Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

ANALISIS PESAN MORAL DALAM FILM PENYALIN CAHAYA KARYA HENRICUS WREGAS BHANUTEJA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI TINGKAT PERGURUAN TINGGI Kusmiyati, Yulia Dwi; Katuuk, Kamajaya Al; Meruntu, Oldie S.
KOMPETENSI Vol. 4 No. 7 (2024): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/kompetensi.v4i7.9072

Abstract

Penelitian ini menganalisis pesan moral dalam film Penyalin Cahaya< em> karya Henricus Wregas Bhanuteja dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di Perguruan Tinggi Film ini dirilis pada 8 Oktober 2021 di Festival Film Internasional Busan Menggunakan metode deskriptif kualitatif penelitian ini menerapkan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi dan simak catat serta analisis isi sebagai teknik analisis data Hasil penelitian mengungkapkan dua kategori pesan moral: individual meliputi eksistensi diri harga diri kepercayaan diri emosi tanggung jawab dan sopan santun dan sosial mencakup berpikiran positif tolong menolong cinta kasih dan saling menghargai Penelitian menyimpulkan bahwa film Penyalin Cahaya< em> merupakan media efektif dalam pembelajaran sastra di perguruan tinggi untuk membangun karakter mahasiswa Film ini relevan dengan kurikulum pembelajaran tingkat perguruan tinggi khususnya Kurikulum Merdeka Implementasinya sangat sesuai untuk mata kuliah Apresiasi Film di semester IV memungkinkan mahasiswa mengidentifikasi nilai nilai positif dalam film untuk pengembangan karakter < p>
KAJIAN NILAI NILAI DIDAKTIS DALAM PUISI LISAN SALAMAT TONGGINA BOLAANG MONGONDOW DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA Bangki, Mointa; Al Katuuk, U. M. Kamajaya; Ratu, Donal Mateos
KOMPETENSI Vol. 5 No. 1 (2025): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/kompetensi.v5i1.10958

Abstract

Puisi lisan Salamat Tonggina Bolaang Mongondow< em> karya Haris Yayubangkai merupakan warisan budaya lokal yang yang mengandung nilai nilai sosial dan moral yang relevan untuk pembelajaran sastra Puisi lisan ini memiliki peran penting dalam menanamkan nilai nilai karakter sekaligus memperkaya keterampilan berbahasa dan pemahaman teks sastra Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis nilai nilai didaktis yang terkandung dalam puisi lisan Salamat Tonggina< em> untuk digunakan sebagai media pembelajaran sastra yang kontekstual Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dan wawancara Data utama penelitian terdiri dari tiga puisi lisan yaitu Lipu Kinolotanganku< em> Sajak: Desa Kelahiran Moibaraguna< em> Sajak: Berdayaguna dan Mototanoban< em> Sajak: Saling Mengingatkan Proses analisis dilakukan dengan mengidentifikasi dan mendeskripsikan nilai nilai sosial dan moral dalam puisi puisi tersebut serta mengeksplorasi relevansinya dalam pembelajaran sastra di sekolah Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga puisi lisan tersebut mengandung nilai nilai penting seperti penghargaan terhadap tradisi lokal tanggung jawab terhadap lingkungan keberanian kesetiaan kerja keras serta pentingnya pendidikan dan kerja sama Nilai nilai ini tidak hanya berpotensi membangun karakter siswa tetapi juga memperkenalkan mereka pada kearifan lokal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari Dengan demikian puisi lisan Salamat Tonggina< em> memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran sastra yang efektif dan bermuatan nilai nilai karakter < p>
REALISME MAGIS DALAM FILM MY NEIGHBOR TOTORO KARYA HAYAO MIYAZAKI DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA Likas Amelia Lumban Gaol; Uus Martinus Kamajaya Al Katuuk; Oldie Stevie Meruntu
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v6i3.12557

Abstract

Magical realism is a literary approach that combines realistic and magical elements within a unified narrative framework. Although studies on magical realism have been widely conducted in novels and short stories, research examining magical realism in animated films and its implications for literature learning remains limited. This study aims to analyze the characteristics of magical realism in Hayao Miyazaki’s My Neighbor Totoro based on Wendy B. Faris’s theory and to examine its implications for literature learning at the junior high school level. This research employed a descriptive qualitative approach using observation and documentation techniques for data collection. Data were analyzed through identification, classification, interpretation, and conclusion drawing based on Faris’s five characteristics of magical realism. The findings reveal that My Neighbor Totoro fulfills all five characteristics of magical realism, namely the irreducible element, phenomenal world, merging realism, unsettling doubts, and disruptions of time, space, and identity. The magical elements are naturally integrated into the characters’ everyday reality, creating a strong magical realist narrative. Furthermore, the film has potential as instructional material for fantasy narrative texts in junior high schools because it can enhance students’ imagination, literary appreciation, and character development, including independence, family affection, and mutual assistance. Therefore, My Neighbor Totoro can be utilized as an innovative and contextual medium for literature learning. ABSTRAK Realisme magis merupakan salah satu pendekatan sastra yang memadukan unsur realitas dan unsur magis dalam satu kesatuan naratif. Meskipun kajian realisme magis telah banyak dilakukan pada karya sastra berupa novel dan cerpen, penelitian yang mengkaji realisme magis dalam film animasi serta implikasinya terhadap pembelajaran sastra masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik realisme magis dalam film My Neighbor Totoro karya Hayao Miyazaki berdasarkan teori Wendy B. Faris serta mengkaji implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMP. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan berdasarkan lima karakteristik realisme magis Wendy B. Faris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film My Neighbor Totoro memenuhi lima karakteristik realisme magis, yaitu the irreducible element, phenomenal world, merging realism, unsettling doubts, dan disruptions of time, space, and identity. Kehadiran unsur magis dalam film menyatu secara alami dengan realitas kehidupan tokoh sehingga membentuk narasi realisme magis yang kuat. Selain itu, film ini memiliki relevansi sebagai bahan ajar pada materi teks cerita fantasi di SMP karena mampu mengembangkan imajinasi, apresiasi sastra, serta menanamkan nilai-nilai karakter seperti kemandirian, kasih sayang keluarga, dan sikap tolong-menolong. Dengan demikian, film My Neighbor Totoro dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sastra yang inovatif dan kontekstual.
Pembelajaran Nilai Moral Keberanian dan Kemandirian dalam Film Animasi Moana Kajian Pendidikan Karakter Hellen Syelomita Pungis; Uus Martinus Kamajaya Al Katuuk M.S; Intama Jemy Polii
Jurnal Dieksis ID Vol. 6 No. 1 (2026): Januari - Juni 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/dieksis.6.1.2026.1356

Abstract

Perkembangan era digital membawa tantangan terhadap pembentukan karakter peserta didik sehingga diperlukan media pembelajaran yang kontekstual, menarik, dan dekat dengan kehidupan anak. Film animasi Moana (2016) dipilih karena memuat narasi perjuangan tokoh utama yang merepresentasikan keberanian dan kemandirian. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi nilai moral keberanian dan kemandirian dalam film Moana serta mengkaji relevansinya terhadap pendidikan karakter. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Data primer berupa dialog, adegan, tindakan tokoh, konflik, dan alur cerita dalam film, sedangkan data sekunder berupa buku dan artikel ilmiah tentang pendidikan karakter, kajian film, dan teori perkembangan moral. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, observasi tidak langsung, pencatatan adegan, serta pengelompokan data berdasarkan indikator nilai keberanian dan kemandirian. Analisis dilakukan melalui reduksi data, klasifikasi tema, interpretasi makna, dan penarikan kesimpulan dengan dukungan Teori Pembelajaran Sosial dan Self-Determination Theory. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberanian direpresentasikan melalui kemampuan Moana menghadapi ketidakpastian, mengambil risiko, mempertahankan keputusan moral, dan menunjukkan empati dalam menyelesaikan konflik. Kemandirian direpresentasikan melalui kemampuan mengambil keputusan, belajar dari pengalaman, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi tindakan. Kedua nilai tersebut relevan untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi mandiri, bernalar kritis, dan bertanggung jawab. Penelitian ini terbatas pada analisis satu film, sehingga penelitian lanjutan disarankan menguji implementasinya dalam pembelajaran kelas.
Interpretasi Pendidikan Gender Novel “Perempuan di Titik Nol” Karya Nawal El Saadawi Balqis Hassan; Kamajaya Al Katuuk; Viktory N.J Rotty; M.Teol
Jurnal Pendidikan dan Inovasi Pembelajaran Vol. 1 No. 3 (2026): Edisi: April-Juni
Publisher : Pustaka Bangsa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis interpretasi pendidikan gender dalam novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El Saadawi serta implikasinya dalam pembelajaran sastra. Novel ini dipilih karena merepresentasikan perjuangan perempuan melawan patriarki, kekerasan, dan ketidakadilan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis wacana kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini memuat nilai-nilai pendidikan gender berupa kesadaran terhadap ketimpangan sosial, pentingnya otonomi perempuan, serta upaya pembebasan dari sistem patriarki. Implikasi dalam pembelajaran sastra meliputi penguatan perspektif kritis terhadap isu gender, peningkatan apresiasi terhadap karya sastra yang merefleksikan realitas sosial, serta pengembangan sikap empatik dan adil terhadap perbedaan gender. Oleh karena itu, novel ini layak direkomendasikan sebagai bahan ajar alternatif untuk memperkuat nilai kesetaraan dan keadilan gender dalam pembelajaran sastra.
Nilai Religius “Lucy Shimmers and the Prince of Peace” terhadap Karakter Siswa Thitania Evangliesti Murchita; Uus Martinus Kamajaya AL Katuuk; Oldie S. Meruntu
Jurnal Pendidikan dan Inovasi Pembelajaran Vol. 1 No. 3 (2026): Edisi: April-Juni
Publisher : Pustaka Bangsa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai religius dalam teks film Lucy Shimmers and The Prince of Peace karya Rob Diamond, serta implikasinya terhadap pembentukan karakter siswa kelas V sekolah dasar pada Kurikulum Merdeka. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data utama berupa film tersebut dan data sekunder dari jurnal serta artikel ilmiah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, penyimakan dialog, dan pencatatan nilai religius. Analisis data dilakukan secara interpretatif untuk mengidentifikasi makna nilai religius yang terkandung. Hasil penelitian menunjukkan adanya nilai iman, kasih dan pengampunan, pertobatan dan penebusan, panggilan hidup, kekeluargaan, serta doa. Nilai tersebut berimplikasi pada penguatan karakter siswa seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, toleransi, dan kepedulian sosial. Temuan ini relevan sebagai sumber pembelajaran pendidikan karakter berbasis nilai religius di sekolah dasar khususnya dalam membentuk pribadi siswa yang berintegritas dan berkontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat secara berkelanjutan. Selain itu penelitian ini memberikan rekomendasi praktis bagi guru dalam implementasi
Nilai Pendidikan Karakter dalam Lagu Karya Giring Ganesha dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Sastra pada Siswa SMA Febiola Wulandari Hengkengbala; Uus Martinus Kamajaya AL Katuuk; Oldie S. Meruntu
Jurnal Dieksis ID Vol. 6 No. 2 (2026): Juli - Desember 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/dieksis.6.2.2026.1360

Abstract

Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya pemanfaatan lagu Giring Ganesha sebagai media pembelajaran sastra yang menarik sekaligus menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter pada siswa SMA. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan prinsip-prinsip pendidikan karakter yang terkandung dalam lagu-lagu Giring Ganesha, yaitu “Laskar Pelangi,” “Sendiri,” dan “Arti Sahabat,” serta mengkaji keterkaitan prinsip-prinsip tersebut dengan pembelajaran sastra bagi siswa sekolah menengah atas (SMA). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Sumber data penelitian terdiri atas tiga lirik lagu berjudul “Laskar Pelangi,” “Sendiri,” dan “Arti Sahabat” yang dibawakan oleh Giring Ganesha. Hasil analisis menunjukkan bahwa lagu “Laskar Pelangi” mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yang berkaitan dengan religiusitas, kreativitas, kerja keras, dan sikap cinta damai. Lirik lagu “Sendiri” menyampaikan nilai-nilai pendidikan karakter berupa kemandirian, harapan dan optimisme, serta keberanian dalam menghadapi kehidupan. Sementara itu, lagu “Arti Sahabat” mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yang berkaitan dengan toleransi dan persahabatan. Pengajaran nilai-nilai pendidikan karakter melalui lirik lagu dapat menjadi alternatif pendekatan pembelajaran yang menarik bagi siswa. Lagu dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sastra sekaligus sebagai sumber nilai-nilai kehidupan yang berkontribusi terhadap perkembangan karakter siswa. Temuan penelitian ini memberikan implikasi positif bagi pembelajaran sastra, khususnya dalam mendukung pencapaian tujuan pembelajaran pada ranah afektif. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pengembangan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila.
Analisis Nilai Moral dalam Film ‘Bonnie’ Karya Sutradara Agus H Mawardy  dan Implikasinya dalam Pembelajaran Sastra Welni Kansige; Kamajaya Al katuuk; Santje I. Iroth
Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan Vol 2 No 1 (2026): Auguss: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan: Scripta Humanika
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/pgap3h71

Abstract

This study examines moral values represented in Bonnie, a film directed by Agus H. Mawardy, and their relevance to Indonesian language and literature learning. The study employs a descriptive qualitative method with a literary sociology perspective. Data were obtained from dialogues, scenes, actions, character behaviors, and narrative situations that represent moral values in the film. Data analysis followed the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing as proposed by Miles, Huberman, and Saldana. The findings identify moral values in four dimensions: human relationships with oneself, others, the environment, and God. The first dimension includes honesty, integrity, resilience, responsibility, discipline, and hard work, while the second includes social concern, solidarity, empathy, forgiveness, generosity, and mutual cooperation. Environmental values include ecological concern, environmental responsibility, and preservation. The findings indicate that Bonnie presents moral values through concrete character actions, interpersonal interactions, conflicts, and choices. These representations provide relevant material for literature learning because students can identify, interpret, discuss, and reflect on moral issues through audiovisual narratives. The film can therefore function as an alternative literary learning medium supporting moral and character development.