Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Alat Pembelah Bambu untuk Meningkatkan Produksi Tusuk Sate di Kelompok Sepakat Bersama, Bengkaung, Batulayar, Lombok Barat Nurchayati, Nurchayati; Yesung Allo Padang; Hendry Sakke Tira; Nurpatria, Nurpatria; Suteja, Suteja
JURNAL KARYA PENGABDIAN Vol. 7 No. 2 (2025): Oktober, Jurnal Karya Pengabdian
Publisher : Jurusan Teknik Mesin FT Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jkp.v7i2.201

Abstract

Semenjak awal tahun 2022 tepatnya pada bulan Maret, pemerintah Republik Indonesia mulai melonggarkan aturan Covid-19. Dampak positif dari hal tersebut adalah kondisi wisata di Lombok mulai menggeliat lagi. Banyak wisatawan yang mulai berkunjung ke wilayah lombok, NTB. Sehingga perekonomian juga berangsur-angsur membaik. Seiring dengan bangkitnya sektor pariwisata ini, usaha kuliner juga mulai tumbuh lagi. Beberapa kuliner yang terkenal di Lombok adalah Sate Rembiga, sate pusut, sate ikan tanjung dan sate bulayak. Untuk membuat berbagai macam jenis sate ini tentunya sangat membutuhkan tusuk sate. Dusun Seraya desa Bengkaung kecamatan Batu Layar Lombok Barat merupakan salah satu daerah penghasil tusuk sate. Produksi tusuk sate di daerah ini masih dikerjakan dengan alat tradisional. Universitas Mataram sebagai salah satu perguruan tinggi negeri di kota Mataram yang memiliki sumber daya tenaga ahli dan gudangnya ilmuwan sudah seharusnya menunjukkan peran dan partisipasinya untuk peduli terhadap usaha kecil yang ada disekitar kampus. Jarak kelompok usaha tusuk sate ini tidak terlalu jauh dari Universitas Mataram, sekitar 10 km. Berdasarkan permasalahan tersebut maka diperlukan untuk memberikan penyuluhan dan pengenalan alat bantu agar produksi tusuk sate yang dihasilkan menjadi meningkat. Alat yang diaplikasikan ini adalah alat pembelah bambu, yang mampu meningkatkan produksi tusuk sate. Sebelumnya pekerja dalam membelah satu potong bambu, membutuhkan beberapa kali proses pembelahan. Setelah menggunakan alat pembelah bambu ini dapat dikerjakan lebih cepat. Satu kali proses pembelahan sepotong bambu menggunakan alat pembelah bambu ini menghasilkan 10 bilah bambu, yang artinya jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang dilakukan selama ini oleh pekerja. Hasil Evaluasi pada saat penyuluhan dapat dikatakan berhasil dengan terlihat semangatnya peserta penyuluhan dalam mempraktekkan penggunaan alat ini. Kata kunci: pembelah bambu, tusuk sate
Pendidikan Perspektif Al-Ghazali dan Ibn Rusyd Serta Relevansinya di Abad 21 Hania, Irfan; Suteja, Suteja
HEUTAGOGIA: Journal of Islamic Education Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/hjie.2021.12-10

Abstract

Tulisan ini memaparkan perbedaan pandangan dua tokoh terkenal dalam filsafat Islam, Al-Ghazali dan Ibn Rusyd, terhadap konsep alam semesta, sumber pengetahuan, dan pendidikan. Metodologi penelitian ini melibatkan analisis literatur yang mendalam untuk memahami argumen dan perspektif kedua tokoh ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Ghazali cenderung memprioritaskan keberagamaan dan sufistik dalam pendidikan, sementara Ibn Rusyd menekankan rasionalitas dan pertumbuhan intelektual. Kedua pendekatan ini mempengaruhi paradigma pendidikan Islam kontemporer, khususnya dalam konteks kurikulum dan peran pengetahuan. Limitasi dari penelitian ini melibatkan ruang lingkup studi yang terbatas pada dua tokoh dan kurangnya data empiris. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan adanya kajian empiris untuk memahami implementasi dan dampak dari perspektif ini dalam pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini berdampak penting pada pembuat kebijakan pendidikan, desainer kurikulum, dan edukator yang terlibat dalam pendidikan Islam.
Potensi Inhibitor Alam sebagai Pelindung Korosi pada Permukaan Baja Karbon pada Lingkungan Asam Hidayatullah, Syarif; Suteja, Suteja
Jurnal Informasi, Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 2 (2025): Desember: Jurnal Informasi Sains dan Teknologi
Publisher : Politeknik Negeri FakFak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/isaintek.v8i2.353

Abstract

Inhibitor korosi alami menarik perhatian karena efektivitas biaya, biodegradabilitas, dan sifatnya yang ramah lingkungan. Dalam penelitian ini, ekstrak kulit jeruk madu dievaluasi sebagai inhibitor korosi alami untuk baja karbon dalam larutan HCl 1 M. Pengujian dilakukan menggunakan metode elektrokimia yang meliputi polarisasi potensiodinamik (PDP), spektroskopi impedansi elektrokimia (EIS), dan adsorpsi isotermal, pada suhu 27 °C dengan waktu paparan larutan selama 15 menit. Variasi konsentrasi inhibitor blank, 1000, 2000, dan 3000 ppm digunakan untuk menentukan pengaruh terhadap laju korosi. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi inhibitor meningkatkan efisiensi penghambatan dengan nilai tertinggi sebesar 83,39% (PDP) dan 75,41% (EIS) pada konsentrasi 3000 ppm. Mekanisme adsorpsi ekstrak kulit jeruk madu pada permukaan baja karbon mengikuti kombinasi fisisorpsi dan kemisorpsi, membentuk lapisan pelindung yang menghambat reaksi anodik dan katodik. Temuan ini menunjukkan potensi ekstrak kulit jeruk madu sebagai inhibitor korosi yang efisien, murah, dan ramah lingkungan untuk aplikasi industri berbasis logam.
Perbaikan Sifat Mekanik, Thermal, dan DMA Komposit Polyester Diperkuat Serat Waru/CaCO3 Suteja, Suteja; Hidayatullah, Syarif
Jurnal Informasi, Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 2 (2025): Desember: Jurnal Informasi Sains dan Teknologi
Publisher : Politeknik Negeri FakFak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/isaintek.v8i2.358

Abstract

Natural fibers continue to attract the interest of researchers to develop them as composite reinforcements in automotive and non-construction building interior applications. Basically, natural fiber-reinforced polymer composites are not suitable for applications exposed to heat. Investigating changes in mechanical properties due to temperature increases, this research is very important to conduct. The addition of filler (CaCO3) is known to improve the performance of natural fiber-reinforced polymer composites. This study investigates the physical, mechanical, and thermal properties of polyester composites reinforced with waru fibers with CaCO3 powder filler. The composites were fabricated using the hand lay-up method with a volume fraction of 30% waru fibers and CaCO3 powder with a volume fraction of 0-10%. The density of the polyester composite increased from 1.42 to 1.68 and 1.87 g/cm3 as the volume fraction CaCO3 0-10%. The results of dynamic mechanical analysis (DMA) testing of the polyester composite showed that parameters such as loss modulus, storage modulus, and tan delta also increased with increasing CaCO3 content. Thermogravimetric analysis (TGA) testing also showed increased thermal resistance after the addition of 5% (wt) (STL) and 10% (wt) (ZMB) with a residual combustion of 6.54% and 7.89% for each STL and ZMB composite, respectively. Compared to the TKO composite, it had the lowest combustion residue of 3.61%. Tensile strength and elastic modulus showed the same trend, namely an increase, while the elongation of the composite decreased with the addition of CaCO3 powder. The overall test results showed that polyester composites reinforced with CWf fibers and CaCO3 fillers were suitable for automotive and building interior applications.
Pengaruh Konsentrasi Inhibitor Ekstrak Labu Kuning dan Temperatur terhadap Laju Korosi Aluminium dalam Media Air Laut Hidayatullah, Syarif; suteja, suteja
Jurnal Informasi, Sains dan Teknologi Vol. 9 No. 1 (2026): Juni: Jurnal Informasi Sains dan Teknologi
Publisher : Politeknik Negeri FakFak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/isaintek.v9i1.397

Abstract

Korosi pada aluminium dalam lingkungan air laut merupakan permasalahan serius yang dapat menurunkan umur pakai material. Berbagai inhibitor alami telah dikembangkan sebagai alternatif ramah lingkungan, tetapi kajian mengenai penggunaan ekstrak labu kuning sebagai inhibitor korosi aluminium dalam media air laut, terutama dengan mempertimbangkan pengaruh temperatur, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi inhibitor ekstrak labu kuning dan temperatur terhadap laju korosi aluminium menggunakan metode weight loss. Variasi konsentrasi inhibitor yang digunakan adalah 0 ppm, 1000 ppm, 2000 ppm, dan 3000 ppm, dengan variasi temperatur 27°C, 35°C, dan 45°C selama waktu perendaman 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi inhibitor secara signifikan menurunkan laju korosi, dengan nilai optimum pada 3000 ppm yang menghasilkan laju korosi sebesar 0,448 mm/year dan efisiensi inhibisi sebesar 74,06%. Sebaliknya, peningkatan temperatur menyebabkan kenaikan laju korosi dan penurunan efisiensi inhibitor. Analisis parameter aktivasi menunjukkan bahwa penambahan inhibitor meningkatkan energi aktivasi (Ea) dari 17,075 kJ/mol menjadi 28,432 kJ/mol, yang mengindikasikan bahwa proses korosi menjadi lebih sulit terjadi. Secara keseluruhan, ekstrak labu kuning terbukti efektif sebagai inhibitor korosi ramah lingkungan yang bekerja melalui mekanisme adsorpsi dan pembentukan lapisan pelindung pada permukaan logam.
Pengaruh Variasi Kandungan Serbuk Karbon Terhadap Karakteristik Mekanik Komposit Polyester Kulit Nunang Suteja, Suteja; Hidayatullah, Syarif
Jurnal Informasi, Sains dan Teknologi Vol. 9 No. 1 (2026): Juni: Jurnal Informasi Sains dan Teknologi
Publisher : Politeknik Negeri FakFak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/isaintek.v9i1.398

Abstract

The development and performance of high-strength, environmentally friendly, and renewable nunang fiber (Cordia dichotoma)-reinforced polyester composites continue to be refined to achieve optimal performance. This study characterizes the key properties of nunang fiber-reinforced polyester composites with carbon powder fillers. The polyester composites were fabricated using a hot-press method with a nunang fiber volume fraction of 20% (by weight) and varying carbon powder content from 0–10% (by weight). The results of the investigation show that the tensile and bending strengths of the composites increase with increasing carbon powder content up to 2.5%. However, adding carbon powder filler up to 10% to the polyester–nunang fiber composites reduces their tensile and bending strengths. A different trend is observed for the impact toughness of the composites, which increases up to a carbon powder content of 5% and decreases when the carbon powder content reaches 10%. This phenomenon is attributed to the ability to form an optimal fiber-matrix interface between the nunang fibers and the polyester–carbon powder matrix. SEM morphological observations confirmed fiber pull-out failure and matrix failure due to the high stiffness caused by the presence of the carbon powder filler.
Characterization of alkali-activated chrysopogon zizanioides natural fibers as reinforcement for energy-efficient biocomposite applications Sari, Nasmi Herlina; Sujita, Sujita; Syafri, Edi; Suteja, Suteja
Mechanical Engineering for Society and Industry Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/mesi.14133

Abstract

This study examines the characteristics of alkali-activated Chrysopogon zizanioides natural fibers (CZFs) to determine their applicability as reinforcements in energy-efficient biocomposite applications. Unlike earlier research, which has mostly focused on conventional natural fibers, this paper proposes CZFs as a fresh, sustainable reinforcing possibility. The study investigates the impact of different levels of NaOH (1%, 3%, and 5%) on fiber structure and functionality, offering new insights into optimizing alkali activation for improved interfacial bonding and strength in biocomposites. The results show that alkaline treatment significantly influenced the structural and functional properties of the fibers. X-ray diffraction (XRD) analysis revealed an increase in crystallinity index from 36.17% in untreated fibers to 65.74% in those treated with 5% NaOH, indicating significant removal of amorphous components. FTIR spectra confirmed the reduction of non-cellulosic functional groups, while TGA/DTA analysis demonstrated improved thermal resistance, with a maximum char residue of 4.46% at 600 °C. Mechanical tests showed tensile strength increased from 252 ± 25 MPa to 553 ± 26 MPa and elongation from 4.1% to 5.8%, while SEM analysis revealed cleaner, rougher surfaces that promote fiber–matrix bonding. Additionally, fiber density rose from from 410 ± 20 to 980 ± 20 Kg/m³, and moisture content declined from 8.9% to 5.3%, reflecting improved dimensional stability. Among all treatments, the 5% NaOH-treated fibers offered the most optimal combination of structural, thermal, and interfacial performance. These results indicate that alkali-modified CZFs are promising candidates for use in energy-efficient biocomposites, particularly for lightweight structural components, automotive panels, and sustainable packaging requiring thermal durability and high stiffness.