Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : AQUATIC SCIENCE

Economic value analysis of mangrove forest ecosystems in Sorong, West Papua Province Tabalessy, Roger R
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2014.7305

Abstract

Coastal areas can either meet the human needs or give great contribution to the development. However, rapid infrastrural development in Sorong, west Papua, has been followed by high demand for mangrove timber and caused mangrove forest degradation due to exploitation. This exploitation could also result from high economic value of the mangrove timber. This study was done to analyze the economic value of mangrove wood utilized by the people to support the development process in Sorong. This study used primary data obtained through interviews and the economic value calculation of mangrove forests. It found that Sorong had mangrove economic value of IDR 165,197,833, 491. Wilayah pesisir selain dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia juga memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan. Cepatnya pembangunan infrastruktur di Kota Sorong diikuti pula dengan tingginya permintaan akan kayu mangrove dan menyebabkan terjadinya degradasi hutan mangrove akibat eksploitasi. Eksploitasi ini disebabkan juga akibat kayu mangrove memiliki nilai ekonomi. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk menganalisis nilai ekonomi kayu mangrove yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Sorong dalam proses menunjang pembangunan. Penelitian ini menggunakkan data primer yang diperoleh melalui hasil wawancara dan perhitungan nilai ekonomi hutan mangrove. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai ekonomi ekosistem hutan mangrove yang berada di Kota Sorong adalah Rp165.197.833.491.
Analysis for mangrove ecosystem management priority using Analysis Hierarchy Process (AHP) in Sorong City, West Papua, Indonesia Tabalessy, Roger R; Wantasen, Adnan S; Schaduw, Joshian N.W.
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 1, No 2 (2013): Oktober
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.1.2.2013.7285

Abstract

Indonesia’s mangrove forest is decreasing. Factors affecting this condition are excessive utilization for livelihood and market demand without considering its sustainability for the future. As a result, mangrove forest degrades year by year. The present study aimed to analyse which stakeholder is the priority for mangrove ecosystem management in the city of Sorong, West Papua, Indonesia, and which factors are the priority for sustainable management. Primary data were collected using questionnaire with interview technique and were analysed using Expert Choice 11 software. The result showed that local government was the stakeholder possessing major priority in management which was supported by others (community and NGO), and the ecological factor was the priority in management, while the economic, social, and institutionalfactors were the supporting factors for sustainability. Luas hutan mangrove di Indonesia sedang mengalami penurunan. Faktor yang mempengaruhi kondisi ini, yaitu pemanfaatannya secara berlebihan untuk memenuhi kebutuhanan hidup maupun permintaan pasar tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya di masa depan. Sebagai akibatnya tutupan hutan mangrove semakin berkurang dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan menganalisis stakeholder manakah yang menjadi prioritas dalam pengelolaan ekosistem mangrove di Kota Sorong, Papua Barat, Indonesia, dan faktor manakah yang menjadi prioritas dalam pengelolaan secara berkelanjutan. Data primer dikumpulkan menggunakan angket dengan teknik wawancara, dan kemudian dianalisis menggunakan software Expert Choice 11. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stakeholder Pemda merupakan prioritas utama dalam pengelolaan ekosistem mangrove dan ditopang oleh stakeholder lainnya (Masyarakat dan LSM), dan faktor prioritas dalam pengelolaan adalah ekologi, sedangkan faktor ekonomi, sosial, dan kelembagaan merupakan faktor pendukung untuk terciptanya pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan.
Populasi hiu berjalan, Kalabia (Hemiscyllium freycineti), di Perairan Misool, Kabupaten Raja Ampat (Population of the walking shark, Kalabia (Hemiscyllium freycineti), in Misool, Raja Ampat) Widiarto, Santoso B; Wahyudin, Iman; Sombo, Hendrik; Muttaqin, Ahmad S; ., Prehadi; Tabalessy, Roger R; Masengi, Melisa
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 8, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.8.1.2020.30597

Abstract

Walking shark (Hemiscyllium freycineti) was classified in the Genus Hemiscyllium, a nocturnal organism, lives in benthic zone. Walking shark has limited distribution because of its inability to swim across the sea regardless the close range. Based on those information, the survey was conducted to monitor the potential density of walking shark populations at Misool, Raja Ampat, in order to have data of population and the utilization. This research was conducted by applying Snorkeling Visual Census Method along the coastline using Global Positioning System. A number of 58 individuals walking sharks was found during the survey and they varied from around 61-70 cm (the longest) to about 20 cm (the shortest). The most common size was of 31-40 cm. The length of the survey track was 20.003,74 m (20 km) and the observation area was 109.592,69 m2 with a survey track width of 11 m, so that the density of walking sharks was about 5,29 individuals/ha.Walking shark in Misool have not been used either for food consumption or in trade demand. It can be concluded, the level of density of walking sharks in Misool is under low pressure conditions.---Hiu berjalan (Hemiscyllium freycineti) tergolong dalam genus Hemiscyllium, yang merupakan hewan nokturnal yang hidup di dasar perairan. Hiu berjalan memiliki distribusi terbatas, karena jenis ini tidak mampu berenang menyeberangi laut yang dalam meskipun hanya berjarak beberapa kilometer. Berdasarkan informasi tersebut, maka dilakukan survei kepadatan populasi hiu berjalan di perairan Misool, Raja Ampat, guna memperoleh data populasi dan pemanfaatannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode Snorkeling Visual Census dan survei menyusuri garis pantai berbasis Global Positioning System (GPS). Dari hasil survei, didapatkan jumlah ikan hiu berjalan yang tersensus sebanyak 58 individu dengan ukuran yang bervariasi dari terpanjang sekitar 61-70 cm dan ukuran terpendek 20 cm. Ukuran ikan hiu berjalan yang dominan ditemukan ialahdengan panjang tubuh 31-40 cm (sebanyak 16 individu). Survei ini mencakup panjang lintasan 20.003,74 m (20 km), luas area pengamatan 109.592,69 m2, dan lebar lintasan survei 11 m, sehingga kepadatan ikan hiu berjalan yang diperoleh dari hasil survei yaitu 5,29 individu/ha. Hiu berjalan di Misool belum banyak dimanfaatkan, baik secara konsumsi maupun permintaan perdagangan. Dengan demikian, dapat disimpulkan, bahwa tingkat kepadatan hiu berjalan di Misool dalam kondisi tekanan rendah.
Co-Authors Adnan Wantasen Agung S. Abadi Agung Setia Abadi Ahmad Fahrizal Aldomoro Siwabessy Amir Mahmud Suruwaky Andrei Sakharov Maryen Angelberta Ivona Tuturop Arafat, Gulam Ariani Pongoh Arief Firdani Arsthervina Widyastami Puspitasari Bagas Prakoso Boby Ziliwu Charliany Hetharia Clara N. Payung Disabella Dayera Dwi Indah Dwi Indah Widya Yanti Edy Fitriawan Syahadat Enny Romanwati Ernawati Ernawati Ery Murniyasih Hafel, Muhlis Hasri Rikola Hismayasari, Intanurfemi B I Nyoman Adi Putra Ida Ayu Putu Sri Widnyani Ilham Marasabessy Ilham Marasabessy Indah, Dwi Ismail Ismail Ivonne M Leiwakabessy Ivonne M. Leiwakabessy Jaharudin, Jaharudin Jean Anthoni Joelan Palemba Joelan Palemba Joshian N.W. Schaduw Kadarusman Lanny Wattimena Ledyana V. Kocu Leiwakabessy, Ivonne M Leiwakabessy, Ivonne M. Lili Sarce Joi Sapari Lili Sarce Joi Sapari, Lili Sarce Joi Lili Sarce Joy Sapari Luluk Suryani M. Iksan Badarudin Mandela, Wennie Manoso, Marchel Frits Manurung, Melani Manurung, Tagor Marcelinus P. Saptono Marcelinus Petrus Saptono Marcelinus Saptono Masengi, Melisa C Masengi, Melisa Ch Meilani Manurung Melisa C Masengi Melisa CH Masengi Melisa Ch. Masengi Melisa Masengi Melisa Masengi, Melisa Mohamad Iksan Badarudin Muh Arzad Muhamad Ali Ulat Munzir Munzir Mustamir Kamaruddin Muttaqin, Ahmad S Nasrul Fauzi Novalin Margaretha Syauta ojsukipacid, ojsukipacid Prehadi ., Prehadi Puspitaningtyas, Indrie Hapsari Puspitasari, Asthervina Widyastami Ratna Ratna Renouw, Ade Andriani Rezza Ruzuqi Rikola, Hasri Rosa Orpa Sapulette Sarlota M.P Osok Selviana Tulende Siswanto Siswanto Siwabessy, Aldomoro Sombo, Hendrik Syauta, Novalin Tigi, Melkior Vicky Rizky A. Katili Wahyudin, Iman Widiarto, Santoso B