Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Struktur Dramatik Wayang Kulit Parwa Lakon Angsaliman Oleh Dalang I Dewa Made Rai Mesi Badranaya, I Nengah Dwija; Sedana, I Nyoman
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 1 No 1 (2021): Agustus.
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v1i1.691

Abstract

Tulisan ini mengkaji struktur dramatik Wayang Kulit Parwa lakon Sang Angsaliman oleh dalang I Dewa Made Rai Mesi dari Kabupaten Bangli yang pernah populer pada era tahun 1970 hingga 1980an. Beliau adalah dalang inovatif pada masa itu karena memasukkan unsur bahasa daerah dari berbagai suku di Indonesia sebagai bahan lelucon. Beliau dalam pertunjukannya lebih banyak menampilkan lakon carangan yang salah satunya adalah Sang Angsaliman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu data yang diperoleh di lapangan baik dari hasil pengamatan pita kaset maupun hasil wawancara diolah dan dianalisis serta disajikan secara formal melalui foto-foto dan secara non formal melalui penjelasan dengan menggunakan kata-kata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur dramatik Wayang Parwa lakon Sang Angsaliman oleh dalang Dewa Made Rai Mesi mulai dari: (1) exposisi, yaitu adegan peparuman atau perbincangan antara Yudistira dan juga Arjuna membicarakan masalah perang Bharatayuddha yang telah berlalu dan wajib untuk menyucikan semua prajurit yang gugur dalam perang tersebut; (2) komplikasi, yaitu Sang Angsaliman menuju Astinapura dengan segenap rakyatnya yang bertujuan untuk memberikan penghormatan terakhir untuk ayahnya, tetapi setelah sampai terjadilah kesalahpahaman antara Sang Angsaliman dengan Yudistira; (3) klimaks, yaitu Sang Angsaliman memohon bantuan kepada Dewa Brahma dan Dewa Wisnu agar ia dapat menghadapi Hanoman juga Dewa Gana sehingga menjadi sangat kuat, bahkan Hanoman dan Dewa Gana menjadi tidak berdaya menghadapi Sang Angsaliman; dan (4) resolusi, yaitu adegan Sang Angsaliman yang telah dibantu oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, tetapi tetap dapat dikalahkan oleh Dewa Bayu. Sang Angsaliman diampuni oleh Dewa Bayu dengan syarat ia tidak boleh lagi mengganggu yadnya para Pandawa.
Wayang Klupak “Manik Angkeran” Ermawan, I Gede Juli; Sedana, I Nyoman; Sudiana, I Ketut
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 3 No 1 (2023): April
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v3i1.2291

Abstract

Laporan akhir projek independen pada Sanggar Paripurna selama satu semester berintikan skrip karya seni Wayang Klupak dengan lakon yang diangkat adalah cerita Manik Angkeran. Terinspirasi dari ritual ngulapin dalam pemujaan ibu pertiwi dengan sarana Wayang Klupak di Batubulan, penciptaan Wayang Klupak ini dideskripsikan berlandasan grand teori kawi dalang yang diformulasikan dan disempurnakan terus oleh I Nyoman Sedana sejak 2002 dalam disertasinya di University Of Georgean, USA. Merujuk tiga rumusan masalah : (1) Tahapan pembuatan wayang ini berlandaskan pada sub teori Catur Datu Kawya (empat sumber kreativitas seni). (2) kebaharuan dan keunikan daya pikat Wayang Klupak. (3) upaya pemanfaatan serta pemasaran Wayang Klupak dengan judul garapan Manik Angkeran.
Wayang Pakeliran “Caru Somya Hita” Subamia, Ngurah Bagus; Sedana, I Nyoman; Bratanatyam, I Bagus Wijna
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 4 No 1 (2024): April
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v4i1.3741

Abstract

Studi/projek independen dilatarbelakangi oleh tujuan adalah suatu progam pembelajaran yang dimana memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan pembelajaran diluar lingkungan kampus seperti di sanggar, komunitas, dan lain-lain. Tujuan dari progam ini tiada lain yaitu mengembangkan potensi-potensi dalam menciptakan suatu karya pertunjukan bagi mahasiswa itu sendiri yang akan dibimbing langsung mitra dari sanggar tersebut sehingga kedepannya bisa menjadikan seniman yang berakademisi dan dipercaya oleh masyarakat setempat, dan juga sebagai syarat perkuliahan progam MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) saat ini. Pada kesempatan kali ini penata memilih Sanggar Seni Buratwangi di pulau Lombok Provinsi NTB. Penciptaan karya Pakeliran Wayang “caru Somya Hita” kali ini, yaitu menggunakan metode berbasis riset (penelitian) yang bernama teori Sanggit (Kawi Dalang). Metode ini terdiri dari Catur Datu Kawya yang digunakan untuk merumuskan dan mewujudkan suatu konsep sehingga tercipta suatu produk atau karya seni. Pakeliran Wayang ini tidak jauh berbeda dengan pakeliran wayang tradisi, aspek tradisipun dilibatkan kedalam sebuah karya ini dengan penambahan komponen- komponen yang tidak digunakan pada pakem tradisi, tujuan untuk lebih menambah minat masyarakat dalam menonton pertunjukan wayang yang adiluhung. Penulis memiliki harapan untuk semua hasil garapan mahasiswa dan para seniman agar dapat berkarya dengan baik. Berkarya seni atau penuangan imajinasi kedalam benda pada dasarnya adalah proses membentuk gagasan dan mengolah sesuatu agar mewujudkan bentuk-bentuk atau gambaran gambaran yang baru, komponen sederhana tentunya pasti bisa menjadi berguna dan bernilai jual tinggi jika kita pandai untuk mengolah komponen itu dengan kreasi dan pemikiran yang kreatif.
Penciptaan Karya Teater Pakeliran “Ngaramu Yana” Atmaja, I Kadek Adi Supadma; Sedana, I Nyoman; Kodi, I Ketut
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 4 No 2 (2024): Agustus
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v4i2.4391

Abstract

Studi atau projek independen adalah suatu progam pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa/i untuk melakukan pembelajaran di luar lingkungan kampus seperti di sanggar, komunitas, desa, perusahaan dan lain-lain. Tujuan dari progam ini tiada lain yaitu mengembangkan potensi-potensi dalam menciptakan suatu karya pertunjukan bagi mahasiswa/i itu sendiri yang akan dibimbing langsung oleh mitra sehingga kedepannya bisa menjadikan seniman yang ber-akademisi dan dipercaya oleh masyarakat setempat. Sanggar Seni Gema Abhiraja Widya Jnana merupakan salah satu sanggar yang berada di Banjar Pujung Kaja tepatnya berada di Jalan Raya Pujung Kaja, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Yang bergerak pada bidang kesenian seperti Seni Tari, Karawitan, Vokal dan tentunya pada bidang Seni Pedalangan atau, serta pada bidang pembuatan properti pertunjukan tradisi yang ada di desa setempat. Sejarah terbentuknya Sanggar Seni Gema Abhiraja Widya Jnana berawal dari kegiatan ngayah - ngayah di pura, karena terlalu sering ngayah maka terbesitlah ide untuk membuat seka atau komunitas yang di beri nama Sanggar Seni Gema Abhiraja Widya Jnana, yang berdiri pada tahun 2017. Teori Kawi Dalang berbasis pada penciptaan seni pedalangan, namun penulis melihat bahwa teori ini dapat diaplikasikan pada berbagai jenis pertunjukan di Bali, termasuk garapan Wayang Pakeliran Teater Ngaramu Yana. Adapun pesan tersirat dari garapan teater Ngaramu Yana tersebut dapat menginspirasi anak muda yang sedang merasakan kalut serta perang batin antara logika dalam keluarga utnuk perjuangan hidupnya pada generasi muda, agar tetap memiliki semangat dan tetap berpegang teguh memiliki sebuah prinsip serta motivasi dalam menjalani kehidupan.
MUSICAL PERFORMANCE OF MAPPADENDANG HARVEST RITUAL IN BUAE VILLAGE SIDENRENG RAPPANG REGENCY SOUTH SULAWESI Fardian, Fardian; Sedana, I Nyoman; Ardini, Ni Wayan; Sudirana, I Wayan
Proceeding Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference Vol. 4 (2024): Proceedings Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/bbwp.v4i1.602

Abstract

People in Buae village, Sidenreng Rappang, South Sulawesi, annually perform the Mappadendang harvest ritual to express gratitude for a successful rice harvest. This research aims to discuss the unique musical behavior of the community during the Mappadendang process, namely singing Sure' “Meong Palo Karellae”, and drumming “Lesung”. This research uses a qualitative design with an ethnomusicology approach. The author obtained research data through field observations, interviews, and documentation. The collected data were analyzed using the flowchart technique: data reduction, display, and conclusion/verification. The results showed that Mappadendang music performances are related to spiritual, social, and entertainment functions. Mappadendang musical performances produce musical activities based on local wisdom creativity, including 1) Massure', which is the process of singing the text of “Meong Palo Karellae” with a vocal style produced in mono melodic form, played based on the interpretation of Passure' (Lontar Reader) tones. In Lesung drumming, the rhythm of Mappadendang is related to the concept of Sulapa Eppa'. Two rhythmic patterns are found: 1) “Manganak” is a pattern played by “Indo' Padendang” (female player), resulting in a four-beat interweaving played alternately and repeatedly. 2) “Mattang” is the rhythmic pattern played by “Ambo' Padendang” (male player), who plays contrasting rhythmic patterns, tending to produce synchronized rhythmic forms. The results of this research are significant because they reflect the community's views towards the sustainability of Mappadendang. Readers will know the uniqueness of Mappadendang music performance, which can inspire the creation of new art based on local wisdom.