Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Implementasi Sertifikasi Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) Dalam Menjamin Mutu Obat pada Sarana Distribusi di Jawa Barat Noor Silmi Hermawan Ayodduki, Zahra; Agung Fitri Kusuma, Sri; Susanti, Marina
Farmaka Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i3.68985

Abstract

Obat merupakan komoditas kesehatan yang harus terjamin keamanan, efektivitas, dan mutunya sejak proses produksi hingga pendistribusian kepada masyarakat. Tahapan distribusi memegang peranan penting dalam menjaga mutu obat karena ketidaksesuaian pengelolaan pada tahap ini berpotensi menurunkan mutu dan efektivitas obat. Pedagang Besar Farmasi (PBF) sebagai sarana distribusi yang berwenang melakukan pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran obat dalam jumlah besar wajib menerapkan standar Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Penerapan CDOB bertujuan untuk menjamin mutu obat selama proses distribusi dan dibuktikan melalui kepemilikan sertifikat CDOB. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Bandung sebagai Unit Pelaksana Teknis Badan POM berperan dalam melaksanakan pelayanan sertifikasi CDOB bagi PBF di wilayah kerjanya. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tahapan sertifikasi CDOB serta perannya dalam mendukung penjaminan mutu obat selama pendistribusian di Jawa Barat. Artikel ini disusun berdasarkan studi literatur terhadap berbagai referensi ilmiah dan regulasi terkait CDOB. Proses sertifikasi CDOB meliputi pendaftaran pemohon, pengajuan permohonan, evaluasi dokumen, pembayaran, pemeriksaan sarana, pelaksanaan Corrective and Preventive Action (CAPA), hingga penerbitan sertifikat CDOB. Penerapan sertifikasi CDOB yang dilaksanakan secara terstruktur dan sesuai ketentuan berkontribusi dalam memperkuat sistem penjaminan mutu distribusi obat oleh PBF sehingga mutu obat selama pendistribusian dapat tetap terjaga.
Nanoemulsion Purified Catechin Gambir (Uncaria gambir Roxb.): Formulation and Antimicrobial Activity against Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, and Enterobacter aerogenes Muhtar, Nurul Inaya; Mita, Soraya Ratnawulan; Kusuma, Sri Agung Fitri
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. 7 No. 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 Agustus 2025
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (Salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/jika.v7i2.1368

Abstract

Gambir (Uncaria gambir Roxb), a plant native to Indonesia, has long been recognized in traditional medicine. The primary active component in gambir is catechin, which possesses various biological activities, including broad-spectrum antimicrobial properties. However, catechin faces challenges related to low stability, necessitating its formulation into a nanoemulsion to enhance both its stability and effectiveness. This study aims to evaluate whether an optimized nanoemulsion formulation of catechin can improve its antimicrobial activity. The methodology includes assessing the antimicrobial effectiveness of catechin powder and catechin nanoemulsion using the agar diffusion method, as well as determining the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) through the microdilution method. Antimicrobial activity was tested against three bacterial strains: Staphylococcus aureus ATCC 6538, Pseudomonas aeruginosa ATCC 9027, and Enterobacter aerogenes ATCC 13048. The optimal formulation consisted of a combination of Tween 80 and Span 80 as surfactants (15%), PEG 400 as a co-surfactant (7%), and isopropyl myristate (IPM) as the oil phase (10%). This nanoemulsion formulation demonstrated a transmittance value of 91,9%. Based on the antimicrobial activity results, the catechin nanoemulsion exhibited enhanced antimicrobial effects compared to catechin powder. The nanoemulsion containing 2% catechin showed the highest antimicrobial activity against all three tested bacteria. These findings are expected to provide new insights into the potential application of catechin nanoemulsion as a more effective antimicrobial agent.
ANALISIS KESENJANGAN STRATEGIS PADA REVISI CPOB 2025: IMPLIKASI TERHADAP PENERAPAN MANUFAKTUR FARMASI BERBASIS RISIKO DI INDONESIA Hutapea, Ezra Calista; Kusuma, Sri Agung Fitri
Farmaka Vol 24, No 1 (2026): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v24i1.70449

Abstract

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merupakan lembaga yang secara berkala memperbarui pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) untuk memastikan produk yang beredar di Indonesia tetap aman, berkhasiat dan bermutu. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kesenjangan strategis antara CPOB 2024 dan CPOB 2025 guna mengidentifikasi transformasi regulasi yang terjadi. Metode yang digunakan adalah pendekatan komparatif kualitatif melalui content analysis terhadap kedua dokumen yang disusun dalam bentuk comparative matrix. Hasil analisis menunjukkan adanya perubahan signifikan terutama pada aspek Contamination Control Strategy (CCS), Manajemen Risiko Mutu (MRM), barrier system, fasilitas, personalia, serta sarana penunjang kritis. CPOB 2025 mengarah pada pendekatan berbasis risiko yang lebih terintegrasi dibandingkan pendekatan berbasis output sebelumnya. Perubahan ini mencerminkan evolusi regulasi yang selaras dengan standar Good Manufacturing Practice (GMP) internasional, namun implementasinya berpotensi menghadapi tantangan terkait kesiapan fasilitas, teknologi, dan sumber daya manusia. Kesimpulannya, CPOB 2025 menandai pergeseran paradigma menuju pengendalian mutu berbasis risiko yang komprehensif dan proaktif dalam industri farmasi di Indonesia