Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

KAJIAN TEORI KOMUNIKASI JÜRGEN HABERMAS: FONDASI RASIONALITAS DALAM INTERAKSI SOSIAL Aryanto, Tiara Nisa; Sitorus, Fitzerald Kennedy
NIVEDANA : Jurnal Komunikasi dan Bahasa Vol. 6 No. 2 (2025): NIVEDANA : Jurnal Komunikasi dan Bahasa
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/nivedana.v6i2.1755

Abstract

Tulisan ini membahas teori komunikasi Jürgen Habermas sebagai fondasi rasionalitas dalam interaksi sosial modern. Dalam masyarakat yang semakin kompleks dan dipenuhi oleh kepentingan politik, ideologi, serta dominasi simbolik, komunikasi publik kerap mengalami distorsi yang menghambat tercapainya pemahaman bersama. Melalui pendekatan studi pustaka, artikel ini mengulas konsep-konsep utama dalam teori Habermas seperti tindakan komunikatif, klaim validitas, kompetensi komunikatif, situasi tutur ideal, dan komunikasi yang terdistorsi secara sistematis. Pembahasan juga mencakup relevansi teorinya dalam konteks kontemporer, seperti perdebatan di media sosial, praktik pendidikan, serta dinamika dalam keluarga dan institusi publik. Artikel ini menunjukkan bahwa meskipun teori Habermas dianggap idealistik dan mengutamakan konsensus, kurang memperhatikan aspek emosi dan konteks budaya, kerangka ini tetap relevan sebagai acuan untuk mengevaluasi kualitas komunikasi yang adil, terbuka, dan berbasis argumen. Sebagai refleksi kritis, tulisan ini mendorong pentingnya literasi komunikasi dan budaya diskursus rasional sebagai bagian dari penguatan ruang publik yang demokratis dan inklusif.
Cancel Culture sebagai Sistem Autopoietik: Logika Penghukuman Sosial di Dunia Digital dalam Perspektif Niklas Luhmann Simarmata, Yohana Vanessa Rebecca; Sitorus, Fitzerald Kennedy
Jurnal Humaniora : Jurnal Ilmu Sosial, Ekonomi dan Hukum Vol 9, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Center for Research and Community Service (LPPM) University of Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30601/humaniora.v9i1.6564

Abstract

The cancel culture phenomenon is increasingly prevalent in the contemporary digital landscape, marked by the practice of social punishment against individuals or groups who are considered to have violated collective norms on social media. This study aims to analyze cancel culture as an autopoietic system through the perspective of Niklas Luhmann, focusing on its operationally closed characteristics and its ability to reproduce its own communication structure. The study uses a qualitative approach based on literature studies, with data sources in the form of scientific articles, books, and documentation of cancel culture cases on digital platforms. The results of the study show that cancel culture forms an independent communication system, which processes external input based on its own internal logic. In conclusion, cancel culture as an autopoietic system explains how social surveillance in the digital era has become more fragmented, emotional, and difficult to control, while challenging assumptions about justice, participation and reconciliation in public communication spaces in the digital world.
Kecerdasan Buatan dalam Konsep Enframing oleh Heidegger Pada Masyarakat Modern Husnita, Sri Rezeky Indiani; Sitorus, Fitzerald Kennedy
Jurnal Humaniora : Jurnal Ilmu Sosial, Ekonomi dan Hukum Vol 9, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Center for Research and Community Service (LPPM) University of Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30601/humaniora.v9i1.6544

Abstract

This article examines Martin Heidegger’s philosophy of technology, particularly the concept of enframing (Ge-Stell), in relation to artificial intelligence (AI) in the digital era. Heidegger rejects the notion that technology is neutral and emphasizes that it shapes how humans understand reality through a logic of efficiency and control. This study employs a qualitative method through literature review of Heidegger’s works and contemporary sources on AI. The findings show that AI not only mediates but also constructs reality, blurring the boundary between the real and the artificial. Within the framework of enframing, humans and nature are reduced to resources, sidelining existential values. This article conclude that Heidegger does not reject technology but calls for reflective awareness of its hidden logic and openness to more authentic modes of revealing, so that humanity does not become trapped in a world entirely shaped by technological reasoning.
Menyingkap Kebenaran Dalam Era Post-Kebenaran: Telaah Hermeneutik Heideggerian Atas Media Kontemporer Mokoagow, Fero Natanael; Sitorus, Fitzerald Kennedy
Jurnal Multidisiplin Dehasen (MUDE) Vol 4 No 3 (2025): Juli
Publisher : LPPJPHKI Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/mude.v4i3.8433

Abstract

Era post-kebenaran ditandai oleh kaburnya batas antara fakta dan opini, di mana emosi dan keyakinan pribadi lebih dominan dalam membentuk persepsi publik dibandingkan fakta objektif. Dalam kondisi ini, media kontemporer tidak hanya berfungsi sebagai saluran informasi, tetapi juga menjadi arena produksi dan mediasi makna yang memengaruhi pemahaman publik terhadap realitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana konsep kebenaran ditafsirkan dalam ruang publik digital melalui pendekatan hermeneutik Heideggerian. Dengan menelusuri konsep aletheia sebagai proses pengungkapan kebenaran kajian ini menelaah praktik media digital yang secara simultan menyelubungi dan mengungkap realitas melalui narasi, representasi visual, serta algoritma platform. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis terhadap fenomena media seperti framing berita, viralitas konten, dan logika kerja platform digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebenaran dalam era post-kebenaran tidak hanya terancam oleh disinformasi, tetapi juga terperangkap dalam cara manusia modern melalui keberadaan Dasein mengalami dunia yang dimediasi oleh teknologi. Dalam konteks ini, media digital berperan sebagai perantara yang membentuk horizon pemahaman manusia secara eksistensial. Kajian ini menawarkan refleksi kritis terhadap pentingnya pemahaman hermeneutik dalam merespons tantangan epistemologis dan eksistensial di tengah derasnya arus informasi digital yang kompleks dan manipulatif.
Kembali ke Kant: Metafisika, Sains dan Proyek Filsafat Transendental Sitorus, Fitzerald Kennedy
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.252

Abstract

Berpikir adalah menyatukan data-data indrawi ke dalam satu kesadaran. Melalui sintesis antara intuisi dan pikiran, pengetahuan menjadi mungkin. Tanpa keterberian obyek-obyek indrawi melalui intuisi, maka tidak ada yang dapat dipikirkan menjadi pengetahuan. Pengetahuan selalu merupakan sintesa antara berbagai macam intuisi (materi pengetahuan) dan kategori-kategori transendental (forma pengetahuan). Pikiran tidak lain dari fungsi atau sintesa yang dilakukan oleh bermacam kategori atas intuisi indrawi yang ditawarkan kepadanya. Berpikir adalah mensintesakan atau memberi bentuk terhadap data-data indrawi yang terberi. Artinya, pengetahuan hanya mungkin mengenai obyek empiris. Kant mengatakan, pikiran tanpa isi adalah kosong, intuisi tanpa konsep adalah buta.
Autopoiesis : Komunikasi dan Implementasi pada Era Modern dalam Perspektif Niklas Luhmann Constantin, Natasha; Sitorus, Fitzerald
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 8 (2024): COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i8.2742

Abstract

Gagasan Niklas Luhmann tentang komunikasi sebagai autopoiesis menafsirkan ulang komunikasi sebagai sistem otonom yang bersifat self-referential dan independen dari kognisi manusia. Studi ini menganalisis relevansi teori Luhmann dalam komunikasi digital modern, dengan fokus pada platform seperti media sosial dan teknologi algoritmik. Sistem-sistem ini memiliki karakteristik autopoietik, secara mandiri mengkurasi materi melalui umpan balik yang membentuk realitas unik alih-alih sekadar merepresentasikan fakta objektif. Platform digital mendobrak paradigma komunikasi linear konvensional dengan lebih menekankan pada logika operasional internal daripada faktor eksternal. Penutupan operasional ini menciptakan silo informasi yang terfragmentasi, membatasi kontak antar-sistem, dan membentuk ruang gema yang mengurangi eksposur terhadap pandangan alternatif. Studi ini menyoroti dampak sistem-sistem ini terhadap wacana publik dan norma sosial, menekankan perannya dalam mentransformasi pemahaman kolektif sesuai dengan teori Luhmann. Selain itu, studi ini menggunakan analisis literatur dengan pendekatan kualitatif dalam mengkaji efek sosial yang lebih luas dari komunikasi autopoietik, terutama kontribusinya terhadap terciptanya ekosistem informasi yang terisolasi. Hasil penelitian ini menunjukkan dampak transformasi sistem referensial diri terhadap pandangan individu dan kerangka sosial, serta menegaskan pentingnya teori Luhmann dalam memahami kompleksitas komunikasi di era digital
Peran Algoritma dalam Mengonstruksi Keputusan Konsumen melalui Komunikasi di Media Sosial Yulita, Tiffany; Sitorus, Fitzerald Kennedy
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 4 (2025): October
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i4.50981

Abstract

The development of Big Data, algorithms, and artificial intelligence (AI) has transformed communication on social media from human-to-human interactions to processes mediated by technological systems. This paper aims to analyze how algorithms shape consumer decisions through digital communication processes and assess the extent to which these decisions can be considered autonomous choices. Using the Model of Interpersonal Communication, this study outlines how algorithms take over communicative functions such as source-receiver, encoding-decoding, message construction, channel selection, and the emergence of noise originating from system limitations. The analysis is deepened through the perspective of Actor-Network Theory, which positions algorithms as non-human actors that mediate and direct the flow of information in digital social networks. The results of the study show that algorithms not only regulate message distribution but also shape preferences, perceptions, and consumption decisions through data-driven personalization, thus making user autonomy relative because choices are made within a decision space curated by the platform's logic. These findings provide theoretical contributions to the development of algorithmic communication studies as well as practical implications for the transparency of recommendation systems and the improvement of digital literacy in the social media era.
Kant's Views on Sex and Marriage and Their Significance for Contemporary Ethics Fitzerald Kennedy Sitorus
Jurnal Ledalero Vol 24, No 2 (2025): December 2025 Issue
Publisher : Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology (IFTK Ledalero), Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31385/jl.v24i2.676.103-123

Abstract

This paper discusses Kant's thoughts on sex and marriage with the aim of examining their relevance to us today. To that end, the author conducts a sympathetic reading of Kant's writings on sex and discusses Kant's critical and rational assessment of various types of sexual relationships. The results of the study show that the essence of sex in Kant's view is objectification, namely the use of the body as a means to achieve sexual satisfaction. Therefore, intrinsically, every type of sexual relationship is contrary to morality. There is only one form of sexual relationship that does not conflict with the moral law, namely sex conducted within the context of monogamous, lifelong marriage between two people of different sexes. Kant's reflections on sex and marriage are very helpful in enabling us to critically address and construct debates surrounding sex today.
Media Melampaui Fakta: Gagasan Media Ideal Berdasarkan Konsep Aletheia Heidegger Fiona; Fitzerald Sitorus
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v5i1.2455

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang peran media dalam menyampaikan kebenaran dengan merujuk pada pemikiran Martin Heidegger tentang aletheia (penyingkapan). Dalam budaya media kontemporer, kebenaran sering kali direduksi menjadi sekadar ketepatan representasional, apa yang akurat secara teknis dianggap benar secara esensial. Melalui pendekatan studi literatur, penelitian ini menelusuri gagasan bahwa media ideal bukanlah media yang netral dan pasif, tetapi justru memiliki fungsi ontologis aktif: media membentuk cara manusia mengalami dan memahami dunia. Berdasarkan pemikiran Gunkel & Taylor, Barnard, Kittler, Tammenoksa, McKenzie, dan Hansen, ditemukan bahwa media memiliki potensi ganda: menyingkap sekaligus menyelubungi realitas. Oleh karena itu, media yang ideal adalah media yang sadar akan proses mediasi dan framing-nya sendiri—ia tidak hanya menyajikan informasi, tetapi mendorong kontemplasi, pemaknaan reflektif, dan keterbukaan eksistensial. Di tengah krisis kebenaran digital saat ini, pemikiran Heidegger menawarkan kerangka penting untuk membayangkan kembali media sebagai ruang penyingkapan makna, bukan sekadar saluran teknis atau penyampaian informasi belaka.
Fusion of Horizons: Pemikiran Gadamer Mengenai Dialog dan Pemahaman dalam Kehidupan Manusia Muhammad Nadhif Judhananto; Fitzerald Kennedy Sitorus
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v5i1.2490

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran Hans-Georg Gadamer mengenai proses pemahaman yang bersifat historis, dialogis, dan linguistik, serta relevansinya dalam kajian komunikasi. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, penelitian ini menganalisis secara mendalam konsep-konsep kunci hermeneutika Gadamer, khususnya tentang peleburan cakrawala, prasangka, dan peran bahasa dalam proses interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Gadamer, pemahaman tidak bersifat objektif atau metodologis semata, melainkan merupakan hasil interaksi antara cakrawala masa lalu dan masa kini yang dimediasi oleh prasangka dan bahasa. Prasangka tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai prasyarat awal terjadinya pemahaman. Selain itu, bahasa berperan penting sebagai medium utama dalam proses komunikasi dan interpretasi makna. Temuan ini menegaskan bahwa hermeneutika Gadamer memberikan kontribusi signifikan terhadap ilmu komunikasi dan humaniora, karena menekankan pentingnya dialog, keterbukaan terhadap perspektif lain, dan kesadaran historis dalam proses memahami suatu makna.