Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Stimulasi Perkembangan Motorik Kasar Dan Motorik Halus Pada Anak Pra Sekolah Melalui Terapi Bermain: Literatur Review Pongdatu, Merry; Cahayani, Sitti Aisyah; Arima, Desi Y; Wardani, Ayu; Delvi, Delvi; Saputri, Dina Eka; Rahman, Fausan
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya (JAKMW)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v5i1.1250

Abstract

Anak usia prasekolah (3-6 tahun) berada pada masa penting perkembangan, termasuk motorik kasar dan motorik halus. Pada tahap ini, anak membutuhkan stimulasi yang tepat agar kemampuan motoriknya berkembang optimal. Namun dalam kenyataannya, masih banyak anak prasekolah yang menunjukkan keterlambatan perkembangan motorik karena kurangnya stimulasi yang sesuai, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah. Kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan anak dalam aktivitas sehari-hari serta kesiapan belajar di tahap selanjutnya. Berbagai bentuk stimulasi seperti terapi bermain misalnya puzzle dan kids yoga telah dilaporkan dapat meningkatkan kemampuan motorik anak, tetapi efektivitasnya perlu dikaji lebih lanjut melalui penelitian berbasis literatur. Oleh karena itu, penting dilakukan telaah untuk mengetahui sejauh mana stimulasi melalui terapi bermain mampu mengembangkan motorik kasar dan motorik halus pada anak prasekolah (Hidayat, 2012). Tujuan: untuk mengetahui perkembangan motoric halus dan kasar pada anak usia prasekolah. Pencarian literatur dilakukan secara literatur pada beberapa database yaitu Google Scholar, Researchgate, Garuda Portal, dan Neliti. Dengan menggunakan pencarian literature untuk menemukan artikel yang tepat dalam menjawab pertanyaan penelitian dengan kriteria pembatasan yaitu artikel full-text dan publikasi artikel tahun 2018-2025. Hasil: Pencaharian tersebut ditemukan 10 artikel yang sesuai dengan kriteria dan kata kunci yang telah di tetapkan, puzzle efektif meningkatkan motorik halus, sedangkan kids yoga dan intervensi motorik efektif meningkatkan motorik kasar. Semua artikel mendukung bahwa stimulasi bermain yang terstruktur dan menyenangkan sangat berperan dalam optimalisasi tumbuh kembang anak prasekolah
Strengthening Pancasila-Based Digital Ethics Among Gen Z: A Community Service Program in SMA Negeri 34 Jakarta Hartanto; Suprayitno, Dede; Wardani, Ayu; Hayati, Kumala
Warta Pengabdian Andalas Vol 33 No 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.33.1.56-66.2026

Abstract

As Indonesia’s foundational ideology, Pancasila faces considerable challenges in the digital age, particularly among Generation Z, who, as digital natives, often struggle to embody its values in online interactions. This study examines both the comprehension and application of Pancasila values among students at SMA Negeri 34 Jakarta, while evaluating the effectiveness of a community service program aimed at reinforcing digital ethics through a Pancasila-based framework. Namely by using the quasi-experimental one group pre-post design method. The program adopted an interactive pedagogical approach, integrating real-world case analyses and digital challenges to reconceptualize Pancasila from an abstract normative ideal into a practical moral compass. Empirical findings reveal that prior to the intervention, students demonstrated a limited grasp of Pancasila’s principles, reflected in an average pre-test score of 5.1 out of 10. Following participation in the program, the average post-test score rose significantly to 8.9 out of 10, representing a 74.5% improvement. This substantial increase highlights the efficacy of contextual and practice-oriented methodologies in bridging the gap between ideological principles and behavioral practices. The findings affirm the enduring relevance of Pancasila as a moral framework for Generation Z within digital environments, while offering a replicable model for the integration of Pancasila-based character education in secondary schools across Indonesia. However, this study has causal limitations, as it only measured student outcomes in urban areas and public schools. Different outcomes may be found in rural or religious schools.