Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Tinjauan Ketepatan Kode Diagnosis Gigi Dan Mulut Pasien Rawat Jalan Di Rumah Sakit Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa Kuntoadi, Gama Bagus; Lestari, Santi; Fahriati, Andriyani Rahmah; Harum, Mutiara Sekar
EDU RMIK Jurnal Edukasi Rekam Medis Ilmu Kesehatan Vol 2, No 2 (2023): EDU RMIK: Jurnal Edukasi Rekam Medis Informasi Kesehatan
Publisher : STIKes Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketepatan kode diagnosis dan tindakan merupakan salah satu faktor penting terkait pelaporan data morbiditas-mortalitas Rumah Sakit, dan juga dalam proses klaim pembiayaan Indonesia Case Base Gropus (INA CBGs) dan klaim asuransi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Standar Prosedur Operasional (SPO) Kodefikasi Rumah Sakit Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa (RS RSTDD), mengidentifikasi sumber daya manusia bagian koding, mengetahui tingkat ketidaktepatan kode diagnosis penyakit gigi dan mulut pasien rawat jalan RS RSTDD. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu teknik observasi dan wawancara. Populasi penelitian ini berjumlah 70 rekam medis khususnya pada ringkasan klinis bulan Januari 2021-Desember 2022, sampel yang diambil sebanyak 70 berkas rekam medis gigi dan mulut. Hasil dari penelitian memperlihatkan bahwa RS RSTDD belum memiliki SPO Kodefikasi penyakit, SDM koder memiliki latar belakang pendidikan D3 Rekam Medis dengan masa kerja 2 tahun, dan pernah mendapatkan pelatihan koding. Tingkat ketidaktepatan kode diagnosis penyakit gigi dan mulut pasien rawat jalan yaitu kode yang tepat 40 (57,15%) dan kode yang tidak tepat 30 (42,85%). Penyebab ketidaktepatan kode diagnosis penyakit gigi dan mulut yaitu dokter gigi kurang spesifik dalam penulisan diagnosis serta terdapat singkatan-singkatan yang belum dibakukan di RS RSTDD.
Tinjauan Ketepatan Kode Diagnosis Pada Kasus Persalinan Pasien Jaminan Kesehatan Nasional Berdasarkan ICD-10 Di Rumah Sakit Harapan Sehati Kabupaten Bogor Kuntoadi, Gama Bagus; Haryanto, Sri; Febriari, Fiza
EDU RMIK Jurnal Edukasi Rekam Medis Ilmu Kesehatan Vol 2, No 2 (2023): EDU RMIK: Jurnal Edukasi Rekam Medis Informasi Kesehatan
Publisher : STIKes Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian kode diagnosis pada rekam medis pasien mengacu pada aturan ICD-10 (International Statistical Classification of Disease and Related Health Problem). Ketidaktepatan pengkodean diagnosis akan berdampak pada proses tarif E-klaim INA-CBG’s terhadap kinerja keuangan Rumah Sakit, serta salah dalam pelaporan data mordibitas dan mortalitas pasien. Jenis penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif (mix method). Populasi penelitian ini adalah 248 berkas rekam medis diagnosis kasus persalinan pasien JKN periode Agustus-Desember tahun 2022. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 153 dengan metode simple random sampling terdapat (26,79%) hampir setengahnya kode tepat dan (73,20%) sebagian besar kode tidak tepat Diagnosis Utama. Lalu terdapat (50%) setengahnya kode tepat dan (50%) setengahnya kode tidak tepat Diagnosis Sekunder. Petugas koding tidak memiliki latar belakang pendidikan rekam medis, belum pernah mengikuti pelatihan khusus kodefikasi dan belum mempunyai buku ICD-10.
TINJAUAN KETEPATAN KODE DIAGNOSIS HYPERTENSIVE DISEASE PASIEN RAWAT JALAN BERDASARKAN ICD-10 DI RS XYZ Kuntoadi, Gama Bagus; Sucipto, Sucipto; Solihah, Mutiara Putri
EDU RMIK Jurnal Edukasi Rekam Medis Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2024): EDU RMIK: Jurnal Edukasi Rekam Medis Informasi Kesehatan
Publisher : STIKes Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian kode diagnosis pada rekam medis pasien mengacu dan berpatokan kepada aturan ICD-10. Seorang koder memiliki tanggung jawab terhadap ketepatan kode hasil pengkodean, oleh karena itu kemampuan dan keterampilan seorang koder tentang tentang cara pengkodean diagnosis utama harus sesuai dengan standar prosedur operasional rumah sakit. Rumah Sakit XYZ bertipe C yang berlokasi di Jawa Barat. Jenis penelitiannya adalah penelitian deskriptif kuantitatif dan kualitatif (mix method). Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara. RS XYZ sudah memiliki Standar Prosedur Operasional (SPO) Kodefikasi yang mana tidak seluruhnya dilaksanakan. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa kode diagnosis Hypertensive Disease yang tidak tepat sebanyak 23 kode (23,95%). Di RS XYZ memiliki tenaga perekam medis sebanyak 5 orang koder dan 1 orang kepala unit rekam medis dengan latar belakang pendidikan D3 Rekam Medis dan memiliki pengalaman kerja 1-7 tahun. Populasi penelitian ini adalah berkas rekam medis yang memiliki diagnosis Hypertensive Disease sebanyak 2496 berkas rekam medis dan sampel penelitiannya sebanyak 96 sampel. Faktor-faktor penyebab ketidaktepatan kode diagnosis Hypertensive Disease disebabkan karena penulisan dokter yang tidak spesifik
Evaluasi Kode Diagnosis Dan Tindakan Medis Gigi Dan Mulut Pasien Rawat Jalan: Sebuah Studi Kuantitatif Dinaya, Nadhira Putri; Kristina, Indah; Kuntoadi, Gama Bagus
EDU RMIK Jurnal Edukasi Rekam Medis Ilmu Kesehatan Vol 4, No 2 (2025): EDU RMIK: Jurnal Edukasi Rekam Medis Informasi Kesehatan
Publisher : STIKes Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52031/erjermik.v4i2.1150

Abstract

Ketepatan kode diagnosis dan tindakan medis sangat berpengaruh terhadap mutu rekam medis, pelaporan, dan proses klaim pembiayaan. Pemberian kode diagnosis mengacu pada ICD-10, sementara pemberian kode tindakan medis mengacu pada ICD-9 CM. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat ketepatan pengkodean diagnosis penyakit gigi dan mulut masih rendah, antara 57-62%. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi ketepatan kode diagnosis dan tindakan medis penyakit gigi dan mulut pasien rawat jalan di Rumah Sakit Bhayangkara Lemdiklat Polri, dan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab ketidaktepatannya. Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Sampel objek penelitian berjumlah 198 diagnosis gigi dan mulut, sampel subjek penelitian adalah 2 petugas koder rawat jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RS sudah memiliki SPO Kodefikasi, tingkat ketepatan kode diagnosis 69.19%, sementara ketidaktepatan 30.81%. Pada kode tindakan medis, kode tepat 31.82%, sedangkan kode tidak tepat 50.51%, dan sebesar 17.67% tidak dikode atau tidak dicatat tindakan medisnya. Faktor penyebab ketidaktepatan yaitu penggunaan singkatan yang tidak baku, dan koder masih menggunakan laman internet untuk mencari kode dan terminologinya. Teridentifikasi Sumber Daya Manusia petugas koder lulusan Non DIII/DIV/S1 Rekam Medis. RS. Bhayangkara Lemdiklat Polri dapat menyusun buku pedoman penggunaan singkatan khusus untuk klinik gigi dan mulut, serta memberikan pelatihan kepada koder terkait kodefikasi penyakit dan tindakan medis.
Neoplasm Diagnosis Coding Accuracy And Completeness: A Retrospective Review Kuntoadi, Gama Bagus; Christin, Rumondang; Lestari, Santi; Angelina, Novia
EDU RMIK Jurnal Edukasi Rekam Medis Ilmu Kesehatan Vol 4, No 2 (2025): EDU RMIK: Jurnal Edukasi Rekam Medis Informasi Kesehatan
Publisher : STIKes Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52031/erjermik.v4i2.1168

Abstract

Medical records are essential documents that support clinical services and healthcare planning. One indicator of medical record quality is the accuracy and completeness of diagnosis codification, particularly in neoplasm cases. This study aims to determine the accuracy and completeness of neoplasm diagnosis codification at RSUP Dr. Sitanala for the period of October–December 2024. The research used a descriptive method with a quantitative and retrospective approach. The object of the study consisted of 116 inpatient and outpatient medical records with neoplasm diagnoses, while the subjects were six medical record coders. Data were collected through observation, questionnaires, and checklists. The results showed that RSUP Dr. Sitanala has implemented a codification SOP with 83.3% compliance. However, the SOP does not specifically regulate the inclusion of morphology codes for neoplasm cases. The accuracy rate of topography code assignment was 78.45% (91 accurate records), while 21.55% (25 records) were inaccurate. Additionally, all 116 records (100%) lacked morphology codes, rendering them incomplete. Regarding human resources, all coders held a formal education background in medical record and health information, yet one coder had never received coding training. Other contributing factors included limited understanding of medical terminology and the absence of specific training related to morphology coding for neoplasms.