Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

PENERAPAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS V Asih Kurnia Asih; Edy Bambang Irawan; Cholis Sa’dijah
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 2, No 4: April, 2017
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.913 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v2i4.8787

Abstract

This study aims to improve students' critical thinking abilities of fifth grade through the application of Realistic Mathematics Education (RME). This research is action research with a model Kemmis and Mc Taggart through the planning, implementation and observation, and reflection. The subjects were fifth grade students of SDN Kalitanjung II Cirebon 2015/2016 academic year consisting of 22 students. Instruments used include: observation sheet activities of teacher, student activity sheets observation, critical thinking skills test questions, the questionnaires, and field notes. The results showed the students the ability to think on average reached a critical criterion. In addition, activities of teachers and students very successfully.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V melalui penerapan Realistic Mathematics Education (RME). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan model Kemmis dan Mc Taggart melalui tahap perencanaan, pelaksanaan dan observasi, serta refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Kalitanjung II Kota Cirebon tahun ajaran 2015/2016 yang terdiri dari 22 siswa. Instrumen yang digunakan di antaranya: lembar observasi kegiatan guru, lembar observasi kegiatan siswa, soal tes kemampuan berpikir kritis, lembar wawancara, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan berpikir siswa rata-rata mencapai kriteria kritis. Selain itu, kegiatan guru dan siswa terlaksana dengan sangat baik.
LEVEL BERPIKIR GEOMETRI VAN HIELE BERDASARKAN GENDER PADA SISWA KELAS VII SMP ISLAM HASANUDDIN DAU MALANG Itsnaniya Fatwa Nurani; Edy Bambang Irawan; Cholis Sa’dijah
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol.1, No.5, Mei 2016
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.997 KB) | DOI: 10.17977/jp.v1i5.6335

Abstract

Level of geomatri Van Hiele stated that a person will go through five level of development, those were; level 0 (visualization), level 1 (analysis), level 2 (informal deduction), level 3 (deduction), and level 4 (rigor). The purpose of this study was to determine and describe the Van Hiele geometric thinking levels by gender in class VII SMP Islam Hasanuddin Dau Malang. The method used in this research was descriptive qualitative. The instrument used was Van Hiele Geometry Test (VHGT) and interviews. The tests and interviews were conducted to 6 students which consited of 3 male and 3 female whose  high, medium and low ability. The results showed that the student reached judging from the gender, female students whose high ability reached level 1 (analysis) while low ability female students were at level 0 (visualization). High ability male students were at level 1 (analysis) while male students whose low ability was at level 0 (visualization).Tahap perkembangan berpikir  geomatri Van Hiele menyatakan bahwa seseorang akan melalui lima tahap perkembangan yaitu  level 0 (visualisasi), level 1 (analisis), level 2 (deduksi informal), level 3 (deduksi), dan level 4 (rigor). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan level berpikir geometri Van Hiele berdasarkan gender pada siswa kelas VII SMP Islam Hasanuddin Dau Malang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan adalah tes berpikir geometri Van Hiele Geometry Test (VHGT) dan wawancara. Pemberian tes dan wawancara dilakukan kepada 6 orang siswa yaitu 3 siswa perempuan dan 3 siswa laki-laki yang masing-masing berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Hasil penelitian menunjukan bahwa ditinjau dari gender siswa perempuan berkemampuan tinggi dan sedang berada pada level 1 (analisis) sedangkan siswa perempuan berkemampuan rendah berada pada level 0 (visualisasi). Siswa laki-laki bekemampuan tinggi dan berada pada level 1 (analisis) sedangkan siswa laki-laki berkemampuan sedang dan rendah berada pada level 0 (visualisasi).
PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP HIMPUNAN MELALUI MIND MAPPING KELAS VII SMP Dewi Arfiyanti; Edy Bambang Irawan; Purwanto Purwanto
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 2, No 6: Juni 2017
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.962 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v2i6.9363

Abstract

The kind of this research is classroom action reseach (CAS). This research was conducted to 34 student in the VII.D class of SMP. The aim of this research is to describe understanding concept of set through mind mapping. The data collected is the result of observation, mind mapping and finals tes of the cycle. There are six indicators to decide sub topic, keyword, color design, supporting data and material of sets in assessing mind mapping. The result of mind mapping shows that students can produce picture and write the keywords, Supporting data in the form of notation and Venn diagram. Students comprehended sets concept and finished contextual problem by using Venn diagram.Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan pada kelas VII. D SMP berjumlah 34 siswa. Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan peningkatkan pemahaman konsep himpunan melalui mind mapping. Data yang dikumpulkan yaitu data observasi, hasil mind mapping dan tes akhir siklus. Penilaian mind mapping ada enam indikator yaitu menentukan sub topik, menentukan cabang sub topik, kata kunci, desain warna, data pendukung, dan materi himpunan. Berdasarkan hasil mind mapping menunjukkan siswa telah menghasilkan gambar dengan menuliskan kata kunci, data pendukung berupa notasi dan diagram Venn. Siswa memahami konsep himpunan dan menyelesaikan masalah kontekstual dengan diagram Venn. 
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH Wahyu Indrastuti; Sugeng Utaya; Edy Bambang Irawan
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 2, No 8: AGUSTUS 2017
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.996 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v2i8.9786

Abstract

This research aims to describe the implementation of cooperative learning types Make A Match to increased the activity and students learning outcomes of the 4C grade of SDN Beluk Klaten. This research was Action Research Classroom (ARC) in two cycles. Each of the cycle consisted of two meetings. The date collected through observation sheets of students activity and the test results of students learning. The results of the research which an increased of the students activity from 76,10% (Good) in the first cycle to 92,24% (Very Good) in the second cycle. The result of classical learning competences in the first cycle  of 72% with an average of 74,00  to 88% with an average 88% in the second cycle.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif tipe Make A Match untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Beluk Klaten. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas dua pertemuan. Data dikumpulkan melalui hasil observasi aktivitas siswa dan tes hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas siswa dari 76,10% (Baik) pada siklus I meningkat menjadi 92,24% (Sangat Baik) pada siklus II. Ketuntasan belajar klasikal siswa pada siklus I sebesar 72% dengan rata-rata 74,00 meningkat menjadi 88% dengan rata-rata 86,00 pada siklus II.
MEMAHAMKAN KONSEP PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SDN SUMBEREJO 03 KABUPATEN MALANG Wahyu Eko Permadi; Edy Bambang Irawan
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol.1, No.9, September 2016
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.344 KB) | DOI: 10.17977/jp.v1i9.6740

Abstract

The research was conducted in SDN Sumberejo 03 Malang wich has purpose to understanding concept fraction the IV grade students'. That was because in SDN Sumberejo 03, the understanding concepts mathematis were low, that was because the teacher still use conventional methods to teach their students. This research was classroom action research.  Date analysis technique used was descriptive qualitative analysis, with the subject 21 students. This research used some data collection methods such as observation, documentation and test. This research was done on two cycles. There were 3 sessions (meetings) on the first cycle, and the second cycle there were 2 sessions. The result of this research shows that there was an improvement of the understanding concepts mathematis the IV grade students' SDN Sumberejo 03. This is can shown the learning outcoming on the cycle 1 was avarage 82,9, and the improvement on the cycle 2 was avarage 88,4. On completenes class the cycle 1 the students' achievement percentage was 76,2%, on the cycle 2 was 90,5%,Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sumberejo 03 dengan tujuan untuk memahamkan konsep pecahan siswa kelas  IV. Hal ini dikarenakan di pemahaman konsep   siswa masih rendah, salah satunya diakibatkan karena guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. dengan subjek penelitian terdiri dari 21 siswa. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode observasi, wawancara, dan tes. Pelaksanaan penelitian dengan ini sebanyak dua siklus. Siklus 1 terdiri atas tiga kali pertemuan dan siklus 2 terdiri atas 2 kali pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dapat memahamkan konsep siswa. Hal ini dapat ditunjukkan pada hasil belajar siswa pada tes siklus 1 sudah mencapai rata-rata  82,9 dan mengalami peningkatan pada siklus 2 yaitu 88,4.  Pada ketuntasan secara klasikal mencapaipada siklus I mencapai 76,2  dan siklus II mencapai 90,5%
STRUKTUR KONEKSI MATEMATIS SISWA KELAS X PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINIER DUA VARIABEL Melinda Rismawati; Edy Bambang Irawan; Hery Susanto
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 2, No 4: April, 2017
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.747 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v2i4.8754

Abstract

Mathematical connection is an interconnection among concepts in a similar topic and an interconnection among materials in a particular topic with other topic in mathematics. When students can connect mathematical ideas, their understanding is deeper and more lasting. This research studies about the structure of mathematical connection of the students with a high mathematical abilities in solving problem on Linear Equation System Two Variable (LESTV) by giving individual worksheet and interviewing one subject with a high mathematical abilities. The structure of mathematical connection is studied by linking the indicators of mathematical connection that are: (1) recognizing and utilizing the relationship between mathematical ideas, and (2) understanding how the mathematical ideas are connected and built each other resulting the ideas thoroughly and coherently.Koneksi matematis adalah hubungan antar konsep dalam satu topik yang sama, serta hubungan antar materi dalam matematika. Jika siswa dapat membuat banyak koneksi matematis, maka pembelajaran akan bermakna dan optimal. Penelitian ini mengkaji struktur koneksi matematis siswa berkemampuan matematis tinggi dalam menyelesaikan soal SPLDV dengan memberikan lembar tugas individu dan melakukan wawancara kepada satu subjek yang memiliki kemampuan matematis tinggi. Hasil tes dianalisis menggunakan indikator koneksi matematis (1) mengenal dan menggunakan hubungan diantara ide-ide matematis, (2) memahami bagaimana ide matematis saling berhubungan dan membangun satu sama lain untuk menghasilkan keseluruhan yang koheren.
Kemampuan Pemecahan Masalah Kontekstual Siswa SMA pada Materi Barisan dan Deret Meylia Dwi Jayanti; Edy Bambang Irawan; Santi Irawati
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 3, No 5: MEI 2018
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.979 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v3i5.11092

Abstract

Abstract: This article was a study that aims to describe the contextual problem solving skills of senior high school students. We used problem solving indicator based on Polya. The results of this study indicated that on stage of understanding the problem, 8% of all students could understand every word of the problem but some students were wrong in writing what was known and asked from the problem. At the stage of planning the strategies of solving problems, 43% of all students could construct the solving plan for the question given. At the stage of implementing a plan, 33% of all students could finish all steps chosen to solve the problems systematically. In the last stage, i.e: checking the answers obtained, 16% of all students were able to check the answers back but some students were not able enough to check back the answers obtained.Abstrak: Artikel ini merupakan suatu kajian yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah kontekstual siswa SMA. Analisis data dalam kajian ini menggunakan indikator kemampuan pemecahan masalah Polya. Hasil kajian menunjukkan pada tahap memahami masalah sebesar 8% siswa dapat memahami setiap kata pada soal tetapi beberapa siswa salah dalam menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan dari soal. Pada tahap menyusun rencana penyelesaian sebesar 43% siswa dapat menyusun rencana penyelesaian dari soal tersebut. Pada tahap melaksanakan rencana sebesar 33% siswa mampu menyelesaikan semua langkah yang telah disusun untuk menyelesaikan soal tersebut dengan runtut dan sitematis. Pada tahap terakhir memeriksa kembali hasil jawaban sebesar 16% siswa mampu melakukan pengecekan jawaban, tetapi beberapa siswa kurang mampu dalam mengecek kembali jawaban yang didapatkannya.
GESTURE MENUNJUK DAN REPRESENTASIONAL SISWA SESUAI DENGAN TAHAPAN BERPIKIR VAN HIELE Tiwi Nur Masita; Edy Bambang Irawan; Sisworo Sisworo
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol.1, No.2, Februari 2016
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.392 KB) | DOI: 10.17977/jp.v1i2.6134

Abstract

The objective of this study is to describe gesture of pointing and gesture representational which appropriate to the level of thinking of van Hiele. This study used a qualitative approach which is included into descriptive exploratory study. The subjects of this study are 6 students of 8th graders of SMP Negeri 3 Balikpapan. The selected subjects of this study consisted of two students with the level of understanding 0 (recognition), 2 students with the level of understanding 1 (analysis), and 2 students with the level of understanding 2 (order). The gestures were observed when students solved the problems in groups. The result showed that the gesture of pointing and gesture representational which were used by the students when solving problems in groups appropriate to the characteristics of the understanding level that is owned by the students.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gesture menunjuk dan representasional yang sesuai dengan tahapan berpikir van Hiele. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan masuk ke dalam jenis penelitian deskriptif eksploratif. Subjek penelitian pada penelitian ini adalah 6 orang siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Balikpapan. Subjek penelitian yang dipilih terdiri atas 2 siswa dengan tahapan berpikir 0 (recognition), 2 siswa dengan tahapan berpikir 1 (analysis), dan 2 siswa dengan tahapan berpikir 2 (order). Geture diamati ketika siswa memecahkan masalah secara berkelompok. Hasil analisis data menunjukkan bahwa gesture menunjuk dan representasional sesuai dengan karakteristik tahapan berpikir yang dimiliki oleh siswa.
ORIGAMI TERHADAP KECERDASAN SPASIAL MATEMATIKA SISWA Dian Wardhani; Edy Bambang Irawan; Cholis Sa’dijah
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol.1, No.5, Mei 2016
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.511 KB) | DOI: 10.17977/jp.v1i5.6301

Abstract

Origami is an art of folding that originated in Japan. Origami is not only fun, but to accommodate the diversity of learning styles helps children understand math and this is an innovative method for the development of education, culture, and social skills. Origami also encourages interaction and train students in the group student collaboration. The use of origami media can also help the learning process of students in mathematics due to make the students involved in the learning process. Origami to create a form. Forms related to spatial intelligence, spatial intelligence thinking skills while using the pictures and imagine the mind in the form of two three-dimensional.Origami adalah sebuah seni lipat yang berasal dari Jepang. Origami bukan hanya menyenangkan, tetapi menampung keanekaragaman gaya pembelajaran yang membantu anak-anak memahami matematika dan ini adalah metode inovatif untuk perkembangan pendidikan, budaya,dan kemampuan sosial. Origami juga mendorong interaksi siswa dalam kelompok dan melatih kerjasama siswa. Penggunaan media origami juga dapat membantu proses belajar siswa dalam pembelajaran matematika dikarenakan membuat siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Origami untuk membuat suatu bentuk. Bentuk berhubungan dengan kecerdasan spasial, sedangkan kecerdasan spasial kemampuan berpikir menggunakan gambar dan membayangkan dalam pikiran dalam bentuk dua tiga dimensi.
PEMAHAMAN OPERASI BILANGAN BULAT SISWA KELAS VII MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT BERBANTUAN KARTU PAPAN BERMAGNET Eka Mery Fatmawati Sukarno; Edy Bambang Irawan; Abadyo Abadyo
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 2, No 5: Mei 2017
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.972 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v2i5.9150

Abstract

This research is aimed to describe the understanding of integer operations on students grade 7th by using cooperative learning type NHT assisted by magnetic board card. This is classroom action research (CAR) and the participants are 21 students at class 7-A. Collected data are test, observation, and interview. The result of this research shows the increased understanding of integer operations on students grade 7th by using cooperative learning type NHT assisted by magnetic board card.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman operasi bilangan bulat siswa kelas VII melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT berbantuan kartu papan bermagnet. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan partisipan siswa-siswi kelas VII-A yang berjumlah 21 orang. Data yang dikumpulkan adalah tes, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman operasi bilangan bulat siswa kelas VII melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT berbantuan kartu papan bermagnet.