Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

ANALISIS RISIKO DAN INEFISIENSI PADA PRODUKSI PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI SUMATERA SELATAN: APLIKASI MODEL COBB-DOUGLAS Lina Fatayati Syarifa
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 39, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v39i1.748

Abstract

Di Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan, produksi karet dicirikan oleh adanya risiko yang menyebabkan variabilitas dalam produksi karet. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur tingkat efisiensi perkebunan karet dalam mengestimasi kehilangan produksi akibat risiko produksi dan inefisiensi pada karet rakyat di Sumatera Selatan. Penelitian dengan metode survei dilaksanakan di Sumatera Selatan. Pada penelitian ini, pengambilan sampel sebanyak 380 petani dilakukan dengan metode acak sederhana bertingkat. Dengan menganalisis data cross-sectional, model parametrik Cobb-Douglas digunakan untuk mengestimasi tingkat efisiensi dan risiko produksi, serta menentukan faktor-faktor yang memengaruhi inefisiensi secara simultan. Hasil analisis menggunakan model Cobb-Douglas dengan komponen risiko menunjukkan bahwa tingkat efisiensi teknis pada sampel perkebunan dalam penelitian ini mencapai 0,74, yang mengindikasikan bahwa produksi karet pada kebun dalam studi ini belum efisien. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa variabel pupuk berpengaruh nyata secara negatif pada tingkat kepercayaan 5% dalam hubungannya dengan model risiko produksi, yang artinya pupuk merupakan input yang dapat menurunkan risiko produksi. Sebaliknya, input tenaga kerja memberikan efek positif terhadap model risiko produksi, mengindikasikan bahwa tenaga kerja merupakan input yang dapat meningkatkan risiko produksi. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa variabel penyuluhan, pengalaman berkebun karet, sistem penyadapan dan bahan tanam klonal yang digunakan memiliki pengaruh yang signifikan dalam menurunkan inefisiensi pada produksi karet rakyat. Skor efisiensi teknis menunjukkan bahwa produksi karet rakyat masih dapat ditingkatkan sebesar 26%, dengan cara menurunkan efek risiko dan inefisiensi dalam proses produksi.
POTENSI MODEL USAHA PEREMAJAAN KARET RAKYAT DI SUMATERA SELATAN Lina Fatayati Syarifa; Dwi Shinta Agustina; Iman Satra Nugraha; Aprizal Alamsyah
Warta Perkaretan Vol. 40 No. 2 (2021): Volume 40, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v40i2.806

Abstract

Strategi peremajaan karet rakyat ini dipandang perlu mengingat luasnya areal karet rakyat yang sudah tua/rusak, serta banyaknya areal tanaman menghasilkan (TM) yang kondisinya juga sudah tidak layak sadap. Kondisi ini menyebabkan upaya-upaya peremajaan karet rakyat harus segera dipercepat. Kajian ini dibuat untuk menganalisis strategi peremajaan karet rakyat yang arahnya lebih dititikberatkan pada upaya pemberdayaan masyarakat perkebunan secara optimal, sehingga nantinya dapat dibuat model-model usaha peremajaan yang dapat diterapkan dalam upaya mempercepat peremajaan karet rakyat. Dengan melihat potensi luasnya areal karet-karet tua dan rendahnya tingkat adopsi bahan tanam klonal, maka wilayah-wilayah yang dapat dijadikan sasaran prioritas untuk dilaksanakan program peremajaan karet di Sumatera Selatan yaitu Kabupaten Musi Rawas Utara (5.571 ha), Kabupaten Musi Rawas (4.014 ha), Kabupaten Musi Banyuasin (4.014), Ogan Komering Ilir (2.603 ha), OKU Timur (2.265 ha), Ogan Komering Ulu (1.588 ha), Banyuasin (1.893 ha), dan Muara Enim (2.308 ha). Upaya peremajaan karet dengan menerapkan teknologi maju secara swadaya sebenarnya telah dilakukan oleh sebagian petani. Namun pada pelaksanaannya masih berjalan lambat karena petani memiliki keterbatasan, antara lain: kekurangan modal, ketidaktersediaan sarana produksi seperti bibit unggul dan pupuk, serta kurangnya pengetahuan teknis. Dapat diidentifikasi potensi sumber dana internal dari petani dan dana eksternal dari pihak luar yang dapat membiayai peremajaan, antara lain: penjualan hasil tanaman intercropping, bantuan CSR migas/perusahaan swasta, kemitraan dengan perusahaan kayu karet, serta bantuan pemerintah. Dari analisis kelayakan finansial, semua pilihan skenario model usaha peremajaan karet rakyat dapat dikategorikan layak untuk diusahakan. Apabila di suatu wilayah tidak tersedia pabrik kayu karet, tanaman hasil intercropping tidak bisa dijual, dan apabila tidak terdapat perusahaan-perusahaan yang potensial mengeluarkan dana CSR untuk membiayai peremajaan karet rakyat, maka diperlukan peran pemerintah daerah yang tinggi di wilayah tersebut untuk menyediakan bantuan peremajaan bagi karet rakyat.
STRATEGI MENGHADAPI REGULASI BEBAS DEFORESTASI UNI EROPA (EUDR) PADA KARET ALAM BERKELANJUTAN Sahuri, Sahuri; Syarifa, Lina Fatayati; Akbar, Andrea; Tistama, Radite; Rahutomo, Suroso; Alamsyah, Aprizal
Warta Perkaretan Vol. 43 No. 1 (2024): Volume 43, Nomor 1, Tahun 2024
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v43i1.958

Abstract

Tulisan ini membahas strategi menghadapi European Union Deforestation-Free Regulation (EUDR) serta model produksi pada karet alam berkelanjutan. Uni Eropa (UE) telah menetapkan kebijakan baru yaitu EUDR dimana mencegah perusahaan-perusahaan mengekspor produk-produk yang terkait dengan deforestasi dan degradasi ke pasar Uni Eropa. Negara produsen dapat menerapkan model produksi karet alam yang berstandar untuk produksi karet alam berkelanjutan. Strategi yang dapat dilakukan oleh pelaku industri karet di Indonesia dalam menghadapi EUDR yaitu menyusun Joint Task Force dengan negara produsen lain melalui asosiasi internasional komoditas, menyusun platform sertifikasi produk untuk karet yang diakui oleh UE, melakukan dialog dan diplomasi guna pengakuan atas platform sertifikasi produk yang dibentuk. Selain itu, pemerintah harus mempercepat pendataan base perusahaan industri karet melalui Siperibun, mempercepat pendataan pekebun karet melalui e-STDB sebagai bahan traceability, menyusun dan menerapkan sertifikasi produk berkelanjutan serta memitigasi permasalahan komoditas dalam negeri terutama pada tingkat petani untuk menciptakan model produksi karet alam yang berkelanjutan.
KARAKTERISASI SOSIAL EKONOMI PETANI KARET DAN ADOPSI TEKNOLOGI BUDIDAYA DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI PROVINSI SUMATERA UTARA Bukit, Ernita; Syarifa, Lina Fatayati
Warta Perkaretan Vol. 42 No. 2 (2023): Volume 42, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v42i2.963

Abstract

Informasi dan kumpulan data tentang tanaman karet rakyat sangat diperlukan untuk merancang program-program yang berkaitan dengan peningkatan produksi dan produktivitas karet rakyat di Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan survei, yaitu mengumpulkan data karakterisasi sosial ekonomi dan teknis di tingkat petani. Penelitian dilakukan di Kab. Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara, dengan responden sebanyak 55 petani secara acak sederhana. Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan informasi dan data yang berkaitan dengan karakteristik dan tingkat adopsi teknologi karet pada petani di kabupaten Serdang Bedagai.Hasil penelitian menunjukkan Petani di Kab. Serdang Bedagai masih minim kesempatan akses penyuluhan dan kursus budidaya karet. Umumnya luas lahan petani di Kab. Serdang Bedagai sangat kecil yaitu rata-rata 1,5 ha karena terbagi dengan lahan tanaman kelapa sawit. Sebagian besar petani di kabupaten tersebut merupakan petani yang menjadikan karet sebagai mata pencaharian, dengan pendapatan Rp 24,1 juta/tahun. Tingkat adopsi teknologi budidaya karet, di Kab. Serdang Bedagai cukup tinggi terhadap penggunaan bahan tanam klon dan jarak tanam. Namun, tingkat adopsi petani terhadap penggunaan pupuk dan pengendalian penyakit di kabupaten tersebut masih sangat rendah sebesar yaitu 0%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, petani belum memahami cara pengendalian penyakit jamur akar putih, penyakit daun dan penyakit tanaman karet lainnya. Selain itu, petani juga masih memasarkan bokarnya secara sendiri-sendiri, sehingga kualitas bokar sulit dikontrol. Oleh karena itu, disarankan petani karet di Kab. Serdang Bedagai mendapatkan pendampingan dan kegiatan pendukung lainnya, seperti: penyuluhan intensif tentang pengendalian penyakit pada budidaya karet dan pengolahan serta pemasaran bokar.
GAGASAN PEMBENTUKAN BADAN PENGELOLA DANA PERKEBUNAN (BPDP) KARET UNTUK KEBERLANJUTAN INDUSTRI KARET ALAM INDONESIA: Gagasan Pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Karet untuk Keberlanjutan Industri Karet Alam Indonesia Syarifa, Lina Fatayati; RAHUTOMO, Suroso
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 42, Nomor 2, Tahun 2024
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v42i2.1009

Abstract

Industri karet alam Indonesia saat ini dihadapkan pada beberapa permasalahan besar yang saling mempengaruhi dan terus menurunkan kinerja industri ini, yaitu rendahnya harga karet, penurunan produksi, dan kendala ekspor. Untuk mempertahankan eksistensi dan daya saing industri karet alam Indonesia, perlu segera dibentuk Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Karet dengan cara memberlakukan pungutan dana cess dari ekspor karet alam serta ekspor/ impor barang jadi karet. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan justifikasi pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Karet dan potensi penghimpunan dana untuk kegiatan-kegiatan pendukung keberlangsungan industri karet alam nasional. Besaran pungutan dari ekspor karet alam disesuaikan dengan kondisi harga karet alam dunia. Pungutan ditetapkan secara progresif yaitu 0.5% pada harga free on board (FOB) USD 1.48-2.00/ kg, 1% pada harga FOB USD 2.01-3.00/kg, dan 2 % pada harga FOB > USD 3.00/kg. Apabila harga FOB < USD 1.48/kg, maka pungutan cess tidak diberlakukan (cut off) mengingat potensi dampak negatifnya terhadap semakin rendahnya harga di pasar domestik terutama jika pungutan ini sebagian besar ditransmisikan ke petani. Besaran pungutan untuk ekspor barang jadi berbasis karet diusulkan sebesar 0.2% dari nilai ekspor, sedangkan pada impor barang jadi diusulkan pada produk ban yaitu sebesar Rp 2.500,-/ EPU (Equaivalent Passanger Unit). Pada harga FOB saat ini sekitar USD 1.48/kg, total potensi dana yang terkumpul dari ketiga skema tersebut dapat mencapai Rp. 382,76 milyar per tahun. Dana yang terkumpul selanjutnya dapat dikelola BPDP Karet dengan porsi utama untuk peremajaan, sedangkan porsi lainnya untuk kegiatan seperti pengembangan industri hilir, promosi sustainability, R&D, pengembangan SDM karet, penguatan kelembagaan sosial dan ekonomi pekebun rakyat, pemenuhan syarat pasar internasional, dan berbagai kegiatan lainnya sesuai fungsi dari BPDP Karet.
ANALISIS SWOT DALAM MENENTUKAN STRATEGI SUSTAINABILITY INDUSTRI KARET ALAM DI INDONESIA Syarifa, Lina Fatayati; AMALIA, Rizki; NURKHOIRY, Ratnawati; SITA, Kralawi; RAHUTOMO, Suroso; ASYWADI, Hajar
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 42, Nomor 2, Tahun 2024
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v42i2.1010

Abstract

Beberapa tahun terakhir ini, Industri karet alam Indonesia saat ini dihadapkan pada beberapa masalah utama yang saling berkaitan diantaranya yaitu rendahnya harga komoditas ini di pasaran global, penurunan produksi, dan kendala ekspor. Kajian ini dilakukan untuk menentukan langkah-langkah strategis dalam upaya mempertahankan sustainability industri karet alam Indonesia. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode analisis SWOT terhadap kinerja industri karet alam nasional. Berdasarkan hasil analisis SWOT, sustainability industri karet nasional terletak pada kuadran IV (Stability), yang artinya bahwa pada saat ini kondisi industri karet alam nasional berada pada taraf hati-hati dikarenakan adanya tekanan dari faktor-faktor eksternal seperti harga karet yang terus menurun selama satu dekade terakhir, serangan penyakit pestalotiopsis, serta adanya pemberlakuan regulasi EUDR. Oleh karena itu disusun strategi yaitu: a) gerakan peremajaan karet yang sesuai kaidah good agricultural practices (GAP); b) melakukan perbaikan produksi dan produktivitas karet; c) melakukan upaya-upaya perbaikan dan peningkatan bagian harga karet yang diterima petani melalui efisiensi pemasaran bokar; d) mendorong tumbuhnya industri hilir karet dalam negeri; e) memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam EU Deforestration Regulation; f) melakukan penguatan riset dan pengembangan industri hilir karet; serta g) membentuk Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Karet sebagai salah satu sumber pendanaan kegiatan-kegiatan untuk mempertahankan sustainability industri karet alam.
FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN TANAMAN KARET DI PERKEBUNAN RAKYAT: STUDI KASUS DI KABUPATEN MUSI BANYUASIN, SUMATERA SELATAN Alamsyah, Aprizal; Sahuri, Sahuri; Nugraha, Iman Satra; Syarifa, Lina Fatayati
Warta Perkaretan Vol. 43 No. 2 (2024): Volume 43, Nomor 2, Tahun 2024
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v43i2.1002

Abstract

Karet adalah salah satu komoditas perkebunan penting di Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Namun, pertumbuhan tanaman karet di perkebunan rakyat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet di perkebunan rakyat di kabupaten tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara menggunakan kuesioner yang melibatkan 100 sampel yang diambil secara acak sederhana. Kabupaten Musi Banyuasin dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu daerah penghasil karet utama di Sumatera Selatan, dengan potensi besar dalam sektor perkebunan karet. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena pertumbuhan tanaman karet dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kebersihan kebun, usia petani, dan tingkat pendidikan petani. Dengan memahami pengaruh faktor-faktor ini, diharapkan dapat dilakukan upaya perbaikan yang efektif untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil karet, sehingga mendukung pengembangan ekonomi lokal dan kesejahteraan petani. Analisis data dilakukan dengan teknik korelasi dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebersihan kebun, usia petani, dan tingkat pendidikan petani masing-masing menyumbang 59%, 33%, dan 8% terhadap pertumbuhan tanaman karet. Secara khusus, kebersihan kebun berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan tanaman karet dibandingkan dengan usia dan tingkat pendidikan petani.
KARAKTERISTIK PETANI KARET DI KABUPATEN MUARA ENIM Alamsyah, Aprizal; Syarifa, Lina Fatayati; Nugraha, Iman Satra; Asywadi, Hajar
Warta Perkaretan Vol. 43 No. 2 (2024): Volume 43, Nomor 2, Tahun 2024
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v43i2.1003

Abstract

Kabupaten Muara Enim merupakan salah satu kabupaten yang berkontribusi menyumbang produksi karet di Sumatera Selatan. Hal tersebut juga didukung dari kegiatan pengembangan karet yang ada di kabupaten tersebut. Hal tersebut dapat dilihat dari program pemerintah yang pernah dilakukan seperti program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) BUN, PPKR/SRDP dan Tree Crop Smallholder Development Project (TCSDP), karena sudah ada program pengembangan peremajaan karet secara baik maka penelitian ini bertujuan untuk melihat karakteristik petani karet di Kabupaten Muara Enim terkait tingkat adopsi baik itu adopsi klon, jenis klon, pemupukan, pembentukan percabangan, sampai pada saat pemanenan. Penelitian ini dilakukan pada selang waktu Oktober-Desember 2023 dengan mengambil sampel delapan kecamatan yang ada di Kabupaten Muara Enim. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja karena lokasi tersebut menjadi salah satu sentra karet di Sumatera Selatan. Pengambilan data menggunakan Focus Group Discusion (FGD) dengan melibatkan perangkat desa dan petani baik kelompok maupun individu. Analisis data dilakukan dengan tabulasi dan deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian bahwa rata-rata luasan karet sebesar 1,38 ha, umur petani karet yang masih produkitf. Tingkat adopsi klon karet di Kabupaten Muara Enim sebesar 65%. Sedangkan untuk tingkat adopsi budidaya tanaman karet seperti lubang tanam, pemupukan sebesar 74,28%. Jika dilihat dari perawatan tanaman karet, petani belum seluruhnya mengetahui bagaimana pengendalian penyakit, melakukan pewiwilan yang baik dan pembentukan tajuk. Untuk tingkat adopsi sistem sadap tergolong cukup baik dengan tingkat adopsi datas 80%. Serta jika dilihat dari tingkat pendapatan petani karet pada umumnya pendapatan petani karet sudah mencapai diatas Rp2.000.000,00 per bulan. Hal tersebut juga petani meningkatkan pendapatan karet dari harga yang dihasilkan tergolong cukup baik karena sudah melakukan pemasaran terorganisir.
ANALISIS KETIMPANGAN PENDAPATAN TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN PETANI KARET DI KECAMATAN BANYUASIN III KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN Nugraha, Iman Satra; Asywadi, Hajar; Alamsyah, Aprizal; Syarifa, Lina Fatayati; Antoni, Mirza; Adriani, Dessy
Warta Perkaretan Vol. 44 No. 1 (2025): Volume 44, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v44i1.1065

Abstract

Perkebunan karet merupakan salah satu komoditas utama Provinsi Sumatera Selatan, dengan produksi terbesar di Indonesia, di mana 90% dihasilkan oleh petani karet rakyat. Selain itu, komoditas karet juga menyumbang devisa negara sebesar 109 triliun pada tahun 2021. Harga karet yang tidak stabil berdampak pada pendapatan petani karet rakyat. Pendapatan yang berfluktuasi menyebabkan distribusi pendapatan petani menjadi tidak stabil, sehingga mempengaruhi kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Penelitian diperlukan untuk mengukur ketimpangan pendapatan terhadap tingkat kemiskinan di Kecamatan Banyuasin III. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2023 di Kecamatan Banyuasin III dengan menggunakan 42 petani sampel dari 4 Desa. Lokasi pengambilan sampel sengaja dipilih dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Banyuasin III merupakan salah satu penghasil karet di Kabupaten Banyuasin. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, dan pengolahan data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan analisis rasio Gini untuk melihat tingkat ketimpangan pendapatan, sedangkan tingkat kemiskinan dinilai dengan menyamakan total pengeluaran petani sampel dengan beras. Karakteristik petani karet menunjukkan bahwa sebagian besar berpendidikan sekolah dasar, yaitu sebesar 55%, sementara sisanya tersebar di tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Mayoritas petani berusia 46-55 tahun, yaitu sebesar 36%. Berdasarkan temuan penelitian, tingkat ketimpangan di antara para petani karet masih tergolong rendah, dengan rasio Gini sebesar 0,29. Namun, jika dilihat dari garis kemiskinan, masih terdapat petani yang masuk dalam kategori paling miskin 5%, sangat miskin 2%, miskin 7% dan tidak miskin 86%. Upaya yang perlu dilakukan untuk menjaga ketimpangan pendapatan petani adalah menciptakan pasar yang transparan dan efisien, hilirisasi produk dan adanya dukungan dari para stakeholder.
KONSEPSI MODEL PENGEMBANGAN USAHA KARET GELANG SKALA PETANI DI KABUPATEN MUSI BANYUASIN, SUMATERA SELATAN AGUSTINA, Dwi Shinta; NUGRAHA, Iman Satra; ALAMSYAH, Aprizal; SYARIFA, Lina Fatayati; VACHLEPI, Afrizal
Jurnal Penelitian Karet JPK: Volume 43, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v43i2.967

Abstract

Kondisi harga karet yang berfluktuasi mengharuskan petani untuk meningkatkan motivasi di dalam mencari alternatif usaha untuk dapat menjaga kelangsungan pendapatannya. Salah satu usaha pengolahan karet yang dapat dikembangkan di tingkat petani adalah pengolahan lateks menjadi karet gelang. Makalah ini menyampaikan hasil kajian pengembangan usaha karet gelang skala petani di Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan ditinjau dari aspek kewirausahaan. Penelitian menggunakan metode action research di dua UPPB terpilih sebagai peserta program di Kabupaten Musi Banyuasin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan usaha baru di tingkat petani dapat memberikan manfaat bagi petani dan pembangunan pedesaan. Dalam pengembangannya, usaha karet gelang di tingkat petani masih perlu beberapa perbaikan baik dari sisi karakter kewirausahaan petani dan sarana pendukung lainnya seperti listrik dan kestabilan ketersediaan bahan baku lateks. Beberapa karakter kewirausahaan petani yang masih perlu diperbaiki diantaranya adalah kreatif, dinamis dan memiliki kecakapan memimpin, memiliki akal dan daya yang panjang (resourcefulness) serta kemampuan untuk membangun bridging social capital.