Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Hubungan antara Jumlah Kurvatur terhadap Keruntuhan Bangunan Halawane, Francisius Marcelleon; Wisnumurti; Devi Nuralinah
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia berada pada zona Cincin Api Pasifik sehingga sering mengalami gempa bumi yang dapat menyebabkan deformasi signifikan pada elemen struktur. Penelitian ini menganalisis keruntuhan struktur berdasarkan jumlah kurvatur pada tiap elemen serta menilai pengaruh variasi kombinasi tumpuan terhadap pembentukan kurvatur. Struktur dua lantai dimodelkan dengan beberapa jenis tumpuan dan dianalisis gaya dalamnya menggunakan SAP2000. Hasil perhitungan kurvatur dan kurvatur leleh digunakan untuk menentukan kondisi keruntuhan elemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpuan yang lebih kaku menghasilkan jumlah kurvatur yang lebih besar. Secara umum, semakin banyak kurvatur yang terbentuk, struktur memiliki kapasitas yang lebih baik dan mengalami keruntuhan pada tahap lebih akhir. Sebaliknya, struktur dengan kurvatur lebih sedikit cenderung runtuh lebih cepat. Namun, pemodelan dengan tumpuan sendi-sendi menunjukkan ketidaksesuaian sehingga memerlukan analisis lebih lanjut.
Perilaku Jembatan Cable-Stayed dengan Tinjauan Kabel di Dalam Pengaturan Vertical Alignment Yohanes Kevin; Wisnumurti; Zacoeb, Achfas
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji kinerja jembatan cable-stayed dengan konfigurasi pylon tunggal asimetris, dengan perhatian utama pada peran kabel dalam pengaturan vertical alignment gelagar. Fokus analisis diarahkan pada pengaruh variasi sudut kemiringan pylon terhadap besarnya tegangan awal kabel (prestress), deformasi vertikal gelagar, dan distribusi gaya prategang pada struktur. Tiga variasi sudut pylon digunakan, yaitu 0°, −10°, dan +10°, yang dianalisis melalui pemodelan numerik menggunakan perangkat lunak SAP2000. Hasil kajian memperlihatkan bahwa sudut kemiringan pylon memengaruhi secara langsung komponen gaya vertikal pada kabel. Konfigurasi pylon −10° menuntut tegangan awal paling tinggi, namun mampu menghasilkan deformasi vertikal paling kecil sehingga lebih efektif dalam mempertahankan kesesuaian vertical alignment dengan desain. Sebaliknya, kemiringan pylon +10° membuat sudut kabel lebih landai sehingga komponen gaya vertikal berkurang dan lendutan gelagar meningkat. Variasi sudut pylon juga memicu perubahan distribusi gaya prategang pada kabel, khususnya pada bentang terpanjang. Dengan demikian, konfigurasi pylon −10° dinilai sebagai alternatif yang paling efisien dalam pengendalian lendutan dan pengaturan vertical alignment pada jembatan cable-stayed asimetris. Kata kunci: cable-stayed, tegangan awal kabel, vertical alignment, sudut pylon, SAP2000
Analisis LCA Berbasis Integrasi BIM terhadap Variasi Material Beton dan Tulangan pada Struktur Gedung Sekolah Dasar Pasar Baru Lathiif Anggoro, Adik Muhammad; Indradi Wijatmiko; Wisnumurti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 1 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya sektor industri di tengah pesatnya perkembangan zaman terutama pada sektor konstruksi menimbulkan kekawatiran bagi lingkungan terhadap emisi berbahaya yang menyumbang karbon sebesar 58% dari material beton dan 17% dari tulangan baja. Sehingga pada penelitian ini meninjau solusi alternatif dari segi emisi lingkungan serta biaya terhadap penggantian material ramah lingkungan yang terdiri dari beberapa variasi, diantaranya beton subtitusi fly ash 40%, beton substitusi GGBFS 40%, dan tulangan scrap 60%. Penilaian dampak lingkungan dilakukan dengan metode Life Cycle Assessment dibantu dengan Software One Click LCA yang terintegrasi dengan BIM melalui Autodesk Revit, yang didasarkan pada hasil desain ulang terhadap penggantian material melalui Software Tekla Structural Designer. Hasil menunjukan bahwa variasi beton fly ash 40% dengan tulangan scrap 60% menunjukan emisi paling rendah, bila dibandingkan dengan desain eksisting terjadi penurunan emisi 46,74% yaitu sebesar 2.306.519 Kg CO2e menjadi 1.228.223 Kg CO2e atau 371,8 Kg CO2e/m2 menjadi 197,9 Kg CO2e/m2. Dari segi biaya, selisih harga antara desain eksisting dengan variasi beton fly ash 40% dan tulangan scrap 60% adalah sebesar Rp 4.006.227.359
Analisa Pengaruh Variasi Jarak Rusuk serta Penambahan Balok Interior terhadap Perilaku Struktur Waffle Slab Bentang Lebar Rante, Yusril; Simatupang, Roland Martin; Wisnumurti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gedung dengan konsep desain arsitektur modern berupa ruang bebas kolom (column-free space) bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan ruang, namun berakibat pada penggunaan sistem pelat bentang lebar. Sistem pelat bentang lebar harus memiliki kekuatan penampang serta kemampuan layan yang memadai untuk menahan beban yang diterima. Dalam hal ini, waffle slab dapat menjadi solusi, karena memiliki sistem struktur berupa konfigurasi rusuk yang menyediakan kekuatan serta kekakuannya. Dalam penelitian ini dilakukan analisis kekuatan dan lendutan waffle slab bentang lebar dengan variasi jarak rusuk dalam arah-x dan y, serta adanya penambahan balok interior. Tinjauan kekuatan pelat dilakukan berdasarkan perbandingan persentase reduksi berat sendiri pelat, rasio kekuatan lentur dan geser, serta rasio efisiensi pelat. Hasil menunjukkan bahwa konfigurasi dengan lx = ly , merupakan yang paling optimal dalam aspek kekuatan dan efisiensi berat serta lendutan. Sementara itu, konfigurasi dengan lx < ly dominan menghasilkan rasio kekuatan tertinggi pada arah-, sedangkan konfigurasi pelat A dengan lx > ly dominan menghasilkan rasio kekuatan tertinggi pada arah-y. Penambahan balok interior memberikan pengaruh yang cukup bervariasi terhadap kekuatan pelat baik dalam arah-x maupun arah-y. Namun, penambahan balok interior mampu mereduksi nilai lendutan pelat. Selain itu konfigurasi pelat dengan  lx = ly mampu menghasilkan nilai lendutan yang paling optimal.
Perencanaan Struktur Atas Jembatan Manaruwi Bangil Bentang 60 Meter Menggunakan Modular Steel Box Girder (Unibridge) Xavier Mathias, Muhammad Arvin; Wisnumurti; Achfas Zacoeb
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan Manaruwi (Jembatan 3) pada Jalan Lingkar Kabupaten Pasuruan semula direncanakan bentang 73,5 m menggunakan Prestressed Concrete I-Girder. Risiko gerusan (scouring) akibat pilar tengah di alur sungai mendorong reduksi bentang menjadi 60 m tanpa pilar tengah, menggunakan struktur baja modular prefabrikasi Modular Steel Box Girder (Unibridge) dengan sambungan mekanis Ear and Pin. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kapasitas struktur atas terhadap beban rencana SNI 1725:2016, lendutan aktual terhadap batas izin, serta kapasitas sambungan Ear and Pin terhadap beban ultimit sesuai RSNI T-03-2005. Metode bersifat deskriptif-kuantitatif, menggabungkan analisis global menggunakan Midas Civil dan perhitungan analitik manual mengacu SNI 1725:2016, RSNI T-03-2005, dan Eurocode 3. Kombinasi Kuat I TD menghasilkan momen dan geser ultimit rencana sebesar 76.455,64 kNm dan 4.799,80 kN, yang seluruhnya terpenuhi oleh kapasitas penampang komposit penuh (ØMnc = 113.572,08 kNm; ØVn aksi medan tarik = 14.643 kN). Lendutan aktual hasil Midas Civil sebesar 67,47 mm masih di bawah batas izin L/800 = 75,00 mm. Evaluasi sambungan Ear and Pin menunjukkan margin keamanan luas terhadap keruntuhan geser ganda, tumpu, dan lentur pin. Disimpulkan bahwa sistem Modular Steel Box Girder (Unibridge) aman dan layak diterapkan sebagai alternatif struktur atas Jembatan Manaruwi Bangil bentang 60 m. Kata kunci: Modular Steel Box Girder, Unibridge, Ear and Pin Connection, jembatan baja bentang panjang, RSNI T-03-2005.
Analisis Pengaruh Bukaan terhadap Performa Pencahayaan Alami dan Konsumsi Energi Tahunan Berbasis Building Information Modelling Fajar, Mochammad Fajar Efendi; Indradi Wijatmiko; Wisnumurti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sektor bangunan menyumbang sekitar 32% konsumsi energi global dan di Indonesia berkontribusi hingga 50% dari total penggunaan energi nasional, sementara rasio bukaan jendela terhadap dinding (Window-to-Wall Ratio/WWR) berperan ganda dalam memasukkan cahaya alami sekaligus menambah beban panas matahari pada bangunan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh variasi desain bukaan terhadap performa pencahayaan alami, kondisi termal, dan konsumsi energi tahunan pada Gedung B Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya melalui pendekatan Building Information Modelling (BIM) yang mengintegrasikan simulasi pencahayaan pada Autodesk Revit dan simulasi energi pada Autodesk Insight, mengacu pada SNI 6197:2020 tentang Konservasi Energi pada Sistem Pencahayaan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa desain eksisting hanya memenuhi ambang minimum pencahayaan alami pada 15% dari total luas bangunan. Desain alternatif berupa penambahan bukaan jendela pada sisi timur, selatan, dan utara serta pemasangan Solar Tube pada aula lantai 6 meningkatkan capaian tersebut menjadi 20%. Pengukuran suhu pada kondisi eksisting menunjukkan bahwa sebagian ruang operasional telah melampaui ambang kenyamanan termal 27,1°C (SNI 03-6572-2001) sejak pagi hari. Konsumsi energi tahunan desain alternatif tercatat sebesar 498,96 kWh/m²/tahun, lebih rendah dibandingkan desain eksisting sebesar 508,02 kWh/m²/tahun, dengan penghematan 9,06 kWh/m²/tahun pada komponen pencahayaan meskipun beban pendinginan meningkat 4,843 kWh/m²/tahun. Analisis kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa skenario modifikasi bukaan jendela membutuhkan investasi Rp138.307.709,12 dengan penghematan Rp5.184.429,71 per tahun dan payback period 26 tahun 8 bulan 5 hari, dengan Lantai 1 (BCR 1,30) dan Lantai 6 (BCR 1,10) dinyatakan layak. Skenario tambahan Solar Tube membutuhkan investasi Rp197.260.590,91 dengan payback period 27 tahun 3 bulan 11 hari, namun hanya Lantai 1 yang tetap layak secara ekonomi.   Kata Kunci: Window-to-Wall Ratio (WWR), pencahayaan alami, konsumsi energi, Building Information Modelling (BIM), Autodesk Revit, Autodesk Insight, kelayakan ekonomi
Analisis Pengaruh Variasi Kekakuan Sambungan pada Struktur Portal terhadap Gaya Dalam, Deformasi, dan Tegangan pada Balok Komposit Bakhtiar, Qori; Wisnumurti; Achfas Zacoeb
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

       Kondisi sambungan balok dan kolom aktual umumnya bersifat semi-rigid, bukan sepenuhnya rigid atau simple. Penelitian ini menganalisis pengaruh variasi kekakuan sambungan terhadap gaya dalam, lendutan, tegangan, dan daktilitas balok komposit. Fokus kajian ialah membandingkan respons semi-rigid dengan rigid dan simple. Analisis SAP2000 dilakukan pada portal baja tiga lantai dengan bentang 8 m dan tinggi 3,5 m per lantai. Sambungan dimodelkan melalui fitur Releases/Partial Fixity sebesar 90% (rigid), 50% (semi-rigid), dan 20% (simple) terhadap momen ujung kondisi full rigid. Pembebanan dan desain mengacu SNI terkait, sedangkan daktilitas dianalisis secara nonlinier bertahap dengan sendi plastis pada daerah kritis balok. Penurunan kekakuan sambungan meredistribusi momen dari tumpuan ke lapangan. Pada semi-rigid, momen tumpuan dan lapangan sebesar 8.297,99 kgm dan 20.996,40 kgm. Lendutan semi-rigid sebesar 9,621 mm, 33,91% lebih besar daripada rigid (6,358 mm) dan 25,44% lebih kecil daripada simple (12,069 mm). Seluruh variasi memenuhi batas lendutan 22,222 mm. Pada lapangan, tegangan lentur semi-rigid sebesar 105,820 MPa berada di antara rigid 78,130 MPa dan simple 126,588 MPa. Berbeda dari pola tersebut, daktilitas semi-rigid justru paling rendah (μδ = 9,121), 33,22% lebih rendah daripada rigid (12,151) dan 50,60% lebih rendah daripada simple (13,736).   Kata kunci: Balok Komposit, Struktur Portal, Kekakuan Sambungan, Gaya Dalam, Deformasi, Tegangan, Daktilitas