Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Flavonoid synergy in antioxidant optimization: a study of Apium graveolens and Orthosipon stamineus Astuti, Febriana; Akrom; Setianto, Arif Budi; Hidayati, Titiek; Mustofa; Anwar, Muslih; Sun, Suny
Pharmaciana Vol. 15 No. 3 (2025): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/pharmaciana.v15i3.30599

Abstract

Oxidative stress, which arises by an imbalance among the formation of free radicals and the body's antioxidant defenses, is a pivotal factor in the pathogenesis of numerous degenerative abnormalities, comprising cardiovascular abnormality. Flavonoids, that are natural chemicals by antioxidant capabilities, have been identified as potential agents for protection against the adverse impacts of oxidative stress. The objective of this study was to ascertain the flavonoid substance of Apium graveolens and Orthosipon stamineus extracts and their antioxidant activity. The technique comprising qualitative and quantitative phytochemical tests to decide the flavonoid substance of the extracts. In addition, bioactive compounds were screened utilizing LC-HRMS, and antioxidant activity was evaluated utilizing the DPPH technique. The outcomes of this study drawn the presence of flavonoid compounds, alkaloids, tannins, and saponins in the Apium graveolens and Orthosipon stamineus extracts. The Orthosipon stamineus extract was found to contain steroid compounds. The screening of flavonoids compounds utilizing LC-HRMS has drawn the presence of the greatest diversity of flavonoid compounds in the Apium graveolens extract. The antioxidant activity assay employed quercetin as the standard, possessing an IC₅₀ value of 3.95 μg/mL. Apium graveolens extract exhibited an IC₅₀ value of 58.86±0.44μg/mL, Orthosiphon stamineus extract drawn an IC₅₀ value of 61.69±0.21 μg/mL, whereas the combined extract yielded an IC₅₀ value of 46.32±0.34 μg/mL. The outcomes indicate that the extract combination shows superior free radical scavenging ability compared to the individual extracts, suggesting its potential to enhance the antioxidant efficacy of bioactive compounds derived by herbal plants.
Formulation Optimization and In Vitro Antioxidant Evaluation of a Polyherbal Nanosuspension Incorporating Apium graveolens, Centella asiatica, and Orthosiphon stamineus Astuti, Febriana; Akrom; Mustofa; Setianto, Arif Budi; Hidayati, Titiek
Science and Technology Indonesia Vol. 11 No. 1 (2026): January
Publisher : Research Center of Inorganic Materials and Coordination Complexes, FMIPA Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26554/sti.2026.11.1.65-83

Abstract

Antioxidants play a crucial role in protecting cells from damage caused by free radicals, particularly reactive oxygen species (ROS). Herbal plants contain various bioactive compounds, such as phenolics, flavonoids, terpenoids, and alkaloids, which exhibit strong antioxidant properties to neutralize these harmful molecules. However, the bioavailability of these compounds is often limited due to their poor water solubility. Nanotechnology offers a promising solution, specifically through the development of nanosuspensions. This approach enhances the solubility of these compounds by reducing their particle size to the nanometer scale, thus improving absorption in the body. In this study, nanosuspensions were formulated using extracts from Apium graveolens, Centella asiatica, and Orthosiphon stamineus through a two-factor optimization approach with Design-Expert® version 13 software. The optimal formulation contained 25 mL of chitosan, 6 g of Tween 80, and 10 mL of sodium tripolyphosphate (Na-TPP), resulting in nanosuspensions with an average particle size of 220.00(1157) nm, a polydispersity index (PDI) of 0.59±0.06, and a zeta potential of −28.27±0.37mV. The antioxidant activity was evaluated using DPPH and ABTS assays. In the DPPH assay, the nanopolyherbal formulation showed an IC50 of 41.780(3064) μgmL−1, while the combined extract had an IC50 of 44.930(2989) μgmL−1. The ABTS assay revealed an IC50 of 28.21 μgmL−1 for the nanosuspension, significantly lower than the combined extract’s 54.22 μgmL−1. These results highlight the superior antioxidant activity of the nanosuspension, emphasizing the potential of nanotechnology to enhance the efficacy of bioactive compounds from herbal plants.
Program Penyuluhan tentang Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan di Pengungsian Gempa Bumi Cianjur 2022 Iskardyani, Delfi; Astuti, Febriana; Arifin, Novi Riza
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i4.13177

Abstract

ABSTRAK Gempa bumi Cianjur menimbulkan kerusakan infrastruktur dalam skala besar termasuk fasilitas layanan kesehatan. Adanya pengungsian yang diakibatkan oleh bencana, berakibat pada timbulnya masalah kesehatan seperti, campak, batuk, demam, malaria, luka, kurang gizi, sakit kulit serta adanya komplikasi pada bayi. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan di pengungsian. Penyuluhan dilakukan menggunakan leaflet dengan mendatangi tenda pengungsian secara langsung serta serta melibatkan tim Dukungan Kesehatan dari RSAU dr. M. Salamun Bandung untuk pemeriksaan Kesehatan. Kegiatan dilaksanakan sesuai dengan yang ada di pedoman promosi kesehatan, yaitu memberikan informasi 5 jenis layanan kesehatan yang dapat diperoleh pada lokasi pengungsian. Pemeriksaan tersebut terdiri dari: a) Pemeriksaan kehamilan; b) Pemeriksaan kesehatan bayi balita; c) Pemeriksaan kesehatan umum; d) Pemeriksaan kesehatan pada orang yang cacat dan pada lansia; e) Pelayanan kesehatan mental. Dilakukannya penyuluhan ini dapat meningkatkan pengetahuan serta kesadaran dari pengungsi terhadap pemanfaatan layanan kesehatan pada lokasi pengungsian yang dibuktikan dengan antusiasme pengungsi untuk langsung mengikuti pemeriksaan kesehatan. Kata Kunci: Gempa Bumi, Pelayanan Kesehatan, Pengungsian. ABSTRACT The Cianjur earthquake caused large-scale damage to infrastructure, including health service facilities. Displacement caused by disasters results in health problems such as measles, coughs, fever, malaria, wounds, malnutrition, skin diseases, and complications in babies.  This activity aims to provide knowledge about the use of health services in refugee camps. Counseling was carried out using leaflets by visiting refugee tents directly and involving the Health Support team from RSAU dr. M. Salamun Bandung for a health check.  Activities are carried out in accordance with the health promotion guidelines, namely providing information on five types of health services that can be obtained at refugee camps. The examination consists of: a) Pregnancy examination; b) Health checks for babies and toddlers; c) General health examination; d) Health checks on disabled people and the elderly, e) Mental health services.  Carrying out this outreach can increase the knowledge and awareness of refugees regarding the use of health services at refugee locations, as evidenced by the enthusiasm of refugees to attend health checks immediately. Keywords: Earthquake, Health Service, Shelter.
Peningkatan Pengetahuan Pencegahan Cacingan Anak Pada ibu-ibu PKK Dusun Ngipik, Banguntapan Bantul Febriana Astuti; Rafiastiana Capritasari; Novi Rizal Arifin; Adelia Azhima; Herlambang Wicaksono; Ince Rambu Karabu
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 8 No. 01 (2024): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v8i01.2512

Abstract

Stunting pada anak disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kecacingan atau infeksi telur cacing. Tujuan dari dilakukannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan ibu-ibu anggota PKK di Dusun Ngipik Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul , terkait cara mencegah kecacingan. Metode yang digunakan antara lain adalah penyuluhan serta survey dengan menggunakan kuseioner yang terdiri atas pre test yang diberikan sebelum penyuluhan dimulai dan post test atau setelah penyuluhan selesai untuk melihat peningkatan pengetahuan pada peserta penyuluhan. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2023 dari pukul 15.00-17.00 yang dihadiri oleh 32 anggota PKK Dusun Ngipik. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2023 dari pukul 15.00-17.00 yang dihadiri oleh 32 anggota PKK Dusun Ngipik. Terdapat peningkatan pengetahuan dari anggota PKK setelah dilakukannya penyuluhan, yaitu yang awalnya terdapat 20 responden (62,5%) dengan tingkat pengetahuan baik, naik menjadi 31 responden (96,9%). Selanjutnya untuk tingkat pengetahuan dengan kategori cukup yang awalnya sebanyak 8 responden (25%) turun menjadi 1 responden (3%), sedangkan responden dengan kategori kurang yang awalnya berjumlah 4 orang responden (12,5%) berubah menjadi 0 responden. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dari kegiatan penyuluhan yang dilakukan responden dapat dengan baik menerima informasi yang disampaikan dan terdapat peningkatkan pengetahuan dari anggota PKK Dusun Ngipik terkait pencegahan kecacingan pada anak.
Penyuluhan Pencegahan Penyakit Tukak Lambung di Desa Pelem Baturetno Banguntapan Bantul Unsa Izzati; Febriana Astuti; Bambang Suryanto
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 8 No. 01 (2024): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v8i01.2515

Abstract

Lambung adalah salah satu organ dalam sistem pencernaan pada manusia yang berfungsi untuk mencerna makan dan menyerap beberapa sari-sari makanan. Secara garis besar ada tiga faktor penyebab dari tukak lambung diantaranya Helicobacter pylori, penggunaan OAINS dan kerusakan mukosa yang berhubungan dengan stress. Kurangnya edukasi, informasi dan pelatihan mengenai cara pencegahan dan pengobatan gejala tukak lambung sering kali membuat masyarakat keliru dalam mencegah dan menggunakan atau mengkonsumsi obat tukak lambung. Penyuluhan ini dilaksanakan menggunakan metode edukasi dan sharing serta pemaparan materi dengan ceramah kesehatan. Materi yang disampaikan adalah pengertian dari penyakit tukak lambung, macam-macam penyakit pada lambung, prevalensi penyakit di Indonesia, gejala penyakit, pencegahan penyakit dan pengobatan penyakit berdasarkan obat dipasaran. Pengukuran tingkat pengetahuan masyarakat menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum dan sesudah pemberian ceramah kesehatan. Kuesioner diberikan sebelum responden mendapatkan leaflet dan penyuluhan mengenai pencegahan serta pengobatan pada penyakit lambung khususnya tukak lambung (pre-test) dan sesudah selesai penyuluhan (Post-test). Setelah dilaksanakan edukasi dan ceramah serta pemberian kuesioner (post-test) tingkat kemampuan responden meningkat. Terjadinya peningkatan pengetahuan disebabkan adanya edukasi diberikan leaflet dan penyuluhan.
Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Penatalaksanaa Barotrauma melalui Edukasi Leaflet  pada Siswa Sekolah Penerbang TNI AU Febriana Astuti
Bahasa Indonesia Vol 25 No 1 (2026): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v25i1.7130

Abstract

Pendahuluan: Barotrauma merupakan cedera akibat perbedaan tekanan udara di dalam rongga tubuh dengan lingkungan luar, yang berisiko tinggi dialami oleh siswa penerbang TNI AU. Perubahan ketinggian yang cepat selama latihan terbang dapat menyebabkan ketidakseimbangan tekanan pada telinga tengah, sinus paranasal, atau paru-paru. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi leaflet terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku penatalaksanaan barotrauma pada siswa Sekolah Penerbang TNI AU Lanud Adisutjipto. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain one-group pre-test-post-test dilakukan pada 33 siswa penerbang di Skadron Pendidikan 102 dan 105 yang dipilih secara total sampling. Instrumen berupa kuesioner terstandar yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Intervensi dilakukan melalui pemberian edukasi menggunakan leaflet. Analisis data menggunakan uji bivariat dengan batas signifikansi p<0,05. Hasil: Setelah intervensi, terjadi peningkatan kategori baik pada pengetahuan (72,7% menjadi 75,8%), sikap (84,8% menjadi 93,9%), dan perilaku (3,0% menjadi 45,5%). Rerata skor perilaku meningkat secara signifikan dari 43,2 menjadi 74,7. Namun, analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan–perilaku (p=0,890), pengetahuan–sikap (p=0,173), dan sikap–perilaku (p=0,103). Simpulan: Edukasi melalui leaflet efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku penatalaksanaan barotrauma pada siswa penerbang, meskipun peningkatan antarvariabel tidak menunjukkan hubungan signifikan. Intervensi edukasi perlu dipadukan dengan praktik langsung dan evaluasi berkala untuk memperkuat perilaku pencegahan.