari tiap-tiap pengujian kategori yang paling banyak dipilih suka selanjutnya sangat suka, agak kental, dan agak halus setelah itu agak suka, sangat kental, dan sangat halus adapun kategori yang lain tidak ada yang memilih. 
IDENTIFIKASI GULMA PADA LAHAN APOTEK HIDUP DI SMP NEGERI 6 KOTA TERNATE Rasmita Sabtu; Nahriza Sabtu; Sulasmi Sulasmi; Suparman Suparman
JURNAL BIOEDUKASI Vol 6, No 2: Jurnal Bioedukasi Edisi Oktober 2023
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v6i2.7039

Abstract

Gulma merupakan tumbuhan yang berada di sekitar tanaman yang sedang dibudidaya dan dapat mengakibatkan kehilangan hasil secara tidak langsung pada tanaman budidaya selain kehilangan hasil langsung akibat hama dan penyakit tanaman. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pengelolaan tanaman, apotek hidup agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, maka sebaiknya tanaman apotek hidup dapat tumbuh dengan tidak diganggu oleh tumbuhan gulma yang sering tumbuh di dekat tanaman apotek hidup. Maka tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi dan mencari tahu jenis gulma apa saja yang tumbuh di lahan tanaman apotek hidup di SMP Negeri 6 Kota Ternate. Metode yang digunakan yaitu metode observasi langsung. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di dapatkan sebanyak 27 spesies gulma yang terdapat di lahan tanaman apotek hidup yang terdiri dari 832 indivifu dan terbagi dalam 3 kelompok gulma. Kelompok gulam berdaun lebar ditemukan dengan jumlah 691 individu (83%), sedangkan gulma rerumputan atau rumput-rumputan yaitu sebanyak 97 tumbuhan (12%) dan gulma jenis teki dengan jumlah 44 individu (5%). Secara umum bahwa gulma daun lebar merupakan gulma dominan yang tumbuh di lahan apotek hidup.