Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pengaruh Fear of Negative Evaluation dan Self Compassion terhadap Mental Toughnes pada Altet Judo Khusna, Nella Afifatul; Setiasih, Setiasih
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 5, No 3 (2024): J-P3K DESEMBER
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v5i3.423

Abstract

Salah satu bentuk mental yang dianggap penting dan harus dimiliki oleh seorang atlet adalah ketangguhan mental, atau kumpulan nilai, sikap, perilaku, dan emosi yang memungkinkan seseorang untuk dapat mempertahankan dan mengatasi rintangan, kesulitan, atau tekanan yang dialami, namun tetap mempertahankan konsentrasi dan motivasi untuk konsisten dalam mencapai suatu tujuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh fear of negative evaluation dan self-compassion terhadap mental toughnes pada atlet judo. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda. Subjek dalam penelitian ini adalah atlet judo KONI Jawa Timur yang berjumlah 30 atlet yang terdiri dari 20 atlet (putra) dan 10 atlet (putri). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fear of negative evaluation dan self compassion memiliki hubungan yang signifikan dengan mental toughness. Ketakutan akan evaluasi negatif memiliki hubungan negatif dengan ketangguhan mental karena ketangguhan mental merupakan respon emosi yang positif dari seseorang. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan meningkatkan self compassion pada atlet judo, maka atlet akan semakin mampu membangun hubungan yang positif dan memiliki mental yang sehat sehingga dapat berhasil meraih prestasi di bidang atlet.
Hubungan Citra Tubuh dan Dukungan Sosial dengan Penerimaan Diri Perempuan Pengguna Instagram Razani, Athiyyah Rafi; Setiasih, Setiasih
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 5, No 3 (2024): J-P3K DESEMBER
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v5i3.402

Abstract

Era kehidupan modern selalu mengalami perkembangan salah satunya dengan adanya sosial media terutama instagram. Instagram bisa dijadikan sebagai tempat untuk individu menampilkan diri. Adapun permasalahan psikologis yang muncul dalam penelitian ini adalah kurangnya penerimaan diri sehingga merasa kurang pada bentuk tubuhnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan citra tubuh dan dukungan sosial dengan penerimaan diri perempuan pengguna instagram. Metode penelitian pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Partisipan yang digunakan yaitu 386 perempuan dewasa awal yang menggunakan instagram yang berdomisili di berbagai wilayah Indonesia dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun di Indonesia melalui survei pada google form. Adapun telah didapatkan hasil koefisien korelasi diperoleh sebesar 0,440 dimana citra tubuh dan dukungan sosial memiliki hubungan dengan penerimaan diri sebesar 44%.
Extraversion sebagai Mediator pada Hubungan antara Loneliness dengan Kecenderungan Internet Addiction pada Remaja Wahono, Annisa Ahsanatul Khuluqi; Setiasih, Setiasih
JURNAL SOCIAL LIBRARY Vol 4, No 3 (2024): JURNAL SOCIAL LIBRARY NOVEMBER
Publisher : Granada El-Fath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/sl.v4i3.280

Abstract

Internet mampu mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat, dapat memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, penggunaan internet yang berlebihan juga dapat membuat seseorang menjadi kecanduan dalam menggunakan internet. Kecanduan internet telah menjadi faktor resiko tersendiri bagi remaja. Adapun faktor eksternal yang sering dikaitkan dengan internet addiction, yaitu perasaan kesepian atau loneliness pada remaja dan faktor internal yaitu kepribadian. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi hubungan antara loneliness, kepribadian, dan internet addiction. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan alat ukur UCLA Loneliness Scale (Version 3), Internet Addiction Test (IAT), dan Big Five Inventory (BFI). Partisipan penelitian ini sebanyak 103 remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa extraversion berperan sebagai mediator penuh dalam hubungan antara loneliness dengan internet addiction. Hal ini dapat diartikan bahwa saat remaja mengalami kesepian dan diikuti dengan keterbukaan dan usaha dalam menjalin hubungan atau berinteraksi dengan orang lain, maka kecil resiko untuk mengalami kecanduan internet.
Forgiveness, gratitude, and the flourishing of emerging adults with divorced parents Tessy, Nastasya Ryoko Bonang; Setiasih, Setiasih; Nanik, Nanik
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2022)
Publisher : Faculty of Psychology and Health - Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.378 KB) | DOI: 10.21580/pjpp.v7i1.10606

Abstract

Parental divorce affects the ability of individuals to flourish. This study aims to determine the relationship between forgiveness and gratitude and the flourishing of emerging adults whose parents have divorced. Voluntary convenience sampling was used to identify respondents (N = 429 emerging adults whose parents had been divorced for at least two years). Data were collected using the Emotional Forgiveness Scale, the Gratitude Questionnaire-Six Item Form, and the PERMA Profiler. Data analysis was performed using multiple regression analysis. The results show that forgiveness and gratitude were significantly associated with flourishing in emerging adults whose parents divorced (R2 = .382, F = 131.634, p < .05). The contribution of gratitude (β = 1.299) to flourishing was greater than that of forgiveness (β = .722). Forgiveness and gratitude can predict flourishing in emerging adults whose parents are divorced, in this case, the role of gratitude is greater than forgiveness. Interventions that combine the basis of forgiveness and gratitude can be used to optimize the flourishing of such emerging adults whose parents are divorced.
SOCIAL COMPARISON SEBAGAI MODERATOR INTENSITAS PENGGUNAAN INSTAGRAM DENGAN SELF-ESTEEM Rahma, Lili Mira Julia; Setiasih, Setiasih
Jurnal Psikologi Vol 17, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2024.v17i2.10517

Abstract

Instagram social media is one of the media that is widely used to carry out social comparisons with other Instagram social media users which can then affect self-esteem. This study aims to determine the relationship between the intensity of Instagram use and self-esteem with social comparison moderators in emerging adulthood. Selection of participants using a quota sampling technique. This research involved 288 students at university "X" with an age range of 18-27 years, male and female, and Instagram social media users. The research data was collected using the Rosenberg self-esteem scale questionnaire, Instagram intensity scale, and The Iowa Netherlands Comparison Orientation Measure. The study used a correlational design using multiple regression analysis with a moderator. The findings of this study indicate that the intensity of using Instagram and social comparison simultaneously can affect self-esteem but in a low category. Social comparison has also not been proven to act as a moderator variable.
SAUDARA SEKANDUNG, SEPERJUANGAN: KUALITAS HUBUNGAN SAUDARA DAN FLOURISHING PADA DEWASA AWAL Deviarga, Caroline; Setiasih, Setiasih; Setiawan, Yuan Yovita
Psyche: Jurnal Psikologi Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/psyche.v7i1.2770

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kualitas hubungan saudara dengan flourishing di masa dewasa awal. Beberapa variabel seperti, tinggal terpisah atau bersama, intensitas kehangatan dan konflik yang dialami antar saudara dapat memberikan dampak bagi pertumbuhan flourishing seseorang. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 395 orang, berusia 18-25 tahun, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, memiliki setidaknya 1 saudara serta sudah tinggal terpisah selama minimal 1 tahun. Pengukuran dalam penelitian ini dilakukan menggunakan 2 skala yaitu Adult Sibling Relationship Questionnaire (ASRQ) dan PERMA Profiler. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara flourishing dengan aspek-aspek kualitas hubungan saudara, warmth (r=0.229; p=0.000), conflict (r=0.128; p=0.001), namun tidak berkorelasi dengan aspek rivalry (r=-0.077; p=0.129). Hal ini menegaskan bahwa kualitas hubungan persaudaraan pada masa dewasa awal berkontribusi dalam pencapaian flourishing melalui konflik dan kehangatan yang dirasakan, serta permusuhan yang semakin berkurang. Konflik tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang negatif namun berkontribusi terhadap peningkatan kehangatan dan menunjang kualitas hubungan saudara.
Fenomena Quiet Quitting dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Karyawan pada Organisasi yang Didominasi Generasi Milenial Jahrodin, Mafut; Setiasih, Setiasih
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 1 (2025): June 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i1.6591

Abstract

Fenomena quiet quitting telah menjadi perhatian serius dalam manajemen sumber daya manusia, terutama dalam konteks organisasi yang mempekerjakan generasi milenial. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana karyawan hanya melakukan tugas sesuai kontrak tanpa keterlibatan emosional atau inisiatif tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara quiet quitting dan kinerja karyawan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif berbasis data sekunder. Data diperoleh dari laporan dan studi terdahulu yang relevan, seperti Gallup (2022), McKinsey (2023), dan Kim (2023), yang fokus pada organisasi sektor jasa dan industri kreatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata skor quiet quitting berada pada kategori sedang–tinggi (3,72), sementara kinerja karyawan tergolong sedang (3,41). Nilai korelasi Pearson antara kedua variabel sebesar -0,591 dengan signifikansi p 0,01, menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan. Temuan tambahan menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan merasa kontribusi mereka tidak dihargai, bekerja hanya sesuai jam kerja tanpa motivasi lebih, serta mengalami komunikasi yang kurang terbuka dengan atasan. Hal ini menunjukkan bahwa quiet quitting bukan hanya persoalan individu, melainkan refleksi dari lemahnya sistem manajerial yang gagal membangun ikatan psikologis antara organisasi dan karyawan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan kinerja, organisasi perlu memperkuat sistem penghargaan, komunikasi internal, dan keterlibatan emosional karyawan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan organisasi yang lebih humanis dan adaptif terhadap kebutuhan generasi kerja saat ini.
Perbedaan Relationship Satisfaction pada Emerging Adult yang Menjalin Hubungan Romantis Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Jarak Hubungan Putri, Windy Averina; Setiasih, Setiasih
Journal of Psychological Science and Profession Vol 9, No 1 (2025): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jpsp.v9i1.57815

Abstract

Emerging adulthood merupakan masa ketika individu mulai mengeksplorasi berbagai hal, salah satunya hubungan romantis. Keberhasilan dalam menjalin hubungan romantis dapat memengaruhi tahapan perkembangan selanjutnya. Hubungan romantis terdiri dari dua jenis berdasarkan jaraknya, yaitu hubungan jarak jauh atau long-distance relationship (LDR) dan hubungan jarak dekat atau tidak LDR. Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan dan dinamika keterkaitan antara relationship satisfaction, jenis kelamin, dan jarak hubungan (LDR dan tidak LDR) pada emerging adult yang menjalin hubungan romantis di Indonesia. Penelitian ini dilakukan menggunakan jenis penelitian kuantitatif survei. Kriteria partisipan dalam penelitian ini adalah emerging adult heteroseksual usia 18 hingga 25 tahun yang sedang berpacaran selama minimal enam bulan. Total partisipan berjumlah 146 orang, terdiri dari 36 perempuan dengan hubungan LDR, 41 perempuan dengan jarak hubungan tidak LDR, 38 laki-laki dengan hubungan LDR, dan 31 laki-laki dengan jarak hubungan tidak LDR. Pengambilan data dilakukan menggunakan alat ukur Couples Satisfaction Scale (CSI) yang memiliki 32 butir pertanyaan. Data dianalisis menggunakan two-way ANOVA dengan IBM SPSS versi 25 untuk mencari perbedaan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan relationship satisfaction pada emerging adult yang menjalin hubungan romantis ditinjau melalui jenis kelamin dan jarak hubungan.
The impact of social media usage intensity on self-esteem: survey on emerging adulthood of instagram user Rahma, Lili Mira Julia; Setiasih, Setiasih
KONSELI: Jurnal Bimbingan dan Konseling (E-Journal) Vol 8 No 1 (2021): KONSELI: Jurnal Bimbingan dan Konseling (E-Journal)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/kons.v8i1.8313

Abstract

Social media can be used to increase individual popularity, one of which is Instagram. Instagram can be used to increase individual self-popularity or increase self-esteem. The purpose of this study, namely to determine the relationship between the intensity of using Instagram and self-esteem in emerging adulthood. This research is a quantitative-survey research, with 259 students at “X” University as many as male and female participants aged 18-25 years. The measuring instrument used is the Rosenberg Self Esteem Scale and the Instagram Intensity Scale. The analysis used was the Spearman non-parametric correlation test. The results show that there is a significant correlation between the intensity of using Instagram and self-esteem on emerging adulthood, there is also a correlation between emotional attachment to Instagram and self-esteem on emerging adulthood. Thus the higher the intensity of using Instagram or the higher the emotional attachment to Instagram, the higher the self-esteem of emerging adulthood. The higher the intensity of a person using Instagram, the higher the desire or motivation of the individual to become more prominent.
Pengaruh Kompetensi Pelatih dan Gaya Komunikasi Terhadap Kinerja Siswa Dengan Motivasi Belajar Sebagai Variabel Intervening di the Bees Basketball Academy (Studi Kasus pada Manajemen Organisasi the Bees Basketball Academy) Wijaya, Hendra; Setiasih, Setiasih
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 4, No 2 (2025): July 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v4i2.6632

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi pelatih dan gaya komunikasi terhadap kinerja siswa, dengan motivasi belajar sebagai variabel intervening di The Bees Basketball Academy. Kompetensi pelatih dan gaya komunikasi yang efektif dianggap sebagai faktor utama dalam membentuk motivasi belajar siswa, yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kinerja mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik survei. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 120 siswa aktif di The Bees Basketball Academy. Teknik analisis data menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan bantuan software SmartPLS. Variabel yang diteliti meliputi kompetensi pelatih, gaya komunikasi, motivasi belajar, dan kinerja siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pelatih berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Gaya komunikasi juga berpengaruh positif terhadap motivasi belajar. Selanjutnya, motivasi belajar terbukti memediasi pengaruh kompetensi pelatih dan gaya komunikasi terhadap kinerja siswa. Artinya, semakin tinggi kompetensi pelatih dan semakin efektif gaya komunikasi yang digunakan, maka semakin tinggi motivasi belajar siswa, yang pada akhirnya meningkatkan kinerja siswa. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya pelatih untuk terus meningkatkan kompetensi teknis dan interpersonal serta mengadopsi gaya komunikasi yang efektif dan inspiratif. Akademi perlu secara aktif mengembangkan program pelatihan pelatih dan strategi komunikasi untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan optimal siswa.