Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PRESERVASI BERBASIS KEARIFAN LOKAL (STUDI KASUS MENGENAI PRESERVASI PREVENTIF DAN KURATIF MANUSKRIP LONTAR SEBAGAI WARISAN BUDAYA DI KABUPATEN KLUNGKUNG BALI). Sedana, I Nyoman; Damayani, Ninis Agustini; Khadijah, Ute Lies Siti
Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.294 KB) | DOI: 10.24198/jkip.v1i1.9616

Abstract

Lontar an ancient manuscript that is made from the leaves tal, in addition to the palm as well as a very important source of information for the public, because of the ejection public can obtain information or documentation and proof of the important events that occurred during the days ago. Papyrus manuscripts in Klungkung regency given hundreds of years old as the central government of Klungkung regency of Bali in the past or in the days of empire. Lontar in Klungkung regency is still in good condition or it can be clearly read the letter. The theory used in this research is the theory of preservation and the method used is a qualitative method that aims to study the processes of preservation preventive and curative papyrus manuscripts based on local wisdom based system of values, tare method and conditions; and assess the role of local government in the preservation of papyrus manuscripts based lokal.Subjek wisdom in this study as many as seven people respectively two pedanda / sulinggih / pastor, stakeholders, practitioners papyrus and one from the Department of Cultural district voters Klungkung.Teknik informants by way of technical snowball (snowball sampling). The findings indicate papyrus manuscript preservation in Klungkung regency in the manufacturing process should use the good ejection accompanied by offerings or offerings. Lontar stored on taksu in merajan shrine or temple shrines of storage in which each day dihaturkan offerings or offerings in addition also every six months during the festival of Saraswati, during the festival of Saraswati also conducted cleanup on kropak and shrine (where the palm). Lontar damaged in Klungkung regency will do transiliterasi or rewriting of the strands ejection ejection damaged in storage (in merajan or temple) to deliver to the offering or offerings first. Preservation curative manuscript ejection in Klungkung regency in the process of relaxation and discolor papyrus used oil serei blended pecans, while to overcome the ejection damaged in Klungkung regency will instantly transliterate or rewriting of the strands ejection damaged done by expert authors characters (letters) bali , The participation of the local government of Klungkung never participating in the preservation of papyrus manuscripts. The conclusion from this study that the preservation of preventive manuscript ejection in Klungkung regency with nurturing and caring for palm every day menghaturkan offerings or offerings in storage areas ejection in addition also perform ceremonies every six months during the festival of Saraswati, preservation curative manuscript ejection in Klungkung do relaxation, discolor letter ejection and overcome faulty ejection do transiliterasi or writing back in palm leaves, there has never been the role of local governments in the Klungkung regency papyrus manuscript preservation activities.Lontar merupakan naskah masa lampau yang terbuat dari daun tal, disamping itu lontar juga sebagai sumber informasi yang sangat penting bagi masyarakat, karena dari lontar masyarakat dapat memperoleh informasi atau dokumentasi dan bukti dari peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dimasa silam. Manuskrip lontar yang ada di Kabupaten Klungkung berumur ratusan tahun mengingat kabupaten Klungkung sebagai pusat pemerintahan pulau Bali di masa lampau atau pada jaman kerajaan. Lontar yang ada di Kabupaten Klungkung hingga saat ini masih dalam kondisi yang bagus atau dapat terbaca dengan jelas hurufnya. Teori yang di digunakan dalam penelitian ini adalah teori preservation dan Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang bertujuan untuk mengkaji proses preservasi preventif dan kuratif manuskrip lontar berbasis kearifan lokal berdasarkan sistem nilai, tara cara dan ketentuan khusus; serta mengkaji peran serta pemerintah daerah dalam preservasi manuskrip lontar berbasis kearifan lokal.Subjek dalam penelitian ini sebanyak tujuh orang yaitu masing-masing dua orang pedanda/sulinggih/pendeta, pemangku, praktisi lontar dan satu orang dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Klungkung.Teknik pemilih informan dilakukan dengan cara teknik bola salju (snowball sampling). Hasil temuan menunjukkan preservasi manuskrip lontar di Kabupaten Klungkung dalam proses pembuatan lontar harus menggunakan hari baik yang disertai dengan banten atau sesajen. Lontar tersimpan pada pelinggih taksu di merajan atau gedong penyimpanan di pura yang setiap hari dihaturkan banten atau sesajen disamping pula setiap enam bulan pada hari raya Saraswati, pada hari raya Saraswati dilakukan pula pembersihan pada kropak dan pelinggih (tempat penyimpanan lontar). Lontar yang rusak di Kabupaten Klungkung akan dilakukan transiliterasi atau penulisan kembali pada helai lontar yang rusak pada tempat penyimpanan lontar (di merajan atau pura) dengan menghaturkan sesajen atau banten terlebih dahulu. Preservasi kuratif manuskrip lontar di Kabupaten Klungkung dalam proses pelemasan dan menghitamkan lontar mempergunakan minyak serei dicampur kemiri, sedangkan untuk mengatasi lontar yang rusak di Kabupaten Klungkung akan langsung melakukan transliterasi atau penulisan kembali pada helai lontar yang rusak yang dilakukan oleh ahli penulis aksara (huruf) bali. Peran serta pemerintah daerah Kabupaten Klungkung tidak pernah ikut berpartisipasi dalam kegiatan preservasi manuskrip lontar. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa preservasi preventif manuskrip lontar di Kabupaten Klungkung dengan memelihara dan merawat lontar setiap hari menghaturkan sesajen atau banten pada tempat penyimpanan lontar disamping pula melakukan upacara setiap enam bulan pada hari raya Saraswati, preservasi kuratif manuskrip lontar di Kabupaten Klungkung dilakukan pelemasan, menghitamkan huruf lontar dan mengatasi lontar yang rusak dilakukan transiliterasi atau penulisan kembali di daun lontar, belum pernah ada peran serta pemerintah daerah Kabupaten Klungkung dalam kegiatan preservasi manuskrip lontar.
Directing Cymbeline: Leon activated attributes of God for the 38th Bali Arts Festival 2016 Sedana, I Nyoman
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol 2 No 1 (2019): April
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.812 KB) | DOI: 10.31091/lekesan.v2i1.749

Abstract

Applying the theory of Bali Creative Art, this paper looks at the theatre directing elements, concept, and method applied by Leon Rubin when he directed Shakespeare’s Cymbeline. Invited by the Head of the Bali Province Cultural Directorate to showcase a cross-cultural theatrical production, Leon selected and integrated twenty-five artists (actors/actresses, costume and lighting designers) from Bali, Indonesia; Malaysia, Mexico, Brazil, China, and England in a new work for the 38th Bali Arts Festival in 2016. Most of the actors were able to stay in Bali for three weeks to rehearse; the piece was also shown in limited seating venues in the villages of Ubud and Abian Semal for three nights in a row from 25 to 27 June 2016. Despite the great challenge for the non-Indonesian actors and director, all were finally able to collaborate under Leon’s direction and perform the Indonesian language translation of the original Shakespearian text. Although the local artists informed Leon that the Cymbeline play would be competing with sounds from loud speakers in several nearby performance venues and the stage crew offered the actors microphones—Leon did not allow sound amplification of the actors, musicians, narrator, or the singer. Surprising yet amusing local audiences with several uncommon features, the Cymbeline show was considered to be the best collaborative production among the nearly 350 performances presented during the month-long festival.
Pupuh Dalam Dramatari Arja Rare Angon Oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar Adhi Santika, Sang Nyoman Gede; Sedana, I Nyoman; Marajaya, I Made
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 6 No 1 (2020): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertunjukan dramatari Arja Rare Angon oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar yang dipentaskan pada tahun 2006 tidak lepas dari keberadaan pupuh, sehingga dapat dikatakan sebagai dramatari bertembang karena peranan pupuh tersebut sebagai media ungkap dalam pengantar cerita Rare Angon yang terelaborasi dengan elemen-elemen pendukung yang ada dalam dramatari Arja. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk memahami bentuk, estetika, dan makna pupuh dalam dramatari Arja Rare Angon oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar. Penelitian pupuh tersebut menggunakan desain penelitian deskriptif analitik. Ada tiga pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini meliputi : (1) Bagaimana bentuk pupuh yang terdapat dalam Dramatari Arja Rare Angon oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar? (2) Bagaimana estetika Pupuh yang terdapat dalam Dramatari Arja Rare Angon oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar? (3) Apa makna syair Pupuh yang terkandung dalam Dramatari Arja Rare Angon oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar? Permasalahan tersebut dianalisis dengan teori bentuk, teori estetika, dan teori semiotika. Jenis data penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui teknik observasi, teknik wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Pupuh memiliki unsur-unsur pembentuknya diantaranya unsur utama yakni tiga pola persajakan antara lain Padalingsa, Guru Wilangan dan Guru Dingdong dan juga syair Pupuh yang didapat dari sumber cerita Rare Angon, kemudian unsur penunjang antara lain Notasi, alur cerita, dan penokohan; (2) estetika Pupuh dalam dramatari Arja Rare Angon adalah keutuhan yang menggabungkan seluruh unsur pembentuk Pupuh pada adegan papeson dan adegan panyerita dengan memiliki keselarasan pada adegan papeson ketika terjalin hubungan antara Pupuh, gerak tari, dan musik iringan. Kecemerlangan terletak pada daya pikir para penari dalam menggunakan teknik nyompong dan dalam menciptakan syair pupuh dalam improvisasi adegan panyerita dan pekaad. (3) Pupuh dalam dramatari Arja Rare Angon memiliki dua makna, yaitu makna denotasi dan makna konotasi. Makna denotasi adalah Pupuh secara keseluruhan adalah sebuah representasi dari alur cerita Rare Angon, sedangkan makna konotasi adalah makna yang tidak tampak namun dapat dirasakan. Artinya Pupuh dalam dramatari Arja Rare Angon mengandung makna simbolik, keindahan, keteladanan, penyucian diri, dan makna kedamaian.
Wayang Pakeliran “Caru Somya Hita” Subamia, Ngurah Bagus; Sedana, I Nyoman; Bratanatyam, I Bagus Wijna
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 4 No. 1 (2024): April
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v4i1.3741

Abstract

Studi/projek independen dilatarbelakangi oleh tujuan adalah suatu progam pembelajaran yang dimana memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan pembelajaran diluar lingkungan kampus seperti di sanggar, komunitas, dan lain-lain. Tujuan dari progam ini tiada lain yaitu mengembangkan potensi-potensi dalam menciptakan suatu karya pertunjukan bagi mahasiswa itu sendiri yang akan dibimbing langsung mitra dari sanggar tersebut sehingga kedepannya bisa menjadikan seniman yang berakademisi dan dipercaya oleh masyarakat setempat, dan juga sebagai syarat perkuliahan progam MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) saat ini. Pada kesempatan kali ini penata memilih Sanggar Seni Buratwangi di pulau Lombok Provinsi NTB. Penciptaan karya Pakeliran Wayang “caru Somya Hita” kali ini, yaitu menggunakan metode berbasis riset (penelitian) yang bernama teori Sanggit (Kawi Dalang). Metode ini terdiri dari Catur Datu Kawya yang digunakan untuk merumuskan dan mewujudkan suatu konsep sehingga tercipta suatu produk atau karya seni. Pakeliran Wayang ini tidak jauh berbeda dengan pakeliran wayang tradisi, aspek tradisipun dilibatkan kedalam sebuah karya ini dengan penambahan komponen- komponen yang tidak digunakan pada pakem tradisi, tujuan untuk lebih menambah minat masyarakat dalam menonton pertunjukan wayang yang adiluhung. Penulis memiliki harapan untuk semua hasil garapan mahasiswa dan para seniman agar dapat berkarya dengan baik. Berkarya seni atau penuangan imajinasi kedalam benda pada dasarnya adalah proses membentuk gagasan dan mengolah sesuatu agar mewujudkan bentuk-bentuk atau gambaran gambaran yang baru, komponen sederhana tentunya pasti bisa menjadi berguna dan bernilai jual tinggi jika kita pandai untuk mengolah komponen itu dengan kreasi dan pemikiran yang kreatif.
Penciptaan Karya Teater Pakeliran “Ngaramu Yana” Atmaja, I Kadek Adi Supadma; Sedana, I Nyoman; Kodi, I Ketut
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 4 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v4i2.4391

Abstract

Studi atau projek independen adalah suatu progam pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa/i untuk melakukan pembelajaran di luar lingkungan kampus seperti di sanggar, komunitas, desa, perusahaan dan lain-lain. Tujuan dari progam ini tiada lain yaitu mengembangkan potensi-potensi dalam menciptakan suatu karya pertunjukan bagi mahasiswa/i itu sendiri yang akan dibimbing langsung oleh mitra sehingga kedepannya bisa menjadikan seniman yang ber-akademisi dan dipercaya oleh masyarakat setempat. Sanggar Seni Gema Abhiraja Widya Jnana merupakan salah satu sanggar yang berada di Banjar Pujung Kaja tepatnya berada di Jalan Raya Pujung Kaja, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Yang bergerak pada bidang kesenian seperti Seni Tari, Karawitan, Vokal dan tentunya pada bidang Seni Pedalangan atau, serta pada bidang pembuatan properti pertunjukan tradisi yang ada di desa setempat. Sejarah terbentuknya Sanggar Seni Gema Abhiraja Widya Jnana berawal dari kegiatan ngayah - ngayah di pura, karena terlalu sering ngayah maka terbesitlah ide untuk membuat seka atau komunitas yang di beri nama Sanggar Seni Gema Abhiraja Widya Jnana, yang berdiri pada tahun 2017. Teori Kawi Dalang berbasis pada penciptaan seni pedalangan, namun penulis melihat bahwa teori ini dapat diaplikasikan pada berbagai jenis pertunjukan di Bali, termasuk garapan Wayang Pakeliran Teater Ngaramu Yana. Adapun pesan tersirat dari garapan teater Ngaramu Yana tersebut dapat menginspirasi anak muda yang sedang merasakan kalut serta perang batin antara logika dalam keluarga utnuk perjuangan hidupnya pada generasi muda, agar tetap memiliki semangat dan tetap berpegang teguh memiliki sebuah prinsip serta motivasi dalam menjalani kehidupan.
PENGARUH KUALITAS PELAYANAN, KEPUASAN TAMU, DAMPAKNYA TERHADAP NIAT DATANG KEMBALI PADA INTERCONTINENTAL RESORT Sedana, I Nyoman; Zuraida, Lukia; Utama, I Putu
Tulisan Ilmiah Pariwisata (TULIP) Vol 7, No 2: DESEMBER 2024
Publisher : Program Studi S1 Pariwisata, Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/tulip.7.2.81-86.2024

Abstract

This study aims to determine the effect of service quality on satisfaction and intention to return to Resort guests by using a accidental sampling technique on 160 respondents which were then analyzed using Structural Equation Models (SEM) via Smart-Pls. The results of the study state that 1) service quality has a significant positive effect on customer satisfaction. Where the coefficient is 0.960. 2) customer satisfaction has a positive and insignificant effect on intention to return Where the coefficient is 0.162. 3) service quality has a positive and significant effect on intention to return, Where the coefficient is 0.771. 4) Testing the mediation effect with the VAF value obtained at 16.74% so that there is no mediation effect by the customer satisfaction variable on the relationship between service quality and intention to return. The Resort needs to maintain service quality through the provision of the latest facilities (up to date), improve performance so that services are provided on time so as to maintain guest satisfaction and intention to come back to the InterContinental Bali Resort.
“CATUR KARANA” IDA BAGUS GEDE PURWA STUDY OF SANGGIT LAKON (KAWI CARITA) BALINESE SHADOW PUPPET Widnyana, I Kadek; Sedana, I Nyoman; Sudarta, I Gusti Putu; Mawan, I Gede
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lksn.v8i1.3174

Abstract

Balinese Wayang kulit contains deep philosophy and aesthetics, with plays that are not only entertaining, but also contain moral teachings and life values. An important element in the structure of the play is the concept of "Catur Karana" created by Ida Bagus Gede Purwa. This research uses a qualitative method with a text analysis and phenomenology approach, involving literature study, interviews with puppeteers, audiences and practitioners of the puppet arts. Data is analyzed through text analysis and semiotics to understand the meaning and structure of the story. The research results show that "Catur Karana" is a basic method in building a new play. Dalang needs to understand the four main elements: swamandala, antakarana, uparengga, and pasiat, which support the structure of the play in Reka Sadana. Catur Karana includes five elements (panca reka) and is equipped with Catur Perakreti and Panca Wilasa materials as raw materials for creating new plays, which is an important method in nynggit plays.Qualitative research methods using text analysis and phenomenology approaches explore the application of the concept of "Catur Karana" in the Balinese Wayang kulit play by Ida Bagus Gede Purwa. The main data analyzed came from the Purwa Wasana text and the Kawi Carita text and their documentation. Data collection, literature study, interviews, and art practitioners. Narrative data analysis of text and play structure. Catur Karana by Ida Bagus Gede Purwa in the Purwa Wasana Textbook. Understand the drupadi competition play from the main play (Ramayana, Mahabharata), memorize the characters, understand the structure of the play, characterization, scenes, building blocks, pedum coral, and understand the theme. Ida Bagus Gede Purwa implemented Catur Karana into a play called the Drupadi Competition. In it, elements of chess karana are explored which are presented as a summary of the story, scenes and scenes.
Pengabdian Masyarakat: Edukasi dan Pembinaan Anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Karangasem Bali Gorda, Anak Agung Ayu Ngurahtini Rusmini; Sugara Yasa, I Wayan; Sedana, I Nyoman
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 5 No 6 (2025): JAMSI - November 2025
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.2117

Abstract

Anak-anak yang berhadapan dengan hukum di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Karangasem menghadapi permasalahan berupa rendahnya motivasi belajar, keterbatasan pemahaman nilai moral, serta kurangnya keterampilan hidup yang mendukung proses reintegrasi sosial. Kondisi ini berpotensi menghambat pembinaan dan meningkatkan risiko residivisme. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah memberikan edukasi dan pembinaan komprehensif guna membentuk karakter positif, meningkatkan wawasan, serta membekali anak binaan dengan keterampilan relevan agar siap beradaptasi di masyarakat. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan interaktif, pelatihan keterampilan praktis, sesi motivasi, bimbingan kelompok, serta evaluasi capaian, dengan melibatkan pembina LPKA dan memanfaatkan materi pembelajaran kontekstual. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan motivasi belajar, pemahaman nilai moral, serta minat dan keterampilan di bidang tertentu, seperti seni dan kewirausahaan. Dampak langsung yang dirasakan mitra adalah bertambahnya kepercayaan diri, meningkatnya motivasi belajar, serta berkembangnya keterampilan sosial anak binaan. Selain itu, hubungan positif antara pembina dan anak binaan semakin terjalin, yang memperkuat proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial.
Teater Wayang Golek Topeng GEGER GIANYAR Kertajaya, I Ketut; Sedana, I Nyoman; Sidia, I Made
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 5 No 2 (2025): Oktober
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v5i2.5003

Abstract

This study presents the creation of Wayang Golek Topeng: Geger Gianyar, a theatrical innovation that reinterprets Balinese performing arts in response to contemporary cultural dynamics. Rooted in the dual challenge of preserving tradition while embracing modernity, the work employs wayang golek topeng as a hybrid medium that integrates the symbolic depth of Balinese topeng with the dramaturgy of rod puppetry. The creative process was guided by Prof. I Nyoman Sedana’s Catur Datu Kawya framework—Pandulame (imagination), Adicita-Adirasa (ideas and emotions), Sranasasmaya (media and method), and Gunatama (technical skills)—applied through collaborative practice with the Manduka Asrama Art Community in Gianyar. The work dramatizes social tensions and identity struggles in Gianyar, symbolizing broader cultural negotiations within Balinese society. Its novelty lies in the synthesis of mask-dance aesthetics and puppetry, producing a multisensorial performance that bridges sacred symbolism with contemporary stagecraft. Beyond its artistic value, the performance contributes to national discourse on cultural sustainability by positioning traditional puppetry as an adaptive medium for education, reflection, and intercultural dialogue. Thus, Geger Gianyar affirms the strategic role of practice-based research in revitalizing Indonesian performing arts while fostering cultural resilience in the era of globalization.
Transformasi Arja ke dalam Wayang Kulit Arja Lakon Citta Kelangen Dalang I Made Sidja Danaswara, I Putu Gede Budhi; Sedana, I Nyoman; Sudarta, I Gusti Putu
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengangkat pokok masalah yaitu : 1) Bagaimana transformasi arja ke dalam wayang kulit arja lakon Citta Kelangen Dalang I Made Sidja ?. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian kualitatif dengan menggunakan tiga teori yaitu teori transformasi. secara umum, penelitian ini bertujuan : 1) Mendapatkan informasi yang jelas tentang tranformasi arja ke dalam wayang kulit arja lakon Citta Kelangen Dalang I Made Sidja ; 2) Menyuguhkan lakon Citta Kelangen yang dibawakan Dalang I Made Sidja mengandung unsur kreativitas yang tinggi, kawi dalang, makna serta sangat lengkap dalam struktur dramatik lakon ; 3) Memaparkan pertunjukan wayang kulit arja lakon Citta Kelangen Dalang I Made Sidja sebagai pengetahuan sehingga diketahui oleh praktisi pewayangan dan masyarakat luas pada saat ini hingga masa yang akan datang.Metode-metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dokumentasi, dan kepustakaan. Seluruh data diolah menggunakan teknik deskriptif. Hasil yang diperoleh dalam : 1) transformasi arja ke dalam wayang kulit arja lakon Citta Kelangen Dalang I Made Sidja adalah -tranformasi tata rias wajah pemain arja ke dalam wajah wayang kulit arja ; -tranformasi busana penari arja ke dalam bentuk busana wayang kulit arja ; -tranformasi gerak tari penari arja ke dalam tatikesan wayang kulit arja ; -tranformasi suara vocal penari arja ke dalam suara vocal I Made Sidja sebagai dalang wayang kulit arja ; dan -bentuk penyajian arja ke dalam wayang kulit arja.