Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pengaruh Konseling Home care Terhadap Kualitas Hidup Penderita DM Tipe 2 Di Puskesmas Talise Kota Palu Buchair, Nur Hikmah; Amiruddin, Ridwan; Indar, Indar
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 12 No. 2 (2021): Volume 12 No.2 (2021)
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v12i2.449

Abstract

Penderita Diabetes Melitus umumnya memiliki kualitas hidup yang buruk dibandingkan dengan orang yang tanpa penyakit sehingga membutuhkan perawatan diabetes yang tepat melalui intervensi perilaku berupa dukungan pendidikan dan konseling untuk mengaktifkan penderita diabetes untuk mengelola penyakitnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling dalam home care terhadap kualitas hidup penderita Diabetes Mellitus Tipe 2. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Talise dan wilayah kerja Puskesmas Birobuli Kota Palu. Desain penelitian adalah Eksperimen Semu dengan jumlah sampel sebanyak 40 responden yang dipilih secara acak. Analisis data menggunakan Uji Beda Dua Mean yaitu Uji Wilcoxon dan Uji Beda Dua Mean Independen yaitu Uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh konseling home care terhadap kualitas hidup penderita DM baik pada Domain 1 (Kesehatan Fisik), Domain 2 (Kondisi Psikologis), Domain 3 (Hubungan Sosial), Domain 4 (Lingkungan) dimana skor rata- rata (mean) sebelum intervensi adalah 60,55 dengan standar deviasi 2,605 meningkat menjadi 71,35 dengan standar deviasi 4,107 setelah intervensi. Secara statistik terjadi perbedaan kualitas hidup sebelum dan setelah diberikan konseling dengan nilai p= 0,000 (p<0,05) yang berarti bahwa konseling home care efektif diberikan pada penderita DM untuk meningkatkan kualitas hidup penderita DM.
Penyakit Kulit dan Kelamin Akibat Infeksi Jamur Di Poliklinik RSUD Undata Palu Tahun 2013-2021 Sofyan, Asrawati; Buchair, Nur Hikmah
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 13 No. 2 (2022): Volume 13 No. 2 (2022)
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v13i2.516

Abstract

Penyakit dermatomikosis merupakan kelainan kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur, umumnya dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu mikosis superfisial yang dapat mengenai jaringan mati pada daerah kulit, kuku serta rambut. Serta bagian lain yaitu mikosis subkutan berupa kelainan kulit akibat infeksi jamur yang melibatkan jaringan di bawah kulit. Menurut WHO, terdapat 20% mengalami infeksi jamur dari seluruh dunia. Jumlah penyakit kulit dan kelamin yang disebabkan oleh jamur, belum pernah dilaporkan dikota Palu, khususnya di RSUD Undata yang menjadi salah satu RS Daerah terbesar di Sulawesi Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran dan mengetahui informasi mengenai distribusi penyakit kulit dan kelamin akibat jamur di RSUD Undata Palu Tahun 2013-2021. pada penelitian ini menggunakan penelitian observasional deskriptif dengan Pengambilan sampel penelitian dilakukan di RSUD Undata Palu. Sampel penelitian adalah semua pasien yang terdiagnosa penyakit kulit akibat jamur tahun 2013 – 2021.dari hasil penelitian yang dilakukan di Poliklinik Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Undata Palu selama kurun waktu 9 tahun sejak 2013 sampai 2021 terdapat 1.576 pasien dengan infeksi kulit karena jamur. kasus penyakit kulit akibat jamur paling banyak didapat pada tahun 2017 yaitu sebanyak 312 kasus, dan terjadi penurunan di 2 tahun terakhir. Penyakit kulit akibat jamur paling banyak adalah Tinea cruris yaitu sebanyak 647 kasus. Kesimpulan yang didapatkan bahwa penyakit kulit akibat jamur di RSUD Undata Palu masih tinggi dan paling sering mengenai di daerah superfisial terutama pada kulit.
Measles Surveillance Evaluation (Post Outbreak); Systems Approach at The Palu City Health Department In 2024 Laba, Stefiani Bengan; Rau, Muhammad Jusman; Buchair, Nur Hikmah; Meliana, Relin; Royana, Nurul Vida
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 16 No. 2 (2025): VOLUME 16 NO.2 TAHUN 2025
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v16i2.1988

Abstract

Measles is an airborne disease with a very high transmission rate. There has been a global increase in both morbidity and mortality due to measles. In 2023, outbreaks occurred in several regions, particularly in Central Sulawesi, with Palu City being notably affected. This study aimed to evaluate the surveillance activities following the measles outbreak in the jurisdiction of the Palu City District Health Office, employing a systems approach. The research respondents included surveillance officers from the Palu City Health Office and those from the Puskesmas (community health centers) within its area. Data were collected through interviews and observations. The findings revealed several issues in the input aspect of surveillance, including overlapping roles for surveillance officers, a lack of knowledge transfer to new personnel, insufficient tactical funding for outbreak responses, and inadequate computer resources at some health centers to support surveillance activities. In the process aspect, challenges included the absence of designated contact persons from hospitals for all public health centers (PHCs), delays in the timely collection of zero case data, and inconsistent data processing with sub-district stratification among PHCs. Regarding the output aspect, reports were often not delivered promptly, and the dissemination of information was limited to internal stakeholders.
Correlation between Health Service Quality, TB Patient Behavior, and Treatment Compliance Syahadat, Dilla Srikandi; Buchair, Nur Hikmah; Sari, Nur Fadhilah; Azzahra, Nur Azizah
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/ijihs.v13n2.4265

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) remains a major public health problem in Indonesia, where treatment adherence is essential for preventing drug resistance, treatment failure, and continued transmission. The quality of health services and patient behavior are key determinants influencing adherence, particularly at the primary healthcare level.Objective: To analyze the effect of health services and tuberculosis (TB) patients’ behavior on adherence to TB treatment in Palu City.Methods: A cross-sectional study was conducted among 100 TB patients attending 14 community health centers (Puskesmas) in Palu City, Indonesia, selected through cluster random sampling. Data were collected from August to September 2024 using structured questionnaires. Univariate and bivariate analyses were performed, with statistical testing conducted using the Spearman rank correlation at a 95% confidence level (α = 0.05).Results: Most respondents were from Talise Health Center (12%), aged 21–29 years (24%), self-employed (50%), and had completed high school education (45%). Overall, 84% were treatment-compliant, and 97% demonstrated a positive attitude. All respondents with a less favorable attitude were non-compliant, while 86.6% of those with a good attitude were compliant. Regarding health services, 96% reported good services, and 86.5% of them were compliant, compared to 25% among those with poor services. Significant associations were found between attitude (ρ = 0.000, r = 0.417), health service quality (ρ = 0.000, r = 0.455), and treatment adherence.Conclusion: There is a significant association between the quality of healthcare services,  patient attitudes, and adherence to TB treatment. Strengthening patient-centered services and ongoing counseling at Puskesmas are essential to sustain treatment success and reduce transmission.
Anemia Screening and Counseling for Female Students at SMAN 5 Tondo in 2025 Laba, Stefiani Bengan; Rau, Muhammad Jusman; Buchair, Nur Hikmah; Syahadat, Dilla Srikandi; Palinggi, Marselina; Azzahra, Nur Azizah; Sari, Nur Fadhilah; Ardayani, Adinda; Agustianingsih, Rizka
ADMA : Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): ADMA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Mayarakat: In-Progress
Publisher : LPPM Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/adma.v6i2.5737

Abstract

Penyakit tidak menular akan berdampak pada kemiskinan, terhambatnya pertumbuhan ekonomi dan beban pada sistem kesehatan pada negara berkembang dan negara miskin (CDC, 2023). Anemia merupakan salah satu permasalahan yang banyak dialami oleh masyarakat Indonesia, khususnya remaja. Anemia pada remaja dapat memberikan dampak yang signifikan, salah satunya adalah stunting. Dalam jangka pendek, remaja putri yang mengalami anemia dapat kekurangan konsentrasi dan juga lletih serta lesu. Tujuan dari pengabdian ini adalah adalah untuk melaksanakan skrining hemoglobin pada siswi SMAN5 Tondo. Kegiatan dilakukan menggunakan metode sosialisasi, skrining dan juga konseling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 72,3% siswi tidak menderita anemia. Siswi yang menjadi responden pada saat screening sebagian besar berada pada usia 16 tahun 67%. Pengukuran sensitivitas menunjukkan sensitivitas sebesar 0% karena ada satu sel kosong yakni hasil pemeriksaan anemia dari dokter karena sebagian besar dari remaja putri belum pernah memeriksakan diri. Kegiatan screening anemia perlu dipertahankan dan dikembangkan guna mencegah kejadian anemia di masyarakat khususnya di kalangan remaja.
Pemetaan Kepadatan Penduduk, Status Vaksinasi dan Kejadian Gigitan Hewan Penular Rabies Buchair, Nur Hikmah; Syahadat, Dilla Srikandi; Laba, Stefiani Bengan; Palinggi, Marselina; Sari, Nur Fadhilah; Azzahra, Nur Azizah
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16419

Abstract

Rabies is a zoonotic disease that attacks the central nervous system and is almost always fatal. Spatial analysis is important to understand the distribution of rabies-transmitting animal bite cases and the factors that influence them. The purpose of this study was to determine the distribution of rabies-transmitting animal bite cases based on vaccination status and population density, as well as spatial distribution patterns. This research was an analytical study with an ecological approach, a population study of 79 respondents who received rabies-transmitting animal bite cases. Primary data were collected through field observations and questionnaires, while spatial analysis was conducted using GeoDa software with a spatially weighted regression method. The results showed that the animals that transmit rabies are dogs (80%), cats (19%), and monkeys (1%). The most cases occurred in Petobo Village (60.8%), and the rest in South Birobuli (39.2%). A total of 51.9% of cases had incomplete vaccination status. Spatial analysis showed that population density (p = 0.000) and vaccination status (p = 0.000) significantly influenced the incidence of rabies-transmitting animal bites. The spatial distribution pattern was shown to be clustered with a p-value of 0.002309. In conclusion, population density and vaccination status are important factors influencing the incidence of rabies-transmitting animal bites, with cases tending to be clustered.Keywords: rabies-transmitting animal bites; rabies; spatial analysis; population density; vaccine ABSTRAK Rabies adalah penyakit zoonosis yang menyerang sistem saraf pusat dan hampir selalu berakibat fatal. Analisis spasial menjadi penting untuk memahami pola penyebaran kasus gigitan hewan penular rabies dan faktor yang memengaruhinya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui distribusi kasus gigitan hewan penular rabies berdasarkan status vaksinasi dan kepadatan penduduk, serta pola sebaran spasial. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan ekologi, merupakan studi populasi terhadap 79 responden kasus gigitan hewan penular rabies. Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan dan kuesioner, sedangkan analisis spasial dilakukan menggunakan perangkat lunak GeoDa dengan metode spatially weighted regression. Hasil penelitian menunjukkan hewan penular rabies adalah anjing (80%), kucing (19%) dan kera (1%). Kasus terbanyak terjadi di Kelurahan Petobo (60,8%) dan sisanya di Birobuli Selatan (39,2%). Sebanyak 51,9% kasus memiliki status vaksinasi tidak lengkap. Analisis spasial menunjukkan kepadatan penduduk (p = 0,000) dan status vaksinasi (p = 0,000) berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian gigitan hewan penular rabies. Pola distribusi spasial terbukti clustered dengan nilai p = 0,002309. Sebagai kesimpulannya, kepadatan penduduk dan status vaksinasi merupakan faktor penting yang memengaruhi kejadian gigitan hewan penular rabies, dengan distribusi kasus cenderung berkelompok.Kata kunci: gigitan hewan penular rabies; rabies; analisis spasial; kepadatan penduduk; vaksin
Evaluation of the Measles/MR Supplemental Immunization Program for Children Under Two Years in the Palu City Health Office Working Area Rau, Muhammad Jusman; Laba, Stefiani Bengan; Syahadat, Dilla Srikandi; Marselina, Marselina; Buchair, Nur Hikmah; Sari, Nur Fadhilah; Azzahra, Nur Azizah
Journal of Health and Nutrition Research Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jhnresearch.v5i1.879

Abstract

Measles and rubella (MR) remain significant public health concerns in Indonesia, with outbreaks linked to low immunization coverage. A notable measles outbreak in October 2023 underscored the urgency of achieving herd immunity through high vaccination rates. The Ministry of Health targets 100% coverage for supplemental MR immunization; however, in 2022 Central Sulawesi reached only 30.4%, and in 2024 Palu City recorded 57.8%, both far below the target. This study aimed to evaluate the implementation of the measles/MR supplemental immunization program in 14 CHCs under the Palu City Health Office. A descriptive, quantitative, evaluative approach was employed to identify the program's strengths and weaknesses, which were assessed across input, process, and output dimensions using questionnaires. Regarding input, 100% of the CHCs had immunization officers with relevant educational qualifications, and 93% had received immunization-specific training. The process showed high compliance with SOP documentation: 100% of CHCs recorded vaccine temperature, inflow/outflow, and calculated remaining stock at every issuance, while 93% maintained individual stock cards, documented VVM status, and recorded equipment such as needles, syringes, and cold chain devices by type and quantity. However, only 86% recorded immunization logistics in general logbooks. The output showed that 86% of CHCs failed to meet the 100% immunization coverage target. Overall, these findings highlight gaps in training, service delivery, and community awareness that must be addressed to improve coverage and prevent future outbreaks. The MR supplemental immunization program in Palu City should be strengthened by ensuring annual training for immunization officers, enforcing complete SOP documentation, including vaccine stock and logistics recording, and implementing targeted outreach to improve coverage in CHCs that failed to meet the 100% target.