Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Preparation of citrus planting material: Socialization in the ecotourism activist community at Pajagan Village, Cisitu Sub-District, Sumedang Regency Budiarto, Rahmat; Mubarok, Syariful; Kusumiyati, Kusumiyati; Farida, Farida; Sutari, Wawan; Soleh, Mochamad Arief; Djaya, Luciana; Rasiska, Siska
Indonesian Journal of Community Services Cel Vol. 3 No. 1 (2024): Indonesian Journal of Community Services Cel
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70110/ijcsc.v3i1.55

Abstract

The present community service was aimed to socialize techniques for preparing citrus planting materials in the ecotourism activist community at Pajagan Village, Cisitu District, Sumedang Regency. The socialization was attended by 30 people who were a combination of academics, representatives of Pajagan village-owned enterprise (Bumdes), and ecotourism activists whose daily professions are farmers in the Cipicung farmer group, Pajagan. To produce citrus planting material, grafting is a prerequisite vegetative propagation technique for obtaining standardized tangerine planting material. Grafted seedlings are more recommended than seed originated seedling, because of flower quickly, resistant to damping off, pests and diseases. Grafting is performed to connect the upper stem/scion of a tangerine cv. Siam Madu with superior fruit characteristics and the lower stem/rootstock of a sour rough lemon (Citrus jambhiri). It is hoped that this outreach activity can grow public interest and knowledge in producing planting material independently in the future.
Pengendalian Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferrari) dengan Menggunakan Perangkap Berantraktan secara Partisipatoris di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung Rasiska, Siska; Parikesit, Parikesit; Sudarjat, Sudarjat; Gunawan, Budhi; Setiawan, Iwan
Agrikultura Masyarakat Tani Vol 1, No 3 (2024): Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrimasta.v1i3.54953

Abstract

Penggerek Buah Kopi (PBKo, Hypothenemus hampei Ferrari) merupakan hama tanaman kopi yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas buah kopi. Salah satu upaya untuk mengendalikan hama ini dengan menggunakan perangkap beratraktan dengan melibatkan partisipasi petani kopi. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini memberikan pengetahuan kepada petani mengenai hama PBKo dan penggunaan perangkap beratraktan. Kegiatan ini telah dilakukan selama 6 minggu di Desa Margamulya Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan adalah survey berupa wawancara untuk menginventarisasi pengetahuan awal dari petani kopi mengenai hama yang menyerang tanaman kopi dan cara pengendaliannya, serta percobaan partisipatoris. Percobaan partisipatif menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan berupa perangkap bertraktan alami yang terbuat dari kulit buah kopi terinfestasi hama PBKo diolah dengan metode ekstraksi destilasi sederhana dan maserasi, serta Hypotan 500L yang bersifat sintetik untuk mengetahui keefektifan perangkap beratraktan untuk menarik PBKo. Data hasil wawancara dianalisis secara deskriptif dan percobaan partisipatif dianalisis dengan uji analisis varians dan diuji lanjut dengan uji jarak berganda duncan pada taraf kepercayaan 5%. Hasil wawancara menunjukkan bahwa petani memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang hama yang sering menyerang tanaman kopi, namun upaya pengendaliannya masih belum banyak diketahui. Hasil percobaan partisipatoris menunjukkan bahwa perangkap beratraktan Hypotan 500L mampu menangkap PBKo lebih tinggi. Petani kopi yang ikutserta dalam kegiatan ini merasakan manfaat dari penyuluhan tentang tanaman kopi dan praktek aplikasi atraktan di kebun percobaan. Namun, kegiatan ini perlu dilakukan secara lebih intensif dengan pendampingan. Dengan demikian, kegiatan dapat meningkatkan kewaspadaan petani terhadap kerusakan tanaman kopi yang disebabkan oleh hama.
Sosialisasi Pengelolaan Hama Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Dataran Tinggi dengan Cara Menerapkan Sistem Budidaya Tanaman yang Baik di Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat Rasiska, Siska; Suminar, Erni; Nuraini, Anne; Yuniarti, Anni; Setiawan, Iwan
Agrikultura Masyarakat Tani Vol 2, No 1 (2024): November
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrimasta.v2i1.57608

Abstract

Desa Pasigaran terletak di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang dengan ketinggian tempat 979 meter di atas permukaan laut. Pengunaan lahannya didominasi oleh lahan sawah, lahan kering, dan permukiman. Lahan kering dan pekarangan di permukiman berpotensi dikembangkan sebagai lahan tanaman bawang merah yang memiliki nilai kelayakan usahatani yang tinggi.Salah satu kendala produksi tanaman bawang merah adalah serangan hama, yang dapat diatasi salah satunya dengan praktik budidaya tanaman bawang yang baik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mensosialisasikan hama utama tanaman bawang merah dan mempraktikkan cara pengendaliannya. Pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian ini adalah 1) diskusi berupa tukar pikiran mengenai nilai penting tanaman bawang merah dan masalah-masalah umum dalam usahatani bawang merah; 2) penyuluhan mengenai hama utama tanaman bawang merah dan cara pengendaliannya; serta 3) pelatihan mengenai praktik budidaya tanaman bawang yang baik. Kegiatan pengabdian ini melibatkan sekelompok wanita tani yang berjumlah 20 orang. Berdasarkan hasil diskusi menunjukkan para peserta belum mengetahui secara tepat nilai ekonomi, sosial, dan budaya dari tanaman bawang merah di Indonesia, namun mengetahui sebagian manfaat dari tanaman tersebut. Selain itu, para peserta tidak mengetahui hama utama tanaman bawang merah dan cara pengendaliannya . Hasil pengabdian menunjukkan bahwa sebagian besar peserta dapat  mengikuti semua kegiatan dengan baik, terutama ketika dialog, penyuluhan dan praktek secara langsung di lapangan. Kegiatan inimampu 1) meningkatkan pengetahuan mengenai praktik budidaya tanaman bawang yang baik; 2) meningkatkan kewaspadaan terhadap hama utama tanaman bawang; dan 3) meningkatkan ketrampilan dalam mengendalikan hama tanaman bawang merah.
Sosialisasi Pengelolaan Hama dan Penyakit Tanaman Buah Naga di Desa Pajagan, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat Rasiska, Siska; Djaya, Lucyana; Budiarto, Rachmat
Agrikultura Masyarakat Tani Vol 2, No 2 (2025): Maret
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrimasta.v2i2.61445

Abstract

Buah naga menjadi salah satu komoditas hortikultura unggulan di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Sumedang. Sayangnya, produksinya cenderung mengalami penurunan. Salah satu kendala produksi buah naga adalah kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh hama dan penyakit tumbuhan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyosialisasikan pengelolaan hama dan penyakit tumbuhah buah naga, dengan cara mengidentifikasi hama dan penyakit tumbuhan, mengitung intensitas serangan dan kerusakan tanaman oleh hama dan penyakit tumbuhan, serta pengelolaan hama dan penyakit. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan observasi lapang, penyuluhan kepada para petani buah naga yang terlibat sebanyak 20 orang. Sample diperoleh secara acak terhadap tanaman, terutama batang dan buah. Sample tanaman yang terserang hama dan penyakit dibawa ke Laboratorium Hama Tumbuhan dan Fitopatologi, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Diskusi dan penyuluhan dilakukan secara langsung di lokasi kegiatan, di Bale Pertemuan, Desa Pajagan, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa hama yang menyerang tanaman buah naga tidak ditemukan, namun terdapat gejala kerusakan tanaman dengan kategori ringan, sedangkan penyakit yang menginfeksi tanaman buah naga dengan gejala awal adalah bercak batang berupa bintik-bintik yang tersebar secara acak di batang pada kategori sedang sampai berat, dan pada gejala lanjutnya adalah busuk pada batang yang diakibatkan oleh antraknosa. Diskusi dilakukan dengan petani yang diikuti dengan antusias, yaitu untuk pengendalian penyakit dengan cara membuang batang yang terserang, dan dibakar atau dipendam di dalam tanah. Untuk selanjutnya, akan dilakukan cara pembuatan bubur bordeux sebagai salah satu cara pengendalian.
Effectiveness of Fermented Coffee Cherry Liquid Extract on Preference of Coffee Berry Borer (Hypothenemus hampei Ferrari) at Coffee Plantation Rasiska, Siska; Widiantini, Fitri; Nadhira, Nadhira
CROPSAVER Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v6i2.50566

Abstract

Coffee Berry Borer (Hypothenemus hampei Ferrari) are the major pest of coffee crops that can cause damage up to 40 percent. One attempt to control CBB was to use an attractant from the coffee cherry, whose potential can be enhance by fermentation. Fermented coffee will produce metabolites, such as lactic acid, ethanol, and ethyl acetate, which can increase the complexity of the aroma. The study aims to determine the effect of the fermented coffee cherry liquid extract on  CBB attractiveness, assess the intensity of the CBB attack, and other insects trapped. The method used in this research is an experiment designed in groups at the site of people’s coffee plantations, Sindangsari Village, Sukasari-Sumedang District. The treatment in this study was a fermented coffee cherry liquid extract, with a volume of aquadest (150ml), 90ml, 120ml, and 150ml, thus obtaining 9 treatments, and each repeated 3 times. Other insects trapped was identified in Pest Laboratory-Universitas Padjadjaran. The results showed that the treatment of wet fermented coffee cherry liquid extract and the volume of 120ml and 150ml could trap CBB better than the other treatments, but did not affect the intensity of CBB attack on coffee plants. Other trapped insects were dominanted by the Coleoptera order of the Staphillinidae family that acted as predators and Diptera of the Drosophillidae family wich acted like herbivores. Thus, fermented coffee fruit liquid extract can be used as a CBB attractant, but its use for the purpose of controlling CBB needs to be well designed so that it does not have a negative impact on natural enemies or other non-target insects.
Capability of Three Yeast Species in Suppressing Green Mold (Penicillium digitatum) on Siam Citrus Fruit (Citrus nobilis) Hartati, Sri; Utari, Elinda Dwi; Rasiska, Siska; Istifadah, Noor
CROPSAVER Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v5i2.42173

Abstract

Green mold is one of the main diseases in citrus fruits caused by Penicillium digitatum. One of the managements that can be used to control this disease is by using yeasts as antagonistic agents. The objective of this study was to evaluate the ability of yeast to suppress Green mold caused by P. digitatum in siam citrus (Citrus nobilis Lour.). The study was conducted using a completely randomized design. The treatments were the application of yeast, consisting of Aureobasidium pullulans isolate Dmg 11 DEP, Rhodotorula minuta isolate Dmg 16 BE, Candida tropicalis isolate Lm 13 BE, fungicide benomyl, and control. The results showed that A. pullulans isolate Dmg 11 DEP, C. tropicalis isolate Lm 13 BE, and R. minuta isolate Dmg 16 BE were able to suppress the growth of P. digitatum in vitro on dual culture method, with suppression levels ranged from 14.64%-21.02%. The greatest suppression was caused by R. minuta isolate Dmg 16 BE. The formation of volatile compounds test results were ranged from 14.51%-34%, and the highest suppression was on C. tropicalis isolate Lm 13 BE. Application of the yeasts on siam citrus fruit was able to reduce the pathogen’s growth, and the suppressions were 28.87% to 68.72%. R. minuta isolate Dmg 16 BE caused the highest suppression.
Identification of Invasive Aliens Plant Species in Cultivated Area of Kamojang Crater at Ibun District, Bandung Regency, West Java Rasiska, Siska; Asdak, Chay; Parikesit, Parikesit; Sudarjat, Sudarjat; Gunawan, Budhi; Setiawan, Iwan; Setiawan, Ditriz
CROPSAVER Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v6i1.45383

Abstract

The Cultivated Area in Kamojang Crater, Ibun District, Bandung Regency is part of a single landscape mountain, adjacent to conservated and protected areas which has high biodiversity. This study aims to identify invasive alien plants species in cultivated areas, adjacent to conservation and protected areas. The method used is a descriptive qualitative study with the sampling line transect in 500 meter radius of four location, namely near Nature Reserves (NR), near Nature Tourism Parks (NTP), agriculture (A) and near Protected Forests (PF), and this study has done up at July until November, 2022. The results showed that in the cultivated area in Kamojang Crater, Ibun District, Bandung Regency found 41 families and 96 species of understorey, with the highest number being from the Asteraceae, Poaceae and Fabaceae. Diversity of understorey was categorized as high (H'=3.428), evenly distributed (E=0.738), high species richness (R=13.503) and no dominant species (C=0.165). Several understorey, namely 8 orders, 10 families, and 29 species were categorized as invasive aliens plant species, with the highest important values index being Ageratina riparia (99,642%), Imperata cylindrica (72,919%), Paspalum notatum (31,155%), Chromolaena odonata (31,074%), Etlingera elatior (27,905%), Ageratum conyzoides (20,179%), Lantana camara (19,029%), Amaranthus hybridus (18,818%), Pennisetum purpureum (15,120%), Mimosa pudica (15,031%), Crassocephalum crepidioides (14,037%), and Axonopus compresus (10,671%).
The diversity and ecological roles of insects and arachnids in arabica coffee (Coffea arabica) plantation in Palasari, Bandung Regency: Keanekaragaman dan fungsi ekologis serangga dan arachnida pada ekosistem kopi arabika (Coffea arabica) di Palasari, Kabupaten Bandung Maharani, Yani; Dewi, Ajeng Putri Kusuma; Rasiska, Siska; Hutapea, Dedi; Maxiselly, Yudithia; Sandrawati, Apong
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 21 No 1 (2024): March
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5994/jei.21.1.54

Abstract

The diversity of arthropod communities is often used as a bioindicator of environmental changes, specifically in coffee farms with various management systems. Significant impacts of the environmental changes lead to alterations in the community structure and function of arthropods. The aim of this research was to determine the diversity and ecological roles of insect and arachnids in arabica coffee plantations in Bandung Regency. Sampling was conducted on five plots measuring 100 m2 each, with a separating distance of 50 m, in coffee farms located in Legok Nyenang Village, Bandung Regency. This was performed five times per weekly intervals using sweep nets, yellow tray traps, and beating sheets. Subsequently, collected samples were identified based on morphological characters at the Pest Laboratory, Faculty of Agriculture, Padjadjaran University. A total of 269 insects species (11 orders and 98 families, total 669 individuals) and 23 species of Arachnida (one order and 13 families, total 44 individuals) were found, The most abundance of natural enemies were the parasitoid, Megacampsomeris prismatica (Hymenoptera: Scoliidae) and the predator, Tetragnatha sp. (Araneae: Tetragnathidae). Meanwhile, the ecological function of the group with the lowest number was pollinators (Hymenoptera: Apidae). Although the diversity of insects and arachnids species found in coffee farms was high (H' = 5.10), the evenness and dominance index were relatively low. These results showed the potential of coffee plantations as ecosystems for conserving predatory arthropods biodiversity. Consequently, coffee cultivation practices and pest management strategies must prioritize the protection of beneficial insects such as natural enemies and pollinators.
Pengenalan Hama Tanaman Kentang Merah (Solanum tuberosum var. Desiree) di Desa Pamulihan Dusun Cimasuk Kecamatan Pamulihan Kabupaten Sumedang Rasiska, Siska; Mintarsih, Imas; Setiawan, Iwan
Agrimasta Vol 3, No 1 (2025): November
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrimasta.v3i1.67360

Abstract

Kentang merah (Solanum tuberosum var.Desiree) merupakan komoditas hortikultura yang banyak diminati oleh masyarakat karena mengandung sejumlah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Namun, terdapat sejumlah kendala yang dapat menurunkan produktivitas tanaman kentang merah, diantaranya gangguan hama, terutama dari golongan serangga. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menyosialisasikan serangga hama yang mengganggu tanaman kentang merah dan cara pengendaliannya yang ramah lingkungan. Pengabdian ini dilaksanakan sejak bulan Mei 2025 hingga bulan Agustus 2025 di Dusun Cimasuk Desa Pamulihan Kecamatan Pamulihan Kabupaten Sumedang. Pendekatan yang digunakan di dalam kegiatan pengabdian ini adalah penelitian yang berbasis komunitas melalui observasi untuk mengidentifikasi hama yang mengganggu tanaman kentang merah dan survei terhadap peserta kegiatan sebagai bagian dari evaluasi kegiatan pengabdian. Identifikasi serangga hama dilakukan melalui pengamatan terhadap 10 sampel tanaman dan survei dengan wawancara menggunakan kuesioner secara semi terstruktur. Pengabdian ini melibatkan sekira 20 orang wanita tani yang berperan aktif di dalam setiap kegiatan penyuluhan hingga praktek di lapangan. Praktik lapangan dilakukan di lahan milik wanita tani yang berada di pekarangan rumah. Evaluasi kegiatan dilaksanakan sebelum dilakukannya kegiatan dan setelah kegiatan berlangsung. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa para peserta kegiatan pengabdian meningkat pengetahuannya tentang hama tanaman kentang dan mampu melakukan teknik budidaya dan monitoring tanaman dengan baik.