Claim Missing Document
Check
Articles

Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan Dan Penanganan Awal Diare Dirumah Pada Balita Di Desa Kembangbilo Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban Widyawati Maratus Soleha; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih; Titik Sumiatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1956

Abstract

Diare merupakan masalah utama Kesehatan Masyarakat sebab kerap muncul dalam bentuk kejadian luar biasa (KLB) dengan angka mortalitas yang cukup tinggi. Kondisi ini terutama berisiko pada balita, mengingat sistem imun mereka yang belum matang sepenuhnya sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi bakteri penyebab diare. Jumlah kasus penyakit diare di Puskesmas Tuban pada tahun 2024 sebanyak 993 balita dan masih menjadi masalah karena setiap tahunnya semakin meningkat. Studi ini mempunyai tujuan mengetahui tingkat pengetahuan ibu mengenai pencegahan serta penanganan awal diare pada balita. Desain penelitian ini menerapkan deskriptif dengan tujuan guna mendeskripsikan tingkat pengetahuan ibu mengenai pencegahan serta penanganan awal diare di rumah. Populasi pada studi ini ialah semua ibu yang mempunyai balita di Desa Kembangbilo dengan total 240 orang. Sampel diambil sebanyak 150 orang memakai teknik purposive sampling. Instrumen yang dipakai berupa kuesioner. Data analisis menerapkan deskriptif dalam bentuk tabel distribusi frekuensi serta presentase. Hasil penelitian mengindikasikan bahwasannya hampir setengah (49,3%) ibu yang mempunyai balita berusia 26–35 tahun, dan sebagian besar (52,7%) ibu yang memiliki balita berpendidikan SMA. Hampir seluruh 77,3% ibu yang mempunyai balita mempunyai pengetahuan baik mengenai pencegahan diare serta sebagian besar 71,3% ibu yang mempunyai balita mempunyai pengetahuan yang baik mengenai penanganan awal diare. Ibu dengan usia dewasa awal dan pendidikan menengah lebih mudah memahami informasi dari petugas kesehatan, mengikuti penyuluhan, dan mengakses informasi dari media. Pengetahuan yang baik ini diharapkan mampu mendorong praktik nyata dalam mencegah dan menangani diare secara mandiri di lingkungan rumah, serta dasar dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat ketika anak mengalami gejala diare.
Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Stunting Dan Status Gizi Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Semanding Firnanda Gita Putri Oktavia Riningsih; Wahyu Tri Ningsih; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Binti Yunariyah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1958

Abstract

Masalah gizi yang penting adalah stunting. Tingkat prevalensi stunting di Indonesia diperkirakan mencapai 14% pada tahun 2024, menurut rencana pemerintah. Sementara itu, tingkat stunting di Provinsi Jawa Timur sebesar 17,7%, sedangkan di Kabupaten Tuban mencapai 20,7%. Meskipun target nasional stunting adalah 14% dan insiden aktual di Kabupaten Tuban pada tahun 2024 sebesar 21,5%, angka terakhir ini masih lebih rendah daripada target nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kondisi gizi balita di wilayah pelayanan Pusat Kesehatan Masyarakat Semanding serta tingkat kesadaran ibu-ibu tentang stunting. Metodologi penelitian ini menggunakan desain deskriptif cross-sectional. Sebanyak 111 ibu dengan balita menjadi kelompok penelitian. Ada 87 peserta dalam studi ini. Peneliti menggunakan strategi sampling yang disebut sampling purposif. Faktor-faktor penelitian meliputi kesadaran ibu tentang stunting dan kebiasaan makan balita. Pertanyaan diajukan untuk mengumpulkan informasi. Kami menggunakan tabel frekuensi untuk analisis deskriptif data. Survei menemukan bahwa 93,1% ibu memiliki pemahaman yang baik. Dari semua balita, mayoritas (71,3%) memiliki berat badan normal, dan sebagian besar ibu (64,4%) dari balita tersebut juga memiliki pengetahuan yang memadai. Tenaga kesehatan dapat berperan dalam menurunkan angka stunting dengan memberikan nasihat kepada orang tua setiap bulan di pusat kesehatan mengenai pentingnya memantau berat dan tinggi badan balita mereka seiring pertumbuhannya. Untuk memantau asupan gizi mereka, ibu balita sebaiknya sering membawa anak mereka ke dokter. Untuk mencegah stunting, diperlukan peningkatan pengetahuan disertai bimbingan perilaku dan pemantauan yang rutin.
Gaya Hidup Sehat Penderita Hipertensi Di Puskesmas Semanding Kabupaten Tuban Siti Nurkusaeni; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih; Sri Utami
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1961

Abstract

Kondisi yang dikenal sebagai hipertensi adalah saat tekanan darah seseorang meningkat hingga mencapai 140/90 mmHg atau lebih tinggi.”Penyakit ini berbahaya karena sering tanpa gejala sehingga dikenal sebagai “The Silent Killer”. Di Kabupaten Tuban, prevalensi hipertensi meningkat 14% pada tahun 2022–2023.” Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menyajikan gambaran komprehensif mengenai penerapan gaya hidup sehat oleh penderita hipertensi yang berobat di Puskesmas Semanding, Kabupaten Tuban. Metode penelitian yang diterapkan pada penelitian ini ialah deskriptif. Penelitian ini melibatkan 44 orang anggota Prolanis yang menderita hipertensi. Seluruh populasi tersebut dijadikan sampel dengan menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berfokus pada variabel utama, yaitu gaya hidup sehat penderita hipertensi. Data dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Temuan studi ini memperlihatkan bahwa responden didominasi oleh perempuan yang berusia 51 hingga 60 tahun, dengan latar belakang pendidikan SMA. Mayoritas dari mereka dilaporkan memiliki gaya hidup sehat dengan kategori "cukup". Faktor usia, jenis kelamin, dan pendidikan memengaruhi penerapan gaya hidup. Upaya peningkatan dapat dilakukan melalui diet hipertensi dan pemeriksaan tekanan darah rutin.
Pola Makan Tinggi Garam Dengan Kejadian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Semanding Tria Ayu Mahmudah; Wahyu Tri Ningsih; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Su’udi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1962

Abstract

Masalah serius serta kematian di Kabupaten Tuban dan di seluruh Indonesia disebabkan oleh hipertensi, salah satu penyakit kronis tidak menular. Pola makan tinggi garam ialah salah satu faktor risiko yang dapat dikontrol, namun tetap saja dilakukan secara luas, terutama di kalangan orang dewasa dan lansia. Hipertensi dan tekanan darah tinggi keduanya diperburuk oleh pola makan tinggi garam. Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisa hubungan antara pola makan tinggi garam dengan kejadian hipertensi di wilayah Puskesmas Semanding. Metodologi penelitian yang dipergunakan dalam studi ini ialah analisa kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Dengan memanfaatkan total sampling, sebanyak 44 orang dari populasi seluruh peserta Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) di wilayah Puskesmas Semanding. Tensimeter dan kuesioner merupakan bagian dari peralatan penelitian. Peneliti menerapkan uji chi-square untuk menganalisis data. Temuan studi memperlihatkan sebagian besar responden mempunyai pola makan tinggi garam (95,5%) dan terdiagnosis hipertensi (84,1%). Hasil uji chi-square memperlihatkan p-value = 0,001 yang berarti terdapat hubungan signifikan antara pola makan tinggi garam dengan kejadian hipertensi di wilayah Puskesmas Semanding. Pola makan tinggi garam memiliki kontribusi besar terhadap kejadian hipertensi. Edukasi terkait pembatasan asupan natrium harian sangat penting untuk mencegah komplikasi lanjut, terutama pada kelompok usia berisiko. Mengurangi konsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, serta penggunaan bumbu instan yang berlebihan merupakan langkah penting dalam pengendalian tekanan darah.
Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Obesitas Pada Remaja Di SMP N 6 Tuban Amara Cantika Septionona; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 8 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesitas kerap terjadi karena beberapa faktor termasuk aktivitas fisik. Obesitas kerap dialami oleh remaja, dimana remaja mengalami penurunan aktivitas fisik setiap tahunnya, kurangnya aktivitas fisik pada remaja akan mengalami resiko tinggi terjadinya obesitas. Survey awal yang yang dilakukan di SMP N 6 Tuban menunjukkan bahwa masih terdapat remaja yang mengalami obesitas yang sebenarnya obesitas pada remaja bisa dicegah dengan cara pola hidup sehat, pola makan yang baik dan aktivitas fisik yang cukup (Damayanti Rusli Syarif, 2014). Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti apakah terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada remaja di SMP N 6 Tuban. Desain yang digunakan untuk penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa kelas VIII di SMP N 6 Tuban tahun ajaran 2023/2024 yang berjumlah 256 siswa. Besar sampel adalah 150 siswa menggunakan teknik Quota Sampling. Variabel independen yaitu aktivitas fisik remaja dan variabel dependen yaitu kejadian obesitas. Pengambilan data dengan kuesioner dan observasi tinggi dan berat badan. Analisa data menggunakan uji spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruhnya remaja memiliki tingkat aktivitas fisik rendah dengan sebagian besar remaja memiliki berat badan normal serta sebagian kecil mengalami berat badan berlebih dan obesitas tingkat I. Dari hasil uji spearman rank, didapatkan p-value = 0,001 dengan korelasi koefisien -0,459 artinya, terdapat hubungan anatara aktivitas dengan tingkat hubungan yang cukup antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada remaja di SMP N 6 Tuban. Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi yang cenderung positif, yang berarti tubuh menyimpan lebih banyak energi dan berpotensi mengalami peningkatan berat badan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan obesitas.
Pengetahuan Dan Perilaku Ibu Tentang Diare Dan Pencegahan Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Tuban Nadya Khoirun Nisa; Wahyu Tri Ningsih; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Titik Sumiatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 8 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diare sampai saat ini masih menjadi suatu penyakit yang jadi permasalahan kesehatan oleh masyarakat di Indonesia. Diare adalah bertambahnya frekuensi seseorang mengalami buang air besar lebih dari 3 kali dalam satu hari serta konsistensi feses cair . Diare dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor lingkungan, risiko ibu, dan risiko anak. Upaya mengatasi diare harus dilaksanakan dengan tepat dan akurat untuk menangani dampak diare seperti kekurangan cairan dan kekurangan gizi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan perilaku ibu tentang diare dan pencegahan pada balita di wilayah kerja puskesmas Tuban. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dalam desainnya. Populasi penelitian terdiri dari 50 ibu yang memiliki balita di posyandu Perbon di wilayah kerja puskesmas Tuban. Sampel sebanyak 50 orang diambil dengan metode Total Sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis secara deskriptif menggunakan tabel frekuensi. Hasil penelitian didapatkan hampir seluruh Ibu memiliki pengetahuan baik (92%), Sedangkan untuk perilaku hampir seluruh ibu memiliki perilaku baik sebesar (76%). Hampir seluruh ibu memiliki pengetahuan baik dan perilaku baik yaitu sebesar (78,3%). Pengetahuan dan perilaku yang baik dapat membantu dalam mencegah dan mengatasi dampak buruk dari diare pada balita. Dengan demikian, upaya-upaya untuk terus meningkatkan edukasi dan pemahaman mengenai faktor-faktor risiko serta penanganan yang tepat akan menjadi kunci dalam mengurangi prevalensi diare dan dampaknya di masyarakat.
Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Dan Status Imunisasi Dasar Lengkap Pada Balita Di Desa Tasikmadu Kecamatan Palang Kabupaten Tuban Amania Fajriati; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 8 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Imunisasi adalah suatu tindakan memberikan kekebalan tubuh kepada seseorang dengan Memasukkan imunisasi agar kebal terhadap suatu penyakit. Dibuktikan pada wilayah kerja Puskesmas Sumurgung menduduki posisi ke-4 yang belum tercapai targetnya. Meskipun di puskesmas sumurgung target yang dicapai hampir terpenuhi tetapi perlu mendapat perhatian karena balita mudah terpapar penyakit menular jika tidak diberikan imunisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mendeskripisikan Tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dan status imunisasi dasar lengkap pada balita berdasarkan karakteristik ibu. Desain penelitian menggunakan deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu yang memiliki balita Di Desa Tasikmadu Kecamatan palang Kabupaten Tuban Yang Berjumlah 235 Orang dengan besar sampel 156 orang, Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Variabel penelitian adalah tingkat pengetahuan ibu dan status imunisasi dasar lengkap. Intrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan deskriptif dengan tabel, distribusi frekuensi dan presentase. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan tentang imunisasi dasar lengkap pada balita dalam kategori cukup dan hampir seluruhnya balita di desa Tasikmadu memiliki status imunisasi yang tidak lengkap. Pemberian imunisasi dasar yang lengkap kepada anak-anak generasi mendatang akan melindungi mereka dari penyakit menular tertentu seperti polio, campak, hepatitis, difteri, batuk rejan, dan tetanus. Adapun pengetahuan ibu yang cukup dikarenakan masih banyak ibu yang beranggapan salah tentang imunisasi yang berkembang dalam masyarakat dan tidak sedikit orang tua yang khawatir terhadap efek samping dari beberapa vaksin. Untuk ibu yang memiliki pengetahuan cukup tentang pemberian imunisasi di posyandu, ada saran berikut yang dapat disampaikan yaitu memberi nasihat atau penyuluhan tentang pengertian imunisasi dan dampak jika tidak diberikan iminisasi akan mengakibatkan anak mudah terpapar penyakit.
Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Kusta Di Wilayah Kerja Puskesmas Sumurgung Kabupaten Tuban Haura Ilma Nafi’a; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih; Yasin Wahyurianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 8 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Kusta merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium laprae. Penyakit Kusta menyerang saraf tepi/perifer, kemudian kulit, dan juga dapat menyerang organ tubuh lainnya seperti mata, mukosa saluran nafas, otot, tulang dan terkadang testis. Penyakit kusta selain mengganggu Kesehatan dapat juga mengganggu kesejahteraan penderita dikarenakan stigma Masyarakat yang buruk terhadap penyakit kusta. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui “Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Sumurgung”. Desain penelitian yang digunakan dalam metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang ada di RW 2 dan RW 6 Desa Ngimbang Wilayah Kerja Puskesmas Sumurgung Kabupaten Tuban dengan sejumlah 240 KK. Dengan Teknik Sampling sejumlah 150 KK. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Kusta. Penelitian ini dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan masyarakat di Desa Ngimbang Wilayah Kerja Puskesmas Sumurgung terbanyak memiliki Tingkat pengetahuan cukup yaitu 74 orang (49%) dan hanya sebagian kecil yang berpengetahuan kurang yaitu 25 orang (17%). Pengetahuan mengenai penyakit kusta harus dimiliki dengan baik oleh masyarakat karena pengetahuan tersebut sangat bermanfaat untuk sikap positif masyarakat kepada penderita kusta. karena dengan adanya pandangan positif masyarakat, penderita kusta tidak perlu takut akan dijauhi oleh masyarakat dan bisa menjalani pengobatan secara maksimal.
Pola Makan Dan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Hipertensi Di Puskesmas Semanding Kabupaten Tuban Konie Febrianingrum; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih; Su’udi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 8 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi adalah salah satu penyakit yang tidak menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pola makan yang kurang dan aktivitas fisik yang ringan menyebabkan hipertensi sehingga berisiko menyebabkan kerusakan pada jantung, pembuluh darah hingga kematian. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Semanding Kabupaten Tuban. Desain penelitian menggunakan analisis korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota program prolanis yang berjumlah 50 orang di Puskesmas Semanding Kabupaten Tuban dengan besar sampel sejumlah 44 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pola makan (Food Frequency Questionaire) dan kuisioner aktivitas fisik (Baecke Physical Activity). Analisis data menggunakan uji spearman rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anggota prolanis memiliki pola makan kurang, seluruhnya memiliki aktivitas fisik ringan, dan sebagian besar menderita hipertensi. Hasil uji spearman rank didapatkan ada hubungan antara pola makan kurang dengan kejadian hipertensi dengan p-value = 0,001. Dan ada hubungan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi didapatkan p-value = 0,001. Dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara pola makan dengan kejadian hipertensi dan adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi. Pola makan kurang dan aktivitas fisik ringan berkaitan dengan kejadian hipertensi seseorang. Artinya apabila pola makan kurang dan aktivitas fisik ringan menyebabkan hipertensi karena dengan makanan yang tinggi garam dan tidak melakukan aktivitas fisik secara rutin maka akan meningkatkan kerja jantung sehingga terjadi hipertensi.
Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Wire Kabupaten Tuban Syavira Aulia Mentari; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih; Titik Sumiatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 8 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ASI eksklusif yaitu pemberian ASI sejak bayi lahir yang diberikan hingga usia enam bulan tanpa pemberian makanan atau minuman tambahan lainnya, termasuk air. ASI belum dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Wilayah kerja puskesmas Wire memiliki cakupan pemberian ASI Eksklusif yang rendah. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengatuhi pemberian ASI Eksklusif Di Desa Gesing Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban. Desain dalam penelitian ini adalah Analitik. Analisis data menggunakan Analisis Uji Chi–Square. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Intrumen penelitian menggunakan kuesioner yang dibuat sendiri oleh peneliti. Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu Yang Memiliki Balita Di Desa Gesing Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban Yang Berjumlah 50 Orang dengan besar sampel 44 ibu. Berdasarkan hasil uji Chi-Square didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif dengan nilai p 0,520 > 0,05. Ada hubungan antara usia ibu dengan pemberian ASI Eksklusif dengan nilai p 0,002 < 0,05. Ada hubungan antara pendidikan dengan pemberian ASI Eksklusif dengan nilai p 0,000 < 0,05. Ada hubungan antara dukungan suami dan keluarga dengan pemberian ASI Eksklusif dengan nilai p 0,000 < 0,05. Faktor pengetahuan tidak mempengaruhi dengan pemberian ASI Eksklusif karena selain pengetahuan terdapat faktor lain seperti faktor usia, pendidikan, dan dukungan suami dan keluarga yang mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif pada balita.