Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Tinjauan Ketepatan Kode Diagnosis Gigi Dan Mulut Pasien Rawat Jalan Di Rumah Sakit Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa Kuntoadi, Gama Bagus; Lestari, Santi; Fahriati, Andriyani Rahmah; Harum, Mutiara Sekar
EDU RMIK Jurnal Edukasi Rekam Medis Ilmu Kesehatan Vol 2, No 2 (2023): EDU RMIK: Jurnal Edukasi Rekam Medis Informasi Kesehatan
Publisher : STIKes Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketepatan kode diagnosis dan tindakan merupakan salah satu faktor penting terkait pelaporan data morbiditas-mortalitas Rumah Sakit, dan juga dalam proses klaim pembiayaan Indonesia Case Base Gropus (INA CBGs) dan klaim asuransi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Standar Prosedur Operasional (SPO) Kodefikasi Rumah Sakit Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa (RS RSTDD), mengidentifikasi sumber daya manusia bagian koding, mengetahui tingkat ketidaktepatan kode diagnosis penyakit gigi dan mulut pasien rawat jalan RS RSTDD. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu teknik observasi dan wawancara. Populasi penelitian ini berjumlah 70 rekam medis khususnya pada ringkasan klinis bulan Januari 2021-Desember 2022, sampel yang diambil sebanyak 70 berkas rekam medis gigi dan mulut. Hasil dari penelitian memperlihatkan bahwa RS RSTDD belum memiliki SPO Kodefikasi penyakit, SDM koder memiliki latar belakang pendidikan D3 Rekam Medis dengan masa kerja 2 tahun, dan pernah mendapatkan pelatihan koding. Tingkat ketidaktepatan kode diagnosis penyakit gigi dan mulut pasien rawat jalan yaitu kode yang tepat 40 (57,15%) dan kode yang tidak tepat 30 (42,85%). Penyebab ketidaktepatan kode diagnosis penyakit gigi dan mulut yaitu dokter gigi kurang spesifik dalam penulisan diagnosis serta terdapat singkatan-singkatan yang belum dibakukan di RS RSTDD.
Tinjauan Ketepatan Kode Diagnosis Pada Kasus Persalinan Pasien Jaminan Kesehatan Nasional Berdasarkan ICD-10 Di Rumah Sakit Harapan Sehati Kabupaten Bogor Kuntoadi, Gama Bagus; Haryanto, Sri; Febriari, Fiza
EDU RMIK Jurnal Edukasi Rekam Medis Ilmu Kesehatan Vol 2, No 2 (2023): EDU RMIK: Jurnal Edukasi Rekam Medis Informasi Kesehatan
Publisher : STIKes Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian kode diagnosis pada rekam medis pasien mengacu pada aturan ICD-10 (International Statistical Classification of Disease and Related Health Problem). Ketidaktepatan pengkodean diagnosis akan berdampak pada proses tarif E-klaim INA-CBG’s terhadap kinerja keuangan Rumah Sakit, serta salah dalam pelaporan data mordibitas dan mortalitas pasien. Jenis penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif (mix method). Populasi penelitian ini adalah 248 berkas rekam medis diagnosis kasus persalinan pasien JKN periode Agustus-Desember tahun 2022. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 153 dengan metode simple random sampling terdapat (26,79%) hampir setengahnya kode tepat dan (73,20%) sebagian besar kode tidak tepat Diagnosis Utama. Lalu terdapat (50%) setengahnya kode tepat dan (50%) setengahnya kode tidak tepat Diagnosis Sekunder. Petugas koding tidak memiliki latar belakang pendidikan rekam medis, belum pernah mengikuti pelatihan khusus kodefikasi dan belum mempunyai buku ICD-10.
TINJAUAN KETEPATAN KODE DIAGNOSIS HYPERTENSIVE DISEASE PASIEN RAWAT JALAN BERDASARKAN ICD-10 DI RS XYZ Kuntoadi, Gama Bagus; Sucipto, Sucipto; Solihah, Mutiara Putri
EDU RMIK Jurnal Edukasi Rekam Medis Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2024): EDU RMIK: Jurnal Edukasi Rekam Medis Informasi Kesehatan
Publisher : STIKes Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian kode diagnosis pada rekam medis pasien mengacu dan berpatokan kepada aturan ICD-10. Seorang koder memiliki tanggung jawab terhadap ketepatan kode hasil pengkodean, oleh karena itu kemampuan dan keterampilan seorang koder tentang tentang cara pengkodean diagnosis utama harus sesuai dengan standar prosedur operasional rumah sakit. Rumah Sakit XYZ bertipe C yang berlokasi di Jawa Barat. Jenis penelitiannya adalah penelitian deskriptif kuantitatif dan kualitatif (mix method). Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara. RS XYZ sudah memiliki Standar Prosedur Operasional (SPO) Kodefikasi yang mana tidak seluruhnya dilaksanakan. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa kode diagnosis Hypertensive Disease yang tidak tepat sebanyak 23 kode (23,95%). Di RS XYZ memiliki tenaga perekam medis sebanyak 5 orang koder dan 1 orang kepala unit rekam medis dengan latar belakang pendidikan D3 Rekam Medis dan memiliki pengalaman kerja 1-7 tahun. Populasi penelitian ini adalah berkas rekam medis yang memiliki diagnosis Hypertensive Disease sebanyak 2496 berkas rekam medis dan sampel penelitiannya sebanyak 96 sampel. Faktor-faktor penyebab ketidaktepatan kode diagnosis Hypertensive Disease disebabkan karena penulisan dokter yang tidak spesifik
Evaluasi Kode Diagnosis Dan Tindakan Medis Gigi Dan Mulut Pasien Rawat Jalan: Sebuah Studi Kuantitatif Dinaya, Nadhira Putri; Kristina, Indah; Kuntoadi, Gama Bagus
EDU RMIK Jurnal Edukasi Rekam Medis Ilmu Kesehatan Vol 4, No 2 (2025): EDU RMIK: Jurnal Edukasi Rekam Medis Informasi Kesehatan
Publisher : STIKes Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52031/erjermik.v4i2.1150

Abstract

Ketepatan kode diagnosis dan tindakan medis sangat berpengaruh terhadap mutu rekam medis, pelaporan, dan proses klaim pembiayaan. Pemberian kode diagnosis mengacu pada ICD-10, sementara pemberian kode tindakan medis mengacu pada ICD-9 CM. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat ketepatan pengkodean diagnosis penyakit gigi dan mulut masih rendah, antara 57-62%. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi ketepatan kode diagnosis dan tindakan medis penyakit gigi dan mulut pasien rawat jalan di Rumah Sakit Bhayangkara Lemdiklat Polri, dan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab ketidaktepatannya. Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Sampel objek penelitian berjumlah 198 diagnosis gigi dan mulut, sampel subjek penelitian adalah 2 petugas koder rawat jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RS sudah memiliki SPO Kodefikasi, tingkat ketepatan kode diagnosis 69.19%, sementara ketidaktepatan 30.81%. Pada kode tindakan medis, kode tepat 31.82%, sedangkan kode tidak tepat 50.51%, dan sebesar 17.67% tidak dikode atau tidak dicatat tindakan medisnya. Faktor penyebab ketidaktepatan yaitu penggunaan singkatan yang tidak baku, dan koder masih menggunakan laman internet untuk mencari kode dan terminologinya. Teridentifikasi Sumber Daya Manusia petugas koder lulusan Non DIII/DIV/S1 Rekam Medis. RS. Bhayangkara Lemdiklat Polri dapat menyusun buku pedoman penggunaan singkatan khusus untuk klinik gigi dan mulut, serta memberikan pelatihan kepada koder terkait kodefikasi penyakit dan tindakan medis.
Neoplasm Diagnosis Coding Accuracy And Completeness: A Retrospective Review Kuntoadi, Gama Bagus; Christin, Rumondang; Lestari, Santi; Angelina, Novia
EDU RMIK Jurnal Edukasi Rekam Medis Ilmu Kesehatan Vol 4, No 2 (2025): EDU RMIK: Jurnal Edukasi Rekam Medis Informasi Kesehatan
Publisher : STIKes Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52031/erjermik.v4i2.1168

Abstract

Medical records are essential documents that support clinical services and healthcare planning. One indicator of medical record quality is the accuracy and completeness of diagnosis codification, particularly in neoplasm cases. This study aims to determine the accuracy and completeness of neoplasm diagnosis codification at RSUP Dr. Sitanala for the period of October–December 2024. The research used a descriptive method with a quantitative and retrospective approach. The object of the study consisted of 116 inpatient and outpatient medical records with neoplasm diagnoses, while the subjects were six medical record coders. Data were collected through observation, questionnaires, and checklists. The results showed that RSUP Dr. Sitanala has implemented a codification SOP with 83.3% compliance. However, the SOP does not specifically regulate the inclusion of morphology codes for neoplasm cases. The accuracy rate of topography code assignment was 78.45% (91 accurate records), while 21.55% (25 records) were inaccurate. Additionally, all 116 records (100%) lacked morphology codes, rendering them incomplete. Regarding human resources, all coders held a formal education background in medical record and health information, yet one coder had never received coding training. Other contributing factors included limited understanding of medical terminology and the absence of specific training related to morphology coding for neoplasms.
Use of Abbreviations in Medical Consent Forms at X Hospital in Indonesia: A Descriptive Analysis Gama Bagus Kuntoadi; Ima Rusdiana; Miftah Parid Firmansyah
International Journal of Health and Medicine Vol. 3 No. 1 (2026): January : International Journal of Health and Medicine
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/ijhm.v3i1.575

Abstract

This study identified the use of abbreviations in Medical Treatment Consent Forms (SPTK) at X Hospital Indonesia. A quantitative cross-sectional descriptive approach was applied to 76 SPTKs in September 2024, and questionnaires were administered to 30 patient-responsible physicians (DPJP). The results showed that 75% of SPTKs contained abbreviations, even though 97% of respondents understood the risk of miscommunication to patient safety. The state of the art includes accreditation standards that prohibit the use of abbreviations in informed consent, with global orthopedic studies reporting a decrease from 54% to 22% after educational interventions, as well as Indonesian regulations, namely Peraturan Mentri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia No. 24/2022, which emphasizes that medical records must be complete. The novelty lies in the first empirical analysis in Indonesian hospitals to reveal the disparity between high physician knowledge and low documentation compliance, contributing to the development of evidence-based monitoring for patient safety. These findings support recommendations for daily review of SPTK, ongoing socialization, and integration of digital checklists to reduce medical errors.
HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS TEMAN SEBAYA DAN REGULASI EMOSI DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU BULLYING PADA REMAJA DI SMPN 16 DEPOK Al Azhary, Muhammad; Hasanah, Uswatun; Lutfia Nurafni, Aida Shopi; Kuntoadi, Gama Bagus
NURSING ANALYSIS: Journal of Nursing Research Vol 6, No 1 (2026): NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

                                                      ABSTRAK Bullying adalah proses cara perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang lebih kuat untuk mengganggu atau menyusahkan orang-orang yang lebih lemah darinya secara terus menerus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konformitas teman sebaya dan regulasi emosi dengan kecenderungan perilaku bullying pada remaja di SMPN16 Depok. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain Cross Sectional. Pengambilan sampel ini menggunakan teknik probabbility sampling dengan metode simple random sampling. Analisis data menggunakan uji spearman rank dengan nilai p-value 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden yang memiliki Konformitas Teman Sebaya Tinggi, Regulasi Emosi Tinggi dan Kecenderungan Perilaku Bullying. Didapatkan hasil Konformitas Teman Sebaya Tinggi 44 responden (49,%4), sedangkan Regulasi Emosi Tinggi sebanyak 42 responden (47,2%), dan Perilaku Bullying Tinggi sebanyak 40 responden (44,9%). Hasil uji statistik menggunakan uji spearman rank diperoleh nilai signifikan p-value 0,000 0,05. . Kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara konformitas teman sebaya dan regulasi emosi dengan kecenderungan perilaku bullying pada remaja di SMPN 16 Depok. Saran dari peneliti diharapkan dapat dijadikan bahan referensi atau acuan bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk melakukan penelitan mengenai konformitas teman sebaya, regulasi emosi, dan kecenderungan perilaku bullying.                                                      ABSTRACT Bullying is the process by which a person or group of people who are stronger than others continuously harass or cause distress to those who are weaker than them. The aim of this study is to investigate the relationship between peer conformity and emotional regulation and the tendency towards bullying behaviour among adolescents at SMPN 16 Depok. This study employed a quantitative research method with a cross-sectional design. Sampling was conducted using probability sampling with simple random sampling. Data analysis utilised the Spearman rank test with a p-value 0.05. The results indicated that respondents with high peer conformity, high emotional regulation, and high tendencies towards bullying behaviour. The results showed that 44 respondents (49.4%) had high peer conformity, 42 respondents (47.2%) had high emotional regulation, and 40 respondents (44.9%) exhibited high bullying behaviour. Statistical analysis using the Spearman rank test yielded a significant p-value of 0.000 0.05. The conclusion is that there is a relationship between peer conformity and emotional regulation and the tendency towards bullying behaviour among adolescents at SMPN 16 Depok. The researchers’ recommendations are intended to serve as a reference or guide for future researchers interested in conducting studies on peer conformity, emotional regulation, and tendencies towards bullying behaviour.
Tinjauan Keamanan Dan Kerahasiaan Data Pasien Terkait Aspek Hukum Rekam Medis Di Rumah Sakit An-Nisa Tangerang Rusdiana, Ima; Holidah, Holidah; Aryani, Sofi Dwi; Kuntoadi, Gama Bagus
EDU RMIK Jurnal Edukasi Rekam Medis Ilmu Kesehatan Vol 5, No 1 (2026): EDU RMIK: Jurnal Edukasi Rekam Medis Informasi Kesehatan
Publisher : STIKes Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52031/erjermik.v5i1.1286

Abstract

Latar Belakang: Perkembangan teknologi informasi dalam bidang kesehatan telah mendorong implementasi Rekam Medis Elektronik di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk Rumah Sakit An-Nisa Tangerang. RME memberikan kemudahan dalam pengelolaan data pasien secara digital, namun di sisi lain juga menimbulkan tantangan terhadap keamanan dan kerahasiaan informasi medis. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk meninjau sejauh mana kebijakan, standar prosedur operasional (SPO), dan pelaksanaan sistem keamanan serta kerahasiaan data pasien di Rumah Sakit An-Nisa Tangerang telah diterapkan sesuai aspek hukum yang berlaku. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap kepala dan staf unit rekam medis serta petugas IT, serta observasi terhadap implementasi sistem. Hasil penelitian: menunjukkan bahwa rumah sakit telah memiliki kebijakan tertulis dan SPO mengenai keamanan dan kerahasiaan data pasien yang disusun berdasarkan regulasi terbaru. Sistem telah menerapkan kontrol akses berbasis akun individual, enkripsi data, dan backup data secara berkala. Namun, ditemukan beberapa kekurangan seperti belum diterapkannya autentikasi dua faktor (2FA), belum adanya prosedur tertulis untuk pemusnahan data setelah masa simpan berakhir, serta belum optimalnya pelatihan formal bagi staf. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa RS An-Nisa telah memiliki kebijakan tertulis sesuai Permenkes, namun implementasinya masih perlu ditingkatkan. Memiliki SPO keamanan data sejak 2019, namun masih diperlukan pelatihan agar implementasi SPO berjalan lebih optimal. Pelaksanaan RME di RS An-Nisa sudah sesuai regulasi dengan kontrol akses dan enkripsi, namun pelatihan teknis bagi staf belum dilakukan secara rutin dan evaluasi lebih bersifat reaktif.
TINJAUAN PELAKSANAAN ASSEMBLING DALAM PENGENDALIAN KELENGKAPAN REKAM MEDIS UNTUK PENINGKATAN MUTU PELAYANAN DI RSUD PONDOK AREN Lestari, Santi; Rahmi, Junaida; Rusdiana, Ima; Berliana, Azzahra; Kuntoadi, Gama Bagus
EDU RMIK Jurnal Edukasi Rekam Medis Ilmu Kesehatan Vol 5, No 1 (2026): EDU RMIK: Jurnal Edukasi Rekam Medis Informasi Kesehatan
Publisher : STIKes Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52031/erjermik.v5i1.1294

Abstract

Medical records are important documents that support the quality of health services, administration, and legal protection in hospitals. One of the important processes in medical record management is assembling, which is the process of collecting, arranging, and reviewing the completeness of medical record documents. This study aims to review the implementation of assembling in controlling the completeness of medical records to improve service quality at Pondok Aren Regional General Hospital.This research used a quantitative descriptive design with purposive sampling. The sample consisted of 127 inpatient medical record files. Data were collected through observation sheets, documentation studies, and interviews with three medical record officers involved in the assembling process.The results showed that the completeness of patient identity such as patient name, gender, and medical record number reached 100%. However, several components were still incomplete, including admission and discharge forms (79%) and medical resume (73%). In addition, the implementation of assembling had not been fully optimal due to limitations in human resources and the still manual medical record system.The study concludes that the implementation of assembling in controlling the completeness of medical records at Pondok Aren Regional General Hospital still needs improvement. Hospitals are expected to conduct periodic evaluations and prepare for the transition to electronic medical record systems to improve the quality of medical record management.